• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya

Dalam dokumen Peran Penting Guru di Indonesia (Halaman 46-51)

Sumber : http://joglosemar.co/2014/11/opini-surat-guru-untuk-sang- menteri.html

Yang Terhormat Bapak Anies Baswedan, PhD

Terlebih dahulu, marilah kita bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kesempatan dan kesehatan sehingga bisa menunaikan tugas dengan baik. Dengan gemar bersyukur, tentu kita berharap agar Allah berkenan melimpahkan beragam nikmat berikutnya. Selanjutnya, perkenankanlah saya untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Bapak atas kepercayaan yang diberikan Presiden Republik Indonesia untuk memangku jabatan

sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ke-26 Republik Indonesia.

Bapak Menteri yang saya hormati,

Saat ini, 2,92 juta guru di Indonesia sedang merasakan kegelisahan yang teramat sangat. Mereka benar-benar menantikan sosok menteri yang mengerti secara benar tentang dunia pendidikan. Menteri pendidikan yang mampu memberikan teladan pada pola pikir dan kebijakannya. Bukan

seorang menteri yang pandai berteori seraya mengadopsi sistem pendidikan luar negeri dan mengebiri potensi kearifan lokal. Dunia pendidikan seakan dijadikan ajang uji coba tanpa memikirkan dampak buruknya yang luar biasa.

Ketika mendengar kabar bahwa Bapak dipercaya Bapak Joko Widodo sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2014-2019, sontak kami menyambut kabar itu dengan suka cita. Kami langsung teringat

dengan Gerakan Indonesia Mengajar di mana Bapak merupakan inisiatornya. Gerakan itu sungguh sangat mulia karena bisa membuka mata hati dan

pikiran semua warga negara, khususnya guru, bahwa Indonesia bukanlah Jawa. Indonesia adalah sebuah negara besar yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan potensinya masing-masing. Maka, pendidikan seharusnya diarahkan agar bisa dinikmati oleh semua warga negara tanpa kecuali karena Undang-Undang Dasar 1945 pun mengamanatkan hal tersebut.

Kamis (13/11/2014), Bapak menyerukan semua orang agar mereka mengunjungi guru pada Hari Guru 25 November kemarin. Sungguh, kami langsung menitikkan air mata. Kami tak pernah menyangka bahwa seorang menteri memberikan empati dan simpati nan begitu tinggi. Terlebih, dengan ksatria, Bapak mengungkapkan kejujuran melalui pernyataan bahwa di tiap karya kita ada jejak nyata pendidikan yang diberikan oleh bapak ibu guru kita.Kami berterima kasih untuk pengakuan itu.

Namun, kami saat ini sedang dipusingkan oleh beragam permasalahan sebagai guru. Kami memiliki tiga permasalahan untuk Bapak perhatikan, yaitu nasib Kurikulum 2013, Ujian Nasional (UN) dan tunjangan profesi. Pertama, nasib Kurikulum 2013. Kurikulum baru itu bertujuan membentuk generasi yang cerdas dan bermoral sehingga aspek kognitif harus diimbangi dengan aspek afektif dan psikomotorik. Sayangnya, justru aspek afektif lebih dominan dibandingkan dengan kognitif karena guru harus mengamati ratusan siswa setiap hari. Kondisi ini menyebabkan frekuensi guru untuk mendidik siswa menjadi berkurang karena guru harus melakukan penilaian sikap.

Kami heran dengan pencetus kurikulum baru itu bahwa sebenarnya tugas guru tak hanya mengajar di kelas, tetapi juga sederet tugas lain, seperti menjadi wali kelas, pustakawan, pengelola laboratorium, bendahara sekolah, dan wakil kepala sekolah. Dengan kondisi demikian, bagaimana mungkin guru bisa mendidik para siswa dengan benar sedangkan semua kewajiban di atas juga perlu dituntaskan. Oleh karena itu, kami berharap agar Bapak berkenan meninjau kembali penerapan kurikulum baru itu dengan

memertimbangkan kondisi nyata di lapangan.

Kedua,masalah Ujian Nasional (UN). Bukan rahasia lagi bahwa semua sekolah selalu berlomba-lomba untuk meluluskan siswanya meskipun kondisinya tak mendukung tujuan itu. Peristiwa kecurangan massif yang terjadi di Lamongan, Jawa Timur menjadi bukti bahwa sekolah sangat

ketakutan jika para siswanya tidak lulus UN sehingga oknum guru terpaksa melakukan kecurangan demi menjaga nama baik sekolah. Akibat dari

beragam kecurangan itu, kita sangat mudah menjumpai siswa SMP, bahkan siswa SMA/SMK yang belum bisa membaca dan menulis meskipun lulus SD. Ini adalah akibat salah kaprah memaknai Ujian Nasional.

Seharusnya, UN tak menjadi penentu kelulusan, tetapi sekadar dijadikan piranti untuk memetakan mutu pendidikan. Semua siswa berhak

melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih berdasarkan prestasinya. Oleh karena itu, istilah ―lulus‖ perlu diganti dengan ―tamat‖ yang berarti telah menyempurnakan jenjang pendidikan. Selanjutnya, sekolah tujuan perlu melakukan pengujian. Di sinilah akan ditentukan tingkat kecerdasan siswa sehingga siswa pandai dan kurang pandai akan terlihat. Dengan proses seleksi alam, siswa yang kurang pandai akan memiliki rasa malu karena nilainya jelek dan tidak diterima di sekolah favorit. Dengan

pemberlakukan UN, nyaris tidak bisa dibedakan antara siswa pandai dan kurang pandai karena mereka mendapatkan nilai yang hampir sama, yaitu di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pemberlakuan KKM merupakan pembodohan tersistem karena memaksa guru untuk memberikan nilai baik kepada siswa yang tidak baik. Lalu, untuk apa diadakan UN jika sudah bisa ditebak hasilnya?

Ketiga,penyaluran tunjangan profesi guru. Pasal 16 ayat 1 UU Guru dan Dosen menyebutkan bahwa pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang

diselenggarakan oleh masyarakat. Itu berarti bahwa guru berhak mendapat tunjangan profesinya selagi sudah menunaikan kewajibannya. Sayangnya, banyak guru mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan dengan proses mendapatkan tunjangan itu.

Seperti telah diketahui bahwa penyaluran tunjangan itu diserahkan kepada pemerintah daerah berdasarkan jadwal yang telah diatur. Namun,

pemerintah kota/daerah sering menunda pencairan itu dengan alasan-alasan tertentu. Selain permasalahan penyaluran tunjangan, guru harus

berhadapan dengan syarat pemerolehan yang kian sulit. Demi mendapatkan 24 jam mengajar per pekan, guru harus pontang-panting mengajar ke

beberapa sekolah.

Kondisi itu tentu membuat guru menjadi tak nyaman karena kondisi fisik sudah terkuras sehingga pembelajaran pun tentu tak bisa dilakukan dengan efektif. Atas dasar itulah, kami berharap agar persyaratan pemerolehan tunjangan profesi guru tak dipersulit.

Bapak Menteri yang saya hormati,

Kami memahami pernyataan Bapak bahwa guru harus memperbaiki metode mengajarnya di sekolah. Kami sependapat bahwa semua jenis materi akan mudah dipahami oleh para siswa jika guru sudah menggunakan metode mengajar yang tepat. Untuk mencapai tujuan itu, Bapak ingin mengundang para pakar metodologi mengajar dan guru-guru yang berpengalaman guna mendapatkan hasil yang optimal. Sungguh itu program yang sangat baik.

Namun, Bapak perlu memahami pula bahwa setiap guru memiliki latar pendidikan dan penempatan yang beragam. Latar pendidikan guru sangat berpengaruh terhadap pembentukanmind set jiwa pendidiknya. Banyak guru berasal dari lembaga non-LPTK sehingga tidak memiliki dasar-dasar jiwa pedagogic. Selain itu, banyak guru ditempatkan di daerah yang teramat minim fasilitasnya. Dengan keterbatasan itu, guru perlu dilatih agar lingkungan itu dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran. Untuk semua itu, semangat kerja keras menjadi sebuah keharusan.

There is awill there is away yang berarti bahwa jalan akan ditemukan jika ada kemauan. Bapak telah menggagas ide itu dan kami mendukungnya. Kini, kami berharap agar Hari Guru 2014 menjadi tonggak terbentuknya jiwa KH Dewantoro modern yang mengembalikan ruh guru, yaitu ing ngarso sung tuladha(guru yang mampu menjadi teladan bagi siswanya), ing madyo

mbangun karsa(guru yang mampu menjadi pembangkit semangat), dan tut wuri handayani (guru yang mampu menjadi pendorong dari belakang). Kami optimis bahwa cita-cita itu bias tercapai. Semoga…

Teriring salam.

Selamat Hari Guru! Surat untuk Ibu dan

Dalam dokumen Peran Penting Guru di Indonesia (Halaman 46-51)

Dokumen terkait