• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETUA LEMBAGA OMBUDSMAN DAERAH YOGYAKARTA:

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 39-43)

ARSIP DPR RI

KETUA LEMBAGA OMBUDSMAN DAERAH YOGYAKARTA:

Terima kasih Pimpinan

Yang pertama mengenai urgency dari lembaga ini apakah punya kepedulian, apakah masyarakat yang berhadapan dengan institusi pemerintah yang dalam banyak sekali kasus seing dirugikan, mereka tidak punya mekanisme, tidak lain institusi komplain di masing-masing daerah, walaupun komplain kita dalam banyak kasus diacuhkan saja. Jadi saya kira urgenc-nya di lihat kemana masyarakat akan mengadu, jika dalam konteks pelayanan publik tidak ada institusi yang menanganinya, itu satu masalah.

ARSIP DPR RI

Masalah yang kedua, dengan kondisi birokrasi yang seperti ini apakah justru tidak semakin penting keberadaannya, birokrasi yang tadi dikatakan oleh Bapak Romli semaunya jika tidak ada kontrol terhadap kekuasaan dalam pemberian pelayanan publik berarti tidak ada mekanisme control terhadap penggunaan kekuasaan dalam kaitan pelayanan kepada masyarakat, jadi menurut saya dengan kondisi pelayanan public yang tidak baik justru kehadiran lembaga ini penting.

Kemudian persoalan efektifitas, kita ini semuanya dalam proses belajar jika DPR-RI tidak efektif misalnya apakah negara ini tidak perlu DPR-RI, jika Mahkamah Agung tidak efektif apa tidak perlu Mahkamah Agung, jadi saya kira pekerjaannya jelas dari hari-kehari pekerjaannya adalah menangani aduan, lain misalnya Komisi Penyiaran yang rapatnya belum tentu sekali rapat berapa hari, dari hari ke hari menangani aduan masyarakat. Saya tidak permasalahkan mau dimana mau posisinya apakah di Undang-Undang Pelayanari Publik tetapi jika mempermasalahkan kehadiran lembaga ini saya justru mempertanyakan dari segi kepakaranpun perlu dipertanyakan, punya komitmen tidak kepada masyarakat yang dirugikan oleh negara dan pemerintah dalam pefayanan public.

Jadi saya kira pemikiranya adalah untuk masyarakat bukan untuk person yang dianggap 5 orang itu.

Terkadang membangun pelayanan yang public yang baik bukan membuat undang-undang, undang-undang inikan hanya dasarnya saja, membangun budaya untuk membangun budaya dengan orang, jadi tidak cukup dengan undang-undang, undang-undang hanya titik tolak saja untuk menbangun sebuah sistem yang baik, dengan sistem yang baik akan melahirkan sebuah pelayanan public yang baik. Saya melihat Ombudsman merupakan bagian sub sistem dari sistem pelayanan public. Kelemahan kita selama ini adalah bahwa kekuasaan tidak terkontrol secara baik, apa yang terjadi pada orde baru memang begitu. jika pelayan public tidak ada mekanisem control dan tidak instutusi untuk menyelesaikan komplainnya, saya kira kembali lagi kepada masa yang lalu, jadi saya kira mengenai urgency saya melihat ini dalam kaitanya dengan masyarakat. mengenai efektifitas saya punya pengalaman di Yogya selama ini dengan Kepala daerah jika di undang mereka memberikan klarifikasi dengan Polda dan Kejaksaan, jadi jika dikatakan tidak efektif mungkin independent yang menilainya, tetapi maksud saya apakah memang tidak efektif salah satu lembaga apakah memang tidak disediakan institusi yang merugikan kepentingan masyarakat. jadi saya itu komentar saya mengenai penempatan undang-undang itu tersendiri itu hak dewan untuk membicarakannya apakah masuk dalam Undang-Undang Pelayanan Publik, tetapi jika dari segi tidak ada kewajiban untuk pemerintah daerah, jadi jika undang-undang itu tidak mewajibkannya Perpres, tidak ada perintah undang-undang mewajibkan Kepala Daerah membentuk maka saya kira akan sangat sedikit Kepala Daerah yang akan membentuk Ombudsman, karena itu bisa dianggap oleh mereka sebagai institusi yang menghambat pekerjaan atau yang akan menghambat bagaimana mereka menjalankan fungsinya dengan dikontrol seperti itu, saya kira itu saya terima kasih.

ARSIP DPR RI

KETUA RAPAT:

Terima kasih

Namun sebelum ke Prof. Soenaryati, namun karena tadi sudah disepakati Jam 17.30 WIB ini kita terikat pada Tata Tertib Pasal 76 kita maksimal Jam 18.00 WIB. Silahkan Prof. Soenaryati mungkin bisa dipersingkat.

PROF. SOE NARY A Tl :

T erima kasih .

Sebetulnya sudah cukup dan saya mendukung apa yang dikemukakan oleh Ketua Ombudsman dari DIY, bahkan anehnya ada hubungan batin jadi hanya satu pertanyaan yang ingin saya ajukan yaitu memang tadi sayangnya bapaknya sudah pergi, jadi jika ditanya apakah perlu lembaga Ombudsman karena Ombudsman ini tidak ada artinya, sekarang ini setiap hati bisa membaca di koran dan ada demo-demo banyak sekali orang yang tidak puas dengan DPR-RI, tidak puas dengan Mahkamah Agung, tidak puas dengan KPK, tidak puas dengan Presiden apakah jadi karena tidak puas itu jadi kita tiadakan saja lembaga-lembaga bahkan tidak puas dengan negara jadi tutup saja ini negara, jadi bagaimanapun juga rasanya memang saya hanya menggaris bawahi apa yang tadi dikemukakan, itu saja mohon pertimbangan yang memang sangat besar terhadap kehadiran Ombudsman sebagaimana tadi dikatakan dia adalah satu-satunya lembaga pengawasan eksternal terhadap pelayanan public.

KETUA RAPAT

Terima kasih Perot. Soenaryati

Dengan berakhirnya pandangan dan masukan terkahir dari Prof.

Soenaryati berakhir sudah agenda kita pada Rapat Dengar Pendapat pada hari ini.

F-PG {DRS. AGUN GUNANDJAR SUDARSA) : lnterupsi, karenakan sampai jam 18.00 WIB.

Terima kasih Pimpinan

Jadi saya perlu menjawab dengan kesempatan interupsi ini semacam klarifikasi saja, karena pertanyaannya sangat mendasar apakah kita masih punya komitmen untuk meningkatkan mutu pelayana public saya pikir sejumlah pertanyaan yang saya sampaikan itu konsen saya, tetapi di dalam memecahkan setiap persoalan metoda yang harus kita gunakan harus secara benar secara teoritis, itu saja artinya ada sejumlah persoalan tantangan krusial yang haruskita hadapi dan Ombudsman tidak bisa mengartikan itu, contoh tentang kedudukan lembaga-lembaga negara sampai hari ini juga banyak yang perlu kita tata dan oleh karena itu saya mengusulkan harus ada undang-undang yang mengatur lembaga negara, apakah lembaga negara yang dimaksud itu seperti lembaga negara dalam bukunya Prof. Jim Asidiki saya tidak sependapat, dia menyebutkan sekian puluh yang disebut dengan lembaga negara yang bisa menjadi pihak yang menjadi kewenangan kompetensi MK di dalam memutuskan perkara, apa bisa dengan sekedar pola pikir yang ada dari Ketua MK lalu biarkan begitu saja, inikan negara hukum itu adalah persoalan. Jadi bagaimana menata

ARSIP DPR RI

lembaga-lembaga negera ini atas dasar turunan dari konstitusi, jadi. di sini ada guru-guru besar. Bapak Salomo saya adalah murid bapak di LAN, saya Ketua Umum Senat di LAN dan ijazah saya yang menandatangani adalah bapak, jadi saya belajar manajemen administrasi pemerintahan itu bagaimana penataan urusan-urusan, bagaimana sistem pemerintahan RI itu, ada persoalan yang menurut hemat kami Ombudsman juga harus ada korelasinya disana, ada konsen tentang itu.

Akhirnya saya berpendapat boleh-boleh saja Ombudsman ini fahir terfebih dahulu tetapi tetap mempertinbangkan persoalan itu yang harus ditetapkan pada posisi yang benar jangan menempatkan pada posisi yang salah ketika itu diatur dia terelemenir lagi, itu yang menjadi persoalan. Jadi ada undang-undang tentang lembaga negara, apa yang dimaksud dengan lembaga negara, apa bisa di buat klasifikasi atas dasar pendekatan-pendekatan kewenangannya dan lain sebagainya itu memang membedakan antara satu dengan yang lain, contoh misalnya di negara manapun yang namanya kekuasaan yudikatif, yang namanya Mahkamah Agung itu benar-benar sangat agung bukan berarti dia tidak bisa diintervensi oleh lembaga negara lain untuk masuk ke ranah itu, akan tetapi ada norma-norma yang mengatur tentang itu semua, sehingga keagungannya tetap terjaga, inikan juga bagian persoalan yang belum kita atur secara bagus, bukan berarti dia menjadi lembaga negara yang tidak bisa di sentuh seperti maunya dia, itukan juga tidak benar karena kita sudah menerapkan check and balance di dalam lembaga.

Kemudian sulit untuk Ombudsman ini lebih dahulu lahir menurut saya begitu sebelum Undang-Undang Pelayanan Publik itu jadi. Undang-Undang Pelayanan Publik itu akan lebih banyak mengatur bagaimana menajemen pelayanan public, tentang prinsip-prinsip clean and good government itu harus ada di sana. Bagaimana yang namanya terukur itu, bagaimana yang namanya transparasi contoh saja misalnya kita praktekan jika benar-benar pemerintahan ini menggunakan clean and good government di dalam mengangkat pejabat public hak rakyat untuk tahu mengapa orang itu yang diangkat, itu adalah hak public paling tidak walaupun tidak ada aturannya tetapi etika politiknya karena ada Undang-Undang Etika lagi, itu mewajibkan Presiden mengumumkan kepada masyarakat, mengapa yang diangkat itu orang tersebut, agar rakyat tahu tidak seperti sekarang tidak memilki kompetensi apapun terhadap urusan yang menjadi tanggung jawabnya. Jika Undang-Undang Etika itu sudah jadi itu menurut saya sehingga posisi Ombudsman di dafam rangka menjalankan segala kewenangan itu ada korelasi, apalagi ada Undang-Undang Etika Pemerintahan, ada Undang-Undan Pelayanan Publik, ada undang-undang segala macam. ltu saja saya apakah nantinya menjadi undang-undang tersendiri atau terintegarasi dengan undang-undang yang lain, kita masih harus terbuka pada gagasan pemikiran itu, karena kita ingin komitmen terhadap peningkatakan mutu pelayanan publik yang berpihak kepada rakyat itu adalah konsen kita bersama dan harus kita benahi. Saya kira klarifikasi saya itu saja, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak Agun

ARSIP DPR RI

Saya pikir komitmen kita dari Dewan Lembaga politik ini tetap tidak ada bergeser satu steppun untuk komitmen kepentingan masyarakat bangsa dan negara kita ini. Jadi kita akan bersama-sama mengkaji apakah undang-undang ini kita dahulukan apakah menunggu Undang-Undang Pelayanan Publik itu yang harus kita kaji, oleh karena itu kita pada hari ini membuka kesempatan Rapat Dengar Pendapat untuk meminta masukan kepada para pakar, peneliti atau sengaja yang konsen pada RUU Ombudsman.

Baiklah mengakhiri dengan agenda yang kedua pada hari ini yang telah kita ikuti dari jam 14.00 WIB sampai dengan 17.45 WIB, kami atas nama seluruh Anggota Panja RUU Ombudsman Komisi Ill DPR-RI mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pembicara pada hari ini yang telah dapat memenuhi undangan kami pada hari ini serta mohon maaf apabila ada sambutan yang kurang berkenan dalam Rapat Dengar Pendapat pada hari ini.

Dengan mengucapkan Alhamdulil/ahirabbil'alamin Rapat Dengar Pendapat hari ini saya tutup secara resmi.

(KETUK PALU 3X)

RAPAT DITUTUP PUKUL 17.45

w;s

Jakarta, 7 Februari 2007 a. n Ketua Ra pat Sekr ris Rapat

Juliasih, SH NIP.210001322

ARSIP DPR RI

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 39-43)

Dokumen terkait