ARSIP DPR RI
PROF. SOENARYATI:
F- PG (DRS. AGUN GUNANDJAR SUDARSA) : Terima kasih pimpinan
Saya merasa bersyukur meninggalkan agenda rapat hari ini di tempat yang lain bisa bertemu dengan para guru besar dan para pakar dalam rangka pembahasan RUU Ombudsman. Dari apa yang disampaikan oleh para pembicara pada kesempatan ini kami menangkap banyak hal ternyata yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Yang pertama, kami ingin melihat bahwa dari pandangan-pandangan keseluruhan para pembicara ini ada satu hal yang mungkin perlu dijadikan bahan masukan buat kita di Komisi Ill DPR-RI dalam hal pembahasan ini bagaimana sebenarnya kita ingin menempatkan rumusan-rumusan dalam undang-undang Ombudsman Nasional kemudian menyangkut masalah kedudukan, tugas dan wewenang. Hanya itu saja, jika menyangkut masalah keanggotaan dan lain sebagainya adalah rangkaian berikutnya yang setelah kita bisa menjawab bagaimana sesungguhya kedudukan tugas dan wewenang daripada Ombudsman.
Berkenaan dengan kedudukan, ada satu hal yang kami lihat ini akan menjadi tidak efisien dan tidak efektif jika sejumlah persoalan sampai pada hari ini belum terselesaikan, saya minta apakah pikiran-pikiran saya ini apakah memang sama dengan gagasan yang ada dalam pikiran saya, misalnya apa
ARSIP DPR RI
yang dimaksud dengan lembaga negara jika di dalam undang-undang ini dikatakan Ombudsman juga dikatakan sebagai lembaga negara dan saya berpendapat disini ada Bapak Zein yang juga ikut bersama-sama dengan kami lembaga-lembaga itu kita tidak lagi mengenal yang namanya lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara semuanya disebut lembaga negara yang secara empiric jika melihat rumusan Undang-Undang Dasar itu sesunguhnya lembaga-lembaga negara itu bisa dibuat strategi kasus, bisa di buat penggolongan yang saya juga menyakini secara teoritik juga lembaga-lembaga negara itu bisa diklasifikasikan misafkan berdasarkan atas kewenangannya. Ada kewenangan yang menjalankan kewenangannya secara langsung tidak ada perantara sebut saja DPR-RI, dia melaksanakan kewenangan konstitusional dalam menjalankan 3 fungsi itu langsung oleh dia, dia tidak diwakilkan oleh siapapun. Presiden itu langsung menjalankan kekuasan pemerintahan negara, Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi itu langsung, tetapi ada lembaga negara yang lain yang tidak langsung menurut saya tetapi kewenangan itu diberikan kepada lembaga yang berbeda sebut saya BPK, kedudukannya dia sederajat tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada lebih rendah, tetapi di dalam menjalankan kewenangannya dia tidak langsung dan hasilnya diserahkan kepada DPR-RI untuk ditindak lanjuti. Sebut juga Komisi Yudisial dia tidak langsung dan dia bukan bagian daripada kekuasaan kehakiman, dia ditempatkan pada bab kekuasaan kehakiman, fungsi yang dijalankan fungsi rekrutmen dia tidak bisa mengangkat sendiri karena konstitusi membatasi itu, karena dia mengusulkan calon Hakim Agung, lalu dia wewenang lain dalam rangka menjaga martabat, tetapi dia tidak bisa mengeksekusi sifatnya juga rekomendasi dikembalikan kepada Mahkamah Agung.
Sampai dengan hari ini kami melihat masing-masing lembaga negara berjalan atas kehendaknya masing-masing, sehingga terjadi krodit hubungan mekanisme kerja diantara lembaga-lembaga negara. Berikutnya di mana kedudukan Komisi Ombudsman Nasional dalam konteks jika ingin disebut lembaga negara, di sana saja sudah timbul perdebatan ini saja harus di jawab terlebih dahulu di posisikan pada posisi apa dia, benarkah menjadi sebuah lembaga negara ini juga akan menimbulkan persoalan ketika paparan itu belum bisa kita tempatkan bahwa dia posisinya di mana, itu yang pertama.
Yang kedua, menyangkut tugas dan kewenangannya ini berkaitan juga dengan kedudukannya makanya timbul perbedaan saran dan masukan yang disampaikan oleh Prof. Romli mengapa membuat Komisi Ombudsman jika kewenangannya hanya seperti itu, tidak ada giginya, tidak ada relevansinya dari segi hukum tata negara saya sependapat dengan Prof. Romli jika hanya sekedar itu mengapa lewat undang-undang cukup lewat Perpres. DPKP bisa berjalan landasan hukumnya undang-undang, lembaga-lembaga pemerintah non departemen yang lain apa dasar hukumnya undang-undang tidak semuanya tidak memakai undang-undang berjalan, sehingga saya bisa menangkap apa yang dimaksud oleh Prof. Romli, karena undang-undang itu harus menata dan mengatur kewenangan yang signifikan dalam ruang lingkup apa, jika hanya sebatas ruang lingkupnya itu luar biasa terkait dengan berbagai eksponen kekuatan cabang kekuasaan yang lain ada korelasinya mungkin dia akan
ARSIP DPR RI
menjadi signifikan jika dibentuk dengan sebuah undangn-undang. · kembali kepada tugas dan kewenangan ini kami melihat seperti kita harus mendalami lebih jauh seperti apa yang dikatakan oleh Bapak Salomo ada sejumlah RUU lain yang hari ini sedang diselesaikan, saya bilang tidak bisa tugas dan kewenangan Komisi ini nanti berbenturan dengan RUU lain yang sedang berlangsung yaitu Undang-Undang Pelayanan Publik, Undang-Undang Administrasi Pemerintahan itu terkait dengan apa yang disampaikan oleh lbu Soenaryati, perwakilan dari Yogya yang berkaitan dengan bagaimana pelayanan-pelayanan public ini benar-bnar bisa mengarah kepada tujuan yang benar-benar rakyat itu tidak dirugikan dan bisa mendapatkan hak-hak yang sebenarnya.
Terkait dengan Prof. Romli menyatakan juga ini tidak bisa lepas dengan RUU Tentang Kebebasan memperoleh informasi public, ada korelasi ketika tabrakan substansi yang diatur antara Ombudsman dengan jika memang Ombudsman ini ingin dijadikan sebuah institusi atas dasar .undang-undang yang kewenangannya bukan hanya sekedar rekomendasi, memantau untuk apa jika itu cukup tidak usah memakai undang-undang itu yang saya katakana tadi sehingga belum lagi terkait dengan tugas dan kewenangan ini jika kita balik lagi dengan sejumlah lembaga-lembaga pengawasan yang sudah ada sebut saja BPK, BPKP, lnspektorat Jenderal sebagai pengawasan internal di tiap-tiap kementerian, ada Bawasda untuk pelaksanaan pemerintahan di daerah, ada juga KPK yang juga punya fungsi koordinasi di dalam rangka itu semua, maka Ombudsman ngapain saja, apa tugas dan kewenangannya, ini sejumlah hal yang menurut hemat kami perlu juga disikapi lebih jauh.
Oleh karena itu dari sejumlah persoalan itu saya mencoba mengkerucut dan saya minta kepada keseluruhan pembicara ini apakah bapak bersepakat misalnya jika gagasan pikiran saya pertama soal kedudukan lebih baik saya pada pilihan dia tidak menjadi sebuah institusi yang disebut dengan lembaga, saya lebih pada posisi yang personal saja di tingkat pusat mungkin itu ada berapa orang, di provinsi mungkin ada beberapa orang dan tingkat kabupaten ada beberapa orang, bukan institusi yang memilki hirarki, struktur dan segala macam akan tetapi sangat personal yang memang orang-orang yang memilki kompetensi dibidang pelayanan public, dia paham seluk beluk tentang prinsip-prinsip pelayanan public, sehingga ruang lingkupnya menurut saya juga harus di batasi tidak usah lagi masuk kepada ranah institusi yudikatif untuk apa karena sudah ada Komisi Yudisial yang juga diberikan kewenangan menerima laporan pengaduan yang menyangkut masalah institusi peradilan, mulai dari pengadilan negeri sampai dengan Mahkamah Agung. DPR sudah ada mekanisme yang mengatur tentang itu semua, ada Sadan Kehormatan, masyarakat bisa langsung ke BK dan segala macam dan sudah berlangsung. Saya lebih setuju ruang lingkupnya dibatasi pada pelayanan public saja.
Ruang lingkupnya itu dibatasi pada pelayanan-pelayanan publik yang menjadi ranahnya eksekutif Pak. Banyak ranah eksekutif itu, mulai dari urusan orang belum lahir kan begitu Pak? Belum lahir sudah diurus oleh Pemerintah sampai masuk liang kubur, itu urusannya Pemerintah. Banyak ekskutif urusannya batasi disitu. Jangan masuk ke ranah legislatif karena sudah ada
ARSIP DPR RI
jangan masuk ke ranah yudikatif, batasi disitu sehingga tugas dan kewenangan menurut saya, dia yang memantau, dia yang mengevaluasi, dia mensupervisi dan dalam skala-skala tertentu dia meneruskan temuan-temuannya itu kepada institusi yang berwenang untuk mengambil kebijakan, bagaimana mengontrol dan mengendalikannya di wajibkan untuk menyampaikan laporan secara berkala kepada Parlemen atau kepada Pemerintah. Baru akan ditemukan intitusi itu pada posisi yang seperti itulah maka bagaimana cara untuk melakukan monitoring evaluasi dan sebagainya itu. menurut saya dalam Rancangan Undang-Undang itu walaupun itu personal misalnya itu, setiap institusi Pemerintah diwajibkan menyampaikan laporan pelayanan publiknya. lni yang tidak bisa lepas dengan Rancangan Undang-Undang Pelayanan Publik.
lni Pak Ketua, kita harus lapor sehingga institusi seperti itu, tugas dan kewenangannya seperti itu. yang terakhir dasar hukumnya ini Pak, kalau saya berpendapat cukup dengan Perpres, karena ruang lingkup tugasnya seperti itu tidak perlu dengan Undang-Undang. Kalau memang Perpres timbul persoalannya, bagaimana dengan Presidennya, mau tidak, kan ini yang menjadi persoalan hari ini Pak. Saya mendapat pengkayaan dalam Rancangan Undang-Undang Kementerian Negara, Hukum Dasar yang tertinggi itu ada dua, ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis atau konvensi dan konvensi itu hanya bisa terbangun kalau dilandasi oleh etika dan moral politik yang tinggi dan ternyata Pemerintahan kita dari masa ke masa etika dan moral politiknya rendah sehingga tidak terbangun konvensi itu. lihat saja Kabinet 100 Menteri, lihat saja Pak Harto bikin Kementerian sampai pusing, bikin Kementerian khusus hanya untuk menempatkan Pak Harmoko. Jaman Gus Dur bikin lagi Kabinet dibubarkan, jaman SBY yang sudah dipisahkan, yang sudah mati dihidupkan kembali, untuk Rancangan Undang-Undang Kementerian Negara saja Pemerintah menolak tidak setuju, ini problem Pak. Artinya Komisi Ill DPR RI yang memang mendalami peraturan perundang-undangan lebih baik untuk menyelesaikan Undang-Undang ini kita berpikir lebih jauh lagi, yang lebih konstruksional yang turunan dalam konteks penyelesaian secara keseluruhan.
Hanya sangat disayangkan memang saya melihat sangat disayangkan ide-ide, gagasan-gagasan seperti ini Pak, saya belum temukan dari birokrasi Pemerintahan tentang design Ketatanegaraan kita ke depan ini, langka sekali.
lni beberapa hal yang ingin saya sampaikan, apakah gagasan pemikiran ini Bapak juga sepakat, sependapat sehingga ini akan menjadi masukan buat kami dalam pembahasan berikutnya, karena kami juga tidak ingin Undang-Undang ini sekedar cepat lahir, cepat ada tetapi begitu lahir dan ada akhirnya juga menimbulkan problem yang baru di masa yang akan datang yang tidak ingin kita harapkan.
Saya kira demikian Pimpinan
Wassalamu'afaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Walaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
ARSIP DPR RI
Mengingat waktu tinggal 13 menit yang kita sepakati, saya mohon persetujuannya untuk kita gabungkan ya Pak Benny, Pak Agun dan Pak Tammim ya. Habis itu baru ditanggapi dari pihak pembicara. Bisa ya?
Silahkan Pak Benny K. Harman.
F-PD (DR. BENNY K. HARMAN, SH, MH) : Terima kasih Pimpinan
Bapak-bapak dan lbu-ibu sekalian yang saya hormati.
Rancangan Undang-Undang ini adalah Rancangan Undang-Undang usul inisiatif kalau saya tidak salah dan sudah sekian lama, sekian tahun terpendam itu di Dewan. Bagi saya ini bukan sekedar soal administratif terpendam tetapi ada persoalan yang lebih substansial disitu yaitu yang berkaitan dengan eksistensi lembaga ini. Kalau kita melihat sejarahnya memang, Lembaga ini kan dulu dibentuk paling tidak sebagai satu jawaban atas tidak berfungsinya Lembaga-lembaga pengawasan dalam institusi Pemerintahan dalam pemahaman yang sangat umum tetapi juga sayangnya kekecewaan yang kita hadapi akibat tidak efektifnya Lembaga-lembaga Pengawas Internal di lnstitusi-institusi Pemerintahan ini juga dialami oleh Ombudsman ini, lalu sebagaimana yang disampaikan oleh yang terhormat tadi Pak Agun mungkin tidak terlalu eksplisit atau mungkin malu-malu untuk menyatakannya. Persoalan yang lebih pokok adalah keberanian kita untuk menjawab atas pertanyaan ini, apa masih dibutuhkan ini. Saya terus terang saja dari awal saya menunggu pendapat atau pernyataan para ahli ataupun Bapak-bapak yang sudah selama ini terjun di bidang ini untuk memberikan satu pendapat atau argumentasi bahwa sebaiknya dengan tangan terbuka kita harus berani bersikap Lembaga ini likuidasi yang sudah ada ini bukan malah diberi bentuk hukum yang lebih tinggi yang juga nanti out putnya tetap sama. Bagi saya adalah persoalan-persoalan yang muncul selama ini sebagaimana dikeluhkan, tidak efektifnya apa yang direkomendasikan oleh Ombudsman. Persoalannya bukan karena Sadan ini tidak di wadahi oleh Undang-Undang sehingga dia tidak efektif sehingga jawabannya adalah dengan mewadahinya dengan Undang-Undang sehingga dia akan menjadi lebih efektif melalui rekomendasi-rekomendasinya. Kan tidak, di wadahi dalam Undang-Undang Dasar sekalipun tetapi kewenangannya hanya merekomendasikan dalam tanda kutip tetap saja tidak efektif ini lembaga.
Lalu untuk apa ini kita buat? Kalau misalnya Sadan ini dikasih kewenangan-kewenangan khusus katakanlah semacam KPK dalam kaitan dengan pelayanan publik lnstitusi-institusi Pemerintahan mungkin akan lebih bermanfaat. Saya sungguh menyadari apa yang disampaikan oleh Prof.
Soenaryati tadi dibandingkan di Negara-negara lain, bagi saya sebenarnya kalau di Sadan Negara sekarang ini membentuk Lembaga semacam ini tentu asumsi-asumsi atau problem-problem yang dihadapi oleh Negara-negara itu sangat berbeda dengan apa yang kita alami tetapi paling tidak asumsi-asumsi fundamentalnya itu di penuhi. Di tempat lain mungkin karena dia akan jalan kalau penegak-penegak hukum dia akan bekerja dengan efektif. Lembaga yang dikasih sanksi yang diberi kewenangan, di kasih kewenangan pisau tajam untuk
ARSIP DPR RI
menggunting pun tidak mempan Republik ini, apalagi Lembaga yang seperti ini, menurut saya Pak Ketua dan lbu Soenaryati mengapa kita tidak berani membuka ini, apa problem bangsa ini sebenarnya dalam kaitan dengan pelayanan publik ini apa sebenarnya. Saya sangat prihatin Pak, banyak sekali rekomendasi Ombudsman yang tidak dipedulikan, kalau di daerah Pak Pejabat-pejabat peduli publik kalau ada rekomendasi seperti ini mereka masukkan ke sampah, jangankan Ombudsman punya rekomendasi, putusan TUN yang sudah berkekuatan hukum tetap sekalipun tidak mau dijalankan oleh Pejabat Publik.
Coba bayangkan itu, perubahan Undang-Undang 586 tentang TUN pun tidak mampu menjawab ini, perubahan itu hanya berkaitan dengan ya kalau pejabat publiknya TUNnya tidak mau laksanakan ya di umumkan di surat kabar tetapi setelah itu apa, tidak ada, tidak jalan juga. Lalu ada Lembaga begini yang kekuatannya tadi katakanlah moral, apa moral di Republik ini. Rekomendasi itu selesai, bagi saya kalau Undang-Undang ini kita mau buat, · ada satu hal yang memberikan makna disini kalau tidak dengan segala mohon maaf saya secara pribadi berpendapat tidak perlu ini Undang-Undang ini. Mungkin ada yang mengatakan ini usul Legislatif, ini usulan ya tetapi saya mau mengajak kita untuk tidak sekedar menerima ini lalu kita bikin nanti tambal sulam ke dalam itu lalu seolah-olah Ombudsman sudah punya wadah dasar hukum yang lebih kuat tetapi tetap gigi ompong. Bagi saya kalau mau tetap dibuat Pak Ketua, kasih gigi yang tajam. ltu baru efektif Pejabat-pejabat publik ini. Ada sekarang dibahas Rancangan Undang-Undang Pelayanan Publik. Sudah dipastikan tidak akan efektif, saya kasih contoh Pak, dalam Undang-Undang tentang Ketatanegaraan sengaja dulu kita ngotot supaya pejabat publik yang lalai itu pun dikategorikan sebagai tindak pidana, maksudknya untuk memberikan apa, tekan ini perilaku pengusaha yang suka-suka ini. lni problem yang mau kita jawab, bukan dengan pisau yang tidak tajam, kasih pisau yang tajam.
Karena ini birokrasi kita mau fair, ini tembok ini Pak. Seperti kerbau pakai tangan dipukul pakai besi pun dia tidak akan bangun dia. Kita mau kasih lagi ini Ombusman begini ini, saya mohon maaf, saya harap tadi ini para ahli di depan ini bukan inginnya mau membenarkan Lembaga ini. Saya ingin sebenarnya tidak perlu ini Pak, Komisi Ill DPR RI dengan alasan begini, kita tidak bermaksud untuk mencari legitimasi akademik di forum ini terhadap keberadaan fembaga ini, tidak. Kalau ada usulan ini tidak perlu ya kita sampaikan dengar pendapat kita dengan Para Ahli sekian kali tidak butuh ini Lembaga, kembalikan Rapat Paripurna tetapi ini sudah salah kaprah ini seolah-olah kita mau buat jadi barang ini, lalu kita cari pembenaran-pembenaran. Begitu Pimpinan komentar saya mungkin tidak perlu dijawab tetapi silahkan juga.
T erima kasih.
KETUA RAPAT:
Terakhir silahkan yang terhormat Pak Muttammimul Ula.
F- PKS (H. MUTT AMMfMUL ULA, SH) : Terima kasih Pimpinan
Rekan-rekan Anggota yang saya hormati
ARSIP DPR RI
Narasumber yang saya hormati pula.
Saya kira memang sangat bermanfaat untuk penajaman dan pendalaman meskipun RUU ini dari DPR RI secara politis DPR RI sudah mengusulkan kelembagaan ini dengan Undang-Undangnya meskipun ditengah jalan sangat mungkin juga ditarik kembali. Saya ingin memperdalam yang sifatnya tadi juga dikemukan oleh Teman-teman sebelumnya yang sifatnya lebih paradigmatik ya latar belakang, obyek, metode baru institusionalnya.
Apa adanya pelayanan publik yang kurang baik pada level individual itu di Negeri mana pun yang sudah maju terjadi, pada level kolektif itu di Negara berkembang, problem di Indonesia itu kolektif. Pelayanan publik yang kurang ada pada level kolektif, saya kira itu adalah fakta. Pada negeri yang sudah maju lembaga ini saya memperhatikan karena memang penyelesaian tadi untuk mengembalikan recovery pelayanan yang kurang itu tidak cukup dengan lembaga-lembaga conventional, jadi kosekwensi dari problem yang konflek tidak cukup dengan lembaga-lembaga conventional yang ada, ini terjadi di negara maju maka mucullah lembaga Ombudsman di negara-negara maju di Eropa, tetapi di Eropa secara umum bukan karena lemahnya pelayanan publik sangat kolektif akan tetapi secara individual bagaimana mereka konsennya untuk memberikan pelayanan kepada negara, itu adalah latar belakang.
Yang kedua adalah obyek, obyeknya itu intinya adalah pengawasan terhadap penyelenggara negara, kita bisa jajarkan apakah itu secara keseluruhan apakah pemerintah apakah pemerintah termasuk yang partnership karena implementasi pelayanan publik dalam praktek juga beragam dalam manajemennya tetapi di sini di batasi dengan pengertian mal administrasi ini kelihatannya ruang lingkupnya apa, administrasi yang sudah berjalan Ombudsman di Indonesia. Mal administrasi itu lebih dekat dengan, lebih praktis menunda pelayanan, bersikap tidak sopan, akan tetapi setelah menyalahgunakan kekuasaan sebenarnya lebih besar lagi tidak adil, diskriminatif atau tidak patut, akan tetapi yang lebih luas lagi administrasi dalam konteks manajemen pemerintahan. Mal adminitrasi dalam arti salah urus itu lebih besar lagi, krisis ekonomi itu adalah salah urus itu mal administrasi juga dalam arti luas, karena sebagaimana negara yang kaya tidak mempunyai uang APBN-nya krisis, kaya materi, kaya sumber daya alam akan tetapi tidak mempunyai uang sehingga anak banyak tidak bisa melayani dengan baik, itukan salah urus dan itu berjalan selama 60 tahun, itu sebenarnya salah urus politik sebenarnya disana.
Mal administrasi yang kita kehendaki ini juga harus kita ruang lingkupnya dipertegas, saya kira ini akan menjadi perdebatan yang agak panjang sebelum kita nanti merumuskan lebih mendalam.
Yang lebih spesifik di sini soal difrensiasi, saya kira pada level 1 dan 2 latar belakang dan obyek lembaga-lembaga itu sudah ada semua, semangatnya sama, pengawasannya juga sudah ada, yang spesifik yang ada Ombudsman ini adalah pendekatan penyelesaiannya non hukum dan non politis, non hukum penegak hukum dan yang non politis adalah DPR-RI, jadi apa yang dari Yogya berbasis moral, maka kemudian lbu Soenaryati berdasarkan trust orang bukan lembaga, maka kemudian lebih kepada klarifikasi, rekomendasi, laporan. Jadi barangkali dalam konteks politik itu lembaga rekonsiliasi kerukunan itu jangan
ARSIP DPR RI
masuk pengadilan. Jadi jika memang ini konsepnya kemudian lari kepada institusionalnya apakah dasar hukumnya dipertukan undang-undang, ini tentunya kita perlu diskusikan dengan pemerintah nanti, apakah memerlukan urgency untuk ditegaskan dengan undang-undang atau dengan cukup dengan administrasi yang regulasinya lebih rendah dari itu. Paling tidak itu yang saya tangkap dari banyak nara sumber ini, tetapi defrensiasinya itu dari lembaga itu pada metode yang harus diperhatikan, dalam metode ini adalah metode dan ruang lingkup mal administrasi ini yang harus dirumuskan lebih lengkap sebab jika tidak nanti juga tadi interplasi dengan institusi lainnya akan bermasalah.
Dalam konsep draft undang-undang kita memang konsep berbasis moral dan trust itu lebih menonjol karena klarifikasi, rekomendasi, andaikata lebih tegas rekondasi pemecatan misalnya itu ada gigi, jadi rekomendasi yang memonitor
Dalam konsep draft undang-undang kita memang konsep berbasis moral dan trust itu lebih menonjol karena klarifikasi, rekomendasi, andaikata lebih tegas rekondasi pemecatan misalnya itu ada gigi, jadi rekomendasi yang memonitor