• Tidak ada hasil yang ditemukan

107. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 62/PUU-XV/2017: IMAM NASEF

Intinya (...)

108. KETUA: I DEWA GEDE PALGUNA

Soal technical treatment, kemudian ada (...)

109. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 62/PUU-XV/2017: IMAM NASEF

Baik, Yang Mulia.

110. KETUA: I DEWA GEDE PALGUNA

Ketidakpastian hukum dan sebagainya, mungkin langsung saja ke petitum.

111. KUASA HUKUM PEMOHON PERKARA NOMOR 62/PUU-XV/2017: IMAM NASEF

Yang terakhir, Yang Mulia. Berdasarkan uraian yang telah kami sampaikan tadi, maka tidak terbantahkan lagi bahwa ketentuan Pasal 173 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 beretentangan dengan pasal 22E ayat (1), Pasal 27 ayat (1), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28D ayat (3), dan Pasal 28I ayat (2) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sehingga ketentuan Pasal 173 ayat (3) a quo harus dinyatakan batal dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.

Petitum, berdasarkan alasan-alasan hukum dan konstitusional sebagaimana diuraikan di atas, serta alat-alat bukti yang terlampir, maka Pemohon dalam hal ini memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk memutus pekara a quo dengan amar putusan sebagai berikut.

1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

2. Menyatakan Pasal 173 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 dan seterusnya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Menyatakan Pasal 173 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 dan seterusnya tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

4. Memerintahkan amar putusan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk dimuat dalam Berita Negara atau apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya.

Hormat kami, Kuasa Hukum Pemohon. Terima kasih, Yang Mulia. 112. KETUA: I DEWA GEDE PALGUNA

Baik. Terima kasih. Terima kasih juga pada Pemohon yang lain yang sudah sabar menunggu teman-teman untuk menyampaikan permohonannya karena ini sidang digabung.

Sesuai dengan hukum acara Mahkamah Konstitusi, Pasal 39, kami diwajibkan untuk memberikan nasihat kepada Pemohon, berkaitan dengan permohonan ini. Tapi sebelum soal nasihat itu, pertama-tama perlu kami sampaikan soal permintaan atau permohonan dipercepat, atau ada menggunakan istilah permohonan prioritas dan sebagainya.

Ya, tentu saja itu akan menjadi prertimbangan dari Mahkamah karena ini kaitan dengan pemilu dan perlu diketahui, sebelum empat permohonan Anda ini, sudah ada lima yang sebelumnya juga mengajukan permohonan yang sama sehingga ya, nanti kita akan pertimbangkan bersama-sama. Kemungkinan nanti kalau sidangnya mungkin ke pemeriksaan persidangan mungkin akan digabung sehingga akan menjadi lebih efektif.

Baik, itu sekadar informasi. Petama, sebagai bagian dari nasihat dulu. Ini berlaku untuk semua. Begini, berkaitan dengan uraian mengenai legal standing, khususnya dalam Anda menguraikan kerugian hak konstitusional, itu tolong dipisahkan dengan uraian mengenai alasan pembuktian tentang inkonstitsionalnya pasal yang sedang Anda uji. Kalau di uraian mengenai legal standing, Anda sebenarnya cukup singkat saja, “Pasal ini bunyinya seperti ini, kami mempunyai hak konstitusional demikian, dalam status kami sebagai perorangan warga negara Indonesia, misalnya, kami mempunyai hak ini. Karena ada pasal ini sudah kelihatan bahwa hak kami akan terhalangi.”

Cukup gitu saja sebenarnya, sederhananya seperti itulah. Jadi, jangan dicampurbaurkan persoalan pembuktian konstitusionalitas norma dengan uraian mengenai kerugian legal standing.

Kerugian legal standing sebenarnya lebih sederhana, tetapi harus jelas. Misalnya, kalau Anda maju sebagai perorangan warga negara Indonesia, dalam kedudukan sebagai atau dalam satu sebagai perorangan warga negara Indonesia itu, hak-hak apa yang dimiliki? Yang terganggu oleh ... apa … oleh keberadaan norma yang dimohonkan pengujiannya itu, logikannya kan, jelas kelihatan, kan. Misalnya kalau ada ketentuan tentang, ya, calon jadi kepala daerah misalnya harus berumur 27 tahun, sedangkan Anda baru berumur 25, nah, kan jelas kerugiannya. Sedangkan kami mempunyai hak sebagai warga negara misalnya untuk sama di hadapan hukum itu, umpamanya begitu, kan. Jadi terhalangi, itu logika-logika yang seperti itu, itu di uraian mengenai kerugian konstitusional.

Nah, baru kemudian di alasan permohonan, di situlah kesempatan Anda nanti untuk menguraikan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, mengapa norma yang Anda mohonkan pengujian itu Anda anggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945? Ya, memang tidak terhindarkan, acap kali juga akan menyinggung kerugian konstitusional, tetapi di dalam uraian mengenai kerugian hak konstitusional, Anda tidak perlu seintensif seketika Anda membuktikan soal inkonstitusionalitas itu Anda menguraikan, jadi cukup logikanya saja, itu.

Nah, berkaitan dengan itu, sebelum Yang Mulia yang lain, saya mau memulai dulu dari Permohonan Nomor 59/PUU-XV/2017, ya Nomor 59/PUU-XV/2017, Pak Wakil Kamal sebenarnya sudah terbiasa sih untuk beracara di Mahkamah Konstitusi, ya, tidak terlalu banyak ... yang ... tidak banyak yang perlu saya sampikan, kecuali dua hal.

Ya, misalnya mengenai ini yang tentang kedudukan hukum tadi, itu tidak, tidak belum jelas diuraikan sebenarnya di sini, walaupun menyebut sebagai hak warga negara, hak yang mana yang dirugikan oleh berlakunya norma undang-undang yang dimohonkan pengujian ini? Jadi, di situ memang disebutkan hak memilih dan hak dipilih dan

sebagainya, tetapi dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 rujukannya ke hak apa itu? Kan, gitu. Itu belum disebutkan.

Kemudian, Pak Wakil ini agak boros dalam penggunaan huruf besar ya, cenderung ini jelas sekali ini maksudnya untuk menekankan, gitu lho. Akhirnya yang ditekankan jadi berat, gitu. Itu mengenai hal-hal teknis. Nah, ini juga dalam pembuktian soal ... ini kan lebih banyak uraian lebih banyak berbicara soal komunikasi politik ya, nah itu. Okelah itu sebagai bagian dari ... dari argumentasi, yang menjelaskan tentang keberadaan hak pilih dan hubungan konstituen atau hubungan antara partai politik dengan konstituennya dan sebagainya itu, oke.

Tetapi persoalannya di sini kan, ingin membuktikan persoalan konstitusionalitas. Nah, itu yang saya melihat atau yang setidaknya saya dulu secara pribadi, dulu melihat itu belum tampak ada ... ada ini ya, ada penajaman ya, tolong mungkin lebih dipertajam itu. Karena yang tadi yang diulang-ulang kan, pencampurbauran hasil memilih warga negara pada pemilihan tertentu itu yang tampak sengit sekali tampaknya digunakan sebagai dasar gitu, ya.

“Kalau saja saya tahu bahwa ini akan mendukung hak angket, saya enggak akan milih,” itu kan yang tadi yang terakhir pernyataannya, kan? Nah, itu, itu ya, bukan tidak bisa dijadikan sebagai alasan konstitusional kalau Anda belum bisa membuktikan secara lebih tajam pertentangan norma ma ... norma mana dalam konstitusi yang dilanggar oleh ketentuan itu.

Lalu, yang terakhir mungkin nanti sebelum Yang Mulia yang lain untuk Pak Wakil Kamal, maksudnya yang terakhir yang petitumnya yang nomor 2 dan nomor 3, itu digabung saja ya, Pak Kamal. Pernyataan tentang pertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, itu disatukan saja, kami sudah ... apa namanya ... supaya lebih ...lebih ringkas, gitu. Itu untuk Pemohon Nomor 59/PUU-XV/2017.

Nomor 60/PUU-XV/2017 ini, ya mungkin ini akan sama dengan permohonan yang terakhir, ya karena ini partai politik, tentu yang menjadi persoalan adalah ya memang sudah dijelaskan di sini siapa yang mau ini, Ibu Grace Natalie, ya sama sekjen, cuma yang perlu ditegaskan adalah bahwa menurut AD/ART partai itu yang boleh bertindak untuk dan atas nama partai itu, siapa? Karena ada juga yang menggunakan istilah … apa … mungkin selain ketua umum dan sekjen, ada yang menggunakan istilah presiden dan sekjen, dan lain sebagainya itu? Tunjukkan saja secara jelas di dalam AD/ART-nya. Nah, itu juga.

Nah, mungkin tentang kerugian hak konstitusionalnya, saya kira karena sebagai partai politik, ini sudah jelaslah, gitu ya, tapi juga sudah disebutkan di sini pasal-pasal yang dirugikan. Ini juga uraian tentang legal standing-nya barangkali bisa diringkas lagi, ya. Ini karena pada waktu menguraikan legal standing, kan sebenarnya seperti saya sampaikan tadi gampang. Menurut Pasal 51 Undang-Undang MK yang

boleh menjadi pihak atau Pemohon adalah banyak itu kan? Perorangan warga negara Indonesia, kemudian kesatuan masyarakat hukum adat, badan hukum.

Nah, partai politik dalam hal ini sebagai badan hukum. Kami adalah badan hukum sebagaimana dibuktikan dengan pendaftaran begini. Nah, apa hak-hak badan hukum itu? Ada, dengan berlakunya ini, maka tampak dirugikan, begitu saja sederhana. Nah, nanti ketika persoalan inkonstitusionalitas, barulah di situ kemukakan uneg-uneg Anda untuk mendalilkan seperti yang saya sampaikan tadi itu. Itu mengenai ... apa namanya ... Permohonan Nomor 60/PUU-XV/2017. Sama juga nanti persoalan pertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, itu sudah ... ini sudah disatukan, jadi tidak perlu ada ... saya tidak perlu ada nasihati lagi.

Nah, soal kedalaman argumen dan sebagainya, tentu kami Majelis Hakim tidak boleh ikut campur, itu tergantung pada Anda. Nanti kalau begitu nanti Hakimnya yang membuatkan Anda permohonan kalau itu sampai dicampuri, nah ... anu ... hanya saja, cuman logika atau sistematikanya saja. Itu yang Permohonan Nomor 60/PUU-XV/2017.

Nomor 61/PUU-XV/2017, nah, ini agak unik, Pemohon, Pak Kautsar. Di permohonan ini disebutkan bahwa Pemohon kedudukannya adalah sebagai perseorangan warga negara Indonesia, begitu ya? Dalam permohonan, ya? Ya, dalam permohonan sebagai perseorangan warga negara Indonesia. Tapi yang pasal yang dipersoalkan, itu kan soal KPU? Nah, yang belum tampak uraiannya dalam uraian mengenai legal standing-nya adalah apa kerugian hak konstitusional Anda sebagai perorangan warga negara Indonesia ketika soal pasal tentang KPU itu berubah sebagai perorangan.

Nah, misalnya kalau Anda sebagai fungsionaris KPU atau KIP misalnya di Aceh, ya itu tampak, kan? Tampak ada kerugian kewenangan konstitusionalnya, misalnya. Nah, tapi sebagai perorangan, apa? Kan hak-hak ini terpenuhi juga. Nah, atau bagaimana mengaitkan itu? Sebagai perseorangan warga negara Indonesia, Anda menjadi dirugikan. Misalnya, dulu waktu zaman KIP, kami menikmati hak ini karena sekarang setelah digabung, ada hak konstitusional yang berubah misalnya, gitu, atau yang dirugikan. Apakah itu maksudnya atau bagaimana? Atau Anda mempunyai gagasan yang lain berkaitan dengan itu dalam kedudukan sebagai perseorangan warga negara Indonesia? Nah, itu. Nah, enggak usah dijawab, nanti di perbaikan permohonan, nanti kan ada, enggak perlu ditanggapi, dicatat saja. Itu juga kalau mau diperbaiki kan, kami kan cuman menyarankan.

Nah, kemudian selanjutnya, memang yang sudah diuraikan di dalam permohonan ini adalah historical background ... apa ... latar belakang sejarah dari lahirnya undang-undang pemerintahaan Aceh, kan begitu. Ada kesepakatan Helsinki, kemudian, dan seterusnya itu. Tapi khusus mengenai pertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun

1945, itu yang belum dipertajam, justru. Memang ada soal kekhususan disinggung soal Pasal 18B dan seterusnya, tetapi di situ belum ada uraian yang lebih komprehensif mengenai soal itu. Tampaknya hanya ... kalau enggak salah saya cuman menemukan satu poin itu di bagian tertentu di dalam posita yang membahas tentang itu. Mengapa ini saja yang dipertajam? Perjanjian Helsinki dan seterusnya, sejak GAM dan seterusnya, itu kan hanya background, tapi yang Anda mau buktikan kan pertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, kan? Bukan soal itu, kan? Gitu, kan? Sekarang sudah ini ... alhamdulillah itu sudah lewat kan, masa-masa gelap itu kan, tidak ke sana lagi kaitannya. Tapi kalau persoalan dengan pertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, itu yang perlu diuraikan.

Nah, dua hal itu, soal legal standing itu yang penting. Tolong mengenai legal standing ini, Pak Kautsar, ya, itu ... atau Kuasanya, diperhatikan sungguh-sungguh karena nanti kalau legal standing-nya enggak jelas, dianggap tidak punya legal standing, kan pokok permohonan jadi tidak diperiksa nanti, kalau masih menggunakan ini lho, kualifikasi sebagai perseorangan warga negara Indonesia. Itu harus tampak hubungannya dengan norma yang dimohonkan pengujian ini. Di mana kerugiannya itu? Itu yang mesti dijelaskan. Saya kira lawyer tahulah itu. Kalau saya lebih detail dari itu, ya sekali lagi, nanti saya yang membuatkan permohonan nanti. Itu yang jelas keterkaitannya itu tampak demikian.

Nah, kemudian yang terakhir, ini partainya Pak Hary Tanoe, Perindo. Lengkap ininya, penjelasannya, saking lengkapnya banyak yang diulang. Saya ... saran saya satu saja, sama tadi ... dua sebenarnya, sama tadi, tunjukkan di dalam AD/ART siapa yang berhak bertindak untuk dan atas nama partai, kita semua kan, tentu tahu ketuanya ini, sekjennya ini tahu kita semua. Tapi tunjukkan di situ di dalam uraian mengenai legal standing itu bahwa sebagai badan hukum, partai politik yang berhak bertindak menurut anggaran dasar ini yang berhak adalah ini. Saya kira tadi sudah disampaikan. Nah, dari situ baru kerugian konstitusionalnya.

Nah, yang selanjutnya mau saya sampaikan itu, yaitu tolong alasan-alasan yang tadi yang bagus itu disistematisasi lagi, ya sehingga tidak perlu ada pengulangan, misalnya. Ini pasal ... padahal ini yang didalilkan kan yang mau dimohonkan pengujian kan cuma satu pasal, kan? Tapi ini 58 halaman. Halaman rumah siapa lagi yang diambil ini, banyak sekali? Ya, itu, ya. Soalnya ada juga permohonan yang enggak ada halamannya, mungkin kena pelebaran jalan atau apa itu sehingga di ini enggak ada halamannya. Nah, itu sekadar guyonan karena kita sudah sore, ya.

Itu. Jadi, sistematisasikan lagi. Misalnya ini pendaftaran begini mengakibatkan ini. Kalau di belakang mau dirujuk lagi ke sana, sebagaimana diuraikan pada uraian sebelumnya, kan tinggal begitu saja

tanpa perlu diulang, sebagaimana diuraikan seterusnya, pembedaan itu kemudian berakibat diskriminasi. Selanjutnya, misalnya dengan pembedaan sebagaimana diuraikan sebelumnya dan ketidakjelasan apa yang dirujuk, timbul ketidakpastian hukum. Itu kan jauh menjadi lebih ringkas dari permohonan ini. Tapi pada dasarnya sudah bagus, sudah oke, cuma ya saking seriusnya, satu pasal yang dimohonkan pengujian tampaknya hendak meyakinkan betul Mahkamah ini bahwa ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, jadi ya itu, tebal sekali permohonannya.

Kembali lagi tentang di petitum tentang pertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dan pernyataan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat digabung saja menjadi satu sehingga menjadi lebih ringkas. Itu saja dari saya. Silakan, Yang Mulia Prof. Aswanto. Ya, silakan.

Dokumen terkait