• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARSIP DPR RI

KETUA RAPAT:

Semuanya saya kira sudah tertampung Pak Gani silakan.

PEMERINTAH :

Terima kasih Bapak-bapak yang terhormat sudah banyak pendapat mengenai itu Pemerintah berkesimpulan begitu semangat yang tinggi dalam memberantas tindak pidana korupsi itu yang jelas pertanyaannya apakah semangat-semangat itu sudah tertampung dalam rumusan DIM Nomor 31 kalau menurut rumusan ini saya kira itu tertampung tapi didalam rancangan penjelasan itu tidak ada cukup jelas disitu Pemerintah ingin mengusulkan untuk menampung semua itu dimasukan dalam penjelasan jadi penjelasan pasal jadi dengan demikian maka baik uraian hasil guna terhadap upaya pemberantasan meliputi penjegahan dan lain lain sebagainya diharap moral koruptor dan lain sebagainya masuk semua disitu kalau demikian maka itikad Pemerintah untuk merumuskan penjelasannya ini karena kebetulan disini cukup jelas ya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih saya kira itu ditampung semua itu untuk menjelaskan sudah jelas ya masih ada yang kurang puas setuju, baik nanti rumusannya kepada Pemerintah berurusan dengan baik tentang penjelasan Pasal 4 ini disetujui (belum) satu lagi ya masih satu lagi kepada Pemerintah silakan pertanyaan terakhir.

PEMERINTAH :

Yang PDKB, PDKB menulis perlu dijelaskan mengenai oleh siapa komisi pemberantasan korupsi dibentuk oleh siapa kalau disebut siapa berarti orang tapi kalau disebut oleh apa bisa undang undang nah dengan demikian maka kami ingin memaknakan pengertian oleh siapa ini mungkin yang dimaksud itu diangkat oleh dibentuk oleh Presiden atau dengan KEPPRES apa itu tapi dilihat oleh bunyi Pasal 2 undang undang ini maka dengan undang undang ini Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi dibentuk dengan undang undang ini dibentuk Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi jadi sudah dibentuk oleh undang undang mungkin orangnya nanti yang akan mengisi institusi itu, itu diangkat oleh Presiden mungkin itu saya kira tergantung pada lebih lanjut dari undang undang ini. Saya kira itu Pak.

ARSIP DPR RI

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Oke bisa disetujui kita lanjut pada 33, DIM Nomor 33 masih ada, ... ya artinya begini tadi segala sesuatunya sudah ditampung dalam penjelasan dengan asumsi tadi bahwa semua masukan yang dikembangkan dalam usul perobahan itu dimasukan dalam pasal penjelasan apa ini bisa diterima begitu oke terima kasih Baik kita lanjutkan pada DIM Nomor 33 begitu tetap mas Edy silakan.

F PG (PROF. DR. H. PATURUNGI PARAWANSA):

Ya terima kasih Saudara Ketua mungkin didalam DIM ini fraksi kami tidak menolak atau tidak menerima hanya ingin mempertanyakan ingin penjelasan apakah pasal ini tepat masih dalam ketentuan umum. Dasar yang kami ajukan bahwa didalam ketentuan umum ini penjelasan lebih bersifat kriteriansial, jadi tidak spesial begitu, jadi kami mohon penjelasan begitu terima kasih Saudara Ketua.

KETUA RAPAT:

Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH :

Rumusan kalimat didalam F.PG diajukan F.PG ini saya pikir maksudnya apakah tidak tepat kalau dimasukan kedalam ketentuan umum. Saya kira itu Pak, jadi bukan didalam Pasal 5 kan begitu kan begitu pengertiannya cuma salah ketik ini barang kali. Apabila dimasukan dalam ketentuan umum maka independensi dari institusi ini tidak dibarengi dengan azas-azas yang harus dilaksanakan didalam melaksanakan tugas nah karena itu maka bunyi pasal DIM Nomor 33 ini dalam menjalankan tugas berwenang khusus di Pasal 5 ya jadi Pasal 5 berbunyi mengandung prinsip-prinsip atau azas-azas yang harus digunakan atau dipegang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam melaksanakan tugasnya jadi itu kalau dimasukan dalam penjelasan umum maka karena fungsi penjelasan itu menjelaskan kalau tidak menjelaskan maka dia tidak berfungsi kan begitu penjelasan mengenai azas-azas itu ada dalam penjelasan. Saya kira begitu nah jika pertanyaannya kalau kenapa tidak ditempatkan penjelasan umum ya memang tidak ditempatkan disana karena azas ini harus dipegang dalam melaksanakan tugas.

Saya kira itu Pak terima kasih.

F. PG (PROF. DR. H. PATURUNGI PARAWANSA):

Boleh saya kalau kami salah pengertian disana itu saya minta ma'af tapi tujuannya sekali lagi hanya untuk meluruskan begini terima kasih Saudara Ketua.

ARSIP DPR RI

Baik bisa kita lanjutkan kepada F PPP silakan.

F. PPP (H. ZAIN BADJEBER) :

Saya kira sama saja dengan yang terdahulu jadi masalah penempatan saja urut-urut tadi penempatan sehingga dikatakan disini bahwa Pasal 3 ini isinay diambil dari Pasal 3, Pasal 5 dipindahkan tadi itukan sudah kita lewati disinilah kadang-kadang timbul kekaburan oleh karena adanya anggapan Bab 1 itu karena ketentuan umum lalu semua itu kedudukan pasal-pasal itu sama f alu karena itu kami ingin tekankan yang 1 itu pasal 1 pengertian Pasal 2 azas atau sifat ini azas ini sehingga kalau kita katakan Bab 1 ketentuan umum lalu menganggap seluruh kedudukan pasal itu seolah-olah sama padahal juga tergantung kepada isinya, isinya apa disini kadang-kadang kita agak komfius agak kekaburan kenapa ini bisa kenapa ini tidak kalau kita tidak membedakan tentang fungsi daripada Bab1 dan pasal-pasal yang ada didalam Bab 1 itu sendiri.

Terima kasih Pak ketua.

KETUA RAPAT:

Terkait dengan pasal yang terdahulu kita maju kepada Fraksi TNI Polri.

TNl/POLRI (HE. TATANG KURNIADI, SH) :

Jadi kami dari TNI Polri hanya mohon bisa dipertimbangkan untuk mengganti azas ini dengan berpegang teguh pada prinsip alasan yang pertama sesuai dengan TAP MPR yang mengalirkan sampai lahir undang-undang ini disebut disitu prinsip itu satu ada juga yang kebetulan saya cari ada kesamaan dengan undang undang sebelumnya yang menggunakan berpegang teguh kepada prinsip itu sedang saya cari ini ada kesamaan itu saya ini sedang mencari tapi belum ketemu tapi yang saya ingat bahwa usulan prinsip ini lahir karena ada kesamaan dalam undang undang sebelumnya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Sekaligus dirangkum Pemerintah silakan.

PEMERINTAH :

Terima kasih untuk usul P3 Saya kira sudah sinkron dengan sebelumnya kemudian TNI Polri didalam Undang-Undang No. 28 itu azas yang dipakai kata azas dipakai. Cuma kalau azas dari bahasa Arab prinsip dari bahasa lnggris beda asalnya saja tapi pengertiannya sama itu saja untuk kata azas diganti dengan prinsip. Saya kira itu penjelasan Pemerintah.

Terima kasih.

ARSIP DPR RI

KETUA RAPAT:

Ya kelihatannya sama gitu,(penguasaan kalimat saja yang berbeda) bagaimana TNI Polri bisa diterima silakan.

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR):

Begini Pak Setuju dengan TNI jadi lebih jelas kadang-kadang azas waduh apa tadi apa namanya berpegang teguh ya ini jelas nih berpegang teguh pada prinsip nah ini prinsip ini setuju itu.

KETUA RAPAT:

lni tawaran, ini barangkali begitu Pak Badjeber bagaimana yang lainnya azas ini ada prinsip.

F. PPP (H. ZAIN BADJEBER) :

Saya kira lihat saja kita kalau di Timsin, Tim Sinkronisasi, sinkronisasi itu tidak terhadap undang undang itu sendiri tetapi dengan undang undang yang lain yang paling tidak yang terdekat yang terdekat itu sepaham saya karena kata-kata keterbukaan akuntabilitas dan seterusnya itu ada pada Pasal 4 atau pasal berapa dari Pasal 3 dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 jadi sudah dibakukan dikata azas itu menyangkut akuntabilitas keterbukaan dan seterusnya kecuali barang kafi kalau dalam tahun 2000, 2001 ada undang undang baru yang mengatakan itu prinsip ini biasanya dalam rangka sinkronisasi itu kita bukan hanya pada undang-undang Rancangan Undang-Undang itu tapi juga dengan undang undang lainnya yang lahir sebelumnya paling tidak yang terdekat.

KETUA RAPAT:

lni kalau dilain-lain itu azas azas umum Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 ini azas-azas umum ini yang diminta Pak Patrialis yang lugas begitu. Saya kira ada tanggapan lain barang kali ini Pak Badjeber tadi memberi informasi bahwa tadi dikaitkan dengan undang-undang terdekat Pemerintah silakan.

PEMERINTAH :

ARSIP DPR RI

KASET S:

Tanggal 22 Januari 2002

KETUA RAPAT:

Asas-asas umum, Undang-Undang Nomor 28, Undang-Undang Nomor 28Tahun1999, ya ini asas-asas umum, ini yang diminta Pak Patrialis tadi yang lugas begitu kira-kira, ada tanggapan lain barangkali, ini dari Pak Badjeber tadi memberi informasi bahwa dikaitkan dengan undang-undang yang terdekat.

Pemerintah silakan.

PEMERINTAH :

Untuk usulan reformasi tadi dari TNI POLRI sudah mengiyakan memakai asas tadi, termasuk, belum, oh belum, oh masih mencari.

F. TNl/POLRI :

Cuma baru ketemu ini yang mengalirkan apa mengalirkan masalah korupsi ini dari TAP MPR dia mencari kata prinsip itu pasal 4 TAP MPR No 6 Tahun 1998.

Ya Ketua, ya kalau itu temen-teman dari TNI POLRI bahas TAP MPR dia bukan bahas undang-undang tapi yang mau dikatakan tadi oleh Pak Zain dan Pak Gani, rumusan baku bahasan undang-undang terdekat itu seperti itu.

KETUA RAPAT:

Sebentar saya kira bisa diterima asas dulu nanti kalau ditemukan rumusan yang terdekat ada prinsip bisa ditawarkan, kira kira begitu.

PEMERINTAH :

Catatan ya yang terdekat Undang No. 1 tahun 2001 tentang APBN Undang-Undang No. 2 tentang Kepolisian Negara, Undang-Undang-Undang-Undang No. 3 tentang Pertahanan Negara itu memang tidak memuat tentang itu, jadi yang terdekat kepada ini adalah Undang-Undang No. 28 tahun 2001 itu, terimakasih, jadi tetap pada rumusan semula.

ARSIP DPR RI

KETUA RAPAT:

Baik, nanti kalau ada temuan nanti di sinkronisasi bisa itu, ya setuju ini, setuju.

(KETOK PALU 1 X)

DIM Nomor 34 sekarang tinggal menuju DIM mengenai waktu disepakati sampai jam berapa ini, jam 4, jam 4 ajalah ya masih tujuh menit, jam 4 kita selesaikan DIM Nomor 34, DIM Nomor 34, Reformasi silakan.

FRAKSI REFORMASI ( H. PATRIALIS AKBAR, SH):

Dalam DIM Nomor 34 ini, katakanlah sementara ini kita sepakat berasaskan maka kami menempatkan asas yang pertama itu adalah keadilan dan kebenaran, karena kita tahu bahwa baik itu secara filsafati bahwa tujuan dan cita-cita terakhir dari hukum itu adalah keadilan mutlak itu keadilan dan kebenaran, nah oleh karena itu asas keadilan dan kebenaran ini harus kita . tempatkan pad a asas yang pertama dimana keadilan ini adalah tentunya tidak hanya kepada kepentingan-kepentingan negara saja tetapi juga kepentingan terdakwa sendiri atau orang itu sendiri menginginkan kebenaran dan keadilan itu, sementara kalau kita secara filsafati bicara kepastian hukum, kepastian itu ngga ada di dunia ini, ngga ada kepastian itu yang ada adalah keserasian namun demikian masalah kepastian ini nanti kita bahas, kami menempatkan asas pertama adalah keadilan dan kebenaran, terimakasih.

KETUA RAPAT :

Langsung pada Pemerintah ini.

FRAKSI PDIP ( MARAH SIMON MHD SYAH, SH ) :

Saya dikit Pak, Pak saya dikit Pak, usulan dari Reforrnasi tadi, Reformasi betul tapi saya agak ini dikit mengenai keadilan, keadilan kebenaran, ternyata sekarang korupsi yang Bl aja ngga bisa ditangkap yang itu ngga bisa diadili gimana persoalan ini, ini keadilan yang mana ini, persoalannya ini kebenaran yang mana yang kita ambil sekarang, keadilan itu bisa mengatakan adil dia, dia adil bisa saja ini persoalannya ini ngambang kalau saya kira ini keadilan tapi bagus apa yang di Reformasi tapi jelas pada prinsip keadilan yang mana kebenaran yang mana, sebenarnya sekarang sebenarnya korupsi itu ngga bisa dilihat tapi nyata kan itu persoalannya, nah hukum apa yang kita buat sehingga dia itu terjerat dengan hukum, nah tangkap langsung kan itu persoalannya inilah kita buat undang-undang itu, jangan kita banyak basah-basah, banyak yang nggak ketangkap tapi uang negara hilang terus ini persoalannya.

Dasar inilah pemikiran kita ini sekarang dia pura-pura nyata tapi dia main terus, nah yang ini bilang dia dasar hukumnya ngga ada ini ngga ada nah selama terjadi ini bahwa Undang-Undang Korupsi ini, sekarang inilah ini yang terjadi tujuannya supaya undang-undang yang kita buat ini tap langsung pas tap langsung, ini jaksa balik lagi balik lagi banyak itu apalagi yang di Payakumbuh Walikota itu malu alas nama Presiden mengatakan persidangan ngga bisa sekarang korupsi apa Walikota Payakumbuh ternyata sampai sekarang udah waktu waktu Wakil Presiden

ARSIP DPR RI

DPRD mengatakan dia terlibat dengan korupsi begini begini, ini yang kita minta sekarang Pak mau orang bagaimana undang-undang itu tap dia langsung jadi ketakutan itu langsung ini, ini sekarang ban yak kan banyak sekarang, mana terjadi sekarang Pak ... Syahril Sabirin tenang tenang saja dia, masa dia punya, dasar hukumnya sekarang Bl, Bl itukan putra ekonomi itu, 5 rupiah aja tau dimana uangnya larinya itu kenapa ini ngga selesai ini persoalannya yang sangat rumit.

Dalam pikiran saya semuanya belaga dia benar belaga benar, apa benamya nah karena hukum nggak jelas ya dia santai aja, ngga bisa dipaksa nah ini sebenarnya Gusdur udah bagus dulu toh, tangkap dulu jelas, tapi ngga lagi ini persoalannya Pak.Terima kasih.

Pandangan yang positif sehingga undang-undang ini aga jangan perlema perlema aja, keadilan, kebenaran, keadilan kebenaran apa yang keadilan kebenaran itu terima kasih Pak.

FRAKSI PDIP (I NYOMAN GUNAWAN, SH, MBA, M.Sc. ) :

Saudara Ketua, Saudara Pimpinan, terima kasih Pak Marah Simon yang tadi sedikit menggebu..gebu, ya saya kurang sependapat kalau memang masalah keadilan dan kebenaran ini, sebab sangat abstrak dan subyektif sifatnya Pak, tapi kalau sudah kepastian itu berdasarkan suatu aturan hukum yang jelas berdasarkan keputusan yang sudah kita sepakati bersama, jadi jadi kalau ini masalah keadilan dan kebenaran ini sangat-sangat subyektif Pak, jadi belum tentu kebenaran pada orang lain ini kadang-kadang sangat berbeda Pak, jadi saya lebih cenderung ditetapkan kepastian hukumnya.

Seki an terima kasih.

FRAKSI PDIP (ALEXANDER LIT AA Y ) : Saudara Ketua, untuk memperkuat, jadi KETUA RAPAT :

Memperkuat yang mana Pak, memperkuat yang mana I FRAKSI PDIP (ALEXANDER LIT AA Y ) :

Ya masih ini, jadi begini istilah kepastian hukum itu sudah ratusan tahun itu, jadi lebih umum lebih universal kalau keadilan dan kebenaran kan lebih bersifat filosofis, filosofi hukum, jadi karena ini bahasa undang-undang mulai belajarpun dulu ya masih ingat aja soal Rechsakerheit jadi sudah lebih umum, kalau untuk bahasa undang-undang gitu, jadi kami bisa menenma kalau yang kepastian hukum, jadi kami ini a inilah bahasa undang.undang, tidak bahasa filosofi itu aja.

KETUA RAPAT : Pak Badjeber silakan.

ARSIP DPR RI

FRAKSI PPP ( H. ZAIN BADJEBER ) :

Saya kira tadi sudah sedikit dijelaskan bahwa dalam bahasa beliau bahasa Sunda bahwa kepastian hukum itu Rechsakerheit, cuma apakah sesuatu kepastian hukum itu padanannya keadilan atau kalau kita bicara hukum dan keadilan, tapi kalau kita bicara kepastian hukum Rechsakerheit tadi apakah ekomya juga keadilan jadi saya sepakat kalau memang asas itu hukum + keadilan, tapi kalau asas itu kepastian hukum apakah tepat sambungannya keadilan jadi kalau memang kata kepastian hukum tidak ada lagi kata keadilan keikutannya tapi kalau memang kata hukum dan keadilan karena disini memakai kepastian hukum lalu kami tidak mengusulkan untuk nambah.

FRAKSI REFORMASI ( H. PATRIALIS AKBAR, SH) : Pak terakhir, komentar, terima atau tidak nanti terserah.

Dokumen terkait