• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANJA. Selasa, 22 Januari 2002 ARSIP DPR RI . I '.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PANJA. Selasa, 22 Januari 2002 ARSIP DPR RI . I '."

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

PANJA

Selasa, 22 Januari 2002

<

) ..

. I ' .

ARSIP DPR RI

(2)

KASET 1

KETUA RAPAT :

Tgl 22 / 01/ 2002

Bismillahirrohmannirrohim

Assalammu'alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semuanya.

Yang terhonnat saudara Dirjen yang mewakiJi Menteri Kehakiman dan HAM, yang terhonnat rekan-rekan Pimpinan dan Anggota Panja Komisi II yang saya cintai dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa maka pada siang hari ini kita akan melanjutkan pembahasan pemilihan tingkat III dalam rangka membahas Rancangan Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam keadaan sehat wal afiat dengan mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim skorsing kami cabut kembali, dan selanjutnya Panja kita buka dinyatakan tertutup untuk umum.

(KETOK PALU 1 X)

Saudara Dirjen yang mewakili Menteri dan Anggota Komisi Panja yang kami honnati sebelum kita lanjutkan membahas materi RancanganUndang-Undang yang ada dalam persandingan sebenarnya kami melalui meja Piinpinan ini menyampaikan haJ- hal sebagai berikut :

Yang pertama rapat Panja pada hari Selasa, 15 Januari yang lalu telah selesai membahas DIM Nomor urut 3 sampai dengan DIM Nomor urut 22 namun dalam pembahasannya ada beberapa catatan penting antara lain dalam DIM Nomor 20,21,22 pcmbahasannya dipending, DIM Nomor 17 usulan Fraksi PPP mengenai penambahan sub-sub bagian pertama pengertian dipending dan akan dibicarakan dalam rapat Tim perumus dan sinkronisasi .

Yang kedua Panja dan Pemerintah sepakat ada penambahan butir baru pada DIM Nomor urut 9 yaitu mengenai ketetapan MPR No. VIII I MPR 2001 tentang rekomendasi arah kebijakan Pemberantasan dan pencegahan Kompsi Kolusi dan Nepotismc dan penambahan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi demikianlah pengantar kami dan guna memanfaatkan waktu yang ada kami akan melanjutkan pada DIM Nomor 23 selanjutnya .

F.PPP ( H. ZAIN BADJEBER, SH ) Usul Pak Ketua

ARSIP DPR RI

(3)

Silakan

F.PPP ( H. ZAIN BADJEBER, SH)

Untuk sidang-sidang berikutnya kalau sempat Sekretariat mengirim sejauh mana progress dari pada supaya biasanya kan antar wakil yang datang ini komunikasinya, jadi begitu datang dia sudah punya pegangan sampai sekian pembahasannya, karena misalnya saya sendiri tidak hadir pada waktu yang lalu , tapi saya tidak pernah terima, nah sekarang baru diserahkan .

KETUA RAPAT :

Ya sekarang sudah dimeja Bapak-bapak sekalian, selanjutnya boleh karni lanjutkan lagi, usulan ·Fraksi PPP penambahan 6 butir baru kami persilakan kepada Fraksi PPP.

Pak Badjeber kami persilakan .

F.PPP ( H. ZAIN BADJEBER, SH) :

Terima kasih, sebenarnya kalau kita lihat yang namanya 6 butir baru ini adalah menyangkut sekaligus urut-urutan yang perlu diterangkan didalam Ketentuan Umum mengenai pengertian ini yaitu apa yang dimaksud dengan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi untuk selanjutnya disingkat Komisi Pemberantasan Korupsi kemudian uraian pengertian dari tugas-tugas daripada komisi itu termasuk misalnya, penuntutan maupun penyidikan, penyelidikan mungkin ada yang menganggap yaitu kan di KUHAP, sudah ada di KUHAP tapi pada umumnya dari waktu-waktu yang dulu kalau kami biasa menyusun Rancangan Undang-Undang tidak ada salahnya bahwa dia dicantumkan di Undang-Undang ini sehingga pemakai tidak perlu harus lagi membuka KUHAP walaupun misalnya penyelidikan, penyidikan, penuntutan yang dimaksud disini tidak ada bedanya dengan apa yang ada di KUHAP apalagi kalau ada sedikit perbedaan tentunya perlu diberikan pengertian, jadi sebelum adanya yang mengatakan bahwa ini kan pengulangan KUHAP ini sekedar untuk mengkompilir kesini, mengkopelasikan kesini fungsi-fungsi yang ada pada KUHAP tersebut, jadi boleh disebut juga kalau boleh tidak disebut tetapi juga kalau disebut tidak dapat dianggap berlebihan ini pengantar.

Terima kasih.

KETUA RAPAT

Terima kasih, sebelum ada Pemerintah barangkali dari yang lain menangapi mengenai usulan dari PPP .

ARSIP DPR RI

(4)

F. PDKB ( PROF. DR. MANASSE MALO ) :

Ya, yang pertama tadi Pak Zain Badjeber apakah itu dari kaedah penuturan hukum itu benar kalau disebut di Undang-Undang yang ada sebelumnya dikutip persis sama dengan Undang-Undang yang baru itu biasanya ngak boleh kata orang lain .

F.PPP ( H. ZAIN BADJEBER SH) :

Karena ini pertanyaan bukan pendapat saya kira perlu saya jawab dulu, saya tadi sudah mengemukakan sudah lazim kami lakukan di DPR ini sejak katakanlah misalnya pada waktu kita membuat Undang-Undang tentang Kepolisian penyidikan itu apa pada waktu kita memhuat Undang-Undang tentang pengadilan HAM dan sebagainya, fungsi-fungsi itu yang ada di KUHAP kita ulangi kembali, jadi saya tidak bicara teorinya, kalau teorinya barangkali Pak Pemerintah lebih itu, saya bicara praktek yang kita sudah lakukan dibeberapa Undang-Undang.

Terima kasih KETUA RAPAT Dari yang lain silakan .

F.PDIP ( I NYOMAN GUNA W AN,SH.MBA.MSc )

Saya mohon supaya Pemerintah menjelaskan tatacara tehnik Perundang- undangan apakah ini dibenarkan kita mengambil begitu saja dari KUHP , supaya dari Pemerintah dulu menjelaskan Pak.

Terima kasih . KETUA RAPAT

Baik silakan Pemerintah . PEMERINTAH

Terima kasih.

Assalammu'alaikum WB. Wr.

Pertama soal pertanyaan dari Bapak yang sebelah kanan, maaf saya lupa, Pak Nyoman mengenai pengambilan ataupun ketentuan yang sudah ada , atau katakanlah yang sudah baku diperaturan perundang-undangan yang lain dimasukan dalam suatu RUU itu sesuatu yang bisa terjadi dan dalam system hukum kita itu lazim dilakukan, seperti mentransfer pasal-pasal KUHP menjadi pasal-pasal Tindak Pidana Korupsi didalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 yang barn saja kita selesaikan itu bisa terjadi begitu kemudian juga antara Undang-Undang dengan Undang-Undang yang lain itu selalu saling mencontoh atau sating jadikan contoh kalau ada rumusan yang relevan

ARSIP DPR RI

(5)

ada sudah disebut didalam TAP MPR No. 6 - 7 Iangsung ditransfer rumusan itu menjadi rumusan Undang-Undang Kepolisian seperti itu jadi bisa sekali terjadi, kemudian apa boleh kami menjawab sekaligus saja karena untuk tahap ini saya kira Pak Pimpinan bisa .

Mengenai tambahan dari PP ini dapat kami beri tanggapan sebagai berikut : bahwa mengenai rumusan-rumusan yang dibuat ini memang kelihatannya seperti kata Profesor tadi ada semacam refetitif atau mengulangi apa yang sudah ada tapi kalau memang itu diperlukan maka lebih baik mengambil langsung dari rumusan yang sudah ada didalam KUHAP apa itu penyidikan, apa itu penyelidikan dan lain sebagainya begitu juga yang sudah ada dalam Undang-Undang Pengadilan HAM nah untuk disini Pemerintah ka1au memang ini disetujui Pemerintah dapat melakukan hal ini sehingga terjadi sinkronisasi yang tepat mengenai rumusannya, kemudian rumusan yang Nomor 4 itu sudah ada didalam Pasal 3 Rancangan Undang-Undang ini jadi saya kira yang Nomor 4 itu tidak dipelurkan lagi karena sudah ada dalam Pasal 3, nah mengenai kewenangan-kewenangan lebih lanjut itu cukup disebut dan dilaksanakan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan independent, nah wewenang langsung disebut pada pasal-pasal lebih lanjut jadi tidak perlu dirinci didalam definisi sebagai prinsip umum, sebab Ketentuan Umum itu mengandung prinsip-prinsip yang tidak perlu dirinci jadi kalau dalam Pasal 3 Komisi Pemberantasan Korupsi adalah Lembaga Negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat Independen dan bebas dari pengamh kekuasaan manapun nah kalau memang ditambah disitu komisi pemberantsan korupsi itu sebenarnya sudah merupakan singkatan dari Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Kompsi yang selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi jadi saya kira sudah disitu, mengenai koordinasi kami melihat koordinasi tidak sering disebut di dalam Undang-Undang ini dalam RUU ini, nah rumusan Ketentuan Umum itu diberikan apabila memang didalam RUU itu terdapat pengulangan-pengulangan penyebutan karena pem1intaan pasal substansinya tapi kalau memang yang akan dilakukan itu oleh komisi adalah koordinasi maka tanpa dibuat ketentuan umum pun itu sudah cukupjadi tidak perlu disebutkan ketentuan umum karena yang lazim disebut dalam ketentuan umum itu atau definisi seperti ini itu adalah hal-hal yang ungkapanya itu selalu dipakai didalam pasal, sehingga ketika sering disebut maka pembaca itu tidak bisa lagi bertanya kok sering disebut apa sih sebenamya dimaksud perasa ini karena itu diberi dalam ketentuan umum, mengenai super visi begitu juga saya kira koordinasi dan supervisi adapun mengenai penyelidikan dan penyidikan dibawah itu mungkin itu masih bisa dipertimbangkan untuk dimasukan karena memang ada sering disebut didalamnya itu juga mengenai penuntutan akan tetapi begitu disebut penyelidikan, penyidikan ataupun penuntutan itu pikiran kita sudah sampai langsung apa yang dimaksud kata-kata itu didalam KUHAP, jadi tanpa disebut ulang disini sudah langsung kesana mungkin ini dimaksudkan untuk membantu pembacaan,sehingga perlu dicari lagi pengertian semacam itu, kalau pertimbangan nya itu maka kalau untuk masyarakat umum saya kira ya, tapi untuk kalangan aparat penegak hukum tanpa disebut ulangpun mereka sudah dapat memahami kata-kata yang disebut didalam Undang-Undang ini sepanjang yang

ARSIP DPR RI

(6)

penyebutannya berbunyi penyidikan, penyelidikan, ataupun penuntutan jadi itu Pak Pimpinan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan , ada tanggapan kami, yang pertama dari pengusul tidak ditulispun tidak apa-apa karena ini meringankan untuk mencari satu itu, yang kedua ini perlu memperhatikan hal yang berkait dengan penghematan atau efesiensi . yang ketiga apabila yang ditulis ini terjadi pengulangan didalam pasal-pasal berikutnya , yang keempat ini kalau ditulis tidak lengkap berarti ada yang menunda untuk interpretasi yang lain. Dengan pemikiran itu saya kira kami tawarkan kepada rekan-rekan apakah enam butir itu masih perlu dimasukan lagi atau tidak perlu, kami kembali kepada pengusul.

Silakan.

F.PPP (H. ZAIN BADJEBER, SH)

Memang sejak awal saya katakan bahwa ini masalah bisa ditulis bisa tidak ditulis dan itu sudah ditulispun sudah ada contoh-contohnya hanya masalah menyangkut Pasal 3 itu kedudukan Pasal 3 berbeda kedudukan dengan Pasal 1, missal pada Pasal 1 kita bicara pengertian pada Pasal 3 bukan lagi sebenamya pengertian disitu sudah menyangkut asas daripada institusi sementara yang kami bicarakan pada pengertian bahwa komisi itu adalah komisi yang dimaksud pada Pasal 43 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 20 seterusnya jadi itu ada perbedaan oleh karena itu dalam sistematika yang kami tawarkan bahwa Bab I Ketentuan Umum itu sebenamya terdiri bukan dari satu substansi jadi ada substansi yang menyangkut pengertian, ada substansi yang menyangkut pemyataan terbentuknya komisi ini dan ada yang menyangkut asas dan tujuan seterusnya, jadi itu baik struktur seperti itu biasa juga dalam Undang-Undang yang menyangkut pembentukan suatu Institusi, katakanlah Undang-Undang tentang Koperasi, Undang-Undang tentang ini jadi bukan tidak lazim tinggal terserah kita pilih cuma saya ingin katakan bahwa kedudukan Pasal 3 berbeda dengan, karena itu kalau Pasal 3 nantinya kita tiba disitu kita pertahankan baiknya tidak berbunyi sebagai pengertian dia kalau memakai adalah itu biasanya langsung fungsinya itu pengertian padahal yang ingin diberikan Pasal 3 itu bukan pengertian saya kira. Terima kasih.

Jadi kami tidak ada masalah cuma ingin menjelaskan kembali supaya persepsi kita sama.

KETUA RAPAT

Baik, mungkin ada silakan Pak Alex .

ARSIP DPR RI

(7)

F.PDI P ( ALEXANDER LIT AA Y) :

Pak Ketua, saudara-saudara sekalian yang dibilang Pak Zain itu saya kira benar harus ada pengertian-pengertian dulu tentang lembaga itu, kemudian kalau memang di Pasal 1 itu harus yang menyangkut pengertian-pengertian dan beliau usulkan supaya kalau bisa di pasal pasal berikutnya, kalau sudah ada pengertian di Pasal 1, pasal berikut tidak lagi pengertian, nah kalau kita banding misalnya ada soal kedua begini Pak Zain, ada lagi soal begini Pak Zain bisa saja rumusan yang sudah baku itu mau disempumakan bisa juga terjadi begitu, artinya rumusan yang sudah ada di Undang-Undang No.31 Tahun 1999 itu juga kita angkat bisa juga kita sempumakan kalau misalnya kita anggap belum sempurna, saya ambil contoh rancangan Pasal 3 yang diusulkan oleh Pemerintah dengan usulan Pasal I yang diusulkan oleh PPP tentang pengertian rumusan yang diusulkan Pemerintah Pasal 3 itu ada menyebut ada Lembaga Negara itu diusulkan oleh Pemerintah sedangkan di Undang-Undang No. 31 yang diusulkan tadi oleh teman-teman PPP tidak disebut sebagai Lembaga Negara dia hanya lembaga independent bagaimana kita, mana yang mau kita pakai atau kita sinkronkan dalam rangka penyempumaan maksud kita tetap satu bahwa Undang-Undang ini harus baik bila perlu yang terbaik, meninggikan lagi status dari pengertian - pengertian yang ada, saya kira kalau itu terjadi kenapa tidak terima kasih Pak Ketua .

KETUA RAPAT:

Jadi prinsipnya untulc penambahan pengertian boleh saja ya Pak . F.PDKB ( PROF.DR .MANASSE MALO ) :

Supaya jelas dulu yang kita bahas sekarang adalah Pasal 1 ayat (3) bukan Pasal 3 itu supaya bukan kesana kemari bilang Pasal 3 padahal baru Pasal 1 ayat (3) oke.

Terima kasih.

KETUARAPAT:

Jadi kembali kepada pengusul bahwa itu semuanya adalah merupakan suatu penjelasan kalau ditulispun tidak apa, tapi tidak ditulispun tidak apa ini hal yang ditawarkan kepada kita pada flour ini apakah ini bisa ditulis atau tidak tambahan pengertian ini, kalau iya diterima kita hams tulis yang benar begitu supaya tidak mengundang interpretasi yang lain, saya kira begitu, kalau tidak ada tawaran dari flour kami serahkan kepada Pemerintah silakan .

ARSIP DPR RI

(8)

PEMERINTAH :

Terima kasih, kalau kita merujuk apa yang dikatakan Pimpinan tadi ditulis juga tidak apa-apa tidak ditulis juga tidak apa-apa, kalau ditulis harus yang benar, kalau dilihat dari itu maka kesimpulannya mudah sekali itu daripada mencari sulit-sulit lagi lebih baik tidak ditulis, tapi saya kira bukan itu yang kita cari, tapi mencari rumusan yang sangat relevan yang bisa menjadikan RUU ini menjadi yang baik begitu, jadi karena itu maka ada baik juga kalau ditulis cuma ada pekerjaan tambahan harus mencari rumusan yang lebih baik sama saja dengan memperbaiki rumusan yang ada, karena itu saya kira bagaimana kalau untuk Nomor 4 itu kita kembalikan ke Pasal 3 mungkin disitu lebih disempumakan rumusan Pasal 3 sehingga yang Nomor 4 tidak perlu ditulis, kemudian mengenai koordinasi dan supervise dan lain kebawah kalau umpamanya hal ini ditransfer ke Penjelasan Umum itu tidak bisa lebih sempuma lagi, jadi artinya bisa ditambahkan dengan rumusan-rumusan seperti yang ada peraturan perundang-undangan yang lain, sehingga tidak perlu ditulis disini tapi ditransfer ke penjelasan umum jadi semua itu bisa ditampung sekalipun rumusannya tidak normative tetapi dia memberikan penjelasan yang lebih luas mengenai itu, jadi itu Pak.

K.husus mengenai nomor 5,6,7,8,9 usul Nomor 4 kita perbaiki Pasal 3 sehingga apa yang dikatakan Pimpinan kita tampung dan apa yang sebenarnya yang diusulkan Pak Zain tadi bisa tertampung .

Terima kasih.

KETUA RAPAT

Catatan tadi mengenai koordinasi Pak, koordinasi masih relevan tidak ini yang tadi disampaikan oleh Pemerintah bahwa ini tidak terjadi . pengulangan .

PEMERINTAH :

Tapi hanya berapa kali disebut dalam ini hanya sekali kalau tidak salah, nah itu dimasukan ke penjelasan umum semua, karena bagaimanapun sekalipun tidak disebut disini tetap dia mengadakan koordinasi dengan institusi-institusi yang lain karena sangat relevan tugas satu dengan yang lain saya kira begitu.

Terima kasih.

F. PDIP (A. TERAS NARANG, SH)

Baik, Pak Ketua saya ingin menambahkan apa yang disampaikan oleh Pak Gani wakil Pemerintah berkenaan dengan masalah koordinasi dan supervise itu sudah ada didalam penjelasan Rancangan Undang-Undang ini, didalam penjelasan untuk Pasal 6, didalam penjelasan Pasal 6 itu secara jelas diuraikan apa yang dimaksud dengan koordinasi dan apa yang dimaksud dengan supervise mohon dilihat dipenjelasan kita,

ARSIP DPR RI

(9)

penjelasan Pasal 6 di Rancangan Undang-Undang itu sudah ada apa yang dimaksud dengan koordinasi dan supervisi dan karena menurut hemat saya kalau memang itu mau disempumakan dari sisi kalimatnya itu bisa kita lakukan pada saat kita membahas dipenjelasan karenanya pada saat itu pemah saya sampaikan dengan Ibu Ning kalau tidak salah ya Bu ya, untuk mempermudah pembahasan kita mohon kita juga dibantu pada saat kita membahas pasal disamping itu ada penjelasan sehingga pembahasan kita cepat tuntas seketika kita membahas Pasal 1 misalnya seketika itu pula kita langsung selesai, langsung masuk ke penjelasan biar lebih enak gitu Pak penguasaan kita lebih solid dan penyelesaian masalah bisa lebih cepat, demikian.

PEMERINT AH :

Terima kasih, dan menambah pemahaman kami, kalau kami usul di penjelasan umum malah lebih tegas lagi dipenjelasan pasal, jadi saya kira apa yang diinginkan oleh Pak Zain saya kira bisa terpenuhi sekalipun posisinya itu berbeda, tapi maksud kita saya kira sama itu Pak .

Terima kasih.

KETUA RAPAT

Dengan demikian yang masuk penjelasan umum itu hanya 7, 8, 9 kira-kira demikian.

F. PDIP (A. TERAS NARANG, SH ) :

Ya, oleh pengusul juga disampaikan bahwa butir 7, 8, 9 inikan pengutipan dari Pasal I KUHAP jadi apa yang ada dipengertian umum di KUHAP kemudian diambil alih oleh pengusul dan ini menurut hemat saya karena ini acuannya adalah KUHAP dan itu sudah kita sepakati bahwa didalam pertimbangan mengingat kita sudah menyebutkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1981, didalam mengingat didalam butir 3 kita sudah mengacu pada Undang-Undang No. 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana, jadi menurut hemat saya memang semangat nya itu betul dalam arti untuk mempermudah bagi yang membaca Undang-Undang ini tetapi kalau kita pahami seketika kita berada di yang memahami inikan orang-orang praktisi semuanya jadi dia sudah langsung terbesit dibenak dia bahwa acuan didalam hukum acara pidana tidak lain adalah Undang-Undang No. 8 tahun 1981 atau Undang-Undang No. 31 tahun 1999 dan atau juga Undang- Undang No. 20 tahun 2001, jadi menurut hemat saya sebaiknya memang ini kita nanti akan insert kan ke Pasal-pasal lain yang memang reJevan terkait dengan masalah penyelidikan, penyidikan dan penuntutan .

ARSIP DPR RI

(10)

KETUA RAPAT :

Demikian kita sudah memasuki bahwa bahan yang usulan dari Pak Badjeber tadi merupakan suatu masukan untuk memperbaiki barangkali penjelasan yang berkait dengan pasal-pasal belakangan, saya kira begitu, jadi dengan demikian untuk Pasal 4 sampai 9 ini tidak perlu disini hanya sebagai bahan untuk perbaikan pasal-pasal berikutnya demikian Pak Badjeber, ya bisa sepakat ini atau masih, sekaligus saya kira untuk dari PBB. Tidak ada .

Kita lanjut Pasal 25.

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR, SH) :

Pimpinan, sebelum dilanjutkan saya ada pemikiran apakah ini sudah ada dipenjelasan atau belum, kalau didalam DIM Nomor 21, tidak apa-apa sebelum kita maju, disini menjelaskan tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN pemahaman kita terhadap korupsi itu sudah dijelaskan didalam DIM Nomor 20 dimana kita menunjuk pada Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 saya kira ada baiknya didalam Undang-Undang ini kita juga menjelaskan sedikit terhadap pengertian komisi dan nepotisme itu sehingga sinkron begitu sebab komisi dan nepotisme serta korupsi ini kan berdasarkan Undang-Undang No. 28 tahun 1999 merupakan satu kesatuan tapi penjelasannya belum ada apakah komisi dan nepotisme juga sudah dimuat didalam penjelasan , kalau sudah berarti kita bisa maju. Terima kasih.

Kalau belum tentu saya kira ada baiknya kita jelaskan . KETUA RAPAT :

Saya kira, sebelum berlanjut barangkali tawaran yang baik ini.

PEMERINTAH :

Terima kasih, tawaran itu benar sekali cuma begini Pak korupsi itu sudah diketahui sebagai sebuah tindak pidana kemudian unsur-unsur pidananya sudah biasa kita pelajari melalui Undang-Undang yang ada tapi dengan kolusi dan nepotisme didalam Undang-Undang No. 28 tahun 1999 dalam Ketentuan Umum itu sudah ada disebut sudah terumuskan, jadi Pasal I ayat (3), angka 3 korupsi, angka 4 tentang kolusi adalah dan seterusnya, nepotisme adalah dan seterusnya jadi sudah ada disitu saya kira tidak perlu disebutkan lagi, nanti kalau sudah ada Undang-Undang tentang Nepotisme, ada Undang-Undang tentang Kolusi baru unsur- unsur pidana kolusi itu dirumuskan lagi seperti apa jadi karena itu maka saya kira dan bahkan disini sudah ada sebenamya, cuma dirinci da1am hukumnya tersendiri tapi untuk dalam Rancangan Undang-Undang inisiatif korupsi saya kira sudah dipandang cukup dengan menyimpulkan ini tanpa dirumuskan ulang begitu Pak, jadi dalam Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 itu

ARSIP DPR RI

(11)

tentang Penyelenggara Negara yang bersih dan bebas dari KKN jadi sudah ada disini.

Terima kasih.

KETUA RAPAT : Terima kasih, silakan

F.PPP (H. ZAIN BADJEBER, SH )

Saya kira memang didalam Undang-Undang Nomor. 28 Tahun 1999 itu pengertian-pengertian itu malah sanksi pidana sudah ada .

KASET 2 :

F .PPP (H. ZAIN BADJEBER) :

Kalau tidak dikatakan koreksi pertanyakan kembali rumusan yang sudah disetujui yang lalu katau kita tidak menyebutkan bahwa tindak pidana korupsi yang dimaksud dalam undang- undang ini adalah tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 31 T ahun 1999 dan kalau diubah dari Undang-Undang No 20 Tahun 2001 lalu apakah komisi ini nanti yang dimaksud untuk mengusut pefanggaran terhadap tindak pidana Undang-Undang No 371, nah ini Undang-Undang No 371

itu

dinyatakan berlaku tegasnya yang mana No 20 Thn 2001 sementara saya fihat dirumusan butir 20 DIM dan seterusnya itu terputus kata-kata sebagaimana telah dirubah begitu juga dengan apakah salah ketik ya begitu juga dibutir 12 DIM ada perbaikan tapi ada yang hilang satu kata sebagaimana telah dirubah biasanya pakai kata telah itu sudah agak bakulah disini kata telah itu tidak ada apa salah ketik apa rupanya kalau orang sudah baku.

Saya kira kita itu ya demikian.

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR, SH):

Terima kasih pada waktu pembahasan yang lalu eh Saudara Pak Ketua ingat Rancangan Undang-Undang Papua pada waktu pembahasan hari yang lalu itu sudah ditambah Pak sudah disesuaikan jadi yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 kemudian begitu juga pada butir yang 11 itu, itu sudah itu, jadi diingatkan Pak jadi pada waktu yang lalu itu semua kalau kita bicara masalah Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 itu praktis ya persis menyebut Undang- Undang No. 20, 21 persis seperti ini Pak.

Terima kasih Pak.

ARSIP DPR RI

(12)

KETUA RAPAT:

Rekan-rekan saya kira untuk mengingatkan kita itu sistim komunikasi nanti, bisa kita lanjutkan sekarang ... DIM Nomor 25 dipersilakan pada Fraksi PPP.

F. PPP (H. ZAIN BADJEBER) :

Saya kira itu tidak ikut tercaver dengan usul pertama tadi sudah didrop ke ... 4 KETUA RAPAT:

Dari F PG

F. PG (PROF.DR.H.PATURUNGI PARAWANSA):

Terima kasih Saudara Ketua dalam DIM ini F PG minta agar itu dihapus oleh karena Saya pikir pasal ini sudah termasuk didalam konsideran begitu jadi tidak perlu diulang.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

lni ada yang menanggapi masalah yang disampaikan oleh F PG. Rekan-rekan kalau tidak ada kami silakan kepada ya silakan. Pak Zain Badjeber.

F. PPP (H. ZAIN BADJEBER) :

Saya kira inikan tadi sudah saya kemukakan fungsi Pasal 1, Pasal 2 itu saling berbeda dengan Pasal 3 masing-masing punya fungsi tersendiri apalagi dengan konsideran sangat jauh ini batang tubuh ya ini pemyataan tentang terbentuknya institusi Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ini dimaksud ya walaupun pemyataan ini sebenarnya mengulangi Pasal 43 sebenarnya Pasal 43 Undang-Undang No. 31 kan sudah menyatakan adanya lembaga tersebut tapi karena ini undang-undang khusus mengatur Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak ada salahnya jug a kita ulangi menyatakan adanya institusi dimaksud.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Bagaimana FPG masih ada tanggapan mengenai yang disampaikan Pak Zain Badjeber.

F. PG (PROF.DR. H.PATURUNGI PARAWANSA):

Saya kira kalau itu ditegaskan kembali, saya kira kami tidak ada masalah.

Terima kasih.

ARSIP DPR RI

(13)

Selanjutnya dari TNI POLRI

TNI POLRI (HE. TATANG KURNIADI, SH) :

Tidak menanggapi materi ini Pak tapi saran saja seyogyanya DIM yang diusulkan oleh setiap fraksi ini ditanggapi oleh Pemerintah saja Pak tidak ditanggapi oleh sesama fraksi lainnya karena pada dasamya ini usulan kepada Pemerintah terima kasih.

KETUA RAPAT:

Bila demikian karena agaknya ini dirol bedol dulu kita cara kesepakatan. Kami silakan kepada TNI Polri untuk rumusan diganti nanti.

Fi PDIP (ALEXANDER LIT AA Y) :

Katanya fraksi kami mengusulkan DIM Nomor 25 dan 28 ini digabung yang sehingga Pasal 2, Pasal 3 ini menjadi yang 2 pasal menjadi 1 pasal yang rumusannya seperti pada usulan kami pada DIM Nomor 25 itu penggabungan antara Pasal 2 dan Pasal 3 sehingga lebih singkat materi tidak berubah jadi demikian.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

lni intinya masuk pada Pasal 3 nanti ya kira-kira demikian sebelum kepada Pemerintah ada yang menanggapi masalah ini silakan.

TNI POLRI (HE. TATANG KURNIADI, SH) :

Ya mungkin agak beda dengan teman-teman yang lain tapi kami sepakat sama ... tadi bahwa ini pertama harus tetap dirumuskan karena itu menjelaskan bahwa kan jelas disini dikatakan bahwa undang-undang ini dibentuk jadi proses terbentuknya itu di di sistim itu melalui undang-undang ini jadi hanya ini harus dirumuskan bahwa nanti di Passi 3 dan sebagainya kalau dipisahkan karena Pasal 3 itukan ... menghalangi lagi itu, itu Ketua.

KETUA RAPAT:

Pemerintah silakan.

ARSIP DPR RI

(14)

PEMERINTAH :

Terima kasih, apa yang diusulkan TNI Polri jadi ini sebenarnya menerima keberadaan Pasal 2 dan Pasal 3. Cuma ini digabung saja jadi yang saya tanggapi penggabungannya itu kemudian mengenai usul Fraksi Golkar mengenai ini dihapus didalam Pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2001, Pasal 43 Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 itu (kalau sudah diterima nggak dihapus harus diulang lagi) sudah, sudah diterima. Cuma pengertian terima tadi ingin kami tambahkan itu sudah terima cuma kami ingin tambahkan kalau memang sudah tertampung bukan tertampungnya Pak Pasal 43 itu memerintahkan adanya Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dibentuk dengan undang-undang nah karena itu maka rumusannya DIM undang- undang ini dibentuk Komisi jadi itu jadi bukan tertampungnya tetapi man ide yang terkandung dalam itu adalah perintah sekarang ini melaksanakan perintah. Saya kira itu Pak nah kemudian menurut penggabungan persis tadi dikatakan Pak Alex yang terhormat tadi posisi Pasal 2 dengan posisi isi Pasal 3 itu berbeda memang posisi Pasal 2 membantu institusinya kemudian Pasal 3 institusi itu mau kemana begitu barang itu seperti apa kira-kira posisinya jadi disini tidak bisa digabung terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ada tambahan ulang TNI Polri sudah cukup, apakah ini diterima.

F. PDIP (A. TERAS NARANG):

Begini Pak ini, ini usulan TNI Polri ini menarik Pak ini penghematan sekali ini penghematan 2 pasal menjadi 1 pasal memang apa yang disampaikan oleh Pemerintah tadi Pasal 2 itu untuk merangkai Pasal 43 ayat 1 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 inilah bentuknya tetapi yang diusulkan TNI Polri kalau begitu tinggal kita tambahkan hanya dengan dua kata ya gitu Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dibentuk dalam undang-undang ini yang selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi adalah bla, bla, bla jadi Pasal 2 kita bisa hemat dengan megabungkan Pasal 3 ini jadi ada dengan dua kata saja,dengan dua kata kita bisa menggabung sehingga ada penghematan didalam penggunaan pasal.

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR, SH) :

Dari Reformasi Pak menanggapi Pak kami kira Pasal 2 ini adalah semacam satu deklarator itu jadi suatu pemyataan bahwa didirikanlah kan begitu sedangkan Pasal 3 itu lebih mengarah kepada sifat, sifatnya bagaimana sifatnya adalah independent dan selanjutnya jadi kami kira substansinya agak berbeda untuk penghematan boleh saja tapi karena ini substansinya berbeda kami kira sudah cukup bagus ya terima kasih.

ARSIP DPR RI

(15)

Sudah cukup Saya kira apa yang disampaikam oleh Pemerintah juga dari pendapat dan kita kembali kepada Pemerintah tadi sesuai dengan apa ditulis oleh Pemerintah bisa diterima ini.

(KETOK PALU 1 X) DIM Nomor 26 ini Fraksi PPP ada usul silakan . F. PPP (H. ZAIN BADJEBER) :

Saya kira itu sama dengan pada waktu butir berapa itu pengertian ya kalau tidak salah nanti diserahkan kepada Timus atau apa Timsin atau apa ya jadi sama saja untuk memberikan karena itu saya katakan tadi bahwa fungsi pasal-pasal ini ada berbeda sehingga untuk menggabungkannya juga akan terjadi konfius kekaburan jadi saya kira usul PPP itu terkait dengan usul butir pengertian bagaimana putusan pada waktu itu tentang pengertian ya ikut juga disini.

Saya kira cuma memang ada usul PPP tentang pasal ini belum-belum Pasal 3. Saya kira untuk 26 dicukupkan dulu sampai komentar saya terkait dengan DIM sebelumnya mengenai sub judul pengertian .

KETUA RAPAT:

Kita langsung ke Pemerintah saja Pak silakan.

PEMERINTAH :

Terima kasih pendapat dari PPP tadi sudah jelas jadi bisa ditarik karena dikaitkan dengan yang tadi disini ada usul F PG bahwa penjelasan mengenai sebutan sebagai Lembaga Negara bagaimana kedudukan dan tanggung jawab terhadap Presiden ( belum Pak saya kira ) oh DIM Nomor 26 ma'af ya ma'af wah keliwat ( diterima ) ya saya kira sudah.

KETUA RAPAT:

Kita lanjutkan DIM Nomor 28 dipersilakan kepada FPG ini minta penjelasan . F. PG (PROF. DR.H. PATURUNGI PARAWANSA):

Jadi seperti yang tertulis dalam DIM kami memang mengharapkan penjelasan atau klarifikasi sekitar penggunaan istilah Lembaga Negara itu kan dalam Undang-Undang Dasar kita maupun TAP MPR itu kan ada Lembaga Negara yang kita kenal sebagai lembaga tinggi, lembaga tertinggi dan sebagainya nah bagaimana sebetulnya persoalan-persoalan seperti ini bisa menjadi jelas terutama kaitannya dan bagaimana kedudukan dan pemijaknya terhadap Presiden dan sebagainya.

T erima kasih.

ARSIP DPR RI

(16)

KETUA RAPAT:

Dijelaskan dulu Pak.

PEMERINTAH :

Terima kasih, istilah Lem bag a Negara ini selalu muncul did al am institusi yang baru dibentuk yang sifatnya lndependen ( cari UU Komnas HAM ) kalau kita melihat mengenai DPR, MPR dan lain sebagainya itu Lembaga Negara tapi Lembaga Tinggi Negara kemudian Lembaga Tertinggi Negara nah apabila disebut Lembaga Tinggi Negara tentu musti ada Lembaga Negara Bank Indonesia didalam undang-undang ini juga atau dalam refisi undang-undang Bank Indonesia itu ada istilah Lembaga Negara kemudian juga mengenai KPKPN juga itu sistim Lembaga Negara karena pejabat Negara itu para pelaksananya sudah itu Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi juga dikatagorikan sebagai Lembaga Negara nah apabila dikatakan lembaga negara disini dipertanyakan bagaimana kedudukan dan tanggung jawab terhadap Presiden sudah barang tentu lembaga negara ini bertanggung jawab kepada Presiden, tapi bertanggung jawab kepada Presiden dalam posisi sebagai Kepala Negara kemudian lembaga-lembaga negara yang lain juga seperti Komnas HAM itu juga saya kira mempunyai posisi seperti ini jadi lembaga independent kemudian Bank Indonesia juga adalah suatu lembaga negara yang bekerja secara independent dan juga lembaga independent nah Komnas HAM juga lembaga independent dan ini juga lembaga independent jadi saya kira begitu itu berarti bahwa Ketua Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi bagaimanapun dia adalah pejabat Negara juga. Saya kira itu Pak.

T erima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan FPG.

F. PG (PROF. DR. H. PATURUNGI PARAWANSA):

Jadi kalau menurut semua komisi itu diacu sebagai lembaga negara dan dalam pembentukan atau undang undang memang begitu. Saya kira bagi kami tidak ada masalah.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih.

ARSIP DPR RI

(17)

Pimpinan karena ini direkam untuk juga bisa dijadikan tafsir, saya kira ada beberapa hal yang kami ingin jelaskan pertama di BP MPR Pah 1 sampai dengan perubahan ke 3 itu sudah disepakati didalam sistim kita kedepan tidak ada lagi toh pemisahan Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan didalam sistim Presidential pemisahan itu dikenal dalam sistim Parlementer yang dimana konstitusi kita yang kemarin belum diubah itu kan menganggap kedua-duanya itu sekali ke Parlementer sekali ke Presidential sehingga penyebutan lembaga negara disini tidak perlu kita kaitkan dengan masalah Kepala Negara bahwa nantinya ada komisi-komisi jang bukan lembaga negara tapi komisi yang ini adalah komisi yang merupakan lembaga negara ini kedua pada waktu kif a membentuk komisi pemeriksa KPKPN karena tidak disebutkan lembaga negara ada kesulitan didalam rangka menentukan honorarium konsekwensi administratif lainnya nah ini sehingga ada perlu penyebutan lembaga negara menjadi pejabat negara untuk ketentuan peraturan perundang undangan dibidang kepegawaian dan seterusnya kemudian tanggung jawab itu belum tentu bertanggung jawab kepada Presiden tergantung undang-undang ini mau meletakan institusi ini tanggung jawabnya kemana jadi pengertian lembaga negara buat kami tidak ada hubungan dengan kemana dia harus bertanggung jawab tergantung dengan undang-undangnya nanti kalau misalnya undang- undang ini mengatakan dia bertanggung jawab ke DPR tentu saja tanggung jawabnya ke DPR. Saya kira ini ingin kami kemukakan supaya ada persepsi yang sama kepada kita tentang kedudukan daripada Pasal 3 yang dipertanyakan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

T erima kasih mungkin dari inforrnasi Pemerintah ingin memberi tanggapan barangkali ( makin jelas Pak, mantap ) ini malah kita juga semakin bertambah pengalaman ( menambah wawasan ) baik untuk selanjutnya kepada FPPP.

F. PPP (H. ZAIN BADJEBER) :

Saya kira usulan PPP mengenai Pasal 3 ini kan oleh karena Pasal 3 tadinya diusulkan dimasukkan kepengertian lalu kedudukannya digantikan dengan mengambil alih Pasal 5 dibawa ke Pasal 3 jadi hanya masalah struktur sinkronisasi daripada konsekwensi usul daripada PPP tadi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Bisa kita lanjutkan pada FKB. FKB ada ya silakan.

F. KB ...••.•...•..

Dari F KB mengusulkan sete1ah kata independent ditambah dengan kata transparan kemudian setelah kata manapun ditambah dengan kata dan pengaruh apapun jadi setelah perubahan komisi pemberantasan korusi adalah lembaga Negara yang dalam melaksanakan tugas wewenag bersifat independent koma tranparans bebas dari pengaruh kekuasaan manapun

ARSIP DPR RI

(18)

dan pengaruh apapun jadi indepedensi komisi tidak hanya sekedar dari kekuasaan tapi harus bersih dari uang, politik, psycologi dan pihak-pihak manapun itu saja usulan dari FKB.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Untuk pendapat Pemerintah langsung saja.

PEMERINTAH :

Terima kasih mengenai usul FKB tambah transparan didalam pasal-pasar berikut itu tanpa disebut itu komisi ini jelas bekerja secara transparan jadi transparansi sudah menjadi sifat dari institusi yang akan dibentuk berdasarkan undang undang terutama undang undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi kolusi dan nepotisme jadi saya kira dengan disebut independent maka dia akan bekerja secara transparan tapi sebenarnya kata transparan itu agak berbeda dengan kata independen, independen dari segi mekanisme kerja kemudian dari segi sifat institusi sedangkan transparan itu adaf ah sifat mekanisme kerja ya tetapi dalam Pasal 5 sud ah ada prinsip-prinsip sudah termasuk kata transparan itu sendiri jadi kalau ditampung disini dia akan tribahdon begitu sudah itu kata dan pengaruh apapun disini dengan disebut dari pengaruh kekuasaan manapun didalam kata kekuasaan itu ada subyek hukum kemudian kalau bicara apapun itu bicara tentang obyek hukum sedangkan didalam soal ini adalah soal institusi yang kita bicarakan adalah subyek hukum jadi berarti pengaruh subyek hukum yang ada pada sebuah subyek hukum bukan pengaruh obyek hukum begitu karena itu maka secara teoritik kata pengaruh apapun ini tidak ditempatkan disini begitu tapi kalau bicara soal nanti apa yang mau difakukan umpamanya ada korupsi juga terjadi korupsi terdapat uang setumpuk dll apapun itu dia bisa masuk kesitu tapi kami sudah bicara institusi hukum maka dia tidak bisa jadi kira-kira logikanya begitu.

T erima kasih.

KETUA RAPAT:

Gimana Pak Joko sudah puas baik kita lanjutkan pada F. KB (SJAEFUL ADNANI) :

Ketua saya hanya ingin minta penjelasan sebetulnya lebih lanjut walaupun tadi transparansi sud ah masuk Pasal 5 tadi F KB min ta ditambahkan · transparan secara kongkrtt didalam pasal yang diusulkan. Cuma mungkin kita perlu tahu juga batasannya sampai sejauh mana transparansi itu karena berkaitan kepada salah satu tindakan dari komisi ini nanti malakukan penyelidikan maupun sampai penyidikan dan penuntutan mungkin ada hal-hal ada batasan tertentu sampai sejauh mana transparansi dari komisi ini, ini juga saya kira perlu jelas. sehingga ketika ini nanti komisi sudah berjalan jangan ada kesan bahwa lho kok temyata tidak transparan ternyata tranparans mengakibatkan adanya kerugian terhadap pelaksanaan dari komisi itu sendiri dalam melakukan tugas melakukan penyelidikan, penyidikan maupun pengusutan. Saya kira itu.

Terima kasih.

ARSIP DPR RI

(19)

Sebelum kepada Pemerintah Pak Badjeber menambahkan F. PPP (H. ZAIN BADJEBER ) :

Saya kira sebelum menambah atau mengurangi yang ingin kita bicarakan dalam Pasal 3 inikan sifat lalu pada pasal berikutnya ditunjukan tadi oleh Pemerintah pada Pasal 5 itukan azas ya nah kalau azas ini dibawa kesifat jadi apa masih kena apa tidak disana keterbukaan disini bilang transparan ada usul transparan apa ada beda dengan keterbukaan Pasal 5 mengatakan azas itu salah satu azas lalu azas ini ingin dipindahkan menjadi sifat usul Pemerintah sifatnya itu 2 independen, independen didalam arti sekali gus bebas dari pengaruh kekuasaan manapun independent dan bebasnya tentu tidak akan bebas seperti itu karena akan pasal-pasalberikutnya mengatur sejauh mana kebebasan dan campur tangan itu tergantung undang undang yang mengatur jadi kami melihat Pasal 3 ini berbicara tentang sifat Pasal 5 berbicara tentang azas kalau ini ditarik apa masih kena atau tidak atau keterbukaan itu sifatnya azas terserah lho.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Masih ada lagi rekan-rekan KASET 3

KETUA RAPAT :

Masih ada lagi rekan-rekan, kalau tidak ada saya serahkan kepada Pemerintah.

PEMERINTAH :

Didalam operasionalisasinya Pasal 3 dan Pasal 5 itu berkait secara langsung pada waktu dia melaksanakan tugas yang independent dia harus bekerja berdasarkan asas itu kalau dibawa kesoal dunia teori asas ini produk filsafat jadi dia sulit berubah tapi kalau sifat itu bisa berubah karena itu maka memang sulit as as dibawa menjadi sifat tapi bis a sif at dibawa keasas karena dia nanti akan mengikuti asas karena itu maka asas bisa dibawa kesifat dia bisa masuk kesana jadi bisa inklusife tetapi kalau asas dibawa kesifat maka asas tidak bisa inklusif kedalam sifat namun demikian hanya independent tapi pada asas ada keterbukaan maka otomatis dia akan terbawa akan inklusif kedalam sifat, tapi kalau asas menjadi sifat maka dia bekerja dengan sifat itu dan pada suatu hari bisa berubah karena tidak ada asas keterbukaan itu jadi karena itu maka febih tepat ditempatkan di Pasal 5 ke transparan itu masuk kedalam azas keterbukaan daripada dia ditransfer ke Pasal 3 begitu itu dibawa kedunia teori, ketika dibawa kedunia vertical seperti ini maka memang ada rasa-rasanya independent harus dekat dengan transparan . Nanti tambah lagi akuntabilitasnya, ditambah lagi sifat-sifat yang lain tapi yang pokok disini adalah independennya itu yang pokok ketika dia bekerja dia pegang azas keterbukaan memang ada rasanya itu disatukan saja tapi ketika dibawa kedunia teori itu berbeda sekali jadi saya kira cukup

ARSIP DPR RI

(20)

disini untuk kata independen dan bebas dari pengaruh manapun karena inilah satu jawaban bagi suatu kondisi yang terjadi pada masa-masa yang lalu disebuah institusi penegak hukum nah sekarang mau diapakan, saya kira begitu Pak.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Saya kira juga menyangkut, sekalian saja barangkali dari Reformasi ini intervensi, barangkali menambahkan sekalian .

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR, SH):

Ya kami disini lebih menekankan, jadi tidak hanya terhadap pengaruh, kalau pengaruh mungkin masih kulit luar itu juga ada intervensi tidak tertutup kemungkinan meskipun independent lembaganya, jadi kami menambahkan disini adanya penambahan kata intervensi jadi sifatnya itu disamping independent dan bebas dari intervensi serta pengaruh kekuasaan manapun saya kira begitu .

PEMERINTAH :

T erima kasih, memang kalau dipisah-pisah kata-katanya memang tepat sekali apa yang dikatakan itu tapi kalau digabung dengan intervert kemudian intervensi itu satu induk kata dilihat dari history of word itu, jadi kalau dikatakan intervert itu masuk kedalam, intervensi barangnya, hasilnya interver kata kerjanya tapi kalau hal itu maka dia terwakili oleh pengaruh, jadi kalau bebas dari pengaruh berarti bebas dari intervensi, jadi kalau ada pengaruh ada intervert hasilnya intervensi, jadi dengan demikian tanpa disebutpun itu semua orang sudah bisa memaknakan ada intervensi saya kira begitu, seperti kekuasaan pengadilan yang bebas dari pengaruh dari kekuasaan manapun berarti tidak ada intervensi, tidak ada surat sakti, tidak ada ini sudah lari kesana, soal masih ada itu adalah suatu ekses atau yang lain begitu saya kira itu Pak terima kasih.

KETUA RAPAT

Oke silakan ANGGOTA:

Saya kira saya sependapat dengan Pemerintah hanya kalau memang diperlukan lagi bahwa ada tekanan lebih lanjut tentang intervensi saya tidak punya buku RUU nya sehingga melihat penjelasan tidak apalah dalam penjelasan pasal itu kita masukan apakah intervensi dalam bentuk katabelece dalam bentuk apa semua bisa saja tetapi memang kami mempunyai pengertian bahwa bebas dari pengaruh kekuasaan manapun itu dalam berbagai bentuk intervensi tetapi tidak keberatan apabila itu dimasukan dalam penjelasan untuk menegaskan .

ARSIP DPR RI

(21)

Masih ada tanggapan, Pak Patrialis.

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR, SH ) :

Ya kami kira kalau memang semangatnya itu sudah ditampung dan kita lebih menekankan nanti dalam penjelasan bahwa pengaruh itu apa saja misalnya ya kami tidak keberatan terima kasih.

F. PDIP (A. TERAS NARANG, SH ) :

Begini ada didalam penjelasan Pak, mungkin nanti dibantu Bu untuk Pak Dirjen ini jadi biar nanti pembahasan kita tidak kembali-kembali lagi didalam penjelasan itu sudah jelas Pak, jadi mengenai kekuasaan manapun itu juga dijelaskan disitu dikatakan adalah kekuatan yang dapat mempengaruhi tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi atau Anggota komisi secara individual dari pihak eksekutif, yudikatif, legislative pihak-pihak lain yang terkait dengan perkara tindak pidana korupsi.

Jadi sudah lengkap itu.

KETUA RAPAT :

Sekarang demikian jiwanya sudah tertampung didalam penjelasannya, jadi kita kembalikan pada pasal yang semula dengan asumsi bahwa itu sudah dijelaskan dalam penjelasan, bisa kita lanjutkan DIM Nomor 29 kita lewati, DIM Nomor 30 saya kira ini tidak berpengaruh dari TNI I POLRI bisa kita lewati, langsung pada DIM Nomor 31 dari F.PG silakan, minta dihapus lagi .

F.PG (PROF.DR H. PATURUNGI PARAWANSA) :

Terima kasih Saudara Ketua, dari fraksi kami ini dalam DIM memang minta lagi menghapus sesungguhnya ini berangkat dari suatu pemikiran bahwa dalam undang-undang ini kit a mengedepankan yang be rs if at efesiensi dan efektifitas jadi kalau ada hal-hal yang memang sudah jelas saya kira kita tidak perlu lagi ditaruh didalam satu pasal tersendiri, selain dari itu oleh karena undang-undang ini merupakan perintah dari undang-undang sebelumnya yaitu undang- undang yang kita perbaharui dari 31 itu tadi jadi saya pikir atau fraksi kami berpendapat bahwa jika hal itu sudah jelas pada undang-undang sebelumnya saya kira kita tidak perlu mengulanginya lagi didalam undang - undang ini.

Terima kasih Saudara Ketua.

KETUA RAPAT :

Bagaimana Pemerintah.

ARSIP DPR RI

(22)

PEMERINTAH :

Terima kasih, mengenai Pasal 4 atau DIM Nomor 31 itu ide pokok yang ada dibalik pasal ini adalah ingin ada suatu ketegasan pembentukkan komisi ini disamping perintah seperti dimaksud Pasal 3 juga ada tujuan yang menunjukan bagaimana tingginya semangat untuk memberantas tindak pidana korupsi jadi sempat dirumuskan disini dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi dengan demikian maka pemyataan normatif yang ada disini akan memback up apa yang dimaksud oleh Pasal 3 jadi ada runtunan atau kaitan structural baik Pasal 4 ini dengan Pasal 3 jadi memberikan ketegasan lebih lanjut terhadap apa yang dimaksud Pasal 3.

Terima kasih .

F.PDKB {PROF. DR. MANASSE MALO ) :

Saudara Ketua, dari dimensi yang lain menyambung usul dari kawan-kawan dari FPG tadi memang Pasal 4 ini dikatakan oleh Pemerintah mengungkapkan tujuan daripada komisi pemberantasan korupsi tapi memang mungkin kalimat ini bagi saya agak membingungkan dengan adanya kata terhadap disitu dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap yang saya pikirkan kalau itu memang itu tujuannya adalah terhadap itu tidak perlu jadi yang dihapus itu terhadapnya sekian .

KETUA RAPAT :

Jadi langsung melintas, saya kira ini digabung dulu ya Pak di endapkan, Pak Badjeber tadi mau menanggapi.

Silakan.

F.PPP ( H. ZAIN BADJEBER, SH ) :

Saya kira pertama memang didalam konsiderans huruf b bahwa Lembaga Pemerintah yang menangani perkara tindak pidana belum berfungsi secara efektif dan efesien dalam memberantas tindak pidana korupsi salah satu pertimbangannya lalu dibentuk ini komisi ini dengan tujuan meningkatkan tadi, kalau disana pakai bahasa asing, disini pakai bahasa Indonesia bedanya disitu, efesien, efektif dan kalau ada juga ahli bahasa saya ingin nanya yang benar itu daya guna, hasil guna dipisah atau disatukan, disambung penulisannya.

Kedua dari tujuan ini lalu kita kembangkan hal-hal yang untuk mencapai hasil guna dan daya guna tersebut, yaitu misalnya yang kami usulkan kalau eksepsi, eksepsinya dibatasi hanya sekian tidak inikan dalam rangka termasuk untuk meningkatkan jadi ada dasar-dasar daripada norma sesudahnya setelah Pasal 4 ini, di Pasal 4 ini menekankan tujuan, jadi kita sudah berbicara tujuan, asas, sifat itukan urut-urutannya cuma tidak pakai sep-sep seperti yang kami usufkan, kalau sudah berbicara sifat, asas mengapa kita tidak berbicara tujuan daripada institusi ini dari tujuan ini lalunanti kita kolaborasi terhadap apa saja sih untuk mengefesienkan, mengefektifkan pemberantasan tindak pidana korupsi jadi kami setuju adanya pasal ini dengan pertimbangan- pertimbangan seperti itu.

Terima kasih.

ARSIP DPR RI

(23)

Terima kasih, saya kira kelanjutan mengacu pada efesiensi dan efektif tadi kelihatannya pada Fraksi Reformasi ini.

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR, SH) :

Dari Reformasi justru ada perubahan, perubahannya tidak seperti disini, ada rumusan baru tapi masih dalam konteks sini untuk lebih mempertajam, kami bunyikan Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk dengan tujuan mencegah, memberantas dan memerangi, untuk itu kalau tidak salah kata-kata perang bersetuju kalau tidak salah, memerangi koruptor, tindak pidana korupsi secara efektif artinya ini adalah kompilasi dari daya guna dan hasil guna kami paham betul daya guna hasil guna tapi kami kompilasikan menjadi kalimat seperti yang kami katakan tadi yaitu mencegah, memberantas dan memerangi koruptor dan tindak pidana korupsi secara efektif.

Terima kasih . KETUARAPAT

Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH

Terima kasih, mengenai usul Reformasi ini memang didalam dunia internasional itu ada disebut Transnational organization crise seperti money loundring atau pencucian uang salah satu instrumen untuk terjadinya money loundring adalah korupsi kalau untuk money laundering dalam dunia intemasional dipakai dua istilah yaitu to combat money laundering atau to feight money londering to combat to fight artinya memerangi, korupsi juga digunakan istilah itu jadi to combat corupsion atau to figth corupsion sama, cuma ketika ditransfer kebahasa Indonesia memerangi rasanya kurang hormat itu saja perasaan, ko kurang polite bahasa Indonesia begitu, kalau bahasa lnggris hanya dua itu, tidak ada lagi, tidak lain ada itu istilah eradication, corruption tapi jarang disebut oleh luar negeri, orang yang punya bahasa lnggris itu tidak begitu suka menggunakan istilah to air the gade tapi itu combat, nah kita memberantas pakai kata pemberantasan aireducation of corruption jadi karena itu maka kita menggunakan istilah pemberantas itu sendiri mungkin kultur Indonesia adalah memilih kata itu, sehingga kita memakai kata pemberantasan bukan peperangan terhadap korupsi, kita pemberantasan terhadap tindak pidana korupsi. Karena konotasi kita mungkin lain, karena itu maka Pemerintah kurang begitu sependapat menggunakan kata memerangi dari penjelasan seperti itu tadi.

Tapi ketika kita sekalian ada di luar negeri membicarakan soal korupsi nanti langsung bicara incarnating corruption atau infeigth corruption tidak ada lagi in eradication of tidak lagi itu, to destroy, in destroy itu untuk menghancurkan, kemudian didalam Pasal 1 ayat (3) itu ada kata combat (memerangi) korupsi ada disitu, jadi diambil sebagai prinsip umum ada, tapi ketika dimasukkan kedalam pasal itu kalau kita sebut memerangi nanti produknya perang jadi memang memilih kata itu memang agak sulit dalam membentuk hukum tapi apa yang dimaksud oleh Fraksi Reformasi tadi, kami yakin sudah termasuk didalam rumusan ini termasuk combating, termasuk

ARSIP DPR RI

(24)

figthing, kemudian destroy itu juga, sudah masuk disitu dalam kata pemberantasan, karena yang penting disini adalah pemahaman kita tapi ketika masuk money laundry tidak bisa pemahaman kita saja itu banyak perbedaan, karena korupsi itu tekanan intemalistik kuat sekali versi intemalnya kuat, tapi begitu bicara money loundrying itu tidak bisa pemahaman kita, itu bedanya jadi ide reformasi itu kalau ditransfer ke money loundrying pas betul itu, cocok betul saya kira begitu Pak.

Terima kasih .

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR, SH) :

Jadi mohon maaf Pak, justru karena selama ini kita suka basa-basi Pak, tidak makan dibilang kurang makan, jadi sekarang jelas-jelas sajalah kita ini ingin perang dengan korupsi ini, betul-betul karena memang sudah parah Negara ini, apalagi BPPM sudah gila-gilaan sekarang, jadi saya kira ini sudah ada kalimat memerangi itu, jadi biarlah sporadis sedikitlah, tidak usah takut, basa-basi, bahasa-bahasa halus, bahasa keras saja dan itu sudah bahasa resmi, jadi kalau kami berpikir begitu .

KETUA RAPAT : Silakan TNl/POLRI Pak .

F. TNI I POLRI ( HE. TA TANG KURNIADI, SH )

Terima kasih Pak, saya kembali menanggapi masalah perang-perang ini dulu kalau tidak salah itu Pasal 1 ayat (3) itu saya usulkan kepada Pemerintah untuk kalimat perang jawabannya agak lain dengan yang sekarang jadi pada saat saya mengusulkan perang diganti berantas jawabnya lain, kebetulan Reformasi minta berantas diganti perang jawabannya lain salut untuk pelitnya Pemerintah ini, jadi saya pikir sekarang ini kita mundur lagi terpaksa, palu yang dulu sudah diketok terpaksa ini, saya mohon bisa dibuka kembali karena Pemerintah menjawab seperti itu fraksi kami tetap ingin yang Pasal 1 ini kata memerangi korupsi diganti pemberantasan atau kalau mau pakai perang kita perang terus kalau berantas ya kita berantas terus, kalimat-kalimat to feigth and to combat tidak harus diartikan dengan perang bahkan dalam dunia militer istilah perang sudah diganti dengan defends tidak pernah ada lagi war department diganti dengan defend karena apa internasinal saja dalam penggunaan perang yang arti bukan kiasan itu sudah tidak mau pakai semuanya diganti, dihaluskan, kita justru memakai kata kiasan memerangi bahasa rakyat sehari·harilah, ini bahasa undang-undang jadi saya mundur lagi kalau bisa, kalau itu jawaban Pemerintah yang ayat (3) itu diganti memberantas kita juga tidak punya misalnya Undang-Undang No. 31 tentang Pemberantasan TPK , tindak memerangi tindak pidana korupsi supaya kita sama dalam menyikapi politik ini, masalah ini dan istilah saja itu sekedar usul Pak, kita selama ini berusaha untuk keluar dari kungkungan pengaruh-pengaruh bahasa yang bersifat keras walaupun tindakannya keras tetapi bahasa yang vulgar jadi ini diperhatikan oleh Pemerintah terima kasih .

ARSIP DPR RI

(25)

Sebelum pada Pemerintah Pak , sebelum Pak Badjeber , Pak Manasse silakan F.PDKB ( PROF. DR. MANASSE MALO ) :

Jadi yang dikatakan TNI/ POLRI tadi, jadi membuat kami juga melihat kembali DIM Nomor 22 dan DIM yang baru kita bahas ini, tapi beberapa hal yang mau dikatakan adalah yang pertama saya kira Bapak Gani dan Pemerintah mungkin jangan terlafu mengacu pada apa yang bahasa lnggris bilang sehingga kita pakai itu didalam bahasa undang-undang kita karena masalahnya bukan apa yang bahasa lnggris bilang tapi apa yang kita mau buat itu yang utama, padanannya kita bisa lihat bagaimana hal tersebut dirumuskan oleh undang-undang luar negeri, tapi bukan kita berangkat dari mereka bilang apa lalu kita coba terjemahkan katanya dalam kata-kata kita itu yang pertama, jadi dalam rangka itu sebenamya saya mau mendukung apa yang dikatakan Pak Patrialis tadi mengenai upaya peperangan ini dalam arti yang menunjukan suatu tekad bahwa memang benar-benar kita mau getreat of mau menghilangkan korupsi.

Cuma lalu saya terpikir lagi kalau akhirnya saya mengoreksi pemikiran saya ini untuk mendukung Pak Patrialis itu saya ngeri, ngerinya karena dalam undang-undang kita pakai kata-kata yang hebat-hebat sampai seal perang segala tapi kerjaannya lain begitu, jadi lebih baik kita jangan terlalu keras dulu di undang-undang dikata-katanya, kita kerjakan yang benar dulu, saya kira semangatnya kita semua setuju bahwa memang kalau perlu KKN ini kita lebih dari perang apalagi kalau ada yang kita lakukan itu, tapi jangan hanya dengan kata-kata karena rakyat itu dia akan lebih menuduh kita wah ini kata-kata mereka, bukan hanya memberantas korupsi tapi memerangi korupsi, padahal ini didalam pelaksanaan Lembaga Peradilan dan yang tersangkut itu mengelus- elus korupsi, kan gitu, mengelus-elus koruptor jadi terlalu kontradiktif antara apa yang dirumuskan dan yang dikerjakan didalam rangka itu saya usulkan jangan kita pakai kata perang dan mendukung apa yang dikatakan dari TNI I POLRI tadi supaya DIM Nomor 22 kata memerangi itu barangkali perlu kita luruskan lagilah gitu, supaya konsisten kita, sekali perang terus perang, tapi sekali berantas terus berantas sajalah jangan ditambah lagi yang lain sekian terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, sebelum Pemerintah Pak Badjeber.

F. PPP (H. ZAIN BADJEBER, SH ) :

Saya kira fungsi pasal-pasal ini berbeda, Pasal 1 itu pengertian dia tidak normatif yang kita bicarakan ini pasal-pasal normatif jadi kalau disana kata perang memerangi didalam memberikan pengertian terhadap kata pemberantasan ruang lingkupnya itu, jadi itulah yang saya katakan tadi sebenamya dengan warning adanya sub-sub tadi bahwa Pasal 1 dan Pasal 2 kami letakan sebagai sub pengertian lalu ada sifat, ada asas, ada tujuan kita sudah masuk kepada pasal-pasal normatif ini saya kira perbedaan didalam kedudukan suatu pasal didalam suatu undang-undang sehingga tidak bisa kita katakan bahwa ada di Pasal 1 lalu harus kita pakai juga di pasal berikutnya karena kedudukan Pasal 1 itu adalah Pasal Pengertian yang sifatnya bukan

ARSIP DPR RI

(26)

normatif dan dia sebenamya tidak kena juga kaJau disebutkan definisi karena deflnisi harus betul-betul, karena itu dia bersifat pengertian lebih luwes daripada definisi sehingga kata perang disitu bagi kami tidak salah tetapi akan lain sif atnya kalau dia jadikan suatu dalam kedudukan normal.

Terima kasih.

KETUA RAPAT

Terima kasih Pak Badjeber ini saya kira tambah wawasan, saya kira roh kita dalam membaca ini untuk memberantas, mencegah, menghancurkan barangkali begitu, saya kira kembali pada Pemerintah. saya kira sudah jelas yang terakhir sama Pak Badjeber.

Silakan Pak.

PEMERINTAH :

Terima kasih, pendapat Prof tadi sependapat juga kemudian dari TNI juga dan telah dirumuskan oleh Bapak dari PPP tadi ,jadi kami sependapat dengan dari PPP apa yang diusulkan oleh TNI dan Prof tadi terumuskan oleh dari PPP tadi yang tercermin didalam bunyi DIM Nomor 31 tadi saya kira itu.

Terima kasih . KETUA RAPAT

Sebelum diakhiri pada DIM Nomor 31 ini. ada tambahan dari F.KB silakan, ini kalimat terakhir ini.

Silakan F. KB ( ) :

Saya kira F.KB sependapat dengan pembicara-pembicara terdahulu, bahwa masalah korupsi, masalah yang luar biasa, ekstra in the crime oleh karena juga tidak hanya masa kini, masa-masa sebelumnya juga harus bisa menyentuh undang-undang ini, jadi F .KB juga mengusulkan penambahan kata-kata setelah kata korupsi, kemudian Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk dengan tujuan peningkatan dayaguna dan hasilguna terhadap upaya Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan menangani tindak pidana korupsi dimasa lalu, sebab dimasa lalu tidak kalah banyaknya juga kasus-kasus korupsi yang sampai sekarang tidak pemah selesai dan membawa implikasi yang luar biasa terhadap kebangkrutan bangsa ini jadi harus menyentuh kemasa lalu juga itu latar belakangnya.

Terima kasih .

ARSIP DPR RI

(27)

F.KB (SJAEFUL ADNANI) :

Saya kira F.KB sependapat dengan pembicara-pembicara terdahulu bahwa masalah korupsi ini masalah yang luar biasa ekstra ordeneri crime oleh karena juga tidak hanya masa kini tapi jug a, masa-masa yang sebelumnya jug a harus bisa menyentuh undang-undang ini ya jadi F.

KB juga mengusulkan penambahan kata-kata setetah kata korupsi ya kemudian komisi pemberantasan korupsi dibentuk TIM tujuan peningkatan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi dan menangani tindak pidana korupsi dimasa lalu sebab dimasa lalu tidak kalah banyaknya juga itu kasus-kasus korupsi yang sampai sekarang tidak pernah selesai dan membawa implikasi yang luar biasa terhadap kebangkrutan bangsa jadi harus menyentuh kemasa lalu juga itu latar belakangnya terima kasih.

KETUA RAPAT:

Pak Dedy ya silakan Pak.

F. REFORMASI (H. PATRIALIS AKBAR) :

Justru kami berfikir apa yang kita bicarakan pada saat ini adalah merupakan bagian atau turunan lebih lanjut dari apa yang telah kita bicarakan terdahulu jadi mau tetes mau tendesi sebetulnya tidak bisa kita pisah apakah itu posisinya dalam apa namanya dalam posisi pengertian maupun juga substansi justru substansi ini norma hal-hal yang normative ini justru kita ambit dari pengertian-pengertian itu nah oleh karena itu kami memang dikatakan oleh Profesor Manase tadi semangat memang semangat mumpung kita membahas undang undang ini semangatnya dimasukin gitu jadi kami masih tetap berpendirian agar komisi pemberantasan korupsi ini dibentuk dengan tujuan mencegah, memerintah dan memerangi satu yang diperangi itu adalah koruptornya yang kedua adalah tindak pidana korupsinya itu sendiri jadi ada dua hal yang kami tekankan disini karena kalau kita melihat dari subtansi komisi ini adalah pertama tujuannya adalah agar tidak ada koruptor yang kedua adalah agar tidak terjadinya tindak pidana korupsi tindak pidana korupsi agak berbeda dengan koruptor, koruptor adalah orangnya jadi kalau kita ingin membuat secara tegas para koruptorpun juga ngeri melihat undang undang ini jadi memang ini agak istimewa karena terus terang kita mengatakan Negara ini hancur karena koruptor BLBI sampai sekarang sudah nggak jelas posisinya sudah hancur lebur juga nggak kalah galaknya dengan narkoba kita lihat Negara-negara yang sudah berkembang bahkan Negara komunis sekalipun RRC sudah berani melakukan peperangan terhadap korupsi ini sehingga sekarang lebelnya saja negar komunis tapi liberalisme sudah muncul dengan baik persaingan antar masyarakat secara ekonomi sudah baik sekarang oleh karena itu kami tetap berpendirian seperti ini terima kasih.

KETUA RAPAT:

Dari TNI Polri silakan.

ARSIP DPR RI

(28)

TNI POLRI (HE. TATANG KURNIADI, SH) :

T erima kasih Pak. Saya sejaf an dengan Pak PatriaHs jadi sikap kita disini adalah satu ketegasan begitu kalau kita pakai satu istilah itu boleh pakai-pakai terus kalau tidak tidak hanya saya agak berbeda pendapat dengan Pak Patrialis mengenai istilah perang penmgertian kami bahwa perang itu suatu waktu ada damainya gitu kalau berantas ya sampai habis itu satu yang kedua DIM Nomor 22 ini sesuai catatan yang ada itu dipending Pak itu belum selesai, itu belum selesai jadi lebih baik yang inipun yang Pasal 2 DIM Nomor 25 kita pending saja itu usulan saya terima kasih.

KETUA RAPAT:

Pak Badjeber silakan

F PPP (H. ZAIN BADJEBER) :

Pertama saya ingin menanggapi dari F KB bahwa kalau kita mengatakan menangani tindak pidana korupsi dimasa lalu justru tadi dipengertian itu tindak pidana korupsi yang dimaksud dalam undang undang ini adalah tindak pidana yang pada 31 tahun 1999 dan 371 artinya yang masa lalu yang kemudian dihimpun didalam Undang-Undang No. 20 tahun 2001 jadi itu pertama dan kedua saya bukan legal drafter tapi biasanya bisa ditanya pada akhirnya fungsi Pasal 1 itu adalah mengambil dari pasal-pasal setelahnya bukan mengelaborit Pasal 1 ke pasal-pasal selanjutnya karena itu tadi pimpinan mengatakan bahwa seperti yang dikemukakan Pemerintah karena kordinasi itu disebut hanya satu kali tidak perlu kita cantumkan jadi isi Pasal 2 seterusnya itu yang mau ditarik pengertiannya ke Pasal 1 jadi bukan Pasal 1 itu yang dielaborasi untuk dijabarkan pada pasal selanjutnya itu yang saya katakan tadi perbedaan fungsi dari Pasal 1 dengan pasal-pasal lebih lanjut sehingga kalau kita tidak punya · pemahaman yang sama nanti sulit ketemunya terus menerus. Saya kira ini yang perlu kami tegaskan kembali mengapa berulang- ulang kami mengemukan ada perbedaan fungsi dari pasal-pasal didalam satu undang undang kalau kita bicara pengertian fungsinya apa lalu apakah dia dijabarkan atau dia sebenamya mau menyimpulkan isi pengertian itu menurut kami adalah mau menyimpulkan apa yang ada didalam undang undang itu bukan untuk menjabarkan.

Terima kasih Pak Ketua.

KETUA RAPAT:

Saya kira sudah jelas dari Pak oh silakan.

F PDIP {MARAH SIMON MHD. SYAH, SH) :

Ya terima kasih Pak saya pikir begini Pak, saya melihat dan mendengar pendapat dari Reformasi dari Bapak T edy dan Pak Badjeber sendirikan yang pen ting pokoknya kita sekarang ini kemana membuat undang undang itu yang jelas dan pengertiannya terfalu jauh kita memberikan apa istilahnya yang seperti apa yang telah disampaikan Pak TNI tadi sangat positif juga Pak Professor jugakan itu sudah meluas pikirannya sehingga kita bagaimana memajukan undang

ARSIP DPR RI

(29)

yang tidak perlu itukan analisanya seperti yang disampaikan oleh Bapak Departemen Dalam Negeri itu sudah positf semuanya hanya tiba-tiba mana moral-moral yang kita akan kejar kalau undang-undang ini cantik moralnya itu kata-katanya kan bisa dianalisa secara positif (yang mana Depatemen Dalam Negeri Pak) ya termasuk Bapak Gani yang bilang begitu tadi itu sangat positif pembicaraannya jadi maksud saya begini terlalu berlarut-larut kita memberi undang undang ini cantik tapi tidak bagus yang panting cantik bagaimana moral-moral itu tertahan dalam pemikiran- pemikiran kita sehingga dia tidak bekerja membuat pekerja yang tidak baik itu itu kuncinya Pak.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Semuanya saya kira sudah tertampung Pak Gani silakan.

PEMERINTAH :

Terima kasih Bapak-bapak yang terhormat sudah banyak pendapat mengenai itu Pemerintah berkesimpulan begitu semangat yang tinggi dalam memberantas tindak pidana korupsi itu yang jelas pertanyaannya apakah semangat-semangat itu sudah tertampung dalam rumusan DIM Nomor 31 kalau menurut rumusan ini saya kira itu tertampung tapi didalam rancangan penjelasan itu tidak ada cukup jelas disitu Pemerintah ingin mengusulkan untuk menampung semua itu dimasukan dalam penjelasan jadi penjelasan pasal jadi dengan demikian maka baik uraian hasil guna terhadap upaya pemberantasan meliputi penjegahan dan lain lain sebagainya diharap moral koruptor dan lain sebagainya masuk semua disitu kalau demikian maka itikad Pemerintah untuk merumuskan penjelasannya ini karena kebetulan disini cukup jelas ya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih saya kira itu ditampung semua itu untuk menjelaskan sudah jelas ya masih ada yang kurang puas setuju, baik nanti rumusannya kepada Pemerintah berurusan dengan baik tentang penjelasan Pasal 4 ini disetujui (belum) satu lagi ya masih satu lagi kepada Pemerintah silakan pertanyaan terakhir.

PEMERINTAH :

Yang PDKB, PDKB menulis perlu dijelaskan mengenai oleh siapa komisi pemberantasan korupsi dibentuk oleh siapa kalau disebut siapa berarti orang tapi kalau disebut oleh apa bisa undang undang nah dengan demikian maka kami ingin memaknakan pengertian oleh siapa ini mungkin yang dimaksud itu diangkat oleh dibentuk oleh Presiden atau dengan KEPPRES apa itu tapi dilihat oleh bunyi Pasal 2 undang undang ini maka dengan undang undang ini Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi dibentuk dengan undang undang ini dibentuk Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi jadi sudah dibentuk oleh undang undang mungkin orangnya nanti yang akan mengisi institusi itu, itu diangkat oleh Presiden mungkin itu saya kira tergantung pada lebih lanjut dari undang undang ini. Saya kira itu Pak.

ARSIP DPR RI

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait