• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Terima kasih Pak Supiadin.

Ini tampak terbuka mata kita. Saya pikir tadi Visa Facilitation Service itu dari kita, ternyata di tunjuk langsung oleh Arab Saudi. Ini bagaimana Imigrasi ini, disetujui itu? Ini bahaya juga untuk negeri kita. Walaupun belum tentu ada apa-apa, tapi kan kita lebih baik waspada. Ini mungkin jadi perhatian kita bersama kan.

Atau minimal seperti saran Pak Supiadin tadi, mereka harus kita screening dulu, kita cek dulu, benar tidak orang ini. Karena data pribadi ini sangat penting, tapi undang-undangnya belum ada, ini yang repot kita. Ini yang segera akan kita bikin nanti.

Mungkin Pak Timbul mau umroh? Pak Timbul, ada pertanyaan? Beliau mau umroh, silakan.

F-HANURA (DRS. TIMBUL P. MANURUNG):

Terima kasih Pak Pimpinan.

Bapak/Ibu yang saya hormati,

Sudah cukup banyak sebetulnya disampaikan dari apa yang disampaikan oleh Bapak-bapak yang dari, baik Kemlu, Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM c.q Ditjen Imigrasi, termasuk juga dari BKPM.

Yang memang saya soroti adalah mengenai kegiatan kalau memang itu sudah tidak ada lagi yang di tunjuk lain dari Tasheel ini. Penjelasan dari Imigrasi tadi yang perlu kita cermati adalah kaitanya dengan data-data warga negara Indonesia yang bersifat rahasia. Artinya disini kaitannya dengan harus betul-betul savety security tentang data pribadi warga negara Indonesia. Sekalipun tadi di dalam perbincangan kita bahwa memang belum ada undang-undangnya tentang perlindungan terhadap data pribadi. Yang ada sekarang kan adalah data publik ya dalam rangka arus informasi.

Tadi dari Pak Supiadin sudah menjelaskan, Ibu Lena juga sudah menjelaskan. Yang kami soroti disini adalah, apakah bisa, walaupun namanya Tasheel, pimpinannya langsung adalah dari kita orang Indonesia. Boleh saja nanti ada tenaga ahlinya dari mereka, supaya klop. Kalau pun ini toh tidak bisa dalam rangka kita hubungan antar negara bahwa biometrik ini memang harus dilaksanakan, disinilah saya kira peran dari BKPM nanti di dalam memberikan suatu persyaratan-persyaratan khusus terhadap mereka. Sehingga kita juga nanti di dalam pelaksanaannya bahwa pengawasan itu jelas-jelas itu yang pertama sekali tentu dari Imigrasi.

Dan juga BKPM harus betul-betul di dalam rangka pengawasan ini, karena kita sering melihat mengenai orang asing ini dihadapan kita baik tapi ada perilaku-perilaku yang tidak terdeteksi oleh kita atau terikuti oleh kita. Memang berat ini bagi tugas dari Imigrasi.

Saya teringat dulu bahwa inilah perkembangannya. Saya kebetulan dari kepolisian. Jaman saya masih aktif bahwa begitu besar peran daripada Polri untuk melaksanakan pengawasan terhadap orang asing. Tapi dengan perkembangannya sekarang bahwa memang berlaku di negara-negara lain bahwa masalah pengawasan orang asing lebih ditonjolkan melalui Ditjen Imigrasi. Dan memang kelihatan. Saya masih ingat dulu PP 45 Tahun 1954, terus masuk lagi sekarang Undang-Undang 9, di rubah lagi yang terakhir sekarang. Sehingga disana memang peran daripada Polri sudah kurang.

Kita musti mempertahankan Undang-Undang 9 untuk tetap eksis Kepolisian Republik Indonesia. Alasan kita pada waktu itu adalah secara struktural Polri berada dari tingkat

23

pusat/Mabes Polri sampai tingkat desa/kelurahan. Mungkin Bapak-bapak, Ibu, biasa mendengar itu yang namanya Babinkamtibmas, itulah yang paling terdepan anggota kita. Termasuk polseknya.

Sekarang tidak ada lagi itu. Jadi berarti suatu tugas berat bagi Imigrasi dalam hal kaitannya dengan pengawasan orang asing.

Berkait dengan kehadiran Tasheel ini betul-betul harapan kita, berapapun tenaga asingnya nanti, apalagi ada beberapa embarkasi, berarti mereka akan ada di beberapa daerah provinsi-provinsi, mungkin juga sampai kepada kabupaten, sehinga kita harapkan disini agar betul-betul dilaksanakan pengawasan. Baik terhadap tenaga asingnya maupun kegiatannya. Saya kira ini yang perlu.

Kemudian yang kedua berkait juga ini mengenai pembiayaan. Sudah dijelaskan tadi rekan-rekan yang pertama menyampaikan. Saran kami disini kiranya kalau bisa biaya itu di buat semurah mungkin, tentunya dengan memperhatikan kondisi dan kemampuan masyarakat Indonesia yang akan naik haji maupun umroh. Saya kira tidak semua masyarakat kita yang mampu, dan ada keinginan untuk melaksanakan naik haji maupun umroh.

Itu saja tambahan dari kami, terima kasih.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Terima kasih Pak Timbul Manurung, jelas.

Terakhir dari meja pimpinan, silakan Pak Bambang.

F-PDIP/WAKIL KETUA KOMISI I DPR RI (IR. BAMBANG WURYANTO, M.BA.):

Terima kasih.

Ketua dan Rekan-rekan Anggota Dewan yang saya hormati;

Sekaligus juga para stake holder yang hari ini rapat di Komisi I.

Mohon ijin sedikit menyimpulkan.

Yang pertama ini adalah rapat ini ada akibat keputusan pemerintahan Arab Saudi dengan memberlakukan biometrik bagi para peserta umroh yang sudah dilaksanakan pada 17 Desember 2018 setelah di tunda sebelumnya. Tapi itu jalan hari ini. Kemudian praktek di lapangan situasi menyulitkan para peserta umroh kita. Dan bahkan ada dugaan beberapa titik ini melanggar kedaulatan negara.

Langsung saja to the point, Bapak/Ibu sekalian. Kalau saya berpikirnya begini: Yang pertama, jenengan mewakili Pemerintah Republik Indonesia yang berdaulat. Terhadap pemerintahan Arab Saudi dalam hal umroh posisi kita agak kalah, karena umroh makin hari makin naik, dan itu harus dilayani dengan sebaik-baiknya, sementara pemerintah Arab Saudi bikin peraturan yang menyulitkan kita. Tetapi sekali lagi saya katakan bahwa Republik Indonesia negara berdaulat, jadi Bapak/Ibu mewakili negara yang berdaulat.

Analisis lapangannya adalah PT Tasheel yang kata Pak Doktor Hidayat Nur Wahid tadi mempermudah faktanya justru mempersulit. Kita lihat saja, ini perusahaan swasta, perusahaan swasta akan bergerak jikalau dia ada laba, dia dapat duit, dia dapat rente. Kalau di hitung di republik ini swasta ini dapat duitnya hari ini 7 dollar dikalikan umroh kita 1,017. Hanya 1 juta. Artinya dia dapat pemasukan/revenue 7 juta dollar. 7 juta dollar itu kalau pakai leaching rate hari ini 99 miliar, atau kira-kira 100 miliar dollar. Small to business, sangat kecil. Bisnis 100 miliar kecil.

Kalau kita berbicara republik berdaulat, mohon maaf, kita sudah tahu solusinya. Ini lebih baik biometriknya masuk di embarkasi haji atau di bandara. Bandara Pak yang terbaik. Mereka belum mau bandara terbaik. Bikin susah, negara berdaulat kok. PT ini kita bikin susah. Kalau BKPM tidak bisa bikin susah, kita bikin susah di lapangan. Kalau tidak tahu, ngobrol sama Bambang Pacul.

Nomor satu, dia mengatakan pinjam tempatnya di PT Pos. Bikin saja sewa PT Pos untuk ini dinaikkan. Itu ugal-ugalan Pak. Tapi kita ini Pemerintah berdaulat. Perintahkan PT Pos naikkan

24

itu, kalau di sewa VFS sekian. Kita bilang itu 100 x kalau perlu. Kau yang sewa kok. Jadi kalau memang tidak bisa, sampeyan sewa Bambang Pacul, saya rusak infrastrukturnya. Akhirnya kita dorong dia harus kembali kepada bandara. Susah amat. Ini memang preman, harusnya pakai peraturan perundangan, semuanya harus pakai peraturan perundangan.

Tapi kalau lapangan kita kalau bargaining? Pak Doktor kita mengatakan itu nanti trend-nya....naik terus Pak. Ini dari tahun ke tahun naik terus. Ya oke itu harus kita layani sebaik-baiknya, karena dia warga negara republik. Itu satu.

Lapangan kita bikin susah.

Jadi kita kalah bargaining tidak apa-apa. Memang kalah, sama Arab Saudi kan kita kalah.

Kita bikin susah di lapangan. BKPM juga harus bikin susah di lapangan. Buat itu situasi di bikin susah.

Sekarang kita bicara sebagai Anggota Komisi VII, Komisi I. Ijin Pak, saya 10 tahun di Komisi VII soalnya. Tugas Komisi I ini pertahanan negara Pak, salah satunya sebagai mitra pertahanan negara. Kalau soal pertahanan negara jangan dipersulit, seperti Pak Hidayat tadi, di tambah-tambah urusannya. Urusannya dia mau tambah surat nikah yang di legalisir ini-itu, ampun Pak. Nanti tambah lagi kartu keluarga masukkan, ampun Pak, kartu keluarga juga dimasukin Pak.

Yang ini harus stick. Yang pergi saja yang harus di eksekusi sesuai dengan peraturan biometrik.

Itu harus kita buat Pak. Imigrasi harus melarang Pak. Saya tidak mau ada syarat tambahan. Dia harus di pandang sebagai individu yang melaksanakan umroh. Jangan mau dikait-kaitkan pakai kartu keluarga, susah Pak. Nanti jadi litsus ini. Jaman begini ngelitsus saya. Pakai pohon bersih lingkungan tewas kita Pak, tidak bisa begitu.

Jadi yang berangkat saja yang di urus peraturannya, dan jangan aneh-aneh. Data biometrik itu adalah data terhadap orang yang berangkat. Ini jahat apa tidak jahat. Kejahatan dia tidak bisa dikaitkan dengan. Kalau dia jawab, lepas. Tetapi dia tidak boleh dipakai pintu masuk untuk warga negara yang lain, tidak boleh Pak. Itu prinsip equal person, tidak diijinkan.

Jadi ijin, Pak Imigrasi kencengi Pak. Kalau perginya kita satu, satu Pak. Jangan pakai kartu keluarga. Saya dengar tadi ada yang di bilang pakai kartu keluarga kalau umroh, tewas kita Pak, tidak boleh. Yang kesana saja yang di urus. Jadi ini harus dikencangi di peraturannya Pak. Tapi mind set kita adalah mind set kita negara berdaulat bertugas melindungi warga negara kita, warga negara Indonesia. Apakah warga negara ini kurang ajar atau tidak kurang ajar itu kita lindungi semua. Kalau ada yang kurang ajar saya bilang pukul. Bambang Pacul itu kurang ajar selesaikan saja di dalam negeri, jangan diselesaikan di luar negeri, jangan. Kita negara berdaulat kok.

Saya kira tambahannya itu Pak. Jadi mohon ijin, saran saya Pemerintah mesti satu, yakin negara berdaulat, kita sedang bargaining menjaga umat kita yang akan umroh, dan ini mendapatkan perlakuan yang sebaik-baiknya. Itu titik tujuannya.

Sekarang ke lapangannya, tinggal begitu Pak. Tadi peraturan perundangan itu di buat, kemudian lapangannya minta tolong. Karena disini sebelah kanan saya ini jenderal bintang tiga, kalau soal sabotase sudah lulus Pak, jadi bisa di rebuk bagaimana caranya. Ini barang di rekam, tetapi saya tidak khawatir karena saya bicara untuk kepentingan anak bangsa.

Terima kasih.

KETUA RAPAT (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP.):

Terima kasih Pak Bambang.

Ini lebih tentara dari tentara semangatnya. Saya senang kalau ada Pak Bambang ini.

Kalau mungkin ini memang peraturan sudah akan diberlakukan secara internasional, dimana-mana seperti ini, kita juga siap untuk mengikuti ketentuan internasional.

Cuma dalam bargaining tadi, ini betul juga teman-teman ini, apakah dari PT Visa Facilitation Service ini memang orang asing semua? Atau mungkin orang kita yang kerja disana jadi anak buah, saya tidak tahu juga ini. Ini berkembang menjadi data kepribadian yang cukup rahasia sekarang di umbar-umbar kemana-mana kan. Iya kalau tidak apa-apa. Kalau apa-apa siapa yang bertanggungjawab? Imigrasi? Apa iya? Apa Kementerian Agama?

25

Karena tadi Pak Bambang bilang ini kita negara berdaulat, ada bargaining harusnya ya.

Mungkin pertama kenapa kita terima perusahaan swasta, karena dia mau mempekerjakan orang kita sekian persen umpamanya. Yang kedua harus lewat screening dari kita, biar data kita tidak bocor umpamanya demikian. Saya tidak begitu tahu, mungkin dari Imigrasi nanti ini.

Jadi dari ada 6 yang menyampaikan pendapat, saran-saran, maupun pertanyaan tadi, silakan kita kembalikan kepada Pemerintah. Mulai dari Pak Andri Hadi. Nanti berturut-turut seperti tadi. Dari Kemenlu dulu, Kementerian Agama, Kumham, dan terakhir nanti BKPM. Karena memang swasta asing kan harus lewat BKPM, tidak bisa tidak. Tapi ingat, kedaulatan negara kita juga perlu diperhatikan. Kalau memang ini semua nanti pakai biometrik, tidak hanya ke Arab Saudi, kita mau tidak mau kita ikut peraturan internasional.

Silakan Pak Andri Hadi.

DIREKTUR JENDERAL PROTOKOL DAN KONSULER KEMENTERIAN LUAR NEGERI RI