BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
KETUA RAPAT : Golkar
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
F-PG (AGUN GUNANJAR SUDARSA) :
Bagi Golkar sebetulnya, angka 7, angka 8, angka 9, angka 10 jadi kesatuan pandangan kami pak. Jadi kami tidak mau di split – split karena ini saling berkait dan bagi Golkar ini tidak pada posisi yang signifikan dalam rangka penguatan Sistem Pemerintahan Presidensiil. Jadi sebenarnya kami lepas pak.
Namun karena Pimpinan tetap mengangkat ini ke dalam forum ini, perkenankan Fraksi Golkar menempatkan posisi 7, 8, 9, 10 itu pada implementasi Pileg/Pilpres yang berkualitas. Untuk bisa Pileg/Pilpres yang berkualitas tentunya banyak pemangku kepentingan yang terlibat didalamnya.
KPU, tolong diatur pesan dari Golkar ya, apa yang menjadi kompetensinya. KPU terkait dengan ini silakan diatur. Yang terkait dengan partai politik juga diatur yang baik. Yang terkait dengan kewajiban partai politik sebagai peserta pemilu baik di pemilu legislatif saya mengatakan sampai selesai karena juga dengan Pilpres, itu ya memang punya hak dan punya kewajiban.
Mengusung, mencalonkan dan sebagainya termasuk membiayai, termasuk membiayai. Jadi tidak benar juga partai politik kalau menjalankan segala fungsi – fungsinya itu hanya nengadah, nengadah. Nungguin pemerintah gitu. Ya sudah tidak usah bikin partailah, kira – kira begitu. Kita berkumpulkan, berpartai tidak sendirian, dua, tiga empat orang yuk kita kumpul, maju untuk Negara, Bangsa, ada.
Namun demikian bagi Golkar problem utama tidak berkualitasnya pemilu dari waktu ke waktu ada terjadi penurunan kualitas dibandingkan pemilu 99 yang lalu. Itu terjadi penurunan – penurunan itu lebih disebabkan oleh faktor pembiayaan partai politik. Pembiayaan demokrasi yang begitu mahal.
Partai terima sumbangan dibatasi, tidak boleh gede – gede. Partai mau usaha tidak boleh kan begitu pak. Sementara biaya mengelola partai itu tidak kecil, jangan dulu bicara kaderisasi, yang sekarang baru, baru, ada sekolah partai, akademi partai kan baru nama itu belum jalan. Masih seremonial, tapi rutinitas itu saya tidak menyaksikan. Ada satu – dua, tapi sebagai sekolah partai yang betul – betul ajeg lengkap dengan edukasinya, lengkap dengan tenaga edukasinya, sarana prasarananya belum ada pak.
Jadi jangan dulu mimpi ke sana. Untuk operasionalkan partai saja ya sudah problem, sehingga terjadi liberalisasi di internal partai. Siapa yang lebih punya faktor dan lain sebagainya, dia yang lebih menguasai partai politik. Nah oleh karena itu terkait dengan Pileg dan Pilpres yang serentak, kami mengapresiasi usulan sejumlah teman, dari Demokrat, dari PKS kami apresiasi pak, makanya kami tidak menolak usulan ini Pak Ketua. Jadi tadi Pak Rambe sudah menanyakan tapi pada posisi tolong hal – hal yang seperti ini dirumus ulang secara benar, secara baik. Jadi negara ya harus hadir, harus hadir pak.
Jadi tidak bisa negara lepas tangan, itu urusan partai politik oh tidak bisa.
Sampai budeg juga tidak akan maju – maju kalau negara lepas tangan.
Lalu apakah salah kalau negara hadir dalam konteks penanganan partai politik, pemoda demokrasi, menurut saya tidak juga. Berbagai negara itu bahkan penyelenggaranya itu partai politik, seperti yang dimimpikan oleh Pak Arif dua ribu dua....
F-PDIP (ARIF WIBOWO) :
1955 pak. Kita Partai Orde Lama soalnya.
F-PG (AGUN GUNANJAR SUDARSA) :
Nah jadi itu saja Pak Ketua. Jadi 7, 8, 9, 10 itu prinsipnya kami ya adalah kewajiban partai politik membiayai gitu kan, pemasangan juga wajib partai ikut terlibat, KPU bagaimana mengaturnya tapi Pemerintah jangan lepas tangan Pak Wamen. Tidak, tidak, tidak jangan ditanggap pak, jangan pak.
Jadi artinya kita sudah oke seperti dana saksi kan gitu kan. Dana saksi oke tidak usah lah saksi, kita biayai sendiri masa untuk saksi saja partai tidak sanggup, oke. Kan kita tarik pak saksi, tapi yang lain – lainnya. Nah soal iklan, kami mendukung usulan PKS, kenapa yang punya negara seperti RRI, TVRI,
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
kantor berita Antara , kenapa itu tidak diprioritaskan oleh KPU, kalau perlu debatpun di TVRI gitu.
Nah ini saja catatan dari Fraksi Partai Golkar dan kami sepakat. Terima kasih pak.
KETUA RAPAT :
Ya, Golkar malah dikasih tiga. Mintanya satu, nomor 7, 8, 9 sekalian.
Sampai 10 malah. Baik PDIP terakhir silakan.
F-PDIP (ARIF WIBOWO) :
Ya terima kasih Ketua.
Jadi begini Ketua, kita sebenarnya punya rujukan di Undang – undang 10/2016 yang didalamnya mengatur tentang kampanye bahkan di Undang – undang Nomor 8 tahun 2015 juga begitu tentang Pilkada, Pileg juga begitu.
Nah karena itu sebenarnya ini soal pilihan atas soal item saja, mana yang memang sekiranya perlu dilaksanakan oleh Partai politik atau gabungan partai politik yang kemudian berubah menjadi Tim Kampanye untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden. Jadi menyangkut penyebaran bahan kampanye ini kan kita bayangkan bahan kampanye itu kan modelnya leaflet, kemudian apa Pin – pin buka. Nah yang begitu – begitu urusannya partai.
Nah peraga ini juga harus dibatasi, apa? Spanduk yang gede – gede itu loh, nah itu biar urusannya KPU, kita kembalikan ke situ, karena juga keterbatasan lahan. Tadi seperti yang diceritakan Pak Muzammil tadi termasuk ketertibannya, tetapi juga ini menjadi problem belakangan. Kalau juga KPUnya tidak independen ini juga problem. Nanti kalau Pak Fandi ini nyalon, kawan saya ini dia fotonya dipinggir yang kecil, saya nya caleg, fotonya bisa besar itu gitu kan. Apalagi kalau tidak ... pasti yang terpilih saya, dia tidak gitu, kira – kira begitu. Nah ini jaminan terhadap KPU yang mandiri ini menjadi penting.
Kemudian iklan media massa dan elektronik, ini seharusnya Pemerintah melalui KPU, lagi – lagi ini mesti ditimbang tentang kemandirian KPU, independensi. Nah debat paslon sudah pasti KPU. Nah dijawaban Menteri Keuangan ini belum bisa membedakan debat paslon tentang materi kampanye, dengan debat antar calon. Jadi yang satu pakai kamus Purwodarminto, satunya Websters kira – kira begitu. Maka ditolak sama Pemerintah ini.
Coba dari Menteri Keuangan pak, saya kira Pemerintah dari Kementerian Keuangan mesti bertanya tentang jenis – jenis kampanye pak, ya ini yang ngerti orang partai kaya di depan ini pak, supaya pandangan Pemerintahnya tidak mengejutkan dan mengagetkan kita.
Nah pemasangan alat peraga itu urusannya KPU. Jadi urusannya partai politik adalah apa Tim Kampanye , pertemuan terbatas, tatap muka dialog kemudian penyebaran bahan kampanye ya diluar media cetak elektronik dan kemudian adalah itu saja tiga hal. Radio Televisi Media cetak elektronik kemudian alat peraga dan sebagainya itu adalah urusannya KPU yang didanai oleh APBN, jangan dapat pak wajib. Wajib tetapi itu tadi KPUnya ini musti dipastikan.
Nah kita kan tidak pernah audit itu KPU secara serius, gitu loh. Keluhan dari daerah – daerah pada pelaksanaan Pilkada serentak pada pemasangan alat peraga berdasarkan Undang – undang 8/2015 tidak begitu. Ada pasangan calon di Sumatera Utara kebetulan kenal dekat dengan Bang Rambe, itu dibohongin sama KPU harusnya alat peraga sekian yang dipasang adalah pasangan calon yang lain. Nah kalau kita sih anteng karena kita pendukung. Mau dipasang terserah, tidak dipasang terserah kan begitu.
Kalau yang pengusung itu pasti marah begitu. Kira – kira begitu pak. Jadi tiga saja yang menjadi tanggung jawab Tim Kampanye partai politik atau gabungan partai politik, satu adalah bahan kampanye, kedua adalah rapat terbuka, rapat terbuka ya kemudian pertemuan terbatas dan dialog gitu saja.
Yang lainnya urusan Pemerintah yang dananya dari APBN diselnggarakan oleh KPU.
Terima kasih.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
F-PGERINDRA (AHMAD RIZA PATRIA) :
Ini pantas PDIP menang pemilu ini, usulannya progresif. Gerindra ikut PDIP.
F-PDIP (ARIF WIBOWO) :
Kita bukan progresif pak, pendirian pak. Kongres PNI terakhir tahun ‘63 pak.
KETUA RAPAT :
Lebih mantab lagi nih. PDIP sama malah kata “dapat” diganti jadi “wajib”.
Nanti soal “wajib” atau “sunat” atau “dapat” ini, ini nanti kita serahkan kepada Pemerintah untuk menjawabnya.
Hanura mau bicara lagi? Silakan.
F-PHANURA (RUFINUS H. HUTAURUK) :
Baru saja saya diskusi dengan Ketua Fraksi saya, jadi memang hanya ada catatan pak. Tadi Pak, Kang Agun bilang kenapa tidak diprioritaskan A, TVRI dan segala macamnya. Kita jangan terjebak, KPU akan terjebak kepada Undang – undang penyediaan barang dan jasa. Nanti mereka harus lelang pak. Jadi itu lelang terbuka, siapapun bisa masuk, nanti dikompi, beauty contess, mana yang lebih murah itu yang diambil dan itu sudah kita bicarakan waktu konsinyering minggu lalu.
Jadi kita jangan terjebak di sana. Kemudian kalau Hanura dalam posisi 8, 9, 10, 7 ini memang tadi tidak salah kalau ditambah dengan kata “dapat” pak.
Jadi dibiayai...
KETUA RAPAT :
Kata “dapat” Hanura setuju ya....
F-PHANURA (RUFINUS H. HUTAURUK) :
Ya, setuju namun demikian tentu kita harus menjelaskan mendengarkan terlebih dahulu penjelasan dari Kemenkeu, Menkeu terhadap opsi yang kita pilih ini kira – kira seperti apa. Kan ini bisa diadopsi atau tidak. Kan kembali nanti kepada Pemerintah, bisa tidak diadopsi. Tadi PDI menjelaskan ada hanya berbagai variabel saja yang bisa disetujui gitu. Nah tentu hal ini menyangkut juga hal – hal yang lain.
Nah sebaiknya menurut saya, dari Fraksi Hanura terlebih dahulu kita mendengarkan penjelasan dari Pemerintah terhadap opsi – opsi yang diberikan ini seperti apa tapi kita katakan tadi bahwa 7, 8, 9, 10 itu kalau memang Pemerintah tidak keberatan. Fraksi Hanura mengatakan setuju. Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Hanura setuju itu ya...
Pak Johnny sudah cukup? Pak Johnny sudah cukup ya atau berubah sikap?
F-PNASDEM (JOHN G. PLATE) :
Sebetulnya begini kita mau menekankan kembali, saya garisbawahi betul apa yang disampaikan oleh Pak Rufinus itu. Kita jangan sampai ambiguity gitu ya, jangan sampai kita bahasa anak Jakartanya plintat – plintut. Di sisi yang satu kita minta harus ada kontes untuk pemberantasan korupsi, macam – macam hebat benar, harus tender, harus qualified bidder, di sisi yang satu kita memaksa supaya terbatas, diatur hanya khusus untuk yang tertentu, disisi yang lain kita
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
ngomong mengundang pihak swasta untuk mengambil bagian didalam perekonomian nasional. Hal – hal yang sudah dilakukan oleh pihak swasta sedapat mungkin negara berkurang perannya. Kita ini disatu sisi ngomong yang lain, disisi lain ngomongnya ke balik pak.
Kita minta konsisten sedikit didalam mengurus negara ini. Ini pengambil kebijakan publik lagi bikin Undang – undang. Saya garisbawahi betul itu tadi, semua terkait dengan pengadaan jasa yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu harus melalui open bid, tender, jangan ditunjuk – tunjuk itu. Terhadap perusahaan negara sekalipun. Jangan itu, jangan buka peluang, konsisten sedikit. Itu yang pertama.
Yang kedua, kita juga ingin ngomong hebat semua, ini jangan retorika, ini jangan kita teoratif. Populisme yang teoratif itu dihindari, gaya – gaya retorika untuk seolah – olah berpihak kepada kepentingan publik itu dikurangi sedikit pada saat menyusun kebijakan publik pak. Kejujuran. Kita ingin alokasi dana ini sedapat mungkin digunakan untuk apa, keberpihakan kepada rakyat yang masih menderita, dengan gagah semuanya kita ngomong tapi pada saat ngurus pemilihan umum kita ingin tarik seluruh dananya untuk dibiayai oleh kita, iya betul tidak ada yang maju dinegara yang fiskalnya sudah bagus betul itu, kita akan berangkat ke sana, tapi pada saat ini pemerintah sudah berteriak tidak bisa ini tidak ada duitnya, prioritas kita bukan disini.
F-PAN (YANDRI SUSANTO) : Pemerintahnya yang pelit itu....
F-PNASDEM (JOHN G. PLATE) :
Oleh karena itu kami menghimbau kepada rekan – rekan marilah kita konsisten betul – betul kita berpihak kepada rakyat, apa yang masih bisa kita lakukan, yang partai politik masih bisa lakukan mari kita lakukan, kita pikirkan itu, jangan bebankan pada APBN jika Pemerintah sudah lempar handuk. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Pemilunya untuk rakyat Bang John.
F-PNASDEM (JOHN G. PLATE) :
Semuanya untuk rakyat tapi tidak harus dibiayai oleh APBN pak.
F-PDIP (ARIF WIBOWO) : Gini pak...
KETUA RAPAT :