BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
KETUA RAPAT : Yang 197 oke ya
F-PNASDEM (JOHN G. PLATE) :
197 kalau ditambah kata “dilanjutkan” tadi, oke itu. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Kemudian penambahan ayat 6 oke, 203 dan ayo terus bawahnya, pasal ...
(suara tidak jelas) oke, 234 oke, penambahan ayat 6 oke, kalau yang lain menurut saya sama sajalah itu, itu redaksi hanya dilanjutkan dan itu tidak prinsip ya, tidak mendasar, tidak masalah ini, ya. Oke ya, sudah ya. Hanura silakan.
F-PHANURA (RUFINUS H. HUTAURUK) :
Terima kasih Pimpinan.
Pak Menteri dan teman – teman di Pansus.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kembali seperti tadi malam, bahwa Fraksi Hanura sudah memberikan ulasan dalam proses recruitment manapun, dimanapun, itu rasanya kalau hanya ada satu orang, coba kita bisa bayangkan ya, nah cuman Pak Ketua, itu sistimatika di dalam penulisan ayat ini sudah berantakan, coba lihat di pasal, ayat 5 tadi. Ada sebuah perbuatan, apakah disengaja atau tidak, kita tidak tahu ya kan. Coba lihat, “dalam hal partai politik atau gabungan partai politik tidak mengajukan...”. Ini tidak mengajukan, sengaja atau bukan, engineering atau bukan. Apakah dia sudah memenuhi persyaratan atau tidak, coba diperbaiki dulu.
Jadi ada satu perbuatan dulu, apakah itu disengaja atau kelalaian. Jadi kalau orang sudah diberikan suatu referensif sanksi, maka dia akan menabrak unsur – unsur yang ada didalam ketentuan itu sendiri. Jadi tolong dijelaskan dulu, apakah perbuatan ini disengaja atau bukan, seperti tadi malam dikatakan oleh Fraksi Hanura, Golkar, ada money politics. Perbuatan itu tergolong yang mana ini sekarang. Supaya kita kriminalisasi bahwa itu suatu perbuatan yang layak untuk diberikan sanksi.
Kemudian lucunya di ayat 6, muncul lagi klausul mengamini ayat 4. Aneh ini mekanismenya ini. Harusnya kan 6 (enam) ini jadi 5 (lima), 5 (lima) ini jadi 6 (enam). Jadi pada prinsipnya sebenarnya kalau kita masuk di dalam ayat 5, pasal 5, pasal 6, ini tidak ada kata lain selain setuju. Kita jangan digiring – giring dengan ayat yang tidak jelas. Kalau kita masuk didalam ayat 6, ini tidak ada kata lain bahwa pasangan tunggal itu bisa. Jadi istilah Pemerintah seperti terbuka terbatas, nah itu kan sama dengan tertutup. Jadi kita jangan mau dikelabui dengan begitu – begituan.
Nah ini contoh – contoh saja, ini dalam drafting yang kita baca yang datang dari Pemerintah tentu ya kan. Nah ini juga ayat ini berkembang, berkembang sedemikian rupa seakan – akan kita digiring. Golkar saya tidak tahu ini, sadar tidak ini kita ini sudah digiring untuk menyetujui oleh Pak Johnny Plate kan gitu.
KETUA RAPAT :
Saya mengusulkan bukan digiring, kita malah mengusulkan jalan tengah ini.
F-PHANURA (RUFINUS H. HUTAURUK) :
Nah ini, kan tadi malam Pak Rambe kan dalam posisi menolak karena Pak Rambe mengikut ayat, pasal 4 (empat) Undang Undang Dasar ’45, bicara konstitusi. Sekarang kok tidak konstitusional, aneh bin ajaib. Belum 24 jam. Nah ini, kalau Hanura konsisten.
Jadi Hanura mengatakan dalam proses recruitment pemilu presiden, bahwa kemungkinan terjadi pasangan tunggal yang kita tidak elakkan, kita atur.
Jadi ada force majure tapi jangan di engineering kan itu tadi malam Fraksi Golkar. Jangan ada jual – beli kan begitu kan tadi malam.
Nah perbuatan itu harus kita buat di dalam pasal ini, kalau perbuatan itu sengaja dan dapat dibuktikan kesengajaan itu perlu diberikan sanksi baik kepada partai atau gabungan partai politik.
Nah kalau di ayat 6 ini adalah, apakah, pertanyaan saya Pak Ketua yang harus dijawab oleh berbagai fraksi, apakah ini mengantisipasi adanya pasangan tunggal atau bukan. Kalau sifatnya antisipasi ya monggo kita harus kasih jalan
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
keluar. Tunggu dulu, makanya saya, tunggu dulu, saya cenderung, saya bisik – bisik tadi dengan Pak Arif ya, saya berpikir supaya karena di sini publik kita jangan menampar muka kita sendiri saya usulkan untuk kita berunding untuk masuk di dalam koridor setengah kamar. Jangan di depan publik kita berdebat pak, tidak layak dan tidak baik. Kita ini banyak akademisi di sini, bukan hanya politisi.
Jadi saya usulkan struktur mekanisme sistimatika ayat ini pun tidak jelas perlu perubahan, kemudian ayat 6 ini benar – benar bahasa tubuh kita, karena nanti Undang – Undang ini ada catatan sejarahnya pak, terbentuknya ayat ini bagaimana catatan sejarahnya. Jangan nanti oleh Mahkamah Konstitusi begitu di JR mereka tidak tahu sejarahnya suka – suka lagi. Nah ini yang harus kita pahami dulu.
Jadi saya, Pak Ketua, sebelum Fraksi Hanura menjawab, pertama perbaiki dulu ini sistimatikanya baik rewarding-nya, redaksinya sehingga frasa yang menimbulkan ini tidak menimbulkan frasa yang sifatnya ganda.
Kemudian ayat 6 ini kita harus rembukkan terlebih dahulu, kalau ini mengacu kepada antisipatif tentu harus ada ayat lain yang merujuk, mungkin saja di Peralihan bahwa ini adalah sifatnya antisipatif. Jadi bukan sekedar hanya menyenangkan kita di dalam sidang yang terhormat ini.
Demikian barangkali, kami fari Fraksi Hanura hanya menjelaskan positioning kami, legal positioning-nya di dalam memberikan jawaban ini kami mohon supaya dirundingkan khusus di dalam pasal 5, 6 dan yang berkaitan dengan, karena derivasinya banyak sekali Pimpinan. Nanti bagaimana kalau ada calon tunggal yang meninggal, sudah ditaruh dia balihonya segala macam, tiba – tiba meninggal apakah masih tetap dipilih kan begitu. Ini masih banyak turunannya.
Jadi sebaiknya menurut saya, kita rundingkan sampai habis, sampai matang, oke kita sepakati, yang tidak bisa kita sepakati hal – hal yang substansi voting saja selesai. Kalau tidak ada lagi jalan pemikiran akademis yang kita, yang bisa menyatukan kita didalam satu ide dalam membuat Undang – undang ini lebih sempurna.
Demikian barangkali Pimpinan.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
KETUA RAPAT :
Kembali yang kotak – kotak tadi. Ini dimana isinya ini Hanura.
F-PGERINDRA (SUPRATMAN ANDI AGTAS) : Pimpinan, Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Pasal 197 ayat 2 dan pasal 203 ayat 4, dan 5 RUU Pemilu draft Pemerintah.
F-PGERINDRA (SUPRATMAN ANDI AGTAS) : Pimpinan...
KETUA RAPAT :
Tunggu dulu. Hanura setuju tidak ini?
F-PHANURA (RUFINUS H. HUTAURUK) :
Saya sudah bilang saya tidak mau memberikan opsi apapun sepanjang masih demikian halnya. Struktur, susunan, warding, frasa – frasa yang dibuat seperti ini perlu ada perbaikan. Baru bisa saya kasih komentar.
KETUA RAPAT :
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Jadi tidak berpendapat ya.
F-PHANURA (RUFINUS H. HUTAURUK) :
Bukan tidak berpendapat. Pendapatnya ini yang saya katakan, bukan tidak berpendapat.
KETUA RAPAT :
Iya tapi tidak bisa masuk dalam kotak – kotak ini.
F-PHANURA (RUFINUS H. HUTAURUK) :
Oh tidak, saya tidak mau tahu itu kotak – kotak itu.
KETUA RAPAT :