Ir Tegus Djuwarno, MSi Sekretaris.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Chairul Naim. Selanjutnya dipersilakan menyampaikan naskahnya.
Anggota DPD RI dari Papua yang asli Yogyakarta. Ketika Bapak membacakan kalimat tadi.
155 Pak Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan karena Pak Hakam ini bicara soal dana keistimewaan, wajib hukumnya diberikan kepada Yogyakarta.
Terima kasih Pak Chairul Naim.
Berikutnya dari Fraksi PPP, Pak Nu’man Abdul Hakim.
Kami persilakan.
F-PPP (DRS.H. NU'MAN ABDUL HAKIM ):
Terima kasih Pak Ketua.
Pendapat Akhir Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI terhadap RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Disampaikan pada Rapat Kerja Komisi II DPR RI, Selasa, 28 Agustus 2012, juru bicara Nu’man Abdul Hakim.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Yang terhormat Pimpinan Komisi II DPR RI,
Yang terhormat Menteri Dalam Negeri dan seluruh jajarannya, Yang terhormat Menteri Hukum dan HAM,
Yang terhormat Ketua Komite I DPD RI dan seluruh Anggota, Yang terhormat rekan-rekan Anggota Komisi II DPR RI, Hadirin sekalian yang berbahagia,
Puji syukur marilah kita panjaktan kekhadirat illaahirabbi yang tiada henti-hentinya melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga pada kesempatan ini kita dapat menghadiri Rapat Kerja Komisi II DPR RI untuk mendengarkan pendapat akhir fraksi-fraksi terhadap RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rapat Kerja Komisi II DPR RI yang terhormat,
Pembahasan atas RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan salah satu Rancangan Undang-Undang yang mendapatkan perhatian yang sangat luas dari masyarakat, tidak hanya bagi masyarakat Yogyakarta, tapi menjadi wacana di tingkat nasional, artinya kedudukan Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Pakualam dan khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta benar-benar telah menjadi bagian integral bangsa Indonesia di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pembahasan atas RUU ini memang cukup panjang, DPR RI periode 2004-2009 telah melakukan pembahasan bersama Pemerintah, namun belum juga diselesaikan. Saat ini Alhamdulillaah di Minggu kedua bulan syawal 1433 Hijriah, Rancangan Undang-Undang ini sudah dapat diselesaikan pembahasannya dan beberapa saat lagi akan diambil keputusannya.
Berkenaan dengan hal tersebut, tentu saja Fraksi Partai Persatuan Pembangunan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua fraksi, terutama juga kepada Pemerintah yang dengan amat bijak yang pada akhirnya dapat mendengarkan serta memahami
156 aspirasi yang mengemuka, khususnya aspirasi utama yang berkembang masyarakat Yogyakarta, karena apabila tidak ada saling kesepahaman diantara semua pihak, niscaya Rancangan Undang-Undang ini berada pada posisi yang stagnant dan akan menimbulkan problematika kompleks, tidak hanya lagi tidak hanya bagi Daerah Istimewa Yogyakarta, juga pasti menjadi bagian dari... tingkat nasional.
Pimpinan sidang yang terhormat,
Sejak awal melakukan pembahasan atas Rancangan Undang-Undang ini, fraksi kami amat sangat mempertimbangkan aspek historis, yuridis, kultural dan sosiologis D.I.Y., dan juga mendengarkan dengan seksama aspirasi yang terus memperkuat upaya demokratisasi dan pengelolaan manajemen pemerintahan yang memenuhi prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang baik, perpaduan dari dua perspektif ini telah menjadi semangat bersama dan terintegrasi dalam pembahasan atas Rancangan Undang-Undang ini.
Status keistimewaan D.I.Y. merupakan bentuk pengakuan yang khusus dari Pemerintah Republik Indonesia, yang diberikan sejak awal kemerdekaan oleh Bapak-Bapak pendiri bangsa, sebagai bentuk penghargaan yang tinggi dan tulus atas peran Sri Sultan Hamengkubowono ke IX dan Sri Pakualam yang ke VIII dalam pembentukkan negara bangsa Indonesia hingga mempertahankan kemerdekaan.
Bentuk pengakuan tersebut kemudian dimasukkan pengaturannya pasa Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 sebelum diamandemen, dan ditegaskan kembali dalam Pasal 18b ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang berbunyi bahwa negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dalam undang-undang.
Dalam Rancangan Undang-Undang ini, status keistimewaan D.I.Y. telah memiliki rumusan yang bentuk yang jelas, bahwa kewenangan keistimewaan D.I.Y. terletak di provinsi, kemudian kewenangan dalam urusan keistimewaan D.I.Y. tersebut meliputi tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas dan wewenang Gubernur dan Wakil Gubernur. Yang kedua, tentang kelembagaan pemerintahan daerah D.I.Y. Yang ketiga, adalah soal kebudayaan. Ke empat, pertanahan, dan kemudian penataan ruang.
Berbagai pengaturan tentang pemerintahan daerah dan keuangan yang diatur dalam Peraturan Perundang-undangan lainnya tetap berlaku di D.I.Y., sedangkan Rancangan Undang-Undang ini mengatur hal yang bersifat khusus saja.
Dalam pandangan kami, rumusan ini cukup memberikan sesuatu yang komprehensif, memberikan isi dan bentuk keistimewaan D.I.Y. Di dalam hal pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, memang sudah semestinya ditetapkan, tidak melalui mekanisme pemilihan. Dengan menetapkan Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Pakualam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi D.I.Y., demikian juga dengan 4 kewenangan lainnya telah semakin melengkapi dan memperjelas isi dari keistimewaan D.I.Y.
157 Mekanisme penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur D.I.Y. bukanlah hal yang tidak demokratis, karena sejak awal kita memahami bahwa rakyat Yogyakarta menghendaki Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Pakualam ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur D.I.Y.
Penambahan kewenangan keistimewaan yang diberikan kepada D.I.Y., juga disertai dengan kewajiban Pemerintah menyediakan pendanaan dalam rangka penyelenggaraan urusan keistimewaan D.I.Y. dalam APBN yang disesuaikan dengan kebutuhan D.I.Y. dan kemampuan keuangan negara.
Dengan demikian, penambahan kewenangan keistimewaan D.I.Y. ini diharapkan benar-benar dapat dijalankan secara efektif,
Selanjutnya dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang demokratis, transparan, efektif, bersih dan berwibawa. Rancangan Undang-Undang ini selain memberikan keistimewaan kepada Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Pakualam yang ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur D.I.Y., juga memberikan kewajiban kepada Gubernur untuk menyampaikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah, kepada DPRD setiap akhir tahun dan setiap akhir masa jabatan yang juga di informasinya disebarluaskan kepada masyarakat.
Hal ini menunjukkan semangat penyelenggaraan keistimewaan D.I.Y. tetap mempedomani prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang baik, bahkan dalam pasal ke-16 mengenai larangan, sudah ditetapkan berbagai ketentuan yang menjadi rambu-rambu agar Gubernur dan Wakil Gubernur benar-benar dapat mencurahkan seluruh waktu, pikiran dan tenaganya untuk kepentingan rakyat Yogyakarta, diantaranya tidak melakukan KKN, tidak turut serta dalam suatu perusahaan, rangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya dan juga dilarang untuk menyalahgunakan wewenang dan lain-lain.
Kemudian berkenaan dengan syarat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur D.I.Y., pada Pasal 16 huruf n, yaitu bukan sebagai Anggota Partai Politik. Ketentuan ini sangat penting dan strategis, karena posisi Beliau-Beliau terutama hingga Sultan dan juga sebagai Gubernur hendaknya tidak terapiliasi pada Partai Politik.
Dalam pandangan kami, Rancangan Undang-Undang ini bukan hendak membatasi hak politiknya Sri Sultan dan Sri Pakualam, tetapi ingin menempatkan kedudukan Sri Sultan dan Sri Pakualam pada posisi yang tinggi, posisi yang mulia, posisi yang terhormat sebagai pemimpin, pengayom dan pemersatu rakyat Yogyakarta yang menjadi milik bersama bangsa Indonesia, bukan hanya menjadi milik satu Partai Politik tertentu. Regulasi pembatasan itu tidak menjadi Anggota Partai Politik tertentu ini hanya berkaitan dalam konteks kedudukan Sultan dalam pencalonannya sebagai Gubernur D.I.Y., sebagaimana diatur dalam Rancangan Undang-Undang ini.
Rancangan Undang-Undang ini juga telah mengatur tentang tata cara pengisian pelantikan, hingga berhalangannya posisi Gubernur dan Wakil Gubernur D.I.Y. dengan rinci dan jelas yang
158 diharapkan dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi agar penyelenggaraan keistimewaan D.I.Y. dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Berbagai catatan di atas perlu kami sampaikan, agar kita memiliki semangat dan persepsi yang sama terhadap keistimewaan D.I.Y. yang memiliki peran kesejarahan tersendiri, kekhususan warisan budayanya, masyarakatnya dan juga sambil kita tidak menafikan arah perkembangan jaman yang menghendaki pengelolaan pemerintahan yang baik, dan tentu kita menaruh harapan besar agar Rancangan Undang-Undang ini dapat memberikan jawaban dan memenuhi harapan bagi bangsa Indonesia pada umumya, bagi rakyat Yogyakarta pada khususnya di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Pakualam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur D.I.Y., sehingga dapat mewujudkan rakyat D.I.Y. menjadi lebih sejahtera, adil dan makmur.
Pimpinan Sidang yang terhormat,
Sebagaimana urian pokok-pokok pikiran tadi yang telah kami sampaikan di atas, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan dengan seraya mengharap rido Allah dan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim menyatakan persetujuannya agar Rancangan Undang-Undang ini dilanjutkan terhadap pembicaraan pada tingkat berikutnya untuk diambil menjadi keputusan Rancangan Undang-Undang menjadi Undang-Undang.
Kami sangat menyadari bahwa Rancangan Undang-Undang ini masih belum sempurna, dalam arti masih belum mengakomodir aspiriasi-aspirasi yang berkembang, namun menjadi rumusan yang terbaiklah yang kita ambil yang pada hari ini dianggap dicapai oleh semua pihak. Namun kami juga berharap, semoga Rancangan Undang-Undang ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi bangsa Indonesia umumnya dan bagi rakyat Yogyakarta pada khususnya.
Demikianlah pendapat akhir Fraksi Partai Persatuan Pembangunan disampaikan, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Pimpinan Komisi II DPR RI, rekan-rekan Anggota Komisi II DPR RI, Menteri Dalam Negeri, Menteri Hukum dan HAM, rekan-rekan pers, dan juga kepada segenap yang terlibat dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang ini. Demikianlah pemandangan umum ini kami sampaikan.
Wabillaahittaufik Walhidayah,
Wassalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.
Pimpinan Fraksi, Hasrul Azwar, Sekretaris...
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Nu’man Abdul Hakim.
Kami persilakan naskahnya.
... dengan segenap jajarannya para pejabat eselon I yang hadir, maupun rekan-rekan dari DPD RI Komite I yang hadir Ibu Denti, Bapak Paulus Sumino, Pak Wayan, Pak Hafid Asrom, Ibu Aida Ismet, Prof.Dr. Faruq, Pak Anang Prihantoro, Pak Imanuel Babueha, Pak Cholid Mahmud dan Pak Alirman, SH., M.Hum, betul ya semua DPD ya.
159 Kami sengaja Pak Menteri dan segenap Anggota DPD, kami dari Komisi II DPR RI memang pada kesempatan pengambilan keputusan tingkat pertama hari ini tinggal 3 fraksi Pak, kami tidak ingin memotong dan juga tidak meng-apeal baca saja pokok-pokoknya, tidak. Kenapa, karena ini istimewa. Ingin menggambarkan ke publik bahwa betapa lamanya perjalanan Rancangan Undang-Undang ini. Jadi di pengambilan keputusan tingkat I pun harus lama juga. Jadi biarlah di akhir penghujung ini mencerminkan bahwa proses ini butuh waktu, butuh kesabaran, butuh kearifan kita semua. Jadi walaupun yang sedikit terkantuk-kantuk tidak apa-apa, yang penting acara ini dengan tenang kita jalankan sampai dengan akhir ya, insyaAllah karena masih ada pendapat Pemerintah juga pendapat dari Komite I DPD RI.
Berikutnya kami persilakan dari Fraksi Kebangkitan Bangsa, Pak Abdul Malik Haramain.
Kami persilakan.
F-PKB (ABDUL MALIK HARAMAIN, MSI) :
Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.
Pendapat akhir mini Fraksi Kebangkitan Bangsa terhadap RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Disampaikan oleh Jubir Fraksi Kebangkitan Bangsa Malik Haramain Anggota, Nomor Anggota A-161.
Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.
Yang terhormat Saudara Pimpinan Sidang,
Yang terhormat Saudara Menteri Dalam Negeri dan Menteri Hukum dan HAM, Yang terhormat Saudara Anggota DPR RI,
Saudara-Saudara Anggota Dewan dan Anggota Komisi II DPR RI yang Saya hormati, Hadirin yang Saya hormati,
Segala puji dan syukur kita panjatkan kekhadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayahnya, sehingga pada hari ini kita bisa bersama-sama dapat menghadiri rapat dalam rangka penyampaian pendapat akhir mini fraksi atas RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sholawat dan salam senantiasa ditujukan kepada nabi besar Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, keluarga, sahabat dan pengikutnya yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kejujuran serta menegakkan keadilan di muka bumi ini.
Selanjutnya kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Saudara Pimpinan Rapat atas kesempatan yang diberikan pada Fraksi Kebangkitan Bangsa untuk menyampaikan pendapat akhir mini fraksi atas RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pimpinan Sidang dan hadirin yang terhormat,
Fraksi Kebangkitan Bangsa mendukung sepenuhnya RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk segera disahkan, guna mengatur secara lebih komprehensif dan
160 operasional terhadap status keistimewaan Yogyakarta yang selama ini belum cukup diatur dalam perundang-undangan.
Derajat signifikansi pengaturan ini tidak hanya dalam konteks memberikan kerangka legal dan operasional untuk kepentingan menjalankan fungsi pemerintahan, tetapi juga dalam menyelaraskan sistem penyelenggaraan pemerintahan di D.I.Y. dengan sistem demokrasi kita. Tentunya upaya ini harus tetap dibingkai dengan penghargaan atas komitmen politik Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Pakualam dan masyarakat Yogyakarta dalam mendukung kemerdekaan, persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pimpinan Sidang dan hadirin yang saya hormati,
Fraksi Kebangkitan Bangsa juga berpendapat bahwa salah satu misi penting keberadaan RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini adalah untuk mendorong dan memperkuat kemandirian masyarakat Yogyakarta, termasuk di dalamnya kamandirian ekonomi.
Dalam konteks ini perumusan aspek keistimewaan Yogyakarta menyangkut kewenangan daerah dalam mengatur urusan pemerintahannya dan pengelolaan sumber daya lokal menjadi sangat penting untuk dirumuskan secara konkrit dalam RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini.
Berbagai bentuk opsi... sudah diformulasi dalam Rancangan Undang-Undang ini untuk memberikan stimulasi terhadap proses penguatan kemandirian masyarakat Yogyakarta dan penghargaan historis dan kontribusi Sri Sultan dan Sri Pakualam dan masyarakat Yogyakarta pada awal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Terkait dengan mekanisme penentuan Kepala Daerah di Provinsi D.I.Y., Fraksi Kebangkitan Bangsa berpendapat bahwa Sri Hamengkubowono dan Sri Pakualam yang bertahta dapat ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur D.I.Y. tanpa melalui proses pemilihan. Hal ini merupakan salah satu bentuk dari keistimewaan D.I.Y. yang diakui oleh Pemerintah.
Namun demikian, Fraksi Kebangkitan Bangsa berpendapat bahwa pola ini tentunya memiliki implikasi terhadap keharusan bagi Gubernur dan Wakil Gubernur yang ditetapkan tanpa melalui pemilihan ini untuk bersikap netral dan tidak terlibat dalam keanggotaan atau kepengurusan Partai Politik. Sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur yang ditetapkan maka pada dasarnya Sri Kesultanan Hamengkubowono dan Sri Pakualam dianggap tidak mewakili kelompok politik tertentu, melainkan menjadi representasi dari seluruh rakyat dan masyarakat Yogyakarta.
Dalam hal Gubernur atau Wakil Gubernur berhalangan tetap, baik karena berhalangan tetap atau tidak memenuhi persyaratan atau diberhentikan sebelum berakhirnya masa jabatan yang diatur dalam Bab VII Rancangan Undang-Undang ini, Fraksi Kebangkitan Bangsa... apabila yang berhalangan tetap atau tidak memenuhi persyaratan atau diberhentikan adalah Sri Sultan sebagai Gubernur, maka Sri Pakualam sebagai Wakil Gubernur sekaligus melaksanakan tugas Gubernur sampai ditetapkan lagi Gubernur dari pemegang tahta Sri Sultan Hamengkubowono berikutnya.
Begitu juga sebaliknya.
161 Fraksi Kebangkitan Bangsa merasa berterima kasih kepada Pimpinan Panitia Kerja, pembahasan di Timsin maupun di Timus. Masih banyak beberapa persoalan dan klausul fundamental yang sudah kita bahas dan sudah kita putus dalam RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, namun karena keterbatasan waktu, kami Fraksi Kebangkitan Bangsa cukup membahas beberapa point penting.
Pimpinan Sidang dan hadirin yang terhormat,
Demikian pendapat Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI terhadap RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan memperhatikan dan mempertimbangkan semua proses yang sudah berlangsung di Panitia Kerja, di Timus maupun di Timsin selama ini, dan dengan memohon ridho, rahmat dan magfiroh Allah SWT, serta dengan mengucap Bismillaahirrahmaanirrahiim Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa menyatakan persetujuannya RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk dibahas pada tingkat berikutnya.
Demikian pendapat akhir mini Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI atas Rancangan Undang-Undang ini dan atas perhatiannya kami sampaikan banyak terima kasih.
Wallaahumafik ilaa akhwamitorik.
Wassalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.
Jakarta, 28 Agustus 2012
Pimpinan Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR RI, Marwan Jafar
Ketua
Muhammad Hanif Sekretaris KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Malik Haramain.
Selanjutnya dipersilakan menyerahkan naskah.
Berikutnya dari Fraksi Partai Gerindera, Bapak Harun Al Rasyid kami persilakan.
F-GERINDRA (DRS. H. HARUN AL RASYID):
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan.
Setelah begitu lama kita menyatukan pandangan tentang berbagai permasalahan dalam RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, akhirnya sampailah kita pada satu titik temu antara tesisnya Pemerintah dan tesisnya DPR RI walaupun saling mempertahankan tapi akhirnya bertemu pada hari dengan predikat semi caumlaude barangkali karena belum berakhir.
Saya tidak banyak beri komentar, karena ini begitu banyaknya, tapi substansi tanggapan mengenai nama, judul Rancangan Undang-Undang, kepemimpinan, mekanisme pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, pertanahan dan penataan ruang, institusi kesultanan kadipaten,
162 pendanaan, pada hakikatnya telah dituangkan yang secara kalau dikatakan barangkali paripurna di dalam Rancangan Undang-Undang yang sudah dibacakan oleh Ketua Panitia Kerja tadi.
Namun demikian, kami salut kepada yang digiring oleh Pak Ganjar selama ini untuk mencapai kesepakatan itu, walaupun kadang-kadang kita tersentak dengan ngantuk jam 23.00 malam dan ketukannya itu, lantas juga terhempas dengan renungan dari Pak Taufiq dengan tausiyahnya yang luar biasa dan dilakukan oleh Ketua kita Komisi II DPR RI yang kadang-kadang memotong setiap pembicaraan yang pada hakikatnya meluruskan untuk mencapai tujuan. Tetapi yang sangat luar biasa adalah pandangan dari orang Ambon yang namanya Alex dan Ibu Basik-Basik dari Papua yang kadang-kadang tidak... kita tidak sangka bahwa orang-orang ini melebihi daripada orang Yogyakarta.
Ini luar biasa.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa seperti tadi sudah disinggung oleh semua fraksi dan kami sebenarnya banyak yang diralat dalam kutipan ini, tapi kalau dibacakan apalagi dengan bahasa Jawanya... Saya kurang mengerti, seperti telah disinggung di atas bahwa perubahan sebuah Peraturan Perundang-undangan itu harus memperhatikan asas manfaat, mudarat bagi masyarakat setempat, bukan didasarkan pada untung rugi bagi elitnya. Kalau Fraksi Partai Gerindera mengusulkan penetapan untuk mekanisme pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, hal itu bukan dalam rangka kepentingan pribadi Sri Sultan Hamengkubowono, maupun Sri Pakualam, tapi semata-mata karena asas manfaat dan mudarat bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dengan segala pertimbangannya, juga pada usulan agar Sri Sultan Hamengkubowono dan Sri Pakualam tidak menjadi atau berpolitik, bukan ditujukan untuk membatasi hak-hak pribadi yang bersangkutan, tapi lebih didasarkan pada pertimbangan bahwa kedua figur tersebut ada milik semua masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.
Demikianlah usulan Fraksi Partai Gerindera semoga bermanfaat bagi kita semua.
Terima kasih.
Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh.
KETUA RAPAT:
Terima kasih Pak Harun.
Dan dokumennya diserahkan Pak Harun.
Terima kasih Pak Harun.
Dan kami lengkapi pendapat akhir Pak Harun itu sebelum Pak Akbar membaca, karena kalau Pak Ganjar dikatakan menggiring, kadang-kadang ada yang suka menggocek-gocek Pak.
Berikutnya kami persilakan Pak Akbar Faisal, memang spesialis gocek menggocek. Silakan Pak Akbar dari Fraksi Partai Hanura.
F-HANURA (DRS. AKBAR FAISAL, M.SI):
Ya, terima kasih Pimpinan.
Saya tidak terlalu berani menggocek seperti Gerindera tadi, tidak punya pengalaman sampai Gubernur dan segala macam gitu, maka ijinkan Saya membacakan.
163 Yang kami hormati Pimpinan dan Anggota Panitia Kerja RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Anggota Komisi II DPR RI,
Yang terhormat Bapak Menteri Dalam Negeri dan Pak Menteri Hukum dan HAM yang hari ini tanpa diwakili oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM,
Yang terhormat Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Hadirin sekalian yang Saya hormati.
Dalam merumuskan, membahas dan mendiskusikan tentang keistimewaan daerah D.I.Y., terdapat cara pandang yang berbeda-beda. Cara pandang yang berbeda-beda itu tentu saja berangkat dari tinjauan, analisis, fakta historis terkait dengan keistimewaan D.I.Y. Pembahasan tentang RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam catatan kami telah berlangsung selama kurang lebih 9 tahun, hal ini tentu saja menguras energi dan menghabiskan banyak waktu. Maka kemudian kenapa kami terutama Komisi II DPR RI sangat bangga bisa menyelesaikan undang-undang ini, memecahkan telur istilah kami.
Ada beberapa catatan penting bagi Fraksi Partai Hanura yang kemudian menjadi landasan kami dalam proses pembahasan RUU tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Tetapi karena waktu telah larut malam, maka Saya hanya membacakan saja point-point penting yang kami rasa perlu atau setidaknya bagi kami perlu untuk kami bacakan sesuai dengan undang-undang.
Pertama, argumentasi historis.
Yang kedua, argumentasi konstitusional.
Yang ketiga, argumentasi bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara uniterial atau negara kesatuan yang menganut dua model desentralisasi yaitu desentralisasi simetrik dan desentralisasi a simetrik.
Yang ke empat, adalah pembentukkan sistem pemerintahan tidak harus dan bahkan tidak boleh bersifat segmenter semata. Dimana demokrasi prosedural atau demokrasi elektoral dianggap sebagai satu-satunya cara untuk membentuk dan mewujudkan pemerintahan yang demokratis dan konstitusional.
Saya perlu membaca yang point ke empat ini, karena inilah substansi dari sikap kami. Pada
Saya perlu membaca yang point ke empat ini, karena inilah substansi dari sikap kami. Pada