a. Pengertian Laporan Keuangan
Dalam mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan dan kinerjanya, analis keuangan perlu melakukan pemeriksaan atas berbagai aspek kesehatan keuangan perusahaan. Dengan menggunakan alat analisis laporan keuangan, terutama bagi pemilik usaha dan manajemen, dapat diketahui berbagai hal yang berkaitan dengan keuangan dan kemajuan perusahaan. Alat yang sering digunakan selama pemeriksaan adalah rasio keuangan. Menurut Kasmir (2010: 104) rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada di antara laporan keuangan.
b. Penggolongan Rasio Keuangan
Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa rasio keuangan. Setiap rasio keuangan memiliki tujuan, kegunaan, dan arti tertentu. Setiap laporan keuangan yang dibentuk memiliki tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing perusahaan. Menurut M. Hanafi
(2009: 76) menggolongkan rasio keuangan berdasarkan ruang lingkup dan tujuan menjadi lima kategori:
1. Rasio likuiditas, yaitu rasio yang menyatakan kemampuan perusahaan dalam jangka pendek untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Yang termasuk dalam rasio likuiditas yaitu:
a. Rasio lancar (current ratio)
Current Ratio merupakan salah satu ukuran likuiditas yang bertujuan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar yang dimilikinya. Rasio ini sering disebut dengan rasio modal kerja yang menunjukkan jumlah aktiva lancar yang tersedia yang dimiliki oleh perusahaan untuk merespon kebutuhan-kebutuhan bisnis dan meneruskan kegiatan bisnis hariannya.
Menurut Sutrisno (2009: 216), Current Ratio adalah rasio keuangan yang membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Rasio lancar dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu perusahaan. Dengan demikian dapat dikatakan current ratio yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu memenuhi kewajiban atau utang jangka pendek dengan menggunakan aset
lancar, sehingga dari sisi pemegang saham memiliki kepercayaan terhadap kemampuan perusahaan yang memiliki tingkat current ratio yang tinggi. Namun nilai Current Ratioy yang tinggi belum tentu baik ditinjau dari segi profitabilitasnya. Pengukuran rasio likuiditas pada penelitian ini dapat dilakukan dengan menilai rasio lancar (Current Ratio).
Current Ratio = π΄π π ππ‘ πΏπππππ
πΎππ€ππππππ πΏπππππ π 100% Keterangan:
Current asset = Aktiva lancar Current liabilitas = Kewajiban lancar
Aktiva lancar meliputi : kas, surat berharga, piutang, dan persediaan. Utang lancar atau hutang jangka pendek meliputi : utang pajak, utang bunga, uang wesel, utang gaji, dan utang jangka pendek lainnya. Semakin besar jumlah aktiva yang dimiliki oleh perusahaan, maka semakin besar prosentase yang terdapat di perusahaan tersebut, sehingga kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya semakin besar. Demikian juga sebaliknya, jika jumlah hutang lancar yang dimiliki perusahaan lebih besar daripada jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, maka semakin kecil prosentase yang terdapat di perusahaan tersebut maka kemampuan perusahaan untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya akan semakin kecil.
b. Rasio cepat (quick ratio)
Quick ratio disebut juga acid test ratio, merupakan perimbangan antara jumlah aktiva lancar dikurangi persediaan, dengan jumlah hutang lancar. Persediaan tidak dimasukkan dalam perhitungan quick ratio karena persediaan merupakan komponen aktiva lancar yang paling kecil tingkat likuiditasnya. Quick ratio memfokuskan komponen-komponen aktiva lancar yang lebih likuid yaitu : kas, surat-surat berharga, dan piutang dihubungkan dengan hutang lancar atau hutang jangka pendek (Martono, 2003: 56). Jadi rumusnya :
ππ’πππ πππ‘ππ = π΄ππ‘ππ£π πΏπππππβππππ πππππππ»π’π‘πππ πΏπππππ Γ 100%
Jika terjadi perbedaan yang sangat besar antara quick ratio dengan current ratio, dimana current ratio meningkat sedangkan quick ratio menurun, berarti terjadi investasi yang besar pada persediaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini semakin baik. Angka rasio ini tidak harus 100% atau 1:1. Walaupun rasionya tidak mencapai 100% tapi mendekati 100% juga sudah dikatakan sehat (Harahap, 2002: 302).
2. Rasio aktivitas, yaitu rasio yang menngambarkan sampai seberapa efisien perusahaan menggunakan aset-asetnya secara efektif. Yang termasuk dalam rasio ini adalah:
a. Rasio perputaran aktiva (total asset turnover)
Total Asset Turnover ratio merupakan rasio yang mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dengan melihat jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap aktiva (Kasmir, 2014: 157). Total Assets Turnover (TATO) dapat menunjukan seberapa efisiennya dana yang tertanam dalam keseluruhan aktiva perusahaan digunakan untuk mendapatkan penghasilan. Dengan begitu secara otomatis menunjukan kinerja perusahaan tersebut baik, dan nantinya harga sahamnya juga akan tinggi. Hal ini tentunya akan menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya dalam bentuk saham dalam perusahaan yang bersangkutan Rumus untuk menghitung TATO sebagai berikut:
TATO = πππππ’ππππ
πππ‘ππ π΄π π ππ‘ π 100%
b. Rasio perputaran aktiva tetap (fixed asset turnover ratio) Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan menggunakan aktiva tetapnya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif proporsi aktiva tetap tersebut. Pada beberapa industri seperti industri yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang tinggi, rasio ini cukup penting
diperhatikan. Perputaran aktiva tetap dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
πππππ’π‘ππππ π΄ππ‘ππ£π πππ‘ππ = π΄ππ‘ππ£π πππ‘πππππππ’ππππ
Rasio ini mengukur efektivitas penggunaan aktiva tetap dalam mendapatkan penghasilan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif penggunaan aktiva tetapnya (Sutrisno, 2001: 253).
c. Rasio perputaran piutang (receivables turnover ratio)
Rasio ini mengukur berapa kali, secara rata-rata piutang yang dikumpulkan dalam satu tahun. Rasio ini mengukur kualitas piutang dan efisiensi perusahaan dalam pengumpulan piutang dan kebijakan kreditnya. Rasio ini biasanya digunakan dalam hubungan dengan analisis terhadap modal kerja, karena memberi ukuran seberapa cepat piutang perusahaan berputar menjadi kas. Angka jumlah hari piutang, menggambarkan lamanya suatu piutang bisa ditagih (jangka waktu pelunasan). Semakin lama jangka waktu pelunasannya, semakin besar pula resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang (Prastowo dan Juliaty, 2002). Rasio ini dapat dihitung dengan rumus :
πππππ’π‘ππππ πππ’π‘πππ = π ππ‘πβπππ‘π πππ’π‘πππ π·ππππππππππ’ππππ π΅πππ πβ
Rasio ini mengukur efektivitas peng elolaan piutang. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif pengelolaan piutangnya (Sutrisno, 2001: 252).
d. Rasio perputaran persediaan (inventory turnover ratio)
Seperti halnya perputaran piutang, rasio ini juga menggambarkan likuiditas perusahaan, yaitu dengan cara mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaan yang dimiliki oleh perusahaan.
Perputaran persediaan yang tinggi menandakan semakin tingginya persediaan berputar dalam satu tahun. Hal ini menandakan efektivitas manajemen persediaaan. Sebaliknya, jika perputaran persediaan rendah menunjukkan pengendalian atas persediaan kurang efektif (Hanafi dan Halim, 2000: 80). Rumus perhitungannya adalah :
πππππ’π‘ππππ ππππ ππππππ = π»ππππ πππππ πππππ’πππππ ππ‘πβπππ‘π ππππ ππππππ
Rasio ini mengukur efektivitas pengelolaan persediaan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif pengelolaan persediaanya (Sutrisno, 2001: 251).
e. Average Collection Period
Average Collection Period bertujuan untuk mengukur efisiensi pengelolaan piutang dagang yang menunjukkan umur tagihan rata-rata piutang dagang selama setahun (dalam satuan hari). Jika menghasilkan angka yang semakin kecil maka menunjukkan hasil yang semakin baik, begitu pun sebaliknya. Average Collection Period dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
Average Collection Period = πππ’π‘πππ π ππ‘πβπππ‘π π₯ 360 βπππ πππππ’ππππ πΎπππππ‘
3. Rasio rentabilitas/profitabilitas, yaitu rasio keuangan yang menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba. Yang termasuk dalam rasio ini adalah:
a. Gross Profit Margin (GPM)
Rasio gross profit margin (GPM) mencerminkan atau menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai setiap rupiah penjualan, atau bila rasio ini dikurangkan terhadap angka 100% maka akan menunjukan jumlah yang tersisa untuk menutup biaya operasi dan laba bersih. Data gross profit margin dari beberapa periode akan dapat memberikan informasi tentang kecenderungan gross profit margin yang diperoleh dan bila dibandingkan standar rasio akan diketahui apakah margin yang diperoleh perusahaan sudah tinggi atau sebaliknya. Rumus GPM adalah Tandelilin (2001) :
πΊππ = ππππ‘π’πππ’βππ πΏππππππ‘ππ πππππ’ππππ Γ 100% b. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur laba bersih dibandingkan dengan penjualan. Net Profit Margin atau sering juga disebut dengan sales margin digunakan untuk melihat berapa perbandingan laba yang bisa dihasilkan dengan penjual yang dimiliki perusahaan.
Net Profit Margin yang tinggi menandakan adanya kemampuan perusahaan yang tinggi untuk menghasilkan laba bersih pada pendapatan tertentu begitu juga sebaliknya. Net Profit Margin menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih yang memiliki hubungan dengan pendapatan perusahaan yang akan datang, yang nantinya akan bermanfaat dalam memprediksi pertumbuhan laba bagi perusahaan. Hal ini tentu berdampak pada peningkatan nilai perusahaan. Prastowo (2011: 97) mengungkapkan bahwa βrationet profit margin mengukur rupiah laba yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah penjualan. Semakin besar Net Profit Margin, maka kinerja perusahaan akan semakin produktif sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Rasio ini dihitung dengan formula sebagai berikut:
Net Profit Margin = πΏπππ π΅πππ πβ
πππππ’ππππ x 100% c. Return on Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) merupakan salah satu rasio profitabilitas yang banyak digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan. Menurut Harahap (2007: 156) ROE digunakan untuk mengukur besarnya pengembalian terhadap investasi para pemegang saham. Angka tersebut menunjukkan seberapa baik manajemen memanfaatkan investasi para pemegang
saham. ROE diukur dalam satuan persen. Tingkat ROE memiliki hubungan yang positif dengan harga saham, sehingga semakin besar ROE semakin besar pula harga pasar, karena besarnya ROE memberikan indikasi bahwa pengembalian yang akan diterima investor akan tinggi sehingga investor akan tertarik untuk membeli saham tersebut, dan hal itu menyebabkan harga pasar saham cenderung naik.
Menurut Lestari dan Sugiharto (2007: 196) ROE adalah rasio yang digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari pengelolaan modal yang diinvestasikan oleh pemilik perusahaan. ROE diukur dengan perbandingan antara laba bersih dengan total modal. Angka ROE yang semakin tinggi memberikan indikasi bagi para pemegang saham bahwa tingkat pengembalian investasi makin tinggi. Adanya pertumbuhan ROE menunjukkan prospek perusahaan yang semakin baik karena berarti adanya potensi peningkatan keuntungan yang diperoleh perusahaan, sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor serta akan mempermudah manajemen perusahaan untuk menarik modal dalam bentuk saham. Rasio ini berguna untuk mengetahui efisiensi manajemen dalam menjalankan modalnya, semakin tinggi ROE berarti semakin efisien dan efektif perusahaan menggunakan ekuitasnya, dan akhirnya kepercayaan investor
atas modal yang diinvestasikannya terhadap perusahaan lebih baik serta dapat memberi pengaruh positif bagi harga sahamnya di pasar. Salah satu alasan utama perusahaan beroperasi adalah menghasilkan laba yang bermanfaat bagi para pemegang saham, ukuran dari keberhasilan pencapaian alasan ini adalah angka ROE berhasil dicapai. Semakin besar ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham. Return On Equity (ROE) dapat dirumuskan sebagai berikut:
Return On Equity = πΏπππ π΅πππ πβ πππ‘πππβ πππππ
πππππ πππππππ x 100% d. Return on Assets (ROA)
Selain Net profit margin rasio profitabilitas dapat dihitung dengan Return On Assets (ROA). Menurut Brigham dan Houston (2006: 109), Return on Asset merupakan rasio untuk mengukur tingkat pengembalian aktiva. Rasio ini dihitung dengan membandingkan laba setelah beban bunga dan dan pajak dengan total aktiva. Menurut Kasmir (2010: 202), Return On Assets merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa suatu perusahaan dengan tingkat return on assets yang tinggi akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut, karena dianggap perusahaan tersebut dapat
menghasilkan laba yang tinggi dan pada akhirnya akan berdampak positif terhadap nilai dividen yang akan diterima oleh pemegang saham perusahaan tersebut. Dengan banyaknya investor yang tertarik terhadap saham perusahaan tersebut, maka akan berpengaruh terhadap harga saham di pasar modal. Semakin banyak investor yang ingin membeli saham perusahaan tersebut, maka harga saham perusahaan akan cenderung mengalami kenaikan. Pengukuran rasio profitabilitas pada penelitian ini dapat dilakukan dengan menilai pengembalian aktiva (Return On Assets). Rumus yang digunakan untuk mengukur ROA adalah sebagai berikut:
Return On Assets = πΏπππ π΅πππ πβ
πππ‘ππ π΄ππ‘ππ£π π 100% e. Operating Profit Margin (OPM)
Operating profit margin (OPM) merupakan perbandingan antara laba usaha dan penjualan. Menurut Syamsuddin (2009: 61) operating profit margin merupakan rasio yang menggambarkan apa yang biasanya disebut pure profit yang diterima atas setiap rupiah dari penjualan yang dilakukan. Disebut murni (pure) dalam pengertian bahwa jumlah tersebut yang benar-benar diperoleh dari hasil operasi perusahaan dengan mengabaikan kewajiban-kewajiban financial berupa bunga serta kewajiban terhadap pemerintah berupa pembayaran pajak. Apabila semakin tinggi operating profit
margin makan akan semakin baik pula operasi suatu perusahaan. Cara menghitungnya adalah dengan rumus :
ππππππ‘ ππππππ = πΏπππ π΅πππ πβπππππ’ππππ Γ 100% f. Return On Investment (ROI)
Return on investment (ROI) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan (Syamsuddin, 2009: 63). Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan suatu perusahaan. Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila di ukur dari nilai aktiva (Syafri, 2008: 63). Menurut Munawir (2007: 89), Return On Investment (ROI) merupakan bentuk dari rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang berasal dari keseluruhan dana pada aktiva yang digunakan untuk operasional perusahaan. Return On Investment (ROI) dapat dirumuskan sebagai berikut:
ROI = πΏπππ πππ‘πππβ πππππ (πΈπ΄π)
πΌππ£ππ π‘ππ π π 100%
4. Rasio solvabilitas, yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Yang termasuk dalam rasio ini adalah:
a. Debt to Assets Ratio (DAR)
Debt to Asset Ratio (DAR) merupakan besar kekayaan perusahaan yang dibiayai oleh hutang. Asset perusahaan yang terlalu banyak berasal dari hutang akan menciptakan risiko bagi perusahaan karena apabila perusahaan menggunakan semakin banyak hutang untuk membiayai aktivitasnya akan berpengaruh, semakin besarnya kewajiban perusahaan baik dalam bentuk kewajiban tetap dan bunga, dilain sisi hutang juga mampu membangun kesempatan untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Debt to Asset Ratio (DAR) dapat dirumuskan sebagai berikut:
DAR = πππ‘ππ π»π’π‘πππ (ππππ‘)
πππ‘ππ π΄π π ππ‘ π 100% b. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio solvabilitas yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian dari modal sendiri (ekuitas) yang digunakan untuk membayar hutang. Debt to Equity Ratio merupakan indikator struktur modal dan risiko finansial, yang merupakan perbandingan antara hutang dan modal sendiri. Bertambah besarnya Debt to Equity Ratio suatu perusahaan menunjukkan risiko distribusi laba usaha perusahaan akan semakin besar
terserap untuk melunasi kewajiban perusahaan (Purwanto dan Haryanto, 2004).
Menurut Darsono (2005), Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan persentase penyedia dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Dari perspektif kemampuan membayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akan semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya.
Secara matematis Debt to Equity ratio dapat dirumuskan sebagai berikut (Toto Prihadi, 2010) :
π·πΈπ = πππ‘ππ πΈππ’ππ‘π¦πππ‘ππ π·πππ‘ Keterangan:
Total Debt = Total hutang Total Equity = Total ekuitas
Debt to Equity Ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menutup sebagian atau seluruh hutang-hutangnya baik jangka panjang maupun jangka pendek dengan dana yang berasal dari total modal dibandingkan besarnya hutang. Oleh karena itu, semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya. Semakin besar proporsi hutang yang
digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya (Prihantoro, 2003). c. Long-Term Debt To Equity Ratio
Long-Term Debt To Equity Ratio bertujuan untuk mengukur hutang jangka panjang terhadap modal sendiri. LTD Equity Ratio dapat dihitung dengan rumus:
LTD Equity Ratio = π»π’π‘πππ π½πππππ πππππππ πππππ πππππππ
5. Rasio nilai pasar, yaitu rasio yang menunjukkan informasi penting perusahaan yang diungkap dalam basis per saham, seperti:
a. Earning Per Share (EPS)
Earning per share (EPS) adalah Rasio yang banyak diperhatikan oleh calon investor, sebab informasi EPS merupakan informasi yang dianggap paling mendasar dan dapat menggambarkan prospek earning perusahaan dimasa depan. Rasio Earning Per Share (EPS) digunakan untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi para pemilik perusahaan. Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2008), Earning Per Share (EPS) menggambarkan profitabilitas perusahaan yang tergambar dalam setiap lembar saham. Semakin tinggi nilai Earning Per Share (EPS) maka semakin besar laba dan kemungkinan peningkatan jumlah dividen yang diterima pemegang saham.
Pada umumnya perhitungan Earning Per Share (EPS) menggunakan data laporan keuangan akhir tahun, akan tetapi juga dapat menggunakan laporan keuangan pertengahan tahun. Dalam implementasinya, laba per lembar saham dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang dari jumlah lembar saham biasa yang beredar sepanjang tahun. Jumlah rata-rata diperlukan dalam perhitungan karena jumlah saham yang beredar selama satu tahun tidak selalu tetap (berubah).
Rasio rendah berarti manajemen tidak menghasilkan kinerja yang baik dengan memperhatikan pendapatan-pendapatan yang diperoleh. Rasio tinggi berarti perusahaan sudah mapan. Earning per share merupakan laba bersih yang siap dibagikan kepada pemegang saham dengan jumlah lembar saham perusahaan (Tandelin, 2010). Earning per share yang tinggi maka dividen yang akan diterima investor akan semakin tinggi. Dividen yang diterima investor merupan daya tarik bagi investor/calon investor yang akan menanamkan dananya kedalam perusahaan tersebut. Daya tarik tersebut memberi dampak pada calon investor/investor untuk lebih meningkatkan kepemilkan saham tersebut. Jika earning per share meningkat/tinggi maka permintaan atas saham perusahaan semakin banyak dari calon investor sehingga harga saham
perusahaan di pasar modal cenderung meningkat. Dengan meningkatnya harga saham perusahaan, maka return saham yang akan diperoleh investor juga akan semakin tinggi. Jika nilai earning per share naik maka harga saham juga mengalami kenaikan (Darmidji dan Fakhruddin, 2006). Earning Per Share (EPS) dapat dirumuskan sebagai berikut:
Earning Per Share = πΏπππ π΅πππ πβ πππ‘πππβ πππππ π½π’πππβ ππβππ π¦πππ π΅ππππππ b. Price Earning Ratio (PER)
Price Earning Ratio (PER) mengindikasikan besarnya rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan (Tandelilin, 2010: 375). Harahab (2007: 311) menjelaskan Price Earnig Ratio (PER) yang tinggi menunjukan ekspektasi investor tentang prestasi perusahaan di masa yang akan datang cukup tinggi. Price Earnig Ratio (PER) juga merupakan ukuran harga relatif dari sebuah saham perusahaan. Price Earnig Ratio (PER) berguna dalam bagaimana pasar dapat menghargai kinerja perusahaan yang ditujukan dalam besarnya laba per sahamnya. Semakin tinggi Price Earnig Ratio (PER) maka semakin besar pula harga saham. PER merupakan hubungan antara harga pasar saham dengan EPS.
Dengan begitu semakin tinggi PER menunjukan semakin baik kinerja perusahaan, dengan begitu akan menarik minat
investor untuk menanamkan modal. Bertambahnya investor maka EPS juga meningkat karena tingkat pengembalian modal untuk setiap satu lembar saham pun juga tinggi. Hal ini akan memberikan dampak positif bagi harga saham dan dapat menarik minat para investor.
PER = π»ππππ ππβππ πππππππππ
πΈππππππ πππππππππ X 100% c. Price To Book Value Ratio (PBV)
Nilai buku (book value) per lembar saham menunjukkan aktiva bersih (net asset) yang dimiliki oleh pemegang saham dengan memiliki satu lembar saham. Karena aktiva bersih adalah sama dengan total ekuitas pemegang saham, maka nilai buku per lembar saham adalah total ekuitas dibagi dengan jumlah saham yang beredar (Jogiyanto, 2003: 82). Secara matematis Price to Book Value dapat dirumuskan sebagai berikut (Toto Prihadi, 2010) :
ππ΅π = π΅πππ π£πππ’π πππ π βπππ πππππ πππ π βπππ Keterangan:
Price per share = Harga per saham Book value per share = Nilai buku per saham
Price to Book Value adalah angka rasio yang menjelaskan seberapa kali seorang investor bersedia membayar sebuah saham untuk setiap nilai buku per sahamnya. Perusahaan yang
aktifitasnya berjalan dengan baik, umumnya memiliki rasio PVB mencapai di atas satu (>1), yang menunjukkan bahwa nilai pasar saham lebih besar dari nilai bukunya. Semakin besar rasio PBV semakin tinggi perusahaan dinilai oleh para pemodal (investor) relatif dibandingkan dengan dana yang telah ditanamkan di perusahaan.
d. Dividend Per Share (DPS)
Dividend Per Share bertujuan untuk mengukur jumlah dividen per lembar sahamnya. Dividend Per Share (DPS) dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
DPS = π·ππ£ππππ
π½π’πππβ ππβππ ππππ π΅ππππππ e. Dividen Payout Ratio (DPR)
Dividen Payout Ratio (DPR) bertujuan untuk mengukur perbandingan dividen terhadap laba perusahaan yang menunjukkan besarnya laba yang akan dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Dividen Payout Ratio (DPR) dapat diukur dengan menggunakan rumus seperti berikut ini:
DPR = π·ππ
πΈππ π 100% f. Book Value Per Share (BVS)
Book Value Per Share bertujuan untuk mengukur perbandingan total modal sendiri (ekuitas) terhadap jumlah
saham. Book Value Per Share dapat di ukur menggunakan rumus berikut:
BVS = πππ‘ππ πβπππ π»πππππβ²π πΈππ’ππ‘π¦ β πππππππππ ππ‘πππ πΆπππππ πβππππ ππ’π‘π π‘ππππππ
B. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang pengaruh Return On Assets, Net Profit Margin, dan Current Ratio terhadap harga saham dengan Earning Per Share sebagai variabel moderasi cukup banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu. Adapun beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh:
Endraswati dan Novianti (2015) dengan judul βPengaruh Rasio Keuangan dan Harga Saham dengan Earning Per Share sebagai Variabel Moderasi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Daftar Efek Syariahβ. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah CR, DER, NPM, PER dan EPS sebagai variabel moderasi. Secara parsial hanya variabel NPM yang berpengaruh signifikan terhadap harga saham, yang artinya EPS memoderasi pengaruh NPM terhadap harga saham. NPM merupakan rasio profitabilitas yang menggambarkan laba bersih yang diperoleh perusahaan. NPM yang tinggi menunjukkan keuntungan perusahaan yang tinggi. Semakin tinggi EPS maka minat investor untuk investasi akan meningkat, dan hal ini memperkuat pengaruh NPM pada harga saham.
Any Novianti (2015) dengan penelitian yang berjudul βPengaruh