• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Sekolah Berbasis Agama Islam

3. Keunggulan dan kelemahan Sekolah Berbasis Agama Islam. 22

Pada zaman sekarang banyak Orangtua lebih hati-hati utamanya saat memilih sekolah untuk buah hati mereka, tentunya hal ini sangatlah wajar mengingat demi kesuksesan anak mereka kelak nanti di indonesia tentunya banyak berdiri sekolah, mulai dari sekolah biasa dan ada pula sekolah yang menawarkan keunggulan mulai dari fasilitas, program unggulan, ekstrakulikuler dan masih banyak yang lainya.

Ada pun keunggulan dan kekurangan sekolah berbasi agama islam25; 1. Keunggulan Sekolah Berbasi Agama Islam

a) Siswa Memperoleh Pendidikan Umum Dan Agama,

siswa akan di berikan pendidikan umum dan juga agama presentase pendidikan ini tentunya sama-sama besar sehingga di harapkan adanya ke

24 Ririn Nur Santi “Manajemen Peningkatan Ahklak Mulia Di Sekolah Berbasis Islam”,

jurnal kependidikan, Vol, II, No, 2, (2014) 47

25 Faridah Alawiyah,“Pendidikan Madrasah di Indonesia”, Jurnal Alawiyah, Vol.5,No.1 (2014): 51

seimbangan antara pengetahuan umum dan pengetahuan agama yang di peroleh siswa.

b) Mengenal lebih Dekat Tentang Islam

Bagi umat Islam, lembaga pendidikan yang dapat memenuhi harapan ialah lembaga pendidikan Islam, artinya bukan sekedar lembaga yang di dalamnya diajarkan pelajaran agama Islam, melainkan lembaga pendidikan yang secara keseluruhan bernapaskan Islam.

c) Membentuk Karakter Anak Sesuai Tuntunan Al-qur‟an Dan Hadis

Sekolah berbasi islam dapat membentuk karakter anak sesua tuntunan al-qur‟an dan hadits, harapanya anak yang telah lulus dari bangku sekolah dapat menjadi pribadi muslim yang memiliki akhlak sesuia dengan ajaran islam.

1. Kelemhan Sekolah Berbasis Islam

Pada hakikatnya sekolah berbasis agama telah berkontribusi bagi pencerdasan kehidupan bangsa, namun masih menghadapi berbagai kendala yang sulit dihindarinya adapun hambatan terbesar yang dihadapi madrasah adalah rendahnya kualitas proses pendidikan yang ada didalamnya. Hal ini terjadi karena aspek manajemen, aspek kurikulum dan aspek kualitas tenaga pendidiknya yang dinilai masih rendah. Pada umumnya sekolah berbasis agama masih dihadapkan pada beberapa kendala yang mempengaruhi mutu baik proses maupun hasil pendidikan, baik berkenaan dengan latar belakang siswa dankeluarganya, dukungan berbagai sumber pendidikan, kualifikasi dan rendahnya partisipasi dari

masyarakat. Persoalan yang dihadapi sekolah berbasis islam terutama pada pencapaian mutu dipicu karena tidak terpenuhinya standar-standar tertentu, seperti infrastruktur, pendidik dan tenaga kependidikan, kurikulum, calon siswa, proses pembelajaran, dan manajemen kelembagaannya. Pendirian Islam sering kurang mempertimbangkan pemenuhan aspek mutu baik standar pelayanan pendidikan maupun standar nasional pendidikan.

Dari pembahsan di atas dapat disimpulkan bahwa salah satu pilihan orangtua saat ini ialah, dengan memasukan anak mereka ke lembaga pendidikan yang berbasis agama, tentu ada bebrapa alesan yang menyebabkan mereka cenderung untuk memilih sekolah berbasis agama. Adapun keunggulan dan kelemahan dalam sekolah berbasis agama islam namun Pelajaran agama yang lebih insentif daripada di sekolah umum, pelajran agamanya tidak banyak sekitar 2 jam setiap minggunya di bandingkan dengan sekolah terpadu untuk pelajaran agamanya lebih banyak misal: Alqur‟an hadits, SKI, Fiqih, aqidah akhlak, selain pelajaran agamanya lebih banyak juga di penuhi kegiatan tambahan yang positif, kegiatan membaca Alqur‟an, Sholat berjamaah, namun di balik semua itu sekolah berbasis agama hanya lebih menekankan mata pelajran khusus atau pelajaran keagamaan di banding pelajaran umum.

4. Madrasah Tsanawiyah (MTs)

Madrasah telah muncul sebagai lembaga pendidikan di dunia pendidikan sejak abad ke sebelas masehi dan telah tumbuh dan

berkembang dari masa kejayaan pendidikan islam, di antaranya yang terkenal adalah madrasah yang di bangun oleh perdana mentri Nizamul mulk yang populer dengan nama Madrasah nizamiah demikian juga madrasah yang di bangun oleh zainudin penguasa syiria dan mesir. 26,

Madrasah tsanawiyah adalah “lembaga pendidikan yang menjadikan mata pelajran agama islam sebagai mata pelajran dasar yang di berikan sekurang kurangnya 30% di samping mata pelajran umum”27

Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaslah bahwa madrasah tsaniwiyah (MTs) merupakan lembaga pendidikan formal yang mempunyai ciri ke islaman serta mempuinyai kurikulum pendidikan Agama Islam yang lebih lengkap di bandingkan dengan sekolah umum atau sekolah menengah pertama (SMP), dan di madrasah tsanawiyah yang selalu menekankan pada nilai-nilai keagamaan, sehingga siswa mendapatkan ilmu pengetahuan umum yang di sisipkan nilai-nilai- ke Agamaan, selain itu proses pembelajaran di madrasah tsanawiyah di setiap harinya di sisipkan rumpun mata pelajaran agama islam ( al Qur‟an hadits, fiqih, aqidah akhlak dan sejarah kebudayaan Islam) dan pembelajran umum, ketika pembelajaran umum penyampaian materi di tekan kan pada penyisipan niali-nilai ke islaman kepada siswa-siswi sehari hari berlangsung selama 3 tahun muali kelas VII sampai kelas IX.

26 Equalibrium “Pendidikan Sosiologi”. Jurnal pendidikan, vol IV. No.2 (2016):139

C. Peran Orangtua Dalam Memotivasi Pendidikan Anak

Motivasi dapat diartikan sebagai daya yang telah menjadi aktif, Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku.28 dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan bertingkah laku selain itu Istilah “Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat”. 29

Dari pengertian diatas peranan Motivasi orangtua sangatt penting dalam keluarga, motivasi orangtua adalah prilaku yang berkenaan dengan orangtua dalam memegang posisi tertentu dalam lembaga keluarga yang di dalamnya berfungsi untuk mengasuh, pembimbing, memotivasi dan mendidik bagi anak. Orangtua sebagi komponen pokok dalam keluarga di harapkan mampu memberi dorongan kepada puta-putrinya sehingga tergerak untuk bertindak dengan cara tertentu, pengawasan yang di lakukan orangtua dapat mengarahkan serta menjaga tingkah laku putra-putrinya ke arah tingkah laku yang baik.

Adapun Macam-macam motivasi adalah: c) Motivasi Intrinsik

Yang dimaksud motivasi intrinsik ialah motivasi yang berasal dari dalam diri seseoran , motivaasi intrinsik tidak perlu di rangsang dari luar, Motivasi intrinsik timbulnya tidak memerlukan rangsangan dari luar

28 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 1

karena memang telah ada dalam diri individu sendiri, yaitu sesuai atau sejalan dengan kebutuhannya sendiri.

d) Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik mengacu pada motivasi yang datang dari luar diri individu. Seseorang yang termotivasi oleh ekstrinsik tidak menikmati kegiatan yang dilakukannya. Dimana seseorang terlibat dalam suatu aktivitas hanya karena ingin 16 mengharapkan beberapa imbalan seperti penghargaan, hadiah, uang atau pujian. Imbalan yang didapatkan bisa memberikan kepuasan atau kesenangan walaupun kegiatan yang dilakukan tidak memberikan rasa kepuasaan atau kesenangan dari dalam dirinya sendiri30

Sedangakn peran Orangtua, Orangtua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga. Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.31

30 Sadirman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, h. 90

Orangtua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya..Pendidikan orangtua terhadap anaknya adalah pendidikan yang didasarkan pada rasa kasih sayang terhadap anak-anak, dan yang diterimanya dari kodrat. Orang tua adalah pendidik sejati, pendidik karena kodratnya. Oleh karena itu, kasih sayang orang tua terhadap anak-anak hendaklah kasih sayang yang sejati pula32

Adapun peran Orangtua sebagai motivasi untuk pendiikan anak sebagai berikut:

1. Peran Orangtua sebagai Motivator

a. Memelihara dan membesarkannya, tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan karena si anak memerlukan makan, minum, dan perawatan agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.

b. Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik ssecara jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungannya yang dapat membahayakan dirinya.

c. Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kehidupannya kelak sehingga ia telah dewasa mampu berdiri ssendiri dan membantu orang lain. d. Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan

memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah

32 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, PT Remaja Rosdakarya, 2009 Bandung, h. 80

SWT, sebagai tujuan akhir hidup muslim.9 Perlu dan pentinganya peranan orang tua dalam pendidikan anaknya untuk mencapai hasil yang diinginkan. 33

2. Peran Orangtua sebagai pendidik

Orangtua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak-anak mula-mula menerima pendidikan”.34 Oranngtua sebagai pendidik memiliki tugas mendidik dan mengajar anak-anaknya, oleh karena itu orangtua di tuntut untuk bersikap lebih sabar dalam membimbing dan mengarahkan mereka sebagaimana tugas guuru di sekolah sehingga saling melengkapi dan memecahkan masalah-masalah atau kesulitan yang di hadapi anak baik di sekolah maupun di rumah.

3. Peran Orangtua Sebagi Penegak Disiplin

Orangtua bertugas menanamkan dan menegakkan kedisiplinan, pendisiplinan terhadap anak sanagat penting, namun bukan berarti pedisiplinan yang kaku, anak perlu di biasakan dalam hidup keteraturan, hubunganya dengan usaha meningkatkan prestasi, orangtua dapat membuat jadwal pembagian tugas di rumah dan jadwal belajar mereka, pendisiplinan secara teratur lama kelamaan akan di rasakan anak, sehingga ia tidak akan terikat oleh peraturan.

33 Hasbullah,Dasar-dasar ilmu pendidikan.(jakarta:PT Raja Grafindo,2008),h,89

Dokumen terkait