• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.8. Keunggulan dan Pemanfaatan Minyak Kelapa Sawit

Minyak kelapa sawit dapat dimanfaatkan di berbagai industri karena memiliki susunan dan kandungan gizi yang cukup lengkap. Industri yang banyak menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku adalah industri pangan serta industri non pangan seperti kosmetik dan farmasi. Bahkan minyak kelapa sawit telah dikembangkan sebagai salah satu bahan bakar.

2.8.1. Keunggulan Minyak Kelapa Sawit

Berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa minyak kelapa sawit memiliki keunggulan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Beberapa keunggulan minyak kelapa sawit antara lain sebagai berikut :

1. Tingkat efisiensi minyak kelapa sawit tinggi sehingga mampu menempatkan CPO menjadi sumber minyak nabati termurah.

2. Produktivitas minyak kelapa sawit tinggi yaitu 3,2 ton/ha, sedangkan minyak kedelai, lobak, kopra, dan minyak bunga matahari masing-masing 0,34; 0,51;

0,57; dan 0,53 ton/ha.

3. Sifat intercgeable-nya cukup menonjol dibanding dengan minyak nabati lainnya, karena memiliki keluwesan dan keleluasaan dalam ragam kegunaan baik di bidang pangan maupun non pangan.

4. Sekitar 80% dari penduduk dunia, khususnya di negara berkembang masih berpeluang meningkatkan konsumsi per kapita untuk minyak dan lemak terutama minyak yang harganya murah (minyak sawit).

5. Terjadinya pergeseran dalam industri yang menggunakan bahan baku minyak bumi ke bahan yang lebih bersahabat dengan lingkungan, yaitu oleokimia yang berbahan baku CPO, terutama di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa Barat.

Minyak sawit juga memiliki keunggulan dalam hal susunan dan nilai gizi yang terkandung di dalamnya.

Tabel 4. Kandungan Gizi Beberapa Minyak Nabati per 100 gram

Zat makanan Minyak

0 0 0 0

Sumber : Pusat Penelitian Kelapa Sawit Sumatera Utara 2005

Kadar sterol dalam minyak kelapa sawit relatif lebih rendah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya yang terdiri dari sitosterol, campesterol, sigmasterol, dan kolestrol. Dalam CPO, kadar sterol berkisar antara 360-620 ppm dengan kadar kolestrol hanya sekitar 10 ppm saja atau sebesar 0,001% dalam CPO. Bahkan dari hasil penelitian dinyatakan bahwa kandungan kolestrol dalam satu butir telur setara dengan kandungan kolestrol dalam 29 liter minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit dapat dikatakan sebagai minyak goreng nonkolestrol (kadar kolestrolnya rendah).

Tabel 5. Kandungan Kolestrol pada Beberapa Minyak Nabati dan Lemak Daging

Jenis minyak Kadar Kolestrol Rata-rata (ppm) Golongan (ppm)

Minyak Sawit 12-19 16 Bebas Minyak Kedelai 20-35 28 Bebas Minyak Rape 25-30 - Bebas Minyak Jagung 10-95 57 Bebas Mentega 320-1400 3150 Tinggi Lemak Daging 800-1400 1100 Tinggi

Sumber : Pusat Penelitian Kelapa Sawit Sumatera Utara 2005

2.8.2. Pemanfaatan Minyak Kelapa Sawit

Manfaat minyak kelapa sawit di antaranya sebagai bahan baku untuk industri pangan, industri non pangan dan sebagai bahan bakar alternatif (palm biodiesel).

2.8.2.1. Minyak Kelapa Sawit untuk Industri Pangan

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak industri dan konsumen yang cenderung menyukai dan menggunakan minyak kelapa sawit. Dari aspek ekonomis, harganya relatif murah dibandingkan minyak nabati lain. Selain itu, komponen yang terkandung di dalam minyak kelapa sawit lebih banyak dan beragam sehingga pemanfaatannya juga beragam.

Dari aspek kesehatan yaitu kandungan kolestrolnya rendah. Saat ini telah banyak pabrik pengolah yang memproduksi minyak goreng dari kelapa sawit dengan kandungan kolestrol yang rendah.

Minyak kelapa sawit yang digunakan sebagai produk pangan dihasilkan dari minyak kelapa sawit maupun minyak inti sawit melalui proses fraksinasi, rafinasi, dan hidrogenesis. Produksi CPO Indonesia sebagian besar difraksinasi sehingga dihasilkan fraksi olein cair dam fraksi stearin padat. Fraksi olein tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik sebagai pelengkap minyak goreng dari minyak kelapa.

Sebagai bahan baku untuk minyak makan, minyak kelapa sawit antara lain digunakan dalam bentuk minyak goreng, margarine, butter, vanaspati, shortening dan bahan untuk membuat kue-kue. Sebagai bahan pangan, minyak kelapa sawit mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan minyak goreng lainnya, antara lain mengandung karoten yang diketahui berfungsi sebagai anti kanker dan tokoferol sebagai sumber vitamin E.

Disamping itu, kandungan asam linoleat dan linolenatnya rendah sehingga minyak goreng yang terbuat dari buah sawit memiliki kemantapan kalor (beat stability) yang tinggi dan tidak mudah teroksidasi. Oleh karena itu minyak kelapa sawit sebagai minyak goreng bersifat lebih awet dan makanan yang di goreng dengan menggunakan minyak kelapa sawit tidak cepat tengik.

2.8.2.2. Minyak Kelapa Sawit Untuk Industri Nonpangan

Minyak kelapa sawit mempunyai potensi yang cukup besar untuk digunakan di industri-industri nonpangan, industri farmasi, dan industri oleokimia (fatty acids, fatty alcohol, dan glycerine). Produksi nonpangan yang dihasilkan dari minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit diproses melalui proses hidrolisis (splitting 0 untuk menghasilkan asam lemak dan gliserin).

a. Bahan Baku Untuk Industri Farmasi

Kandungan minor dalam minyak kelapa sawit berjumlah kurang lebih 1%, antara lain terdiri dari karoten, tokoferol, sterol alcohol, triterpen, fosfolipida.

Kandungan minor tesebut menjadikan minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri farmasi.

Diantara kandungan minor yang sangat berguna tersebut antara lain karoten dan tokoferol yang dapat mencegah kebutuhan (defisiensi vitamin A) dan pemusnahan radikal bebas yang selanjutnya juga bermanfaat untuk mencegah kanker, arterosklerosis, dan memperlambat proses penuaan.

Karoten

Karoten dikenal juga sebagai pigmen warna jingga. Kandungannya dalam minyak kelapa sawit mencapai 0,005-0,18%. Dari setiap satu ton minyak

mengandung kurang lebih 240 gram karoten. Berdasarkan hasil penelitian, karoten dapat dimanfaatkan sebagai obat kanker paru-paru dan payudara. Selain sebagai obat anti kanker, karoten terdiri dari 36% alfakaroten dan 54% betakaroten dan tersimpan dalam daging buah kelapa sawit.

Betakaroten merupakan bahan pembentuk vitamin A (Provitamin A) dalam proses metabolisme dalam tubuh. Betakaroten dimanfaatkan sebagai obat antikanker.

Beberapa bentuk dari obat yang berasal dari betakaroten adalah kapsul dan sirup.

Untuk menghasilkan betakaroten dilakukan proses fraksinasi dan ekstraksi betakaroten sehingga terpisah dari minyak kelapa sawit.

Tokoferol

Unsur ini dikenal sebagai antioksidan alam dan juga sebagai sumber vitamin E. Kamdungan tokoferol dalam CPO berkisar 600-1000 ppm, dalam olein 800-1000 ppm, dan dalam stearin hanya 250-530 ppm. Minyak kelapa sawit yang bermutu baik mengandung tokoferol berkisar antara 500-800 ppm.

b. Bahan Baku Oleokimia

Oleokimia adalah bahan baku industri yang diperoleh dari minyak nabati, termasuk diantaranya adalah minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit. Produksi

utama minyak yang digolongkan dalam oleochemical adalah asam lemak, lemak alcohol, asam amino, metal ester, dan gliserin. Bahan-bahan tersebut mempunyai spesifikasi penggunaan sebagai bahan baku industri termasuk industri kosmetik dan aspal. Oleokimia juga digunakan dalam pembuatan bahan deterjen.

Gambar 4 : Penggunaan Oleokimia untuk Berbagai Industri

Asam Lemak

Asam lemak minyak sawit dihasilkan dari proses hidrolisis, baik secara kimiawi maupun enzimatik. Proses hidrolisis menggunakan enzim lipase dari jamur aspergillus niger dinilai lebih menghemat energi karena dapat berlangsung pada suhu 10-25ºC.

Selain itu, proses ini juga dapat dilakukan pada fase padat. Namun, hidrolis enzimatik mempunyai kekurangan pada kelambatan prosesnya yang berlangsung 2-3 hari. Asam lemak yang dihasilkan di hidrogenasi, lalu di destilasi, dan selanjutnya di fraksinasi sehingga dihasilkan asam-asam lemak murni. Asam-asam lemak tersebut digunakan sebagai bahan untuk detergen, bahan softener (pelunak) untuk produksi makanan, tinta, tekstil, aspal, dan perekat.

Tabel 6. Komposisi Asam lemak Minyak Kelapa Sawit Asam Lemak Jumlah Atom

Linolenat 18 18

1 15

Sumber : Pusat Penelitian Kelapa Sawit Sumatera Utara 2005

Lemak Alkohol

Lemak alkohol merupakan hasil lanjut dari pengelolaan asam lemak. Lemak alkohol merupakan bahan dasar pembuatan deterjen, yang umumnya berasal dari metal ester asam laurat. Minyak inti sawit yang kaya akan laurat merupakan bahan dasar pembuatan lemak alkohol.

Lemak Amina

Lemak amina digunakan sebagai bahan dalam industri plastik, sebagai pelumas dan pemantap. Selain itu, digunakan sebagai salah satu bahan dalam industri tekstil, surfaktan, dan lain-lain.

Metil ester

Metil ester dihasilkan melalui proses waterifikasi pada lemak yang diberi methanol dan etanol, dengan katalisator Nametoksi. Unsur ini merupakan hasil antara asam lemak pada pembuatan lemak alkohol. Metil ester dapat digunakan sebagai bahan pembuatan sabun.

Gliserin

Gliserin merupakan hasil pemisahan asam lemak. Gliserin terutama digunakan dalam industry kosmetika, antara lain sebagai bahan pelarut dan pengatur kekentalan shampoo, permen karet, cat, adhesive, plester, dan sabun.

2.8.2.3. Minyak Kelapa Sawit Sebagai Bahan Bakar Alternatif (Palm Biodiesel)

Pengembangan dan penggunaan minyak tumbuhan sebagai bahan bakar telah dilakukan oleh Amerika Serikat dan beberapa Negara eropa. Minyak tumbuhan tersebut dikonversi menjadi bentuk metal ester asam lemak yang kedelai sedangkan negara-negara eropa menggunakan minyak rape seed.

Indonesia dan Malaysia adalah negara produsen utama minyak sawit di dunia juga telah mengembangkan biodiesel dari minyak kelapa sawit (palm biodiesel), tetapi pengembangnya belum komersial. Di Indonesia, penelitian dilakukan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan dan telah berhasil mengembangkan biodiesel dari minyak kelapa sawit mentah (CPO), Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO), dan fraksi-fraksinya seperti stearin dan olein serta minyak inti sawit.

Palm biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang sama dengan minyak bumi (petroleum diesel) sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan petroleum diesel.

Palm biodiesel mengandung oksigen sehingga tidak mudah terbakar dan merupakan bahan bakar yang lebih bersih dan lebih mudah ditangani karena tidak mengandung sulfur dan senyawa benzene yang karsinogenik.

Pengembangan palm biodiesel yang berbahan baku minyak sawit terus dilakukan karena selain untuk mengantisipasi cadangan minyak bumi yang semakin terbatas, produk biodiesel termasuk produk yang bahan bakunya dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. Di samping itu, produksi gas karbon dioksida (CO2). Dari hasil pembakarannya dapat dimanfaatkan kembali oleh tanaman.

Palm biodiesel juga dapat mereduksi efek rumah kaca, polusi tanah, serta melindungi kelestarian perairan dan dan sumber air minum. Hal ini berhubungan dengan sifat biodiesel yang dapat teroksigenasi relatif sempurna atau terbakar habis nontoksik, dan dapat terurai secara alami (biodegradable).

Palm biodiesel dibuat dengan menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit (CPO) maupun produk turunannya atau minyak inti sawit (PKO). Produksi palm biodiesel dapat dilakukan melalui transesterifikasi minyak kelapa sawit dengan methanol. Proses ini dianggap lebih efisien dan ekonomis bila dibandingkan dengan cara esterifikasi hidrolisis dengan methanol.

Penyusunan standar untuk produk-produk biodiesel telah dilakukan oleh Negara-negara produsen dan pengguna. Standar yang paling banyak digunakan sebagai acuan adalah standar Jerman DIN V 51606. Spesifikasi dari standar tersebut adalah kandungan gliserida, yang mencakup kandungan monogliserida maksimum 0,8%, digliserida 0,1%, dan trigliserida 0,1%.

Gambar 5 : Proses pembuatan Palm Biodiesel

Dokumen terkait