BAB II TINJAUAN LITERATUR
2.2 E-Marketing
2.2.6 Keunggulan E-Marketing
1. Cara Interaksi Perusahaan dengan Pelanggan
Teknologi internet telah menyebabkan perubahan cara pelanggan berinterakasi dengan perusahaan. Saat ini interaksi antara pelanggan dengan perusahaan yang pada awalnya dilakukan secara langsung atau melalui tatap muka mulai digantikan dengan interaksi melalui layar komputer. Ketika terjadi pergeseran dalam interaksi dengan mediasi manusia ke arah mediasi teknologi, maka sangat penting untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan dalam hal mendesain interface yang dapat mempengaruhi pengalaman pelanggan
2. Perubahan Marketplace menjadi Marketspace
Internet telah mengubah tempat pertukaran dari marketplace (seperti, interaksi face-to-face) menjadi marketspace (seperti, interaksi screen-to-face).
Dengan perpindahan dari hubungan antarmuka people-mediated menjadi technology-mediated, terdapat sejumlah pertimbangan perancangan interface yang dihadapi.
Menurut Rayport dan J.Jaworski. (2003, p48), ada berbagai elemen dalam mendesain sebuah situs web, yaitu
1). Context (konteks dari situs mencerminkan nilai keindahan dan kegunaan dari situs tersebut),
21
2). Content (konten merupakan semua objek digital yang terdapat dalam sebuah web baik dalam bentuk audio, video, image ataupun text),
3). Community (komunitas merupakan ikatan hubungan yang terjadi antara sesama pengunjung atau pelanggan dari sebuah website karena adanya kesamaan minat atau hobi),
4). Customization (kustomisasi merupakan kemampuan situs untuk memodifikasi dirinya sesuai dengan keinginan penggunanya),
5). Communication (komunikasi antara perusahaan dengan pelanggan, terdiri dari Broadcast Dimension, Interactive Dimension, dan Hybrid Dimension), connection (kemampuan sebuah website untuk berpindah dari sebuah webpage ke webpage lainnya ataupun website lainnya dengan onclick baik pada text, images maupun toolbars yang lain), dan
6). Commerce (commerce merupakan fitur dari customer interface yang mendukung berbagai aspek dari transaksi perdagangan dan memiliki dimensi seperti registration, shopping cart, security, credit card approval, one click shopping, order through affiliates, configuration technology, order tracking, delivery option.
Menurut Pogorelova, Yakhneeva & Anna (2016), ada 4 aspek yang membedakan antara E-Marketing dengan Marketing Mix yakni dalam hal : 1. Kemudahan Pemasaran Produk dengan E-Marketing
Dengan adanya perubahan internet, perusahaan dapat melakukan promosi berbagai jenis iklan di website maupun media social lainnya yang sangat sering dikunjungi oleh masyarakat, hal tersebut disebut dengan E-Marketing (Kominfo, 2017).
22
E-Marketing memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk menyampaikan informasi kepada konsumen, demikian juga sebaliknya informasi dapat dengan mudah diterima dari perusahaan yang menyampaikan sehingga hal tersebut dikenal dengan strategi E-Marketing (Strauss & Ansary, 2012).
2. Jangkauan Segmen Pemasaran Lebih Luas
Menurut Strauss dan Frost (2012: 199) E-Marketing segments dapat dibagi menjadi :
a) Geographic Segments, walaupun lokasi geografis dari komputer di cyberspace tidak penting bagi pengguna internet, itu sangan penting bagi perusahaan yang menggunakan internet. Alasannya karena banyak perusahaan yang menargetkan kota, wilayah, atau negara yang spesifik dengan produk yang ditawarkan.
b) Demographic Segments, pada awal internet penggunanya adalah remaja, mahasiswa, dan orang yang menyadari pemasukan yang tinggi.
c) Psychographic Segments, mencakup kepribadian, nilai-nilai, gaya hidup, aktivitas, opini, dan minat. Kepribadian dibedakan menjadi self oriented dan other oriented, nilai-nilai dibedakan menjadi kepercayaan agama masing-masing, gaya hidup dan aktivitas dikelompokkan menjadi perilaku yang tidak berkaitan dengan produk seperti olahraga, opini dan minat sikap dan kepercayaan yang mereka punya.
d) Behavior Segments, ada 2 jenis dari behaviour segement : mencari keuntungan dan kegunaan produk. Pemasar sering menggunakan benefit segmentation untuk membuat kelompok pelanggan berdasarkan
23
keuntungan yang mereka inginkan dari produk. Kegunaan produk adalah dapat digunakan dalam banyak cara.
e) Benefit Segements, jika pemasar dapat membuat segment berdasarkan dari keuntungan yang dicari oleh pelanggan maka mereka dapat membuat produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan.
f) Usage Segments (Segmen pemakaian) dapat dikelompokkan sesuai dengan bagaimana mereka menggunakan medium (Home and Work; ISP;
Wireless; Timeonline).
3. Tantangan dan Peluang E-Marketing Lebih Luas
Menurut Strauss dan Frost (2012: 12) tantangan dan peluang E-marketing challenge antara lain adalah :
a) Markets
Market dalam E-Marketing dibagi menjadi 5: business to customer (B2C), Business to government (B2G), business to business (B2B), consumer to consumer (C2C), government to customer (G2C).
b) Business
Perusahaan menghadapi kompetisi dengan adanya globalisasi yang disebabkan oleh internet antara lain seperti berikut : bagaimana perusahaan dapat melayani pelanggan baik offline maupun online, bagaimana perusahaan menghadapi banyaknya data, adanya kesempatan dari produk baru dan cara menambah pemasukan dengan adanya digital economy.
24
c) Technology, banyak perusahaan telah memotong pengeluaran dengan mengurangi karyawan dan penggunaan kertas dengan proses dan pembayaran secara elektronik.
d) E-Marketing Delivers
Hal ini berarti bahwa perusahaan harus mengetahui faktor-faktor penting bagi pelanggan dan bagaimana cara menyampaikannya secara lebih baik dari pada kompetitor.
2.3 Keputusan Pembelian Kredit
2.3.1 Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2014;87) “keputusan pembelian merupakan suatu tahap dimana konsumen memiliki pilihan dan siap melakukan pembelian atau pertukaran antara uang dan janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa”.
Menurut Kotler (2014:87) “keputusan pembelian ulang adalah suatu tahap dimana konsumen telah memiliki pilihan dan siap untuk melakukan pembelian atau pertukaran antara uang dan janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa”. Dengan kata lain keputusan pembelian ulang adalah suatu proses penyelesaian masalah yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan dan keinginan hingga perilaku setelah pembelian.
Keputusan pembelian ulang adalah pengambilan keputusan oleh konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk diawali oleh adanya kesadaran atas pemenuhan kebutuhan dan keinginan. Menurut Setiadi (2013:415) “keputusan
25
pembelian ulang konsumen merupakan proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih salah satu diantaranya”.
2.3.2 Proses Pengambilan Keputusan
Menurut Kotler dan Keller (2014:184) proses pengambilan keputusan adalah proses psikologis dasar memainkan peranan penting dalam memahami bagaimana konsumen benar-benar membuat keputusan pembelian ulang mereka.
Riset pemasaran telah mengembangkan “model tingkat” proses pembelian konsumen melalui lima tahap sebagai berikut: pengenalan masalah kebutuhan, pencarian, informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian ulang dan perilaku pasca pembelian.
Gambar 2.1
Proses Pengambilan Keputusan pembelian melalui pembiayaan
Secara rinci tahap-tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pengenalan masalah kebutuhan
Proses dimulai saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan.
2. Pencarian informasi
Pencarian informasi dapat dibedakan atas dua tingkatan yaitu keadaan tingkat pencarian informasi yang biasa-biasa saja yang disebut dengan perhatian yang meningkat. Proses pencarian informasi aktif dimana seseorang akan mencari bahan-bahan bacaan, menelepon teman-temannya dan melakukan kegiatan
26 untuk mempelajari yang lain.
3. Evaluasi alternatif
Bagaimana konsumen memproses informasi tentang pilihan merek untuk membuat keputusan akhir. Ada beberapa proses evaluasi keputusan.
Kebanyakan model dari proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif.
4. Keputusan pembelian ulang
Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap merek-merek yang terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk tujuan membeli untuk merek yang paling disukai.
5. Perilaku sesudah pembelian
Sesudah pembelian terhadap suatu produk yang dilakukan konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan.
2.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2014:89) bahwa perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh faktor- faktor berkut:
1. Faktor budaya
Faktor-faktor budaya mempunyai pengaruh yang paling luas dan paling nyata.
2. Faktor sosial
Perilaku keputusan pembelian ulang konsumen dipengaruhi oleh faktor faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial masyarakat.
3. Faktor pribadi
27
Keputusan pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Karakteristik tersebut meliputi:
a. Usia dan tahap siklus hidup b. Pekerjaan
c. Keadaan ekonomi d. Citra merek
e. Kepribadian dan konsep-diri pembeli.
4. Faktor psikologis
Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologi utama.
Faktor-faktor tersebut terdiri dari motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan dan sikap.
2.3.4 Dimensi atau Indikator Keputusan Pembelian
Dalam penelitian ini menggunakan 3 indikator untuk menentukan keputusan pembelian melalui pembiayaan sebagaimana dikemukakan oleh Kotler (2014);
1). Kemantapan pada sebuah produk
Pada saat melakukan pembelian, konsumen memilih salah stu dari beberapa alternatif. Pilihan yang ada didasarkan pada mutu, kualitas dan faktor lain yang memberikan kemantapan bagi konsumen untuk membeli produk yang dibutuhkan.
28 2). Kebiasaan dalam membeli produk
Kebiasaan adalah pengulangan sesuatu secara terus-menerus dalam melakukan pembelian produk yang sama. Ketika konsumen telah melakukan keputusan pembelian melalui pembiayaan dan mereka merasa produk sudah melekat dibenaknya bahkan manfaat produk sudah dirasakan. Konsumen akan merasa tidak nyaman jika membeli produk lain.
3). Kecepatan dalam membeli sebuah produk
Konsumen sering mengambil sebuah keputusan dengan menggunakan aturan (heuristik) pilihan yang sederhana. Heuristik adalah sebuah proses proses yang dilakukan seseorang dalam mengambil sebuah keputusan secara cepat, menggunakan sebuah pedoman umum dalam sebagian informasi saja.
2.4 Pembiayaan
2.4.1 Pengertian Kredit
Menurut Kasmir (2011:72) kredit berasal dari bahasa Yunani Credere yang berarti kepercayaan atau dalam bahasa Latin Creditum yang berarti kepercayaan akan kebenaran. Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji, pembayaran akan dilaksanakan pada jangka waktu yang telah disepakati. Menurut Bank Indonesia berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tanggal 12 November 1998 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum pada Pasal 1 : kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain
29
yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
2.4.2 Unsur Unsur Pemberian Kredit
Adapun unsur-unsur di dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah sebagai berikut (Kasmir, 2014:86)
1. Kepercayaan
Yaitu suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan akan benar- benar diterima kembali dimasa tertentu dimasa datang. Kepercayaan ini diberikan oleh bank, dimana sebelumnya sudah dilakukan penelitian penyelidikan tentang nasabah baik secara internal maupun secara eksternal.
2. Kesepakatan
Yaitu adanya kesepakatan antara pemberi kredit dan penerima kredit.
Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya.
3. Jangka Waktu
Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.
4. Risiko
Adanya suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu risiko tidak tertagihnya / macet pemberian kredit. Semakin panjang suatu kredit
30
semakin besar risikonya demikian pula sebaliknya. Risiko ini menjadi tanggungan bank, baik risiko yang disengaja oleh nasabah yang lalai, maupun oleh risiko yang tidak disengaja.
5. Balas Jasa
Yakni keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang kita kenal dengan bunga.
2.4.3 Fungsi Pemberian Kredit (Pembiayaan)
Menurut Kasmir (2014:89), pemberian suatu fasilitas kredit mempunyai fungsi tertentu antara lain :
1. Meningkatkan peredaran barang
Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah lainnya sehingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah barang yang beredar.
2. Untuk meningkatkan daya guna uang
Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang, maksudnya jika uang hanya disimpan saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit, uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh penerima kredit.
3. Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang
Dalam uang yang diberikan akan beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya sehingga suatu daerah yang kekurangan dana dengan memperoleh
31
kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan dana dari daerah lainnya.
4. Untuk meningkatkan daya guna barang
Kredit yang diberikan oleh bank akan digunakan oleh (debitur) untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.
2.5. Teori SWOT
2.5.1. Pengertian Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah sebuah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity) dan ancaman (Threat) yang terjadi dalam proyek atau di sebuah usaha bisnis, atau mengevaluasi lini-lini produk sendiri maupun pesaing.
Untuk melakukan analisis, ditentukan tujuan usaha atau mengidentifikasi objek yang akan dianalisis. Kekuatan dan kelemahan dikelompokkan ke dalam faktor internal, sedangkan peluang dan ancaman diidentifikasi sebagai faktor eksternal (Rangkuti, 2014)
Analisis SWOT merupakan instrument yang ampuh dalam melakukan analisis strategi, keampuhan tersebut terletak pada kemampuan para penentu strategi perusahaan untuk memaksimalkan peranan faktor kekuatan dan pemanfaatan peluang sehingga berperan sebagai alat untuk meminimalisasi kelemahan yang terdapat dalam tubuh perusahaan dan menekan dampak ancaman yang timbul dan harus dihadapi (Robinson, 2016)
Analisa SWOT secara logis dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan berkaitan dengan visi dan misi
32
perusahaan serta tujuan perusahaan. Sehingga analisis SWOT dapat digunakan sebagai alat efektif untuk menganalisis faktor- faktor yang mempengaruhi perusahaan, sebagai proses pengambilan keputusan untuk menentukan strategi perencanaan.
2.5.2. Faktor- Faktor Analisis SWOT 1. Kekuatan (Strenghts)
Kekuatan merupakan sumber daya/kapabilitas yang dikendalikan oleh perusahaan atau tersedia bagi suatu perusahaan yang membuat perusahaan relatif lebih unggul dibanding dengan pesaingnya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan yang dilayaninya. Kekuatan muncul dari sumber daya dan kompetensi yang tersedia bagi perusahaan. Kekuatan dapat terkandung dalam sumber daya keuangan, citra, kepemimpinan pasar, hubungan pembeli dan pemasok dan faktor- faktor lain.
Faktor- faktor kekuatan yang dimiliki perusahaan atau organisasi adalah kompetensi khusus yang terdapat dalam organisasi yang berakibat pada pemilikan keunggulan komparatif oleh unit usaha di pasaran. Dikatakan demikian karena satuan bisnis memiliki sumber keterampilan, produk andalan dan sebagainya yang membuatnya lebih kuat dari pada pesaing dalam memuaskan kebutuhan pasar yang sudah direncanakan akan dilayani oleh satuan usaha yang bersangkutan (Siagian, 2016)
2. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan merupakan keterbatasan/ kekurangan dalam satu atau lebih sumber daya/kapabilitas suatu perusahaan relatif terhadap pesaingnya, yang
33
menjadi hambatan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan secara efektif. Dalam praktek keterbatasan dan kelemahan -kelemahan tersebut bisa terlihat pada sarana dan prasarana yang dimiliki atau tidak dimiliki, kemampuan manajerial yang rendah, keterampilan pemasaran yang tidak sesuai dengan tuntutan pasar, produk yang tidak atau kurang diminati oleh konsumen atau calon pengguna dan tingkat perolehan keuntungan yang kurang memadai.
Kekuatan dan kelemahan internal merupakan aktivitas terkontrol suatu organisasi yang mampu dijalankan dengan sangat baik atau buruk. Hal ini muncul dalam manajemen, pemasaran, keuangan atau akuntansi, produksi, penelitian dan pengembangan dan sebagainya (Fred, 2016).
3. Peluang (Opportunities)
Peluang merupakan situasi utama yang menguntungkan dalam lingkungan suatu perusahaan. Kecenderungan utama merupakan salah satu sumber peluang.
Identifikasi atas segmen pasar yang sebelumnya terlewatkan, perubahan dalam kondisi persaingan/ regulasi, perubahan teknologi, dan membaiknya hubungan dengan pembeli/ pemasok dapat menjadi peluang bagi perusahaan.
4. Ancaman (Threats)
Ancaman merupakan situasi utama yang tidak menguntungkan dalam lingkungan suatu perusahaan. Ancaman merupakan penghalang utama bagi perusahaan dalam mencapai posisi saat ini atau yang diinginkan. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lamban, meningkatnya kekuatan tawar menawar dari pembeli/pemasok utama, perubahan teknologi, dan direvisinya atau
34
pembaharuan peraturan, dapat menjadi penghalang bagi keberhasilan perusahaan (Sedarmayanti, 2016)
2.6 Telaah Penelitian Terdahulu
Penelitian ini merupakan perulangan dari beberapa penelitian terdahulu meskipun barangkali memiliki persamaan dan perbedaan baik dalam variabel penelitian diteliti, metode dan analisis data serta tempat dan waktu penelitian.
Irawan (2016) Analisis E-Marketing terhadap keputusan pembelian konsumen secara online dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kemudahan, konten, respon, keamanan, dan kepercayaan baik secara parsial maupun simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen secara online
Meyliana (2014) Analisa Strategi E-Marketing dan Implementasinya dimana hasil penelitian membuktikan bahwa E-Marketing berperan meningkatkan volume penjualan.
Laluyan (2019) Implementasi E-Marketing Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen JD.id Jakarta Glen Irwinto Laluyan dimana hasil penelitian membuktikan bahwa E-Marketing memberi dorongan terhadap keputusan pembelian produk.
Gumilang (2019) Implementasi Digital Marketing Terhadap Peningkatan Penjualan Hasil Home Industri dimana hasil penelitian membuktikan bahwa Implementasi Digital Marketing Terhadap Peningkatan Penjualan Hasil Home Industri.
35
Sani (2020) Pengaruh E-Marketing Mix Terhadap Minat Beli Konsumen (Studi Kasus Pada E-Commerce Di Indonesia) dimana hasil penelitian membuktikan bahwa E-Marketing berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen.
2.7 Resume Telaah Teori dan Penelitian Terdahulu
Pada dasarnya, E-Marketing merupakan konsep terbaru dalam kegiatan bisnis modern yang melibatkan penggunaan teknologi informasi. Dengan begitu, bisnis ini mempercepat efektifitas dan efisiensi pemasaran yang sebelumnya tidak ada dalam pemasaran tradisional. Informasi produk dapat secara cepat dan efisien diperoleh pelanggan sehingga dapat memberikan kepuasan dengan menciptakan dan mempertahankan hubungan yang baik dengan pelanggan (Budi dkk dalam Susanti, 2018).
Dalam proses pengambilan keputusan pembelian, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen. Dalam model perilaku konsumen, dapat diidentifikasi bahwa ada dua jenis rangsangan yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian, yaitu rangsangan pemasaran dan non pemasaran. Rangsangan pemasaran maupun non pemasaran yang muncul akan mempengaruhi calon konsumen dan menghasilkan tanggapan atau respon dari konsumen.
2.7.1 Hubungan Kemudahan Dengan Keputusan Pembelian Online
Hartono dalam Wahyuni, dkk (2017) mengemukakan bahwa kemudahan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan teknologi akan bebas dari usaha. Tjini dalam Nawangsari & Karmayanti (2018)
36
mengatakan bahwa kemudahan penggunaan merupakan kepercayaan seseorang bahwa dalam penggunaan teknologi dapat dengan mudah digunakan dan dipahami. Kotler & Amstrong dalam Apriliya (2013) mengemukakan bahwa keuntungan dari sisi konsumen online salah satunya adalah faktor kenyamanan dan kemudahan.
2.7.2 Hubungan Konten Dengan Keputusan Pembelian Online
Slade & Vein dalam Gibson (2018) mengatakan bahwa konten merupakan salah satu bentuk penerapan pemasaran digital yang mampu menghasilkan kepercayaan konsumen. Content Marketing Institute dalam Khan & Islam (2017) menjelaskan bahwa bentuk lain dari pemasaran digital yang dikenal sebagai pemasaran konten (content marketing) merupakan sebuah metode pemasaran strategis.
Wahyuni, dkk (2017) mengatakan bahwa konten yang berkualitas dapat dipandang dari sisi jumlah, akurasi, dan bentuk informasi tentang produk yang ditawarkan. Oleh karena itu, konten yang dapat berupa teks, gambar, audio, maupun audio visual, hendaknya memenuhi setidaknya ketiga hal tersebut agar tidak terjadi kesalahan dalam penyampaian informasi, sehingga pengguna dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengambil keputusannya.
2.7.3 Hubungan Respon dengan Keputusan Pembelian Online
Peattie dalam Sinha, et al (2017) ketika menganalisis bauran pemasaran E-Commerce mengatakan bahwa kemampuan komunikasi dan interaksi yang baru akan mengubah keseluruhan pemasaran dalan banyak industri, namun untuk konsep pemasaran dasar akan tetap tidak tersentuh. Tsiotsou & Vlachopoulou, dan
37
Londhe dalam Shirazi (2017), Ahmadinejad & Asli (2017), serta Bazazo, et al (2017) mengatakan bahwa pemasaran elektronik pada dasarnya untuk mendorong komunikasi dan mediasi antara perusahaan dengan pelanggan. Satu hal penting dalam bisnis elektronik adalah jaringan komunikasi yang kuat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi merupakan faktor yang penting seperti seorang manajer profesional dengan pengetahuan teknis yang tinggi, manajemen hubungan pelanggan dan respon yang tepat, untuk membagi pengetahuan dan mengembangkan keamanan dalam penelitian dan pengembangan faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi penerimaan pemasaran elektronik.
2.7.4 Hubungan Keamanan dengan Keputusan Pembelian Online
Pelanggan sangat memperhatikan aspek keamanan dan pengalaman dalam bebelanja secara online dimana ketakutan yang dihadapi oleh para pelanggan adanya pertukaran datadata rahasia. Faktor keamanan merupakan kemampuan media online dalam melakukan pengendalian dan penjagaan keamanan atas data dan transaksi data (Sudjatmika, 2017).
2.7.5 Hubungan Kepercayaan dengan Keputusan Pembelian Online
Dalam E-Marketing terutama yang berkaitan dengan bisnis online ataupun media online dalam melakukan aktifitas bisnis, konsumen jarang sekali bertemu bahkan bertatap muka dengan penjual, terutama dalam hal bertransaksi sehingga unsur kepercayaan sangatlah penting. Nawangsari & Karmayanti (2018) mengatakan bahwa kepercayaan akan muncul ketika pengguna yang telah terlibat mendapatkan kepastian daripihak lainnya, serta mau dan bisa memberikan kewajibannya. Faktor kepercayaan akan sangat mempengaruhi nilai yang akan
38
diberikan oleh konsumen. Semakin tinggi tingkat kepercayaan dalam E-Marketing, maka semakin tinggi pula niat pembelian konsumen. Sebaliknya jika tingkat kepercayaan rendah, maka rendah pula niat pembelian konsumen.
2.8 Kerangka Konseptual
Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan konsumen sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk.
Faktor produk sendiri merupakan hal yang diperhatikan konsumen dalam mengambil keputusan. Produk yang dijual harus mempunyai kualitas yang baik, unik dan penampilan yang menarik sehingga dapat membuat konsumen tertarik untuk membeli. Kualitas produk yang baiakan mendorong perusahaan untuk mempertahankan usahanya dan mampu bersaing dengan pesaing lainnya
Harga adalah atribut produk atau jasa yang paling sering digunakan oleh sebagian besar konsumen untuk mengevaluasi produk. Untuk sebagian besar konsumen indonesia yang masih berpendapatan rendah maka harga adalah faktor utama yang mempertimbangkan dalam memilih produk maupun jasa.
Penentuan harga produk yang dilakukan perusahaan sangatlah berpengaruh pada keputusan konsumen. Menurut Swasta (2014) harga merupakan faktor terkendali kedua yang dapat ditangani oleh manajemen penjualan atau pema- saran. Salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh para pengusaha dalam memberikan harga kepada konsumen adalah dengan memberikan harga lebih
Penentuan harga produk yang dilakukan perusahaan sangatlah berpengaruh pada keputusan konsumen. Menurut Swasta (2014) harga merupakan faktor terkendali kedua yang dapat ditangani oleh manajemen penjualan atau pema- saran. Salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh para pengusaha dalam memberikan harga kepada konsumen adalah dengan memberikan harga lebih