PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGGUNA UANG ELEKTRONIK TERHADAP KERUGIAN
C. Keuntungan dan Kerugian Pengguna Uang Elektronik
Keuntungan-keuntungan menurut Susanti, et. al. (2015) dalam memakai uang elektronik adalah :
1. Membagikan kemudahan dalam melakukan transaksi pembayaran secara kilat dan nyaman untuk warga Indonesia.
2. Permasalahan cash handling bisa dipecahkan yang dirasakan masyarakan dikala memakai uang tunai sebagai pembayaran.
3. Uang elektronik mempermudah dan mempercepat transaksi pembayaran khususnya disaat antre gerbang tol ataupun saat naik Transjakarta
4. Uang elektronik juga dapat berguna untuk membantu pengguna yang konsumtif, karena jika dana nya sudah habisa bisa diisi lagi sesuai
budget atau kebutuhan sehingga pengeluarannya bisa lebih terkontrol.
5. Uang elektronik juga lebih efisien saat diberikan kepada asisten rumah tangga atau sopir untuk membeli keperluan dan lainnya karena dapat mempermudah dalam hal pengontrolannya.4
Sedangkan kelemahan dari penggunaan uang elektronik dalam melakukan transaksi adalah :
1. Masih banyak penjual atau toko yang belum menerapkan sistem uang elektronik ini sehingga pengguna uang elektronik tidak dapat menggunakannya dengan maksimal.
2. Kemudian kekurangan dari uang elektronik ini juga jika kartunya hilang makan nilai saldo nya juga hilang.
3. Selain itu, karena tidak adanya PIN dan nama pemilik yang tertera dalam kartu ini memudahkan kartu untuk tertukar dengan orang lai dan hilang dengan prosedur pengembalian yang sulit. 5
4 Sulistyo Seti Utami, Berlianingsih Kusumawati, Faktor-faktor yang mempengaruhi minat
penggunaan e-money, Jurnal Hukum Vol. 14 No. 02 2017, h. 55.
5 Setyo ferry, Dede Rosmauli, Pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan, fitur
layanan, dan kepercayaan terhadap minat pengguna emoney card, Jurnal Hukum Vol. 6 No. 01
Undang-Undang Perlindungan Konsumen mewajiban pelaku usaha untuk selalu menjamin kualitas produk yang dijual sesuai fungsi dan tujuan kegunaannya agar tidak merugikan konsumen dalam pemanfaatan barang atau jasa yang dibeli atau digunakannya.
Dalam menjaga hubungan antara produsen dan konsumen, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah perlindungan hukumnya bagi konsumen khususnya nasabah perbankan, maka perlu adanya prinsip- prinsip perlindungan hukum bagi konsumen agar dapat menjadi acuan dalam memberikan perlindungan hukum bagi konsumen. Selain itu, dapat memudahkan pelaku usaha dan konsumen dalam mengetahui hak dan kewajibannya, dan juga dengan mengetahui peraturan perundang- undangan yang merupakan refleksi dari salah satu prinsip perlindungan hukum bagi konsumen dan diharapkan bisa membantu produsen dan konsumen dalam menjalankan hak dan kewajibannya.6
Jika pelaku usaha benar-benar ingin melindungi konsumen, maka hak-hak konsumen harus terpenuhi terlebih dahulu, karena hal ini dapat melindungi kerugian konsumen dari berbagai aspek. Pasal 2 Undang- Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.7 Kelima prinsip ini bermaksud :
1. Prinsip manfaat yang mengatakan bahwa dalam menjalankan penyelenggaraan perlindungan hukum bagi konsumen wajib memiliki manfaat sebesar-besarnya untuk pelaku usaha dan konsumen.
2. Prinsip keadilan, merupakan upaya agar partisipasi seluruh rakyat bisa diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh hak nya serta melakukan kewajibannya secara adil.
6 Mariam Darus Badrulzaman, Perlindungan Terhadap Konsumen Dilihat Dari Sudut
Perjanjian Baku (Bandung: Bina Cipta,1968) h.20. 7 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 pasal 2.
38
3. Prinsip keseimbangan, merupakan upaya untuk memberikan keseimbangan antara konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah.
4. Prinsip keamanan dan keselamatan konsumen, untuk memberi jaminan atas keamanan dan keselamatan konsumen menggunakan, mengonsumsi, serta memanfaatkan benda atau jasa yang digunakan. 5. Prinsip kepastian hukum, bermaksud agar pelaku usaha serta konsumen
mentaati hukum dan memperoleh keadilan dalam menyelenggarakan perlindungan hukum untuk konsumen.
Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen mengatur mengenai hak dan kewajiban konsumen8, yaitu : 1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa
2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan
3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif
8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya, dan
9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
dengan sebutan protection dalam bahasa Inggris. Makna kata perlindungan ini memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
1. Unsur tindakan yang melindungi; 2. Unsur pihak-pihak yang melindungi 3. Unsur cara-cara melindungi9
Perlindungan hukum ialah perlindungan yang pertama, sebab bersumber pada suatu pemikiran bahwa hukum sebagai fasilitas yang dapat mengakomodasi kepentingan serta hak seseorang secara komprehensif. Selain itu, hukum juga mempunyai kekuatan yang mengikat dan memaksa serta diakui secara formal dalam suatu negara sehingga bisa dilaksanakan secara permanen.
Berbeda dengan konsumen jasa perbankan. Konsumen jasa perbankan yang dikenal dengan sebutan nasabah dalam konteks Undang- undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dibedakan menjadi dua macam, yaitu nasabah penyimpan dan nasabah debitur. Nasabah penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan, sedangkan nasabah debitur adalah nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan prinsip syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.
Dalam praktik perbankan nasabah dibedakan menjadi tiga, yaitu nasabah deposan merupakan nasabah yang menyimpan dananya pada suatu bank, misalnya dalam bentuk giro, tabungan dan deposito, kemudian nasabah yang memanfaatkan fasilitas kredit atau pembiayaan perbankan, misalnya kredit kepemilikan rumah, pembiayaan murabahah, dan
9 Rani Apriani, 2017, Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen Pengguna Jasa Perbankan Di Indonesia, Jurnal Hukum Vol. 2 No. 2, September 2017, h.351.
40
sebagainya, dan yang terakhir nasabah yang melakukan transaksi dengan pihak lain melalui bank (walk in customer), misalnya transaksi antara importir sebagai pembeli dengan eksportir di luar negeri dengan menggunakan fasilitas letter of credit (L/C).
Pengaturan melalui Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang sangat terkait dengan perlindungan hukum bagi nasabah selaku konsumen perbankan adalah ketentuan mengenai tata cara pencantuman klausula baku. Klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Dalam tataran teknis payung hukum yang melindungi nasabah antara lain adanya pengaturan mengenai penyelesaian pengaduan nasabah dan mediasi perbankan dalam Peraturan Bank Indonesia, misalnya Peraturan Bank Indonesia No. 717/PBI/2005 tentang Penyelesaian Pengaduan Nasabah yang substansinya mengatur mengenai kewajiban seluruh bank untuk menyelesaikan setiap pengaduan nasabah yang terkait dengan adanya potensi kerugian finansial pada sisi nasabah. Dalam PBI ini diatur mengenai rata cara penerimaan, penanganan. dan juga pemantauan penyelesaian pengaduan.10
E. Tanggung Jawab Kerugian E-Money Dalam Peraturan Bank