• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN UMUM TENTANG TENAGA KERJA ASING

A. Sejarah Tenaga Kerja Asing

4. Hak dan Kewajiban Tenaga Kerja Asing

Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, dan aliran politik sesuai dengan minat dan kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan, termasuk mendapatkan perlakuan yang sama terhadap para penyandang cacat. Pasal 5 Undang –Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyatakan bahwa setiap tenaga kerja adalah memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan.66 Kebijakan terkait hak asasi tenaga kerja secara mendasar juga diatur dalam UUD 1945 Pasal 28 D yang menyatakan “ bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta

66 Haardijan Rusli, Hukum Ketenagakerjaan 2003, (Jakarta: Ghalia Indonesia. 2004) hlm, 16.

mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja”. Ketentuan tersebut memberi jaminan kepada seluruh tenaga kerja di Indonesia atas hak-haknya untuk mendapatkan kehidupan yang layak dari pekerjaannya. Sebagai bentuk penjelasan dari Pasal 28 D yang menyatakan

“ bahwa setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha”. Berkaitan dengan kesejahteraan tenaga kerja, dalam ketentuan Pasal 99 Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dinyatakan “bahwa setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja”.

Adapun yang berkaitan dengan pengupahan dinyatakan dalam Pasal 88 ayat (1) “ bahwa setiap pekerja / buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Ketiga ketentuan tersebut bersifat umum, dalam pengertian berlaku untuk setiap tenaga kerja, baik tenaga kerja maupun tenaga kerja asing. Ketiga ketentuan tersebut memberikan satu penegasan tentang prinsip persamaan (equality) sebagai dasar kebijakan ketenagakerjaan. 67

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Pasal 1 ayat (2) dinyatakan bahwa “ Jaminan Sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak”

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan

67 Rifqi Ridlo Phahlevy.et.al.Perlindungan Hak Tenaga Kerja Asing Pasca Lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2012 Di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Ilmu Hukum Rechtsidee FH. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Vol 2 No. 1 Januari-Juni 2015, hlm 31

Sosial (BPJS) Pasal 1 ayat (4) juga menyatakan bahwa “peserta adalah setiap orang termasuk orang aisng yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran.” Dan selanjutnya pasal 14 pada Undang-Undang ini juga menyatakan bahwa “setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia wajib menjadi peserta program Jaminan Sosial.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggaran Jaminan sosial yang terdapat pada pasal 5 ayat (2), BPJS dibagi menjadi dua bagian yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Ruang lingkup daripada BPJS Ketenagakerjaan menurut Pasal 5 ayat (2) adalah menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian.

Peraturan-Peraturan Tersebut telah memberikan penegasan tentang prinsip persamaan atau equality terhaddap tenaga kerja di Indonesia baik tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia mengenai hak-hak normatif sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.68

Hak tenaga kerja sebagai hak yang melekat terhadap diri pekerja selama dia menjalani perjanjian kerja, secara konsepsional dibagi menjadi tiga komponen yakni, hak yang bersifat ekonomis, hak yang bersifat politis dan hak yang bersifat

68 Suhandi. Pengaturan Ketenagakerjaan Terhadap Tenaga Kerja Asing Dalam

PelaksanaanMasyarakat Ekonomi Asean Di Indonesia,Jurnal Fakultas Hukum Universitas Wijaya KusumaSurabaya, Perspektif Volume XXI No. 2 Tahun 2016 Edisi Mei,hlm 144-145

kesehatan. Adapun hak – hak pekerja di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan secara garis besar meliputi :

1. Hak Atas Upah

Pengertian upah berdasarkan Pasal 1 ayat (30) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/ atau jasa yang telah atau akan dilakukan.

Menurut definisinya, gaji merupakan pembayaran yang diterima karyawan atas penyerahan jasa yang dilakukannya kepada pihak lain baik instansi maupun perorangan. Adapun beberapa hal yang membedakan gaji dan upah adalah sebagai berikut :69

a. Tingkat jabatan/golongan karyawan

Dalam struktur organisasi perusahaan setidaknya terdapat dua golongan karyawan, yakni karyawan dalam jajaran manajerial dan pelaksana atau buruh. Nah, pembayaran jasa untuk para karyawan golongan manajerial ini disebut dengan gaji, sedangkan untuk para buruh

69 https://www.simulasikredit.com/perbedaan-gaji-dengan-upah/ diakses pada hari Kamis 27 Juni 2018 pukul 22.15

disebut dengan upah. Semakin tinggi jabatan biasanya akan diikuti dengan semakin besar nominal gaji yang diterima. Jabatan yang semakin tinggi secara otomatis memangku tanggung jawab yang lebih besar. Selain itu, keterampilan dan keahlian yang dimiliki juga harus memadai. Oleh sebab itu, karyawan pada jajaran manajerial umumnya mensyaratkan tingkat pendidikan yang tinggi, sedangkan untuk menjadi buruh atau pekerja pelaksana tidak membutuhkan tingkat pendidikan tinggi.

b. Status kepegawaian

Gaji dan upah dibedakan pula oleh status kepegawaian yang disandang oleh pekerja yang bersangkutan. Umumnya gaji diperuntukkan bagi karyawan yang berstatus sebagai karyawan tetap atau kontrak dengan jangka waktu tertentu. Sementara upah diperuntukkan bagi karyawan yang statusnya tidak terikat dengan perusahaan, sehingga tidak memiliki jaminan akan dipekerjakan secara berkelanjutan.

c. Waktu pembayaran

Karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan biasanya akan menerima gaji sebulan sekali. Meski demikian, ada pula yang waktu pembayaran gajinya lebih panjang bisa triwulan atau tahunan. Sementara buruh yang tidak terikat dengan perusahaan bisa menerima upah harian, mingguan, atau bahkan bulanan tergantung kesepakatan dengan pengguna jasa.

Hak atas upah yaitu hak pekerja / buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja yang ditetapkan dan dibayarkan menurut perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan.

2. Hak atas kesejahteraan

Yakni suatu pemenuhan kebutuhan dan/atau keperluan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempertinggi produktivitas kerja dalam lingkungan kerja yang aman dan sehat. Berdasarkan ketentuan Pasal 86 dinyatakan bahwa: setiap pekerja mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan atas :

a. Keselamatan dan kesehatan kerja

b. Moral dan kesusilaan dan

c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta

nilai-nilai agama.

3. Hak atas peningkatan kompetensi kerja

Tertuang dalam Pasal 11 bahwa “setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya melalui pelatihan kerja” dan Pasal 12 Ayat (3) bahwa “setiap pekerja memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pelatihan kerja sesuai dengan bidang tugasnya.”

4. Hak atas pengakuan kompetensi kerja

Tertuang dalam Pasal 18 Ayat (1), “bahwa tenaga kerja berhak memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pelatihan kerja pemerintah, lembaga pelatihan kerja swasta atau pelatihan di tempat kerja”, serta pada Pasal 23 yang menyatakan “bahwa tenaga kerja yang telah mengikuti program pemagangan berhak atas pengakuan kualifikasi kompetensi kerja dari perusahaan atau lembaga sertifikasi”.

5. Hak atas perlakuan khusus terhadap penyandang cacat

Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 67, yang menyatakan

“bahwa pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya”

6. Hak atas cuti dan istirahat

Setiap pekerja dijamin haknya untuk dapat menikmati waktu istirahat dan memperoleh cuti sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 79 Ayat (1), yang secara terperinci dalam Pasal 79 Ayat (2) meliputi :

a. Istirahat antara jam kerja, sekurang kurangnya setengah jam setelah

bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat

pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus; dan

d. Istirahat panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan

dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam 2 (dua) tahun berjalan dan selanjutnya berlaku

untuk setiap kelipatan masa kerja 6 (enam) tahun. Hak dalam huruf d ini hanya berlaku bagi pekerja/buruh yang bekerja pada perusahaan tertentu.

7. Hak untuk berserikat

Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 Tentang Serikat Pekerja / Serikat Buruh dinyatakan bahwa “ serikat pekerja atau serikat buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh dan untuk pekerja atau buruh di perusahaan maupun diluar perusahaan yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis dan bertanggungjawab guna memperjuangan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.” Selanjutnya pada ayat (2) dinyatakan bahwa “ serikat pekerja/serikat buruh di perusahaan adalah serikat pekerja/serikat buruh yang didirikan oleh para pekerja/buruh di satu perusahaan atau beberapa perusahaan” dan di ayat (3) dinyatakan bahwa “ serikat pekerja / serikat buruh diluar perusahaan adalah serikat pekerja / serikat buruh yang didirikan oleh para pekerja / serikat yang tidak bekerja di perusahaan.

Ketentuan Pasal 104 Ayat (1) Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menggariskan “bahwa setiap pekerja berhak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja”

Adapun dengan dikeluarkannya Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Pengesahan Internasional Convention On The Protection Of The Rights Of All Migrant Workers And Members Of Their Families (

Konvensi Internasional Mengenai Perlindungan Hak –Hak Seluruh Pekerja Migran Dan Anggota Keluarganya), merupakan bentuk pengesahan atas keikutsertaan Indonesia dalam International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families, yang telah ditandatangani pada 22 September 2004, terjadi perluasan lingkup hak tenaga kerja khususnya tenaga kerja asing (migran).

Melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2012 Indonesia memberi jaminan terhadap kesetaraan dalam pelaksanaan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada setiap pekerja dan keluarganya, dengan tidak membuka ruang diskriminasi berdasarkan status kewarganegaraan pekerja. Secara garis besar UU Nomor 6 Tahun 2012 menetapkan bahwa terdapat 18 hak buruh migran dan keluarganya yang harus dilindungi dalam pelaksanaan perjanjian kerja, yakni :

1. Hak untuk hidup;

2. Hak atas kebebasan untuk meninggalkan, masuk dan menetap di

negara manapun;

3. Hak untuk bebas dari penyiksaan;

4. Hak untuk bebas dari perbudakan;

5. Hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama;

6. Hak atas kebebasan berekspresi;

7. Hak atas privasi;

8. Hak untuk bebas dari penangkapan yang sewenang-wenang

9. Hak diperlakukan sama di muka hukum;

10. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hak terkait kontrak/hubungan kerja;

11. Hak untuk berserikat dan berkumpul 12. Hak mendapatkan perawatan kesehatan;

13. Hak atas akses pendidikan bagi anak pekerja migran;

14. Hak untuk dihormati identitas budayanya;

15. Hak atas kebebasan bergerak 16. Hak membentuk perkumpulan;

17.Hak berpartisipasi dalam urusan pemerintahan di negara asalnya 18. Hak untuk transfer pendapatan;

19. Hak-hak tambahan bagi para pekerja migran yang tercakup dalam kategori-kategori pekerjaan tertentu (pekerja lintas batas, pekerja musiman, pekerja keliling, pekerja proyek, dan pekerja mandiri).70

Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, menyatakan bahwa “Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk”. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan tenaga kerja asing dilakukan secara selektif dalam rangka pendayagunaan tenaga kerja Indonesia secara lebih optimal. Dari ketentuan pasal di atas tersebut dinyatakan, bahwa tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia harus memiliki izin bekerja yang jelas dan mengikuti ketentuan dari peraturan-peraturan yang ada, yaitu dalam hal

70 Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Pengesahan Internasional Convention On The Protection Of The Rights Of All Migrant Workers And Members Of Their Families ( Konvensi Internasional Mengenai Perlindungan Hak –Hak Seluruh Pekerja Migran Dan Anggota Keluarganya)

penggunaan tenaga kerja asing. Baik tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja dan masing-masing pihak dalam melakukan pekerjaannya dilindungi oleh hukum.

Bagi tenaga kerja asing, yang dipekerjakan oleh pemberi kerja wajib memiliki pendidikan dan/atau pengalaman kerja sesuai dengan jabatan yang didudukinya minimal 5 tahun, bersedia membuat pernyataan untuk mengalihkan keahliannya kepada tenaga kerja warga negara Indonesia khususnya TKI pendamping tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia yang harus dapat berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No: KEP-20/MEN/III/2004 Tentang Tata Cara Memperoleh Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing.

Berkaitan dengan kesejahteraan tenaga kerja diatur dalam Pasal 99 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, menegaskan bahwa setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja, sedangkan mengenai pengupahan diatur dalam Pasal 88, menegaskan pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusian. Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Pasal 1 angka (4), menegaskan peserta merupakan orang yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar iuran, dan Pasal 14

menegaskan orang, termasuk orang asing yang bekerja palings ingkat 6 (enam) bulan di Indonesia, wajib menjadi Peserta Jaminan Sosial.71

BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial, Adapun Program BPJS, yaitu:

1. BPJS Kesehatan yang menyelenggarakan program jaminan kesehatan;

2. BPJS Ketenagakerjaan, meliputi: Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian.

Keempat jaminan tersebut dikemas dalam 4 program yaitu :72

1. Jaminan Kecelakaan

Jaminan ini diberikan yaitu pada kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja termasuk penyakit yang timbul akibat hubungan kerja serta kecelakaan yang terajadi dalam perjalanan dari rumah ke tempat kerja dan pulang kerumah melalui jalan yang biasa dilalui (tidak ada batasan waktu tertentu). Dalam jaminan ini, pengusaha (majikan) harus menyerahkan 0,24% - 1,74% dari upah sebulan ke jamsostek. Besarnya jaminan tersebut tergantung resiko kecelakaan.

71 Suhandi. Pengaturan Ketenagakerjaan Terhadap Tenaga Kerja Asing Dalam

PelaksanaanMasyarakat Ekonomi Asean Di Indonesia,Jurnal Fakultas Hukum Universitas Wijaya KusumaSurabaya, Perspektif Volume XXI No. 2 Tahun 2016 Edisi Mei,hlm 144-145

72 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.02/Men/XII/2004 tentang Pelaksanaan Program Jamsostek Bagi Tenaga Kerja Asing

2. Jaminan Kematian

Jaminan ini diberikan untuk jaminan kematian yakni sebesar 0,30% dari upah sebulan.

3. Jaminan Hari Tua

Jaminan ini ditanggung buruh dan majikan yaitu sebesar 3,7% dari upah sebulan ditanggung majikan dan 2% ditanggung oleh buruh.

4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

Terkait dengan jaminan ini, Jamsostek mengadakan pembedaan tanggungan antara buruh yang masih lajang dengan yang sudah berkeluarga, dengan masing-masing besaran 6% dari upah sebulan untuk buruh yang sudah berkeluarga dan 3% untuk buruh yang masih lajang.

jaminan pemeliharaan kesehatan ini juga mencakup:

1. Aspek promotif (peningkatan kesehatan);

2. Aspek preventif; dan

3. Aspek kuratif (pengobatan).

Peraturan - peraturan tersebut telah memberikan penegasan tentang prinsip persamaan atau equality terhadap tenaga kerja di Indonesia baik tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia mengenai hak-hak normatif sebagaimana diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003, di samping atas Program BPJS, yaitu hak atas upah vide Pasal 88, hak atas keselamatan dan kesehatan kerja vide Pasal 86, hak melaksanakan ibadah

vide Pasal 80, hak ketentuan waktu kerja vide Pasal 77, hak atas kesejahteraan vide Pasal 99, Hak atas pengakuan kompetensi kerja vide Pasal 18, sedangkan hak-hak pekerja secara universal diatur dalam Undang-Undang No. 6 Tahun 2012 tentang Pengesahan International Convention on Tahune Protection of Tahune Rights of All Migrant Workers and Members of Tahuneir Families.73

Bentuk perlindungan terhadap TKA juga seyogianya sama dengan TKI, yaitu berupa:

1. Perlindungan sosial, yaitu suatu perlindungan yang berkaitan dengan usaha kemasyarakatan yang tujuannya untuk memungkinkan pekerja/buruh mengenyam dan mengembangkan kehidupannya sebagaimana manusia pada umumnya, dan khususnya sebagai anggota masyarakat dan anggota keluarga. Perlindungan sosial disebut juga dengan kesehatan kerja.

2. Perlindungan teknis, yaitu jenis perlindungan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk menjaga agar pekerja/buruh terhindar dari bahaya kecelakaan yang ditimbulkan oleh alat-alat kerja atau bahan yang dikerjakan. Perlindungan ini lebih sering disebut sebagai keselamatan kerja.

3. Perlindungan ekonomis, yaitu suatu jenis perlindungan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk memberikan kepada pekerja/buruh suatu penghasilan yang cukup guna memenuhi keperluan sehari-hari baginya

73 Suhandi, Loc.Cit.

dan keluarganya, termasuk dalam hal pekerja/buruh tidak mampu bekerja karena sesuatu di luar kehendaknya. Perlindungan jenis ini biasanya disebut dengan jaminan sosial.74

B. Syarat-Syarat dan Penggunaan Tenaga Kerja Asing 1. Syarat-Syarat Tenaga Kerja Asing Bekerja di Indonesia

Masuknya TKA diawali dengan Indonesia yang menjadi bagian dari komunitas seperti WTO (World Trade Organization), AFTA (Asean Free Trade Area), dan APEC (Asia Pasific Economic Cooperation) yang memberi peluang besar bagi masuknya TKA ke Indonesia. Awal sejarah orang asing masuk ke Indonesia tidak lepas dari masa-masa jika mengingat tentang sejarah migrasi di Indonesia. Migrasi dalam awal sejarah Indonesia ditandai dengan kedatangan suku bangsa asing yang membawa dan memperkenalkan sebuah sistem ekonomi baru yang didasarkan pada hubungan kepemilikan budak.75

Sejak adanya organisasi WTO yang membahas perdagangan dalam sector jasa, dan mewajibkan kepada setiap negara anggotanya untuk membuka akses pasarnya bagi penyedia jasa asing.76 Dengan masuknya Tenaga Kerja Asing (untuk selanjutnya disebut TKA) ke Indonesia untuk bekerja maka sepatutnya perlu dibuat syarat-syarat untuk tenaga kerja asing dapat bekerja di Indonesia untuk membatasi tenaga kerja asing ilegal masuk ke Indonesia.

74Zaeni Asyhadie,Hukum Kerja (Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan

Kerja)(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007),hlm 7.

75 H.S. Syarif, Loc.Cit.

76 Agusmidah, Dinamika Hukum Ketenagakerjaan, Loc.Cit, hlm 111

Adapun pasal yang mengatur mengenai syarat tenaga kerja asing ada di dalam Pasal 5 Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 10 Tahun 2018 yaitu : (1) Tenaga kerja asing yang dipekerjakan oleh pemberi kerja tenaga kerja asing wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Memiliki Pendidikan yang sesuai dengan syarat jabatan yang akan diduduki oleh tenaga kerja asing;

b. Memiliki sertifikat kompetensi atau memiliki pengalaman kerja sesuai dengan jabatan yang akan diduduki tenaga kerja asingpaling kurang 5 (lima) tahun

c. Mengalihkan keahliannya kepada tenaga kerja Indonesia pendamping d. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak bagi tenaga kerja asing yang sudah

bekerja lebih dari 6 (enam) bulan; dan

e. Memiliki Izin Tinggal Terbatas ( ITAS) untuk bekerja yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang.

Syarat-syarat tidak hanya diperuntukkan kepada tenaga kerja asing saja tetapi juga kepada pemberi kerja tenaga kerja asing. Berdasarkan Pasal 4 ayat (4) Permenaker 10/2018, setiap Pemberi Kerja TKA yang mempekerjakan TKA wajib:77

1. Memiliki Rencana Penggunaan TKA (“RPTKA”) yang disahkan oleh Menteri Kementrian Ketenagakerjaan;

77 Pasal 4 ayat (4) Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing

2. Membayar Dana Kompensasi Penggunaan TKA yaitu kompensasi yang harus dibayar oleh pemberi kerja TKA atas penggunaan TKA sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (“PNBP”) atau Penerimaan Daerah;

3. Mengikutsertakan TKA dalam program asuransi di perusahaan asuransi berbadan hukum Indonesia yang bekerja kurang dari 6 (enam) bulan;

4. Mengikutsertakan TKA dalam program Jaminan Sosial Nasional yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan;

5. Menunjuk tenaga kerja Indonesia untuk mendampingi TKA selama bekerja di Indonesia dalam rangka alih teknologi dan keahlian;

6. Memfasilitasi Pendidikan dan pelatihan bahasa Indonesia kepada TKA yang dipekerjakannya.

Jadi, jika TKA tidak memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan dalam perundang-undangan, TKA tersebut tidak dapat dipekerjakan oleh pemberi kerja. Karena pemberi kerja TKA juga memiliki tanggung jawab, menurut pasal 42 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, mereka harus memiliki izin tertulis dari Menteri atau penjabat yang ditunjuk, atau biasa disebut Izin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA). IMTA ini baru akan diberikan jika persyaratan TKA sudah dipenuhi. Apabila persyaratan TKA tidak terpenuhi, dan karenanya dapat dikatakan pemberi kerja mempekerjakan TKA tanpa izin (IMTA), berarti perusahaan tersebut telah melanggar ketentuan Pasal 42 UU Ketenagakerjaan. Hal tersebut merupakan pelanggaran dan disebutkan pada pasal 185 UU Ketenagakerjaan sebagai tindak pidana kejahatan yang dikenakan sanksi

pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).78