TINJAUAN UMUM TENTANG TENAGA KERJA ASING
A. Sejarah Tenaga Kerja Asing
2. Pengertian Tenaga Kerja
Tenaga kerja menurut Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan adalah “ setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.”54
Tenaga Kerja (manpower) terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja atau labour force terdiri dari :55
(1) Golongan yang bekerja, dan
(2) Golongan yang menganggur atau yang sedang mencari pekerjaan.
Kelompok bukan angkatan kerja terdiri dari : (1) Golongan yang bersekolah
(2) Golongan yang mengurus rumah tangga; dan (3) Golongan lain-lain atau penerima pendapatan.
Golongan yang bersekolah adalah mereka yang kegiatannya hanya atau terutama bersekolah. Golongan yang mengurus rumah tangga adalah mereka yang mengurus rumah tangga tanpa memperoleh upah. Sedang yang tergolong dalam lain-lain ini ada 2 macam yaitu :
a. Golongan penerima pendapatan, yaitu mereka yang tidak melakukan suatu kegiatan ekonomi tetapi memperoleh pendapatan seperti tunjangan pensiun, bunga atas simpanan atau sewa atas milik, dan
54 Agusmidah, Op.Cit, hlm 5.
55 Ibid.
b. Mereka yang hidupnya tergantung dari orang lain misalnya karena lanjut usia (jompo), cacat atau sakit kronis.
Ketiga golongan dalam kelompok bukan angkatan kerja ini kecuali mereka yang hidupnya tergantung dari orang lain sewaktu-waktu dapat menawarkan jasanya untuk bekerja. Oleh sebab itu, kelompok ini sering juga dinamakan sebagai Potential Labour Force (PLF).
Jadi tenaga kerja mencakup siapa saja yang dikategorikan sebagai angkatan kerja dan juga mereka yang bukan angkatan kerja, sedangkan angkatan kerja adalah mereka yang bekerja dan yang tidak bekerja (pengangguran).56
Tenaga kerja yang sudah bekerja yang dapat disebut sebagai pekerja/buruh. Istilah pekerja atau buruh yang sekarang disandingkan muncul karena dalam Undang-Undang yang lahir sebelumnya yakni Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 Tentang Serikat Buruh/Pekerja menyandingkan kedua istilah tersebut. Munculnya istilah buruh atau pekerja yang disejajarkan disebabkan selama ini pemerintah menghendaki agar istilah buruh diganti dengan istilah pekerja karena istilah buruh selain berkonotasi pekerja kasar juga menggambarkan kelompok yang selalu berlawanan dengan pihak majikan. Karena itulah pada era Orde Baru istilah serikat buruh diganti dengan istilah serikat pekerja. Serikat pekerja pada saat itu sangat sentralistik sehingga mengekang kebebasan buruh untuk membentuk organisasi pekerja yang lain serta tidak respon terhadap tuntutan buruh. Itulah sebabnya ketika RUU Serikat Buruh/Pekerja dibahas terjadi perdebatan yang panjang mengenai istilah ini, dari pemerintah
56 Ibid, hlm 6
menghendaki istilah pekerja sementara dari kalangan buruh/pekerja menghendaki istilah buruh karena trauma masa lalu dengan istilah serikat pekerja yang selalu diatur berdasarkan kehendak pemerintah, akhirnya ditempuh jalan tengah dengan mensejajarkan kedua istilah tersebut.57
Menurut pasal 1 ayat 2 Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan disebutkan tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun – 64 tahun dapat dikategorikan sebagai tenaga kerja.58
Sedangkan menurut Pasal 68 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa, “Pengusaha dilarang mempekerjakan anak”. Selanjutnya pada pasal 69 ayat (1) disebutkan bahwa “ Ketentuan sebagaimana dimaksud ddalam pasal 68 dapat dikecualikan bagi anak yang berumur 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosial.” Syarat bagi pengusaha untuk dapat mempekerjakan anak sesuai dengan ayat (1) pasal 69 tersebut terdapat pada ayat
57 Lalu Husni, S.H.,M.Hum, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indoensia, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm, 20.
58 https://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_kerja diakses Pada Selasa 25 Juni 2019 pukul 21.25
(2) yang menyebutkan bahwa pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan harus memenuhi persyaratan :
a) Izin tertulis dari orang tua atau wali;
b) Perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali;
c) Waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam;
d) Dilakukan pada waktu siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah;
e) Keselamatan dan kesehatan kerja;
f) Adanya hubungan kerja yang jelas; dan
g) Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pada prinsipnya anak tidak boleh bekerja, dikecualikan untuk kondisi dan kepentingan tertentu anak diperbolehkan bekerja, sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Bentuk pekerjaan tersebut antara lain :59
1. Pekerjaan Ringan
Anak yang berusia 13 sampai dengan 15 tahun diperbolehkan melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik,mental dan sosial.
2. Pekerjaan dalam rangka bagian kurikulum pendidikan atau pelatihan.
Anak dapat melakukan pekerjaan yang merupakan bagian dari kurikulum
59 https://gajimu.com/pekerjaan-yanglayak/perlakuan-adil-saat-bekerja/syarat-untuk-mempekerjakan-anak diakses pada Senin 25 Juni 2019 pukul 21.55
pendidikan atau pelatihan yang disahkan oleh pejabat yang berwenang dengan ketentuan :
a) Usia paling sedikit 14 tahun.
b) Diberi petunjuk yang jelas tentang cara pelaksanaan pekerjaan serta mendapat bimbingan dan pengawasan dalam melaksanakan pekerjaan.
c) Diberi perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja
3. Pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat.
Untuk mengembangkan bakat dan minat anak dengan baik, makan anak perlu diberikan kesempatan untuk menyalurkan bakat dan minatnya. Untuk menghindarkan terjadinya eksploitasi terhadap anak, pemerintah telah mengesahkan kebijakan berupa Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep. 115/Men/VII/2004 Tentang Perlindungan bagi Anak Yang Melakukan Pekerjaan Untuk Mengembangkan Bakat dan Minat.
Tenaga kerja juga dapat dibedakan berdasarkan jenis-jenisnya. Untuk mengetahui bagian dair jenis-jenis tenaga kerja tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jenis-Jenis Tenaga Kerja Berdasarkan Penduduknya
a. Tenaga kerja. Pengertian tenaga kerja adalah seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja jika tidak terdapat permintaan kerja. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, mereka yang
dikelompokkan sebagai tenaga kerja adalah mereka yang terdiri dari usia antara 15 sampai dengan 64 tahun.
b. Bukan tenaga kerja. Pengertian bukan tenaga kerja adalah mereka yang dianggap tidak berkemampuan dan tidak memiliki keinginan untuk bekerja, walaupun terdapat permintaan untuk bekerja.
Berdasarkan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, mereka adalah penduduk yang berada diluar usia yakni mereka yang berada dibawah usia 15 tahun dan diatas 64 tahun.
2. Jenis-Jenis Tenaga Kerja Menurut Batas Kerja
a. Angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk yang tengah berada dalam usia produktif yang berusia dari usia 15 tahun hingga 64 tahun yang memiliki pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang tengah aktif dalam bekerja.
b. Bukan angkatan kerja. Bukan angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun keatas yang memiliki kegiatan hanya bersekolah, mengurus rumah tangga, dan sebagainya.60
3. Menurut Sifatnya
a. Tenaga Kerja Rohani
Dalam bekerja, ada dua hal yang digunakan oleh manusia untuk menghasilkan uang, pertama adalah tenaganya dan yang
60 Sonny Sumarsono, Ekonomi Manajemen Sumber Daya Manusia & Ketenagakerjaan, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2003), hlm, 4.
kedua adalah pikirannya. Sesuai dengan namanya, tenaga kerja jasmani berarti lebih memanfaatkan tenaganya dibandingkan dengan pikirannya. Dan yang dimaksud dengan tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang lebih memanfaatkan pikiran atau kemampuan otaknya apabila dibandingkan dengan tenaganya.
Tenagan kerja rohani ini biasanya bekerja di tempat- tempat yang bersih, berpakaian rapi, berpenampilan cantik dan tampan, dan juga memiliki gaji yang lebih besar daripada tenaga kerja yang menggunakan tenaga. Tenaga kerja rohani memiliki banyak keahlian atau fasilitas yang lebih apabila dibandingkan dengan tenaga fisik atau jasmani.
b. Tenaga Kerja Jasmani
Jenis tenaga kerja yang selanjutnya adalah tenaga kerja jasmani. Sesuai dengan nama dan juga sifatnya, tenaga kerja jasmani merupakan tenaga kerja yang mengandalkan tenaga atau otot manusia. Tenaga kerja jasmani jumlahnya lebih banyak karena biasanya yang dibutuhkan banyak, serta orang- orang yang memenuhi kualifikasi juga banyak. Misalnya adalah di pabrik, perusahaan hanya membutuhkan satu orang manager produksi, namun tenaga produksi yang digunakan sangat banyak. Masyarakat Indonesia sebagian besar masih memiliki tingkat pendidikan rendah, maka dari itulah yang memenuhi kualifikasi tenaga kerja jasmani ini lebih banyak daripada tenaga kerja rohani.
4. Menurut Kemampuannya
a. Tenaga Kerja Terdidik
Tenaga kerja menurut kemampuannya yang pertama adalah tenaga kerja terdidik atau Skilled Labour. Tenaga kerja terdidik merupakan tenaga kerja yang memiliki riwayat pendidikan tinggi.
Tenaga kerja terdidik jumlahnya tidak seberapa apabila dibandingkan dengan tenaga kerja tidak terdidik. Untuk tenaga kerja terdidik, minimal memiliki pendidikan di tingkat Strata atau Sarjana. Banyak profesi yang menggunakan jasa tenaga kerja terdidik, diantaranya adalah dokter, guru, polisi, dan sebagainya.
b. . Tenaga Kerja Terlatih
Tenaga kerja terlatih atau Trained Labour merupakan tenaga kerja yang mengandalkan kemampuan kreativitas dalam bekerja atau memiliki keahlian khusus. Tenaga kerja terlatih ini tidak harus orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, namun orang yang memiliki daya tangkap bag8us untuk menguasai keterampilan tertentu. Adapun beberapa contoh tenaga kerja yang tergolong kedalam tenaga kerja terlatih adalah sopir, mekanik, teknisi dan sebagainya.
c. Tenaga Kerja Tidak Terdidik
Tenaga kerja tidak terdidik ini merupakan tenaga kerja yang tidak memiliki pendidikan tinggi, namun juga tidak memiliki keterampilan tertentu. Tenaga kerja tidak terdidik ini sering juga
disebut sebagai tenaga kerja kasar. Mereka yang bekerja hanya mengandalkan tenaga yang biasanya masuk dalam kategori ini. Di berbagai macam klasifikasi desa,orang-orang seperti ini masih banyak terdapat di pelosok.61