• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEWENANGAN BPSK DALAM PENYELESAIAN SENGKETA

Dalam dokumen UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (Halaman 29-101)

Sengketa Konsumen. Dalam bab ini berisi penjelasan tentang Dasar

Pembentukan BPSK, Keanggotaan BPSK, Kewenangan BPSK, Prosedur Beracara di BPSK serta Kekuatan Hukum dari Putusan BPSK.

Bab IV : Analisis Penerapan Hukum Oleh Majelis Hakim Dalam Putusan No.477/Pdt.Sus-Bpsk/2019/Pn Mdn, dalam bab ini berisi uraian mengenai putusan PN Medan No : 477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN Mdn. Bab ini berisi tentang : kasus posisi antara PT. Buana Finance, Tbk. Melawan Agung Prastya Koto, Pertimbangan Hukum oleh Majelis Hakim serta Analisis Kasus.

BAB V : Penutup, bab penutup ini berisi 2 (dua) sub-bab yaitu mengenai Kesimpulan dan Saran.

BAB II

TINJAUAN UMUM SISTEM PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN

A. Pengertian Konsumen

Istilah konsumen berasal dan alih bahasa dari kata consumer (Inggris-Amerika), atau consument (Belanda). Secara harfiah, arti consumer diartikan sebagai (lawan dari produsen) “seseorang yang menggunakan barang.44 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), Konsumen diartikan sebagai pemakai barang hasil produksi (bahan pakaian, makanan dan sebagainya), penerima pesan iklan dan pemakai jasa (pelanggan dan sebagainya).45

Dalam ketentuan hukum positif di Indonesia dipergunakan istilah–istilah yang bermakna dengan istilah konsumen yang terdapat di berbagai peraturan perundang-undangan, misalnya penyewa, pembeli, peminjam-pakai (KUHPerdata), rakyat (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Barang), Nasabah (perundang-undangan di bidang perbankan dan asuransi), pengguna jasa (perundang-undangan pertelekomunikasian dan perhubungan), masyarakat (perundang-undangan di bidang kesehatan), khalayak (perundang-undangan di bidang penyiaran) dan lain-lain.46

Terdapat berbagai pendapat mengenai pengertian konsumen yang dikemukakan oleh para ahli hukum. Menurut AZ Nasution47, “Konsumen adalah

44 Abdul Halim Barkatulah, op. cit., hlm 7

45 KBBI

46 Abd Haris Hamid, op. cit., hlm 25

47 A.Z Nasution dalam Wahyu Sasongko, Ketentuan-ketentuan Pokok Hukum Perlindungan Konsumen, (Bandar Lampung: Penerbit Unila, 2007), hlm 54

setiap pengguna barang atau jasa untuk kebutuhan diri sendiri, keluarga atau rumah tangga dan tidak untuk memproduksi barang/jasa lain atau memperdagangkannya kembali” Menurut Ika Meutiah48, definisi konsumen dapat digolongkan sebagai berikut:

“Konsumen umum (pemakai, pengguna, pemanfaat barang dan/atau jasa untuk kebutuhan tertentu), konsumen antara (pemakai, pengguna, pemanfaat barang dan/atau jasa untuk memperdagangkannya, dengan tujuan komersial), dan konsumen akhir (pemakai, pengguna, pemanfaat barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri atau rumah tangganya dengan tujuan tidak untuk memperdagangkan kembali).”

Jika merujuk kepada undang-undang, terdapat beberapa pengertian konsumen seperti di dalam Undang-udang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat termuat definisi tentang konsumen, yaitu “Konsumen adalah setiap pemakai dan atau pengguna barang dan atau jasa, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan orang lain”49. Istilah konsumen sebagai definisi yuridis formal terdapat dalam UUPK. UUPK menyatakan, “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun mahkluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”. Definisi ini sesuai dengan pengertian bahwa konsumen adalah pengguna terakhir, tanpa melihat konsumen tersebut pembeli dari barang ataupun jasa. Sehubungan dengan hal tersebut, jelas bahwa yang dimaksud dengan konsumen yaitu orang pemakai akhir

48 Ika Meutiah, Perkembangan Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, (Jakarta:

Rajawali Grafindo Persada, 2006), hlm 12

49 Indonesia (Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat), Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817. Pasal 1 huruf O.

dari suatu produk barang ataupun jasa. Tujuan pembelian produk barang ataupun jasa tersebut untuk dikonsumsi diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperjualbelikan lagi.

B. Dasar Hukum Penyelesaian Sengketa Konsumen

UUPK merupakan landasan yuridis formal terhadap penyelesaian sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. UUPK mengatur bahwa Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.50 Di dalam pasal ini ditegaskan bahwa terdapat dua cara yang ditempuh dalam penyelesaian sengketa konsumen yaitu melalui pengadilan dan di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak. Kemudian, di dalam Pasal 48 disebutkan “Penyelesaian Sengketa Konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam pasal 45”.

Untuk dapat mengetahui penyelesaian sengketa melalui pengadilan dengan mengacu pada ketentuan peradilan umum, maka perlu dijelaskan mengenai apa yang dimaksud tentang peradilan umum itu. Peradilan Umum adalah satu pelaksana Kekuasaan Kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya.51 Kekuasaan Kehakiman di lingkungan Peradilan Umum dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.52 Peradilan Umum sebagaimana yang

50 Indonesia (UUPK), op.cit, Pasal 45 ayat (2).

51 Indonesia (Peradilan Umum), op. cit, Pasal 2.

52 Indonesia (Peradilan Umum), Ibid, Pasal 3 ayat (1).

digariskan Pasal 50 dan Pasal 51 UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, hanya berwenang mengadili perkara :53

1. Perdata (perdata umum dan niaga) 2. Pidana (Pidana umum dan khusus).

Dengan berlandaskan ketentuan tersebut, maka terdapat aspek hukum perdata maupun pidana yang digunakan dalam penyelesaian sengketa konsumen.

Ditinjau dari aspek hukum perdata, sebelum berlakunya UUPK, gugatan pelanggaran pelaku usaha terhadap hak-hak konsumen dapat diajukan oleh konsumen atau ahli warisnya kepada pengadilan negeri berdasarkan gugatan wanprestasi ataupun gugatan perbuatan melawan hukum.54 Gugatan ini didasarkan pada beberapa ketentuan dalam KUHPerdata, seperti Pasal 1243 tentang ganti kerugian akibat ingkar janji atau wanprestasi sebagai dasar gugatan konsumen kepada produsen karena produsen dinilai telah melakukan ingkar janji berkaitan dengan produk yang dijualnya atau produsen dinilai telah mengingkari janji yang secara tegas dinyatakan oleh produsen baik berdasarkan Pasal 1365 tentang perbuatan melawan hukum maupun berdasarkan kelalaian Pasal 1366 KUHPerdata.55

Ketentuan materiil mengenai tuntutan ganti kerugian tersebut dipadukan dengan prosedur formal hukum acara perdata yaitu Pasal 1865 KUHPerdata dan pasal 163 HIR yang membebankan kepada pihak penggugat (konsumen) untuk membuktikan kesalahan dan kelalaian pihak tergugat (produsen).

53 M Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm 181

54 Susanti Adi Nugroho, Op cit, hlm 95

55 Ibid. hlm 96

Ditinjau dari aspek hukum pidana, terdapat beberapa pasal yang berkaitan dengan perlindungan konsumen, antara lain:56

1. Pasal 204 dan Pasal 205 KUHP tentang barang berbahaya, kedua pasal ini digolongkan dalam kejahatan yang mendatangkan bahaya bagi keamanan umum manusia atau barang. Dalam keadaan tertentu, perbuatan merugikan atau membahayakan keselamatan umum melalui produk sebagai alat atau medianya dapat digolongkan sebagai tindak pidana melanggar kepentingan umum.

2. Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, dalam keadaan tertentu pebuatan yang merugikan konsumen dengan memakai produk sebagai alat atau medianya, misalnya makanan beracun dapat digolongkan sebagai pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP.

3. Pasal 378 KUHP tentang Penipuan, jika pelaku usaha melakukan penipuan melalui iklan seperti menyiarkan iklan secara tidak benar sehingga merugikan konsumen maka dapat diancam sesuai Pasal 378 KUHP di atas.

4. Pasal 390 KUHP tentang menyebarkan berita bohong, Pasal ini ditujukan pada perbuatan menyiarkan berita bohong oleh pelaku usaha sehingga harga-harga menjadi naik atau turun. Dengan kata lain, perbuatan seorang pelaku usaha yang menyiarkan berita bohong dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana.

56 Janus Sidabalok, op. cit., hlm 151

Dasar hukum penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan dapat ditempuh melalui:

1. Upaya perdamaian antara para pihak yang bersengketa dengan mengacu kepada Perma No. 1 Tahun 2016 tentang mediasi, Pasal 130 HIR, Pasal 154 Rbg.

2. Melalui Lembaga Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dengan mengacu pada ketentuan dalam UUPK, khususnya dalam bab X (sepuluh) tentang Penyelesaian Sengketa yang terdiri dari Pasal 45 sampai dengan Pasal 48 serta Bab XI (sebelas) tentang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang terdiri dari Pasal 49 sampai dengan Pasal 58 UUPK.

C. Sengketa Konsumen

Pengertian sengketa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pertentangan atau konflik. Sengketa dapat juga dimaksudkan sebagai adanya ketidakserasian antara pribadi–pribadi atau kelompok-kelompok yang mengadakan hubungan karena hak salah satu pihak terganggu atau dilanggar.57

Asal mula sengketa berawal pada situasi dimana pihak yang satu merasa dirugikan oleh pihak lain, biasanya hal itu dimulai oleh perasaan tidak puas oleh salah satu pihak, bersifat subjektif dan tertutup yang dialami oleh seseorang maupun kelompok. Apabila perasaan tidak puas itu disampaikan kepada pihak kedua dan pihak kedua menanggapi dan dapat memuaskan pihak pertama, maka

57 KBBI

selesailah konflik tersebut. Sebaliknya, apabila perbedaan pendapat tersebut terus berkelanjutan maka akan terjadi apa yang disebut sebagai sengketa.58

Sengketa dalam pengertian sehari-hari dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana pihak-pihak yang melakukan upaya-upaya perniagaan mempunyai masalah yaitu menghendaki pihak lain untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu tetapi pihak lainnya menolak atau tidak berlaku demikian.59 Sengketa juga dapat dimaksudkan sebagai adanya ketidakserasian antara pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok yang mengadakan hubungan karena hak salah satu pihak terganggu atau dilanggar.60

Menurut Stewart yang dikutip dalam buku Yusuf Shofie, kosakata sengketa mestinya tidak hanya bersifat merusak dan merugikan, melainkan bersifat membangun, menarik/menantang serta dinamis sebagai katalisator perubahan.61

Apabila dikaitkan antara pengertian Konsumen menurut UUPK dengan Pasal 4 UUPK yang mengatur mengenai hak-hak konsumen, maka dapat diartikan bahwa sengketa konsumen adalah sengketa yang terjadi antara konsumen sebagai pengguna barang atau jasa di satu pihak dengan pelaku usaha atau produsen di pihak lain yang dianggap telah melanggar hak-hak konsumen.62

Menurut keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan dengan Surat Keputusan Nomor: 350/MPP/Kep/12/2001, yang dimaksud dengan sengketa

58 Suyud Margono, Pelembagaan Alternative Dispute Resolution (ADR), Dalam Praktek dan pelaksanaan Arbitrase di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Adya Bakti, 2001), hlm 21

59 Komar Kartaatmadja, Beberapa Masalah Dalam Penerapan ADR Di Indonesia, Dalam Prospek dan Pelaksanaan Arbitrase di Indonesia (Bandung: PT. Citra Adya Bakti, 2001),hlm 37

60 Soerjono Soekanto, Mengenai Antropologi hukum, (Bandung: Alumni, 1979), hlm 29

61 Yusuf Shofie, Op cit, hlm 12

62 Abdul Halim Barkatulah, Op cit. hlm 109

konsumen adalah “sengketa antara pelaku usaha dengan konsumen yang menuntut ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan atau yang menderita kerugian akibat mengkonsumsi barang atau memanfaatkan jasa”.

Karakteristik sengketa konsumen berbeda dengan sengketa bisnis pada umumnya. Sengketa konsumen memiliki karateristik khusus. Kekhususan tersebut dapat dilihat dari posisi konsumen dan metode apa yang paling tepat untuk menyelesaikannya. Al. Wisnubroto merinci karateristik tersebut dalam 3 (tiga) hal, yaitu:63

1. Sengketa konsumen lahir dari tidak adanya keseimbangan kedudukan antara pihak pelaku usaha dan konsumen. Pelaku usaha lebih dominan dan konsumen lebih needy hal ini dapat diketahui dengan dianutnya prinsip take it or leave it.

2. Pada umumnya sengketa konsumen tidak cocok diselesaikan melalui mekanisme litigasi yang formal, berbelit-belit dan mahal.

3. Sengketa konsumen adalah salah satu sengketa bisnis yang didominasi oleh interest dan bukan right atau power.

Sengketa antara konsumen dan pelaku usaha pada umumnya didasarkan kepada hal-hal yang tidak dikehendaki bahkan tidak diduga oleh konsumen sebelumnya. Dari berbagai macam penyebab timbulnya sengketa, secara terperinci sengketa konsumen terkait lima hal berikut:64

63 Al. Wisnubroto dalam BIMTEK bagi Anggota BPSK kota Yogyakarta 2013-2017 Diselenggarakan oleh Bidang Perdagangan Disperindakoptan Kota Yogyakarta, 28 Agustus 2013

64 Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Tahun 2009, Penyempurnaan Peranan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, Jakarta 2009, Hlm. 39-44.

1. Barang yang Tidak Standar

Barang yang tidak standar adalah barang yang tidak memenuhi ketentuan spesifikasi teknis, dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi masa kini dan masa mendatang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.

2. Informasi yang Mengelabui

Ada perlindungan konsumen dilihat dari sisi perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha yang memberikan informasi atas barang atau jasa yang ditawarkan untuk diperdagangkan dengan tidak lengkap, tidak benar, tidak jelas, dan tidak jujur.

3. Cara Jual yang Merugikan

Ada juga perlindungan konsumen dilihat dari sisi perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam hal cara menjual barang atau jasa dengan mengelabui atau menyesatkan konsumen. Sebagai contoh, sebuah took menyebarkan brosur yang menyatakan bahwa produk yang dijual di diskon 30 persen, tetapi ternyata harga barang tersebut telah dinaikkan sebelumnya sebesar 30 persen.

4. Cidera Janji (Wanprestasi)

Ada perlindungan konsumen dilihat dari sisi perbuatan yang dilakukan bagi pelaku usaha yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana tercantum dalam perjanjian yang telah disepakati dan ditandatangani.

5. Klausula Baku

Pencantuman klausula baku merupakan salah satu perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam setiap perjanjian atau dokumen yang berpotensi merugikan konsumen. Klausula baku dapat dikatakan sebagai upaya pelaku usaha dalam mengalihkan tanggungjawab yang seharusnya dipegangnya menjadi tanggungjawab pihak lain dalam rangka menghindari adanya kerugian dipihak pelaku usaha. Sebagai contoh, dalam karcis parkir tertera kalimat “jika kendaraan rusak atau hilang, maka diluar tanggung jawab pengelola parkir”.

D. Penyelesaian Sengketa Konsumen

Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu enyelesaian sengketa konsumen melalui proses pengadilan dan penyelesaian sengketa konsumen secara diluar pengadilan.

1. Penyelesaian sengketa konsumen melalui proses pengadilan. Proses penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan dapat meliputi perkara perdata dan pidana. Pengajuan gugatan secara perdata diselesaikan menurut instrumen hukum perdata di Peradilan Umum.

Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku

usaha melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum.65 Proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan negeri, dilakukan seperti halnya mengajukan gugatan sengketa perdata biasa, dengan mengajukan tuntutan ganti kerugian baik berdasarkan perbuatan melawan hukum, gugatan ingkar janji/wanprestasi atau kelalaian dari pelaku usaha/produsen yang menimbulkan cedera, kematian atau kerugian bagi konsumen.Gugatan perdata ini diajukan melalui pengadilan negeri di tempat kedudukan konsumen. Hal ini berdasarkan ketentuan pasal 23 UUPK yang merupakan lex specialis terhadap Pasal 118 HIR, yang mana dalam pasal 118 HIR mensyaratkan pengajuan gugatan perdata berdasarkan kedudukan pelaku usaha yang menjadi tergugat.

Dalam hal gugatan perdata di Pengadilan Negeri, pihak konsumen yang diberikan hak mengajukan gugatan, yaitu:66

1. Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan;

2. Sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama;

3. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat, yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organsisasi itu adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya.

65 Indonesia (UUPK), op.cit Pasal 45 ayat (1).

66 Indonesia (UUPK), op.cit ., Pasal 46.

4. Pemerintah dan/atau instansi terkait jika barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit.

Terkait ketentuan Pasal 46 UUPK di atas, Celina Tri Siwi Kristiyanti67 mengklsifikasikan konsumen kedalam empat klasifikasi dan berpendapat bahwa pada klasifikasi yang pertama yaitu seseorang konsumen (atau ahli warisnya).

tidak ada yang istimewa dilihat dari ketentuan beracaranya. Hal yang menarik justru terlihat pada klasifikasi kedua dan seterusnya. Pada klasifikasi kedua, gugatan dapat dilakukan oleh sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama. Ketentuan ini harus dibedakan dengan gugatan dengan mewakilkan kepada orang lain seperti diatur dalam Pasal 123 ayat (1) HIR.

Penjelasan Pasal 46 menyebutkan gugatan kelompok ini dengan istilah class action. Kemudian klasifikasi ketiga adalah lembaga swadaya masyarakat. Di sini dipakai istilah lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Klasifikasi ini berkaitan dengan legal standing. Klasifikasi penggugat dalam sengketa konsumen keempat atau terakhir adalah pemerintah dan/atau instansi terkait.

Mereka baru akan menggugat pelaku usaha apabila ada kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit.

Terkait dengan penyelesaian sengketa konsumen melalui instrumen hukum pidana, Abdul Rahman Tibahary68 dalam artikelnya merumuskan bahwa sanksi pidana dalam UUPK dalam batas-batas tertentu dipandang sepadan dengan

67 Celina Tri Siwi Kristiyanti, op. cit., hlm. 177

68Abdul Rahman Tibahary, “ Tinjauan Yuridis Tentang Penyelesaian Sengketa Konsumen”,JurnalKolaboratifSains,http://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/jom/article/view/508 2018, hlm 4

kebutuhan untuk melindungi dan mempertahankan kepentingan-kepentingan tersebut, yang secara lebih khusus kepentingan- kepentingan itu dirumuskan dalam hak-hak konsumen dengan asumsi hukum pidana baru digunakan bila instrumen-instrumen hukum lainnya sudah tidak berdaya lagi untuk melindungi konsumen. Hal ini dikarenakan dalam UUPK terdapat sarana nonpidana yakni sanksi perdata dan sanksi administrasi negara yang diharapkan memiliki pengaruh preventif.69

Anita DA Kolopaking70 dalam bukunya merumuskan bahwa penggunaan sistem litigasi mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam penyelesaian suatu sengketa. Adapun kelebihan penggunaan sistem litigasi yang beliau rumuskan yaitu:

1. Dalam mengambil alih keputusan dari para pihak, litigasi sekurang-kurangnya dalam batas tertentu menjamin bahwa kekuasaan tidak dapat mempengaruhi hasil dan dapat menjamin ketentraman sosial.

2. Litigasi sangat baik sekali untuk menemukan kesalahan-kesalahan dan masalah-masalah dalam posisi pihak lawan.

3. Litigasi memberikan suatu standar bagi produsen yang adil dan memberikan peluang yang luas kepada para pihak untuk didengar keterangannya sebelum mengambil keputusan.

4. Litigasi membawa nilai-nilai masnyarakat untuk menyelesaikan sengketa pribadi.

69 Ibid

70 Anita D A Kolopaking, Asas Iktikad Baik dalam Penyelesaian Sengketa Kontrak Melalui Arbitrase, (Bandung: PT Alumni, 2013), hlm 39

5. Dalam sistem litigasi para hakim menerapkan nilai-nilai masyarakat yang terkandung dalam hukum untuk menyelesaikan sengketa.

Dalam proses pelaksanaannya, penyelesaian sengketa yang dilakukan secara litigasi cenderung menghasilkan masalah baru karena sifatnya yang win-lose, tidak responsif, time consuming proses berperkaranya, dan terbuka untuk umum.71 Albert Fiadjoe sebagaimana dimuat dalam Susanti Adi Nugroho72 menyatakan terdapat beberapa kekurangan dalam proses penyelesaian sengketa melalui litigasi yang menjadikannya kurang diminati oleh konsumen, antara lain:

1. Penyelesaian sengketa melalui litigasi pada umumnya lambat. Proses pemeriksaan bersifat sangat formal dan teknis. Hal ini sering mengakibatkan penyelesaian sengketa berlarut-larut, sehingga membutuhkan waktu yang lama.

2. Biaya perkara yang dianggap mahal oleh para pihak terlebih jika dikaitkan dengan lamanya penyelesaian sengketa. Semakin lama penyelesaian suatu sengketa maka akan semakin besar biaya yang akan dikeluarkan.

3. Pengadilan sering dianggap kurang tanggap dan kurang responsif dalam menyelesaikan perkara.

4. Putusan pengadilan cenderung tidak dapat menyelesaikan masalah dan memuaskan para pihak. Hal ini disebabkan dalam suatu putusan ada pihak yang merasa menang dan kalah. Selain itu, ada putusan pengadilan

71 Frans Hendra Winata, Op Cit hlm 9

72 Susanti Adi Nugroho, Op. Cit. hlm 127

yang membingungkan dan tidak memberikan kepastian hukum serta sulit untuk diprediksikan.

5. Kemampuan hakim yang bersifat generalis. Para hakim dianggap hanya memiliki pengetahuan yang sangat terbatas, hanya pengetahuan di bidang hukum saja, sehingga akan sulit menyelesaikan sengketa atau perkara yang mengandung kompleksitas di berbagai bidang.

2. Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan.

Dalam kegiatan bisnis, tidak mungkin dihindari terjadinya sengketa (dispute/difference) antara para pihak yang terlibat, dimana penyelesaiannya dilakukan melalui proses peradilan (litigasi).73 Proses ini membutuhkan waktu yang lama, namun alasan yang sering mengemukakan dipilihnya penyelesaian alternatif, yaitu karena ingin memangkas birokrasi perkara, biaya dan waktu, sehingga relatif lebih cepat dengan biaya relatif lebih ringan, lebih dapat menjaga harmoni sosial (social harmony) dengan mengembangkan budaya musyawarah dan budaya non konfrontatif.74 Muhammad Djumana dalam Andi Sri Rezeky75 menyatakan melalui jalan tersebut diharapkan tidak terjadi prinsip lose-win tetapi lose-win-lose-win, para pihak merasa menang sehinga menghindarkan terjadinya hard feeling dan loosing face.

73Andi Sri Rezeky, Op Cit, hlm 152

74 Ibid

75 Ibid, hlm 153

Terkait penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, Susanti Adi Nugroho76 membagi penyelesaian sengketa dalam dua bagian yakni:

a. Penyelesaian Sengketa secara damai oleh para pihak yang bersengketa.

Penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat (2) UUPK, tidak menutup kemungkinan dilakukannya penyelesaian secara damai oleh para pihak yang bersengketa yaitu pelaku usaha dan konsumen , tanpa melalui pengadilan atau BPSK dan sepanjang tidak bertentangan dengan UUPK. Dari penjelasan pasal 45 ayat (2) UUPK dapat diketahui bahwa UUPK menghendaki agar penyelesaian damai, merupakan upaya hukum yang harus terlebih dahulu diusahakan oleh para pihak yang bersengketa, sebelum para pihak memilih untuk menyelesaikan sengketa mereka di BPSK atau badan peradilan.

Jika merujuk pernyataan yang dijelaskan di atas, penulis beranggapan penyelesaian sengketa secara damai haruslah didahului dengan adanya kompromi diantara para pihak yang bersengketa untuk mengajukan keinginan yang ingin dicapai serta harus dilaksanakan oleh pihak lainnya secara seimbang. Bentuk-bentuk kompromi itu harus dimuat dalam suatu akta perdamaian dan ditandatangani oleh para pihak sebagai bentuk komitmen guna tercapainya perdamaian atas sengketa yang terjadi.

76Susanti Adi Nugroho,Op Cit, hlm 99

Nurnaningsih Amriani77 merumuskan bahwa akta perdamaian tersebut akan memiliki legitimasi lebih jika dibuat dalam pengadilan atau di muka sidang melalui proses mediasi, karena para pihak akan sulit melalaikan apa yang telah diperjanjikan karena perdamaian itu dibaca oleh hakim, maka terhitung sejak saat itu putusan perdamaian mempunyai kekuatan hukum tetap, final, dan mengikat para pihak yang berperkara, sebagaimana ditegaskan oleh Mahkamah Agung dalam putusannya Tanggal 1 Agustus 1973 dalam perkara Kasasi No. 1038

Nurnaningsih Amriani77 merumuskan bahwa akta perdamaian tersebut akan memiliki legitimasi lebih jika dibuat dalam pengadilan atau di muka sidang melalui proses mediasi, karena para pihak akan sulit melalaikan apa yang telah diperjanjikan karena perdamaian itu dibaca oleh hakim, maka terhitung sejak saat itu putusan perdamaian mempunyai kekuatan hukum tetap, final, dan mengikat para pihak yang berperkara, sebagaimana ditegaskan oleh Mahkamah Agung dalam putusannya Tanggal 1 Agustus 1973 dalam perkara Kasasi No. 1038

Dalam dokumen UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (Halaman 29-101)

Dokumen terkait