KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan atas segala berkat, rahmat, dan karunia-Nya penulis mampu untuk menjalani perkuliahan sampai pada tahap penyelesaian skripsi pada jurusan Hukum Ekonomi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ini.
Penulisan Skripsi yang diberi judul: “ANALISIS TERHADAP KEWENANGAN BADAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN DALAM MEMERIKSA DAN MENGADILI SENGKETA PEMBIAYAAN ( Studi Putusan Nomor 477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN MDN)” ini diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan kali ini, dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuannyaselama penyusunan skripsi, maupun selama menempuh perkuliahan terkhususnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. Dr. OK Saidin, S.H., M.Hum selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
4. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, SH.,M.H, selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi;
6. Ibu Tri Murti Lubis, SH.,M.H, Selaku Sekretaris Departemen Ekonomi;
7. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH.,M.Hum., yang merupakan Dosen Pembimbing I;
Terima kasih saya ucapkan atas bimbingan dan saran-saran yang sangat bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini;
8. Ibu Dr. Detania Sukarja, S.H.,LLM., yang merupakan Dosen Pembimbing II; Terimakasih atas bimbingannya sehingga skripsi ini dapat saya selesaikan.
9. Bapak Robert, SH.,M.H., yang telah memberikan saran dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Bapak Syaiful Azam, SH., M.Hum yang merupakan Dosen Pembimbing Akademik Penulis;
11. Seluruh Dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan memberikan ilmu terbaik, serta membimbing penulis dalam menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
12. Seluruh Staff pegawai dan tata usaha yang ada di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan urusan administrasi;
13. Terimakasih penulis sampaikan kepada Ibunda penulis yaitu Ibu Siti
Zainab Silalahi yang telah mencurahkan doa dan dukungan moril dan
materil sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini;
14. Terimakasih penulis ucapkan kepada seluruh abang dan kakak penulis yang telah mendukung penulis sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini;
15. Terimakasih kepada teman-teman sejawat penulis yang telah menemani selama masa perkuliahan penulis. Kepada Tommy Oktosia, Krisdobby Tumanggor, Hengki Fernando Tarigan, Bill Owen, Lamtorang Hasugian, Retno Harjono, Agus Tamal, Julham, Richard Immanuel, Rahul Viskhar, dan kepada seluruh teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu per satu penulis ucapkan banyak terimakasih.
16. Seluruh orang yang penulis kenal maupun mengenal penulis;
Akhir kata, Penulis menyadari terhadap kekurangan yang dikarenakan keterbatasan pengetahuan, kemampuan, kelalaian pengeditan, dan bahan-bahan literatur yang Penulis dapatkan. Oleh karena itu, Penulis bersedia menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak agar menjadi acuan Penulis dalam penyempurnaan penulisan dan dapat bermanfaat bagi kemajuan Ilmu Pengetahuan khususnya Ilmu Hukum.
Medan, 17 November 2020 Hormat Penulis,
JUMARLIN P SAMOSIR
NIM: 150200460
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………ii
DAFTAR ISI………....v
ABSTRAK………..vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………...………...…...…...… 1
B. Rumusan Masalah ……...………... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ...………..……... 8
D. Keaslian Penulisan ... 9
E. Tinjauan Kepustakaan ……...………... 12
F. Metode Penelitian ………...………... 17
G. Sistematika Penulisan ………...………... 21
BAB II TINJAUAN UMUM PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN DI INDONESIA A. Pengertian Konsumen ... .23
B. Dasar Hukum Penyelesaian Sengketa Konsumen …...……... 25
C. Sengketa Konsumen ………...………...… 28
D. Penyelesaian Sengketa Konsumen ……...………... 32
E. Bentuk-Bentuk Sanksi Dalam Sengketa Konsumen ……... 41
BAB III KEWENANGAN BPSK DALAM PENYELESAIAN SENGKETA
KONSUMEN
A. Latar Belakang dan Dasar Hukum Terbentuknya BPSK ... 48
B. Kedudukan BPSK dalam Sistem Peradilan Indonesia ... 56 C. Prosedur Beracara BPSK ... 61 D. Kekuatan Hukum Putusan BPSK ... 72
BAB IV ANALISIS TERHADAP PUTUSAN HAKIM NO. 477/PDT.SUS- BPSK/2019/PN MDN YANG MENYATAKAN BAHWA BPSK KOTA MEDAN TIDAK BERWENANG DALAM MEMERIKSA DAN MENGADILI PENGADUAN TERMOHON KEBERATAN TERDAFTAR DENGAN NOMOR: 041/ARBITRASE/2019/BPSK.MDN A. Kasus Posisi ... 75 B. Dalil-dalil Keberatan Pemohon Keberatan atas Putusan Nomor:
041/Arbitrase/2019/BPSK.Mdn ... 77 C. Pertimbangan Hakim ... 79 D. Putusan Hakim ... 82 E. Analisis Terhadap Putusan Hakim Yang Menyatakan Bahwa BPSK Kota
Medan tidak Berwenang dalam Memeriksa Dan Mengadili Pengaduan Termohon Keberatan terdaftar dengan Nomor:
041/Arbitrase/2019/BPSK.Mdn ... 83 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 88 B. Saran ... 89
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK Jumarlin P. Samosir
*Sunarmi**
Detania Sukarja***
Pemenuhan kebutuhan hidup oleh masyarakat selalu dihadapkan pada situasi untuk mengonsumsi barang dan atau jasa. Situasi itu akan menimbulkan hubungan timbal balik antara penyedia barang dan atau jasa (pelaku usaha) dengan konsumennya. Timbulnya hubungan antara pelaku usaha dengan konsumen didasari oleh kepentingan yang berbeda, dimana pelaku usaha ingin agar bisnisnya berjalan dan mendapatkan untung, sementara konsumen ingin agar kebutuhannya terpenuhi. Dalam usaha untuk mencapai tujan dan kepentingan tersebut, tidak jarang antara pelaku usaha dengan konsumen timbul masalah atau sengketa yang dapat menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha maupun konsumen. Agar kerugian seperti itu dapat diminimalisir maka diperlukan langkah penyelesaian sengketa tersebut dengan upaya-upaya yang tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pelaku usaha maupun konsumen. Salah satu langkah yang dilakukan yakni dengan mengupayakan penyelesaian melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), yang didirikan dengan tujuan agar sengketa konsumen dapat diselesaikan dengan baik sesuai konsep win win solution dengan isi putusan yang final dan mengikat bagi para pihak yang bersengketa . Akan tetapi, dalam pelaksanaannya para pihak yang terlibat sengketa sering melakukan upaya keberatan atas putusan sengketa konsumen yang dikeluarkan oleh BPSK yang notabene bersifat final dan mengikat. Hal ini menjadi suatu isu hukum yang menarik untuk dibahas, sebab timbul suatu pemikiran yang mengarah pada pertanyaan terkait status, ruang lingkup tugas dan wewenang ,serta batasan wewenang BPSK dalam hal penyelesaian sengketa konsumen.
Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian yuridis normatif untuk menganalisa status, ruang lingkup tugas dan wewenang serta batasan wewenang BPSK dalam penyelesaian sengketa konsumen. Guna memperkuat bahasan terkait wewenang dan batasan wewenang BPSK dilakukan analisis terhadap Putusan Nomor 477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN MDN .
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh beberapa
kesimpulan bahwa BPSK merupakan lembaga penyelesaian sengketa konsumen
yang berada pada jalur non litigasi (non pengadilan) dengan kedudukannya
sebagai lembaga quasi yudisial dalam bidang penyelesaian sengketa konsumen
yang sanksinya terbatas pada pemberian sanksi administratif bagi para pihak yang
dinyatakan bertanggungjawab atas tiSmbulnya sengketa konsumen dengan posisi
bahwa putusan BPSK dapat diajukan keberatan ke Pengadilan Negeri apabila
BPSK memeriksa dan mengadili perkara yang bukan wewenangnya sebagaimana
yang dimaksud dalam Putusan Nomor 477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN MDN.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pesatnya pembangunan dan perkembangan perekonomian telah menghasilkan banyaknya variasi produk barang dan/atau jasa. Hal ini memberi dampak yang baik bagi kepentingan konsumen karena kebutuhannya akan barang dan/atau jasa yang diinginkan dapat terpenuhi, tetapi kondisi tersebut juga dapat mengakibatkan konsumen hanya menjadi objek aktivitas bisnis oleh pelaku usaha.
1Hal ini memungkinan konsumen dirugikan oleh praktik-praktik curang para pelaku usaha sehingga konsumen perlu dilindungi secara hukum.
2Lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen atau yang selanjutnya disebut UUPK bertujuan meningkatkan harkat dan martabat konsumen dengan berbagai cara seperti meningkatkan kesadaran, kepedulian, dan kemandirian konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya dan menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum serta keterbukaan informasi sekaligus menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen.
3
1 Susanti Adi Nugroho, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen ditinjau dari Hukum Acara serta Kendala Implementasinya, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm1
2 Janus Sidabalok, Hukum Perliindungan Konsumen di Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2014), hlm 3
3 Abd Haris Hamid, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, (Makassar: Sah Media, 2017), hlm 4
Dalam hal mewujudkan tujuan tersebut, UUPK mengatur hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha. Salah satu hak konsumen adalah hak untuk mendapat advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian hukum secara patut.
4Hak ini berkaitan dengan upaya hukum dalam mempertahankan hak-hak konsumen melalui cara dan prosedur yang diatur berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan. Hak ini penting karena menjadi inti dari penyebutan dan penegasan tentang adanya hak-hak konsumen. Mempertahankan hak konsumen secara hukum berarti menjadikan hak-hak tersebut dapat di implementasikan secara langsung.
5Lembaga pembiayaan adalah salah satu pelaku usaha jasa keuangan yang banyak berkembang dewasa ini.
6Kehadiran Lembaga Pembiayaan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan penyediaan dana atau barang modal.
7Dibandingkan dengan lembaga keuangan perbankan dan non-perbankan, lembaga pembiayaan menawarkan syarat dan ketentuan yang jauh lebih mudah untuk dipenuhi masyarakat.
8Sekalipun menawarkan berbagai kemudahan, tidak jarang lembaga pembiayaan dikeluhkan oleh konsumen karena melakukan tindakan sepihak yang merugikan konsumennya. Sebagai akibatnya, banyak dari
4 Indonesia (Undang-Undang Perlindungan Konsumen), Undang-Undang Tentang Perlindungan Konsumen, UU No. 8 Tahun 1999, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 42 Tahun 1999, Pasal 4 angka 5.
5 Janus Sidabalok, Op. Cit, hlm 35
6 Indonesia (Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor: 1/Pojk.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, LN No 118 Tahun 2013, Pasal 1 angka 1.
7 Marhaeni Ria Siombo, Lembaga Pembiayaan dalam Perspektif Hukum, (Jakarta:
Penerbit Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, 2019), hlm 21
8 Sunaryo, Hukum Lembaga Pembiayaan, (Jakarta, Sinar Grafika, 2009), hlm 3
konsumen ini melakukan pengaduan ke berbagai instansi terkait perlindungan konsumen.
Dalam hal penyelesaian hukum secara patut, UUPK memfasilitasi konsumen untuk menyelesaikan sengketa melalui peradilan dan melalui lembaga khusus yang bertugas untuk menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha.
9Peradilan yang dimaksud adalah peradilan umum yang kekuasaan kehakimannya dilaksanakan oleh pengadilan negeri dan pengadilan tinggi.
10Pengadilan ini berwenang mengadili perkara perdata dan pidana.
11Penyelesaian sengketa konsumen melalui mekanisme pengadilan memiliki beberapa kelemahan yaitu proses penyelesaian sengketa yang lambat dan rumit, mahalnya biaya berperkara, tidak responsifnya pengadilan serta kemampuan para hakim yang masih bersifat generalis sehingga dianggap kurang efektif dalam penyelesaian sengketa konsumen.
12Dikarenakan penyelesaian sengketa melalui pengadilan mengakibatkan terkurasnya sumber daya, dana, waktu, pikiran dan tenaga, banyak dari konsumen mengutamakan pola-pola penyelesaian sengketa di luar pengadilan.
13Penyelesaian Sengketa di luar pengadilan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu kedua belah pihak dapat menyelesaikan sengketa secara damai dan dapat melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
14Penyelesaian
9 Indonesia (UUPK), op.cit, Pasal 1 butir 12.
10Indonesia (Peradilan Umum), Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum, Lembaran Negara Republik Indonesia No. 20. Pasal 3 ayat 1.
11 Indonesia (Peradilan Umum), Ibid, Pasal 50-51
12 Intan Nur Rahmawati dan Rukiyah Lubis, Win-Win Solution Sengketa Konsumen, (Yogyakarta: Medpress Digital, 2016), hlm 72-73
13 Susanti Adi Nugroho, op. cit., hlm 13
14 Ibid, hlm 14
sengketa secara damai adalah penyelesaian sengketa antara para pihak, dengan atau tanpa kuasa bagi masing-masing pihak, melalui cara-cara damai. Perundingan dilakukan secara musyawarah dan/atau mufakat antar para pihak bersangkutan.
15Penyelesaian Sengketa Konsumen melalui BPSK dilakukan dengan menggunakan mekanisme Penyelesaian Sengketa Alternatif, yaitu konsiliasi, mediasi dan arbitrase.
16.
Menurut ketentuan Pasal 54 ayat 3 UUPK yang disebutkan bahwa Putusan BPSK sebagai hasil dan penyelesaian sengketa konsumen secara mediasi atau arbitrase atau konsiliasi bersifat final dan mengikat. Pengertian final berarti bahwa penyelesaian sengketa telah selesai dan berakhir. Sedangkan kata mengikat mengandung arti memaksa dan sebagai sesuatu yang harus dijalankan oleh pihak yang diwajibkan untuk itu. Prinsip res judicata pro veritate hebetur, menyatakan bahwa suatu putusan yang tidak mungkin lagi untuk dilakukan upaya hukum, dinyatakan sebagai putusan yang mempunyai kekuatan hukum pasti, namun jika pasal tersebut dihubungkan dengan Pasal 56 ayat (2) dan Pasal 58 ayat (2) UUPK yang menyatakan bahwa terhadap putusan BPSK yang menyelesaikan sengketa antara konsumen dengan pelaku usaha dapat diajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri, dan terhadap putusan Pengadilan tersebut dapat diajukan Kasasi kepada Mahkamah Agung.
Hal ini menjadi kendala manakala terminologi ‘keberatan’ tidak dikenal dalam hukum acara yang ada. Dalam menanggapi masalah tersebut, Mahkamah
15 Dedi Harianto, Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Terhadap Iklan yang Menyesatkan, (Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010), hlm 240
16 Susanti Adi Nugroho, op.cit., hlm.14
Agung menerbitkan PERMA Nomor 1 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.
Penerbitan PERMA ini sebagai aturan yang memuat ketentuan terhadap tata cara pengajuan keberatan terhadap putusan BPSK ke Pengadilan Negeri yang selama ini menjadi hambatan bagi majelis hakim pengadilan negeri dalam memeriksa upaya keberatan putusan BPSK. Yang dimaksud dengan keberatan adalah upaya bagi pelaku usaha dan konsumen yang tidak menerima putusan BPSK.
17Keberatan hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase yang dikeluarkan oleh BPSK.
18Pembatalan terhadap putusan arbitrase BPSK dapat diajukan apabila memenuhi persyaratan pembatalan putusan arbitrase sebagaimana diatur dalam pasal 70 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa Alternatif.
19Begitupun, Menurut Susanti Adi Nugroho
20, apabila dilakukan penafsiran hukum secara luas pemeriksaan perkara keberatan putusan arbitrase BPSK tidak saja meliputi hal-hal yang mengandung unsur-unsur yang dapat dibatalkan, berdasarkan alasan pada Pasal 70 UU No. 30 Tahun 1999, tetapi juga meliputi keberatan terhadap penerapan hukum secara luas yang dapat dilakukan oleh BPSK yang meliputi:
17 Indonesia ( PERMA Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan BPSK), PERMA Nomor 01 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan BPSK, Pasal 1 butir 3.
18 Indonesia (PERMA Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan BPSK), Ibid, Pasal 2.
19 Indonesia (PERMA Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan BPSK), Ibid Pasal 6 butir 3
20 Susanti Adi Nugroho, op. cit., hlm 325
a. Adanya kesalahan dalam penerapan hukum;
b. Adanya kesalahan dalam menilai alat-alat bukti yang diajukan oleh para pihak;
c. Adanya kekurang cermatan dalam menggali fakta-fakta yuridis yang sesungguhnya dapat ditemukan dari alat-alat bukti yang diajukan oleh para pihak;
d. Adanya kesalahan karena suatu hal telah dikabulkan, walaupun tidak dituntut atau mengabulkan sesuatu hal lebih daripada yang dituntut;
e. Adanya kekhilafan dan kekeliruan dalam penerapan peraturan perundang-undangan dan hukum.
Kesalahan penerapan hukum sering diajukan ke Pengadilan Negeri oleh pihak yang dihukum majelis BPSK termasuk dalam sengketa pembiayaan. Penulis mengambil satu putusan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri kota Medan dengan nomor register 477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN Mdn antara PT. BUANA FINANCE, Tbk selaku kreditur/pemohon keberatan melawan Agung Prasetya Koto selaku debitur/termohon keberatan yang terlibat sengketa dalam hal perjanjian pembiayaan. Dalam perkara tersebut pihak kreditur yakni PT Buana Finance beranggapan bahwa putusan yang dikeluarkan oleh BPSK Kota Medan telah salah dalam penerapan hukumnya dan bertindak di luar batas kewenangannya dalam memutus sengketa yang diajukan oleh pihak debitur, sehingga dimohonkan kepada majelis hakim untuk diputus dengan amar BPSK Kota Medan tidak berwenang memutus perkara antara kreditur dengan debitur.
Merupakan suatu hal yang menarik karena ternyata dalam putusannya hakim
mengabulkan permohonan pemohon keberatan keseluruhan dan menyatakan bahwa BPSK Kota Medan tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili Pengaduan Termohon Keberatan/ Debitur yang telah diputus terlebih dahulu dalam Putusan Nomor 041/Arbitrase/2019/BPSK-Mdn.
. Berdasarkan latarbelakang tersebut, Penulis ingin mengkaji tentang penyelesaian sengketa konsumen serta kewenangan yang dimiliki BPSK dalam memeriksa dan mengadili sengketa pembiayaan, dan juga melakukan analisis terkait peritimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan dalam Putusan Nomor : 477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN Mdn yang menyatakan bahwa BPSK Kota Medan tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili Pengaduan Termohon Keberatan yang sebelumnya telah diputus dalam Putusan Nomor 041/Arbitrase/2019/BPSK-Mdn. Dengan demikian penulis memilih judul penulisan skripsi ini yaitu “Analisis Terhadap Kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Dalam Memeriksa Dan Mengadili Sengketa Pembiayaan (Studi Putusan Nomor 477/Pdt.Sus-Bpsk/2019/Pn Mdn)”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis paparkan diatas, penulis merumuskan beberapa hal yang menjadi masalah dalam penulisan skripsi ini, Ada pun yang masalah yang dibahas antara lain :
1. Bagaimana Sistem Penyelesaian Sengketa Konsumen berdasarkan
Peraturan Perundang-undangan di Indonesia ?
2. Bagaimana Kewenangan Badan Penyelesaian Sengeketa Konsumen dalam Penyelesaian Sengketa Konsumen ?
3. Mengapa Pengadilan dalam Putusan No.477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN Mdn memutus BPSK Kota Medan tidak memiliki kewenangan dalam memeriksa dan mengadili Pengaduan Termohon Keberatan terdaftar dengan Nomor: 041/Arbitrase/2019/BPSK.Mdn?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah sebagaimana telah diuraikan diatas maka tujuan dalam penulisan skripsi ini adalah :
a. Untuk mengetahui sistem penyelesaian sengketa konsumen berdasarkan peraturan Perundang-undangan di Indonesia.
b. Untuk mendapatkan pengetahuan secara komprehensif mengenai Kewenangan dari BPSK dalam Penyelesaian Sengketa Konsumen.
c. Untuk mengetahui secara mendetail pertimbangan Majelis Hakim dalam Perkara No.477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN Mdn memutuskan BPSK tidak memiliki kewenangan dalam memeriksa dan mengadili Pengaduan Termohon Keberatan terdaftar dengan Nomor:
041/Arbitrase/2019/BPSK.Mdn 2. Manfaat Penulisan :
Penulisan skripsi ini juga memberikan manfaat teoritis dan manfaat praktis, yaitu sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, tulisan ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian dan memberi sumbangsih pemikiran dalam rangka perkembangan ilmu hukum khususnya di bidang hukum perlindungan konsumen, yang berkaitan BPSK sebagai lembaga khusus yang diberi wewenang oleh UUPK sebagai lembaga penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi pembaca di bidang hukum terkait penyelesaian sengketa konsumen oleh BPSK khususnya konsumen yang menggunakan jasa lembaga pembiayaan serta dapat memberi masukan terkati penyelesaian sengketa konsumen bagi
BPSKdan pihak-pihak yang berkaitan dengan hukum perlindungan konsumen.
D. Keaslian Penulisan
Sepanjang pengamatan dan pengetahuan penulis, penelitian tentang Analisis Terhadap Kewenangan
BPSKdalam Memeriksa dan Mengadili Sengketa Pembiayaan Leasing masih jarang dilakukan pengkajian. Apabila ada penulisan yang membahas tentang kewenangan BPSK dalam memeriksa dan mengadili suatu sengketa konsumen, tentu saja judul dan rumusan masalahnya berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Setelah melakukan pencarian mengenai judul penelitian di repository usu dengan kata kunci “BPSK” dan
“Leasing” ditemukan beberapa skripsi dengan judul berikut:
1. Lismar Wahyuni, 2019, Penyelesaian Sengketa Konsumen oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Melalui Proses Arbitrase di Kota Medan (Kasus Antara Esrawaty Melawan PT Graha Kirana Development dalam Putusan No : 036/PEN/III/BPSK-MDN).
21Rumusan Masalah sebagai berikut :
a. Bagaimana kedudukan BPSK dalam penyelesaian sengketa konsumen?
b. Bagaimana penyelesaian sengketa konsumen melalui proses arbitrase di BPSK Kota Medan?
c. Bagaimana analisis hukum putusan No : 036/PEN/III/BPSK- MDN?
2. Amanda Prillia Daulay, 2018, TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN LEASING MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA (STUDI PUTUSAN NOMOR 613K/PDT.SUS- BPSK/2015).
22Rumusan masalah yang tercantum sebagai berikut:
a. Tinjauan Perjanjian Menurut KUHPerdata?
21 Lismar Wahyuni, “Penyelesaian Sengketa Konsumen oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Melalui Proses Arbitrase di Kota Medan (Kasus Antara Esrawaty Melawan PT Graha Kirana Development dalam Putusan No : 036/PEN/III/BPSK-MDN)”, Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan, 2019.
22 Amanda Prillia Daulay, “Tinjauan Yuridis Terhadap Perjanjian Leasing Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Studi Putusan Nomor 613k/Pdt.Sus-Bpsk/2015)”, Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan, 2018.
b. Perjanjian Leasing Pada Umumnya?
c. Bagaimana Akibat Hukum Dari Timbulnya Perjanjian Leasing pada Tinjauan Yuridis Terhadap Perjanjian Leasing Menurut Kitab UndangUndang Hukum Perdata (Studi Putusan Nomor 613K/PDT.SUSBPSK/2015)?
Terdapat perbedaan antara skripsi milik saudari Lismar wahyuni dengan skripsi yang penulis lakukan. Secara mendasar, kedua skripsi ini memang mengkaji mengenai sengketa konsumen dan peran dari BPSK dalam menyelesaikan sengketa konsumen tetapi penulis memiliki objek kajian yang berbeda yaitu mengenai sengketa leasing sedangkan objek kajian dari skripsi saudari Lismar Wahyuni membahas mengenai sengketa pengguna jasa perumahan.
Kemudian untuk perbedaan skripsi penulis dengan skripsi dari saudari Amanda Prillia Daulay terlihat dari berbedanya rumusan masalah yang dibahas.
Penulis menitikberatkan fokus meneliti tentang sengketa konsumen serta kewenangan dari BPSK sedangkan dalam skripsi saudari Amanda Prillia Daulay membahas tinjauan tentang perjanjian dan leasing dan tidak membahas dari aspek sengketa konsumen maupun tentang BPSK.
Dengan ini penulis dapat mengatakan bahwa belum ada pembahasan
mengenai skripsi yang diteliti oleh penulis. Hal ini dibenarkan oleh pusat
dokumentasi dan informasi hukum/perpustakaan universitas cabang fakultas
hukum melalui surat tertanggal 20 Februari 2020 yang menyatakan bahwa “Telah
diperiksa, tidak ada judul yang sama pada arsip perpustakaan universitas cabang fakultas hukum USU/Pusat dokumentasi dan informasi Hukum Fakultas Hukum USU.
E. Tinjauan Pustaka
1. Perlindungan Konsumen
Hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang lebih luas itu. Az Nasution
23misalnya berpendapat bahwa hukum konsumen yakni keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan dan masalah penyediaan dan penggunaan produk (barang dan/atau jasa) antara penyedia dan penggunanya, dalam kehidupan bermasyarakat. Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan/atau jasa konsumen, di dalam pergaulan hidup.
24Az Nasution
25mengakui asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah konsumen itu tersebar dalam berbagai bidang hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis. Ia menyebutkan seperti hukum perdata, hukum dagang, hukum pidana, hukum administrasi (negara) dan hukum internasional terutama konversi-konversi yang berkaitan dengan kepentingan- kepentingan konsumen.
26
23A. Z Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar, (Jakarta : Diadit Media, 2002), hlm 22
24 Andi Sri Rezeky, Nurdiyana Tadjuddin, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta:
Mitra Wacana Media, 2018), hlm 13
25 A. Z Nasution, Op cit, hlm 23
26 Andi Sri Rezeky, Op cit
Menurut Pasal 2 UUPK, perlindungan konsumen menganut lima asas yaitu asas manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan, dan keselamatan konsumen serta kepastian hukum. Berikut adalah penjelasannya :
27a. Asas-asas manfaat;
Asas ini mengamanatkan bahwa segala upaya dalam penyelenggaran perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara bersamaan. Asas ini mengkehendaki bahwa pengaturan dan penegakan hukum perlindungan konsumen tidak dimaksudkan untuk menempatkan salah satu pihak di atas pihak lain aau sebaliknya, tetapi untuk memberikan perlindungan kepada masing-masing pihak yaitu kepada produsen dan konsumen apa yang menjadi haknya dan berada pada posisi sejajar.
b. Keadilan;
Maksud daripada asas ini agar partisipasi seluruh masyarakat dapat diwujudkan secara maksimal dan dapat memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku usaha untuk mendapatkan haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil. Asas ini menghendaki bahwa melalui pengaturan dan penegakan hukum perlindungan konsumen, pelaku usaha dan konsumen dapat berlaku adil dalam memperoleh hak dan melaksanakan kewajibannya.
c. Keseimbangan;
27 Aulia Muthiah, Hukum Perlindungan Konsumen, Dimensi Hukum Positif dan Ekonomi Syariah, ( Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2018), hlm 42
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan antara kepentingan konsumen, pelaku usaha dan pemerintah baik materil dan spritual. Asas ini menghendaki agar kepentingan konsumen, produsen, dan pemerintah diatur dan harus diwujudkan sesuai dengan hak dan kewajibannya masing-masing.
d. Keamanan dan keselamatan konsumen;
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian, dan pemanfaatan barang/jasa yang dikonsumsi atau digunakan.
Asas ini menghendaki adanya jaminan hukum bahwa konsumen akan memperoleh manfaat dari produk yang dikonsumsi atau dipakai, dan sebaliknya bahwa produk itu tidak akan mengancam ketentraman dan keselamatan jiwa dan harta bendanya. Oleh karena itu, undang-undang ini memberikan sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi dan menetapkan sejumlah larangan yang harus dipatuhi oleh pelaku usaha dalam memproduksi dan mengedarkan produknya.
e. Kepastian hukum
Asas ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelengaaran perlindungan konsumen serta negara menjamin kepastian hukum.
Asas ini mengharapkan bahwa aturan-aturan tentang hak dan
kewajiban yang terkandung di dalam UUPK ini harus diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari sehingga masing-masing pihak memperoleh keadilan, oleh karena itu negara bertugas dan menjamin terlaksananya UUPK sebagaimana mestinya
Di dalam penjelasan pasal ini, ditegaskan bahwa perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama dalam konteks pembangunan nasional.
Dari kelima asas perlindungan konsumen pada Pasal 2 UUPK tersebut dapat dikatakan bahwa perlindungan konsumen ibarat sekeping uang logam yang memiliki dua sisi yang berbeda satu sisi merupakan sisi konsumen, sedangkan sisi yang lainnya sisi pelaku usaha dan tidak mungkin hanya menggunakan satu sisi tanpa menggunakan kedua sisinya sekaligus.
28Perlindungan konsumen mempunyai cakupan yang luas, meliputi perlindungan konsumen terhadap barang dan jasa yang berawal dari tahap kegiatan untuk mendapatkan barang dan jasa hingga sampai akibat-akibat dari pemakaian barang dan jasa tersebut.
29Cakupan perlindungan konsumen itu dapat dibedakan dalam dengan dua aspek yaitu:
301. Perlindungan terhadap kemungkinan barang yang serahkan kepada konsumen tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati
2. Perlindungan terhadap diberlakukannya syarat-syarat yang tidak adil kepada konsumen
Adapun tujuan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen yang direncanakan adalah untuk meningkatkan martabat
28 Yusuf Shofie, Penyelesaian Sengketa Konsumen Menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen, (Jakarta: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), hlm 154
29 Aulia Muthiah, Op cit, hlm 39
30 Ibid, hlm 39
dan kesadaran konsumen, dan secara tidak langsung mendorong pelaku usaha dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya dengan penuh tanggung jawab.
313. Alternatif Penyelesaian Sengketa ( Alternative Dispute Resolution)
Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati oleh para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli.
32Dengan demikian, jelaslah yang dimaksud dengan alternative dispute resolution dalam perspektif UUPK itu suatu pranata penyelesaian sengketa di luar pengadilan berdasarkan kesepakatan para pihak dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di pengadilan.
33UUPK telah menyediakan beberapa pranata pilihan penyelesaian sengketa secara damai yang dapat ditempuh para pihak untuk menyelesaikan sengketa perdata mereka, apakah mendayagunakan pranata negosiasi, konsiliasi, mediasi, atau penilaian ahli. Pilihan yang dapat diselesaikan oleh para pihak melalui pilihan penyelesaian sengketa hanyalah sengketa di bidang perdata saja.
34Penyelesaian dalam bentuk perdamaian ini hanya akan mencapai tujuan dan sasarannya bila didasarkan pada itikad baik di antara pihak yang bersengketa dengan mengesampingkan penyelesaian sengketa secara litigasi di pengadilan negeri.
35Berbeda dengan penyelesaian sengketa melalui litigasi di Pengadilan, di dalam APS tidak ada pihak ketiga yang mengambil keputusan. Namun demikian
31 Adrianus Meliala dalam Aulia Muthiah, Ibid
32 Indonesia (Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa), Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 138 Tahun 1999, Pasal 1 butir 10.
33 Susanti Adi Nugroho, Op cit, hlm 250
34 Ibid
35 Ibid, hlm 251
apabila di dalam pelaksanaan APS tersebut melibatkan pihak ketiga, maka peranannya adalah hanya dalam rangka mengusahakan agar para pihak mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa yang ada.
36Karakteristik lain dari mekanisme APS adalah kesukarelaan. Apabila tidak ada kesukarelaan diantara para pihak, maka mekanisme APS tidak akan bisa terlaksana. Kesukarelaan ini meliputi pilihan APS dan isi dari kesepakatan.
37F. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan logika yang menjadi dasar suatu penelitian ilmiah.
38Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis Penelitian hukum dalam studi ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem norma. Sistem norma yang dimaksud adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran).
39Sifat penelitian yang melekat pada penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian Deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa
36 Frans Hendra Winata, Hukum Penyelesaian Sengketa, Arbitrase Nasional Indonesia &
Internasional, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2018), hlm 29
37 Ibid
38 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 2010), hlm 6.
39 Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm 34
sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ialah untuk membuat deskripsi gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
40Dalam penelitian ini mendeskripsikan mengenai Kewenangan BPSK yang dapat diteliti dengan melihat tugas dan wewenang BPSK serta aspek-aspek lainnya yang berhubungan dengan penyelesaian sengketa konsumen.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Menurut Soerjono Soekanto data sekunder terdiri atas:
41a. Bahan hukum primer adalah bahan-bahan hukum yang terdiri dari peraturan perundangan, risalah resmi, putusan pengadilan dan dokumen resmi Negara.
42Bahan hukum primer dalam penelitian ini terdiri dari :
1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen;
2) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman;
3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum 4) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
5) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang;
40 Moh Nazar, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hlm 44
41 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, penelitian hukum normatif : Suatu Tinjauan Singkat, cet ke 7, Ed. Pertama, (Jakatra: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm 13
42 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Op cit, hlm 42
6) PERMA No. 01 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengajuan Keberatan Terhadap Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;
7) PEROJK No.1/POJK.07/2013 Tahun 2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan;
8) Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 Tentang Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;
9) Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 06/M- DAG/PER/2/2017 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen;
10) Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor : 477/Pdt.Sus- BPSK/2019/PN Mdn.
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder merupakan bahan dalam penulisan penelitian
hukum yang memberikan informasi atau hal-hal yang berkaitan
dengan isi sumber primer serta bagaimana implementasi dari bahan
hukum primer yang ada. Bahan hukum sekunder yang digunakan
dalam penelitian ini adalah berupa skripsi, tesis, disertasi, literatur
bacaan yang bersumber dari media cetak maupun elektronik serta
buku-buku yang yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Buku-
buku yang dipakai antara lain adalah sebagai berikut : Hukum
Perlindungan Konsumen Kajian teoritis dan Perkembangan
Pemikiran, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau dari Hukum Acara serta Kendala Implementasinya, Hukum Perlindungan Konsumen: Suatu Pengantar, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia: Edisi Revisi 2006. Selain buku-buku yang telah disebutkan, terdapat kemungkinan bahwa peneliti akan menggunakan sumber buku lain ataupun jurnal hukum sepanjang memiliki relevansi yang baik serta dapat menjadi bahan referensi yang berkualitas guna mendukung pembahasan penelitian ini
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk dan penjelasan terkait bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yang berupa kamus, ensiklopedia, dan lain-lain.
3. Metode Pengumpulan data
Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research): yaitu studi kepustakaan dengan mengumpulkan dan mempelajari buku-buku hukum, literatur, tulisan-tulisan ilmiah, peraturan perundang-undangan, media elektronik yaitu internet dan bacaan-bacaan yang lainnya yang berhubungan dengan materi yang dibahas.
434. Analisis Data
Data yang akan diperoleh dari hasil penelitian ini akan disusun dan dianalisis secara kualitatif, kemudian data tersebut diuraikan secara
43 Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian hukum, (Jakarta : UI Press, 1986), hlm 24
deskriptif guna memperoleh gambaran yang dapat dipahami secara jelas dan terarah untuk menjawab permasalahan yang penulis teliti.
G. Sistematika Penulisan
Untuk menghasilkan karya ilmiah yang baik, maka pembahasannya harus diuraikan secara sistematis. Untuk memudahkan penulisan skripsi ini maka diperlukan suatu sistematika penulisan yang teratur yang penulis bagi dalam bab per bab, dimana masing-masing bab diuraikan masalahnya sendiri dengan sistematika sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan, bab ini menjelaskan secara umum mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II: Tinjauan Umum Penyelesaian Sengketa Konsumen Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia, bab ini menjelaskan tentang penyelesaian sengketa konsumen berdasarkan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. Bab ini berisi penjelasan tentang Pengertian Konsumen, Dasar Hukum Penyelesaian Sengketa Konsumen, Sengketa Konsumen, Penyelesaian Sengketa Konsumen, Bentuk-bentuk Sanksi dalam Sengketa Konsumen.
Bab III : Kewenangan BPSK Dalam Penyelesaian Sengketa Konsumen, bab
ini akan menguraikan mengenai Kewenangan BPSK dalam menyelesaikan
Sengketa Konsumen. Dalam bab ini berisi penjelasan tentang Dasar
Pembentukan BPSK, Keanggotaan BPSK, Kewenangan BPSK, Prosedur Beracara di BPSK serta Kekuatan Hukum dari Putusan BPSK.
Bab IV : Analisis Penerapan Hukum Oleh Majelis Hakim Dalam Putusan No.477/Pdt.Sus-Bpsk/2019/Pn Mdn, dalam bab ini berisi uraian mengenai putusan PN Medan No : 477/Pdt.Sus-BPSK/2019/PN Mdn. Bab ini berisi tentang : kasus posisi antara PT. Buana Finance, Tbk. Melawan Agung Prastya Koto, Pertimbangan Hukum oleh Majelis Hakim serta Analisis Kasus.
BAB V : Penutup, bab penutup ini berisi 2 (dua) sub-bab yaitu mengenai
Kesimpulan dan Saran.
BAB II
TINJAUAN UMUM SISTEM PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN
A. Pengertian Konsumen
Istilah konsumen berasal dan alih bahasa dari kata consumer (Inggris- Amerika), atau consument (Belanda). Secara harfiah, arti consumer diartikan sebagai (lawan dari produsen) “seseorang yang menggunakan barang.
44Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), Konsumen diartikan sebagai pemakai barang hasil produksi (bahan pakaian, makanan dan sebagainya), penerima pesan iklan dan pemakai jasa (pelanggan dan sebagainya).
45Dalam ketentuan hukum positif di Indonesia dipergunakan istilah–istilah yang bermakna dengan istilah konsumen yang terdapat di berbagai peraturan perundang-undangan, misalnya penyewa, pembeli, peminjam-pakai (KUHPerdata), rakyat (Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Barang), Nasabah (perundang-undangan di bidang perbankan dan asuransi), pengguna jasa (perundang-undangan pertelekomunikasian dan perhubungan), masyarakat (perundang-undangan di bidang kesehatan), khalayak (perundang-undangan di bidang penyiaran) dan lain-lain.
46Terdapat berbagai pendapat mengenai pengertian konsumen yang dikemukakan oleh para ahli hukum. Menurut AZ Nasution
47, “Konsumen adalah
44 Abdul Halim Barkatulah, op. cit., hlm 7
45 KBBI
46 Abd Haris Hamid, op. cit., hlm 25
47 A.Z Nasution dalam Wahyu Sasongko, Ketentuan-ketentuan Pokok Hukum Perlindungan Konsumen, (Bandar Lampung: Penerbit Unila, 2007), hlm 54
setiap pengguna barang atau jasa untuk kebutuhan diri sendiri, keluarga atau rumah tangga dan tidak untuk memproduksi barang/jasa lain atau memperdagangkannya kembali” Menurut Ika Meutiah
48, definisi konsumen dapat digolongkan sebagai berikut:
“Konsumen umum (pemakai, pengguna, pemanfaat barang dan/atau jasa untuk kebutuhan tertentu), konsumen antara (pemakai, pengguna, pemanfaat barang dan/atau jasa untuk memperdagangkannya, dengan tujuan komersial), dan konsumen akhir (pemakai, pengguna, pemanfaat barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri atau rumah tangganya dengan tujuan tidak untuk memperdagangkan kembali).”
Jika merujuk kepada undang-undang, terdapat beberapa pengertian konsumen seperti di dalam Undang-udang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat termuat definisi tentang konsumen, yaitu “Konsumen adalah setiap pemakai dan atau pengguna barang dan atau jasa, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan orang lain”
49. Istilah konsumen sebagai definisi yuridis formal terdapat dalam UUPK. UUPK menyatakan, “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun mahkluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”. Definisi ini sesuai dengan pengertian bahwa konsumen adalah pengguna terakhir, tanpa melihat konsumen tersebut pembeli dari barang ataupun jasa. Sehubungan dengan hal tersebut, jelas bahwa yang dimaksud dengan konsumen yaitu orang pemakai akhir
48 Ika Meutiah, Perkembangan Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, (Jakarta:
Rajawali Grafindo Persada, 2006), hlm 12
49 Indonesia (Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat), Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3817. Pasal 1 huruf O.
dari suatu produk barang ataupun jasa. Tujuan pembelian produk barang ataupun jasa tersebut untuk dikonsumsi diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperjualbelikan lagi.
B. Dasar Hukum Penyelesaian Sengketa Konsumen
UUPK merupakan landasan yuridis formal terhadap penyelesaian sengketa antara konsumen dan pelaku usaha. UUPK mengatur bahwa Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.
50Di dalam pasal ini ditegaskan bahwa terdapat dua cara yang ditempuh dalam penyelesaian sengketa konsumen yaitu melalui pengadilan dan di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak. Kemudian, di dalam Pasal 48 disebutkan “Penyelesaian Sengketa Konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam pasal 45”.
Untuk dapat mengetahui penyelesaian sengketa melalui pengadilan dengan mengacu pada ketentuan peradilan umum, maka perlu dijelaskan mengenai apa yang dimaksud tentang peradilan umum itu. Peradilan Umum adalah satu pelaksana Kekuasaan Kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya.
51Kekuasaan Kehakiman di lingkungan Peradilan Umum dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.
52Peradilan Umum sebagaimana yang
50 Indonesia (UUPK), op.cit, Pasal 45 ayat (2).
51 Indonesia (Peradilan Umum), op. cit, Pasal 2.
52 Indonesia (Peradilan Umum), Ibid, Pasal 3 ayat (1).
digariskan Pasal 50 dan Pasal 51 UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, hanya berwenang mengadili perkara :
531. Perdata (perdata umum dan niaga) 2. Pidana (Pidana umum dan khusus).
Dengan berlandaskan ketentuan tersebut, maka terdapat aspek hukum perdata maupun pidana yang digunakan dalam penyelesaian sengketa konsumen.
Ditinjau dari aspek hukum perdata, sebelum berlakunya UUPK, gugatan pelanggaran pelaku usaha terhadap hak-hak konsumen dapat diajukan oleh konsumen atau ahli warisnya kepada pengadilan negeri berdasarkan gugatan wanprestasi ataupun gugatan perbuatan melawan hukum.
54Gugatan ini didasarkan pada beberapa ketentuan dalam KUHPerdata, seperti Pasal 1243 tentang ganti kerugian akibat ingkar janji atau wanprestasi sebagai dasar gugatan konsumen kepada produsen karena produsen dinilai telah melakukan ingkar janji berkaitan dengan produk yang dijualnya atau produsen dinilai telah mengingkari janji yang secara tegas dinyatakan oleh produsen baik berdasarkan Pasal 1365 tentang perbuatan melawan hukum maupun berdasarkan kelalaian Pasal 1366 KUHPerdata.
55Ketentuan materiil mengenai tuntutan ganti kerugian tersebut dipadukan dengan prosedur formal hukum acara perdata yaitu Pasal 1865 KUHPerdata dan pasal 163 HIR yang membebankan kepada pihak penggugat (konsumen) untuk membuktikan kesalahan dan kelalaian pihak tergugat (produsen).
53 M Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm 181
54 Susanti Adi Nugroho, Op cit, hlm 95
55 Ibid. hlm 96
Ditinjau dari aspek hukum pidana, terdapat beberapa pasal yang berkaitan dengan perlindungan konsumen, antara lain:
561. Pasal 204 dan Pasal 205 KUHP tentang barang berbahaya, kedua pasal ini digolongkan dalam kejahatan yang mendatangkan bahaya bagi keamanan umum manusia atau barang. Dalam keadaan tertentu, perbuatan merugikan atau membahayakan keselamatan umum melalui produk sebagai alat atau medianya dapat digolongkan sebagai tindak pidana melanggar kepentingan umum.
2. Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, dalam keadaan tertentu pebuatan yang merugikan konsumen dengan memakai produk sebagai alat atau medianya, misalnya makanan beracun dapat digolongkan sebagai pembunuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP.
3. Pasal 378 KUHP tentang Penipuan, jika pelaku usaha melakukan penipuan melalui iklan seperti menyiarkan iklan secara tidak benar sehingga merugikan konsumen maka dapat diancam sesuai Pasal 378 KUHP di atas.
4. Pasal 390 KUHP tentang menyebarkan berita bohong, Pasal ini ditujukan pada perbuatan menyiarkan berita bohong oleh pelaku usaha sehingga harga-harga menjadi naik atau turun. Dengan kata lain, perbuatan seorang pelaku usaha yang menyiarkan berita bohong dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana.
56 Janus Sidabalok, op. cit., hlm 151
Dasar hukum penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan dapat ditempuh melalui:
1. Upaya perdamaian antara para pihak yang bersengketa dengan mengacu kepada Perma No. 1 Tahun 2016 tentang mediasi, Pasal 130 HIR, Pasal 154 Rbg.
2. Melalui Lembaga Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dengan mengacu pada ketentuan dalam UUPK, khususnya dalam bab X (sepuluh) tentang Penyelesaian Sengketa yang terdiri dari Pasal 45 sampai dengan Pasal 48 serta Bab XI (sebelas) tentang Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang terdiri dari Pasal 49 sampai dengan Pasal 58 UUPK.
C. Sengketa Konsumen
Pengertian sengketa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pertentangan atau konflik. Sengketa dapat juga dimaksudkan sebagai adanya ketidakserasian antara pribadi–pribadi atau kelompok-kelompok yang mengadakan hubungan karena hak salah satu pihak terganggu atau dilanggar.
57Asal mula sengketa berawal pada situasi dimana pihak yang satu merasa dirugikan oleh pihak lain, biasanya hal itu dimulai oleh perasaan tidak puas oleh salah satu pihak, bersifat subjektif dan tertutup yang dialami oleh seseorang maupun kelompok. Apabila perasaan tidak puas itu disampaikan kepada pihak kedua dan pihak kedua menanggapi dan dapat memuaskan pihak pertama, maka
57 KBBI
selesailah konflik tersebut. Sebaliknya, apabila perbedaan pendapat tersebut terus berkelanjutan maka akan terjadi apa yang disebut sebagai sengketa.
58Sengketa dalam pengertian sehari-hari dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana pihak-pihak yang melakukan upaya-upaya perniagaan mempunyai masalah yaitu menghendaki pihak lain untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu tetapi pihak lainnya menolak atau tidak berlaku demikian.
59Sengketa juga dapat dimaksudkan sebagai adanya ketidakserasian antara pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok yang mengadakan hubungan karena hak salah satu pihak terganggu atau dilanggar.
60Menurut Stewart yang dikutip dalam buku Yusuf Shofie, kosakata sengketa mestinya tidak hanya bersifat merusak dan merugikan, melainkan bersifat membangun, menarik/menantang serta dinamis sebagai katalisator perubahan.
61Apabila dikaitkan antara pengertian Konsumen menurut UUPK dengan Pasal 4 UUPK yang mengatur mengenai hak-hak konsumen, maka dapat diartikan bahwa sengketa konsumen adalah sengketa yang terjadi antara konsumen sebagai pengguna barang atau jasa di satu pihak dengan pelaku usaha atau produsen di pihak lain yang dianggap telah melanggar hak-hak konsumen.
62Menurut keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan dengan Surat Keputusan Nomor: 350/MPP/Kep/12/2001, yang dimaksud dengan sengketa
58 Suyud Margono, Pelembagaan Alternative Dispute Resolution (ADR), Dalam Praktek dan pelaksanaan Arbitrase di Indonesia, (Bandung: PT. Citra Adya Bakti, 2001), hlm 21
59 Komar Kartaatmadja, Beberapa Masalah Dalam Penerapan ADR Di Indonesia, Dalam Prospek dan Pelaksanaan Arbitrase di Indonesia (Bandung: PT. Citra Adya Bakti, 2001),hlm 37
60 Soerjono Soekanto, Mengenai Antropologi hukum, (Bandung: Alumni, 1979), hlm 29
61 Yusuf Shofie, Op cit, hlm 12
62 Abdul Halim Barkatulah, Op cit. hlm 109
konsumen adalah “sengketa antara pelaku usaha dengan konsumen yang menuntut ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan atau yang menderita kerugian akibat mengkonsumsi barang atau memanfaatkan jasa”.
Karakteristik sengketa konsumen berbeda dengan sengketa bisnis pada umumnya. Sengketa konsumen memiliki karateristik khusus. Kekhususan tersebut dapat dilihat dari posisi konsumen dan metode apa yang paling tepat untuk menyelesaikannya. Al. Wisnubroto merinci karateristik tersebut dalam 3 (tiga) hal, yaitu:
631. Sengketa konsumen lahir dari tidak adanya keseimbangan kedudukan antara pihak pelaku usaha dan konsumen. Pelaku usaha lebih dominan dan konsumen lebih needy hal ini dapat diketahui dengan dianutnya prinsip take it or leave it.
2. Pada umumnya sengketa konsumen tidak cocok diselesaikan melalui mekanisme litigasi yang formal, berbelit-belit dan mahal.
3. Sengketa konsumen adalah salah satu sengketa bisnis yang didominasi oleh interest dan bukan right atau power.
Sengketa antara konsumen dan pelaku usaha pada umumnya didasarkan kepada hal-hal yang tidak dikehendaki bahkan tidak diduga oleh konsumen sebelumnya. Dari berbagai macam penyebab timbulnya sengketa, secara terperinci sengketa konsumen terkait lima hal berikut:
64
63 Al. Wisnubroto dalam BIMTEK bagi Anggota BPSK kota Yogyakarta 2013-2017 Diselenggarakan oleh Bidang Perdagangan Disperindakoptan Kota Yogyakarta, 28 Agustus 2013
64 Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Departemen Perdagangan Tahun 2009, Penyempurnaan Peranan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, Jakarta 2009, Hlm. 39-44.
1. Barang yang Tidak Standar
Barang yang tidak standar adalah barang yang tidak memenuhi ketentuan spesifikasi teknis, dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi masa kini dan masa mendatang untuk memperoleh manfaat yang sebesar- besarnya.
2. Informasi yang Mengelabui
Ada perlindungan konsumen dilihat dari sisi perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha yang memberikan informasi atas barang atau jasa yang ditawarkan untuk diperdagangkan dengan tidak lengkap, tidak benar, tidak jelas, dan tidak jujur.
3. Cara Jual yang Merugikan
Ada juga perlindungan konsumen dilihat dari sisi perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam hal cara menjual barang atau jasa dengan mengelabui atau menyesatkan konsumen. Sebagai contoh, sebuah took menyebarkan brosur yang menyatakan bahwa produk yang dijual di diskon 30 persen, tetapi ternyata harga barang tersebut telah dinaikkan sebelumnya sebesar 30 persen.
4. Cidera Janji (Wanprestasi)
Ada perlindungan konsumen dilihat dari sisi perbuatan yang dilakukan bagi pelaku usaha yang tidak memenuhi kewajibannya sebagaimana tercantum dalam perjanjian yang telah disepakati dan ditandatangani.
5. Klausula Baku
Pencantuman klausula baku merupakan salah satu perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha dalam setiap perjanjian atau dokumen yang berpotensi merugikan konsumen. Klausula baku dapat dikatakan sebagai upaya pelaku usaha dalam mengalihkan tanggungjawab yang seharusnya dipegangnya menjadi tanggungjawab pihak lain dalam rangka menghindari adanya kerugian dipihak pelaku usaha. Sebagai contoh, dalam karcis parkir tertera kalimat “jika kendaraan rusak atau hilang, maka diluar tanggung jawab pengelola parkir”.
D. Penyelesaian Sengketa Konsumen
Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui dua cara, yaitu enyelesaian sengketa konsumen melalui proses pengadilan dan penyelesaian sengketa konsumen secara diluar pengadilan.
1. Penyelesaian sengketa konsumen melalui proses pengadilan. Proses penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan dapat meliputi perkara perdata dan pidana. Pengajuan gugatan secara perdata diselesaikan menurut instrumen hukum perdata di Peradilan Umum.
Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui
lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku
usaha melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum.
65Proses penyelesaian sengketa melalui pengadilan negeri, dilakukan seperti halnya mengajukan gugatan sengketa perdata biasa, dengan mengajukan tuntutan ganti kerugian baik berdasarkan perbuatan melawan hukum, gugatan ingkar janji/wanprestasi atau kelalaian dari pelaku usaha/produsen yang menimbulkan cedera, kematian atau kerugian bagi konsumen.Gugatan perdata ini diajukan melalui pengadilan negeri di tempat kedudukan konsumen. Hal ini berdasarkan ketentuan pasal 23 UUPK yang merupakan lex specialis terhadap Pasal 118 HIR, yang mana dalam pasal 118 HIR mensyaratkan pengajuan gugatan perdata berdasarkan kedudukan pelaku usaha yang menjadi tergugat.
Dalam hal gugatan perdata di Pengadilan Negeri, pihak konsumen yang diberikan hak mengajukan gugatan, yaitu:
661. Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan;
2. Sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama;
3. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat, yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organsisasi itu adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya.
65 Indonesia (UUPK), op.cit Pasal 45 ayat (1).
66 Indonesia (UUPK), op.cit ., Pasal 46.
4. Pemerintah dan/atau instansi terkait jika barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit.
Terkait ketentuan Pasal 46 UUPK di atas, Celina Tri Siwi Kristiyanti
67mengklsifikasikan konsumen kedalam empat klasifikasi dan berpendapat bahwa pada klasifikasi yang pertama yaitu seseorang konsumen (atau ahli warisnya).
tidak ada yang istimewa dilihat dari ketentuan beracaranya. Hal yang menarik justru terlihat pada klasifikasi kedua dan seterusnya. Pada klasifikasi kedua, gugatan dapat dilakukan oleh sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama. Ketentuan ini harus dibedakan dengan gugatan dengan mewakilkan kepada orang lain seperti diatur dalam Pasal 123 ayat (1) HIR.
Penjelasan Pasal 46 menyebutkan gugatan kelompok ini dengan istilah class action. Kemudian klasifikasi ketiga adalah lembaga swadaya masyarakat. Di sini dipakai istilah lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Klasifikasi ini berkaitan dengan legal standing. Klasifikasi penggugat dalam sengketa konsumen keempat atau terakhir adalah pemerintah dan/atau instansi terkait.
Mereka baru akan menggugat pelaku usaha apabila ada kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit.
Terkait dengan penyelesaian sengketa konsumen melalui instrumen hukum pidana, Abdul Rahman Tibahary
68dalam artikelnya merumuskan bahwa sanksi pidana dalam UUPK dalam batas-batas tertentu dipandang sepadan dengan
67 Celina Tri Siwi Kristiyanti, op. cit., hlm. 177
68Abdul Rahman Tibahary, “ Tinjauan Yuridis Tentang Penyelesaian Sengketa Konsumen”,JurnalKolaboratifSains,http://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/jom/article/view/508 2018, hlm 4
kebutuhan untuk melindungi dan mempertahankan kepentingan-kepentingan tersebut, yang secara lebih khusus kepentingan- kepentingan itu dirumuskan dalam hak-hak konsumen dengan asumsi hukum pidana baru digunakan bila instrumen-instrumen hukum lainnya sudah tidak berdaya lagi untuk melindungi konsumen. Hal ini dikarenakan dalam UUPK terdapat sarana nonpidana yakni sanksi perdata dan sanksi administrasi negara yang diharapkan memiliki pengaruh preventif.
69Anita DA Kolopaking
70dalam bukunya merumuskan bahwa penggunaan sistem litigasi mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam penyelesaian suatu sengketa. Adapun kelebihan penggunaan sistem litigasi yang beliau rumuskan yaitu:
1. Dalam mengambil alih keputusan dari para pihak, litigasi sekurang- kurangnya dalam batas tertentu menjamin bahwa kekuasaan tidak dapat mempengaruhi hasil dan dapat menjamin ketentraman sosial.
2. Litigasi sangat baik sekali untuk menemukan kesalahan-kesalahan dan masalah-masalah dalam posisi pihak lawan.
3. Litigasi memberikan suatu standar bagi produsen yang adil dan memberikan peluang yang luas kepada para pihak untuk didengar keterangannya sebelum mengambil keputusan.
4. Litigasi membawa nilai-nilai masnyarakat untuk menyelesaikan sengketa pribadi.
69 Ibid
70 Anita D A Kolopaking, Asas Iktikad Baik dalam Penyelesaian Sengketa Kontrak Melalui Arbitrase, (Bandung: PT Alumni, 2013), hlm 39