BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NOTARIS, DEPOSITO DAN
2.1.2 Kewenangan, kewajiban dan larangan notaris
Istilah wewenang atau kewenangan sering disejajarkan dengan istilah
“bevoegdheid” dalam istilah hukum Belanda. Istilah “bevoegdheid” digunakan baik
dalam konsep hukum publik maupun konsep hukum privat. Dalam hukum kita, istilah kewenangan atau wewenang seharusnya digunakan dalam konsep hukum publik. Wewenang (atau sering pula ditulis dengan istilah kewenangan) merupakan suatu tindakan hukum yang diatur dan diberikan kepada suatu jabatan berasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang mengatur jabatan yang bersangkutan.19 Tanpa adanya kewenangan sah seorang pejabat tidak dapat melaksanakan suatu perbuatan sesuai dengan jabatannya. Dengan demikian setiap wewenang ada batasannya sebagaimana yang tercantum dalam peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, termasuk wewenang Notaris yang dibatasi oleh undang-undang yang mengatur jabatan yang bersangkutan. Jabatan memperoleh wewenang melalui tiga sumber yaitu atribusi, delegasi dan mandat.20
Mengenai atribusi, delegasi dan mandat ini H.D. Van Wijk/Willemn konijnenbelt mendefinisikan sebagai berikut :
a. Atribusi adalah pemberian wewenang pemerintahan oleh pembuat undang-undang kepada organ pemerintah.
b. Delegasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan dari satu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan lainnya.
19
Habib Adjie, 2014, Hukum Notaris Indonesia, PT Rafika Aditama, Bandung, h.77. 20
c. Mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan kewenangannya dijalankan organ lain atas namanya.21
Sejalan dengan pengertian wewenang yang dikemukakan oleh Sadjijino, bahwa secara teoritis pemerintah memperoleh wewenang melalui tiga cara dan sekaligus melekat sebagai wewenangnya,yaitu :
a. Wewenang artibusi (atributie bevoegdheid), adalah wewenang pemerintah yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan;
b. Wewenang delegasi (delegatie bevogdheid), adalah wewenang yang diperoleh atas dasar pelimpahan wewenang dari badan/organ pemerintahan yang lain.
c. Wewenang mandat (mandaaat bevogdheid), adalah pelimpahan wewenang yang pada umumnya dalam hubungan rutin antara bawahan dengan atasan, kecuali dilarang secara tegas oleh peraturan perundang-undangan
Berdasarkan UUJN, Notaris sebagai pejabat umum memperoleh wewenang secara atribusi, karena wewenang tersebut diciptakan dan diberikan oleh UUJN sendiri.22 Jadi wewenang yang diperoleh Notaris bukan berasal dari lembaga lainnya, misalnya Departemen Hukum dan HAM. Sehingga Notaris memiliki legalitas untuk melakukan perbuatan hukum yaitu membuat akta otentik. Kewenangan Notaris lebih lanjut diatur dalam Pasal 15 ayat (1), (2), dan (3) sebagaimana dalam UUJN perubahan atas UUJN sebelumnya, yang dapat dibagi menjadi :
a) Kewenangan Umum Notaris; b) Kewenangan Khusus Notaris; dan
c) Kewenangan Notaris yang akan ditentukan kemudian.
21
Ridwan HR, 2011, Hukum Administrasi Negara, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 102. 22
Kewenangan utama atau umum yang ditentukan dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN. Dalam ketentuan Pasal 15 ayat (1) UUJN menyatakan bahwa “Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan / atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang”.
Selain wewenang utama, Notaris juga memilik wewenang khusus untuk melakukan tindakan hukum sebagaimana diataur dalam Pasal 15 ayat (2) UUJN perubahan atas UUJN sebelumnya. Dalam Pasal 15 ayat (2) UUJN menyatakan
bahwa “selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Notaris berwenang pula :
a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
b. Membubuhkan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;
c. Membuat kopi dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;
d. Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya; e. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta; f. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan; dan
Kewenangan lain-lain ditentukan dalam Pasal 15 ayat (3) UUJN yang menyatakan bahwa “selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan”.
Salah satu wewenang Notaris yaitu, memberi penyuluhan hukum. Penyuluhan hukum yang diberikan seperti memberikan nasehat hukum dan memberi informasi dalam rangka pembuatan akta otentik, sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat (2) huruf e UUJN perubahan atas UUJN sebelumnya. Seorang Notaris dalam membuat sebuah akta otentik tidak hanya menerima begitu saja apa yang diminta oleh pihak atau penghadap untuk dituangkan ke dalam akta, tetapi juga harus berperan aktif dengan membuat penilaian terhadap isi dari akta yang dimintakan kepadanya dan tidak perlu ragu untuk menyatakan keberatan atau menolak, jika kepentingan pihak yang memintanya tidak sesuai dengan kelayakan maupun undang-undang.
Notaris selaku pejabat umum yang mempunyai kewenangan membuat akta otentik, dalam menjalankan tugasnya melekat juga kewajiban yang harus dipatuhi, karena kewajiban tersebut merupakan suatu yang harus dilaksanakan. Kewajiban atau disebut juga dengan duty atau obligation atau responsibility (bahasa Inggris) atau
verplichting (bahasa Belanda) dikonsepkan sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan
oleh orang atau badan hukum atau Notaris dalam melaksanakan kewenangannya. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf b UUJN menyatakan bahwa
“Membuat Akta dalam bentuk Minuta Akta dan menyimpannya sebagai bagian dari Protokol Notaris”.
Mengenai ketentuan yang terdapat dalam Pasal 16 UUJN di atas, maka Notaris dalam menjalankan tugasnya selain memiliki kewajiban yang harus dijalani juga yaitu Notaris harus tunduk pada larangan-larangan yang harus ditaati dalam menjalankan tugas dan jabatannya. Larangan bagi Notaris merupakan aturan yang memerintahkan kepada Notaris untuk tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun larangan tersebut tercantum dalam Pasal 17 ayat (1) UUJN ditentukan secara jelas bahwa Notaris dilarang :
a. Menjalankan jabatan diluar wilayah jabatannya;
b. Meninggalkan wilayah jabatannya lebih dari 7 (tujuh) hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang sah;
c. Merangkap sebagai pegawai negeri;
d. Merangkap jabatan sebagai pejabat negara; e. Merangkap jabatan sebagai advokat;
f. Merangkap jabatan sebagai pemimpin atau pegawai badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah atau badan usaha swasta;
g. Merangkap jabatan sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah dan/atau Pejabat Lelang Kelas II diluar tempat Kedudukan Notaris;
h. Menjadi Notaris pengganti;atau
i. Melakukan pekerjaan lain yang bertentangan dengan norma agama, kesusilaan, atau kepatutan yang dapat mempengaruhi kehormatan dan martabat jabatan Notaris.