BAB III KEWENANGAN KEPOLISIAN DALAM MEMBERANTAS
B. Kewenangan Menurut Undang-Undang Kepolisian
Pengertian kewenangan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) adalah kekuasaan membuat keputusan memerintah dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain.102
Secara pengertian bebas kewenangan adalah hak seorang individu untuk melakukan sesuatu tindakan dengan batas-batas tertentu dan diakui oleh individu lain dalam suatu kelompok tertentu. Sementara berbicara tentang sumber-sumber kewenangan,maka terdapat 3 ( tiga ) sumber kewenangan yaitu :
Berbicara kewenangan memang menarik, karena secara alamia manusia sebagai mahluk sosial memiliki keinginan untuk diakui ekstensinya sekecil apapun dalam suatu komunitasnya,dan salah satu factor yang mendukung keberadaan ekstensi tersebut adalah memiliki kewenangan.
103
1. Sumber Atribusi yaitu pemberian kewenangan pada badan atau lembaga / pejabat Negara tertentu baik oleh pembentuk Undang-Undang Dasar maupun pembentuk Undang-Undang.Sebagai contoh : Atribusi kekuasaan presiden dan DPR untuk membentuk Undang-Undang.
102
Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Pengertian Kewenangan”, Balai Pustaka, Jakarta Cetakan ke 3, Hal 439.
103
http://www.negarahukum.com/hukum/pengertian-kewenangan.html, diakses pada tanggal 17 April 2003.
2. Sumber Delegasi Yaitu penyerahan atau pelimpahan kewenanangan dari badan / lembaga pejabat tata usaha Negara lain dengan konsekuensi tanggung jawab beralaih pada penerima delegasi.Sebagai contoh : Pelaksanaan persetujuan DPRD tentang persetujuan calon wakil kepala daerah.
3. Sumber Mandat yaitu pelempahan kewenangan dan tanggung jawab masih dipegang oleh sipemberi mandat.Sebagai contoh : Tanggung jawab memberi keputusan-keputusan oleh menteri dimandatkan kepada bawahannya.
Dari ketiga sumber tersebut maka merupakan sumber kewenangan yang bersifat formal,sementara dalam aplikasi dalam kehidupan social terdapat juga kewenanagan informal yang dimiliki oleh seseorang karena berbagai sebab seperti : Kharisma, kekayaan, kepintaran, ataupun kelicikan.
Tapi pada kesempatan ini, akan lebih banyak berbicara tentang kewenangan yang bersifat formal dan berkaitan erat dengan konsep hubungan pemerintah pusat dan daerah.Pasal 10 ayat 3 Undang-undang No32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah menyatakan bahwa urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah (pusat) meliputi :
g. Politik luar negeri h. Pertahanan i. Keamanan j. Yustisi
k. Moneter dan fiscal nasional l. Agama
Plato, menyebutkankan ada 3 (tiga) kekuatan sosial yang sangat mempengaruhi stabilitas suatu negara. Tiga kekuatan sosial tersebut adalah:
Militer (Angkatan Bersenjata); Kaum intelektual; dan Kaum Interpreneur (pengusaha).104
Apabila ketiga kekuatan sosial ini dapat dijalankan sesuai dengan peranan dan fungsinya masing-masing, dapat dipastikan bahwa pembangunan nasional di Indonesia dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945 beserta amandemennya. Teori Plato tersebut dibenarkan dan diterapkan dalam tubuh Polri sejak Sanoesi diangkat menjadi Kapolri pada tahun 1987 dijadikannya sebagai strategi dalam menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat di Indonesia.
105
Perkembangan kemajuan masyarakat yang cukup pesat, seiring dengan merebaknya fenomena supremasi hukum, Hak Asasi Manusia, globalisasi, demokratisasi, desentralisasi, transparansi, dan akuntabilitas, telah melahirkan berbagai paradigma baru dalam melihat tujuan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab Polri yang selanjutnya menyebabkan pula munculnya berbagai tuntutan dan harapan masyarakat terhadap pelaksanaan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia yang makin meningkat dan lebih berorientasi kepada masyarakat yang dilayaninya.106
Polri melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan
104
Plato, dalam Sanoesi., Op. cit., hal. 342.
105 Ibid. 106
Sejak ditetapkannya Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Bab XII tentang Pertahanan dan Keamanan Negara, Ketetapan MPR RI No. VI/MPR/2000 dan Ketetapan MPR RI No. VII/MPR/2000, maka secara konstitusional telah terjadi perubahan yang menegaskan rumusan tugas, fungsi, dan peran Kepolisian Negara Republik Indonesia serta pemisahan kelembagaan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing.
lainnya. Namun, tindakan pencegahan tetap diutamakan melalui pengembangan asas preventif dan asas kewajiban umum kepolisian, yaitu memelihara keamanan, melindungi masyarakat dan ketertiban masyarakat. Dalam hal ini setiap Polisi memiliki kewenangan diskresi, yaitu kewenangan untuk bertindak demi kepentingan umum berdasarkan penilaian sendiri.107
Diwajibkan komitmen para pejabat Polri terhadap pelaksanaan tugas dan wewenang juga komitmen masyarakat untuk berpartisipasi dalam mewujudkan Polri yang bersih, mandiri, dan berjiwa profesional. Pemaknaan fungsi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat bisa beragam dan berbagai tinjauan, namun kesamaan persepsi dan langkah tindak dari pemaknaan peran itu mengandung makna bahwa pelindung adalah kemampuan Polri memberikan perlindungan terhadap masyarakat sehingga terbebas dari rasa takut, bebas dari ancaman atau bahaya serta merasa tenteram dan damai. Pengayom dimaknai kemampuan Polri memberikan bimbingan, petunjuk, arahan, dorongan, ajakan, pesan, dan nasehat yang dirasakan bermanfaat bagi masyarakat guna tercapainya rasa aman dan tenteram. Pemaknaan pelayan adalah kemampuan Polri dalam setiap langkah pengabdiannya dilakukan secara bermoral, beretika, sopan, ramah, dan proporsional.108
Dalam pengabdiannya kepada masyarakat maupun negara, Polri mempunyai tugas dan wewenang yaitu sebagai berikut :
107
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 mengatur pula pembinaan profesi dan kode etik profesi agar tindakan pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat dipertanggungjawabkan, baik secara hukum, moral, maupun secara teknik profesi dan terutama Hak Asasi Manusia.
108
Dadang Garnida, Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Bintara Polri Di Lapangan, (Jakarta: Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, 2005), hal. 10.
Dalam Bab III UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, terdapat 7 (tujuh) ketentuan yang menentukan mengatur tentang tugas dan wewenang Polri dalam mewujudkan pengayoman, perlindungan, dan pelayanannya terhadap masyarakat, yaitu: Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, dan Pasal 19. Dalam Pasal 13 UU Kepolisian, disebutkan bahwa tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah: Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; Menegakkan hukum; dan Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
Rumusan tugas pokok tersebut bukan merupakan urutan prioritas, namun ketiga-tiganya sama penting, sedangkan dalam pelaksanaannya tugas pokok mana yang akan dikedepankan sangat tergantung pada situasi masyarakat dan lingkungan yang dihadapi karena pada dasarnya ketiga tugas pokok tersebut dilaksanakan secara simultan dan dapat dikombinasikan. Di samping itu, dalam pelaksanaan tugas ini harus berdasarkan norma hukum, mengindahkan norma agama, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
Sesuai dengan pasal 14 ayat (1) undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian bertugas:
a. Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawasan dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan; b. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan,
ketertiban dan kelancaran lalu lintas jalan;
c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan;
d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;
f. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pembinaan teknis terhadap Kepolisian khusus, penyidik Pegawai Negeri Sipil dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa;
g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang- undangan lainnya;
h. Menyelenggarakan identifikasi Kepolisian, Kedokteran Kepolisian, Laboratorium dan Psikologi Kepolisian untuk kepentingan tugas Kepolisian;
i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan / atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia;
j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan atau pihak yang berwenang;
k. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingan dalam lingkup tugas Kepolisian;
l. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan.109
Pasal 15 ayat (1) UU Kepolisian ditentukan bahwa dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14 Kepolisian Negara Republik Indonesia secara umum berwenang:
a. Menerima laporan dan / atau pengaduan;
b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum;
c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;
mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;
d. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan Kepolisian dalam rangka pencegahan;
e. Melakukan tindakan pertama ditempat kejadian;
f. mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang; g. mencari keterangan dan barang bukti;
h. Menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional;
109
i. Mengeluarkan surat izin dan / atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat;
j. Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan dan pengadilan, kegiatan instansi lain serta kegiatan masyarakat;
k. Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu. l. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya.110
Sementara itu dalam Pasal 15 ayat (2) UU Kepolisian ditentukan pula bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang- undangan lainnya berwenang:
a. Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian umum dan kegiatan masyarakat lainnya;
b. Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor; c. Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor;
d. Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik;
e. Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan peledak, dan senjata tajam;
f. Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap badan usaha di bidang jasa pengamanan;
g. Memberikan petunjuk, mendidik, dan melatih aparat kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa dalam bidang teknis kepolisian; h. Melakukan kerja sama dengan kepolisian negara lain dalam menyidik
dan memberantas kejahatan internasional;
i. Melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait; j. Mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi kepolisian
internasional;
k. Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam lingkup tugas. Tugas dan wewenangnya dalam bidang pidana diatur dalam Pasal 16 ayat (1) ditentukan bahwa dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14 di bidang proses pidana, Kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang untuk:
110 Ibid.
a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan; b. Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian
perkara untuk kepentingan penyidikan;
c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan;
d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;
e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;
f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;
h. Mengadakan penghentian penyidikan;
i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;
j. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana;
k. Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum; dan
l. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.111 Tindakan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf l di atas adalah tindakan penyelidikan dan penyidikan yang dilaksanakan jika memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;
b. Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan tindakan tersebut dilakukan;
c. Harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya; d. Pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa; dan e. Menghormati hak asasi manusia.112
Hubugan antara tugas dan wewenang dengan keadaan darurat mengenai suatu hal tertentu, maka untuk mengantisipasi keadaan darurat seperti misalnya
111 Ibid.
terjadi serangan teroris, dalam Pasal 18 disebutkan pula tindakan yang perlu diambil dan dianggap perlu.
Ketentuan Pasal 18 tersebut berbunyi :
a. Untuk kepentingan umum pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri.
b. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu dengan memperhatikan peraturan perundangundangan, serta Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Polri tidak diperbolehkan melakukan semena-mena, untuk itu dalam Pasal 19 yang menyebutkan bahwa Polri harus mengindahkan norma-norma yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat, selengkapnya ketentuan dalam Pasal 19 dinyatakan sebagai berikut:113
a. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa bertindak berdasarkan norma hukum dan mengindahkan norma agama, kesopanan, kesusilaan, serta menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
b. Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Kepolisian Negara Republik Indonesia mengutamakan tindakan pencegahan
Polri sebagai pelaksana fungsi pemerintahan harus berprinsip dan berpijak pada etika, dan melakukan pengawasan atas birokrasi yang bertanggung jawab melaksanakan kebijaksanaan dan program. Sehubungan dengan tugas dan
113 Ibid.
wewenang Kepolisian di atas, dalam hal pelaksanaan tugas dan wewenang tersebut dalam Pasal 17 disebutkan bahwa Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia menjalankan tugas dan wewenangnya di seluruh wilayah negara Republik Indonesia, khususnya di daerah hukum pejabat yang bersangkutan ditugaskan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan pemerintahan, pemerintah harus pula mengedepankan kemauan politik untuk menjaga tata kelola pemerintahannya selalu bersih (good governance). Sebab Polri salah satu penopang pemerintahan pada dasarnya memiliki tugas pokok yaitu melayani publik sesuai dengan prinsip- prinsip good governance yang meliputi: Partisipasi masyarakat; Tegaknya supremasi hukum; Transparansi; Peduli pada stakeholder; Berorientasi pada konsensus; Kesetaraan; Efektivitas dan efisiensi; Akuntabilitas; dan Visi strategis. Agar berjalan good governance semua prinsip-prinsip Good Governance harus diupayakan oleh Birokrasi Pemerintah. Oleh karena itu, prinsip-prinsip tersebut harus menjadi pedoman birokrasi Polri dalam melaksanakan tugas, dan wewenangnya untuk melindungi, mengayomi, dan melayani publik.114
Dengan tugas dan wewenang yang disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, Polri dapat mengemban amanah undang-undang sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku khususnya pasal-pasal yang berhubungan dengan kejahatan misalnya kejahatan terorisme.
114
Sofyan Nasution, “Upaya Mendorong Birokrasi pemerintah Berlandaskan Prinsip- Prinsip Good Governance”, Makala Disampaikan pada Seminar tentang Diseminasi Policy Paper, yang diadakan oleh Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia, tanggal 2 Oktober 2003, Medan, hal, 1-5.
UU Kepolisian sebagai landasan acuan legalitas Polri dalam memberantas dan menanggulangi semua tindak pidana termasuk tindak pidana terorisme yang sangat membahayakan NKRI.
Oleh karena itu, pada tingkat nasional tanggal 18 Oktober 2002 pemerintah RI telah mengeluarkan Perpu No.1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme diikuti Inpres No. 4 Tahun 2002 tentang Penunjukan Instansi Pemerintah yang Berwenang untuk Mengkoordinasikan Tindakan Memerangi Terorisme. Kemudian dilanjutkan dengan penetapan Perpu No.1 Tahun 2002 menjadi undang-undang yaitu Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UUPTPT).
Kepolisian Republik Indonesia mempunyai Kewenangan untuk berada di garda terdepan melakukan perlawanan terhadap terorisme untuk melakukan pemberantasan. Kewenangan Kepolisian sebagaimana telah didasarkan dan diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan pemeliharaan keamanan dalam negeri melalui upaya penyelenggaraan fungsi kepolisian yang meliputi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia selaku alat negara yang dibantu oleh masyarakat dengan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
Maka Polri membentuk Detasemen Khusus 88 Anti Teror (Densus 88) bersamaan dengan pemisahan tugas dan peran sektor keamanan antara TNI dan Polri di awal tahun 2000 membawa dampak sosial politik yang tidak sederhana.
Hal ini berimplikasi pada pengendalian sektor keamanan dalam negeri yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab Polri dan keamanan negara secara umum menjadi porsi TNI bersama Departemen Pertahanan.115
Densus 88 Anti Teror dibentuk melalui Surat Keputusan (Skep) Kapolri pada masa Jenderal Da’i Bachtiar, Nomor: 30/VI/2003 tanggal 30 Juni 2003.116
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UUPTPT), Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian, kemudian dibentuknya Densus 88 Anti Teror melalui Surat Keputusan (Skep) Kapolri Nomor: 30/VI/2003 tanggal 30 Juni 2003
alasan utama pembentukan Densus 88 Anti Teror adalah untuk menanggulangi meningkatnya kejahatan terorisme di Indonesia, khususnya aksi teror dengan modus peledakan bom, karena Desus 88 Anti Teror merupakan satuan pasukan elit khusus yang dilatih langsung oleh Central Intelligence of Agency (CIA) yang berperan langsung dalam aksi pencegahan maupun pemberantasan tindak pidana terorisme jika tidak demikian, dikarenakan SDM maupun sarana pelatihan militer yang dimiliki Polri tanpa dibentuknya Densus 88 Anti Teror bukan tidak bisa mengatasi serangan aksi terorisme, melainkan aksi terorisme yang bergerak secara professional dan terorganisir maka Polri dalam mengemban tugas maupun wewenangnya merasa “kerepotan” untuk menghadapi serangkaian serangan terorisme yang berkembang dan terjadi akhir-akhir ini. Oleh karena itu Polri membutuhkan Densus 88 Anti Teror yang dibentuk tiga bulan setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UUPTPT).
115
http://hukum.kompasiana.com/2011/02/11/mengatasi-kekerasan-penegakan- hukumaladensus-88/, diakses tanggal 4 April 2013.
116 Ibid.
yang berada di bawah Bareskrim Polri, maka dengan demikian Densus 88 Anti Teror memiliki dasar hukum yang kuat untuk melakukan pemberantasan tindak pidana terorisme di Indonesia.117
Densus 88 Anti Teror merupakan unit pelaksana tugas penanggulangan teror dalam negeri oleh Polri yang memiliki keterkaitan yang erat dengan substansi dalam UUPTPT. Pembentukan Densus 88 di tingkat Kepolisian Daerah (Polda) pertama kali duputuskan melalui Surat Perintah (Sprint) Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Firman Gani, Nomor 883/VIII/2004 tanggal 24 Agustus 2004. Densus 88 Polda Metro Jaya awalnya memiliki 75 orang anggota terdiri dari perwira dan bintara. Hingga sampai saat ini anggota Densus 88 di tingkat Polda diberlakukan di seluruh Indonesia.
Sebelum Densus 88 Anti Teror Polri dibentuk, sudah ada 3 satuan anti teror yang dimiliki oleh TNI (AD, AL, AU) ditambah dengan BIN. Satuan khusus Polri awalnya diperankan oleh Detasemen Gegana Brimob yang dalam perkembangannya tugas peran Detasemen Gegana Brimob dipandang masih memiliki kelemahan. Hal ini terutama karena tugasnya masih bersifat upaya refresif belum mengembangkan upaya preventif sehingga Detasemen Gegana Brimob kurang memiliki kriteria sebagai unit anti teror karena hanya berfungsi sebagai satuan penindak (striking force).118
117 Ibid. 118
Galih Priatmodjo., Densus 88 The Undaercover Squad-Mengungkapkan Kesatuan Elit “Pasukan hanut” Anti Teror, hal. 39.
1. Sejarah Pembentukan Densus 88 Anti Teror Polri
Pemerintah Indonesia merespon perang global terhadap terorisme dengan menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme yang kemudian dipertegas dengan diterbitkanya paket Kebijakan Nasional terhadap pemberantasan terorisme dalam bentuk Peraturan Pengganti Undang-undang (Perpu) Nomor 1 dan Nomor 2 Tahun 2002. Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan membentuk pula Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme yang langsung berada di bawah koordinasi Menteri Koordinasi Politik dan Keamanan. Desk tersebut memiliki legitimasi dengan adanya Surat Keputusan (Skep) Menko Polkam yang saat itu dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono dengan Nomor Kep. 26/Menko/Polkam/11/2002.119
Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme menegaskan bahwa kesatuan Anti Teror Polri yang lebih dikenal dengan Detasemen Resimen IV Gegana Brimob Polri bergabung dengan tiga organisasi anti terror angkatan (yakni AD, AU, AL) dan intelijen. Institiusi anti teror tersebut kemudian melebur menjadi Satuan Tugas Anti Terror di bawah koordinasi Departemen Pertahanan. Penggabungan Detasemen Gegana Brimob dengan AD, AU, AL, dan Intelijen tersebut tidak berjalan efektif, selain karena eskalasi ancaman terror sejak Bom Bali I
119
http://clubbing.kapanlagi.com/threads/70150-Sejarah-Terbentuknya-Densus-88, diakses pada Tanggal 28 April 2013.
dan konflik komunal yang memaksa masing-masing kesatuan anti terror akhirnya berjalan sendiri-sendiri.120
Keberadaan Direktorat VI Anti Teror Polri bertumpu dan memiliki peran yang sama sebagaimana yang diemban oleh Satgas Bom Polri, di samping itu dinamika yang sangat cepat perihal ancaman dan teror, Mabes Polri akhirnya melakukan reorganisasi terhadap Direktorat VI Anti Teror dimana kemudian secara resmi pada masa Kapolri Jenderal Da’I Bachtiar dengan menerbitkan Skep Kapolri Nomor 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003 menandai terbentuknya Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri (Densus 88 AT Polri).121
Ada tiga alasan hingga akhirnya Polri diberikan kewenangan utama dalam pemberantasan tindak pidana terorisme, yakni :122
Pertama, pemberian kewenangan utama pemberantasan tindak pidana terorisme merupakan strategi pemerintah untuk dapat berpartisipasi dalam perang global melawan terorisme yang salah satunya adalah mendorong penguatan kesatuan khusus anti terorisme yang handal dan profesional dengan dukungan peralatan yang canggih dan SDM yang berkualitas.
Kedua, kejahatan terorisme merupakan tindak pidana yang bersifat khas, lintas negara (borderless) dan melibatkan banyak faktor yang berkembang di
120
Densus 88 Anti Teror Polri merupakan salah satu dari unit anti teror di Indonesia, di samping:
a. Detasemen Gegana Brimob Polri;
b. Detasemen Penanggulangan Teror (Dengultor) TNI AD atau Grup 5 Anti Teror;
c. Detasemen 81 Kopasus TNI AD (Kopasus sendiri sebagai pasukan khusus juga memiliki kemampuan anti teror);
d. Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Korps Marinir TNI AL; dan e. Detasemen Bravo (Denbravo) TNI AU dan satuan anti-teror BIN.
121
Al-Arif & Anton Ali Abbas., TNI-Polri Di Masa Perubahan Politik, (Bandung: Program Magister Studi Pertahanan Institut Teknologi Bandung, 2008), hal. 34.
122
Galih Priatmodjo., Densus 88 The Undaercover Squad-Mengungkapkan Kesatuan Elit “Pasukan hanut” Anti Teror, Op. cit., hal. 39-40.
masyarakat. Terkait dengan itu terorisme dalam konteks di Indonesia dianggap sebagai domain kriminal karena cita-cita separatism sebagaimana konteks terorisme di masa dulu tidak lagi menjadi yang utama, tetapi mengedepankan aksi terror yang mengganggu keamanan dan ketertiban serta mengancam keselamatan jiwa dari masyarakat. Karenanya terorisme dimasukkan ke dalam kewenangan Polri.
Ketiga, untuk menghindari sikap resistensi masyarakat dan internasional perihal pemberantasan terorisme jika dilakukan oleh TNI dan intelijen. Sebagaimana diketahui sejak mantan Presiden Soeharto dan rejimnya tumbang,