• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewenangan OJK terkait Financial Technologi Peer to Peer Lending

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 26-35)

C. Tinjauan Umum Tentang Kewenangan Otoritas Jasa Keuangan Terkait Financial Technology Peer to Peer Lending

3. Kewenangan OJK terkait Financial Technologi Peer to Peer Lending

Otoritas Jasa Keuangan mengemban tugas dan fungsi sebagai lembaga independen yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan pengawasan dan pengaturan terhadap seluruh sektor keuangan, kewenangan OJK terhadap lembaga keuangan tertuang dalam pasal 6 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011, dimana OJK memiliki wewenang dan tugas pengaturan terhadap :

1. Kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan. 2. Kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal.

3. Kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lainnya.

Untuk melaksanakan tugas pengaturan secara optimal yang telah diatur dalam pasal 6 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011, OJK memiliki kewenangan dalam

47 Budisantoso Totok, Nuritomo, 2014, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Jakarta: Salemba Empat, hal 51.

bidang pengaturan yang diatur padal pasal 8 Undang-Undang 21 Tahun 2011 antara lain48 :

1. Menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini.

2. Menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan. 3. Menetapkan peraturan dan keputusan OJK.

4. Menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan. 5. Menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK.

6. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis terhadap lembaga jasa keuangan dan pihak tertentu.

7. Menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter pada Lembaga Jasa Keuangan.

8. Menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola, memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban, dan.

9. Menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

Terkait dengan pelaksanaan Fungsi OJK yang tertuang dalam pasal 6, OJK memiliki wewenang pengawasan yang telah diatur dalam pasal 9 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Wewenang pengawasan tersebut antara lain49 :

1. Menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan.

48 Lihat pasal 8 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan.

49

2. Mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Eksekutif.

3. Melakukan pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan konsumen, dan tindakan lain terhadap lembaga jasa keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

4. Memberikan perintah tertulis kepada lembaga jasa keuangan atau pihak-pihak tertentu.

5. Melakukan penunjukan pengelola statuter. 6. Menetapkan penggunaan pengelola statuter.

7. Menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan, dan.

8. Memberikan dan/atau mencabut : a. Izin usaha.

b. Izin orang perseorangan.

c. Efektifnya pernyataan pendaftaran. d.Surat tanda terdaftar.

e. Persetujuan melakukan kegiatan usaha. f. Pengesahan.

g. Persetujuan atau penetapan pembubaran, dan.

h. Penetapan lain, sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Layanan Fintech termasuk dalam industri keuangan non bank, dimana lembaga jasa keuangan tersebut termasuk dalam industri keuangan yang diawasi oleh OJK, dengan catatan layanan Fintech tersebut harus terdaftar di Otoritas jasa keuangan, sedangkan untuk peer to peer lending yang tidak terdaftar atau ilegal pengawasannya tidak dilakukan oleh OJK, setiap pengaduan dari konsumen terkait pelanggaran yang dilakukan oleh Fintech Ilegal akan diselesaikan oleh Satgas Waspada Investasi, dimana OJK bekerja sama dengan beberapa instansi, yaitu Kementrian Komunikasi dan Informatika, Bareskrim, dan Google.50

Dalam Satgas Waspada Investasi, OJK memiliki peran untuk memberitahukan daftar Fintech peer to peer lending yang terdaftar ataupun berizin di OJK kepada Kementrian Komunikasi dan Informatika, selanjutnya pihak Kementrian Komunikasi dan Informatika akan melakukan pengecekan terhadap aplikasi yang dilaporkan, apabila benar-benar terbukti ilegal maka aplikasi tersebut akan di blokir oleh KOMINFO.51

Selanjutnya dalam bekerja sama dengan pihak kepolisian, OJK memiliki peran untuk memberikan laporan dari masyarakat yang dirugikan oleh peer to peer

ilegal, Otoritas Jasa Keuangan tidak memiliki wewenang yang luas untuk menindak

pengaduan dari masyarakat terkait peer to peer illegal, sehingga pihak kepolisian

50 Zein Subhan, 2019, Tinjauan yuridis pengawasan Otoritas Jasa Keuangan terhadap aplikasi pinjaman dana berbasis elektronik (Peer to Peer Lendig/crowfunding) di Indonesia, Jurnal bisnis dan akuntasi Unsurya, Vol.4,No.2. Unsurya. Hal 120.

51

yang selanjutnya akan memproses pengaduan tersebut, karena wewenang polisi sangat luas.

Kemudian dalam bekerja sama dengan Google Indonesia, pada apps store atau Google hanya terdapat aplikasi peer to peer lending yang telah terdaftar dan berizin di OJK dan telah lolos proses screening dari KOMINFO, apabila terdapat aplikasi Fintech yang illegal, maka OJK akan berkoordinasi dengan Google untuk memblokir aplikasi tersebut.

Berdasarkan klasifikasi fintech oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat dua golongan fintech yang akan masuk ke dalam ranah pengawasan OJK. Keduanya adalah Fintech 2.0 Digital LJK dan Digital Banking dan Fintech 3.0-3.5 Start-up

Companies. Kedua kategori tersebut nantinya harus mematuhi segala aturan yang

dibuat oleh OJK. Kategori Fintech 2.0 melingkupi tiga ranah sektor industri diantaranya perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non-bank (IKNB). Untuk perbankan, ranah bisnis yang akan diatur mulai dari E-banking, Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai), Digital

Branch, dan Banking Anywhere (Omnichannel). Sementara, untuk pasar modal

yakni E-stocks, Bonds, Mutual Funds, dan Trading. Terakhir, dalam IKNB yang akan diatur adalah E-Gadai, E-LKM, E-Penjaminan, dan E-Asuransi.Kategori berikutnya, Fintech 3.0-3.5 khusus mengatur perusahaan startup fintech

non-lembaga jasa keuangan (LJK), dengan ranah bisnis yang akan diatur adalah koperasi, bursa berjangka, dan loan-based crowdfunding (P2P Lending). 52

Terkait dengan salah satu kewenangan pengaturan yang dimiliki oleh OJK dalam pasal 8 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan yaitu Menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan. Langkah awal OJK menggunakan kewenangannya dalam sektor jasa keuangan Finansial Tekhnologi dengan mengeluarkan Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Tekhnologi Informasi, hal ini merupakan upaya OJK untuk mendukung perkembangan industri keuangan berbasis tekhnologi informasi tanpa mengesampingkan aspek perlindungan Konsumen.53

Dari peraturan OJK nomor 77/POJK.01/2016 merupakan suatu produk yang dibuat berdasarkan kewenangan OJK dalam hal pengawasan sektor jasa keuangan, pada peraturan tersebut terdapat aturan-aturan yang harus ditaati oleh penyelenggara layanan Finansial Technologi, tujuan dikeluarkannya peraturan OJK tersebut untuk meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh berbagai pihak yang

52 Marsya Nabila, Loc.Cit. 53

Kadek puspa, Sudaryana Wayan, 2019, Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Pengguna Layanan Fintech (Financial Technology),Jurnal ilmu hukum, Vol. 7, No.2, Universitas Udayana, Hal 8.

terlibat dalam layanan Peer to Peer Lending baik dari penyelenggaran layanan

Fintech, Pemberi pinjaman, maupun Penerima pinjaman.54

Selanjutnya untuk memberikan perlindungan konsumen, dalam pasal 29 Undang-Undang No.21 Tahun 2011 dijelaskan mengenai upaya Teknis yang dilakukan Oleh OJK salah satunya adalah memberikan pelayanan pengaduan konsumen, antara lain55 :

a. Menyiapkan perangkat yang memadai untuk pelayanan dan pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di Lembaga Jasa Keuangan.

b. Membuat mekanisme pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di Lembaga Jasa Keuangan,dan.

c. Memfasilitasi penyelesaian pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku di Lembaga Jasa Keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

OJK memiliki upaya dalam memberikan perlindungan hukum kepada konsumen dan masyarakat, terkait hal tersebut Otoritas Jasa keuangan berwenang melakukan pembelaan hukum, hal ini terdapat dalam pasal 30 Undang-Undang No.21 tahun 2011, yang berbunyi :56

54

Wayan Bagus(et.al),2014.Peranan otoritas jasa keuangan dalam mengawasi lembaga keuangan non bank berbasis financial technology jenis peer to peer lending.Jurnal ilmu hukum,Vol.02,No.04, Universitas Udayana, Hal.11.

55 Budisantoso, Totok, Op.cit. hal 52

56

a. Memberikan perintah atau melakukan tindakan tertentu kepada Lembaga Jasa Keuangan untuk menyelesaikan pengaduan konsumen yang dirugikan Lembaga Jasa Keuangan yang dimaksud.

b. Mengajukan gugatan :

1. Untuk memperoleh kembali harta kekayaan milik pihak yang dirugikan dan pihak yang menyebabkan kerugian, baik yang berada di bawah penguasaan pihak lain dengan itikad tidak baik, dan/atau.

2. Untuk memperoleh ganti kerugian dari pihak yang menyebabkan kerugian pada konsumen dan/atau Lembaga Jasa Keuangan sebagai akibat dari pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan juga memiliki kewenangan dalam hal menjatuhkan sanksi kepada pihak penyelenggara yang melakukan suatu pelanggaran dalam melaksanakan kegiatannya dalam layanan Fintech, dalam pasal 47 Peraturan OJK nomor 77/POJK.01/201657, OJK dapat menjatuhkan sanksi administratif berupa :

1. Teguran tertulis.

2. Denda, kewajiban membayar sejumlah uang tertentu. 3. Pembatasan kegiatan usaha.

4. Pencabutan izin.

Jika terdapat perselisihan antara pelaku usaha jasa keuangan dan konsumen, maka perselisihan tersebut harus diselesaikan dalam Lembaga Jasa Keuangan tersebut, maka dari itu setiap LJK diwajibkan untuk mempunyai layanan unit

57 Lihat pasal 47 Peraturan OJK nomor 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Tekhnologi Informasi.

pengaduan dan penyelesaian pengaduan, jika akhirnya tidak tercapai penyelesaian melalui LJK tersebut, maka konsumen dapat membawa perselisihan tersebut untuk diselesaikan melalui LAPS atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa, daftar LAPS yang ditentukan oleh OJK dimuat dalam pasal 4 huruf (a) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/Pojk.07/2014 Tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Di Sektor Jasa Keuangan, yaitu 58:

1. Mediasi yaitu cara penyelesaian sengketa melalui pihak ketiga (mediator) untuk membantu pihak yang bersengketa mencapai kesepakatan.

2. Ajudikasi yaitu cara penyelesaian sengketa melalui pihak ketiga (ajudikator) untuk menjatuhkan putusan atas sengketa yang timbul di antara pihak yang dimaksud. Putusan ajudikasi mengikat para pihak jika konsumen menerima. Dalam hal konsumen menolak, konsumen dapat mencari upaya penyelesaian lainnya.

3. Arbitrase yaitu cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Putusan arbitrase bersifat final dan mengikat para pihak.

Daftar Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa di Otoritas Jasa Keuangan sampai saat ini masih terdapat 6 Lembaga, Sektor Jasa Keuangan yang telah

58 Lihat pasal 4 huruf (a) Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 1/Pojk.07/2014 Tentang Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Di Sektor Jasa Keuangan

memiliki LAPS antara lain : Perasuransian, Pasar Modal, Dana Pensiun, Perbankan, Penjaminan, Pembiayaan dan Pergadaian.59

D. Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Data Dan Informasi Konsumen Peer to Peer

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 26-35)

Dokumen terkait