BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0 dan 24 jam
xv
Tabel XI. Hasil uji satatistik t berpasangan aktivitas serum ALT dan AST
setelah pemberian olive oil dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0 dan 24 jam ...44
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Struktur lobus hati ...6
Gambar 2. Biotransformasi karbon tetraklorida ...13
Gambar 3. TanamanBidens pilosaL. ...15 Gambar 4. Diagram batang purata aktivitas serum ALT pada selang waktu 0,
24, dan 48 jam setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2
mL/kgBB ...34
Gambar 5. Diagram batang purata aktivitas serum AST pada selang waktu 0,
24, dan 48 jam setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2
mL/kgBB ...36
Gambar 6. Diagram purata aktivitas serum ALT setelah praperlakuan jangka
pendek dekok herba Bidens pilosa L. pada tikus betina terinduksi karbon tetraklorida ...40
Gambar 7. Diagram purata aktivitas serum AST setelah praperlakuan jangka
pendek dekok herba Bidens pilosa L. pada tikus betina terinduksi karbon tetraklorida...43
Gambar 8. Diagram purata aktivitas serum ALT setelah pemberian olive oil
dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0 dan 24 jam ...45
Gambar 9. Diagram purata aktivitas serum AST setelah pemberian olive oil
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto serbuk herbaBidens pilosaL. ...62 Lampiran 2. Foto dekok herbaBidens pilosaL. ...62 Lampiran 3. Foto alat yang digunakan dalam proses dekoksi herbaBidens pilosa
L. (heater;panci enamel;thermometer) ...62 Lampiran 4. Surat determinasi tanamanBidens pilosaL. ...63 Lampiran 5. Suratethical clearencepenelitian ...64 Lampiran 6. Hasil analisis statistik aktivitas serum ALT pada uji pendahuluan
waktu pencuplikan darah hewan uji setelah induki karbon
tetraklorida 2 mL/kgBB ...65
Lampiran 7. Hasil analisis statistik aktivitas serum AST pada uji pendahuluan
waktu pencuplikan darah hewan uji setelah induki karbon
tetraklorida 2 mL/kgBB ...68
Lampiran 8. Hasil uji statistik aktivitas serum ALT setelah praperlakuan dekok
herba Bidens pilosa L. pada dosis 0,5 g/kgBB; 1 g/kgBB; dan 2 g/kgBB ...71
Lampiran 9. Hasil uji statistik aktivitas serum AST setelah praperlakuan dekok
herba Bidens pilosa L. pada dosis 0,5 g/kgBB; 1 g/kgBB; dan 2 g/kgBB ...77
Lampiran 10. Hasil uji statistik aktivitas serum ALT setelah pemberian olive oil
xviii
Lampiran 11. Hasil uji statistik aktivitas serum AST setelah pemberian olive oil
dosis 2 mL/kgBB pada selang waktu 0 dan 24 jam ...86
Lampiran 12. Perhitungan kadar air herbaBidens pilosa L. ...88
Lampiran 13. Perhitungan efek hepatoprotektif antihepatotoksik (%) ...88
xix
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hepatoprotektif pemberian jangka pendek dekok herba Bidens pilosa L. pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida dengan melihat penurunan aktivitas serum ALT dan AST serta untuk mengetahui dosis efektif dekok sebagai senyawa hepatoprotektif.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah. Penelitian ini dilakukan dengan membagi 30 ekor tikus dibagi ke dalam 6 kelompok sama banyak. Kelompok I (kelompok kontrol hepatotoksin) diberi karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/kgBB intraperitoneal. Kelompok II (kelompok kontrol negatif) diberi olive oil dosis 2 mL/kgBB secara intraperitoneal. Kelompok III (kelompok kontrol dekok) diberi dekok herba Bidens pilosa L. pada dosis 2 g/kgBB, kemudian setelah 6 jam diberikan diambil darahnya. Kelompok IV, V, dan VI (kelompok perlakuan) diberi peringkat dosis dekok herba Bidens pilosa L. dosis 0,5; 1; dan 2 g/kgBB, kemudian setelah 6 jam pemberian dekok dilakukan pemberian dosis hepatotoksin karbon tetraklorida 2 mL/kgBB. Setelah pemberian karbon tetraklorida, pada jam ke-24 semua kelompok diambil darahnya pada daerah sinus orbitalis mata untuk penetapan aktivitas serum ALT dan AST. Data dianalisis dengan menggunakan metodeone way ANOVA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekok herba Bidens pilosa L.
memiliki efek hepatoprotektif dengan menurunkan aktivitas serum ALT dan AST pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida. Dosis efektif pemberian dekok herba Bidens pilosa L.yang diperoleh adalah dosis 1 g/kgBB dengan persen hepatoprotektif sebesar 94,9% berdasarkan aktivitas serum ALT dan 74,9% berdasarkan aktivitas serum AST.
Kata kunci : Bidens pilosa L., dekok, hepatoprotektif, karbon tetraklorida, ALT, AST
xx
ABSTRACT
The aim of study research are to prove the hepatoprotective effect of short term Bidens pilosa L.herbs decoction to decrease serum activities of ALT and AST in rats induced carbon tetrachloride and to know the effective dose in giving decoction.
This research is purely experimental research with randomized complete direct sampling design. A total of 30 female Wistar rats were divided randomly into 6 groups in the same amount. Group I (hepatotoxins controlled-group) was given carbon tetrachloride at a dose of 2 ml/kgBW in intraperitonial. Group II (negative-controlled-group) was given a dose of 2 ml/kgBW olive oil in intraperitonial. Group III (decoction controlled-group) was given oral decoction of
Bidens pilosa L. herbs at a dose of 2 g/kgBW, then after 6 hours, their blood was drawn. Group IV, V, and VI (treatment group) were given decoction of Bidens pilosaL. herbs at a dose of 0.5; 1; and 2 g/kgBW, then 6 hour after administration of decoctoin dose, 2 ml/kgBW of carbon tetrachloride was adminstered intraperitonially. At the 24th hour after administration of carbon tetrachloride, blood samples from all group were taken through the eyes orbital sinus for measuring the ALT and AST serum activities. The data were analyzed by one way ANOVA.
The result of this study showed that short-term Bidens pilosa L. herbs decoction has hepatoprotective effect by reducing ALT and AST serum activities in female Wistar rats induced carbon tetrachloride. The effective dose of Bidens pilosa L. herbs decoction was 1 g/kgBW with 94.9% percent of hepatoprotective based on the activities of ALT serum and 74.9% based on the activities of AST serum.
Keywords: Bidens pilosaL., decoction, hepatoprotective, carbon tetrachloride, ALT, AST
1
BAB I PENGANTAR
A. Latar Belakang
Hati merupakan organ sekaligus kelenjar terbesar tubuh yang
bertanggung jawab dalam proses metabolisme dalam tubuh. Hati juga berfungsi
untuk mensekresi empedu, pembentukan ureum, pertahanan suhu tubuh,
penyimpanan dan penyebaran berbagai bahan (termasuk glikogen, lemak, vitamin,
besi) dan sebagai detoksifikasi (Pearce, 2009). Kerusakan hati diantaranya
disebabkan oleh infeksi virus, imunologi, dan induksi suatu senyawa atau obat
(Williamson, David, and Fred, 1996). Kerusakan hati yang terjadi, tentu saja akan mengganggu proses-proses yang terjadi dalam tubuh sehingga berbahaya bagi
kelangsungan hidup.
Perlemakan hati (steatosis) merupakan salah satu jenis gangguan fungsi hati yang banyak terjadi. Perlemakan hati dibedakan menjadi perlemakan hati
yang disebabkan karena alkohol dan perlemakan hati tidak disebabkan karena
alkohol atau Non-alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). NAFLD merupakan penyakit hati kronik terbanyak di dalam populasi umum dan diduga akan
meningkat pada masa depan sebagai akibat dari populasi yang semakin menua,
peningkatan obesitas dan diabetes. Menurut Amarapurkar et al. (2007) berdasarkan studi yang dilakukan di lingkungan urban, angka prevalensi NAFLD
negara-negara Asia lainnya (Jepang 9–30%; Cina 5–24%; Korea 18%; India 5–28%; Indonesia 30%; Malaysia 17%; Singapura 5%). Dari data-data tersebut terlihat
bahwa angka prevalensi penyakit gangguan fungsi hati pada masyarakat cukup
tinggi.
Karbon tetraklorida merupakan senyawa hepatotoksin yang digunakan
sebagai senyawa model dalam penelitian ini. Senyawa karbon tetraklorida
digunakan sebagai senyawa hepatotoksik karena memiliki kemampuan dalam
menginduksi kerusakan hati (Surya, 2009). Toksisitas karbon tetraklorida (CCl4) timbul ketika mengalami proses biotransformasi oleh sitokrom P-450 menjadi
radikal triklorometil (•CCl3) dan triklorometil peroksi (•CCl3O2). Radikal triklorometil dari karbon tetraklorida dapat berikatan secara kovalen pada protein
dan lemak sehingga dapat menimbulkan kerusakan hati yaitu perlemakan hati
(steatosis) (Zimmerman, 1999). Kerusakan hati tersebut dapat dievaluasi dengan melihat peningkatan aktivitas serum ALT (Alanin Aminotransferase) dan AST
(Aspartat Aminotransferase) (Panjaitan et al., 2007).
Di tengah perkembangan dunia kesehatan modern, masih banyak
masyarakat yang menggunaan bahan alam sebagai obat karena dinilai lebih aman
dan tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya. Salah satunya adalah
Bidens pilosa L. atau umumnya sering disebut ketul yang merupakan tanaman terna (berbatang lunak) tumbuh di dekat air, kebun atau ladang, halaman rumah,
dan pinggiran jalan. Tanaman ini memiliki kandungan antioksidan yang tinggi,
khususnya flavonoid yang mendominasi kandungan fitokimia di dalamnya dan
flavonoid yang tinggi pada Bidens pilosa L. membuatnya berpotensi digunakan sebagai hepatoprotektif. Menurut penelitian Yuan, et al. (2008) pemberian total flavonoid dari Bidens pilosa L. mampu untuk memproteksi hati dari kerusakan yang disebabkan oleh induksi karbon tetraklorida.
Flavonoid merupakan antioksidan polifenol yang larut air
(Shivasharanappa and Londonkar, 2014). Supaya senyawa dapat tersari dengan maksimal maka metode penyariannya menggunakan pelarut air. Salah satu
sediaan yang menggunakan pelarut air adalah dekok yang merupakan sediaan
yang menggunakan pelarut air dengan cara direbus pada suhu 90°C selama 30
menit (Direktorat Obat Asli Indonesia, 2010). Sediaan dekok adalah sediaan yang
pembuatannya sederhana yang memungkinkan untuk dibuat sendiri oleh
masyarakat awam karena sediaan ini paling mendekati dengan rebusan herba
kering yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Ketika sediaan dekok yang dibuat
dari herba Bidens pilosa L. mampu menyari kandungan flavonoid dengan maksimal, maka diharapkan kandungan flavonoid dari dekok herba Bidens pilosa
L. mampu menangkal radikal triklorometil (•CCl3), sehingga dapat melindungi hati dari terjadinya steatosis.
Uji hepatoprotektif juga telah dilakukan dengan menggunakan dekok
kulit Persea americana Mill. yang juga memiliki kandungan flavonoid pada pemberian jangka pendek pada tikus terinduksi karbon tetraklorida, dengan hasil
bahwa pemberian jangka pendek dekok kulit Persea americana Mill. memiliki efek hepatoprotektif dengan menurunkan aktivitas serum ALT dan AST pada
maka peneliti melakukan penelitian tentang efek hepatoprotektif pemberian
jangka pendek dekok herba Bidens pilosa L. terhadap aktivitas serum ALT dan AST pada tikus betina terinduksi karbon tetraklorida.
1. Perumusan masalah
a. Apakah pemberian jangka pendek dekok herba Bidens pilosa L. mempunyai efek hepatoprotektif terhadap penurunan aktivitas serum ALT dan
AST pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida?
b. Berapakah dosis efektif pemberian jangka pendek dekok herba Bidens pilosa L. untuk memberikan efek hepatoprotektif terhadap penurunan aktivitas serum ALT dan AST pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon
tetraklorida?
2. Keaslian penelitian
Penelitian tentang efek hepatoprotektif pemberian jangka pendek dekok
herba Bidens pilosa L. pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian Kviecinski et al.
(2011) yang dilakukan untuk mengetahui aktivitas menangkal radikal bebas dan
efek hepatoprotektif dari fraksi etil asestat herba Bidenspilosa L. asal Brazil yang mengandung flavonoid derivat kuersetin. Hasil penelitian dilaporkan bahwa herba
Bidens pilosa L. memiliki efek hepatoprotektif. Penelitian Ariyanti (2007) yang dilakukan untuk menguji aktivitas antioksidan dari fraksi air ekstrak metanolik
herba Bidens pilosa L., namun tidak dilakukan uji aktivitas ekstrak herba Bidens pilosa L. sebagai hepatoprotektif. Penelitian Silva et al. (2011) yang melaporkan
bahwa poliasetilen dan flavonoid adalah metabolit yang mendominasi dalam
kandungan fitokimia herba Bidens pilosa L.
3. Manfaat penelitian
a. Manfaat teoritis. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan
sumbangan dan tambahan ilmu pengetahuan khususnya ilmu kefarmasian
mengenai pengaruh pemberian jangka pendek dekok herba Bidens pilosa L. sebagai hepatoprotektor.
b. Manfaat praktis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi kepada masyarakat mengenai dosis efektif pemberian jangka pendek
dekok herba Bidens pilosa L. yang digunakan sebagai hepatoprotektor.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui efek hepatoprotektif pemberian dekok herba Bidens pilosa L. pada tikus betina galur Wistar.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui dan membuktikan adanya efek hepatoprotektif pemberian
jangka pendek dekok herba Bidens pilosa L. terhadap penurunan aktivitas serum ALT dan AST pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida.
b. Mengetahui dosis efektif hepatoprotektif pemberian jangka pendek dekok
herba Bidens pilosa L. terhadap penurunan aktivitas serum ALT dan AST pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida.
6
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Hati
Hati merupakan organ viseral terbesar dalam tubuh manusia yang
memiliki berat sekitar 1500 g (3 lbs) dan letaknya berada di bawah kerangka iga. Pada kondisi hidup hati bewarna merah tua karena kaya akan persediaan darah
(Sloane, 2003).
Secara keseluruhan hati dilindungi oleh dinding thorax dan letaknya berada di regio hypochondrium kanan dan epigastrum. Hati mempunyai dua
facies (permukaan), yaitu facies diaphragmatica dan facies visceralis. Facies diaphragmatica terbagi menjadi bagian anterior dan posterior. Letaknya berada di sisi atas, dengan bentuk yang menyesuaikan lengkung diafragma dan memiliki
tekstur permukaan halus. Facies visceralis menghadap ke bawah dan ke belakang dengan garis horizontal yang membentang yang dinamakan porta hepatis.
Letaknya berbatasan dengan gaster, duodenum, esophagus, flexura coli dextra, ren dextra, dan vesica fellea sehingga memiliki pemukaan yang ireguler (Wibowo
and Paryana, 2009).
Hati terbagi menjadi dua lobus utama yaitu lobus kiri dan lobus kanan.
Ukuran lobus kanan lebih besar dari lobus kiri. Lobus kanan dan kiri di
permukaan bawah dipisahkan oleh fisura longitudinal, sedangkan lobus kanan dan kiri di permukaan atas dipisahkan oleh ligamen falsiformis (Sargent, 2009). Gambar 1 memperlihatkan bahwa struktur lobus hati terdiri dari beberapa bagian.
Lobus terdiri atas lempeng-lempeng sel hati. Antar lempeng hati terdapat
kapiler-kapiler yang dinamakan sinusoid. Sinusoid merupakan cabang dari antara hepatik
dan vena portal. Arteri hepatik membawa darah beroksigen, dan vena portal
membawa darah dari organ pencernaan dan limpa. Setiap lobulus memiliki vena
sentral. Vena sentral dari semua lobulus bersatu untuk membentuk vena hepatika,
yang mengambil darah dari hati ke vena cava inferior (Scanlon and Tina, 2007). Dinding sinusoid memiliki pori yang cukup besar (fenestrae) dan tidak memiliki membran dasar (basement membrane), sehingga materi xenobiotik yang terkandung dalam darah dapat masuk ke hepatosit. Sel hepatosit juga dapat
mensekresikan substansi berupa protein plasma dan getah empedu ke dalam darah
yang mengalir di sinusoid (Sherwood, 2004).
Fungsi hati utamanya bersangkutan dengan proses metabolisme dalam
tubuh. Hati juga berfungsi untuk mensekresi empedu, pembentukan ureum,
pertahanan suhu tubuh, penyimpanan dan penyebaran berbagai bahan (termasuk
glikogen, lemak, vitamin, besi) dan sebagai detoksifikasi. Hati mengubah zat
buangan dan bahan racun agar mudah untuk diekskresi dalam empedu dan urin.
Hati memiliki fungsi glikogenik yaitu menghasilkan glikogen dari konsentrasi
glukosa yang diambil dari makanan hidrat karbon (Pearce, 2009).
Untuk mengatasi berbagai potensi kerusakan yang dapat terjadi, hepatosit
memiliki kemampuan regenerasi yang cepat sebagai mekanisme untuk
memperbaiki jaringan hati yang rusak. Apabila terjadi suatu kerusakan pada
sel-sel hati yang disebabkan oleh toksikan, maka sel-sel hati akan langsung mengadakan
mitosis besar-besaran di daerah yang terjadi kerusakan (Corwin, 2000).
B. Kerusakan Hati
Kerusakan hati terjadi karena adanya kerusakan yang parah pada sel-sel
hepatosit atau kerusakan berulang pada sel parenkim. Hati memiliki kapasitas
cadangan untuk merespon adanya kerusakan hati sehingga manifestasi klinis dari
kerusakan hati baru akan muncul ketika telah terjadi kerusakan mencapai
80%-90% (Crawford and Liu, 2010).
Jenis kerusakan sel hati yang dapat ditimbulkan akibat adanya efek toksik antara
1. Perlemakan hati (steatosis)
Perlemakan hati (steatosis) adalah keadaan hati yang mengandung lipid dengan berat lebih dari 5% berat hati. Perlemakan pada hati dapat menyebabkan
lesi yang dapat bersifat akut maupun kronis. Mekanisme yang dapat menyebabkan
perlemakan yaitu penghambatan sintesis unit protein yang membentuk
lipoprotein; penekanan yang terjadi pada proses konjugasi trigliserida dengan
lipoprotein; gangguan transfer VLDL (lipoprotein yang berdensitas sangat rendah)
melalui membran sel akibat hilangnya kalium dari hepatosit; gangguan pada
oksidasi lipid di mitokondria; dan penghambatan sintesis fosfolipid yang
merupakan komponen penting VLDL (Lu, 1995).
2. Nekrosis hati
Nekrosis hati adalah keadaan matinya sel-sel hepatosit. Nekrosis
umumnya merupakan kerusakan yang bersifat akut. Perubahan morfologik awal
yang menandai nekrosis pada hati, yaitu edema sitoplasma, dilatasi retikulum
endoplasma, disagregasi polisom, dan akumulasi trigliserida sebagai butiran
lemak dalam sel. Proses selanjutnya yaitu pembengkakan mitokondria yang
progresif dengan kerusakan krista, pembengkakan sitoplasma, penghancuran
organel dan inti, dan diakhiri dengan pecahnya membran plasma yang
menyebabkan kematian sel. Toksikan yang sering menyebabkan nekrosis yaitu
karbon tetraklorida, kloroform, tetrakloroetana, karbon tetrabromida, fosfor,
3. Sirosis
Sirosis hati keadaan hati yang ditandai dengan adanya septa kolagen
yang tersebar di sebagian besar hati. Pemejanan karbon tetraklorida pada hewan
dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan siroris hati. (Lu, 1995). Menurut
Hudgson (2010) sirosis terjadi karena adanya paparan senyawa kimia secara
kronis yang mengakibatkan terjadinya akumulasi di matriks ekstra seluler yang
menghambat aliran darah, metabolisme normal hepar, dan proses detoksifikasi.
4. Kolestasis
Kolestasis adalah keadaan hati saat adanya penekanan atau penghentian
aliran empedu. Peradangan atau penyumbatan pada saluran empedu
mengakibatkan akumulasi retensi garam empedu, akumulasi bilirubin, dan
peristiwa yang mengarah jaundice (Hodgson, 2010). Kolestasis merupakan jenis kerusakan hati yang biasanya bersifat akut. Taurokolat, klorpromazin, eritromisin
laktobionat dan beberapa steroid anabolik serta steroid yang digunakan sebagai
kontrasepsi telah terbukti menyebabkan kolestasis dan hiperbilirubinemia karena
tersumbatnya kanalikuli empedu. (Lu, 1995).
C. Hepatotoksin
Hepatotoksin diklasifikasi menjadi dua, yaitu hepatotoksin teramalkan
(tipe A) dan hepatotoksin tak teramalkan (tipe B). Hepatotoksin teramalkan (tipe
A) merupakan senyawa yang dapat merusak hati jika diberikan dalam jumlah
dari jumlah dosis pemberian senyawa. Contoh hepatotoksin teramalkan adalah
parasetamol dan karbon tetraklorida (Forrest, 2006).
Hepatotoksin tak teramalkan (tipe B) merupakan senyawa yang merusak
hati dengan tidak bergantung pada dosis pemberian. Sebenarnya senyawa ini tidak
bersifat toksik, namun memberikan efek toksik pada orang-orang tertentu. Contoh
senyawanya adalah isoniazid dan clorpromazine (Forrest, 2006).
D. Alanin Aminotransferase (ALT) dan Aspartat Aminotransferase (AST)
ALT dan AST di dalam tubuh merupakan enzim yang berperan penting
dalam metabolisme asam amino. Keduanya mengkatalisis pemindahan gugus
amina dari asam amino glukogenik menjadi senyawa intermediet pada siklus asam
sitrat. ALT memperantarai reaksi antara L-alanin dan α-ketoglutarat menjadi piruvat dan L-glutamat. AST memperantarai reaksi antara L-aspartat dan α -ketoglutarat menjadi oksaloasetat dan L-glutamat (Hastuti, 2008).
Enzim ALT hanya terdapat di sitoplasma, sedangkan AST terdapat di
sitoplasma (20%) dan mitokondria (80%). ALT sebagian besar terdapat di hati,
terdapat juga di jaringan lain otot rangka dan ginjal namun konsentrasinya sangat
kecil sehingga lebih spesifik pada hati, sedangkan enzim AST selain di hati juga
banyak terdapat pada jaringan terutama jantung, otot rangka, ginjal, otak dan sel
darah merah (Giannini, Testa, and Savarino, 2005). Ketika hati mengalami kerusakan enzim AST (Aspartat Aminotransferase) dan ALT (Alanin
sistemik dan menyebabkan kadar dalam darah meningkat (Mahyuzar, Suarsana,
and Kardena, 2013).
Terjadinya kerusakan hati ditandai dengan peningkatan aktivitas serum
ALT dan AST sebesar lebih dari atau sama dengan tiga kali dari nilai normal
(Food and Drug Administration, 2009). Menurut Ziemmerman (1999), induksi
karbon tetraklorida dapat mengakibatkan tibulnya kerusakan hati steatosis, ditandai dengan meningkatan aktivitas serum ALT mencapai tiga kali lipat dan
peningkatan aktivitas serum AST mencapai empat kali lipat dari kondisi normal.
E. Karbon tetraklorida
Karbon tetraklorida mempunyai rumus molekul CCl4 yang berbentuk cair, tidak berwarna, berbau khas, dan tidak dapat menyala. Karbon tetraklorida
memiliki berat molekul 153,82; titik didih 770C (171 F); titik beku -230C (-9 F); gravitasi spesifik: 1,5940; kelarutan dalam air 0,08% pada suhu 200C; dapat larut dalam alkohol, benzena, kloroform, eter, karbon disulfida, petroleum eter,
naftalena, aseton, fixed dan volatile oils. Karbon tetraklorida digunakan untuk senyawa pendingin; fumigasi atau pengasapan di pertanian; pemadam kebakaran;
cairan pembersih; penghilang noda; bahan pelarut untuk lemak, minyak, lilin,
karet (Sentra Informasi Keracunan Nasional, 2010).
Karbon tetraklorida pada hewan dan manusia diabsorbsi dengan baik
oleh sistem gastrointestinal dan sistem respirasi. Karbon tetraklorida terdistribusi
ke seluruh tubuh, lalu akan terkonsentrasi pada jaringan dan organ pada hati, otak,
Biotransformasi karbon tetraklorida terjadi di hati pada retikulum
endoplasma yang dikatalis oleh sitokrom p-450 2E1 (CYP2E1). Proses
biotransformasi karbon tetraklorida tersaji pada gambar 2. Hasil biotransformasi
tersebut menghasilkan radikal triklorometil (•CCl3) (Jeon et al., 2003). Radikal triklorometil berikatan secara kovalen pada protein dan lemak tak jenuh.
Pengikatan radikal ini menyebabkan perubahan kimia di membran sel, sehingga
menyebabkan pecahnya sel, bahkan dapat menyebabkan kematian sel (Lu, 1995).
Gambar 2. Biotransformasi karbon tetraklorida (U.S Environmental Protection Agency, 2010)
Penambahan proton dan elektron pada radikal triklorometil dapat
membentuk kloroform (CHCl3), lalu dengan penambahan atom O akan membentuk triklorometanol. Radikal triklorometil secara lebih lanjut dapat
mengalami reduksi dehalogenasi oleh sitokrom P-450 membentuk diklorokarben
(CCl2) yang dapat berikatan secara ireversibel pada komponen jaringan atau bereaksi dengan air membentuk formyl chloride yang kemudian terdekomposisi menjadi monoksida (U.S Environmental Protection Agency, 2010).
Triklorometil yang bereaksi dengan oksigen akan membentuk radikal
triklorometil peroksi (COOCl3) dan pada keadaan anaerob, terdimerisasi membentuk heksakloroetan (U.S Environmental Protection Agency, 2010). Radikal triklorometil peroksi (COOCl3) menyerang lipid membran retikulum endoplasma dengan kecepatan yang melebihi radikal bebas triklorometil. Radikal
triklorometil peroksi menyebabkan peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid dapat
menyebabkan kerusakan membran sel, kerusakan mitokondria, dan akhirnya
menyebabkan kematian sel. Kerusakan ini berupa gangguan integritas membran
yang menyebabkan keluarnya berbagai isi sitoplasma. Enzim ALT yang ada di
dalam sitoplasma sel akan keluar sehingga meningkatkan jumlah enzim ALT
dalam darah (Panjaitan and Masriani, 2014; Wahyuni, 2005). Triklorometil peroksi dapat terdekomposisi membentuk phosgene (COCl2) dan elektrofilik klorin. Phosgene yang terbentuk dapat mereduksi glutation (GSH) membentuk
diglutathionnyl dithiocarbonate atau dengan sistein membentuk oxothiozolidine carboxylic acid (U.S Environmental Protection Agency, 2010). GSH berperan dalam melindungi sel dari stres oksidatif, penangkap radikal dan inhibitor dari