• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan Semangka

2.1.5 Khasiat tumbuhan

Kulit buah semangka digunakan untuk pengobatan: bengkak karena timbunan cairan pada penyakit ginjal, kencing manis (diabetes melitus), gatal karena tanaman beracun, sakit sewaktu bangun tidur pagi akibat alkohol (hangover), migren, mencegah kerontokan rambut, menghaluskan kulit dan meghilangkan flek hitam di wajah, kulit kasar, luka bakar dan terbakar matahari. Daging buah digunakan untuk pengobatan: pingsan karena udara panas (heat

stroke), rasa letih, demam, haus disertai mulut kering, napas berbau, air kemih

warnanya gelap dan kuning tua, nyeri sewaktu kencing, perut kembung karena banyak gas, susah buang air besar (sembelit), sakit tenggorok, sariawan, hepatitis,

tekanan darah tinggi (hipertensi), disfungsi ereksi (impoten), meningkatkan kesuburan pria, keracunan alkohol (alkoholism), asam urat tinggi dan menghilangkan kerutan di wajah. Biji digunakan untuk: susah buang air besar selama hamil atau usia tua, radang hati, radang selaput lendir usus, infeksi kandung kemih, kurang darah (anemia), membasmi cacing usus dan busung lapar (Dalimartha, 2003).

2.2 Ekstraksi

Ekstraksi adalah suatu cara menarik satu atau lebih zat dari bahan asal menggunakan suatu cairan penarik atau pelarut. Umumnya dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat-zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu. Tujuan utama ekstraksi dalam bidang farmasi adalah untuk mendapatkan atau memisahkan zat-zat yang memiliki khasiat pengobatan (Syamsuni, 2006).

Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Ditjen POM RI, 1995). Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri, alkaloida, flavonoida dan lain-lain (Ditjen POM RI, 2000).

Menurut Ditjen POM RI (2000), ada beberapa metode ekstraksi yaitu: 1. Cara dingin

Ekstraksi dengan cara dingin terdiri dari: a. Maserasi

pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruang (kamar). Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan yang kontinu (terus-menerus). Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan maserat selanjutnya.

b. Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruang. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan.

2. Cara panas

Ekstraksi dengan cara panas terdiri dari: a. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya pada metode ini dilakukan pengulangan proses pada residu pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna.

b. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

c. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (pengadukan kontinu) pada temperatur ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50°C.

d. Infudasi

Infudasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada temperatur 90oC selama 15 menit.

e. Dekoktasi

Dekoktasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air pada temperatur 90oC selama 30 menit.

2.3 Bakteri

Nama bakteri berasal dari bahasa Yunani “bacterion” yang berarti batang atau tongkat. Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok mikroorganisme bersel satu, tubuhnya bersifat prokariotik, yaitu tubuhnya terdiri atas sel yang tidak mempunyai pembungkus inti. Bakteri berkembang biak dengan cara membelah diri dan karena begitu kecil maka hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskopik (Waluyo, 2007).

Sel-sel individu bakteri dapat berbentuk seperti elips, bola, batang (silindris), atau spiral (heliks). Masing-masing ciri ini penting dalam mencirikan morfologi suatu spesies (Pelczar dan Chan, 1986). Berdasarkan morfologinya bakteri dapat dibedakan atas tiga bagian yaitu:

1. Bentuk kokus

Sel bakteri yang berbentuk seperti bola atau elips dinamakan kokus.Kokus muncul dalam beberapa penataan yang khas bergantung kepada spesiesnya.

a. Diplokokus: sel membelah diri pada satu bidang dan tetap saling melekat terutama berpasangan. Contoh: Streptococcus pneumoniae.

b. Streptokokus: sel membelah diri pada satu bidang dan tetap saling melekat membentuk rantai. Contoh: Streptococcus pyogenes.

c. Tetrakokus: sel membelah diri pada dua bidang dan secara khas membentuk kelompok terdiri dari empat sel. Contoh: Pediococcus cerevisiae.

d. Stafilokokus: sel membelah diri pada tiga bidang dalam suatu pola tak teratur, membentuk “gerombolan” kokus. Contoh: Staphylococus aureus.

e. Sarsina: sel membelah diri pada tiga bidang dalam suatu pola teratur, membentuk penataan sel seperti kubus. Contoh: Sarcina ventriculi (Pelczar dan Chan, 1986).

2. Bentuk basil

Basil adalah bakteri yang mempunyai bentuk batang atau silinder dan membelah dalam satu bidang, berpasangan ataupun bentuk rantai pendek atau panjang. Bentuk basil dapat dibedakan atas:

a. Monobasil yaitu basil yang terlepas satu sama lain dengan kedua ujung tumpul. Contoh: Eschericia coli.

b. Diplobasil yaitu basil yang bergandeng dua dan kedua ujungnya tumpul. Contoh: Salmonella typhimurium.

c. Streptobasil yaitu basil yang bergandengan panjang membentuk rantai. Contoh:

Bacillus anthracis (Pelczar dan Chan, 1988).

3. Bentuk spiral

Bentuk spiral bakteri dapat dibedakan atas:

a. Spiral yaitu bentuk yang menyerupai spiral atau lilitan. b. Vibrio yaitu bentuk batang yang melengkung berupa koma.

c. Spirochaeta yaitu menyerupai bentuk spiral, bedanya dengan spiral dalam kemampuannya melenturkan dan melengkukkan tubuhnya sambil bergerak. Contoh: Spirillum, Vibrio cholerae, Spirochaeta palida (Volk dan Wheeler,1993).

a. Nutrisi

Sumber zat makanan bagi bakteri diperoleh dari senyawa karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, unsur logam (natrium, kalsium, magnesium, mangan, besi, tembaga dan kobalt), vitamin dan air untuk fungsi-fungsi metabolik dan pertumbuhannya (Pelczar dan Chan, 1986).

b. Temperatur

Bakteri sebagai kelompok organisme hidup, dapat tumbuh pada rentang suhu antara -5oC hingga 80oC. Seluruh bakteri dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu dari tiga kelompok utama, bergantung pada kebutuhan suhunya:

1. Psikrofil: spesies-spesies bakteri yang dapat tumbuh pada rentang suhu -5oC sampai 20oC.

2. Mesofil: spesies-spesies bakteri yang dapat tumbuh pada rentang suhu 20oC sampai 45oC.

3. Termofil: spesies-spesies bakteri yang akan tumbuh pada suhu 35oC lebih. Dua kelompok bakteri termofil:

- Termofil fakultatif: organisme-organisme yang dapat tumbuh pada suhu 37oC, dengan suhu pertumbuhan optimum 45oC hingga 60oC.

- Termofil obligat: organisme-organisme yang dapat tumbuh hanya pada suhu diatas 50oC, dengan suhu pertumbuhan optimum diatas 60oC (Cappuccino dan Natalie, 2013).

c. pH

pH merupakan indikasi konsentrasi ion hidrogen. Peningkatan dan penurunan konsentrasi ion hidrogen dapat menyebabkan ionisasi gugus-gugus dalam protein, amino dan karboksilat. Hal ini dapat menyebabkan denaturasi protein yang mengganggu pertumbuhan sel (Pratiwi, 2008).

Pertumbuhan dan kelangsungan hidup mikroorganisme sangat dipengaruhi oleh pH lingkungan dan seluruh bakteri serta mikroorganisme-mikroorganisme lainnya memiliki kebutuhan pH yang berbeda. Rentang pH spesifik untuk bakteri adalah antara 4 dan 9, dengan pH optimum antara pH 6,5 hingga 7,5 (Cappuccino dan Natalie, 2013).

Mikroorganisme asidofil tumbuh pada kisaran pH optimal 1,0-5,5; mikroorganisme neutrofil tumbuh pada pH optimal 5,5-8,0; mikroorganisme alkalofil tumbuh pada pH optimal 8,5-11,5; sedangkan mikroorganisme alkalofil ekstrem tumbuh pada kisaran pH optimal ≥10 (Pratiwi, 2008).

d. Oksigen

Berdasarkan keperluan akan oksigen, bakteri dibagi dalam 5 golongan: - Bakteri anaerob obligat: hidup tanpa oksigen, oksigen toksis terhadap golongan bakteri ini.

- Bakteri anaerob aerotoleran: tidak mati dengan adanya oksigen.

- Bakteri anaerob fakultatif: mampu tumbuh baik dalam suasana dengan atau tanpa oksigen.

- Bakteri aerob obligat: tumbuh subur bila ada oksigen dalam jumlah besar. -Bakteri mikroaerofilik: hanya tumbuh baik dalam tekanan oksigen yang rendah (Nasution, 2014).

e. Tekanan osmosis

Osmosis merupakan perpindahan air melewati membran semipermeabel karena ketidakseimbangan material terlarut dalam media (Pratiwi, 2008). Medium yang paling cocok bagi kehidupan mikroba adalah medium isotonik terhadap isi sel mikroba (Waluyo, 2007).

Bakteri memerlukan air dalam konsentrasitinggi (cukup) disekitarnya karena diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangbiakkan (Nasution, 2014). 2.3.1 Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif, tidak bergerak,

tidak berspora dan mampu membentuk kapsul, berbentuk kokus dan tersusun seperti buah anggur. Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob, tetapi bila sudah berpindah ke tempat lain dapat bersifat anaerob fakultatif. Suhu optimum pertumbuhan Staphylococcus aureus adalah 35oC-37oC, suhu minimum 6,7oC dan suhu maksimum 45,4oC. Bakteri ini dapat tumbuh pada pH 4,0-9,8, pH optimum 7,0-7,5 (Nasution, 2014).

Gambar 2.1 Bakteri Staphylococcus aureus

Menurut Dwidjoseputro (1978), sistematika Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut: Divisi : Protophyta Kelas : Schizomycetes Ordo : Eubacteriales Famili : Micrococcacea Genus : Staphylococcus

Staphylococcus aureus patogen utama bagi manusia, hampir setiap orang akan mengalami beberapa tipe infeksi Staphylococcus aureus sepanjang hidupnya, mulai dari keracunan makanan atau infeksi kulit ringan, sampai infeksi berat yang mengancam jiwa. Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit di dalam saluran-saluran pengeluaran lendir dari tumbuh manusia dan hewan-hewan seperti hidung, mulut dan tenggorokan dan dapat dikeluarkan pada waktu batuk atau bersin. Bakteri ini juga sering terdapat pori-pori dari permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus. Selain dapat menyebabkan intoksikasi,

Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan bermacam-macam infeksi seperti

jerawat, bisul, meningitis, pneumonia pada manusia dan hewan (Nasution, 2014). 2.3.2 Escherichia coli

Bakteri Escherichia coli umumnya merupakan flora normal saluran pencernaan tubuh manusia dan hewan. Escherichia coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang, tidak berkapsul, umumnya mempunyai fimbria dan bersifat motile. Sel Escherichia coli mempunyai ukuran 2,0-6,0 μm, tersusun tunggal, berpasangan, dengan flagella peritikus (Supardi dan Sukamto, 1999).

Gambar 2.2 Bakteri Escherichia coli

Bakteri Escherichia coli tumbuh pada suhu 10oC sampai 40oC dengan suhu optimum 37oC. Bakteri ini tumbuh pada pH optimum yaitu pada pH 7,0-7,5.

Bakteri ini relatif sensitif terhadap panas dan dapat diinaktifkan pada suhupasteurisasi makanan atau selama pemasakan makanan (Supardi dan Sukamto, 1999).

Menurut Dwidjoseputro (1978), sistematika Escherichia coli adalah sebagai berikut: Divisi : Protophyta Kelas : Schizomycetes Ordo : Eubacteriales Famili : Enterobacteriaceae Genus : Escherichia

Spesies : Escherichia coli

Strain Escherichia coli yang memproduksi enterotoksin melepaskan toksin yang menyebabkan sekresi elektrolit dan cairan ke saluran pencernaan yang berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan gejala diare yang bervariasi yaitu dari ringan sampai berat (Supardi dan Sukamto, 1999).

Dokumen terkait