Pada bagian ini, pembahasan difokuskan pada kajian tentang sejarah perjalanan ideologi—yang dalam hal ini adalah Khawa>rij—dalam masa-masa periwayatan hadis. Mulai dari kelahirannya hingga perkembangan terakhir sesuai dengan masa-masa perkembangan hadis. Karena itu, pembahasan diarahkan pada relasi Khawa>rij sejak awal kemunculannya dengan aktifitas para ahli hadis. Tujuan pembahasan ini adalah untuk melihat peta perkembangan Khawa>rij dalam konstelasi ahli hadis. Bagaimana cara ahli hadis berinteraksi dengan periwayat-periwayat berideologi Khawa>rij.
Sedangkan secara umum, periodisasi hadis dibagi menjadi tiga, yaitu periode formulasi, periode periwayatan dan post transmisi. Periode formulasi dimulai dari masa rasul hingga masa sahabat. Sementara periode periwayatan dimulai dari masa tabi'in hingga masa kodifikasi hadis. Tradisi post transmisi dimulai dari masa setelah kodifikasi.
Periode Formulasi Hadis dan Genealogi Khawarij
Khawa>rij, memang dikenal sebagai kelompok yang paling unik. Sepanjang sejarah, rekam jejaknya selalu menunjukkan statusnya sebagai oposan pemerintah. Ia selalu kerap berbeda dengan kelompok muslim lain. Bahkan ia dikenal sangat keras sehingga seringkali mengkafirkan siapapun yang tidak sepaham dengannya dan menghalalkan darahnya.
Khawa>rij sangat disibukkan oleh sebuah misi perjuangan menegakkan hukum Allah dalam setiap pemerintahan. Kesibukannya dalam berjuang ini seolah-olah dapat menutup kesempatan mereka dalam bidang keilmuan, termasuk hadis. Bahkan mereka pun dikenal sebaga kelompok yang mencukupkan diri terhadap al-Quran dalam menegakkan hukum Allah itu. Akibatnya, hadis-hadis riwayat mereka pun sangat sedikit jumlhanya.90
Dibandingkan dengan kelompok lain yang seumuran, Khawa>rij memang terbilang paling sedikit jumlah hadis riwayatnya. Berbeda dengan Shi>‘ah misalnya, yang memiliki banyak sekali lieteratur hadis. Dalam koleksi hadis yang disusun oleh umala Sunni sendiri, jumlah periwayat Khawa>rij juga dapat dibilang paling sedikit dibanding kelompok lain seperti Shi>‘ah. Entah apa penyebab pastinya, namun yang jelas demikianlah kenyataannya. Khawa>rij memang dikabarkan memiliki literatur hadis, meski sangat minim, namun semuanya telah punah di telan masa dan kini tinggal kenangan saja. Hal ini membuat kajian periwayatan Khawa>rij tidaklah semenarik wacana kajian hadis di Shi>‘ah, Muktazilah, Qadari>yah, dan kelompok ideologi lain. Lalu apakah benar demikian, bahwa Khawa>rij tidak memiliki peran dalam bidang hadis karena disibukkan dengan misi makar itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dilakukan penelusuran terhadap tokoh-tokoh Khawa>rij yang terekam dalam sanad-sanad hadis dan beberapa kenangan literatur peninggalan mereka.
Merujuk pada keterangan yang ditulis oleh seorang ulama Khawa>rij, didapati sebuah pernyataan bahwa sunnah Nabi merupakan sumber syariat yang harus ditegakkan, sebagaimana al-Quran. Khawa>rij berdasarkan keterangan al-Sa>limi> (1869-1914 M) ini juga mengakui Ijma> dan Qiyas sebagai dalil alternatif jika tidak didapati dalam al-Quran maupun sunnah.91 Dalil yang digunakan oleh al-Sa>limi> pun tidak berbeda dengan dalil otorisasi Sunnah yang digunakan oleh ulama Sunni. Ayat-ayat seputar kemaksuman Nabi, dan kewajiban peneladanan serta ketaatan terhadap Nabi pun menjadi landasan utama otorisasi Sunnah. Abu> Gha>nim al-Khura>sa>ni> (±283 H) yang dikenal sebagai ulama fikih aliran Khawa>rij pun seringkali menyebut sebuah pernyataan yang menunjukkan otoritas Sunnah dalam mazhabnya. Dalam al-Mudawwanah, Abu> Gha>nim seringkali menyatakan, "Wa-law na’lam anna al-Nabi> fa’ala dha>lik, la akhadhna> bih."92
Di samping itu, Abu> Ya’qu>b al-Wa>rijla>ni> (w. 570 H) juga dikabarkan pernah mengeluarkan sebuah pernyataan terkait otoritas Sunnah dalam mazhabnya itu. Pada saat berziarah di makam Rasulullah, al- Wa>rijla>ni> menyerukan sebuah larangan bertaklid kecuali kepada Nabi. Al-Wa>rijla>ni juga menganjurkan
90Sebuah hadis prediktif dari Nabi seringkali dialamatkan kepada kelompok garis keras ini adalah"Innaha> taku>n ba‘di>
ru>wa>tun yarwu>na ’anni> al-h}adi>th fa-a’rid}u> h}adi>thahum ’ala>-al-Qur'a>n. Fa-ma> wa>faqa al-Qur'a>n fa-khudhu> bih, wa-ma> lam yuwa>fiq al-Qur'a>n fa-la> ta'khudhu> bih." Lihat dalam al-Da>ruqut}ni>, al-Sunan, iv, 208. Meski lemah, hadis tersebut sangat populer di tengah masyarakat yang dihebohkan oleh isu seputar Khawa>rij dalam kajian hadis.
91Nu>r al-Di>n al-Sa>limi>, T{al’at al-Shams (‘Amma>n: Waza>rah al-Tura>th al-Qaumi> wa-al-Thaqa>fah, cet.2, 1998),i, 18 92Abu> Gha>nim al-Khura>sa>ni>, al-Mudawwanah al-S}ughra>, i, 157, 166. Lihat juga dalam Abu> Gha>nim, al-Mudawwanah al-
mengikuti jejak para sahabat Nabi, namun tidak bertaklid buta.93 Pernyataan tegas tersebut cukup menjadi bukti bahwa Khawa>rij juga mengakui kehujahan Sunnah.
Sebagai kelompok ideologi yang lahir di masa-masa awal sejarah umat Islam, tentu Khawa>rij yang mengakui otoritas Sunnah ini mestinya juga turut berperan aktif dalam perkembangan hadis sebagaimana kelompok lain. Maka, mustahil jika Khawa>rij hanya sedikit sekali meriwayatkan hadis.
Sebagaimana kelompok lain, Sunni dan Shi>‘ah, Khawa>rij juga memiliki andil yang besar dalam pelestarian Sunnah Nabi. Hal ini dapat ditelusuri melalui beberapa aktifitas ilmiah Khawa>rij dalam upayanya melestarikan Sunnah Nabi sebagaimana aktifitas yang dilakukan oleh para ulama hadis Sunni dan Shi>‘ah. Setidaknya, penelusuran tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan rih}lah fi> t}alab al-h}adi>th
(traveling tradition) dan pengajaran (tabli>gh), baik secara lisan maupun tulisan (tadwi>n).
Hasil pengembaraan ilmiah untuk bertemu para sahabat itu, juga terekam dalam bebrapa literatur Sunni misalnya, H{ilyah al-Awliya>.94 Abu> Sufya>n Mah}bu>b al-Rah}i>l mengabarkan bahwa Jabir pernah
menemui ‘A<'ishah dan menanyakan tentang satu hal yang belum pernah ditanyakan oleh siapapun. Ia hendak bertanya tentang bagaimana Nabi berjimak, namun wajahnya menampakkan rasa malu dan ketakutan yang luar biasa sehingga bercucuran keringat. Melihat hal itu, ‘A<'ishah pun berkata, "Katakanlah, Nak! Apa yang hendak kau tanyakan?"95 Hal ini menunjukkan bahwa Ja>bir benar-benar semangat dalam mencari tahu seputar Sunnah Nabi, hingga dalam masalah-masalaha yang sangat personal.
Kegiatan Rihlah yang dilakukan Ja>bir ini pun kemudian diteruskan oleh murid-muridnya. Adalah Abu> ‘Ubaydah Muslim bin Abu> Kari>mah (±145 H), salah seorang murid senior Ja>bir yang dikenal paling aktif melanjutkan misi gurunya ini. Bahkan Abu> ‘Ubaydah dijadikan rujukan oleh para pencari hadis dari berbagai daerah, seperti Yaman, ‘Amma>n, Khura>sa>n, Basrah, dan Maroko untuk belajar hadis darinya. Tercatat beberapa murid berideologi Khawa>rij yang paling terkenal, di antaranya yaitu al-Rabi>’ bin H{abi>b al-Fara>hi>di> (80-175 H) dan Abu> Gha>nim Bishr bin Gha>nim al-Khura>sa>ni> (±283 H).
Dari beberapa tokoh Khawa>rij ini, dapat disimpulkan bahwa di antara para pejuang Khawa>rij juga ada yang giat menekuni periwayatan hadis serta kajian keislaman lainnya, melalui program rih}lah.
Khawarij dan Periwayatan Hadis
Dalam literatur-literatur hadis dan ilmu hadis Sunni, sangat sulit dijumpai keterangan yang menyebutkan peranan Khawa>rij dalam periwayatan hadis dan pembukuannya. Namun, hal itu masih dapat ditelusuri melalui literatur-literatur sejarah. Ibn ‘Abd al-Barr dan Ibn Sa‘d mengutip riwayat al-Rabi>‘ bin Sa‘d yang menyebutkan bahwa Ja>bir pernah menulis riwayat di hadapan Abdurrahma>n bin Sa>bit} pada papan
(ra'aytu Ja>biran yaktub ’inda ’Abdirrah}ma>n bin Sa>bit} fi>-al-alwa>h}). Ja>bir melakukan pencatatan riwayat
tersebut bukan atas dasar inisiatif pribadinya, melainkan terinspirasi oleh kawan-kawan seperguruannya yang juga banyak mencatat hadis dari Abdurrahman.96
Penulisan hadis yang dilakukan oleh Jabir sebagaimana disebutkan oleh Ibn ’Abd al-Barr tersebut menunjukkan bahwa tradisi tersebut telah dilakukan oleh Khawa>rij sejak dini, sekitar abad pertama dan kedua hijriah. Namun sayangnya buku-buku catatan tersebut telah sirna dan tidak banyak yang sampai hingga kini. Kepunahan karya Khawa>rij ini terjadi akibat berbagai peperangan yang meluluhlantahkan pasukan Khawa>rij berikut hartanya, termasuk pula buku-buku karya mereka.
Meski demikian, ada beberapa karya putera Khawa>rij yang ditemukan dan seringkali dijadikan acuan penelitian seputar hadis-hadis riwayat Khawa>rij. Beberapa karya tersebut adalah Musnad al-Rabi>’ bin H{abi>b,97 al-Mudawwanah,98 Ah}a>di>th Fi> al-’Aqi>dah,99 Riwa>ya>t Abi> Sufya>n Mah}bu>b bin al-Rah{i>l al-
Qurashi>,100 Riwa>ya>t al-Ima>m Aflah}, dan Maqa>t}i>’ al-Ima>m Ja>bir bin Zayd.
93 Pernyataan al-Wa>rijla>ni> ini pada dasarnya sama persis dengan pernyataan para ulama Sunni terkait dengan ijtihad,
ittiba>‘, dan taklid. Ia menyatakan, "La> taqli>da illa> li-s}a>h}ib ha>dha> al-qabr wa-amma> al-s}ah}a>bah fahum aula> bi-al-ittiba>’ li-’ahdihim bi-Rasu>lilla>h, wa-amma> al-ta>bi’u>n fa-hum rija>l wa-nah}u rija>l."
94Lihat Abu> Nu‘aym Ah{mad bin Abdulla>h al-As}biha>ni>, H{ilyah al-Awliya> (Beiru>t: Da>r al-Kita>b al-’Arabi>, 1405 H), iii, 85-
92.
95Al-Rabi>’ bin H{abi>b, al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h}, 248.
96Lihat Ibn ’Abd al-Barr, Ja>mi’ Baya>n al-’Ilm wa-Fad}lih, 72. Lihat juga Ibn Sa’d, al-T{abaqa>t al-Kubra>, vii, 131.
97Kitab ini adalah kitab hadis yang ditulis oleh al-Rabi>’ bin H{abi>b, dan berisi hadis-hadis Rasul seputar Ilmu, Adab, dan
Hukum. Dalam kitab yang juga biasa dikenal dengan nama al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h} ini, tidak ditemukan sama sekali perkataan sahabat
(aqwa<l al-s{ah}a>bah), dan tabiin, kecuali hanya sedikit saja, dan itu pun hanya sebagai penjelas hadis terkait saja. Lebih menariknya lagi, sebagian besar riwayat-riwayat yang ada dalam kitab ini tergolong thula>thi>ya>t (hanya memiliki tiga periwayat dalam setiap sanadnya). Dengan demikian, sanad-sanad yang ada dalam kitab ini tentu merupakan sanad ’a>li> dan dengan demikian, kekuatannya lebih terjamin dan kemungkinan terjadi kesalahan pun minim. Jumlah hadis yang termuat dalam kitab ini mencapai 743 hadis, dengan komposisi, yaitu 543 muttas}il, 77 mara>si>l Ja>bir, 26 hadis mara>si>l Abu> ’Ubaydah, 97 hadis munqat}i’. Semuanya marfu>’,
Sementara itu, terkait dengan metode periwayatan hadis, Khawa>rij memiliki konsep yang tidak berbeda dari konsep periwayatan Sunni. Dalam kode etik periwayatan hadis versi Khawa>rij juga mengharuskan adanya ittis}a>l al-sanad, diriwayatkan oleh orang yang ’a>dil101 dan d}a>bit}. Di samping itu, para
periwayat hanya bisa diterima hadisnya jika telah mencapai usia baligh dan berakal sehat. Tidak ada perbedaan yang signifikan dengan konsep periwayatan hadis konvensional Sunni.
Dengan demikian, secara umum ilmu hadis dank ode etik periwayatan dalam Khawa>rij tidak berbeda secara signifikan dengan ilmu hadis konvensional dalam Sunni. Terkait dengan periwayatan hadis pun, Khawa>rij sama dengan Sunni. Meskipun Khawa>rij sangat keras dengan siapapun yang tidak seideologi dengannya, dalam periwayatan hadis, mereka tetap dapat saling memberi dan menerima, selama tidak menghalalkan kebohongan.
Dibenci, Tapi Diterima; Khawarij di Mata Ahli Hadis
Sebuah hadis sahih menyatakan bahwa di akhir zaman kelak akan muncul sekelompok pemuda yang antusias menyampaikan sabda-sabda Nabi, namun enggan mengamalkannya.102 Hadis riwayat al-Bukha>ri dan Muslim tersebut seringkali dijadikan sebagai karakter Khawa>rij. Konsekuensinya, dalam beberapa riwayat yang lebih lengkap, hadis tesebut seringkali dijadikan legitimasi bagi pengkafiran Khawa>rij dan kehalalan darahnya.
Khawa>rij memang unik. Keberadaannya kini, sebagai sebuah institusi ideologi telah tiada, namun gaungnya masih bergema di telinga para pengkaji Islam. Di satu sisi, Khawa>rij masih dikategorikan sebagai kelompok ideologi muslimin (t}awa>'if al-muslimi>n), namun di sisi lain banyak tema-tema dalam kitab hadis dengan tegas menghalalkan darah Khawa>rij. Khawa>rij memang telah musnah, namun ia tetaplah fakta sejarah yang kini tinggal kisah. Meski demikian, tak jarang dijumpai klaim-klaim bahwa Khawa>rij masih lestari hingga kini karena karakter ideologi ini masih banyak melekat di otak para muslim. Khawa>rij modern seringkali diidentikkan dengan gerakan makar terhadap pemerintah resmi atau transnasional, ekstrimis muslim, dan penyeru Negara Islam. Namun pada kenyataannya, pihak-pihak yang tertuduh tersebut ternyata tidak memiliki kesamaan ideologi secara komprehensif-holistis dengan Khawa>rij masa lalu.
Lalu, pertanyaannya adalah siapakah sebenarnya Khawa>rij itu? dan mengapa eksistensinya dibumihanguskan? Apa ideologinya? Dan yang lebih penting bagi kajian ini, mengapa dalam kritik hadis, riwayat mereka masih dapat diterima sementara darah mereka halal ditumpahkan?
Dalam banyak literatur Sunni, hadis-hadis tentang kisah Dhu> al-Thudayyah atau Dhu> al-Khuwais}irah H}urqu>s} bin Zuhayr al-Tami>mi> bersama Rasulullah sangatlah populer. Dalam hadis itu, tokoh tersebut berperan sebagai orang yang pernah memprotes Nabi dalam hal pembagian ghanimah pasca perang Hunain. Menurutnya, Nabi telah berlaku tidak adil.103 Nabi pun marah, dan menyatakan bahwa dialah (pemrotes tersebut) pionir "Khawa>rij." Dalam kesempatan itu, Nabi pun memberikan kriterianya dalam hal akidah, yaitu ekstrim dalam beragama (mutashaddidu>n fi> al-di>n), namun dangkal imannya (sat}ah}iyyu>n fi> al-
98Pada dasarnya, al-Mudawwanah adalah buku Fikih. Hanya saja, dalam kitab ini, disebutkan banyak sekali dasar hukum
dari hadis lengkap dengan sanadnya. Di samping banyak menyebutkan hadis-hadis musnad dari Nabi, kitab ini juga banyak mengutip pendapat para sahabat dan tabiin. Kitab ini ditulis oleh Abu> Gha>nim Bishr bin Gha>nim al-Khura>sa>ni>. Dalam buku ini terdapat sekitar 140 hadis dari Nabi (marfu>’), dan hampir seluruhnya diriwayatkan oleh orang-orang Khawa>rij sendiri, khususnya dari aliran Iba>d}i>yah. Dan karena itu, buku ini dikenal sebagai buku fiqh iba>d}i>.
99Kitab ini ditulis oleh al-Rabi>’ bin H{abi>b. Berbeda dengan al-Musnad, karya yang dalam ilmu hadis dapat dikategorikan
sebagai juzu' ini berisi hadis-hadis Nabi, dan athar Sahabat serta tabiin. Riwayat-riwayat yang ditulis dalam kitab ini hanya yang berkaitan dengan akidah saja, dan tidak untuk masalah lain.
100 Sebenarnya kitab ini adalah berisi kumpulan riwayat Abu Sufyan. Hanya saja, ia tidak dicetak sendiri, melainkan
digabung dengan al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h} oleh al-Wa>rijla>ni>. Kitab ini berisi hadis-hadis tentang berbagai tema, yang berasal dari Nabi, Sahabat, maupun Tabiin.
101Dalam perspektif Khawa>rij, al-Sa>limi> menegaskan bahwa kriteria adil bagi periwayat hadis adalah komitmen untuk
menjalankan segala kewajiban yang diperintahkan Allah dan menjauhi segenap larangannya. "(al-’Adl) huwa al-ladhi> yaf’al jami’ ma> yajib ’alayh min amr rabbih wa-yajtanib jami>’ al-muh{arrama>t al-lati> naha>hu Alla>h ’anha>." LihatAl-Sa>limi>, T{al’at al-Shams, ii, 38.
102Hadis tersebut adalah, "Sayakhruj qaum fi> a>khir al-zama>n, h}udatha>’ al-asna>n, sufaha>’ al-ah}la>m, yaqu>lu>n min khayr
qaul al-bari>yah la> yuja>wiz i>ma>nuhum h}ana>jirahum." Lihat al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Istita>bah al-Murtaddi>n, Ba>b Qatl al- Khawa>rij wa-al-mulh}idi>n ba‘da iqa>mat al-h}ujjah, dalam S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, iii, 51. Sahih Muslim, Kita>b al-Zaka>h, Ba>b al-Tah}ri>d} ‘ala> qatl al-Khawa>rij. i, 746.
103Lihat Ibn Hisha>m, al-Si>rah al-Nabawi>yah (Beiru>t: Da>r al-Qalam, t.th), iv, 139-140; Ibn Jari>r al-T}abari>, Ja>mi‘ al-Baya>n
fi>-Ta'wi>l al-Qur'a>n (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-'Ilmi>yah, 1992), vi, 393-394. Seorang orientalis, Julius Falhozen menilai kisah ini sebagai dongeng fiktif (ust}u>rah) belaka. Lihat dalam Ahmad Mu‘i>t{ah, al-Isla>m al-Khawa>riji>, 14.
i>ma>n).104 Mayoritas di antara mereka adalah qurra>' dan pada awalnya membaiat Ali hingga pecahnya perang
Siffin. Sementara itu, dalam beberapa riwayat Nabi juga dikabarkan menyebutkan ciri-ciri fisiknya, yaitu pelontos kepalanya, berkumis tipis, dan cingkrang celananya hingga ke pertengahan betis.105 Dalam beberapa riwayat tersebut juga dikabarkan bahwa Nabi juga memerintahkan agar mereka itu diperangi.106 Maka, pada saat perang Nahrawan berkecamuk, tokoh dalam hadis tersebut pun terbunuh sehingga khalifah Ali sangat bersemangat untuk menemukan mayatnya dan saat ditemukan, Ali langsung bersujud syukur.107
Paradigma berfikir yang menghasilkan ideologi-ideologi demikian itu, sangat berbeda dengan manhaj ahli hadis. Apalagi mereka juga mengkafirkan mayoritas sahabat yang terlibat dalam fitnah, baik yang pro maupun kontra. Mereka juga mengkafirkan ‘Uthma>n bin ‘Affa>n, Muawiyah, dan ‘Amr bi al-‘A<s}. Bahkan mereka juga mengkafirkan ‘Ali> setelah arbitrase Siffin. Sebagai konsekuensinya, mereka pun menolak seluruh riwayat hadis yang berasal darinya. Di sinilah, ahli hadis menolak Khawa>rij sebagai kelompok yang benar. Mereka telah menyalahi al-Quran dengan memahaminya secara letterlek dan menolak sunnah karena menganggap para sahabat telah kafir.
Dalam hal periwayatan hadis, ada salah satu fenomena yang cukup menarik. Hubungan yang harmonis antara seorang guru-murid, sekaligus majikan-pelayannya, yaitu antara Ibn ‘Abba>s yang pro ‘Ali>—bahkan menjadi utusan ‘Ali> dalam menghadapi Khawa>rij di Nahrawan—dengan Ikrimah, pembantunya yang berideologi Khawa>rij. Bahkan Ikrimah adalah murid setia dan paling otoritatif dari Ibn ‘Abba>s. Tafsir al-Quran dan hadis-hadis dari Ibn ‘Abba>s yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah menjadi lebih kuat dan lebih otoritatif dibanding dari murid Ibn ‘Abba>s yang lain. ‘Ikrimah juga memiliki banyak murid dan hadis-hadisnya pun tersebar di berbagai literatur otoritatif Sunni, seperti al-kutub al-sittah.
Bahkan dalam literatur-literatur hadis milik Khawa>rij Iba>d}iyah yang masih lestari hingga kini,
Musnad al-Rabi>‘ bin H{abi>b al-Iba>d}i>, banyak ditemukan riwayat-riwayat dari sahabat yang konon telah
dikafirkan itu. Banyak ditemukan dalam kitab tersebut riwayat-riwayat dari ‘Ali>, ‘Uthma>n bin ‘Affa>n, ‘A<'ishah, Abu> Hurayrah, dan Anas bin Ma>lik.108 Sementara itu, mengenai hadis a>h}a>d, al-Salimi, sebagaimana dikutip oleh A‘z}ami>, menyatakan sebagai hujjah. Dan jika ada hadis a>h}a>d bertentangan dengan qiyas, al-Salimi> menegaskan bahwa mayoritas teolog mereka lebih mengedepankan hadis a>h}a>d
daripada qiyas.109
Khawa>rij juga memiliki peran penting dalam periwayatan hadis, meski kini riwayat mereka banyak yang punah. Ibn Kathi>r (w. 774 H) dalam beberapa hal juga meriwayatkan dari orang-orang Khawa>rij yang dinilainya jujur. Terkait kisah Siffin, misalnya, Ibn Kathi>r meriwayatkan dari orang-orang Khawa>rij yang