0
SINOPSIS
PERIWAYAT KHAWARIJ
DALAM LITERATUR HADIS SUNNI
T E S I S
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat
Memperoleh Gelar Magister Agama bidang Humaniora (MA.Hum) Konsentrasi Hadis dan Ilmu Hadis
Oleh:
AHMAD ‘UBAYDI HASBILLAH
NIM: 10.2.00.1.05.09.0059
Pembimbing:
Dr. Fuad Jabali, MA
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
1 ABSTRAK
Tesis ini berkesimpulan bahwa semakin tinggi komitmen seseorang terhadap Sunnah Nabi, semakin dapat menetralisir bias ideologi dalam periwayatan hadis. Maka, ideologi seorang periwayat tidak dapat dijadikan sebagai alasan penolakan sebuah hadis. Tesis ini juga menunjukkan bahwa seorang penganut ideologi sektarian dapat meriwayatkan hadis secara objektif. Di samping itu, fenomena periwayatan lintas ideologi menunjukkan bahwa efek perbedaan ideologi tidaklah signifikan dalam proses periwayatan, namun cukup signifikan dalam validasi dan pemahaman hadis.
Kesimpulan ini berbeda dengan kesimpulan Maya Yazigi bahwa hadis tidak otentik dari Nabi karena sektarianisme orang-orang yang terlibat dalam hadis tersebut. Kassim Ahmad juga meragukan otoritas hadis karena hadis Nabi bias ideologi, bertentangan dengan rasio, bias gender,
dan rasis. Demikian juga William Muir dalam
The Life of Mahomet,
yang menyatakan bahwahadis tidaklah otentik dari Nabi karena dalam periwayatannya sangat bias dan sarat dengan pemalsuan. Kebergantungan pada individu periwayat dan perselisihan politik-keagamaan antar komunitas muslim adalah penyebab utamanya.
Pada saat yang sama, kesimpulan ini juga sama dengan tesis ‘A>’id} al-Qarni> dan Muh{ammad Mus{t}afa> al-A‘z}ami> yang menyatakan bahwa periwayatan seorang penganut ideologi sektarian juga dapat diterima selama tidak provokatif atau mendukung ideologinya. Tesis ini juga menguatkan teori al-Qa>simi> tentang
"al-mubadda‘u>n"
yang menolak pelabelan bidah kepada para penganutideologi non-Sunni dan penetapan
jarh}
terhadap seorang periwayat karena tidak berideologiAhlussunnah.
Kesimpulan ini diperoleh dari analisis sosio-historis terhadap beberapa kasus periwayatan hadis dari para periwayat yang berafiliasi dalam kelompok-kelompok ideologi. Data-data penelitian diperoleh melalui kajian pustaka
(library research)
dengan menggunakan ilmutakhri>j
al-hadi>th
danrija>l al-h}adi>tth
. Dalam proses identifikasi, sumber yang dipakai adalah literatur-literaturABSTRACT
This Thesis concludes the higher narrators' commitment to the Sunna, the higher their ability to neutralize the ideological bias in the Sunna. Then, the ideology of narrator could not be used as a basis for the denial of h}adi>th. This thesis shows an adherent of sectarian ideology may narrate hadiths objectively. In addition, the phenomenon of cross-transmission of ideology suggests the effect of ideological differences is not too significant in the process of narration, however is quite significant in the validation and understanding of hadi>th.
This conclusion is different from the thesis of Maya Yazigi that hadith is not authentic from the Prophet because of sectarianism of some people involved in the hadith. Kassim Ahmad is also doubtful about the authority of hadith, because it is ideological bias, contrary to the ratio, gender bias, and racism. Similarly, William Muir in his
The Life of Mahomet,
stated h}adi>ths are not authentically from the Prophet because of the bias and full ideologies in the process narration. The independency of narrators and quarrel of political-religious Muslim communities is the main cause.At the same time, this conclusion is also similar to the thesis of ‘A>’id} al-Qarni> and Muh{ammad Mus{t}afa> al-A‘z}ami>, who stated the narrations of sectarian ideologists are acceptable as long as not to support their ideology. This thesis is also defense of al-Qa>simi>'s theory of
"al-mubadda‘u>n"
denied the labeling of heresy to the adherent of non-Sunni ideology and the denouncing(jarh})
the narrators because of their non-Sunni> ideology.
هﺬﻫ ﺖﻔﺸﻛ
ﺔﻟﺎﺳﺮ ا
ﺔﻳاور タ yﻮ ﻮﻳﺪﻳﻷا ᄚﺤ ا ﺪﻴﻴ: タ ﻢﻬﺗرﺪﻗ يواﺮ ا ماᆲﻟا نأ
ﺚﻳﺪJا
.
ﺚﻳﺪJا ﺾﻓﺮ ﺐﺒﺴﻛ ﺎﻬﻣاﺪﺨﺘﺳا زﻮ. ﻻ ةاوﺮ ا ﺔﻴﺟﻮ ﻮﻳﺪﻳأ نﺈﻓ اﺬﻜﻫو
.
ﺖﻟدو
ﺔﻟﺎﺳﺮ ا
ﻴﺟﻮ ﻮﻳﺪﻳأ يأ ヘإ ヤﺘﻨTا يواﺮ ا نأ
ﺔ
ﺚﻳﺪJا ﺔﻳاور タ ﺎﻧﻮ ﺄﻣ نﻮ ﻳ نأ ﻦ ﻤﻳ
.
،ﻚ ذ ヘإ ﺔﻓﺎﺿﻹﺎ و
ةﺮﻫﺎﻇ نﺈﻓ
ةاوﺮ ا ᄍﺑ yﻮ ﻮﻳﺪﻳﻷا فﻼﺘﺧا ﺮﺛأ نأ لﺪﺗ yﻮ ﻮﻳﺪﻳﻹا ﻒﻠﺘﺨTا خﻮﻴﺸ ا ﻦﻋ ニﻠ ا
ﺢﻴﺤﺼ او ﺔﻳار ا タ ﻪﻨﻜ و ،ﺔﻳاوﺮ ا タ ᅠﻏ
.
マﺻ o ا ﺪﻨﻋ ﻦﻣ ﺚﻳﺪJا نﻮ ﻳ نأ ﺢﺼﻳ ﻻ ﻪﻧﺄﺑ ニ ﺰﻳ ﺎﻳﺎﻣ ﻪ ﺎﻗ ﺎT ﺔﻔﻟﺎO ﺔﺠﻴ ا هﺬﻬﻓ
ﺎﺟر ﺐﺼﻌ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا
.
لﻮﻗ ﻚ ﺬ و
ﺚﻳدﺎﺣﻷا ﺾﻌﺑ دورﻮ ﺚﻳﺪJا ﺔﻴﺠﺣ مﺪﻌﺑ ،ﺪRأ ﻢﺳﺎﻗ
ﺔ ﻨﻌﻟا ﺪ ﺆ و ةأﺮTا ﺪﺿ ᄚﺤﺘ و ﻞﻘﻌﻟا ﻒﻟﺎFو ﺎﻣ yﻮ ﻮﻳﺪﻳأ ヘإ ﻞﻴﻤﺗ pﻟا
.
ﺮ ﻮ مﺎﻴﻠ و لﺎﻗ ﻪ و
(William Muir)
ﻊﺿﻮ ا ة゙ﻛ ﻦﻣ ﻪﺘﻳاور タ ﺎT o ا ﻦﻣ اردﺎﺻ ﺚﻳﺪJا نﻮ ﻳ نأ ﺢﺼﻳ ﻻ ﻪﻧﺈﻓ
ﻚ ذو ،yﻮ ﻮﻳﺪﻳﻷا زﺎﻴ=ﻻاو
قﺮﻓ ᄍﺑ oﻫﺬTاو ・ﺎﻴﺴ ا عا او ﺚﻳﺪJا لﺎﺟﺮﺑ طﺎﻨTا ﺐﺒﺴ
ᄍﻤﻠﺴTا
.
タ ﺮﻘﻟا ﺾﺋ ﺎﻗ ﺎT ةﺪ ّ ﺆ ﺔﻟﺎﺳﺮ ا هﺬﻫ نأ ﺎﻤ و
))
ﺔﻳار او ﺔﻳاوﺮ ا タ ﺎﻫﺮﺛأو ﺔﻋﺪ ا
((
و
タ ヤﻈﻋﻷا テﻄﺼ ﺪﻤN
))
هرﻮﻄﺗو ﻪﺗﺄﺸ ،ᄍﺛﺪﺤTا ﺪﻨﻋ ﺪﻘ ا ﺞﻬﻨﻣ
((
ᄍﺒﺼﻌﺘTا ᄍﻤﺘﻨTا ةاوﺮ ا نﺄﺑ ،
ヘإ
ﺔ ﺮﻈ ةﺪ ﺆ ﺎﻬﻧﺈﻓ ،ﻪﺘﻴﺟﻮ ﻮﻳﺪﻳأ ﺪ ﺆﺗ ﻢ ﺎﻣ ﻢﻬﺘﻳاور ﻞﺒﻘﺗ yﻮ ﻮﻳﺪﻳأ يأ
"
ᄍﻋﺪﺒTا
"
ﻞﺋﺎﻘﻟا ヤﺳﺎﻘﻠ
ﺔﻨﺴ ا ﻞﻫأ ﺐﻫﺬﻣ ヘإ ﻢﻬﺋﺎﻤﺘﻧا مﺪﻋ ﺐﺒﺴ ﻢﻬﺣﺮﺟو ﺔﻨﺴ ا ﻞﻫأ ᅠﻏ ヘإ ᄍﻠﺤﺘﻨTا ﻊﻳﺪﺒﺗ ﺾﻓﺮﺑ
.
「 رﺎ ا ケﺎﻤﺘﺟﻻا ﻞﻴﻠﺤ ا ﻦﻣ ﺔﺟﺮﺨﺘﺴ ﺔﺠﻴ ا هﺬﻬﻓ
タ
ﺚﻳدﺎﺣأ タ ﺎﻳﺎﻀﻘﻟا ﺾﻌﺑ
ﺎﻫاور
ﺎﻣ yﻮ ﻮﻳﺪﻳأ يأ ヘإ نﻮﻤﺘﻨTا
.
لﺎﺟرو ﺞ ﺮﺨ ا ﻢﻠﻋ ﺞﻬﻨﻣ oﺘﻜTا ﺚﺤ ا ﻦﻣ تﺎﻴﻄﻌTا ﺖﻌPو
ﺚﻳﺪJا
.
نﺎﺒﻳﺬﻬ ا ﺎﻬﻨﻣ ،ﺚﻳﺪJا لﺎﺟر ﺐﺘﻛ ﻦﻣ جﺮﺨﺘﺴ ﺎﻬﻧﺈﻓ تﺎﻧﺎﻴ ا ﺎﻣأو
))
لﺎﻤﻜ ا ﺐﻳﺬﻬﺗ
يﺰﻤﻠ
)) ((
cﻼﻘﺴﻌﻠ ﺐﻳﺬﻬ ا ﺐﻳﺬﻬﺗو
((
يزاﺮ ا ﻢﺗﺎﺣ `أ ﻦﺑﻻ ﻞﻳﺪﻌ او حﺮHاو ،
.
ﺖﻠﻠﺤﻓ
ﺎﻨﻴﻌﺘﺴ ﻞﻳﺪﻌ او حﺮHا ﻢﻠﻋ ﻖ ﺮﻃ ﻦﻋ ﺔﺘﺴ ا ﺐﺘﻜ ا ﻞﺜﻣ ﺔﻴ ﻳﺪJا ﺐﺘﻜ ا ﻦﻣ ﺔﻋﻮﻤﺠTا تﺎﻴﻄﻌTا
ﺎﻬﺋاﺮﺟ و ﺔﻟﺎﺳﺮ ا ﻞﻤ: ﺔ ﺮﻈﻨﺑ
)
Message Reception and Processing Theory
(
ﺖﻧᄐ pﻟا
لﺎﺼﺗﻻا ﻢﻠﻋ ﻦﻣ ة ﻮﺘﻣ
**.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur tersanjung hanya bagi Allah SWT, yang dengan taufi>q-Nya penelitian berjudul "Periwayat Khawarij dalam Literatur Hadis Sunni" yang semula berjudul "Relasi Ideologi dalam Periwayatan Hadis," ini dapat diselesaikan. Demikian juga, salawat serta salam semoga selalu tercurahkan untuk Rasulullah saw, yang ajarannya tak kan pernah lekang ditelan zaman.
Sebagai karya tulis seorang hamba yang lemah, tentunya di dalam penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, yang kelak ditemukan oleh mereka yang mau menelaahnya dengan teliti. Segala kesalahan tersebut tak lain adalah bukti keterbatasan penulis di dalam melakukan penelitian ini.
Penelitian ini merupakan wujud kepedulian dan rasa keingintahuan penulis terhadap beberapa masalah yang kelihatannya sepele namun memiliki pengaruh yang begitu besar dalam bidang hadis. Penulis juga menyadari bahwa, penelitian ini tak luput dari jasa lembaga dan orang-orang tertentu yang telah membantu penulis, baik secara moril maupun materiil. Atas segala bantuan tersebut penulis sampaikan banyak terima kasih; khususnya kepada:
1. Segenap civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor), Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, (Direktur Sekolah Pascasarjana), Prof. Dr. Suwito, MA (Ketua Program Doktor), Dr. Yusuf Rahman, MA (Ketua Program Magister). Jaza>kumulla>h ah}san al-jaza>' wa-nafa‘ana> bi ‘ulu>mikum.
2. Dr. Fuad Jabali, MA selaku pembimbing Tesis. Fa-jaza>kalla>h wa-matta‘ana> Allahu bi-‘ulu>mik.
3. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Dirjen Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, dan mantan Dirjen Diktis, Prof. Dr. Machasin, MA, yang telah memberikan beasiswa studi S2 kepada Penulis. Fa-jaza>kum Alla>hu ah}san al-Jaza>'.
4. Ketua STIT Darul Fattah Tangerang, Rektor dan Dekan Fakultas Ushuluddin Institut PTIQ Jakarta,
Kha>dim Ma‘had Da>r al-Sunnah al-Dawli> li ‘Ulu>m al-H{adi>th Indonesia-Malaysia, dan Direktur Quran
Learning Center Jakarta. Jaza>kumulla>h ah}san al-jaza>'.
5. Segenap guru dan dosen yang pernah mengajar, membimbing, menguji dan mendidik penulis di manapun, khususnya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. H{afiz}ahum Alla>hu wa-nafa‘ana> Alla>hu bi-‘ulu>mihim. Fa-lawla>kum la-ma> ‘araftu al-‘a>lam.
6. Kedua orangtua Penulis, Abah K. Hasan Bishri dan Ibu Siti Romlah serta mertua Penulis, Abah KH>. Imam Nawawi dan Ibu Hj. Istinah. Alla>humma ih}faz}hum wa-irh}amhum kama> rabbawna> s}igha>ran.
7. Istri tercinta, Rifqoh, S.Pd. beserta buah hati yang sedang dalam penantian kelahirannya. Rabbana> hab lana> min-azwa>jina> wa-dhurri>ya>tina> qurrata a‘yun wa-ij‘alna li-al-muttaqi>na ima>man.
8. Segenap kakak, adik, dan saudara. Alla>humma allif baynana> wa-uh}shurna> fi>-zumrat al-awliya>' wa-al-s}a>lih}i>n.
9. Segenap kawan, sahabat, murid, mahasiswa, mahasantri, yang selalu menemani hari-hari penulis, baik di dalam maupun di luar kelas, kampus, pesantren, kantor, dan juga di masyarakat. Falawla>hum jami>‘an la-ma> ‘araftu al-h}adi>th wa-ma> ah}babtuhu>.
Meski tanpa menyebut nama satu persatu, Penulis tidak mengurangi sedikitpun rasa hormat, ta‘z}i>m,
dan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada mereka semua. Teriring doa, Jaza>kumullah ah}san al-jaza>' wa-matta‘ana> Alla>h bi-h}aya>tikum, wa-h}abbaba ilaina> al-i>ma>na wa-zayyanahu> fi>-qulu>bina> wa-karraha ilaina> al-kufra al-fusu>qa al-‘is}ya>na ja‘alana> min-al-ra>shidi>n, waffaqana> li-ma> yuh}ibbuhu>
wa-yard}a>hu. Mohon maaf atas segala khilaf dan terimakasih.
Jakarta, 16 Mei 2013 Penulis,
DAFTAR ISI
Persembahan ii
Pernyataan Bebas Plagiasi iii
Persetujuan Pembimbing iv
Persetujuan Dewan Penguji v
Pedoman Transliterasi vi
Abstrak vii
Kata Pengantar xi
Daftar Isi xiii
Daftar Tabel dan Gambar xv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Permasalahan 18
C. Perdebatan Akademik 21
D. Sumber Penelitian 27
E. Metode Penelitian 29
F. Signifikansi Penelitian 36
G. Langkah Operasional Penelitian 37
BAB II DISKURSUS IDEOLOGI DAN PURIFIKASI HADIS
A. Otentisitas Hadis dalam Perdebatan 40
B. Problem Ideologi dalam Periwayatan 50
C. Ideologi dan Orisinalitas Pesan Kenabian 61
BAB III PERIWAYAT HADIS DALAM DIALOG ANTAR IDEOLOGI
A. Afiliasi Ideologi; Sebuah Keniscayaan Bagi Periwayat 70 1. Generasi Teladan; Wacana Keterlibatan Sahabat dalam Ideologi 72 2. Ideologi Politik Praktis; Periwayat Masa Dinasti Umawiyah 77 3. Ideologi Keagamaan; Periwayat Masa Dinasti Abbasiyah 83 B. Diskursus Hadis Nabi dalam Berbagai Mainstrim Ideologi 92
C. Ahli Hadis dan Sektarianisme Sunnah 103
BAB IV KHAWARIJ DALAM KONSTELASI PERIWAYATAN HADIS
A. Periode Formulasi Hadis dan Genealogi Khawarij 110
B. Khawarij dan Periwayatan Hadis 128
C. Dibenci, Tapi Diterima; Khawarij di Mata Ahli Hadis 138 D. Era Transmisi Hadis sebagai Basis Konsolidasi Sunnah 148
BAB V SILANG IDEOLOGI DALAM PERIWAYATAN HADIS
A. Tokoh Intelektual Khawarij 158
1.Generasi Sahabat 165
2.Generasi Pasca Sahabat 174
B. Otoritas Periwayat Khawarij dalam Literatur Hadis Sunni 176 C. Periwayatan Lintas Ideologi dan Orisinalitas Pesan Kenabian 212
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan 229
B. Rekomendasi 232
Daftar Pustaka 235
Glosarium 249
Indeks 257
Lampiran 263
Daftar Tabel dan Gambar
A. Tabel
No. Judul Tabel Hal
1. Gerakan Khawa>rij pada masa ‘Ali> hingga akhir Umawi>yah 124
2. Tokoh-tokoh intelektual Khawa>rij 176
3. Sebaran Periwayat Khawa>rij dalam Literatur Hadis Sunni> 179 4. Ragam Tema Riwayat Khawa>rij dalam Literatur Sunni> 221
B. Gambar
No. Judul Gambar Hal
1. Sebaran Hadis ‘Ikrimah 183
2. Sebaran Hadis Ja>bir bin Zayd 185
3. Sebaran Hadis Da>wu>d bin al-H{us}ayn 188
4. Sebaran Hadis ‘Imra>n bin Da>war 189
5. Sebaran Hadis al-Wali>d bin Kathi>r 192
6. Sebaran Hadis Abu H{assa>n al-A‘raj 193
7. Sebaran Hadis Isma>‘i>l bin Sumai‘ 195
8. Sebaran Hadis Farwah bin Naufal 196
9. Sebaran Hadis Thaur bin Zayd 198
10. Sebaran Hadis Abu> ‘Ubaydah 199
11. Sebaran Hadis ‘Imra>n bin H{at}t}a>n 200
12. Sebaran Hadis H{a>jib bin ‘Umar 202
13. Sebaran Hadis Jurayy bin Kulayb 203
14. Sebaran Hadis Nas}r al-Laithi> 204
15. Sebaran Hadis S{a>lih} al-Dahha>n 205
16. Sebaran Hadis al-Rabi>‘ bin H{abi>b 208
17. Sebaran Hadis Abu> ‘Amr 209
18. Sebaran Hadis S{a>lih} bin Dirham 210
19. Sebaran Hadis Shabath bin Rib‘i> 212
20. Sebaran Hadis S{adaqah bin Yasa>r 214
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
“Siapa saja yang berbohong dengan mengatasnamakan aku, maka silakan dia menempati
singgasananya di neraka” begitulah kata Nabi Muhammad saw sebagaimana diabadikan oleh al-Bukha>ri>,
Muslim, dan para kolektor hadis lain.1 Dalam kesempatan yang berbeda, Nabi saw juga pernah memperingatkan umatnya sebagaimana terekam dalam pesan-pesannya kepada para sahabat, agar tidak bersikap “pragmatis” dalam beragama, melainkan harus “normatif-paternalis”. Waspadalah terhadap hal-hal yang baru (al-muh}datha>t) karena setiap yang baru adalah bnid’ah, sedangkan setiap bid ‘ah adalah kesesatan. Sementara itu, setiap kesesatan adalah di neraka tempatnya.2
Dua pesan yang bersumber dari sosok yang dijadikan sebagai perfect pattern oleh umat Islam itu menjadi doktrin yang sangat kuat dalam kehidupan beragama umat Islam. Kedua hadis itu yang pada akhirnya dijadikan sebagai undang-undang dasar umat Islam untuk menentukan apakah aktivitas keberagamaan mereka saat ini masih sesuai dengan pattern-nya atau tidak.3 Jika tidak sesuai—untuk tidak menyatakan sama—berarti tergolong sebagai hal baru. Sedangkan menurut kaidah umumnya, jika hal itu baru, berarti tergolong bid‘ah. Sementara segala yang bid‘ah adalah kesesatan. Lebih tegas dari itu, jika hal baru yang tidak sesuai dengan pattern-nya itu diklaim sebagai yang bersumber dari nabi, maka dianggap sebagai kobohongan besar yang mengatasnamakan Nabi, dan neraka adalah ancamannya.
Sebagai sebuah teks sejarah (baca: berita), hadis bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Berita yang benar dikenal dengan istilah s}ah}i>h}, sedangkan yang salah disebut dengan d}a‘i>f, sesuai dengan jenis dan spesifikasinya. Hanya saja, kesalahan sebuah berita bisa berangkat dari ketidaktahuan dan bisa pula dari faktor kesengajaan untuk membuat berita palsu.4
Ucapan dan perbuatan Rasulullah berbeda dengan ucapan dan perbuatan dari orang selain beliau. Di samping karena Rasulullah diyakini sebagai manusia paripurna dan perfect pattern, juga karena adanya
1“Man kadhaba ‘alayya muta‘ammidan fal-yatabawwa’ maq‘adahu> min-al-na>r.” Hadis ini sebagaimana menurut Ibn
al-S}ala>h{ merupakan sau-satunya hadis yang mutawatir lafz}i>. Jumlah sahabat yang meriwayatkannya lebih dari seratus orang, dan sepuluh di antaranya sahabat yang mendapat nobel “heaven award”. Hadis dengan kualifikasi seperti ini, baik menurut kelompok Sunni maupun non-Sunni dapat dijadikan sebagai hujah. Kebanyakan hadis mutawatir tidak sampai pada derajat ini karena kemutawatirannya hanya pada batas makna saja, bukan redaksi (lafz}an). Hadis dengan redaksi demikian dapat dilihat dalam al-Bukhari, S}ah{i>h{ al-Bukha>ri> (Beirut: Da>r Ibn Kathi>r al-Yama>mah, 1987), 1/52, hadis no. 106-107; Muslim bin al-H}ajja>j, S}ah}i>h} Muslim (Beiru>t: Da>r al-Ji>l, t.th), 1/7, hadis no. 4; lihat juga Muh}ammad Ja‘far al-Katta>ni>, Naz}m Mutana>thir Min-H}adi>th al-Mutawa>tir (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmi>yah, 1980), 20-24
2 Redaksi hadis tersebut adalah, "Iyya>kum wa-muh}datha>t al-umu>r, fa-inna kulla muh}dathatin bid‘ah, wa-kull bid‘ah
d}ala>lah, wa-kull d}ala>lah fi-al-na>r." HR. Ahmad, al-Da>rimi>, Abu Da>wu>d, Ibn Ma>jah, Ibn Hibba>n, dan al-H{a>kim.
3 Dalam berbagai literatur keagamaan, hadis ini adalah yang paling banyak muncul. Tidak hanya dalam bentuk buku,
dalam berbagai ceramah pun hadis ini tak jarang pula disebutkan sebagai pembukaan khutbah dan bahkan menjadi tema pokok yang selalu diulang-ulang. Di samping karena validitas dan akurasinya yang sangat kuat, kemunculan hadis ini juga karena dijadikan sebagai dasar dan standar atas segala justifikasi perbuatan umat Islam. Setiap kali ada perbuatan umat Islam yang dinilai asing bagi seseorang, maka yang pertama kali dipertanyakan adalah perihal adakah contohnya dari Rasul? Pernahkah Nabi menyuruhnya? Atau Pernahkan sahabat melakukannya kemudian diketahui oleh Nabi? Jika jawaban dari beberapa pertanyaan itu adalah “tidak”, maka dapat dipastikan bahwa hal itu adalah perkara baru dalam Islam yang hukumnya pasti bid‘ah. Konsekuensinya, sebagaimana teks hadis tersebut, segala yang bid‘ah adalah sesat dan pelakunya pasti masuk neraka. Namun, dari hadis yang sama, tak jarang pula yang memahaminya berbeda. Bagi kelompok ke dua ini label bid‘ah tidak selamanya sesat. Mereka menafsirkan bahwa jika
bid‘ah itu masih sesuai dengan perkara yang ada contohnya dari Nabi, maka tidak sesat. Demikianlah perdebatan tentang bid‘ah ini tidak akan pernah selesai sampai kapan pun. Terkait dengan tinggi “rating” hadis ini dalam literatur-literatur keagamaan dan berbagai ceramah, terdapat sebuah penelitian kuntitatif terhadap buku-buku keagamaan dan materi-materi ceramah di majelis taklim di Indonesia. Sebuah survey yang dilakukan pada 1995 juga menunjukkan sekitar 89% dari para responden mengenal hadis ini. Banyak di antara mereka (36%) sering mendengarnya. Di samping itu, orang mengenal hadis ini melalui beberapa cara: membaca dan mendengarkan ceramah dan khutbah. Terkait hal ini, lihat Ahmad Haris, Islam Inovatif: Eksposisi Bid‘ah dalam Teori dan Praktek (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), 73-114. Bandingkan dengan Howard M. Federspiel, The Usage of Traditions of the Prophet in Contemporary Indonesia (Arizona: Arizona State University, 1993). Federspiel dalam penelitiannya ini meneliti sebanyak 40 karya Indonesia mengenai hadis, yang menurut para penulisnya difokuskan pada rekapitulasi pelajaran-pelajaran Islam tradisional.
4 Kesalahan yang tidak sengaja dapat dimaafkan seperti dalam kasus idra>j. Hanya saja, jika telah disengaja apalagi jika
terlalu banyak pengubahan, maka bisa masuk kategori pembohongan publik dan pamalsuan dan seluruh riwayatnya, baik ketika sebelum atau sesudah ketahuan berbohong. Lihat Ibn Kathi>r, al-Ba>‘ith al-H}athi>th Fi>-Ikhtis}a>r ‘Ulu>m al-H}adi>th (Beirut: Da>r a-Kutub, 2000), 12; Zayn al-Di>n ‘Abdurrah}ma>n al-‘Ira>qi>, al-Taqyi>d wa-al-I>d}a>h} Sharh} Muqaddimah Ibn al-S}}ala>h} (Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-Salafi>yah, 1969), 150; Ibra>hi>m bin Mu>sa bin Ayyu>b al-Abna>si>, al-Shadhdh al-Faya>h} Min-‘Ulu>m Ibn al-S{ala>h{
(Madinah: Maktabah al-Rushd, 1998), 254; Ibn al-S}ala>h}, Muqaddimah Ibn al-S}ala>h} (t.tp.: Maktabah al-Fa>ra>bi>, 1984), 61; al-Suyu>t}i>,
wahyu yang turun kepadanya.5 Sebagaimana pernyataannya, Rasulullah menegaskan bahwa dirinya adalah manusia biasa, yang sama dengan manusia-manusia lain.6 Hanya saja, dia menerima wahyu ketuhanan, sementara manusia yang lain tidak. Al-Quran sebagai teks suci (scripture) pun menyatakan demikian,7 bahkan segala tindak tuturnya adalah wahyu dari Tuhan.8 Dengan demikian, wajar jika ucapan dan perbuatannya diperlakukan secara berbeda dengan ucapan dan perbuatan orang lain oleh umat Islam.
Beberapa ulama mendefinisikan hadis bukan sebagai ucapan, perbuatan, atau ketetapan Rasulullah, melainkan ucapan dan perbuatan yang dinisbatkan kepada Rasulullah.9 Ia diyakini berasal darinya dengan indikasi-indikasi tertentu yang kuat. Dengan demikian, hadis sahih adalah hadis yang kuat validasi nisbatnya kepada nabi. Sedangkan jika validasi nisbat itu lemah, hadisnya pun menjadi d}a‘i>f, bahkan bisa
maud}u>‘ (palsu) jika terbukti tidak dapat dipertanggungjawabkan.10
Meski hanya diyakini berasal dari Rasulullah, bukan berarti setiap orang dapat dengan semena-mena menisbatkan setiap ucapan dan perbuatan kepada Nabi. Memang, Muhammad adalah sesosok manusia yang telah menjadi milik seluruh umat, namun bukan berarti bahwa semua orang bisa mengatasnamakan dirinya untuk tujuan-tujuan tertentu, bahkan tujuan dakwah Islam sekalipun. Hal inilah yang sejak jauh-jauh hari telah diantisipasi oleh Nabi sendiri. Tindakan preventif Nabi terhadap hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi orang-orang yang hendak mengelabuhi umat dengan cara berbohong atas nama Nabi. Ancaman tegas berupa kavling khusus di neraka itu diutarakan agar umat Islam tidak dengan seenaknya menisbatkan sebuah ucapan kepadanya. Ini karena menisbatkan sebuah ucapan atau perbuatan kepada nabi bukanlah hal yang sulit.11
Untuk menyikapi hal itu, dalam tradisi ilmiah hadis, hal pertama yang harus dilakukan oleh para pengkaji hadis adalah skeptis terhadap otentisitas berita apapun yang didengar dan dinisbatkan kepada Nabi. Abdurrahman bin Mahdi> (198 H) menyatakan bahwa dua hal yang tidak dibenarkan berbaik sangka (menerima secara buta: h}usn al-z}ann)adalah peradilan (al-h}ukm) dan hadis.12 Bahkan lebih tegas lagi Nabi
5Dalam hal ini, al-Quran dengan tegas menjelaskan bahwa Nabi adalah manusia biasa yang tidak ada bedanya dari
manusia-masnusia lain jika dia tidak menerima wahyu. Hanya itulah yang membedakan Nabi dari manusia lainnya. “Qul Innama> ana basharun mithlukum yu>h}a> ilayya annama> ila>hukum ila>hun wa>h}id.” (Qs. al-Kahf [18]: 110) dalam ayat lain ditegaskan, “Wa-ma> yant}iq ‘an al-hawa>. In huwa illa> wah}yun yu>h}a>.” (Qs. al-Najm [53]: 3)
6Dalam hal ini, Rasulullah pernah menegur para sahabtnya yang merasa canggung dan enggan untuk bertanya kepadanya
terkait hal-hal yang diragukannya. Ketika terjadi kesalahan dan lupa dalam salat Nabi, para sahabat tidak segera mengingatkannya karena khawatir terjadi revisi dalam tata cara salat. Mengetahui sikap mereka itu, Nabi bersabda, “…Innama> ana> basharun mithlukum. Ansa> kama> tansawn. Fa-idha> nasi>tu fa-dhakkiru>ni>...” Al-Bukha>ri>, S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, i, 156, hadis no. 392; Muslim,
S}ah}i>h} Muslim, ii, 84-285, hadis no. 1302, 1311, 1312; Abu> Da>wud al-Sijista>ni>, Sunan Abi> Da>wu>d (Beiru>t: Da>r al-Kita>b al-‘Arabi>, t.th), i, 390-391, hadis no. 1022; Ibn Ma>jah al-Qazwi>ni>, Sunan Ibn Ma>jah (Beiru>t: Dar al-Fikr, t.th.), i, 382.
7“Qul Innama> ana basharun mithlukum yu>h}a> ilayya annama> Ila>hukum ila>hun wa>h}id” (Qs. al-Kahf [18]: 110) 8“Wa-ma> yant}iq ‘an al-hawa>. In huwa Illa> wah}yun yu>h}a>” (Qs. al-Najm [53]: 3)
9 Dalam berbagai literatur ilmu Hadis, hadis selalu didefinisikan sebagai kullu ma> ud}i>fa ila>-al-Nabi> min qawl fi‘l
aw-taqri>r aw-s}ifah. Dalam hal ini penisbatan hadis kepada nabi sebagaimana disebutkan dengan definisi tersebut biasa dikenal dengan istilah hadis marfu>‘. Lihat Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, Tadri>b al-Ra>wi> Fi> Sharh} Taqri>b al-Nawa>wi>, 116; Shams al-Di>n Muh}ammad bin Abdurrah}ma>n al-Sakha>wi>, Fath} al-Mughi>th Sharh} Alfi>yat al-H}adi>th (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmi>yah, t.th), i, 10, 102; Jama>l al-Di>n al-Qa>simi>, Qawa>‘id al-Tah}di>th Min-Funu>n Mus}t}alah} al-H}adi>th (Beiru>t: Da>r al-H}adi>th, 2005), i, 20, 81.
10Validasi nisbat itu dapat dilihat dari sistem isnad atau sanad. Ia adalah rangkaian periwayat yang menyampaikan hadis
itu secara berkesinambungan dari sumbernya hingga kepada para pegkodifikasi. Isnad digunakan untuk menjamin validitas dan otentisitas sebuah berita yang disinyalir bersumber dari Nabi. Tanpa isnad, berita-berita itu tertolak. Ia bahkan menjadi kebanggaan umat Islam dalam rangka menjaga keotentikan dan kemurnian ajaran agama. Dengan isnad ini pula, seseorang tidak dapat semena-mena mengaku pernah mendengar sebuah hadis nabi dari seorang periwayat. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ibn al-Mubarak,
“al-Isna>d min-al-di>n. Lawla> al-isna>d laqa>la man sha>’a ma> sha>’a.” Isnad adalah bagian dari agama. Tanpa Isnad, niscaya seseorang akan mengatakan apa saja yang dia kehendaki. Di samping itu, isnad juga dijadikan sebagai metode validasi hadis. Dalam hal ini, Ibn Si>ri>n menyatakan bahwa seseorang tidak dapat dipercaya tanpa mendatangkan isnad. “Lam yaku>nu> yas’alu>n ‘an-al-isna>d. Fa-lamma> waqa‘at fitnah, qa>lu> sammu> lana> rija>lakum. Fa-yunz}ar ila>-Ahl sunnah fa-yu’khadh h}adi>thuhum wa-yunz}ar ila>-ahl al-bida‘ fa-la> yu’khadh h}adi>thuhum.” Muslim, S}ah}i>h} Muslim, i, 11, hadis no. 27.
11 Bahkan Nabi sendiri dalam pendahuluan riwayat tentang ancaman berbohong atas namanya, menegaskan bahwa
kebohongan atas nama Nabi sangat berbeda dari kebohongan atas nama selain Nabi. “Inna kadhiban ‘alayya laisa kakadzibin ‘ala-ah}ad.Man kadhaba ‘alayya fal-yatabawwa’ maq‘adahu> min-al-na>r.” al-Bukhari, S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, i, 434; Muslim, S}ah}i>h} Muslim, i, 8.
12 Redaksi pernyataan tersebut adalah, “Khas}lata>ni la> yastaqi>m fi>hima> h}usn al-z}ann: al-h}ukm wa-al-h}adi>th.” Lihat Ibn Abi>
menyatakan, “Kafa> bi-al-mar’i kadziban an-yuh}additha bi-kull ma> sami‘.” 13Hal ini juga sesuai dengan prinsip dasar ilmu sejarah yang menegaskan bahwa segala informasi harus diuji dan diverifikasi karena pada dasarnya tidak ada data dan informasi yang taken for granted. Dengan demikian, langkah pertama yang harus dilakukan ketika mendengar sebuah hadis (pernyataan yang dinisbatkan kepada Nabi) adalah skeptis terhadap validitasnya; apakah benar berita itu dari Nabi? Setelah itu, barulah dibuktikan keotentikan penisbatannya kepada Nabi dengan seperangkat metodologi yang muktabar dalam disiplin Ilmu Hadis.
Sementara itu, dalam Ilmu Hadis, untuk mengukur kuatnya validitas nisbat sebuah hadis kepada Nabi digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan sanad dan matan. Pendekatan sanad meliputi kontinuitas periwayatan dari seorang periwayat kepada periwayat sesudahnya. Di samping itu, seorang periwayat juga harus memenuhi standar perfeksi dari segi kredibilitasnya yang dibuktikan dengan integritas yang tinggi dan sehat secara psikologis. Tidak hanya itu, seorang periwayat juga harus memiliki daya hafal yang sangat kuat karena hadis pada awal perkembangannya berstatus sebagai oral history seputar Nabi. Tanpa didukung daya hafal yang kuat, sejarah kenabian yang hanya tersimpan dalam memori pasti kacau balau dan tidak dapat dipertanggungjawabkan otentisitasnya.14
Secara normatif, sebuah hadis dinyatakan kuat validitas nisbatnya kepada Nabi juga apabila terhindar dari shudhu>dh dan ‘illat. Keduanya dianggap sebagai virus yang sulit diidentifikasi dan dapat membatalkan kesahihan sebuah hadis. Ia bisa saja terdapat pada sanad dan bisa juga pada matannya.15
Masalah yang muncul kemudian adalah ketika validasi itu dipastikan dengan dasar integritas
(al-‘ada>lah) dan kualitas memori periwayat (al-d}abt}), apakah standar baku yang digunakan untuk menentukan
bahwa seorang periwayat itu memiliki integritas moral yang tinggi dan daya hafal yang kuat? Jika seorang penilai (kritikus) memiliki kecenderungan yang berbeda, apakah standar itu bisa dijamin efektifitasnya? Lalu, di manakah posisi kritikus ketika mengomentari seorang periwayat yang memiliki ideologi berbeda? Akankah dia menolak riwayat para periwayat yang ditengarai berideologi berbeda atau menerima secara apologis hadis riwayat orang yang seideologi dengannya?
Seorang periwayat dituntut untuk dapat bersikap objektif dalam menerima dan menyampaikan riwayat. Setidaknya daya hafal (al-d}abt} wa al-itqa>n) yang kuat dapat menjadi prasyarat utama bagi seseorang untuk dapat menyampaikannya secara objektif. Tidak hanya itu, seorang periwayat tidak boleh terbawa oleh arus ideologi yang dia anut, apalagi jika sampai terjebak dalam fanatisme, khususnya ketika menerima dan manyampaikan sebuah hadis. Selama berita itu diyakini benar dan valid penisbatannya kepada Nabi, maka harus disampaikan dengan seobjektif mungkin dan tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. Jika hal ini dilanggar, maka dua pernyataan Nabi di atas akan menjadi saksi atas kebohongannya dan sanksi yang ada di dalamnya pun siap untuk dieksekusi. Bahkan lebih dari itu, seorang periwayat yang terbukti pernah berbohong (apalagi jika mengatasnamakan Nabi), maka riwayatnya tidak dapat diterima selamanya meski telah bertaubat.16
13 “Cukuplah seseorang disebut berbohong karena selalu menceritakan apapun yang dia dengar.” (HR. Muslim) lihat
Muslim bin al-H{ajja>j, S}ah}i>h} Muslim, i, 8, hadis no. 7. Memang, secara eksplisit, hadis ini tidak sedang berbicara tentang periwayatan hadis, melainkan pembicaraan secara umum. Seseorang yang selalu menebar berita dan informasi apapun yang dia dengar tanpa diklarifikasi terlebih dahulu akan terjebak dalam kebohongan publik. Karena itu, seseorang harus berhati-hati dalam menyampaikan pesan, apalagi pesan tersebut menyangkut nama nabi dan agama. Karena itu, secara implisit hadis tersebut juga dapat berlaku pada kasus periwayatan hadis. Seseorang yang tidak mengkalifikasi kesahihan hadis tersebut dan menyampaikannya begitu saja apapun yang dia dengar, maka hal tersebut rawan masuk ke dalam jurang kebohongan. Tanpa ada uji validitas ini, pasti ajaran Islam tidak lagi murni dari Allah dan Rasul-Nya, melainkan telah bercampur dengan berbagai informasi dari selainnya. Karena itulah, dalam disiplin Ilmu Hadis, seorang periwayat harus terlebih dahulu mengklarifikasi otentisitasnya terlebih dahulu. Lihat Muh}ammad Mus}t}afa> al-A‘z}ami>, Manhaj al-Naqd ‘Inda-al-Muh}addithi>n (Riya>d}: Sharikah T}iba‘ah ‘Arabi>yah al-Sa‘u>di>yah al-Mah}du>dah, 1982), cet. 2, 5
14 Pada dasarnya hadis sahih adalah hadis yang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya dari sumber aslinya. Jika
validitas itu tidak dapat dipertanggungjawabkan, hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujah. Terkait hal ini, untuk membuktikan validitas sebuah hadis terdapat lima kriteria utama yang harus dipenuhi, sebagiamana yang muktabar dalam kajian ilmu hadis, yaitu: [1] sanadnya bersambung dari awal sampai akhir (ittis}a>l al-sanad), [2] para priwayatnya adil (yarwi>h ‘adlun), [3] para periwayat memiliki daya hafal yang sangat kuat (d}a>bit}), [4] tidak menyalahi riwayat lain yang lebih kuat (sha>dhdh), dan [5] tidak ada cacat sedikitpun (‘illat). Lihat al-Suyu>t}i>, Tadri>b al-Ra>wi>, 31-38
15 Lihat al-Suyu>t}i>, Tadri>b al-Ra>wi>, 32-38
16 Al-Suyu>t}i menganalogikan hal ini dengan seorang pezina. Meski telah bertaubat nasuha, seorang pezina tetap tidak
Dalam sejarah peradaban Islam, ahli hadis diposisikan sebagai sebuah “komunitas akademik” penggiat studi hadis dan tradisi kenabian. Keberadaannya disejajarkan dengan komunitas-komunitas akademik lain seperti Kalam, Fikih, Tasawuf, Filsafat, dan juga politikus atau penguasa. Bahkan konflik di antara mereka pun sangat kentara. Lebih dari itu, perseteruan akademis itu kemudian berbelok kepada perseteruan teologis yang pada akhirnya muncul klaim sesat, zindi>q, kafir, dan sejenisnya.17
Dalam interaksinya dengan kelompok ahli fiqh, komunitas ahli hadis cenderung tampak adem ayem dan tidak banyak konflik. Sebagaimana ahli fikih, hubungan ahli hadis juga sangat mesra dengan ahli tafsir. Praktis tidak ditemukan adanya perseteruan antara keduanya. Hal ini berbeda dengan komunitas akademik lain seperti ilmu kalam, tasawuf, dan filsafat yang banyak ditemukan terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Bahkan dengan ahli tafsir inilah ahli hadis mengawinkan ilmunya lebih dari sekedar hubungan mesranya dengan ahli fikih. Tafsir-tafsir dengan manhaj athari> (riwa>yat; bi al-ma’thu>r) menjadi sebuah nomenklatur dalam kajian tafsir yang paling diunggulkan dan dibanggakan. Validitas dan akurasi tafsir dengan pendekatan riwayat atau hadis menempati ranking teratas setelah tafsir ayat dengan ayat. Lagi-lagi hal ini adalah karena sosok Nabi yang menjadi perfect pattern juga orang-orang yang diyakini mewarisi Nabi itulah yang menafsirkannya. Dengan demikian, tidak ada alasan apapun yang dibenarkan untuk menolak penafsiran Nabi tersebut. Penafsiran-penafsiran baru dianggap menyimpang jika tidak lahir dari penafsiran Nabi tersebut.18
Sebagai kelompok ideologi yang selalu berbeda dan memiliki kriteria validasi hadis yang tidak sama, tentu akan sulit bagi masing-masing kelompok untuk menerima begitu saja riwayat dari kelompok di luar mereka. Dibutuhkan penyeleksian yang sangat ketat untuk meloloskan sebuah hadis dari praduga-praduga kesalahan dan pemalsuan. Sebagai kelompok yang sama-sama ingin eksis dan mempertahankan ideologinya, pasti ada perasaan curiga dan tidak percaya satu sama lain. Bahkan tidak tertutup kemungkinan masing-masing akan menyandarkan sebuah pernyataan yang disandarkan kepada sang perfect
pattern, termasuk Nabi, untuk tujuan validasi dan legitimasi ideologi mereka.
Permasalahan ini berangkat dari adanya asumsi bahwa kemunculan istilah ahli hadis (muh}addithu>n)
atau ahl al-sunnah adalah dalam rangka merespon sikap yang dinilai negatif sebagaimana ditunjukkan oleh kelompok-kelompok pendahulunya.19 Karena itu, para ahli hadis merasa perlu mengadakan sebuah komunitas pelesatari sunnah dan penggiat kajian hadis untuk menandingi kekuatan mereka. Tak jarang, terjadi perseturuan di antara ahli kalam, sufi, sastra dan filsafat dengan ahli hadis, sehingga banyak periwayat yang ditengarai berideologi tertentu yang berseberangan dengan ahli hadis, mendapat nilai merah
(majru>h}) dari para kritikus hadis.20
rendah. Abdurrah}ma>n bin Abu> Bakr al-Suyu>t}i, al-Ashba>h wa-al-Naz}a>’ir (Beiru>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmi>yah, 1403 H), 530; Tadri>b al-Ra>wi>>, 219.
17 Wacana seperti ini dapat dibaca secara komprehensif dalam al-Raud} al-Ba>sim fi-al-Dhabb ‘an-Sunnat Abi> al-Qa>sim
karya Ibn al-Wazi>r al-Yamani> dan Minha>j al-Sunnah al-Nabawi>yah karya Ibn Taymiyah.
18 Dalam hal ini para ulama klasik hampir selalu menggunakan riwayat sebagai manhaj penafisarannya. Ini lah yang
kemudian memunculkan istilah tafsi>r athari> atau al-tafsi>r bi-al-ma’thu>r dalam kajian Ulumul Quran. Metode ini dinilai paling otoritatif dalam tradisi penafsiran al-Quran, apalagi jika penafsiran itu adalah antar ayat atau dengan hadis nabi. Lihat misalnya dalam Muh}ammad ‘Abd al-‘Az}i>m al-Zurqa>ni>, Mana>hil al-‘Irfa>n (Beirut: ‘I>sa> Ba>bi> al-H}alabi>, t.th.), 12. Bahkan jika tidak menggunakan manhaj ini, penafsiran bisa sesat dan keliru. Lihat Muh}ammad al-T}a>hir Ibn ‘A>shu>r, al-Tah}ri>r wa-al-Tanwi>r (Tu>nis: al-Da>r al-Tu>nisi>yah li al-Nashr, 1984), 28-29. Dalam hal ini banyak sekali dijumpai karya-karya tafsir al-Quran yang berbasis riwayat seperti Ja>mi‘ al-Baya>n ‘an-Ta’wi>l A>yin min-al-Qur’a>n karya al-T}abari>, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az}i>m karya Ibn Kathi>r, dan Durr al-Manthu>r fi>-al-Tafsi>r bi-al-Ma’thu>r karya al-Suyu>t}i>.
Lebih jauh dan tegas, Birkeland bahkan berkesimpulan bahwa pada perkembangan pertama hadis memang digunakan untuk kepentingan tafsir al-Quran. Ibn Abbas adalah tokoh pionir dalam hal ini dan saat itu tidak satupun ulama (sahabat) yang menentang praktik penafsiran yang dilakukan oleh Ibn Abbas ini. Bahkan pada periode selanjutnya (sekitar th. 100 H) tradisi penafsiran ini semakin menguat seiring munculnya kelompok ahli tafsi>r bi-al-ra’y. Karena itulah penafsiran al-Quran berbasis riwayat (hadis) menjadi semakin digalakkan untuk membendung arus penafsiran al-Quran bi-al-ra’y. Lihat Birkeland, Old Muslim Opposition against Interpretation of the Koran (Oslo: Jacob Dybwad, 1955), 9-10; Pendapat Birkeland ini kemudian didukung oleh Nabia Abbott yang secara spesifik juga menolak Goldziher. Bagi Abbott, sejak periode awal Islam telah terjadi transmisi dan penulisan hadis-hadis tafsir. Nabia Abbott, Studies in Arabic Literary Papyri II: Quranic Commentary and Tradition (Chicago: The University of Chicago Oriental Publications, 1967), vol. 76, 106-111; Herbert Berg, The Development of Exegesis in Early Islam
(London: Curzon Press, 2000), 69.
19 Christopher Melchert, “The Piety of the Hadith Folk” dalam International Journal of Middle East Studies, vol. 34, No.
3, 2002, 426
20 Meski demikian, bukan berarti bahwa ahli hadis menolak begitu saja seluruh penggiat kajian sejarah, ilmu kalam,
wa-al-Di satu sisi sikap ahli hadis yang demikian itu sangatlah wajar, namun di sisi lain juga sangat utopis. Sebagai sebuah kelompok, pasti mereka juga memperjuangkan hak-hak akademis dan eksistensi mereka. Namun, tak dapat disangkal bahwa tidak sedikit pula riwayat-riwayat kenabian yang disampaikan oleh pihak-pihak di luar mereka. Sehingga jika riwayat mereka itu ditolak begitu saja hanya karena perbedaan ideologi, pasti akan terlalu banyak hadis yang terbuang. Di samping itu jika hal tersebut terjadi, pasti kelompok ahli hadis akan semakin dikucilkan karena tidak mengakui kebenaran yang disampaikan oleh mereka.
Kondisi demikianlah yang membuat para sarjana Barat berasumsi bahwa mayoritas hadis diproduksi pada abad ke-3 H/ 9M dan setelah itu tumbuh berkembang dari hasil pemalsuan-pemalsuan
(forgery). Hal ini, bagi William Muir disebabkan oleh dua faktor, yaitu:
1. Selama lebih dari satu abad, hadis hanya ditransmisikan secara oral. Selama itu pulalah kualitas periwayatan hadis sangat bergantung pada kualitas hafalan setiap periwayatnya. Di samping itu, cara periwayatan semacam itu juga sarat dengan bias yang laten. Periwayatan secara lisan yang berlangsung cukup lama itu juga juga banyak terpengaruh oleh perkembangan komunitas-komunitas muslim yang secara tidak disadari memiliki efek signifikan terhadap hadis yang diriwayatkannya. Permasalahan ini menjadi semakin rumit jika dihadapkan dengan problem, bagaimana seorang periwayat memahami dan meriwayatkan hadis-hadis yang telah dia terima itu secara utuh.21
2. Perselisihan atau percekcokan politik dan keagamaan antar komunitas muslim yang menyebabkan terjadinya pemalsuan (falsification) hadis-hadis yang telah ada dan mengadakan (invention) hadis-hadis baru yang belum perah ada.22
Asumsi-asumsi di atas akan sulit dibenarkan jika membaca biografi-biografi para periwayat dan ahli hadis pada umumnya. Tak jarang ditemukan rawi-rawi al-Bukha>ri> dan Muslim yang berseberangan ideologi dengannya.23 Hal ini juga masih menyisakan sebuah pertanyaan terkait dengan akurasi catatan biografis yang ada dalam kitab-kitab rija>l al-h}adi>th.
Di samping itu, dalam problem otonomisasi ideologi dari penyampai hadis, terdapat sebuah pertanyaan besar bahwa bisakah ideologi itu dilepaskan dari hadis yang disampaikannya? Artinya dalam meriwayatkan sebuah hadis, seorang komunikator tidak sedang berpretensi menyampaikan ideologi-ideologinya, melainkan hanya menyampaikan informasi (hadis) yang dia dapatkan kepada orang lain, meski harus bertentangan dengan ideologi mereka sekalipun. Begitu pula dengan seorang periwayat yang menjadi komunikan (penerima hadis) atau seorang kolektor hadis (mukharrij), apakah dia mampu bersikap secara objektif untuk tidak melihat siapa komunikatornya (penyampainya)? Berideologi apakah dia? Di manakah posisi dia ketika meriwayatkan hadis dari seorang komunikator yang berbeda ideologi? Dan bagaimanakah mereka melakukan validasi hadis yang diterima dari periwayat yang berideologi beda itu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi menarik karena di satu sisi, seorang periwayat harus melihat apa ideologi gurunya yang dalam hal ini menjadi komunikator.24 Jika dia terbukti berideologi
bid‘ah (non Ahlussunnah), maka riwayatnya ditolak. Sedangkan jika ideologinya adalah Ahlussunnah,
riwayatnya dapat diterima.25 Sebaliknya, dalam sebuah riwayat dari Ali bin Abu T}a>lib menegaskan untuk tidak melihat dari siapa sebuah perkataan itu didapatkan. Selama bermuatan nilai-nilai positif dan bermanfaat, maka ucapan itu laik diterima (unz}ur ma> qa>l wa-la> tanz}ur man qa>l). Di samping itu, dalam tradisi penelitian hadis, seorang kritikus justru tidak boleh melihat ideologi periwayat, melainkan harus melihat kredibilitas dan kekuatan hafalannya. Bagi mereka, qauluhum shay’ wa-fi‘luhum shay’ (ucapan dan
ta‘di>l redaksi-redaksi yang secara spesifik menunjuk pada profesi dan spesialisasi keahlian dan keilmuan itu ada yang berarti positif dan negatif. Misalnya, ketika seseorang disebut sebagai faqi>h (pintar, mendalam ilmunya, atau biasa juga berarti ahli fiqh [j:
fuqaha>’]), maka berarti baik. Sebaliknya, jika seseorang itu disebut qas}s}a>s}, akhba>ri> yang keduanya adalah bermakna “ahli sejarah dengan kriteria khusus”, maka berarti jelek (majru>h}). Lihat Akram D}iya>’ al-‘Umari>, “Marwi>ya>t al-Si>rah al-Nabawi>yah Bain Qawa>‘id al-Muh}addithi>n wa Riwa>ya>t al-Akhba>ri>yi>n” (t.tp.: Makalah Simposium Internasional, t.th.), 7-8.
21 William Muir, The Life of Mahomet (London, Smith, Elder and Co., 65, Cornhill, 1858), xxxv-xxxvi 22 Muir, The Life of Mahomet, xxxviii, xxxix
23 Dalam hal ini tercatat ada sekitar 141 periwayat yang berseberangan ideologi (mubtadi‘ah) dengan muhaddithu>n dalam
al-kutub al-sittah. Muhammad ‘Abdul H}aki>m al-Qad}i>, Asma>’ al-Mubtadi‘ah fi-al-Kutub al-Sittah, 109. Bahkan dalam dua kitab hadis yang dinilai paling sahih, S}ah}i>h} al-Bukha>ri> dan S}ah}i<h} Muslim sekalipun, juga terdapat beberapa periwayat yang berseberangan ideologi (dinilai menyimpang: mubtadi‘), namun riwayatnya tetap diterima.
24 Semetara itu, dalam kode etik pembelajaran klasik, seorang murid dilarang keras mengorek ideologi gurunya. Hal ini
dapat terlihat dalam beberapa etika murid terhadap guru yang terdapat dalam berbagai literatur akhlak.
25Demikianlah pernyataan Ibn Si>ri>n dalam memberikan pengarahan terkait langkah-langkah validasi isnad, “Lam yaku>nu>
perbuatan seseorang adalah dua hal yang berbeda). Karena itulah, al-Qa>d}i> H{usayn (w.462 H) menyatakan bahwa seseorang tidak boleh dibenci karena ideologinya.26
Di sinilah penelitian ini akan beroperasi. Ia akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Penelitian ini menjadi penting untuk menelusuri perseteruan di antara ahli hadis dengan komunitas akademik dan ideologi lain. Bisakah mereka bekerja secara professional dan tidak terkungkung oleh ideologi yang bersemayam dalam dirinya. Lalu, bagaimana cara kerja dan objektivitas ahli hadis dalam menerima dan menyampaikan pesan-pesan kenabian menjadi objek utama penelitian ini. Terutama, terkait dengan metode validasi dan otentifikasi hadis yang didapatkan dari guru yang berbeda ideologi, berikut cara penilaian terhadap kepribadian guru yang oposan tersebut.
Penelusuran biografi dan metode kritik (al-jarh} wa-al-ta‘di>l) akan banyak digunakan sebagai konsep kunci untuk memasuki wilayah kritis ini dan juga untuk membaca karakter masing-masing kritikus berikut sikapnya terhadap para periwayat yang berbeda ideologi dengannya. Pembacaan selanjutnya juga akan mengarah pada pesan apa yang disampaikan oleh seorang perawi misionaris ideologi tertentu, dan kepada siapa dia menyampaikannya? Lalu, dengan media apakah dia menerima dan menyampaikan pesan kenabian itu dan apa efeknya bagi perubahan sosial, atau minimal pengaruhnya terhadap periwayat yang menerima pesan tersebut? Pada akhirnya, tesis ini hanya akan menyatakan bahwa hadis yang valid penisbatannya kepada Nabi dapat dipastikan otonom dan tidak terpengaruh oleh ideologi para periwayatnya.
B. Permasalahan 1. Identifikasi Masalah
Secara umum, ada dua masalah besar yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu ideologi periwayat dan otentisitas pesan kenabian yang dibawakannya. Pertanyaan-pertanyaan seperti Apakah hadis muncul lebih dahulu dibanding ideologi para periwayatnya? Apakah benar bahwa hadis “diproduksi” untuk mendukung ideologi seseorang? Bagaimana sikap para muh}addith dalam mengambil riwayat dari para perawi, khususnya yang fanatik? Apakah mereka sangat hati-hati dan selektif, dan mengapa demikian? Apakah keberpihakan (kesamaan) dan perbedaan ideologi tidak berpengaruh pada periwayatan hadis? Apakah periwayatan hadis itu bertendensi politis (mendapat tekanan secara politis dan penuh keterpaksaan) sehingga periwayatan para penyandang ideologi tertentu dapat ditolak karena berbeda ideologi dengan periwayat? Apakah antar simpatisan idoelogi tertentu sering terjadi proses saling meriwayatkan hadis sehingga banyak periwayat Sunni yang mengambil riwayat Shi>‘ah, Khawa>rij, Muktazilah, Murjiah, dan begitu pula sebaliknya? Bagaimana memastikan bahwa hadis yang disampaikan oleh seorang periwayat dan mendukung ideologinya itu sebagai palsu dan periwayatnya dinyatakan sebagai pembohong? Lalu bagaimana jika ternyata riwayat itulah yang menyebabkan munculnya ideologi tersebut? Mungkinkah problem atau konflik ini hanya terjadi karena perbedaan penafisran terhadap teks hadis?
2. Pembatasan Masalah
Dari dua variabel besar tersebut, penelitian tidak akan dapat efektif jika tidak dibatasi pada kasus tertentu yang re[resentatif. Maka, penelitian ini dibatasi pada kasus Khawarij sebagai representasi ideologi teo-politik. Pemilihan Khawa>rij sebagai sebuah sampel kasus adalah karena adanya data awal yang menyatakan bahwa antara ahli hadis dengan Khawa>rij terdapat gap ideologis yang cukup kentara. Dalam banyak literature hadis Sunni>, Khawa>rij selalu diciterakan buruk, bahkan dianjurkan untuk dibunuh dan diperangi. Namun, riwayat mereka justru bertebaran di berbagai lieteratur hadis Sunni>. Berbeda dengan Shi>`ah dan Na>s}ibah yang meskipun tidak satu visi dan misi dengan ahli hadis Sunni>, mereka tetap tidak halal darahnya. Hal ini juga karena Shi>`ah dan Na>s}ibah masih memiliki "pengayom ideologi" dari generasi sahabat Nabi. Keunikan Khawa>rij itulah yang menjadi menarik untuk diangkat dalam penelitian ini.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan inti di atas, pertanyaan besar yang akan dijawab oleh tesis ini adalah bawah dalam kasus periwayatan lintas ideologi, apakah sebuah hadis dapat dijamin orisinalitasnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu juga dijawab mengenai apa kriteria reliabilitas seorang periwayat, sehingga hadisnya dapat diterima dalam tradisi periwayatan hadis? Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan
26 Dalam hal ini al-Qa>d}i> H}usayn juga mengingatkan,“La> yaju>z an-yubghad}a al-rajul li-annahu> min-madhhab kadha>,
karena adanya asumsi awal bahwa keberadaan para periwayat yang disinyalir berideologi tertentu membuat orisinalitas hadis menjadi dipertanyakan.
C. Perdebatan Akademik
Kajian tentang otentisitas hadis dan ideologi periwayatnya bukanlah kajian baru. Sebelum melakukan kajian ini, Penulis terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap kajian serupa dalam bidang yang sama. Setidaknya, ada dua aspek kajian yang dapat digunakan sebagai standar pemetaan terhadap kajian pustaka, yaitu aspek metodologi dan tema. Aspek metodologi, secara singkat adalah mengacu pada struktur prosedur dalam melakukan penelitian,27 sedangkan tema merupakan ranah kajian yang diteliti melalui metodologi tersebut. Konsekuensi dari pemisahan tersebut adalah menimbulkan asumsi-asumsi hipotetis. Sebuah metodologi dapat digunakan untuk berbagai objek penelitian yang berbeda. Demikian pula objek ataupun tema penelitian yang sama juga dapat menggunakan metodologi yang berbeda.
Maya Yazigi dalam “Notes et/and Commentaires/Commentaries: H}adi>th al-‘Asharah or the Political Uses of a Tradition” menurutnya, hadis al-‘asharah di samping prediktif juga bermuatan politis. Dan juga dalam “Defense and Validation in Shi>’i> and Sunni> Tradition; The Case of Muhammad bin Abu> Bakr,” menyatakan bahwa keberpihakan atau pembelaan terhadap seseorang melahirkan ideologi sectarian.
Christopher Melchert dalam "Traditionist-Jurisprudents and the Framing of Islamic Law" menguji evolusi hadis-hadis hukum sunni. Teks-teks hadis tersebut ditelusuri jejak historisnya dengan melihat konflik antara kelompok rasionalis (ahl al-ra'y) dan tradisionalis-jurisprudents (fuqaha>' ahl al-h}adi>th) abad 2-4 H.
Susan Spectorsky dalam "Hadi>th in the Responses of Ish}a>q bin Ra>hawayh" mendemonstrasikan cara ulama fikih sunni menggunakan hadis dalam kajian-kajian mereka.
Gleave dalam "Between H}adi>th and Fiqh: The 'Canonical' Ima>mi> Collections of Akhba>r," Gleave menguji sanad dan matan hadis-hadis yang ada dalam empat kitab hadis induk Shi>‘ah. Pengujian ini dilakukan untuk mendiskusikan peran pemikiran fikih Shi>‘ah dalam susunan dan sajian materi kitab-kitab hadis.
‘A>’id} al-Qarni> dalam Tesis Magisternya yang berjudul “al-Bid‘ah wa-Atharuha> fi-al-Dira>yah
wa-al-Riwa>yah” juga menyatakan bahwa para perawi hadis tidak serta-merta menolak riwayat ahli bid‘ah,
sebagaimana tidak mudah pula menerimanya.
Michael Cooperson dalam “Ibn H}anbal and Bishr al-H}a>fi>: A Case Study in Biographical Traditions.” Dalam tulisan ini, Coopreson menyelidiki bagaimana ahli hadis (h}adi>th minded) dan para biografer sufi (s}u>fi> biographer) merepresentasikan pahlawan kebanggan masing-masing.
Aceng Abdul Kodir dalam Tesis Magisternya di Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta juga mengangkat tema yang sama, ideologi dan periwayatan. Dengan mengangkat kasus periwayat berideologi Qadari>yah, Aceng berkesimpulan bahwa terjadi rekonsiliasi antara ahli hadis dengan para teolog. Aceng menolak jika ada gap di antara ahli hadis dengan para teolog, sebagaimana yang populer dalam kajian keislaman.
D. Sumber Data Penelitian
Ada dua variabel penting yang diapakai dalam penelitian ini: ideologi dan otoritas periwayat. Objek material penelitiannya adalah ideologi teologis para periwayat hadis. Sedangkan objek formalnya adalah hadis-hadis yang diriwayatkannya. Mengingat penelitian ini dilakukan dengan cara studi kepustakaan
(library research), maka langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah:
Pertama, melakukan telaah atas sejumlah literatur yang terkait dengan topik bahasan, terutama
yang memuat biografi para periwayat (kutub rija>l al-h}adi>th). Langkah kedua, mengidentifikasi sejumlah periwayat yang disinyalir berideologi tertentu, khususnya yang menjadi tokoh dalam kelompok ideologi tersebut. Ketiga, melakukan kategorisasi ideologi periwayat hadis. Di sini akan terlihat adanya varian-varian ideologi periwayat dan pada batas-batas tertentu akan tampak pula berbagai perilaku keberagamaan dan status sosial mereka. Keempat, menginventarisir sejumlah hadis yang diriwayatkan oleh para periwayat yang dilakukan identifikasi dan kategorisasi tersebut.28 Al-Kutub al-Sittah adalah sumber utama untuk
27 Pertti J. Pelto and Gretel H. Pelto, Anthropological Research : The Structure of Inquiry (Cambridge: Cambridge
University Press, 1994), p. 2.
28 Beberapa literatur untuk melakukan langkah metodologis ini antara lain adalah: S}ah}i>h{ al-Bukha>ri> karya al-Bukha>ri>,
melakukan penelusuran ini. Kitab ini dipilih karena keenam kitab tersebut dianggap sebagai koleksi hadis yang paling otentik dan valid dibanding yang lainnya. Hal ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana ideologi teologis para periwayat itu berpengaruh atau setidaknya ada keterkaitan dengan hadis-hadis riwayatnya.
A. Metode Penelitian
Penelitian ini menerapkan kaidah al-jarh} wa-al-ta‘di>l. Sejumlah kaidah al-jarh} wa-al-ta‘di>l tersebut dimaksudkan untuk melihat tingkat ‘ada>lah (keadilan) para periwayat hadis tersebut.29 Tentu saja, pada bagian penelitian ini, “suara-suara yang lain” dari para ulama yang berlatar belakang ideologi lain (non-sunni) juga akan dikedepankan sebagai penyeimbang bagi dominasi wacana ke-sunnian.30
Berkenaan dengan metodologi pengumpulan data, penelitian ini menggunakan pendekatan ilmu rija>l
al-h}adi>th. Metode takhri>j al-h}adi>th juga banyak dilibatkan untuk menelusuri hadis-hadis yang mereka
riwayatkan.31 Inventarisasi hadis dengan metode takhri>j h}adi>th merupakan hal yang paling lazim digunakan dalam hampir setiap jenis kajian hadis. Secara spesifik, penelitian ini akan lebih banyak menggunakan pendekatan musnad. Para periwayat yang telah teridentifikasi selanjutnya ditelusuri hadis-hadis yang mereka riwayatkan. Untuk analisis, penelitian ini menggunakan pendekatan sosio-historis. Analisis ini dimaksudkan untuk menelaah secara seksama mengenai latar belakang kehidupan dan kultur yang meliputi para periwayat hadis, termasuk ideologi teologis yang mereka anut.
Sebagai landasan teori, penelitian ini menggunakan teori resepsi dan proses (theories of message
reception and processing) komunikasi sebagai grand theory, Teori Models of Reality dan Models for Reality
Cliffort Geertz,32 Critical Discourse Analisys (CDA), Teori Konflik Sosial (Social Conflict Theory) dan teori ‘as}abi>yah (Group Feeling) Ibn Khaldun (1332-1406 M.
B. Signifikansi Penelitian
Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian metodologis dalam upaya mencari metodologi yang dapat menjelaskan hubungan antara ideologi periwayat hadis dengan hadis-hadis Nabi yang mereka riwayatkan.
Signifikansinya terhadap keilmuan global, hasil penelitian ini merekomendasikan sebuah teori bahwa seseorang dapat dengan mudah diterima jika mengikuti pola pikir ideologi mainstrim, ortodoksi, dan komunitas besar atau kelompok mayoritas. Mereka yang memilih untuk menyendiri, di samping sulit untuk diterima pesan-pesan yang disampaikannya, ia juga mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri. Maka, dalam proses komunikasi lintas ideologi, lintas budaya dan peradaban, sangat diperlukan inklusifitas pergaulan dan pola pikir. Dengan demikian, seseorang dapat dengan mudah beradaptasi dan menyatu dengan hal-hal baru nan asing bagi dirinya. Komunikasi lintas budaya dan ideologi menjadi penting untuk dilakukan. Bahwa kemudian seseorang menjadi terpengaruh oleh ideologi dan budaya baru tersebut, hal itu menjadi hak prerogatif seorang penerima pesan. Ia dapat saja independen dari penyampai dan tetap pada ideologi semula.
C. Logika Penelitian
karya Ah}mad bin H}anbal, al-Muwat}t}a’ karya Ma>lik bin Anas, Sunan al-Da>rimi> karya al-Da>rimi>, dan literatur-literatur hadis induk lainnya.
29 Adapun literatur yang akan dirujuk di antaranya adalah: Qa>‘idah fi>-al-Jarh} wa-al-Ta‘di>l wa-Qa>‘idah fi>-al-Muarrikhi>n
karya Ta>j al-Di>n al-Subuki>, Manhaj al-Naqd fi>-‘Ulu>m al-H}adi>th karya Nu>r al-Di>n ‘Itr, Qawa>‘id al-Muh}addithi>n karya al-Taha>nawi>,
al-Ta’s}i>l al-Shar‘i> li-Qawa>‘id al-Muh}addithi>n karya Abdulla>h Sha‘ba>n, dan sejenisnya.
30 Salah satu sumber yang akan digunakan adalah Mu‘jam Rija>l al-H{adith wa-Tafs}i>l T}abaqa>t al-Ruwwa>t karya al-Sayyid
Abu> al-Qa>sim al-Khu>’i>, Majma‘ Bih}a>r al-Anwa>r karya al-Majlisi>.
31 Kata takhri>j secara etimologis mempunyai arti ijtima>‘ amrayn mutadha>ddayn fi>-shay’in wa>h}id, artinya: terhimpunnya
dua hal yang saling bertentangan dalam satuhal. Dalam kamus disebutkan wa-‘a>mun fi>hi takhri>j: khas}b wa-jaz}ab (dalam satu tahun itu ada takhrij, yakni ada musim hujan dan kemarau). Kata ini kemudian dimaknai dengan al-Istinba>t} (menggali hukum), al-Tadri>b
(pelatihan, training), al-Tawji>h (mengarahkan atau menjelaskan arah), namun ia kemudian popular dengan makna khurrija (yang dikeluarkan). Makna popular ini lazim dicontohkan dalam sebuah pernyataan fula>n khirri>j fula>n, iz}a> ka>na yata‘allam minh. Ka-annahu> huwa al-laz}i> akhrajahu> min-h}add al-jahl (Si Polan khirri>j Polan, jika Si Polan belajar dari polan. Makdusnya, seolah-olah Si Polan dikeluarkan oleh polan dari garis kebodohan.) lihat Ibn Faris Ibn Zakariya, Abu al-Husayn Ibn Ahmad, Mu‘jam al-Maqa>yi>s fi-al-Lughah (Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H/1994 M.), Cet. I, 313; Sementara itu, dalam disiplin ilmu hadis, takhri>j h}adi>th didefinisikan sebagai upaya menunjukkan materi hadis di dalam sumber-sumber pokok yang dikemukakan berikut transmisinya, dan menjelaskan kualifikasinya bila diperlukan. Lihat Mahmud al-T}ah}h}a>n, Us}u>l al-Takhri>j wa-Dira>sat al-Asa>ni>d (Riyad: Maktabah al-Rashid, 1983), 9.
32 Teori ini dapat dibaca dalam Clifford Geertz, The Interpretation of Culture, Selected Essays (New York: Basic Books,
Penelitian ini dirancang menjadi enam bab pembahasan dengan rincian sebagai berikut:
Bab Pertama adalah pendahuluan. Bab Dua berisi tentang landasan teoritis penelitian berupa perdebatan akdemik seputar posisi periwayat hadis dalam berbagai komunitas ideologi, baik ideologi keagamaan maupun politik.
Pembuktian tidak akan lengkap dan sempurna tanpa ada data dan fakta. Maka, penelitian seputar ideologi dalam periwayatan ini meniscayakan adanya data-data seputar keterlibatan para periwayat dalam ideologi Khawa>rij. Tidak hanya itu, data yang ditampilkan dalam bab empat ini juga dilengkapi dengan beberapa wacana hadis yang dibawakan oleh para periwayat yang disinyalir berideologi Khawa>rij tersebut. Pembuktian terbalik, antara periwayatan hadis Khawa>rij dari para periwayat Sunni juga dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar dapat dipastikan bahwa riwayat hadis yang mereka bawakan dan telah divalidasi oleh ahli hadis itu benar-benar objektif, valid, tidak profokatif dan mendukung ideologi masing-masing.
BAB II
DISKURSUS IDEOLOGI DAN PURIFIKASI HADIS
"Ra'yi> s}awa>bun yah}tamil al-khat}a', wa-ra'yu ghayri> khat}a' yah}tamil al-s}awa>b." (al-Sha>fi>‘i>)
"We have the true knowledge, They have ideologies"
(Teun Van Dijk)
Dua statemen tersebut merupakan gejala umum eksistensi sebuah ideologi yang meskipun tidak melembaga. al-Sha>fi‘i> menciterakan sebuah ideologi yang didapat secara dialektis-dialogis dengan memberikan peluang salah dan benar dalam ideologi manapun. Sementara itu, Van Dijk tampak sedang membaca sebuah fenomena yang merupakan kebalikan dari statemen al-Sha>fi‘i>. Fenomena sosial menyatakan bahwa ideologi selalu berkonotasi negatif, dan menjadi milik orang lain serta terkesan tidak berdamai dengan idea-idea selainnya. Setiap orang merasa bahwa dirinyalah yang paling benar, dan karena itu ia merasa memiliki banyak pengetahuan tentang suatu hal. Dengan demikian, pada dasarnya dalam setiap komunitas sosial pasti lahir sebuah ideologi. Bahkan ideologi dapat lahir secara personal, tidak komunal.
Berbicara mengenai ideologi dalam periwayatan hadis dan relasinya terhadap otentisitas, perlu adanya data-data tentang eksistensi sebuah ideologi. Hal ini meniscayakan sebuah penelusuran terhadap ideologi para periwayat hadis. Kemudian, dari data tersebut dapat diperoleh gambaran tentang tiga hal, yaitu posisi ideologi dalam komunitas sosialnya, otoritas para penganut idelogi, dan otentisitas pesan yang mereka sampaikan. Namun, sebelum melangkah ke arah tersebut, penting kiranya membaca sebuah wacana besar tentang ideologi dalam periwayatan dan relasinya terhadap otentisitas pesan kenabian.
Oleh karena itu pada bagian ini, pembahasan difokuskan pada beberapa poin besar. Berangkat dari sebuah wacana seputar eksistensi ideologi dalam periwayatan, maka isu yang diangkat dalam penelitian ini menjadi semakin jelas. Agar semakin kuat, perlu dilakukan pengujian metodologi yang telah digunakan untuk membaca isu tersebut. Maka, hasil dari pengujian itulah yang akan menjadi statement point dalam penelitian ini yang sekaligus menjadi tawaran paradigma baru dalam membaca otentisitas pesan kenabian dalam proses periwayatan hadis.
Otentisitas Hadis dalam Perdebatan
Dalam tradisi kritik hadis terdapat beberapa kriteria kesahihan hadis yang telah ditetapkan oleh para ulama belakangan. Dari hasil penelusuran dan pengkajian terhadap metode-metode ulama klasik, ditemukanlah beberapa kesamaan yang kemudian menjadi syarat utama sebuah hadis dinyatakan valid. Validitas sebuah hadis sangat ditentukan oleh validitas sanad dan matan, karena keduanya adalah rukun hadis yang aksiomatis. Syarat-syarat tersebut adalah bahwa sebuah hadis harus disampaikan secara estafet dari seorang periwayat kepada periwayat lain hingga berujung kepada kolektor (mukharrij).
Di samping ketersambungan, masing-masing periwayat yang terdaftar dalam rangkaian sanad tersebut juga harus dapat dipastikan keadilan dan ked}abit}annya. Adil berarti baik perangainya, baik secara agama (tidak fasik) maupun sosial (tidak menyalahi etika sosial, menjaga muru>'ah).33 Termasuk pula dalam kajian al-‘ada>lah adalah kajian tentang ideologi periwayat. Seorang periwayat dinyatakan baik jika tidak fanatik atau provokatif terhadap ideologinya.34 Ini bukan berarti seorang periwayat dilarang keras berideologi tertentu dalam hal politik, pemikiran, atau pemahaman keagamaan. Mereka sah-sah saja berafiliasi pada ideologi dan mazhab tertentu, namun hendaknya tidak sampai terjerumus dalam jurang fanatisme. Hal ini karena sikap fanatik apalagi yang berlebihan, hanya akan melahirkan cara pandang yang picik dan ideologi yang sektarian. Berangkat dari sinilah, beberapa sarjana meragukan otentisitas hadis sebagai berita kenabian, yang bersumber dari Nabi langsung.
Maya Yazigi misalnya, dengan melihat keperpihakan beberapa orang periwayat pada sebuah ideologi, dapat membutakan mata mereka sehingga menjadi picik. Pengaruh ideologi begitu kuatnya sehingga seseorang dapat saja mengesampingkan hubungan kekerabatan demi sebuah ideologi. Kasus Muh}ammad bin Abu> Bakr menjadi sorotan utama Yazigi untuk membaca kasus tersebut. Muh}ammad yang
33Al-A‘z}ami>, Manhaj al-Naqd, 23-24; al-Shawka>ni>, Irsha>d al-Fukhu>l (Kairo: H{alabi>, 1356 H), 51; Abu> H}a>mid
al-Ghaza>li>, al-Mustas}fa> min-‘Ilm al-Us}u>l (Beiru>t: Da>r Kutub ‘Ilmi>yah, 2010), cet.2, 201, dan Jala>l Di>n Abu> Fad}l ‘Abd al-Rah}ma>n al-Suyu>t}i>, Tadri>b al-Ra>wi> bi-Sharh} Taqri>b al-Nawawi> (Beiru>t: Da>r al-Fikr, 2006), 197.
masih sedarah dengan ‘A<'isyah justru saling berperang lantaraan memperjuangkan ideologinya. Maka, keberpihakan seorang periwayat pada sebuah ideologi dapat menjadikannya picik dan sekatraian.
Dalam tulisannya yang lain, Yazigi juga berkesimpulan bahwa hadis-hadis Nabi juga sarat dengan ideologi. Ia berkesimpulan demikian dengan melihat hadis tentang jaminan masuk surga untuk sepuluh orang sahabat Nabi. Menurutnya, hadis futuristik ini sangat ideologis, sangat politis. Ini karena hampir semua yang disebut dalam hadis tersebut adalah orang-orang yang kelak memangku jabatan strategis dalam pemerintahan pasca Nabi wafat. Maka, hadis-hadis ini pun, menurutnya sengaja dibuat untuk meredam dominasi Shi>‘ah yang mengusung Ahli Bait.
Sementara itu, terkait dengan diskursus ideologi dan orisinalitas hadis, Ignaz Goldziher (1850-1921 M), membuat sebuah kesimpulan yang senada bahwa isna>d merupakan hasil metamorfosis dari pemikiran generasi Islam awal.35 Isna>d, menurutnya, berawal dari bentuk yang sangat sederhana dan seiring dengan perkembangan masa, mencapai kesempurnaannya pada paruh kedua abad ke-3 H. Menurutnya, terdapat banyak sekali isna>d yang digunakan oleh beberapa kelompok untuk dipasangkan pada pendapat-pendapatnya. Melalui isna>d, pendapat-pendapat kelompok tersebut menjadi tampak berasal dari orang-orang pada masa generasi awal terdahulu (al-mutaqaddimu>n). Dengan demikian, mereka memilih figur-figur yang dinilainya kompeten dan terpercaya lalu meletakkannya ke dalam daftar rangkaian yang disebut dengan isna>d itu.36
Kesimpulan yang sama juga datang dari C. Snouck Hurgronje (1857-1936), kawan semasa Goldziher. Menurutnya, literatur hadis adalah produk ortodoksi, yaitu hasil pemikiran dari kelompok yang dominan pada tiga abad pertama Islam. Dengan demikian, hadis tidak dapat dikatakan orisinal dari Nabi, melainkan hanyalah refleksi dari pandangan-pandangan mereka tentang Islam. Dengan kata lain, Hurgronje menegaskan bahwa hadis pada dasarnya adalah statemen para penganut ideologi yang dominan selama tiga abad pertama hijriah.37
Problem Ideologi dalam Periwayatan
"Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, karena boleh jadi
pendengar (periwayat) lebih mengerti daripada orang yang menyampaikan."38 Demikianlah kutipan pidato
Nabi di akhir-akhir masa hidupnya di Makkah. Sebuah hadis yang menjadi dasar periwayatan hadis itu menarik untuk dikaji, terutama pada bagian terakhirnya. Di bagian tersebut tersurat dengan jelas, meski dengan varian redaksi yang beragam, bahwa banyak sekali pendengar (dalam hal ini adalah periwayat) lebih memahami pesan yang dia terima daripada penyampainya. Mendengar perintah tersebut, para sahabat Nabi yang kemudian diikuti oleh generasi-generasi berikutnya menjadi termotivasi untuk menyampaikan apapun yang pernah mereka terima, lihat, rasakan, dan dengar langsung dari Nabi. Di sinilah sebenarnya gerakan periwayatan hadis telah dimulai.
Mengingat begitu urgennya kebutuhan umat terhadap sosok paripurna yang dapat dijadikan panutan dan acuan dalam menjalani kehidupan, khususnya yang berkaitan dengan masalah-masalah keagamaan, maka hadis pun menjadi "konsumsi terfavorit" umat Islam generasi awal. Sosok Nabi, di samping karena
35 Wahyudin Darmalaksana, Hadits Di Mata Orientalis; Telaah Atas Pandangan Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht
(Bandung: Benang Merah Press