KONSEP KETATANEGARAAN KHULAFA’UR RASYIDIN
D. Khilafah Ali Bin Abi Thalib
Pengukuhan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah pendahulunya. Ia di bai’at di tengah-tengah kekacauan karena kematian Ustman bin Affan Ra.. Pertentangan dan kebingungan umat Islam Madinah terjadi sebab kaum pemberontak yang membunuh Ustman bin Affan Ra. mendaulat Ali bin Abi Thalib Ra. supaya bersedia dibai’at menjadi khalifah.
Dalam pidatonya, khalifah Ali bin Abi Thalib Ra. memerintahkan agar umat Islam:
1. Tetap berpedoman teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah rasul
2. Taat dan bertaqwa kepada Allah serta mengabdi kepada negara dan sesama manusia
3. Saling memelihara kehormatan di antara sesama muslim dan umat lain
4. Terpanggil untuk berbuat kebajikan bagi kepentingan umum, dan
5. Taat dan patuh kepada pemerintah.
Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib Ra. menghadapi Thalhah, Zubair dan Aisyah yang memberontak. Karena Ali bin Abi Thalib tidak mau menghukum para pembunuh Utsman bin Affan Ra., dan mereka menuntut pembelaan terhadap darah Utsman bin Affan Ra. yang telah ditumpahkan secara zhalim. Melihat
Konsep Ketatanegaraan Khulafa’ur Rasyidin |93
itu, Ali bin Abi Thalib Ra. berusaha menghindari terjadinya peperangan dengan mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara tersebut secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran dahsyat pun berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah Ra. dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah Ra. ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Dengan demikian kepemimpinan Ali bin Abi Thalib Ra. berhasil melalui masa-masa paling kritis karena pertentangan antar kelompok yang berpangkal dari pembunuhan Ustman bin Affan Ra. Kemudian Ali bin Abi Thalib Ra. menyatakan ia berhasil memecat sebagian besar gubernur yang korupsi dan mengembalikan kebijaksanaan Umar bin Khatthab Ra. pada setiap kesempatan. Sehingga ia bisa membenahi dan menyusun arsip negara untuk menyelamatkan dokumen-dokumen khalifah dan kantor pemerintahan negara, serta mengkoordinir polisi dengan menetapkan tugas-tugas mereka. Setelah Ali bin Abi Thalib Ra. berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah, dan Aisyah, ternyata kebijaksanaan Ali bin Abi Thalib Ra. juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari para gubernur di Damaskus, Mu'awiyah Ra., yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan.
Ali bin Abi Thalib Ra. bergerak dari Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah pasukan tentara yang besar untuk melawan pasukan Mu'awiyah Ra. di Shiffin. Pertempuran terjadi ini dikenal dengan Perang Shiffin. Perang Shiffin diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak
94| Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam dalam Fiqh Siyasah menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga yaitu al-Khawarij. Al-Khawarij adalah orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib Ra. Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib Ra. umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu'awiyah, Syi'ah (pengikut Abdullah bin Saba’ al-yahudi) yang menyusup pada barisan tentara Ali bin Abi Thalib Ra., dan al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib Ra.). Keadaan ini tidak menguntungkan Ali bin Abi Thalib Ra. Munculnya kelompok al-Khawarij menyebabkan tentaranya semakin lemah, sementara posisi Mu'awiyah Ra. semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40 H (660 M), Ali bin Abi Thalib Ra. terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij yaitu Abdullah bin Muljam.
Harus diakui ada beberapa kasus dan peristiwa pada masa khalifah Ustman bin Affan Ra. dan Ali bin Abi Thalib Ra. yang tidak menyenangkan. Tapi perlu dicatat beberapa hal yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin sebagai tauladan dalam memimpin negara Madinah.
Pertama, pengangkatan empat orang sahabat Nabi menjadi Khalifah, dipilih dan diangkat dengan cara yang berbeda. Pertama, pemilihan bebas secara terbuka dilakukan melalui forum musyawarah dengan tidak mengikutsertakan calon. Karena sebelumnya Rasulullah Saw. tidak pernah menunjuk siapa calon penggantinya. Cara ini terjadi pada musyawarah terpilihnya Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. Di balai pertemuan Tsaqifah Bani Syaidah. Kedua, pemilihan dengan cara pencalonan atau penunjukan oleh Khalifah sebelumnya dengan mengadakan konsultasi terlebih dahulu dengan para sahabat terkemuka yang selanjutnya memberitahukan kepada umat Islam, dan mereka menyetujuinya.
Konsep Ketatanegaraan Khulafa’ur Rasyidin |95
Penunjukan dilakukan tanpa ada unsur atau hubungan kekeluargaan. Sebagaimana yang pernah dilakukan saat penunjukan Umar bin Khatthab Ra. oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. Ketiga, pemilihan tim atau Majelis Syura yang dibentuk khalifah. Anggota suatu tim bertugas memilih salah satu dari beberapa orang menjadi khalifah. Sebagaimana yang pernah dilakukan pada masa Ustman bin Affan Ra. oleh Khalifah Umar bin Khatthab Ra. yang beranggotakan enam orang. Keempat, pengangkatan spontanitas di tengah-tengah situasi yang kacau akibat pemberontakan sekelompok masyarakat muslim yang membunuh Ustman bin Affan Ra. sebagaimana yang dilakukan kaum pemberontak dan umat Islam di Madinah kepada Ali bin Abi Thalib Ra.
Kedua, Khulafaur Rasyidin tidak memiliki konstitusi khusus sebagai dasar pemerintahan dan pedoman penyelenggaraan pemerintahan. Undang-undangnya adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasul, hasil ijtihad khalifah, dan keputusan Majelis Syura.
Ketiga, Khulafaur Rasyidin tidak memiliki ketentuan terkait masa jabatan bagi masing-masing khalifah dalam pemerintahan. Mereka tetap menjabat selama berpedoman kepada syariat Islam.
Keempat, dalam penyelenggaraan pemerintahan negara Madinah Khulafaur Rasyidin telah melaksanakan prinsip musyawarah, prinsip persamaan bagi semua lapisan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan, prinsip kebebasan berpendapat, prinsip keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.
Kelima, dasar dan pedoman penyelenggaraan pemerintahan negara Madinah adalah al-Qur’an dan Sunnah Rasul, hasil ijtihad penguasa, dan hasil keputusan Majelis
96| Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam dalam Fiqh Siyasah Syura. Karenanya corak negara Madinah pada periode Khulafaur Rasyidin tidak jauh berbeda daripada zaman Rasulullah Saw.
- 97 -