• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DASAR KEKHALIFAHAN

Pada periode seabad setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., wilayah yang didiami dan dikuasai oleh umat Islam telah diperluas sampai ke Pyren dan Maroko di Barat serta Punjab dan dekat Samarkan di Timur. Meskipun wilayah kekuasaan Islam sudah seluas itu, jabatan khalifah masih dipahami dalam terma yang sama dengan kepala dalam satu suku pengembara. Kepala suku bangsa pengembara pada periode pra-Islam disebut Sayyid yang setiap cabang suku dapat memiliki seorang pemimpin. Sayyid pada setiap tingkat memiliki kekuasaan yang terbatas dan sedikit melampaui primus interperes. Bahkan, dalam pengertian lebih jauh, setiap laki-laki dewasa menganggap dirinya sederajat dengan sayyid, dan akan merasa tersinggung apabila seorang sayyid lainnya memberinya perintah. Secara umum, sayyid tidak dapat memerintah anggota suku, tetapi hanya dapat membujuk melakukan sesuatu. Masalah-masalah yang belum diatur dalam adat-kebiasaan mereka, biasanya diputuskan dalam satu majelis atau dewan suku. Di sini, kepribadian seorang sayyid -biasanya orang yang berusia tua dan keahlian pendekatannya memungkinkan dia dapat menggiring keputusan ke yang dikehendakinya. Anggota majelis yang berusia lebih muda menjadi ragu-ragu menentangnya, dan bahkan tidak berani membuka mulut. Seorang sayyid memiliki tanggung jawab khusus, untuk memantau hubungan-hubungan keluar sukunya, dan informasi yang diperolehnya selama menjalankan tugas tersebut dapat membantu memecahkan

98| Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam dalam Fiqh Siyasah berbagai masalah. Kewenangan sayyid juga dibatasi oleh kekuasaan-kekuasaan dan fungsi-fungsi yang diberikan kepada orang-orang tertentu. Kepemimpinan dalam perang biasanya diberikan melalui suatu keputusan khusus, dan biasanya berlaku untuk satu periode saja. Umumnya, sebagaimana yang akan terlihat kemudian, bukan sayyid yang ditunjuk sebagai panglima perang.

Sebelum suatu rencana dilaksanakan, terlebih dahulu harus dikonsultasikan kepada kahin (peramal), dan untuk maksud ini, beberapa kewenangan diberikan kepada sang kahin dengan biaya yang dibebankan kepada sayyid. Pada akhirnya, berbagai perselisihan yang menyangkut hukum adat atau kebiasaan yang ada harus dipecahkan. Jika kebijakan sayyid mendapat penghargaan, perselisihan-perselisihan antar golongan yang terjadi dalam sukunya akan dihadapkan kepadanya. Namun, dalam kasus lain, jika sayyid tidak sepenuhnya dihargai, penyelesaian perselisihan diserahkan kepada orang yang bijaksana dan ikhlas yang sudah diterima oleh publik sebagai hakam.

Sekalipun khalifah Dinasti Umayyah merupakan penguasa wilayah yang sangat luas, di Damaskus tetap ada orang-orang terkemuka bangsa Arab yang diharapkan dapat diminta pendapatnya tentang banyak masalah oleh khalifah, sebagaimana halnya dengan orang-orang terkemuka dalam sebuah suku yang diminta pendapatnya oleh sayyid pada masa pra-Islam. Dalam banyak segi, kenyataan ini menyebabkan khalifah mengalami kesulitan meneruskan suatu kebijaksanaan secara mantap, khusus dalam periode setengah abad terakhir pemerintahan Dinasti Umayyah karena terjadinya persaingan antara dua kelompok suku di kalangan bangsa Arab. Jika seseorang menyadari sifat dasar kelembagaan kemajuan yang dominan di masa Dinasti

Konsep Dasar Kekhalifahan |99

Umayyah, tidak bisa tidak, yang bersangkutan harus menghormati prestasi yang mereka capai. Mu'awiyah sendiri adalah seorang keuntungan tertentu yang tidak dimiliki oleh sayyid. Salah satu di antaranya ulung. Khalifah pada masa itu memiliki yang penting adalah khalifah merupakan pemimpin perang, suatu posisi diwarisi dari Muhammad. Posisi seperti itu menyebabkan khalifah memiliki hak untuk menentukan dan mengangkat pembantunya di daerah-daerah taklukan.

Wewenang khalifah dalam masalah hukum juga tidak dipersoalkan. Deranan para pejabat arbiter atau hakam yang terdiri dari orang-orang yang berusia lanjut berakhir secara alamiah. Adanya penaklukan ke berbagai daerah menyebabkan muncul kondisi baru yang lebih kompleks. Hal ini mengandung arti, prinsip-prinsip kebiasaan yang berlaku di daerah padang pasir tidak bisa lagi dipertahankan lebih lama. Dalam perjalanan waktu, kebijakan para hakam kemudian digantikan oleh 'pengetahuan' para sarjana dalam sebuah ‘Lembaga Keagamaan' baru. Sementara, pemerintahan harus terus dijalankan seiring munculnya banyak perselisihan yang dalam Konstitusi Madinah ditetapkan bahwa perselisihan diserahkan kepada Muhammad; berlaku pada tahun-tahun terakhir hayatnya Muhammad.

Praktik ini diteruskan pada zaman para khalifah, penyerahan penyelesaian perselisihan kepada para arbiter (hakam) juga terus berlanjut, tetapi frekuensinya semakin lama semakin berkurang, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa pilihan untuk pemegang fungsi arbiter secara alamiah jatuh kepada khalifah dan gubernur atau wakil dari keduanya. Secara khusus, jabatan hakim qadhil muncul pada masa Dinasti Umayyah. Pada awalnya, seorang pejabat pemerintah dapat menangani perselisihan yang ada,

100| Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam dalam Fiqh Siyasah sebagaimana halnya dia menangani tugas-tugas lainnya. Tidak ada badan tertentu yang ditunjuk untuk menangani masalah-masalah hukum, dan setiap pejabat pemerintah (khalifah atau gubernur) membuat keputusan menurut apa yang dianggapnya tepat, dan sampai batas-batas tertentu diyakini sesuai dengan hukum-hukum al-Qur’an dan sepanjang dia pahami dengan baik. Contoh-contoh yang dikembangkan oleh Muhammad serta para pendahulunya menjadi rujukan untuk memecahkan berbagai perkara. Sesuai dengan perkembangan waktu, jabatan hakim kemudian menjadi satu jabatan yang secara penuh terpisah dari jabatan kepala pemerintahan, tetapi dasar pengambilan keputusannya tetap sama. Namun, secara bertahap mulai muncul orang-orang yang dapat disebut sebagai ‘spesialis’ di antara para hakim-hakim tersebut.

Sebutan spesialis tersebut tidak diperoleh melalui suatu latihan teknis, tetapi melalui upaya penekunan dan pencurahan perhatian terhadap masalah-masalah hukum serta menciptakan forum pendalaman di antara mereka. Khalifah juga terlibat dalam penguasaan kekayaan negara, dia misalnya mendapat seperlima bagian dari hasil rampasan yang diperoleh dalam satu ekspedisi militer, sewa dari keseluruhan daerah-daerah yang telah ditaklukan, kemudian pajak perolehan hak pilih dan pungutan-pungutan wajib lainnya dari kelompok-kelompok yang mendapat perlindungan.1

↜oOo↝

1 Watt, Islam Politic and Thought (London Publiher, 1968), hlm.

- 101 -