BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Kiat Da’i dan Metode Dakwah
Dalam Islam banyak metode yang diterapkan dan digunakan dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama Islam. Menurut An-nahlawy metode untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama Islam antara lain metode keteladanan, pembiasaan, pemberian nasihat, dan penerapan kedisiplinan.23
a. Dakwah dengan Keteladanan
Metode keteladanan merupakan suatu metode atau cara yang
dilakukan dengan melalui pemberian contoh yang baik kepada orang lain, baik dalam bentuk ucapan maupun dalam bentuk perbuatan dalam upaya meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama Islam.
Keteladanan dalam upaya meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama Islam merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spritual dan etos sosial masyarakat. Mengingat da’i adalah seorang figur terbaik dalam pandangan masyarakat, yang tindak-tanduk dan sopan-santunnya, disadari atau tidak, akan ditiru oleh mereka. Bahkan bentuk perkataan, perbuatan dan tindak-tanduknya akan senantiasa tertanam dalam kepribadian masyarakat.24
Da’i tentu saja banyak bergaul dengan masyarakat yang diasuhnya, tidak mustahil kepribadian seperti apapun yang melekat pada pendidik pasti akan ditiru masyarakat. Oleh karena itu, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya akhlak masyarakat. Jika da’i jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama maka masyarakat akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Begitu pula sebaliknya jika da’i pembohong, pengkhianat maka masyarakat akan tumbuh
24Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, (Cet. III; Jakarta: Pustaka Amani, 2007), h. 142.
dalam keburukan.
Pendidikan merupakan proses mengubah tingkah laku masyarakat agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada. Pendidikan tidak hanya mencakup pengembangan intelektual saja, akan tetapi lebih ditekankan pada proses pembinaan kepribadian masyarakat secara menyeluruh sehingga anak menjadi lebih dewasa.25 Mencermati uraian di atas maka dapat dipahami bahwa dengan menekankan pada pembinaan kepribadian maka masyarakat diharapkan meneladani apa yang dilakukan oleh da’i selama tidak bertentangan dengan etika kepribadian da’i. Da’i merupakan panutan atau teladan bagi masyarakat. Segala tingkah lakunya, tutur kata, sifat maupun cara berpakaian semuanya dapat diteladani. Da’i yang memiliki kepribadian yang baik akan menumbuhkan hasrat bagi orang lain untuk meniru atau mengikutinya. Dengan adanya contoh ucapan, perbuatan dan tingkah laku yang baik dalam hal apapun maka hal itu merupakan suatu amaliah yang paling penting dan paling berkesan, baik bagi pendidik anak maupun dalam kehidupan dan pergaulan manusia sehari-hari.
Mengacu pada beberapa uraian di atas maka penulis mengambil suatu kesimpulan bahwa mendidik dengan teladan berarti mendidik dengan memberi contoh baik berupa ucapan maupun berupa perbuatan. Dengan
25Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, untuk Membantu Memecahkan
demikian keteladanan tidak hanya dipakai dalam kegiatan pembelajaran di kelas saja akan tetapi juga di luar kelas. Seorang da’i hendaknya memiliki kesadaran yang tinggi, bahwa sesungguhnya masyarakat akan mengamati sosok atau figur da’inya, dengan sendirinya masyarakat akan menirunya dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari. Keteladanan mempunyai landasan teori yang kuat dalam ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Ahzab (33): 21.
ََّللَّٱ َرَكََذَو َرِخٓۡلۡٱ َمۡوَ يۡلٱَو ََّللَّٱ ْاو جۡرَ ي َناَكَ نَمِ ل ةَنَسَح ٌةَوۡس أ َِّللَّٱ ِلو سَر ِف ۡم كَل َناَكَ ۡدَقَّل
ااِيَكَ
١٤
Terjemahnya:Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.26
Mengacu pada ayat tersebut maka dapat dipahami bahwa konsep keteladanan sudah diberikan oleh Allah swt. dengan cara mengutus para Rasul, terutama Nabi Muhammad saw. untuk menjadi panutan bagi umat Islam. Demikian halnya seorang da’i harus menjadi panutan bagi masyarakat, baik dari segi perkataan, perilaku maupun dari segi penampilan dan lain sebagainya. Apabila dicermati secara historis pendidikan di zaman Rasulullah saw. maka dapat dipahami bahwa salah satu faktor terpenting yang membawa beliau kepada keberhasilan adalah keteladanan. Rasulullah
26Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Surakarta: Media Insani Publishing, 2007), h. 923.
saw. mendidik tidak hanya melalui kata-kata saja, tetapi lebih banyak memberikan keteladanan dalam mendidik umatnya. Karena itulah, keteladanan dikatakan sebagai metode yang sangat efektif dalam dalam pembinaan akhlak.
b. Dakwah dengan Pembiasaan
Pembiasaan merupakan upaya praktis dalam pembinaaan akhlak. Upaya pembiasaan dilakukan mengingat manusia mempunyai sifat lupa dan lemah. Pembiasaan pada dasarnya mengandung nilai-nilai kebaikan. Oleh karena itu, uraian tentang pembiasaan selalu sejalan dengan uraian tentang perlunya mengamalkan kebaikan yang telah diketahui.27
Inti dari pembiasaan adalah pengulangan. Misalnya da’i senantiasa mengi-ngatkan kepada masyarakat bahwa dalam hal berpakaian, seorang muslim sebaiknya sesuai dengan tuntunan agama dan bagi yang mengikutinya mendapat pahala serta mendapat ganjaran bagi yang mangabaikannya. Penyampaian semacam ini apabila senantiasa diulang-ulang dan didengar serta dipahami maka dengan sendirinya masyarakat dapat membiasakan diri berpakaian yang sesuai dengan tuntunan agama.
Kepribadian manusia itu pada dasarnya dapat menerima segala usaha pembentukan melalui pembiasaan. Jika manusia membiasakan berbuat jahat maka ia akan menjadi orang yang jahat. Akhlak diajarkan dengan cara
27Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam, (Cet. VII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), h. 144.
melatih jiwa kepada pekerjaan atau tingkah laku yang mulia. Jika seseorang menghendaki agar ia menjadi pemurah maka ia harus membiasakan dirinya melakukan pekerjaan yang bersifat pemurah, hingga murah hati dan murah tangan itu menjadi tabiatnya yang mendarahdaging.
Pembiasaan adalah suatu metode atau cara yang dilakukan dengan melalui pengulang-ulangan. Dalam kaitannya dengan pembinaan akhlak, metode pembiasaan merupakan salah satu metode yang efektif untuk digunakan. Apalagi mengingat bahwa manusia memiliki sifat pelupa sehingga harus selalu diingatkan dengan cara melalui pembiasaan. Terkait dengan hal tersebut, Allah swt. menjelaskan dalam QS. al-Nisa (4): 43.
َنو لو قَ ت اَم ْاو مَلۡعَ ت َّٰتََّح ٰىَرَٰك س ۡم تنَأَو َةٰوَلَّصلٱ ْاو بَرۡقَ ت َلَّ ْاو نَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّ يََٰٓيَ
...
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan....
Mencermati ayat di atas maka dapat dipahami bahwa di dalam menyam-paikan ajaran agama dapat dilakukan dengan metode pembiasaan. Allah swt. dalam melarang hambanya minum minuman keras tidak secara langsung memerintahkan untuk meninggalkan secara total, tetapi melalui langkah-langkah pembiasaan secara bertahap, sehingga tidak dirasakan
larangan itu sebagai suatu beban yang sulit untuk ditinggalkan. Mengacu pada kedua pendapat di atas maka dapat dipahami bahwa metode pembiasaan merupakan salah satu metode pembinaan akhlak yang tepat untuk diterapkan dalam membina akhlak anak atau masyarakat.
c. Penerapan Kedisiplinan
Hasibuan menjelaskan bahwa kedisiplinan sebagai kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela mentaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung-jawab, sedangkan kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan peraturan organisasi, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Disiplin mencerminkan besarnya tanggung-jawab seseorang terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya.28
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan adalahsuatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan ketepatan, ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban.
Dari pengertian itu dapat dikatakan bahwa kedisiplinan seorang dapat dilihat dari :1. Ketepatan waktu, 2.Kehadiran 3.Ketaatan. Menegakkan kedisiplinan penting bagi da’i, sebab dengan adanya kedisiplinan dapat
28Hasibuan, Bagaimana Menjadi Eksekutif yang Efektif (Cet. I; Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1986).
diharapkan kegiatan dakwah yang dilakukan seefektif dan seefisien mungkin. Dengan demikian, bila kedisiplinan tidak dapat ditegakkan, kemungkinan tujuan yang telah ditetapkan tidak dapat efektif dan kurang efisien.
2. Metode Dakwah
a. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab dalam berdakwah, adalah dengan cara berdialog atau berwawancara. Metode seperti ini, sering dipakai oleh para nabi dan rasul Allah swt dalam mengajarkan agama yang dibawanya kepada umatnya..
Firman Allah swt yang menyatakan bahwa hendaknyalah seseorang bertanya kepada orang yang ahli bila memang tidak mengetahui, adalah QS. al-Nahl (16): 43,
َنو مَلْعَ ت َلَّ ْم تْ ن كَ ْنِإ ِرْكَِ ذلا َلْهَأ او لَأْساَف
Terjemahnya :maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.29
Dengan metode tanya jawab, pengertian, dan pengetahuan masyarkat dapat lebih dimantapkan, sehingga segala bentuk kesalahpahaman, kelemahan daya tangkap terhadap materi dakwah dapat dihindari agar pengetahuannya semakin bertambah.
b. Metode Diskusi
Metode diskusi adalah bertukar pikiran dalam kegiatan dakwah, dan hal ini sangat ditekankan oleh Al-Qur’an dalam berdakwah dengan tujuan lebih memantapkan pengertian, dan sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah.
Perintah Allah dalam mengajak manusia ke jalan yang benar harus dengan hikmah dan mau’izhah yang baik,30 dan membantah mereka dengan berdiskusi secara benar. Dalam QS. al-Ankabut (29): 46, Allah swt berfirman:
…
نَسْحَأ َيِه ِتَِّلِبِ َّلَِّإ ِباَتِكْلا َلْهَأ او لِداَ تُ َلََّو
Terjemahnya :….Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.31
Dengan berdikusi, diharapkan dan diarahkan untuk sampai pada perumusan suatu kesimpulan. Dengan demikian, suatu diskusi memiliki arti dalam kegiatan berdakwah bilamana dilakukan dengan persiapan yang matang, terutama bahan-bahan yang akan didiskusikan.
c. Metode Bimbingan dan Penyuluhan
Dalam Islam terdapat ajaran yang mengandung metode bimbingan dan penyuluhan, justeru karena Al-Qur’an sendiri diturunkan untuk membimbing manusia, dan Nabi saw diutus dengan perannya sebagai pemberi penyuluhan dan menasehati umat manusia. Sehingga, mereka
30Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 125 31Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 635
dapat memperoleh kehidupan batin yang tenang, sehat serta bebas dari segala konflik kejiwaan. Dengan metode ini, manusia akan mampu mengatasi segala bentuk kesulitan hidup yang dihadapinya. Dalam QS. Yūnus (10): 57 Allah swt berfirman:
ِل ٌءاَفِشَو ْم كِ بَر ْنِم ٌةَظِعْوَم ْم كْتَءاَج ْدَق ساَّنلا اَهُّ يَأَيَ
َينِنِمْؤ مْلِل ٌةَْحَۡرَو ىًد هَو ِرو دُّصلا ِف اَم
Terjemahnya :
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.32
Sebagai seorang nabi dan rasul, Muhammad saw telah memberikan contoh bagaimana metode beliau membimbing umat kepada ajaran agama yang dibawanya.
d. Metode Pemberian Nasihat
Metode yang dapat diterapkan dalam pembinaan akhlak adalah metode pemberian nasihat. Metode pemberian nasehat merupakan salah satu metode yang pernah diterapkan oleh Luqman al-Hakim dalam mendidik anaknya. Hal ini dapat dilihat secara jelas dalam QS. Luqman (31): 13.
ميِظَع ٌمۡل ظَل َكۡرِ شلٱ َّنِإ َِّللَّٱِب ۡكِرۡش ت َلَّ ََّنَ بَٰي ۥ ه ظِعَي َو هَو ۦِهِنۡبٱِل نَٰمۡق ل َلاَق ۡذِإَو
Terjemahnya:Dan Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar".33
Mencermati ayat di atas maka dapat dipahami bahwa membina akhlak anak dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, termasuk dalam hal ini adalah membina dengan cara pemberian nasihat.
d. Metode Praktik
Metode praktik (fuction), mendorong manusia untuk mengamalkan ilmu pengetahuan dan mengaktualisasikan keimanan dan ketaqwaannya dalam hidup sehari-hari seperti yang terkandung dalam perintah shalat, dan puasa, serta selainnya. Mengenai shalat misalnya, disebutkan dalam QS. al-Ankabut (29): 45, Allah swt berfirman:
ِذَلَو ِرَكْن مْلاَو ِءاَشْحَفْلا ِنَع ىَهْ نَ ت َة َلََّصلا َّنِإ َة َلََّصلا ِمِقَأَو ِباَتِكْلا َنِم َكْيَلِإ َيِحو أ اَم لْتا
رْكَ
َّللَّاَو رَ بْكََأ َِّللَّا
َنو عَ نْصَت اَم مَلْعَ ي
Terjemahnya :
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.34
e. Metode Targhib dan Tarhib
Metode targhib dan tarhib identik dengan metode motivasi, yaitu cara memberikan ceramah dengan memberikan dorongan untuk memperoleh
33Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 128.
kegembiraan bila mendapatkan sukses dalam kebaikan, sedang bila tidak sukses karena tidak mau mengikuti petunjuk yang benar akan mendapatkan kesusahan. Dengan demikian metode ceramah dengan pola seperti ini, terkait dengan adanya pemberian motivasi disertai pemberian “ancaman”
yakni suatu metode ceramah dengan cara menyampaikan hukuman atas kesalahan yang dilakukan seorang hamba. Dalam QS. Fushshilat (41): 46 Allah swt berfirman:
َمَو اَهْ يَلَعَ ف َءاَسَأ ْنَمَو ِهِسْفَ نِلَف اًِلِاَص َلِمَع ْنَم
ِديِبَعْلِل ٍم َّلََظِب َكُّبَر ا
Terjemahnya :
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya).35
Dalam berbagai ayat juga disebutkan bahwa balasan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, adalah berupa kegembiraan hidup di surga dan sebaliknya orang yang sesat dan yang tidak mentaati perintah Allah mendapatkan penderitaan di neraka kelak.
E. Pemahaman dan Pengamalan Agama