Christ Sony Bastian
Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran E-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Bandung adalah kota yang identik dengan kreatifitas anak mudanya. Berbagai karya kreatif lahir dari kota ini, mulai dari musik, kuliner bahkan fashion. Bandung juga dianggap menjadi pelopor bagi perkembangan dunia fashion dimana kaum muda yang menjadi penggeraknya. Sekitar tahun 1996 mulai muncul dan berkembang industri fashion, atau yang dikenal dengan istilah clothing. Clothing sendiri berasal dari bahasa Inggris yang berarti pakaian. Namun dari sisi industri pakaian yang ada di Bandung, clothing company adalah istilah yang digunakan untuk perusahaan yang memproduksi pakaian jadi dibawah brand mereka sendiri(Fenom, 2016)
Berangkat dari perkembangan salah satu brand clothing ternama di kota Bandung, yaitu unkle347, ternyata industri ini semakin menjamur dan semakin banyak juga brand-brand clothing lainnya yang bermunculan. Masing – masing brand muncul dengan konsep yang berbeda – beda, tergantung dari idealisme orang - orang yang menciptakan produk clothing tersebut. Seperti halnya unkle347 memproduksi produk fashion yang awalnya ditujukan untuk penggemar skateboard dan surfing. Ada juga brand lainnya yang membuat produk clothing dengan tema musik dengan menggunakan gambar – gambar yang berkaitan dengan dunia music, seperti cover album grup band tertentu atau gambar personil band tersebut.
Ternyata citra yang dibawa oleh produk clothing company tersebut mendapat respon yang sangat baik oleh pasar, terutama oleh anak muda yang merasa bahwa clothing ini bisa memenui keinginan mereka untuk mendapatkan produk yang sesuai selera mereka, yang tidak bisa mereka dapatkan dari produk lainnya, bahkan produk yang sudah dikenal oleh skala nasional bahkan internasional sekalipun. Hal ini terjadi karena produk yang sudah memiliki brand dengan skala luas lebih melihat konsep produknya sebagai komoditi dagang yang bersifat komersil, sedangkan produk – produk clothing lebih
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
66
bersifat personal dan umumnya hanya untuk kalangan sendiri. Disatu sisi, tren menggunakan produk dari clothing lokal menjadi budaya baru bagi para pemakainya yang umumnya masih berumur muda. Ada kesan bahwa kalau tidak menggunakan produk clothing berarti tidak mengikuti perkembangan jaman bahkan sebaliknya, berada di luar budaya yang sedang tren tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Fornas(Fornas, 1995) : “ orang – orang muda mengungkapkan diri dalam tingkat yang tidak biasa dalam teks, gambar, musik dan gaya”.Lebih lanjut, Fornas (Fornas, 1995) mendefinisikan siapakah generasi muda yang dimaksud dengan tiga cara :
1. Sebagai fase perkembangan filosofis
2. Sebagai kategori sosial yang dibentuk oleh institusi – institusi seperti sekolah, dan untuk sebagian didefinisikan melalui ritual – ritual sebagai konfirmasi. 3. Sebagai fenomena kebudayaan yang berpusat pada pengungkapan identitas.
Dari penjelasan Fornes diatas, definisi generasi muda yang menggunakan produk clothing lokal ini secara tidak langsung membentuk budayanya sendiri yang berdasarkan identitas mereka. Kebanggaan mereka dalam menggunakan produk lokal ternyata turut membawa nama dari clothing – clothing yang ada tersebut sehingga dibutuhkanlah wadah yang bisa membuat industri clothing lokal ini menjadi lebih terkonsep dan memiliki misi dan tujuan yang jelas dalam rangka menjaga eksistensi dan peningkatan kualitas baik dari sisi produk yang dihasilkan maupun dari sisi branding. Dari sinilah dibuat salah satu event besar dimana penggeraknya adalah orang – orang yang bergerak di dunia clothing tersebut, dan lahirlah sebuah event Kickfest.
Kickfest merupakan event yang bertemakan fashion dengan adanya unsur budaya dan identitas dari generasi muda sekarang. Kickfest adalah sebuah acara clothing expo tahunan yang diadakan dibeberapa kota yang berada di Pulau Jawa, seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Kickfest merupakan acara yang diprakarsai oleh sebuah komunitas distro yang berada di Bandung, mereka menamakan diri mereka KICK. Selain clothing expo, kickfest juga menampilkan live
music dari band-band indie yang ada di Indonesia, band yang tampil ini merupakan hasil
votting dari masyarakat atau khususnya para remaja yang ingin band tersebut tampil. Dengan mengangkat acara yang bertemakan fashion sebagai unsur utamanya, maka sudah menjadi konsekuensi bahwa fashion yang menjadi “jiwa” dari event ini. (Tyaswara, Taufik, Suhadi, & Danyati, 2017) Alex Thio dalam bukunya, Sociology,
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
67
“fashion is a great though brief enthusiasm among relatively large number of people for a particular innovation”. Jadi fashion bisa dimaknakan mencakup apa saja yang diikuti oleh
banyak orang dan menjadi tren. Fashion juga berkaitan dengan unsur novelty atau kebaruan, karena itu fashion cenderung memiliki masa tren-nya dan dan tidak bersifat kekal. Dan karena yang cenderung bergerak dan selalu berubah setip saat adalah busana, maka fashion sering dikaitkan dengan busana, padahal selama ada sesuatu yang baru tentang suatu sautu tren yang melibatkan kesenangan banyak orang, itu bisa menjadi fashion(Thio, 1987). “Fashion terutama busana, merupakan sisi kehidupan masyarakat yang saat ini sedemikian penting sebagai salah satu indikator bagi muncul dan berkembangnya gaya hidup (life style)” (Mike Featherstone, 2001) Fashion merupakan sesuatu yang sering disinonimkan dengan busana, padahal pengertian sesungguhnya fashion bisa mencakup segala sesuatu yang berkaitan dengan adornment, style maupun dress (Trisnawati, 2011). Dengan menggabungkan beberapa unsur, seperti fashion dan musik, Kickfest perlahan mulai dikunjungi oleh banyak generasi muda yang membutuhkan wadah untuk bisa memenuhi ekspektasinya mengenai identitas dirinya melalui brand clothing yang diinginkan ataupun saat ingin menyaksikan sosok musisi favoritnya yang akan tampil di event kickfest tersebut.
Dari latar belakang tersebut, timbul suatu pertanyaan apakah kickfest menjadi sebuah wadah yang yang menjadi simbol lahirnya budaya populer untuk anak muda yang sedang mencari identitas dirinya? Apakah suatu event fashion dan musik bisa membentuk suatu budaya baru dari sekelompok orang yang merasa kebutuhan akan identitas dirinya terwadahi di event ini? Akan menjadi luar biasa apabila bisa timbul suatu budaya kontemporer yang terbentuk “hanya” dari kesukaan seseorang kepada fashion dan genre musik tertentu saja dan bisa diterima hampir diseluruh daerah, karena penyelenggaraan Kickfest ini telah dilakukan di banyak daerah di Indonesia dan mendapatkan respon yang baik dari generasi muda di daerah daerah tersebut.
Untuk menjawab rumusan rumusan masalah tadi, penulis menggunakan metodologi deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan kepada dua orang pihak penyelenggara Kickfest, baik sebagai pemilik brand clothing tertentu maupun yang terlibat langsung dalam kepanitiaan dalam event Kickfest tersebut. Observasi dilakukan dengan mengunjungi event Kickfest ke-12 yang diadakan diawal bulan November kemarin di Bandung
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
68
selama 3 hari berturut – turut. Dan studi kepustakaan dilakukan dengan mengkaji literature dan penelitian sebelumnya yang juga mencoba melihat penyelenggaraan Kickfest ini sebagai fenomena yang terjadi dalam lingkungan anak muda yang ada di beberapa kota tempat diselenggarakannya event Kickfest tersebut.Kickfest
Kickfest merupakan acara rutin yang awalnya digelar di kota Bandung, namun beberapa tahun terakhir Kickfest juga digelar di beberapa kota besar lainnya di Indonesia seperti Malang dan Jogjakarta. Kickfest berawal dari komunitas anak muda yang tergabung dalam “Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) yang berambisi untuk meningkatkan kreatifitas anak muda khususnya di bidang clothing. (Handiman.2013).
Dalam wawancara yang dilakukan kepada Tjuk Guritno selaku Marketing Communication dari KICK selaku penyelenggara Kickfest, disampaikan bahwa Kickfest pertama hadir di bandung sekitar tahun 2000 awal dan ini adalah reaksi dari anak muda Bandung dalam menyikapi krisis moneter yang terajadi sekitar tahun 1998. Sekelompok anak muda yang merasakan semangat yang sama mendirikan KICK sebagai wadah bagi pengusaha clothing brand lokal yang ada di kota Bandung. Dari wadah KICK inilah mereka membuat suatu event yang bisa menyatukan berbagai brand lokal, dan lahirlah event Kickfest. Kickfest bertujuan untuk menunjukkan bahwa brand lokal bisa berkompetisi sehat dalam dunia usaha industry clothing dan juga sebagai wujud diplomasi eksistensi brand lokal ditengah arus invansi brand – brand mancanegara yang masuk ke Indonesia. Kickfest yang awalnya hanya sebuah event, lama kelamanaan menjadi sebuah pergerakan bersama yang mensinergikan antara para pelaku usaha dengan para pelanggannya. Industri ini menjadi wujud kerjasama dari banyak pihak yang ada didalamnya, termasuk pemerintah yang mulai mendukung jenis industri kreatif ini melalui badan yang khusus dibentuk yaitu BEKRAF (Badan Ekomomi Kreatif) dimana menekankan industry kreatif sebagai penyokong ekonomi negara.
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
69
Untuk bisa mengatakan sesuatu tindakan, kegiatan atau bahkan perilaku dikatakan sebagai suatu budaya, terlebih dahulu kita harus memahami arti dari budaya itu sendiri. Budaya secara umum bertujuan untuk mengatur perilaku manusia dalam bertindak dan menentukan sikap saat mereka berinteraksi dengan orang lain, dengan cara komunikasi yang dilakukan lewat bahasa, kebiasaan atau adat istiadat yang ada dalam lingkungannya tersebut. Bikhu Parekh mendeskripsikan bahwa terdapat lima komponen yang bisa mendefinisikan gagasan mengenai budaya bagi anggota suatu kelompok budaya yang diakui, yaitu :(Parekh, 1997)1. Suatu khazanah kepercayaan yang melaluinya anggota kelompok tersebut memahami diri mereka sendiri dan dunia, serta menerapkan makna terhadap perilaku dan hubungan sosialnya.
2. Perbagai nilai dan norma perilaku yang mengatur hubungan sosial, menginformasikan ide – ide tentang kebaikan, dan ada di belakang peristiwa kehidupan yang pokok.
3. Pelbagai ritual dan seni ekspresif yang menyampaikan tentang pemahaman diri, pengalaman dan emosi kolektif.
4. Pelbagai konsepsi tentang sejarah yang berbeda dan tentang perbedaan dari kelompok – kelompok lain.
5. Pengembangan karakter sosial bersama, termasuk unsur – unsur seperti motivasi dan tempramen.
Menurut Koentjoroningrat (Koentjoroningrat, 2009) budaya terdiri dari beberapa unsur yaitu :
1. Bahasa
Bahasa merupakan sebuah pengucapan dalam suatu elemen kebudayaan yang mampu menjadi alat perantara utama bagi manusia untuk meneruskan atau mengadaptasikan kebudayaan. Menurut Koentjoroningrat, bahasa sebagai unsur kebudayaan dibedakan menjadi bahasa lisan dan bahasa tulisan.
2. Sistem pengetahuan
Unsur ini membahas pada ilmu pengetahuan tentang kondisi alam di sekeliling manusia dan sifat – sifat peralatan yang dipakainya. Sistem pengetahuan meliputi ruang pengetahuan tentang alam sekitar, flora dan fauna, waktu, ruang dan bilangan, sifat dan tingkah laku sesama manusia.
3. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial
Organisasi sosial adalah sekelompok masyarakat yang anggotanya merasa satu dengan sesamanya. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial meliputi kekerabatan, asosiasi dan perkumpulan, sistem kenegaraan dan sistem kesatuan hidup.
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
70
4. Sistem peralatan hidup dan teknologiUnsur ini menjelaskan tentang jumlah keseluruhan teknik yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Meliputi keseluruhan cara bertindak dan berbuat. Hal ini berkaitan dengan pengumpulan dan pemrosesan bahan mentah untuk dibuat suatu alat kerja, pakaian, transportasi dan kebutuhan lainnya yang bersifat benda material.
5. Sistem mata pencaharian hidup
Unsur ini merupakan segala usaha manusia untuk mendapatkan barang dan jasa yang dibutuhkan. Hal ini meliputi barburu dan mengumpulkan makanan, bercocok tanam, peternakan, perikanan dan perdagangan.
6. Sistem religi
Diartikan sebagai sebuah sitem yang terpadu antara keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan dengan hal – hal suci dan tidak terjan gkau oleh akal pikiran manusia. Sistem religi meliputi sistem kepercayaan, sistem nilai dan pandangan hidup, komunikasi keagamaan dan upacara keagamaan.
7. Kesenian
Kesenian dapat diartikan sebagai segala hasrat manusia terhadap keindahan. Bentuk keindahan yang beraneka ragam tersebut dapat timbul dari imajinasi kreatif yang memberikan kepuasan batin untuk manusia. Secara umum, kesenian dibedakan dalam tiga jenis yaitu seni rupa, seni tari dan seni suara.
Kata budaya sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang bermakna jamak dari kata buddi yang berarti budi atau akal, semua hal yang berkaitan dengan akal manusia. (Koentjoroningrat, 2009) memberikan definisi budaya sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan serta hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Dari beberapa pengertian tersebut, tampak bahwa suatu budaya merupakan hasil dari akal pemikiran manusia yang berkaitan dengan perilaku dan hubungan sosial manusia tentang pemahaman diri, pengalaman dan emosi yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu lingkungan tertentu.
Kickfest merupakan event tahunan yang sudah diselenggarakan sebanyak 12 kali. Suatu event yang selalu dikunjungi oleh berbagai macam orang yang memiliki latar belakang dan kehidupan yang berbeda – beda, tetapi memiliki kesamaan dalam hal identitas diri dari apa yang ingin mereka dapatkan di event Kickfest itu sendiri, apakah
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
71
dari produk clothingnya atau ingin menyaksikan musik favoritnya. Kesamaan tujuan dan pemikiran dari banyak orang ini melahirkan suatu pemahaman, pengalaman dan emosi yang sama yang secara tidak langsung membentuk suatu budaya bersama. Kegiatan berulang – ulang yang diikuti oleh orang – orang yang memiliki kesamaan dalam hal motivasi mengapa mereka mau datang ke event tersebut memberikan tempat yang lebih mendalam bagi Kickfest daripada sekedar penyelenggaraan suatu event kegiatan.Budaya Populer / Popular Culture (Pop Culture)
Sudah menjadi hakikatnya bahwa yang namanya kebudayan akan selalu berkembang seiring berkembangnya peradaban manusia. Kebudayaan akan selalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan hidup manusianya. Manusia yang memiliki akal budi dan pikiran akan selalu mencari tahu dan menciptakan sesuatu yang bisa mendukung eksistensi hidupnya dalam segala aspek. Bukan hanya terbatas pada benda material saja, tetapi juga kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dalam masyarakat tentang identitas dirinya (Tanudjaja, 2009)
Dalam konsep budaya kontemporer, popular culture atau budaya populer mulai banyak ditemukan di Indonesia, khususnya dilingkungan anak muda. Kebudayaan popular berkaitan dengan masalah keseharian yang dapat dinikmati oleh semua orang atau kalangan orang tertentu seperti mega bintang, kendaraan pribadi, fashion, model rumah, perawatan tubuh, dan sebagainya (Ridaryanthi, 2014). Menurut Ben Agger, sebuah budaya yang akan masuk dunia hiburan maka budaya itu umumnya menempatkan unsur popular sebagai unsur utamanya. Budaya itu akan memperoleh kekuatannya manakala media massa digunakan sebagai penyebaran pengaruh di masyarakat (Bungin, 2009)
Beberapa ahli mendefinisikan budaya populer berbeda – beda, ada yang mendefinisikan budaya populer memiliki empat makna, yakni “banyak disukai orang”, “jenis kerja rendahan”, “karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang” dan “budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri”(Ida rochani adi, 2011). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan budaya populer sebagai budaya yang dikenal dan disukai banyak orang (umum), sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya, mudah dipahami orang banyak, disukai dan dikagumi orang banyak. Budaya populer berkaitan dengan budaya massa. Budaya massa adalah budaya populer yang
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
72
dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan dari khalayak konsumen massa. Budaya massa ini berkembang sebagai akibat dari kemudahan-kemudahan reproduksi yang diberikan oleh teknologi seperti percetakan, fotografi, perekaman suara, dan sebagainya. Akibatnya musik dan seni tidak lagi menjadi objek pengalaman estetis, melainkan menjadi barang dagangan yang wataknya ditentukan oleh kebutuhan pasar. (Mayendra, 2011)Budaya populer memiliki beberapa karakteristik, yaitu : (Mayendra, 2011)
1. Relativisme
Budaya populer merelatifkan segala sesuatu, sehingga tidak ada garis yang jelas mengenai apa yang mutlak benar dan apa yang mutlak salah, bahkan tidak ada juga batasan apapun yang mutlak.
2. Pragmatisme
Budaya populer menerima apa saja yang bermanfaat tanpa melihat sesuatunya apakah benar atau salah. Segala hal diukur dari manfaatnya, bukan tingkat kebenaran atau kesalahannya. Dampak negative dari hal ini adalah mendorong orang untuk malas berpikir kritis karena cenderung hanya bersifat menerima dampak dari budaya tersebut tanpa berpikir kebenarannya.
3. Sekulerisme
Budaya populer mendorong penyebarluasan sekularisme. Hal yang terutama adalah hidup hanya untuk saat ini (here and now), tanpa harus memikirkan masa lalu dan masa depan.
4. Hedonisme
Budaya populer lebih banyak berfokus kepada emosi dan pemuasannya daripada tingkat intelektualitas. Yang harus menjadi tujuan hidup adalah bersenang-senang dan menikmati hidup, sehingga memuaskan segala keinginan hati dan hawa nafsu. Hal seperti ini menyebabkan munculnya budaya hasrat yang mengikis budaya malu.
5. Materialism
Gaya hidup manusia modern semakin mengantarkan manusia untuk memuja kekayaan materi, dan cenderung mengukur segala sesuatu berdasarkan materi saja.
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
73
Budaya populer mendorong orang memiliki kebutuhan untuk dikenal dan menjadi populer di lingkungannya dengan kepribadian dan identitas yang ada pada dirinya.7. Kontemporer
Budaya populer merupakan sebuah kebudayaan yang menawarkan nilai-nilai yang bersifat sementara, kontemporer, tidak stabil, yang terus berubah dan berganti (sesuai tuntutan pasar dan arus zaman).
8. Konsumerisme
Budaya populer juga berkaitan erat dengan budaya konsumerisme, yaitu sebuah masyarakat yang senantiasa merasa kurang dan tidak puas secara terus menerus, sebuah masyarakat konsumtif dan konsumeris, yang membeli bukan berdasarkan kebutuhan, namun keinginan, bahkan gengsi. Semua yang kita miliki hanya membuat kita semakin banyak “membutuhkan,” dan semakin banyak yang kita miliki semakin banyak kebutuhan kita untuk melindungi apa yang sudah kita miliki.
9. Budaya gaya
Budaya populer juga menimbulkan dampak mengenai keinginan seseorang untuk memiliki penampilan yang tidak biasa dan cenderung untuk selalu bergaya. Tampilan atau gaya dianggap lebih penting daripada esensi, substansi dan makna. Kickfest menjadi sesuatu ikon komunitas yang berada di tengah tengah antara bisnis dan juga pergerakan. Disatu sisi kickfest berusaha memenuhi idealisme dari para penggeraknya untuk mendorong brand lokal supaya bisa diterima dan bisa bersaing dengan brand – brand internasional yang masuk ke Indonesia, namun disatu sisi juga terdapat unsur bisnis yang sangat kuat dimana para pengunjung diharapkan bisa bertransaksi untuk mendukung tujuan idealismenya. Para pengunjung dari kickfest adalah generasi muda yang memiliki keinginan untuk bisa menunjukkan identitas dirinya melalui penampilan. Mereka akan memiliki sifat konsumerisme dan juga budaya bergaya. Apa yang mereka lakukan adalah untuk saat ini, dan mereka akan merasakan kepuasan diri ketika mereka bisa mendapatkan produk – produk tersebut. Tomlinson (Tomlinson, 2005)menyatakan bahwa motivasi seseorang dalam mengkonsumsi produk dapat dipengaruhi oleh gaya hidup yang berkaitan dengan kelas sosial. Pernyataan Tomlinson ini juga didukung oleh argumen (Richard Semenik, Chris T Allen, Thomas C.
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
74
O’Guinn, 2012) yang menyatakan bahwa manusia mengkonsumsi sesuatu berdasarkan pada fungsi dan emosi yang berkaitan dengan kesenangan dan gaya hidup.HASIL DAN PEMBAHASAN Kickfest sebagai suatu pergerakan
Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Hampir segala jenis sumber daya alam terdapat di Indoneia dan menjadi sumber pemasukan devisa negara. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia mulai gencar mencanangkan industry kreatif sebagai penopang perekonomian negara. Apabila selama ini sektor industri atas seperti sumber daya mineral yang menjadi fokus pemerintah, yang didukung oleh industri bawah seperti UMKM dalam mendapatkan pemasukan kas negara, maka sekarang pemerintah juga tidak bisa menutup mata terhadap industri mengenah yang menitikberatkan pada dunia industri kreatif. Clothing company yang pada awalnya memiliki orientasi bisnis semata lambat laun mulai bertransformasi menjadi sebuah pergerakan dengan mengemban misi tertentu.
Misi untuk mengangkat brand lokal supaya bisa memiliki posisi yang sama dengan brand – brand mancanegara yang berusaha menancapkan hegemoni bisnisnya. Kickfest menjadi dianggap sebuah pergerakan karena idealisme para penyelenggaranya yang tetap mengusung misi diplomasinya ketimbang misi bisnisnya. Pergerakan ini bisa diterima oleh pelanggan dari Kickfest yang sebagian besar adalah anak muda. Bahkan pelanggan dari Kickfest menjadi bagian dari pergerakan itu sendiri karena timbulnya kesadaran bersama bahwa pentingnya menjaga eksistensi produk lokal untuk bisa bersaing dan bisa menjadi tumpuan perekonomian bangsa, dan hal itu mungkin dilakukan apabila idealisme kickfest diaplikasikan menjadi sebuah pergerakan yang melibatkan semua elemen.
Kickfest sebagai simbol dari budaya populer
Budaya bisa saja terbentuk bukan dari sekumpulan orang yang tinggal bersama di suatu lingkungan tertentu saja. Dan budaya populer adalah salah satunya. Budaya ini bisa muncul karena adanya nilai yang bisa diterima dan disukai oleh banyak orang. Dalam gagasan mengenai budaya yang disampaikan oleh Bikhu Parekh dijelaskan
KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER
75
bahwa budaya merupakan karakter sosial bersama dan merupakan pelbagai seni kreatif untuk memberikan pemahaman tentang diri sendiri. Dan kickfest sebagai suatu pergerakan yang disukai oleh semua orang dan menjadi karakter sosial bersama dapat dianggap bahwa Kickfest merupakan simbol suatu budaya populer.BIBLIOGRAPHY
Bungin, B. (2009). Sosiologi Komunikasi. jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Fenom. (2016). Pengertian Distro dan Clothing Company. Retrieved November 11, 2018, from https://birdlook.wordpress.com/2016/01/14/pengertian-distro-dan-clothing-company-3/
Fornas, J. (1995). Youth Culture in Late Modernity. California: Sage Publications.
Ida rochani adi. (2011). Fiksi Populer Teori dan Metode Kajian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Koentjoroningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.