• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER"

Copied!
421
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KOMUNIKASI BUDAYA

DAN DOKUMENTASI

(3)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

ii

Copyright @2019, Agus Rusmana, dkk Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau meperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Cetakan 1, Februari 2019 Diterbitkan oleh Unpad Press

Grha Kandaga, Gedung Perpustakaan Unpad Jatinangor, Lt I

Jl. Raya Bandung – Sumedang (Ir. Soekarno) KM 21, Jatinangor – Sumedang 45363 – Jawa Barat-Indonesia

Telp. (022) 84288888 ext 3806, Situs: http://press.unpad.ac.id

email:[email protected]/[email protected]/ [email protected] Anggota IKAPI dan APPTI

Editor : Ute Lies Siti Khadijah, Rully Khairul Anwar, Agus Rusmana Editor Ahli/ Reviewer : Pawit M. Yusup, Agus Rusmana

Tata Letak : Lutfi Khoerunnisa, Fitri Herdianti, Sendi Rustandi, Sri Mulyati Desainer Sampul : Sendi Rustandi

Katalog

Ute Lies dkk

Komunikasi Budaya dan Dokumentasi Kontemporer/ Ute Lies, dkk; Pawit M. Yusup dan Agus Rusmana, - Cet.1.Bandung; Unpad Press; 2019

Viii + 412 h. ; 18 x 26 cm

ISBN : 978-602-439-461-5

(4)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

iii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWAT dan karunia-nya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan Book Chapter berjudul “Komunikasi dan Budaya Kontemporer”. Buku ini merupakan kumpulan dari berbagai artikel dan pengarang mengenai Komunikasi dan budaya kontemporer.

Tujuan disusunnya buku ini ialah untuk memenuhi kebutuhan bacaan dan dapat menjadi rujukan bagi mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Selain itu, semoga menjadi rujukan juga bagi para pustakawan dalam mengaplikasikan pengetahuan mengenai Komunikasi dan Budaya Kontemporer.

Atas terselesaikannya buku ini, kami banyak mendapat bantuan dan dukungan dari pelbagai pihak. Secara khusus, kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan buku ini, diantaranya : Dr. Hendarmawan.,M.Sc selaku dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Padjadjaran dan Dra. Mudiati Rahmatunnisa,. M.A,. PhD Selaku wakil dekan Sekolah Pascasarjana yang secara formal telah menugaskan kepada para penulis. Selain itu, kami ucapkan terimakasih juga kepada Dr. Evi Novianti,. S.Sos,. M.Si, selaku ketua program studi Magister Pariwisata Berkelanjutan Universitas Padjadjaran yang secara demokratis telah mengusulkan pembagian kerja pada pelaksanaan proses pembelajaran mata kuliah ini secara profesional. Terakhir, kami ucapkan terima kasih pada pihak yang langsung maupun tidak langsung terlibat sehingga selesainya penulisan buku ini.

(5)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii DAFTAR ISI ... iv

BAGIAN I

BUDAYA KONTEMPORER ... 1 Promosi Budaya Sunda Di Museum Sri Baduga Bandung ... 2

Ute Lies Siti Khadijah

Implementasi Perubahan Budaya Perusahaan Pt. Bank Negara Indonesia

(Persero) Tbk. ... 12

1 Susie Perbawasari 2 Aat Ruchiat Nugraha

Budaya Perusahaan Pt. Holcim Indonesia ... 22

1 Susie Perbawasari 2 Aat Ruchiat Nugraha

Job Stress Dan Budaya Perusahaan ... 31 Priyo Subekti

Peran Pemimpin Dalam Membentuk Budaya Perusahaan Ideal ... 38 Priyo Subekti

Melestarikan Budaya Aru Lewat Komunikasi ... 47

1 FX. Ari Agung Prastowo 2 Anwar Sani

Perubahan Budaya Dan Masa Adaptasi Mahasiswa Rantau Di Kampus

Universitas Padjadjaran ... 55 Evi Novianti

Kickfest Sebagai Pergerakan Dan Budaya Populer ... 65

(6)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

v

Komunikasi Antar Budaya Lembaga Kemahasiswaan: Studi Kasus Unit Pecinta

Budaya Minang (Upbm) Dan Lingkung Seni Sunda (Lises) Universitas Padjadjaran .... 76 Deni Rustiandi

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata Di Desa Jatiroke Kecamatan

Jatinangor ... 86

1Afni Madalinna Haidara, 2Ute Lies Siti Khadijah

Komodifikasi Budaya Populer Korean Pop Music “Music Makes One” ... 98 Audira Mauretha Giri

Revolusi Industri 4.0 Dan Generasi Milenial ... 107 Dita Nur Amalina

Presentasi Diri Pecinta Budaya Populer Jepang Melalui Cosplay ... 116 Lina Kamila Ramasari

Budaya Kontemporer Perubahan Bahasa Dalam Bahasa Indonesia ... 128 Erlangga Marion

Budaya Menonton Masyarakat Indonesia ... 136 Iqbal Syaefulloh

Implementasi Komunikasi Budaya Kontemporer Pada Experiential Marketing

Saung Angklung Udjo ... 150 Fathiya Nur Rahmi

Perubahan Budaya Pemasaran Konvensional Menjadi Budaya Pemasaran

Berbasis Digital... 159 Mochammad Nurreza

Studi Fenomenologi Budaya Perilaku Penggunaan Bahasa Anak Jaksel ... 167 Rani Auliawati Rachman

Pemaknaan Nyadaran Sebagai Pelestarian Budaya Pada Etnik Jawa ... 178 Evi Novianti

(7)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

vi

Peranan Komunikasi Budaya Korea Dalam Membentuk Perilaku Generasi

Muda Indonesia ... 187 Rully Khairul Anwar, Edwin Rizal

Dokumentasi Taman Tematik Sebagai Bentuk Upaya Pendistribusian Informasi

Bagi Masyarakat Di Kota Bandung ... 202 Edwin Rizal, Sutan Pandu Putra

BAGIAN II

DOKUMENTASI DAN DIGITALISASI ... 209 Digitalisasi Industri Pariwisata Indonesia Dalam Menyikapi Perilaku Masyarakat

Kontemporer ... 210 Atef Fahrudin

Membangun Model City Branding Dobo ... 219

1 Anwar Sani, 2 FX Ari Agung Prastowo

Tantangan Dan Peluang Dalam Penelitian Budaya Dan Komunikasi

Kontemporer ... 229 Rusdin

BAGIAN III

KOMUNIKASI KONTEMPORER DAN MEDIA ... 239 Yoga Arizona Sebagai Influencer Shopee Salah Satu Pilihan E-Commerce

Indonesia ... 240 Evi Novianti

Pemanfaatan Radio Komunitas Sebagai Media Literasi Kebencanaan ... 250 Dian Wardiana sjuchro

Budaya Komunikasi Komunitas Virtual Media Kampus (Studi Kasus Komunitas

Virtual Media Kampus @anak_unpad) ... 255 Rizki Montheza

(8)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

vii

Konstruksi Makna Rivalitas Supporter Bola Bagi Bobotoh Persib Di Kota

Bandung ... 267 Tryan Nugraha

Pewarisan Nilai Kehidupan Melalaui Komunikasi Ritual Pada Tradisi Budaya Maca

Sajarah Kacijulangan Di Desa Kondangjajar Kecamatan Cijulang Kabupaten

Pangandaran ... 279 Iriana Bakti

Pengalaman Mahasiswa Perantau Minang Unpad Dalam Menghadapi Stereotip

“Orang Minang Itu Pelit” ... 289 Andini Claudita

Penggunaan Instagram Sebagai Media Komunikasi Kegiatan Organisasi Intra

Sekolah Sman 1 Sumedang ... 315 Ajeng Inten Legi Novita Sarip

Hashtag Twitter Sebagai Budaya Populer Media Siber (Analisis Waca Kritis

Penggunaan #KoalisiPraBOHONG Oleh Akun Twitter @MemeTanpaHurufK Dalam Membongkar Fakta Dibalik Hoax Ratna Sarumpaet) ... 328

Moh Faidol Juddi

Pengelolaan Kecemasan Komunikasi Dan Konsep Diri Dalam Keberagaman

Budaya ... 342 Annisa Salsabila

Pengalaman Komunikasi Pengikut Akun Instagram @Kulinerbandung Sebagai

Media Informasi Wisata Kuliner Di Kota Bandung ... 361 Nadya Sabrina Rahmat

Menjaga Kearifan Lokal Tanaman Obat Nusantara Melalui Modernisasi Dan

Saintifikasi Jamu ... 370 Ragil Romly

“Ngopi” (Ditinjau dari Prespektif Budaya dan Komunikasi) ... 382 Mochamad Rival Purnama

(9)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

viii

Sistem Komunikasi Internal Pada Kegiatan Morning Briefing Di Hotel X Bandung .... 391

1 Kokom Komariah, 2 FX. Ari Agung Prastowo

Teknologi Komunikasi Informasi Dan Advertising “Pop-Up Youtube Meraih

Keuntungan” ... 402 Ute Lies S Khadijah

(10)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

1

BAGIAN I

(11)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

2

PROMOSI BUDAYA SUNDA DI MUSEUM SRI BADUGA

BANDUNG

Ute Lies Siti Khadijah

Program Studi Magister Pariwisata Berkelanjutan dan Ilmu Perpustakaan , Universitas Padjadjaran

E-mail: [email protected]

PENDAHULUAN

Pada saat ini pemasaran Museum dianggap dapat menjadi salah satu jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh Museum berkaitan dengan upaya membuka akses kepada masyarakat luas untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman di Museum, sekaligus memenuhi kebutuhan pengunjung. Strategi pemasaran sangat penting karena menjadi ujung tombak dari sebuah lembaga atau perusahaan khususnya di Museum, hal itu juga yang menentukan kemajuannya. Jika kita mempelajarinya, diharapkan kita bisa membuat sebuah Museum menjadi maju dan sukses dengan progres yang baik. Kita juga bisa menemukan cara-cara yang tepat dan pas dari produk yang hendak kita pasarkan dari Museum.

Pemasaran merupakan sarana yang ampuh untuk dapat menarik perhatian publik, termasuk dalam menggaet pengunjung untuk mengunjungi museum, bukan karena alasan profit semata, tetapi lebih kepada mengembalikan fungsi museum sebenarnya sebagai media transmisi pesan-pesan sejarah dan kebudayaan.Sehingga, museum saat ini dibuat lebih menarik supaya tidak terkesan konservatif.

Salah satunya adalah museum yang terdapat di daerah Kota Bandung yaitu Musem Sri Baduga. Museum ini terletak di jalan BKR nomor 185 Bandung yang juga berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan Api. Untuk dapat meningkatkan jumlah pengunjung, Museum Sri Baduga mengadakan banyak kegiatan untuk menarik minat masyarakat mengunjungi Museum Sri Baduga. Kegiatan – kegiatan Museum Sri Baduga. Museum Sri Baduga yang terletak di ruas Jalan B.K.R. 185 Tegallega dan berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan Api, dirintis sejak tahun 1974 dengan memanfaatkan lahan dan bangunan bekas kewedanaan Tegallega. Bangunan Museum berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung khas Jawa Barat yang

(12)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

3

dipadukan dengan gaya arsitektur modern; adapun bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang perkantoran. Tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun 1980, diresmikan pada tanggal 5 Juni oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daud Yusuf dan diberi nama Museum Negeri Propinsi Jawa Barat. Areal museum yang luasnya mencapai 8.415,5 m2 dibagi menjadi dua bagian; wilayah publik (public area), mencakup gedung pameran dan auditorium dan wilayah buka publik (non public area), mencakup ruang perkantoran Kepala Museum, Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja Bimbingan dan Edukasi, Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi serta Kelompok Kerja Koleksi (termasuk di dalamnya Gedung Penyimpanan Koleksi).

Sepuluh tahun kemudian, nama museum dilengkapi dengan nama Sri Baduga diambil dari nama raja Sunda yang bertahta di Pakwan Pajajaran sekitar abad ke-16 Masehi. Nama ini tertuang dalam prasasti Batutulis (Bogor) secara lengkap tertulis SRI BADUGA MAHARAJA RATU HAJI I PAKWAN PAJAJARAN SRI RATU DEWATA. Sebagai Museum umum yang memiliki koleksi dari jenis koleksi Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramik, Seni Rupa dan Teknologi ini, tercatat tidak kurang sebanyak 5.367 buah koleksi; terbanyak adalah koleksi rumpun Etnografika yang berhubungan dengan benda-benda budaya daerah. Jumlah koleksi tersebut tidak terbatas pada bentuk realia (asli), tapi dilengkapi dengan koleksi replika, miniatur, foto, dan maket. Benda-benda koleksi tersebut selain dipamerkan dalam pameran tetap, juga didokumentasikan dengan sistem komputerisasi dan disimpan di gudang penyimpanan koleksi.

Untuk lebih meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap museum, berbagai kegiatan telah dijalankan, baik yang bersifat kegiatan mandiri ataupun kerjasama kegiatan yang bersifat lintas sektoral dengan berbagai instansi pemerintah, swasta, maupun lembaga asing; diantaranya berupa penyelenggaraan pameran temporer, pameran keliling, pameran bersama dengan museum dari berbagai propinsi, berbagai macam lomba untuk tingkat pelajar, ceramah, seminar, lokakarya, dan sebagainya. Karena perkembangan peran dan fungsinya sebagai tempat atau wahana dalam menunjang pendidikan, menambah pengetahuan, dan rekreasi; Museum Negeri Sri Baduga Porpinsi Jawa Barat melaksanakan renovasi terhadap tata pameran tetapnya

(13)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

4

secara bertahap mulai tahun 1989 sampai dengan tahun 1992, berikut perluasan ruang pameran baru di lantai tiga.

Selanjutnya penyajian koleksi ditata sedemikian rupa dan diupayakan agar pengunjung dapat memperoleh gambaran tentang perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa barat, corak dan ragamnya, serta fase-fase perkembangan serta perubahannya. Pengelompokannya dibagi menjadi; lantai satu merupakan tampilan perkembangan awal dari sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Dalam tata pameran ini digambarkan sejarah alam yang melatarbelakangi sejarah Jawa Barat, antara lain dengan menampilkan benda-benda peninggalan buatan tangan dari masa Prasejarah hingga jaman Hindu-Buddha. Selanjutnya di lantai kedua meliputi materi pameran budaya tradisional berupa pola kehidupan masyarakat, mata pencaharian hidup, perdagangan, dan transportasi; pengaruh budaya Islam dan Eropa, sejarah perjuangan bangsa,dan lambang-lambang daerah kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Adapun lantai tiga, memamerkan koleksi etnografi berupa ragam bentuk dan fungsi wadah, kesenian, dan keramik asing.

Metode

HASIL DAN PEMBAHASAN

Melalui Manajemen Pemasaran Jasa, (Lupiyoadi dan Hamdani 2009, 71) menyatakan kegitan pemasaran jasa melalui kegiatan Bauran Pemasaran (Marketing Mix) yang merupakan alat yang terdiri dari beberapa unsur suatu proram pemasaran yang perlu dipertimbangkan agar implementasi strategi pemasaran dan positioning yang dditetapkan dapat berjalan sukses. Bauran pemasaran yang di bahas adalah bauran Pemasaran yang sesuai. Museum Sri Baduga Memiliki produk informasi yang berbentuk Pameran Tetap, Pameran Tematik, Pameran Keliling, Workshop, Seminar. Pihak Musem Sri Baduga dapat memilih bagaimana mereka akan menyajikan pameran tetapnya, setelah mengetahui apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan pengunjung. Walaupun bertindak sebagai fasilitator, pihak museum dapat menggunakan cara didaktik dalam penyajian pamerannya, seperti yang saat ini telah dilakukan. Metode didaktik ini menampilkan sajian yang tertata secara sistematis dan terstruktur.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pihak museum dalam metode penyajian pameran tetap mereka pertama adalah alur cerita yang disajikan harus jelas,

(14)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

5

sehingga pengunjung tahu arah pergerakan mereka setelah melihat satu sajian menuju sajian berikutnya, walaupun tanpa arahan dari pemandu. Koleksi yang ditampilkan juga harus benar-benar mewakili periode tertentu dari sejarah Jawa Barat. Contoh pameran Tetap yang ditawarkan oleh Museum Sri Baduga adalah memamerkan semua koleksi yang di miliki oleh Museum Sri Baduga.

Untuk kegiatan-kegiatan pameran Tematik Museum Sri Baduga diselenggarakan pada periode-peride atau pada moment-moment tertentu baik oleh museumnya sendiri maupun atas kerja sama dengan pihak lain, museum tematik yang di tawarkan oleh Museum Sri Baduga yang dilaksanakan pada tahun 2016 sampai 2017 seperti, Pameran Nasional Keragaman Alat Musik Nusantara di Museum Ronggo Warsito Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Pameran Kain Koleksi Museum dengan tema “Pesona Kain Tradisional Nusantara” di Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur, Museum Sri Baduga pun ikut serta dalam Pameran Usaha Jawa Barat yang laksanakan di Tahura Ir. H. Djuanda, Komplek Tahura H. Djuanda No.99 Bandung, Jawa barat, kemudian Museum ikut serta dengan menawarkan produknya pada Pameran Bandung Baheula di Festival Bandung Baheula di Kota Baru Parahyangan Kabupaten Bandung Barat, Pameran Pekan Kerajinan Jawa Barat Di Kota Bandung, Pameran HUT TMII, Museum Sri Baduga juga baru - baru ini telah melaksanakan Pameran Sejarah Jejak Juang Inggit Garnasih yang pada tahun – tahun sebelumnya pun sudah rutin dilaksankan dan kai ini yang bertepatan dengan Milangkala Inggit Garnasih yang ke 129 kegiatan tersebut dilaksanakan di Auditorium Museum Negeri Sri Baduga dan di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih pada 16 sampai 28 Februari 2017.

Museum Sri baduga pun melakukan Program Museum Masuk Sekolah dan Museum Keliling adalah contoh program edukasi yang dilakukan di luar museum. Untuk menjalankan program ini, museum menjalin kerja sama dengan pihak sekolah yang bersangkutan atau dengan instansi pemerintah. Jadi, tidak hanya lewat penyuluhan yang terkesan sangat formal, tetapi dengan membawa koleksi museum ke sekolah-sekolah, agar dapat digunakan sebagai bahan ajar oleh para guru di sekolah. Hal ini akan menjadikan museum lebih hidup, mereka tidak hanya menunggu masyarakat untuk datang berkunjung, tetapi mereka yang mendatangi masyarakat tersebut.

Museum menyadari bahwa kunjungan siswa sekolah ini merupakan jumlah kunjungan yang paling besar. Dengan demikian, ada baiknya jika pihak sekolah dapat

(15)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

6

memberitahukan terlebih dahulu kapan mereka akan mengunjungi museum. pihak museum membuat sebuah booklet atau brosur yang berisi penjelasan mengenai layanan apa saja yang dapat mereka sediakan bagi sekolah-sekolah tersebut. Museum Sri Baduga juga menawarkan produk workshop yang Seperti halnya program kunjungan sekolah, kegiatan seperti workshop dan diskusi ini merupakan program yang dilakukan di dalam museum. Sebelum museum mengadakan kegiatan seperti workshop atau diskusi, harus ditentukan terlebih tema dan sasaran atau target yang ingin dicapai, apakah untuk pengunjung umum, anak sekolah, atau untuk para guru.

Target dapat disesuaikan dengan tema yang akan diambil oleh museum, seperti workshop yang dilaksanakan pada tahun 2018 seperti Peragaan Permainan Anak Tradisional dalam Rangka Milangkala Museum Sri Baduga di Museum Sri Baduga, Wokshop Pembuatan Jamu dan Bedak Dingin “Wirausaha Berbasis Handmade” di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. Selain itu produk Museum Sri Baduga juga menawarkan Seminar yang pada tahun 2018 seperti, Seminar Museum di Era Digital dengan tema “Tantangan dan Peluang” yang dilaksanakan di Museum Negeri Sri Baduga

Layanan publik untuk pemasaran layanan museum di jawabarat, Museum Sri Baduga adalah museum provinsi umum yang memberikan layanan khusus yaitu pameran tetap berisikan tentang koleksi-koleksi yang ada di museum sri baduga yang berdasarkan sejarah alam dan budaya di Jawa Barat, kegiatan yang berkaitan dengan promosi selain pameran tetap ada pameran tematik, pameran yang hanya 1-3 bulan dan memiliki tema seperti tema raja pajajaran dari hulu k hilir, atau pameran kendi dari masa prasejarah, kolonial, kekinian. setiap sebulan sekali harus dilaksankan walaupun tidak didanai, dalam memasarkan museum kami juga melaksakan pameran keliling dilaksakan di luar kab. Kota dan mengajak museum – museum lain sebagai mitra untuk memasarkan museum. Kemudian kita juga melakukan penyuluhan dengan pameran kecil ke sekolah – sekolah untuk mempromosikan museum sri baduga dan mengundang mereka untuk datang ke museum

Museum Sri Baduga juga memiliki layanan – layanan pendukung lain dalam menunjang produk yang di tawarkan oleh Museum Sri Baduga berupa layanan informasi dan kunjungan, multimedia digital, dan Museum Night yang ditawarkan museum untuk para pengunjung yang kemalaman terutama ketika museum sedang mengadakan acara

(16)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

7

seminar atau pameran di Museum Sri Baduga. Layanan – layanan penunjang ini dimaksudkan agar setiap kegiatan pelayanan informasi bagi para pengunjung dapat terus dimaksimalkan dan dapat memberikan manfaat bagi para pengunjung. Sebagai sebuah lembaga informasi Museum Sri Baduga tidak hanya cukup menawarkan sumber – sumber informasi berupa koleksi saja, tapi dengan disediakannya layanan tambahan lainnya sebagai sebuah produk yang ditawarkan oleh Museum Sri Baduga. Diharapkan agar kebutuhan informasi dari setiap pemustaka dapat terus dipenuhi oleh Museum Sri Baduga.

Penyusunan rencana peningkatan promosi museum untuk layanan pemandu kami on time menyiapkannya bahkan untuk rombongan sekolah bertaraf internasional pun kami menyiapkan pemandu yang dapat membimbing mereka dengan edukasi berbahasa inggris sehingga mereka tidak kecewa, kami juga menyediakan multimedia digital yang berisi koleksi museum yang sudah di digitalisasikan, dan museum night yang kami buka setiap kami mengadakan acara seperti pameran atau seminar dan ada pengunjung yang kemalaman namun tidak setiap waktu ada museum nigth karena keterbatasan pegawai kami.

Produk merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan sejumlah nilai kepada pengunjung. Yang perlu diperhatikan dalam produk adalah bahwa konsumen tidak hanya membeli fisik dari produk itu saja tetapi membeli manfaat dan nilai produk tersebut yang disebut “the offer (Payne 2000, 71) terutama pada produk jasa yang kita kenal tidak menimbulkan beralihnya kepemilikan dari penyedia jasa kepada konsumen.

Menurut (Lupiyoadi 2009,71) produk dalam pembahasan produk jasa adalah total produk. Total produk tersebut adalah Produk Inti (core product) merupakan fungsi inti dari produk tersebut, Produk yang diharapkan (expected product), Produk Tambahan

(augmented product), Produk Potensial (Potential Product).

Dari keempat elemen produk diatas dapat kita simpulkan bahwa produk inti (core

product) merupakan produk jasa dasar yang ditawarkan oleh Museum Sri Baduga

kepada pengunjungnya adalah kelima macam produk yang ditawarkan yaitu : Pameran Tetap, Pameran Tematik, Pameran Keliling, Workshop, dan Seminar. Sedangkan

produk yang diharapkan (expected product) yang Museum Sri Baduga berikan kepada konsumen atau pengunjungnya adalah layanan informasi dan kunjungan, multimedia

(17)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

8

digital, dan Museum Night. Pada komponen produk yang diiharapkan ini, dimaksudkan agar setiap pengunjung yang datang ke Museum Sri Baduga tidak hanya mengharapkan kebutuhan akan informasi yang akan mereka butuhkan itu dapat mereka penuhi, namun kebutuhan pengunjung untuk layanan lainnhya yang dapat menunjang dari aktivitas pencarian informasi yang dilakukan dapat ditunjang dengan layanan lainnya yang dapat memberikan kepuasan akan pelayanan informasi dari produk inti yang Museum Sri Baduga terapkan.

Elemen produk total selanjutnya adalah produk tambahan (augmented product), dalam elemen produk tambahan yang dikembangkan oleh Museum sri Baduga dalam menunjang produk inti yang mereka miliki yaitu layanan pemandu wisata, dan layanan wifi gratis, dan dilengkapi lima unit multimedia digital, Kelima multimedia digital ini diisi 10 klasifikasi benda koleksi dari 6.943 kokeksi yang dimiliki Museum Sri Baduga.

Produk yang ditawarkan oleh lembaga non profit atau lembaga informasi itu ujung tombaknya adalah sebuah layanan karena lembaga informasi tugas pokoknya adalah public service yang bergerak dalam pelayanan informasi dalam hal ini adalah sebuah Museum Sri Baduga, berarti produk yang dihasilkan berupa koleksi-koleksi sejarah yang dibentuk kedalam wadah dan wadah itu bisa berbentuk pameran dan seminar dengan public service yang ramah juga dikemas secara menyenangkan agar tidak membosankan nanti kesannya.

Price (Harga)

Sebagai sebuah lembaga yang menawarkan jasa informasi kepada para konsumennya atau pengunjung, sebuah Museum lazimnya tidak mengenakan biaya namun Museum Sri Baduga harus tetap mematuhi peraturan daerah yang menetapkan harga tiket masuk museum sebesar Rp. 3000 untuk Dewasa dan Rp. 2000 untuk anak-anak. hal ini diungkapkan oleh pengunjung Museum Sri baduga. Namun Museum Sri Baduga sering menawarkan untuk mengunjungi sebuah pameran tematik secara gratis kepada lapisan masyarakat baik dalam kota Bandung maupun luar kota bahkan di luar provinsi, agar mengunjungi pameran yang meraka laksanakan

Strategi penentuan harga sangat signifikan dalam pemberian nilai kepada konsumen dan mempengaruhi citra produk serta kepuasan konsumen. Menurut (Rachmawati 2004, 43) mengenai pengertian harga dalam konteks pemasaran lembaga

(18)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

9

informasi yaitu penetapan biaya produksi dan harga pertukaran antara organisasi dengan konsumen atau pengunjung atas produk atau jasa yang diberikan. Dari pemaparan diatas dapat dilihat bahwa sebetulnya harga memilki pengaruh terhadap minat pengunjung. Hal ini berarti pengunjung dapat dibentuk melalui bauran pemasaran harga. Dimana apabila makin terjangkau apalagi tidak memungut biaya untuk menawarkan produk Museum maka dapat meningkatkan jumlah pengunjung Museum Sri Baduga.

Place (Tempat)

Letak sebuah Museum tentulah mempengaruhi akan tingkat kemudahan akses untuk para konsumen atau pengunjung untuk datang dan mengakses segala sumber informasi yang dimiliki oleh Museum Sri Baduga. Letak sebuah lembaga atau organisasi yang menawarkan produk jasa tidak terlepas dari keberadaan tempat organisasi tersebut melakukan kegiatan transaksi yang dilakukan antara pemberi jasa yaitu Museum Sri Baduga dan konsumen yaitu pengunjung. Seperti yang dilakukan oleh Museum Sri Baduga mereka mem amerkan koleksi museumnya di tempat lain. Pengenalan museum keliling untuk mempromosikan museum. Kami melakukan museum keliling ke sekolah-sekolah secara random. Kami mengunjungi sekolah yang ada di kota bandung atau kabupaten yang tidak pernah mengunjungi Museum Sri Baduga. Selain itu di Mall juga menjadi tempat pameran kami untuk promosi museum, kan orang tuh ke mall tuh kan lebih asik gitu ya jadi kita coba membuat pameran di mall apa mereka mau datang atau engga. kita upaya – upaya gitu kan ya karena kita berfikir bahwa orang ke museum tuh Cuma ada butuhnya saja, tidak ada niat pribadi ingin tahu atau ingin memberikan edukasi kelak kapada anak

Selain Museum Sri Baduga menyelenggrakan pameran sebagai promosi mereka di tampat Museum Sri Baduganya sendiri, mereka juga selalu ikut serta dalam pameran nasional atau mengikuti pameranpameran yang diselengarakan oleh berbagai provinsi. Pameran- pameran yang dilaksanakn oleh museum Sri Baduga adalah bagian dari promosi kami, selain kami melakukan pameran di Museum Sri Baduga seperti kemaren pameran Ibu Inggit Garnasih kami juga ikut serta dalam pameran-pameran yang dilaksanakan oleh pameran di luar provinsi jawa barat ya. Pemilihan lokasi atau tempat Museum dalam mempromosikan Museum Sri Baduga sudah bagus, karena mereka

(19)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

10

melakukan promosi di kota Bandungnya sendiri dan juga kabupaten yang ada di provinsi Jawa Barat, mereka juga mempromosikannya di luar Provinsi agar masyarakat yang mengenal Museum Sri Baduga menjadi lebih luas.

Promotion (Promosi)

Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting untuk dilakukan oleh sebuah perubahan atau organisasi dalam menjangkau target dari perusahaan atau organisasi yang mereka naungi. Kegiatan promosi yang dilakukan oleh Museum Sri Baduga dengan cara kegiatan langsung yang dilakukan oleh Museum Sri Baduga ataupun melalui media – media massa untuk menginformasikan kepada para target pengunjung dari kegiatan promosi yang dilakukan. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Dra. Tini Djumartini selaku kepala seksi pemanfaatan yang melaksanakan penyusunan rencana peningkatan promosi museum bahwa :

Sebagai layanan publik untuk layanan pemasaran museum kita harus melakukan promosi kepada warga jawabarat khususnya penduduk kota Bandung dan juga diluar kota Bandung mengenal museum Sri Baduga Banyak strategi yang dilakukan agar museum di kenal oleh masyarakat kota Bandung, Jawa Barat, luar Provinsi, dan juga Luar Negeri. Kegiatan yang berkaitan dengan promosi selain pameran tetap ada pameran tematik, Kemudian kita juga melakukan penyuluhan dengan pameran kecil ke sekolah – sekolah untuk mempromosikan museum Sri Baduga dan mengundang mereka untuk datang ke museum. Kita juga melakukan promosi di luar provinsi dan luar negeri namun untuk luar negeri harus menunggu undangan seperti dengan museum singapura dan melakukan promosi dengan malaysia di tahun yang akan datang. Museum Sri Baduga juga melakukan promosi melalui media elektronik dan cetak. Bentuk elektronik itu seperti website, blog dan kami juga mempromosikan kegiatan kami di tv lokal bandung juga tv non lokal seperti kompas tv lalu untuk cetak kami membuat leaflet, brosur yang ada di depan lobi masuk museum. Dari kegiata – kegiatan promosi yang dilakukan oleh sebuah organisasi atau instansi tentulah memiliki target dari kegiatan promosi tersebut. Begitupun dengan Museum Sri Baduga, namun target dari kegiatan promosi museum mencakup pelajar kota bandung dan kabupaten. Target market Museum Sri Baduga kebanyakan adalah kalangan pelajar di mulai dari PG TK, SD, SMP,

(20)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

11

SMA, SMK. Promosi yang dilakukan ke PG TK kami melakukannya masih dalah kontek eduksi permainan begitupun dengan SD. Menurut (Payne 2000, 188) promosi pada jasa mencakup sejumlah bidang utama, bidang ini dikenal dengan bauran komunikasi atau bauran promosi yaitu :

• Iklan (advertising)

• Penjualan Perorangan (personal selling) • Promosi Penjualan (sales promotion) • Hubungan Masyarakat (Public Relation)

• Informasi dari mulut ke mulut (word of mouth) • Surat Pemberitahuan langsung (direct mail)

Dari keenam point di atas dapat kita lihat bahwa kegiatan promosi yang di lakukan oleh Museum Sri Baduga melalui iklan (advertising) adalah dengan cara menggunakan Media Massa seperti televisi sebagai media dalam mempromosikan Museum Sri Baduga kepada konsumen atau masyarakat. Museum Sri baduga mengajak masyarakat untuk datang dan berkunjung ke Museum Sri Baduga untuk mengakses jasa layanan yang dimiliki oleh Museum Sri Baduga.

Selain itu Museum Sri Baduga memiliki alamat websites mereka di http://museumsribaduga.jabarprov.go.id/ melalui alamat web itulah salah satu alat untuk Museum Sri baduga memasang iklan mereka seperti agenda acara, berita tentang Museum Sri Baduga, layanan – layanan lainnya yang tersedia secara online bagi masyarakat, dan website museum dilengkapi dengan musik khas Museum Sri baduga ketika kita membuka atau mengakses website tersebut.

BIBLIOGRAPHY

Kotler, Philip,2009.Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Kontrol .Jakarta:Erlangga

Moleong, lexy J,2002 Metode penelitian Kualitatif.Bandung:Rosdakarya.

Rakhmat,Jalaludin,2001.Metode Penelitian Komunikasi.Bandung:Remaja Rosdakarya. Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Kuantitatif kuaitatif dan R&D. Bandung:Alfabeta. Tjiptono, F,2003. Strategi Pemasaran.Edisi 2.Jogjakarta:ANDI.

Alma,Buchari,2011.Manajemen Pemasaran dan pemasaran jasa. Bandung:Alfabeta Lupiyoadi, Rambat, 2013. Manajemen Pemasaran Jasa Edisi 3. Jakarta:Salemba Empat

Lupiyoadi, Rambat hamdani, 2009. Manajemen Pemasaran Jasa Edisi 2. Jakarta:Salemba Empat

(21)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

12

IMPLEMENTASI PERUBAHAN BUDAYA PERUSAHAAN PT.

BANK NEGARA INDONESIA (Persero) Tbk.

1 Susie Perbawasari 2 Aat Ruchiat Nugraha Universitas Padjadjaran

Email: 1[email protected], 2[email protected]

PENDAHULUAN

Dalam sebuah perusahaan pasti ada tahap pertumbuhan dan perubahan untuk menciptakan perusahaan yang lebih baik lagi dan mengikuti perkembangan zaman. Perubahan ini membantu para karyawan khususnya dalam upaya mempercepat visi, misi, dan tujuan perusahaan dalam rangka membentuk perilaku karyawan untuk dapat menciptakan nilai-nilai baru yang positif serta memperbaiki perilaku dan motivasi karyawan sehingga meningkatkan kinerjanya yang merupakan bagian dari suatu budaya organisasi, untuk itu diperlukan pemahaman mengenai budaya perusahaan oleh seluruh karyawan. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Perbawasari dan Setianti bahwa pemahaman yang baik oleh seluruh anggota perusahaan terhadap nilai budaya dapat membantu mereka dalam bertindak untuk membantu perusahaan mencapai tujuan serta membantu perusahaan dalam menciptakan identitas perusahaan, karena budaya merupakan cerminan dari tampilan perusahaan. (Perbawasari & Setianti, 2013) Budaya organisasi atau disebut dengan nilai-nilai perilaku seseorang yang tergabung dalam suatu organisasi yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian tujuan perusahaan secara baik, benar, dan menguntungkan berbagai pihak. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh (Yuningsih, 2004) yang menyatakan bahwa budaya organisasi adalah salah satu faktor yang perlu dibangun, dikembangkan, dipelihara dan disosialisasikan. Maka, dalam sebuah organisasi atau perusahaan, budaya organisasi merupakan pedoman bagi stakeholders untuk melakukan segala kegiatannya yang berhubungan dengan organisasi. BNI sebagai organisasi yang bergerak dibidang jasa keuangan dan perbankan nasional selalu siap menghadapi berbagai perubahan yang terjadi secara cepat akibat faktor teknologi informasi maupun faktor lainnya, termasuk perubahan dalam sistem tata kelola organisasi.

(22)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

13

Perubahan budaya organisasi ini terjadi juga pada Bank BNI, dengan cara berinovasi secara terus menerus agar para karyawan terus memiliki nilai-nilai budaya di dalam dirinya dan untuk menjadikan Bank BNI lebih terdepan dan maju kedepan seiring perkembangan zaman. Dengan beberapa kali mengalami perubahan tata kelola yang dapat mempengaruhi perjalanan bisnis suatu organisasi, BNI telah melakukan perubahan sebanyak 3 (tiga) kali. Jelasnya perubahan tata kelola organisasi dapat terlihat dari berubahnya logo BNI menjadi sebuah logo yang simpel, namun syarat makna. Logo merupakan bagian terpenting dari hasil perubahan budaya perusahaan yang merupakan bagian dari artifacts, yaitu wujud konkrit dalam suatu organisasi (Cummings dan Worley, dalam (Chatab, 2007). Sedangkan menurut Schein menyebutkan bahwa artifacts adalah menunjuk pada dimensi fisik yang terlihat seperti struktur organisasi, proses kerja, relasi, dan bangunan, ruang kerja, maupun benda-benda lainnya yang dianggap penting (Hardjana, 2010). Selain logo, artifacts yang mudah dikenal dari bangunan BNI adalah dominansi warna abu dan orange.

Adanya perubahan budaya organisasi di BNI telah menjadi latar belakang, keterampilan, tradisi, komunikasi dari proses keputusan, dan harapan yang dapat menjadi pengalaman bagi semua stakeholdersnya. Seiring berjalannya waktu, bergantinya kepemimpinan dan regulasi mengenai tata kelola perbangkan di era milineal, maka terjadi pula perubahan penerapan nilai-nilai budaya organisasi yang ada di BNI yang lebih menekankan pada aspek pelayanan yang sebelumnya fokus pada pengembangan produk. Beberapa tahun belakangan ini, BNI terus membenahi diri dan tetap mempunyai ambisi untuk menjadi lembaga perbankan nomor 1 (satu) di Indonesia. Dalam upaya mencapai target tersebut, BNI melakukan perubahan budaya organisasi tersebut yang diterapkan dalam kegiatan kerja sehari-hari oleh para pimpinan dan karyawan BNI secara terus menerus dan berkelanjutan. Yang dimana penerapan sebuah budaya organisasi secara singkat menurut (West & Turner, 2008) adalah esensi dari kehidupan suatu organisasi yang berupa simbol-simbol organisasi yang mencakup komunikasi verbal dan nonverbal organisasi.

Penerapan budaya organisasi yang terus berubah membutuhkan proses untuk dapat diterima dengan baik oleh semua elemen publik. Sebab biasanya dengan budaya organisasi yang lama publik sudah terlalu nyaman dan akan melahirkan suatu konflik dan antipati terhadap suatu perubahan. Tetapi, hal ini terus dialami oleh BNI dalam

(23)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

14

menghadapi perubahan dinamika lembaga keuangan untuk menjadi bank kebanggan nasional secara pelayanan yang optimal. Dengan adanya budaya organisasi yang lebih dikenal dengan istilah budaya perusahaan, memiliki komponen dasar yang membentuk keseluruhan organisasi seperti sistem imbal jasa, keputusan memperkerjakan, struktur manajemen, strategi pengembilan resiko dan kondisi fisik (Mitchell, 2001). Sehingga dalam beberapa tahun belakang ini pelayanan Bank BNI terhadap nasabahnya dirasakan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian dengan menggali secara mendasar mengenai budaya perusahaan yang terdapat dalam suatu organisasi. Dalam penelitian ini fokus utama yang dilihat adalah implementasi budaya perusahaan PT. Bank BNI pasca perubahan logo.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dimana bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali informasi sedalam mungkin pada latar yang alami sehingga data yang diperoleh benar-benar murni. Penelitian kualitatif ini secara spesifik diarahkan pada penggunaan metode studi kasus, dengan tujuan untuk mengungkap implementasi budaya organisasi pada Bank BNI yang didasari untuk mengetahui insight yang terjadi di dalam suatu organisasi.

Studi kasus menjadi metode yang digunakan peneliti, merupakan metode pengumpulan data secara komprehensif mengenai aspek individu, kelompok, organisasi atau program. Adapun kasus dalam penelitian ini adalah implementasi budaya organisasi yang telah berubah sebanyak 3 (tiga) kali. Subjek penelitian yang diteliti untuk menjadi pembahasan dalam penelitian adalah para karyawan serta jajaran manajemen Bank BNI, yang dilakukan dengan cara wawancara secara mendalam kepada informan mengenai bagaimana budaya organisasi yang mereka laksanakan selama ini. Teknik pemilihan informan dilakukan secara purposif. Teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat peneliti berdasarkan tujuan penelitian yang ingin didapatkan. Penelitian dengan teknik purposif digunakan untuk penelitian

(24)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

15

yang lebih mengutamakan kedalaman data daripada untuk tujuan representatif yang dapat digeneralisasikan (Kriyantono, 2012).

HASIL DAN PEMBAHASAN Profil BNI ‘46

Didirikan pada tanggal 5 Juli 1946, PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk atau BNI menjadi bank pertama milik negara yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia. Lahir pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, BNI sempat berfungsi sebagai bank sentral dan bank umum sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 2/1946, sebelum akhirnya beroperasi sebagai bank komersial sejak tahun 1955. Oeang Republik Indonesia atau ORI sebagai alat pembayaran resmi pertama yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia pada tanggal 30 Oktober 1946 dicetak dan diedarkan oleh Bank Negara Indonesia.

Menyusul penunjukan De Javache Bank yang merupakan warisan dari Pemerintah Belanda sebagai bank sentral pada tahun 1949, Pemerintah membatasi peran BNI sebagai bank sentral. BNI lalu ditetapkan sebagai bank pembangunan dan diberikan hak untuk bertindak sebagai bank devisa pada tahun 1950 dengan akses langsung untuk transaksi luar negeri. Kantor cabang BNI pertama di luar negeri dibuka di Singapura pada tahun 1955. Peranan BNI untuk mendukung perekonomian Indonesia semakin strategis dengan munculnya inisiatif untuk melayani seluruh lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke pada tahun 1960-an dengan memperkenalkan berbagai layanan perbankan seperti Bank Terapung, Bank Keliling, Bank Bocah dan Bank Sarinah.

Perubahan Logo Bank BNI

1946–1988 Lingkaran bulat berwarna merah dengan tulisan BNI 1946 sebagai pelambang keberanian serta semangat yang dinamis dan progresif.

(25)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

16

1988–2004 Perahu Berlayar Mengarungi Samudera menggarisbawahi peranan BNI dalam laju pembangunan sebuah negeri bahari dan tekad untuk mendunia dan menjawab tantangan globalisasi.

2004–sekarang Bank nasional yang modern dengan masa depan cerah, dan tetap berpijak pada warisan semangat ’46.

Dalam masa perjalanannya, BNI telah mereposisi identitas korporatnya untuk menyesuaikan dengan pasar keuangan yang dinamis. Identitas pertama sejak BNI berdiri berupa lingkaran warna merah dengan tulisan BNI 1946 berwarna emas melambangkan persatuan, keberanian, dan patriotisme yang memang merefleksikan semangat BNI sebagai bank perjuangan. Pada tahun 1988, identitas korporat berubah menjadi logo layar kapal & gelombang untuk merepresentasikan posisi BNI sebagai Bank Pemerintah Indonesia yang siap memasuki pasar keuangan dunia dengan memiliki kantor cabang di luar negeri. Gelombang mencerminkan gerak maju BNI yang dinamis sebagai bank komersial negara yang berorientasi pada pasar.

Setelah krisis keuangan melanda Asia tahun 1998 yang mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional, BNI melakukan program restrukturisasi termasuk diantaranya melakukan rebranding untuk membangun & memperkuat reputasi BNI. Identitas baru ini dengan menempatkan angka ‘46’ di depan kata ‘BNI’. Kata ‘BNI’ berwarna tosca yang mencerminkan kekuatan, keunikan, dan kekokohan. Sementara angka ‘46’ dalam kotak orange diletakkan secara diagonal untuk menggambarkan BNI baru yang modern.

Budaya Perusahaan BNI

Budaya perusahaan BNI diwujudkan dengan budaya kerja BNI yang disebut dengan "PRINSIP 46". Budaya kerja ini merupakan tuntunan perilaku bagi insan BNI yang terdiri atas Profesionalisme (Professionalism); Integritas (Integrity); Orientasi Pelanggan (Customer Orientation) dan Perbaikan Tiada Henti (Continuous Improvement). Sedangkan 6 Nilai Perilaku Utama Insan BNI lain nya adalah (1) Meningkatkan Kompetensi dan Memberikan Hasil Terbaik; (2) Jujur, Tulus dan Ikhlas; (3) Disiplin,

(26)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

17

Konsisten dan Bertanggungjawab; (4) Memberikan Layanan Terbaik Melalui Kemitraan yang Sinergis; (5) Senantiasa Melakukan Penyempurnaan; dan (6) Kreatif dan Inovatif. Implementasi Budaya Perusahaan

Implementasi budaya perusahaan dapat memberikan dampak pada kinerja dan produktivitas kerja suatu perusahaan. Hal ini dapat terwujud karena biasanya budaya perusahaan dapat membangun iklim kerja yang nyaman bagi perilaku pegawai. Hal ini menunjukkan bahwa suatu perusahaan akan mampu bersaing jika mampu membangun budaya perusahaan yang kokoh, sehingga mampu bertahan menghadapi segala bentuk persaingan. Bahkan dengan budaya perusahaan yang baik mampu menumbuhkembangkan perusahaan sesuai perkembangan jaman. Ini menjadi tantangan besar bagi suatu perusahaan untuk mampu bersaing dengan perusahaan lain (Sunuantari, 2012).

Beberapa program Bank BNI dalam rangka mendukung penerapan budaya perusahaan terbarunya antara lain Pertama, Program Pembelajaran. Pada tahun 2014, BNI mernbagi program pembelajaran yang terbagi dalam delapan akademi dan lima stream bisnis yang tergambar pada BN1 Learning Framework. Pelaksanaan program pembelajaran ini merupakan kebutuhan bagi setiap pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya dalam mencapai target dan tujuan perusahaan sekaligus mampu memberikan pengalaman bekerja terbaik. Selain program pembelajaran, BNI juga memiliki 42 program e-learning sebagai pelengkap pembelajaran. BNI juga melaksanakan program pembelajaran yang bersifat penyegaran bagi unit-unit yang menangani compliance, legal ataupun risiko. Program-program ini rutin diselenggarakan dengan tujuan meminimalisasi kesalahan, fraud, maupun kerugian. Program-program tersebut antara lain refreshing jurist, refreshing compliance officer clan refreshing auditor. BNI secara rutin menyelenggarakan seminar internal mengenai GCG dan Business Ethics yang diikuti oleh Dewan Komisaris, Direksi dan pejabat eksekutif BNI. Kedua, yaitu

Pengembangan Karier. Sebagai salah satu aset terpenting perusahaan, potensi pegawai

harus terus dikembangkan terutama pada career path mereka. Untuk mendukung ekspansi bisnis serta menjamin kelancaran proses bisnis secara berkelanjutan, BNI mempunyai sistem perencanaan dan pengembangan karier pegawai yang terintegrasi. Komponen penting dalam sistem ini adalah penetapan kriteria dan identifikasi sekumpulan pegawai dengan kinerja unggul yang masuk dalam kategori talent pool,

(27)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

18

yakni pegawai yang dinilai memiliki potensi untuk menjadi next leader BNI. Kemudian, para pegawai tersebut diikutsertakan dalam Leadership Development Program (LDP). Pada 2014, LDP dilaksanakan sebanyak 2 batch masing-masing LDP 1000 Batch 10 dan LDP TOP 1000 dengan total peserta mencapai 126 pegawai. Selain itu, BNI juga melaksanakan Individual Development Plan (IDP) yang memuat perencanaan karier dan pengembangan kompetensi pegawai. Hal ini dimaksudkan agar memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh pegawai. Masukan yang diperoleh dari IDP kemudian dituangkan dalam sebuah Learning Need Analysis (LNA) yang menjadi dasar panduan bagi para pemimpin unit dalam mengembangkan kompetensi pegawai yang berada di bawah tanggung jawabnya. BNI juga menerapkan Dual Career Path

Management (Dual CPM) yang memberikan kesempatan kepada pegawai untuk dapat

memilih jalur karier manajerial atau spesialis. Program ini merupakan program berkesinambungan dan dilakukan secara bertahap.

Kedua program diatas tersebut merupakan bagian dari kebijakan perusahaan yang sudah ditetapkan yang selanjutnya disampaikan ke generasi-generasi (karyawan perusahaan) berikutnya melalui pendidikan dan pelatihan sebagai upaya penanaman nilai-nilai perubahan budaya perusahaan. Untuk dapat mengimplementasikan perubahan budaya perusahaan berawal dari filosofi umum pendirian perusahaan, pemberian penjelasan proses pembentukan dan perubahan budaya perusahaan selama ini, dan memberikan informasi tentang peran budaya perusahaan bagi perkembangan lembaga keuangan BNI dengan segala anak perusahaannya.

Berdasarkan hasil temuan di lapangan yang mewawancarai ibu Retno selaku Kepala Cabang BNI KCP PT. INTI Bandung menyatakan bahwa selain program yang rutin dalam implementasi perubahan budaya perusahaan, BNI juga melakukan beberapa perubahan dalam hal, diantaranya: (1) Pemakaian Seragam. Mengenai macam seragam resmi Bank BNI yaitu dari senin sampai dengan rabu karyawan yang menjabat sebagai

teller dan customer service mengenakan seragam yang telah diatur oleh perusahaan.

Misal untuk yang berkerudung harus menggunakan celana panjang dan rapi dan yang tidak berkerudung ada ketentuan misalnya hari Senin menggunakan rok, hari Selasa celana panjang, Rabu kembali menggunakan rok. Sedangkan untuk pemakaian jas secara keseluruhan telah di tentukan dengan standardnya harus bersih, rapih, dan tidak kusam. Selanjutnya, pada hari Kamis pakai batik bebas dan seragma batik untuk laki-laki harus

(28)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

19

menggunakan lengan panjang. Sedangkan pada hari Jumat genap menggunakan Batik dan hari Jumat ganjil memakai pakaian casual. Penggunaan seragam bagi karyawan ini tergantung kebijakan pemimpin dan bersifat masih per-area. Tetapi untuk beberapa hari tertentu, seragam karyawan BNI memakai seragam yang sama, seperti memakai seragam yang ada logo BNI yang dimana warna abu dan orange yang menjadi dominan. Kedua warna ini menunjukkan supaya image-nya dipersespsi elegan.

Gambar 1. Seragam Terbaru BNI Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2018

Selanjutnya, (2) Tata Ruang Kerja. Untuk tata ruang kerja, BNI memberikan standar layoutnya, seperti warna kursi semua BNI sama pada setiap kantor cabang yaitu berwarna hijau tosca yang identitik dengan identitas perusahaan. Untuk yang (3) yaitu penggunaan simbol-simbol yang identik dengan Bank BNI seperti adaya perubahan logo, penanaman pola disipli dan peningkatan prestasi, dan slogan “Melayani Negeri Kebanggan Bangsa”, buku pedoman bagi karyawan.

Gambar 2. Tata Ruang Kantor Bank BNI Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2018

(29)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

20

Dalam rangka memperkuat dan melestarikan nilai-nilai budaya perusahaan Bank BNI ke para karyawannya yaitu melakukan adanya pelatihan yang bersifat wajib selama minimal dua minggu sampai satu bulan. Yang dimana disampaikan infomasi mengenai aturan, budaya, visi dan misi yang harus dilaksanakan ketika sudah menjadi karyawan. Selain itu, perusahaan Bank BNI melakukan sosialisasi mengenai budaya, visi dan misi dalam sebuah kegiatan yang bernama “Bulan Mutu” yaitu suatu waktu pendidikan dan pelatihan bagi karyawan untuk meningkatkan secara kualitas.

Gambar 3. Dominansi Warna di Kantor Bank BNI Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2018

SIMPULAN

BNI 46 merupakan bank pertama yang lahir setelah kemerdekaan Indonesia. BNI 46 berdiri sejak tahun 1946 dan sempat befungsi sebagai bank sentral di Indonesia. BNI telah berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia dengan mengeluarkan berbagai macam layanan perbankan seperti Bank Terapung, Bank Keliling, Bank Bocah dan Bank Sarinah.Itu merupakan peran BNI dalam mendukung perekonomian Indonesia untuk melayani seluruh lapisan masyarakat dari Sabang sampai Merauke.

Selama 71 tahun berdirinya perusahaan ini, BNI telah mengganti logo perusahaannya sebanyak 2 kali. Pertama pada tahun 1988, dan yang kedua pada tahun 2004. Penggantian logo perusahaan ini sekaligus sebagai rebranding BNI dalam rangka penyesuaian dengan pasar keuangan yang dinamis terutama di era modern ini. Pemilihan lambang, warna huruf, dan penempatan posisi pada logo dimaksudkan agar

(30)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

21

memberi kesan segar serta membangun & memperkuat posisi BNI dalam dunia perbankan Indonesia.

BNI juga mempunyai 4 nilai budaya kerja yang senantiasa diterapkan oleh seluruh karyawannya, yaitu profesionalisme, integritas, orientasi pelanggan, dan perbaikan tiada henti. Kesemua nilai budaya tersebut juga didukung dengan 6 perilaku utama insan BNI demi terwujudnya visi sekaligus tujuan utama BNI yaitu “Menjadi Lembaga Keuangan yang Unggul dalam Layanan dan Kinerja”.

Perusahaan ini juga memerhatikan kesejahteraan karyawannya dengan cara melaksanakan berbagai macam program retensi pegawai yang bertujuan untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan talenta-talenta terbaik diperusahaan tersebut. Salah satu caranya dengan melakukan pelatihan selama minimal 2 minggu hingga sebulan. Proram ini dimaksudkan agar para calon karyawan BNI mengerti tentang budaya perusahaan yang ada di perusahaan tersebut sehingga mampu dan siap mengimplementasikannya disaat melayani stakeholders utamanya yaitu nasabah.

BIBLIOGRAPHY

Chatab, N. (2007). Profil Budaya Organisasi. Bandung: Alfabeta.

Hardjana, A. (2010). Sosialisasi dan Dampak Budaya Organisasi. Jurnal ILMU KOMUNIKASI,

7(1), 1–40.

Kriyantono, R. (2012). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media. Mitchell, C. (2001). Memahami Budaya Bisnis Internasional: Membangun Bisnis Internasional

Melalui Kesadaran Budaya. Jakarta: Penerbit PPM.

Perbawasari, S., & Setianti, Y. (2013). Komunikasi dalam Transformasi Budaya Perusahaan.

Jurnal Penelitian Komunikasi, 16(022), 1–12.

Sunuantari, M. (2012). PENERAPAN BUDAYA PERUSAHAAN DALAM PEMBENTUKAN CITRA PERUSAHAAN JASA PERHOTELAN. Jurnal Communication Spectrum, 2(1), 43–62. West, R., & Turner, H. L. (2008). Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi. Jakarta:

Salemba Humanika.

Yuningsih, A. (2004). Membangun dan Menyosialisasikan Budaya Organisasi sebagai Keunggulan Kompetitif. MediaTor, 5(1), 111–123.

(31)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

22

BUDAYA PERUSAHAAN PT. HOLCIM INDONESIA

1 Susie Perbawasari 2 Aat Ruchiat Nugraha Universitas Padjadjaran

E-mail: 1[email protected], 2[email protected]

PENDAHULUAN

Budaya perusahaan adalah suatu nilai-nilai yang menjadi pedoman sumber daya manusia untuk menghadapi permasalahan eksternal dan penyesuaian integrasi ke dalam perusahaan, sehingga masing-masing anggota organisasi harus memahami nilai-nilai yang ada dan bagaimana mereka harus bertindak atau berperilaku. Budaya organisasi mencakup iklim atau atmosfer emosional dan psikologis. Hal ini mungkin mencakup semangat kerja karyawan, sikap, dan tingkat produktivitas. Budaya organisasi juga mencakup simbol (tindakan, rutinitas, percakapan, dan sebagainya) dan makna-makna yang dilekatkan orang pada simbol- simbol ini.

Transformasi budaya perusahaan adalah sebuah proses perubahan budaya perusahaan yang mendasar untuk menuju pada tingkatan kemajuan perusahaan yang berbeda. Perubahan ini tentunya akan berimplikasi pada perubahan karakter dan sedikit atau hampir, tidak ada kemiripan dengan konfigurasi budaya perusahaan masa lalu, atau masa kini. Transformasi budaya perusahaan biasanya, didorong oleh adanya kesadaran/kebutuhan internal untuk merespon situasi yang berubah baik internal maupun eksternal. Transformasi budaya selalu dimulai dari transformasional individual dari setiap pemimpin perusahaan, perusahaan tidak bertransformasi, maka karyawanlah yang bertransformasi.

Menurut Robbins (2003: 305) budaya organisasi merupakan sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi lain. Sistem makna bersama ini, bila diamati dengan lebih seksama, merupakan seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh suatu organisasi. Budaya organisasi berkaitan dengan bagaimana karyawan mempersepsikan karakteristik dari suatu budaya organisasi, bukan dengan apakah para karyawan menyukai budaya atau tidak. Edy Sutrisno (2010: 2), mendefinisikan budaya organisasi

(32)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

23

sebagai perangkat sistem nilai- nilai (values), keyakinan-keyakinan (beliefs), asumsi-asumsi (assumptions), atau norma- norma yang telah lama berlaku, disepakati dan diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah- masalah organisasinya. Budaya organisasi juga disebut budaya perusahaan, yaitu seperangkat nilai- nilai atau norma-norma yang telah relatif lama berlakunya, dianut bersama oleh para anggota organisasi (karyawan) sebagai norma perilaku dalam menyelesaikan masalah - masalah organisasi (perusahaan).

Semua perusahaan telah memiliki rencana strategis jangka panjang perusahaan, rencana jangka panjang perusahaan tersebut pada dasarnya mengarahkan pada perubahan dari kondisi saat ini sampai kondisi yang diinginkan. Maksud dan tujuan dari sebuah transformasi budaya perusahaan adalah agar perusahaan mampu melakukan strategi transformasi budaya perusahaan selaras dengan visi, misi, dan value perusahaan serta rencana jangka panjang perusahaan. Begitu juga dengan perusahaan semen Holcim yang terus menerus memperbaharui budaya perusahaan yang diterapkan. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana transformasi budaya perusahaan yang terjadi di PT Holcim Cibinong.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, yang menurut (Kuntoro, 2009: 227) peneliti berupaya untuk memahami perilaku dan kelembagaan dengan cara mengetahui secara baik sejumlah orang yang terlibat, nilai, ritual, simbol, dan kepercayaan mereka. Penelitian kualitatif pada hakekatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya dengan cara turun ke lapangan dan berada di tempat penelitian dalam kurun waktu tertentu (Nasution, 1996: 5).

HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Perusahaan

Holcim Indonesia merupakan produsen semen, beton jadi dan agregat terkemuka serta terintegrasi dengan keunikan dan perluasan usaha waralaba yang menawarkan solusi menyeluruh untuk pembangunan rumah, dari penyediaan bahan

(33)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

24

material sampai rancangan yang cepat serta konstruksi yang aman. PT Holcim Indonesia Tbk adalah sebuah perusahaan produsen semen. Perusahaan yang dulunya dikenal dengan nama PT Semen Cibinong Tbk ini didirikan sejak tanggal 15 juni 1971. Perubahan nama ini terjadi pada tanggal 1 Januari 2006. Tujuan dari perubahan nama itu karena perseroan berkeinginan untuk memberitahukan bahwa perseroan adalah bagian dari grup internasional, yaitu Holcim Ltd. Selain nama, Semen Cibinong juga akan mengganti logo perusahaannya.Saat ini Holcim Participations (Mauritius) melalui Holderfin B.V. Perusahaan asal Swiss ini baru masuk secara resmi ke Semen Cibinong pada 13 Desember 2001. Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Holcim Indonesia Tbk adalah Holderfin B.V., The Netherlands (induk usaha). Perusahaan ini dimiliki oleh Holcim Ltd (Swiss) sebesar 77,33% dan publik sebesar 22,7%. Perusahaan juga memiliki anak perusahaan PT Holcim Beton yang sebelumnya bernama PT Trumix Beton. Perusahaan memiliki dua pabrik yaitu pabrik Narogong dan pabrik Cilacap dengan kapasitas maksimum 7,9 juta ton per tahun dan kini sedang membangun fasilitas produksi ke-3 di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas tahunan 3,4 juta ton yang direncanakan mulai berjalan pada tahun 2013. Perusahaan juga mengoperasikan banyak batching plant beton, dua tambang dan jaringan logistik lengkap yang mencakup pula gudang dan silo. Produknya dijual di 9.000 toko bangunan di seluruh Indonesia.

Perusahaan yang berkantor pusat di l. Gatot Subroto No. 38, Jakarta, Indonesia ini merupakan satu-satunya produsen yang menyediakan produk dan layanan terintegrasi yang meliputi 10 jenis semen, beton dan agregat, bahkan kini sedang mengembangkan usaha waralaba yang unik, yakni Solusi Rumah, yang menawarkan solusi perbaikan dan pembangunan rumah dengan biaya terjangkau dengan dukungan lebih dari 14.700 ahli bangunan binaan Holcim, waralaba yang hingga 2012 telah mencapai 433 gerai, dan staf penjualan via telepon yang jumlahnya terus bertambah. Perusahaan yang memiliki visi untuk menyediakan solusi berkelanjutan untuk membangun masa depan masyarakat Indonesia ini memiliki misi untuk membangun perusahaan yang memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dengan menyediakan solusi pembangunan sesuai prinsip berkelanjutan bagi setiap segmen pelanggan tertentu, memperhatikan keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan, dan membina kemampuan sumber daya manusia, berinovasi dan membangun jaringan yang kuat. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan SMCB terutama

(34)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

25

meliputi pengoperasian pabrik semen, beton dan aktivitas lain yang berhubungan dengan industri semen, serta melakukan investasi pada perusahaan lainnya. Pangsa pasar utama Holcim dan anak usahanya yang di Indonesia berada di Pulau Jawa. Sebagai bagian dari LafargeHolcim Group yang beroperasi di lebih dari 90 negara di seluruh dunia dengan pengalaman lebih dari 180 tahun, Holcim Indonesia memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang terdepan dengan kinerja terbaik dalam industri bahan bangunan di Indonesia. Holcim Indonesia melangkah untuk memenuhi kebutuhan pembangunan di Indonesia dengan kapasitas produksi 15 juta ton semen per tahun. Kehadiran Holcim di Indonesia ditandai dengan beroperasinya empat pabrik di Lhoknga – Aceh, Narogong – Jawa Barat, Cilacap – Jawa Tengah dan Tuban – Jawa Timur. Kegiatan produksi kami juga ditunjang dengan adanya fasilitas penggilingan & terminal distribusi yang tersebar hingga ke Kalimantan dan Sumatra.

Dalam pelaksanaan suatu organisasi selalu memiliki sebuah budaya organisasi mempunyai beberapa ciri sifat sebagai berikut:

a. Budaya itu bersifat dinamis, maka pemimpin (dan pelaku bisnis) wajib memperbaharui serta mengembangkannya sesuai dengan tuntutan dan perubahan b. Budaya itu bisa terbentuk secara sengaja maupun tidak, maka kita bisa membangun

dan mengembangkan budaya yang kita inginkan atau harapkan

c. Budaya itu pada tingkat implementasinya, membutuhkan komitmen total dari pihak top management.

Untuk memlengkapi sifat budaya organisasi akan diperkuat dengan fungsi budaya organisasi antara lain sebagai pedoman untuk mengontrol perilaku anggota organisasi, budaya organsiasi memiliki manfaat dan fungsi yang berguna bagi organisasi. Dari sisi fungsi, budaya organisasi mempunyai beberapa fungsi. Fungsi budaya organisasi menurut Robbins (2009: 248) adalah sebagai berikut:

1. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain;

2. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota- anggota organisasi;

3. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang;

4. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar- standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan;

5. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.

Untuk mengetahui kesiapan suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan ekonomi yang semakin bebas, ada beberapa hal yang dapat dijadikan rujukan untuk

(35)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

26

mengetahui karakteristik perusahaan. Menurut Kreitner dan Kinicki (2001) dalam Wibowo (2010: 30) mengemukakan adanya 3 (tiga) tipe umum budaya organisasi antara lain:

a. Budaya konstruktif (constructive culture) merupakan budaya di mana pekerja didorong untuk berinteraksi dengan orang lain dan bekerja pada tugas dan proyek dengan cara yang akan membantu mereka dalam memuaskan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang.

b. Budaya pasif-defensif (passive-defensive culture) mempunyai karakteristik menolak keyakinan bahwa pekerja harus berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang tidak menantang keamanan mereka sendiri.

c. Budaya agresif-defensif (aggressive-defensive culture) mendorong pekerja mendekati tugas dengan cara memaksa dengan maksud melindungi status dan keamanan kerja mereka.

Transformasi Budaya Perusahaan

PT Holcim Cibinong yang merupakan sub-unit dari Lafarge Holcim Indonesia memilik sejumlah perubahan di dalam perusahaannya atau yang sering disebut sebagai Transformasi. Transformasi yang diterapkan merupakan bentuk peningkatan kualitas dari PT Holcim ini. Berawal dari PT Semen Cibinong Tbk, yang kemudian diakuisisi oleh LafargeHolcim Group yang kemudian perusahaan ini berganti nama menjadi PT Holcim. Sebanyak 80,65% kepemilikan saham dimiliki oleh PT Holcim dan sisanya adalah publik. Semen Cibinong awalnya merupakan kepemilikan swasta asing ke swasta nasional dan menjadi kepemilikan Lafarge Holcim karena terjadinya krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997, itu semua dilakukan karena beberapa faktor meliputi:

1. Semakin meningkatnya persaingan antar sesama perusahaan semen 2. Perkembangan jaman dan teknologi yang semakin maju dan modern. 3. Peningkatan pasaran di asia dan eropa.

Transformasi adalah sebuah proses perubahan secara berangsur-angsur sehingga sampai pada tahap ultimate, perubahan yang dilakukan dengan cara memberi respon terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya melalui proses menggandakan secara berulang-ulang atau melipatgandakan. Transformasi juga pasti membutuhkan suatu proses. Zaeny menggambarkan suatu proses transformasi dengan tiga unsur. Unsur-unsur tersebut meliputi:

(36)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

27

b. Konsep ciri atau identitas yang merupakan acuan di dalam suatu proses transformatif kalau dikatakan sesuatu itu berbeda, maka haruslah jelas perbedaan dari hal apa, ciri sosial, ekonomi atau ciri penerapan dari sesuatu;

c. Proses transformasi selalu bersifat historis yang terikat pada sekalian wakil yang berbeda. Oleh karena itu transformasi selalu menyangkut perubahan masyarakat dari suatu masyarakat lebih sederhana ke masyarakat yang lebih modern.

Proses transformasi merupakan perubahan yang terjadi secara perlahan-lahan atau sedikit demi sedikit, tidak dapat diduga kapan dimulainya dan sampai kapan proses itu akan berakhir tergantung dari faktor yang mempengaruhinya, komprehensif dan berkesinambungan dan perubahan yang terjadi mempunyai keterkaitan erat dengan emosional (sistem nilai) yang ada dalam masyarakat. Proses transformasi mengandung dimensi waktu dan perubahan sosial budaya masyarakat yang menempati yang muncul melalui proses yang panjang yang selalu terkait dengan aktivitas-aktivitas yang terjadi pada saat itu.

Budaya perusahaan sejatinya bukan merupakan sebuah warisan, melainkan sebuah pilihan. Sebuah budaya pada dasarnya harus diajarkan, dipelajari, dikembangkan, disosialisasikan, diinternalisasikan, serta dijadikan pedoman melalui nilai-nilai yang ada. Proses transformasi budaya merupakan sesuatu yang layak ditempatkan pada prioritas utama kegiatan kepemimpinan dan manajemen. Menurut Harianto Mangkusasono, seorang pakar senior budaya perusahaan, tujuan dari pembangunan dan transformasi sebuah budaya adalah sebagai berikut :

a. Menarik, mengembangkan, mempertahankan, serta memperstukan orang-orang terbaik dalam organisasi;

b. Membuat organisasi atau perusahaan menjadi tempat terbaik untuk bekerja, serta menjadi perusahaan terbaik dalam hal berhubungan atau membangun relasi;

c. Membangun institusi terbaik dengan kinerja terbaik dan terhebat pula.

Supaya transformasi budaya tidak menimbulkan keguncangan dalam tubuh organisasi atau gangguan kerja, tetapi justru menghasilkan sesuatu yang positif dan produktif bagi organisasi, diberikan beberapa syarat, antara lain :

a. Manajemen puncak dan BoD harus siap dan berani menghadapi kenyataan yang terjadi;

b. Manajemen puncak dan BoD harus memiliki komitmen bulat dalam memberikan segenap energi yang diperlukan;

c. Manajemen puncak dan BoD harus memiliki kesediaan mengalokasikan sumberdaya yang diperlukan;

d. Manajemen puncak dan BoD wajib menjadi model, patron, teladan perilaku yang diharapkan;

(37)

KOMUNIKASI BUDAYA DAN DOKUMENTASI KONTEMPORER

28

e. Manajemen puncak dan BoD harus bersedia menjadi pengawal atau pendorong utama proses transformasi budaya.

Akibat dari transformasi perusahaan ini sampai dengan Lafarge Holcim mengakibatkan budaya yang lama pun hilang dengan sendirinya dan karyawan-karyawan yang sudah tua dan lama bekerjanya dipensiunkan dini dengan tujuan menyaring pegawai yang gesit dan cekatan dan mampu menyesuaikan dengan jaman yang semakin modern. Banyak perubahan atau transformasi yang terjadi di dalam perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi semen ini. Adapun perubahan-perubahan yang terjadi antara lain sebagai berikut:

NO ASPEK BUDAYA

PERUSAHAAN SEMEN CIBINONG HOLCIM

A BUDAYA NAMPAK

1 Seragam Seragam sopan berwarna

gelap Seragam sopan berwarna cerah (jingga dan abu-abu)

2 Simbol/Logo Berlogokan pedang

pusaka Sunda yaitu Kujang

Berlogokan lingkaran dan terdapat huruf “H” disebelah kanan atas terdapat kata “Holcim” dibawah logonya 3 Tata Ruang Masih sederhana Modern dan terlihat

kompleks B BUDAYA TIDAK NAMPAK

1 Keyakinan Diri Pegawai Sederhana, biasanya yang terpikirkan hanya “bekerja”

Mindset yang harus mengikuti budaya perusahaan yan modern, meningkat dan menjunjung tinggi kedisplinan sehingga menuntut keyakinan diri karyawan masing-masing

2 Disiplin Aturan yang diberlakukan masih sederhana, belum memiliki kedisiplinan yang ketat Aturan yang diberlakukan sudah sangat ketat, kedisplinan pegawai karyawan sangat dijunjung C NILAI BUDAYA

1 Perilaku pegawai Karyawan yang sederhana dan sangat

Mengenal sesama karyawan dan atasan serta sirkulasi

Gambar

Gambar 2. Tata Ruang Kantor Bank BNI  Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2018
Gambar 3. Dominansi Warna di Kantor Bank BNI  Sumber: Dokumentasi Penelitian, 2018
Tabel sisi positif dan negatif dari usaha Pemimpin dalam membina hubungan baik  dengan karyawan  dan memotivasi para karyawan
Tabel 1. Penduduk Desa Jatiroke Menurut Umur Tahun 2015
+4

Referensi

Dokumen terkait

Bila etnografi menyimak dan mendeksripsikan fenomena sosial, budaya, interaksi, maupun struktur masyarakat yang terjadi secara faktual, entografi virtual melakukan

Pola Komunikasi dalam Pelestarian Adat dan Budaya di Desa Bayan Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat di Desa Bayan telah melakukan kegiatan adat atau

Keragaman etnis di kota Semarang menjadikan umat muslim yang merupakan golongan masyarakat mayoritas, melakukan suatu praktek- praktek ibadah yang telah mengalami pencampuran

Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Bagaimana Komunikasi Internal Antara Kuncen Dengan Masyarakat Adat Pada Aktivitas Pelestarian