• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5. PEMBAHASAN

5.1. Kinerja Dukun Bayi dalam Pertolongan Persalinan

Sampai saat ini dukun bayi masih mempunyai peranan yang penting dalam menolong persalinan terutama di daerah perdesaan. Sudah menjadi pengetahuan umum banyaknya ibu memilih bersalin dengan dukun bayi karena faktor ekonomi, kurangnya pendidikan, ketersediaan tenaga kesehatan yang masih kurang, jauhnya jarak ke pelayanan kesehatan. Namun demikian, hal yang tidak kalah penting banyaknya ibu yang bersalin dengan dukun bayi juga karena dukun bayi telah praktik memelihara kesehatan ibu dan anak sejak sebelum tenaga kesehatan formal datang serta memulai praktiknya di perdesaan. Adanya dukun bayi sejak tenaga kesehatan formal belum praktik di desa membuat mereka menjadi lebih dipercaya sehingga dukun bayi memiliki posisi sebagai bagian integral dari sistem kesehatan primer serta berperan sebagai kepanjangan tangan sistem kesehatan ibu dan anak.

Dukun bayi merupakan bagian yang cukup besar pengaruhnya dalam menentukan status kesehatan ibu dan bayi di Indonesia, karena kelahiran bayi (pertolongan persalinan) sebagian masih dibantu oleh dukun bayi terutama di daerah pedesaan. Umumnya dukun bayi yang menolong persalinan hanya dibekali oleh keterampilan berdasarkan faktor keturunan yang tidak ditunjang dengan keterampilan medis terutama untuk menangani kasus-kasus patologis. Dukun bayi, biasanya tidak memiliki pendidikan formal yang baik; ia belajar melalui pengalaman dan melalui

observasi dari dukun bayi yang lebih senior, mungkin ibunya, neneknya, saudaranya, atau tetangga yang biasa membantu perempuan dalam kehamilannya, melahirkan dan pasca melahirkan. Untuk meningkatkan kemampuan dukun bayi di Indonesia, pemerintah telah menyelenggarakan pelatihan bagi dukun bayi agar mampu melakukan pertolongan persalinan dengan teknik sederhana.

Dalam upaya pertolongan persalinan, dukun bayi dituntut memiliki kinerja yang baik, melakukan pertolongan persalinan dengan teknik-teknik sederhana sesuai prosedur yang telah dipelajarinya ketika mengikuti pelatihan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa sebagian besar kinerja dukun bayi dengan kategori baik sebanyak (65,4%), selebihnya dengan kategori kurang baik (34,6%). Jika dilihat persentase tersebut maka dukun bayi dengan kinerja baik masih di bawah 70%. Hal ini dikhawatirkan dapat berpengaruh terhadap angka kesakitan, kecacatan, dan angka kematian pada ibu bersalin maupun bayi yang dilahirkannya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Sambas (2010) di Kecamatan Karangtengah Kabupaten Cianjur Jawa Barat mendapatkan hasil bahwa kinerja dukun bayi terlatih sebagian besar tergolong baik (61,97%), selebihnya dalam kategori kurang baik (38,03%). Sebagian besar penduduk di kecamatan Karangtengah masih memanfaatkan dukun bayi khususnya yang terlatih dalam pertolongan persalinan. Program KIA memberikan perhatian besar terhadap keberadaan dukun bayi untuk dibina sesuai dengan prinsip kesehatan, sehingga faktor resiko terhadap timbulnya masalah kesehatan pada ibu dan bayi dapat ditekan sekecil mungkin.

Menurut Ilyas (2001), kinerja adalah penampilan hasil kerja personal baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi dan merupakan penampilan individu maupun kelompok kerja personal. Sementara Fishbien dalam Widodo (2010) mengemukakan bahwa kinerja seseorang adalah penampilan (Performance) atau perilaku seseorang dalam menjalankan pekerjaan. Performance dan perilaku adalah sesuatu yang terbentuk karena ditanamkan oleh orang lain, lingkungan, kondisi sosial budaya, atau dipelajari secara sengaja oleh orang yang bersangkutan.

Model teori kinerja menurut Gibson (1987) terdiri dari variabel individu (kemampuan dan keterampilan, latar belakang dan demografis, yaitu umur, jenis kelamin, status pernikahan, tempat tinggal, dan masa kerja), variabel organisasi (sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan), dan variabel psikologis (persepsi, sikap, kepribadian, belajar, dan motivasi). Sedangkan Stoner (1994), mengatakan bahwa kinerja individu dipengaruhi oleh motivasi, pengetahuan, dan persepsi. Kinerja dukun bayi terlatih merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang dukun bayi terlatih dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawabnya sebagai dukun bayi yang diminta masyarakat khususnya ibu hamil, bersalin, nifas, dan perawatan bayi baru lahir yang diukur berdasarkan materi pelatihan yang pernah diikutinya.

Dalam penelitian ini, peneliti juga menanyakan 5 pertanyaan terbuka kepada 10 dukun bayi tentang kinerjanya dalam pertolongan persalinan meliputi persiapan alat-alat yang diajarkan dalam pelatihan, melakukan pemotongan tali pusat, tugas dukun bayi setelah ibu bersalin sampai masa nifas, perlunya melakukan rujukan, dan

tanggapan dukun bayi tentang imbalan yang diperoleh dari membantu pertolongan persalinan.

Tanggapan dukun bayi untuk pertanyaan tentang menyiapkan semua alat-alat yang diajarkan dalam pelatihan. Dukun bayi yang menyatakan alat-alat yang harus disiapkan dalam pertolongan persalinan sesuai yang diajarkan dalam pelatihan seperti gunting, alkohol; kapas, perban, betadin, benang, celemek, dan sarung tangan; Sedangkan dukun bayi yang menyatakan tidak perlu menyiapkan semuanya, menyatakan bahwa dukun bayi tersebut hanya menyiapkan gunting, kain basah dan lap. Ada juga yang menyatakan bahwa cukup hanya memakai pisau lipat dan air serta kain lap untuk membersihkan darahnya. Dari jawaban tersebut terlihat bahwa sebagian dukun bayi mengikuti apa yang diajarkan dalam pelatihan yaitu menyiapkan alat-alat pertolongan persalinan ‘dukun kit’, sementara sebagian yang lain hanya menyiapkan alat seadanya seperti gunting, atau perban yang ada saja.

Tanggapan dukun bayi tentang pemotongan tali pusat, sebagian dukun bayi menyatakan bahwa mereka memotong tali pusat dengan gunting yang sudah steril, diikat dengan benang 3 x, diberi betadin dan diikat agar tidak berdarah lagi. Sementara masih ada dukun bayi yang tidak menggunakan teknik yang diajarkan pada saat pelatihan, mereka memotong tali pusat dengan gunting, dibersihkan dengan lap dan air lalu diperban saja. Ada juga yang menyatakan tali pusat cukup dipotong dengan pisau lipat, ditaruh kain dan dibersihkan darahnya.

Tanggapan dukun bayi tentang tugas-tugas yang harus dilakukan dukun bayi setelah bersalin sampai nifas, mereka menjawab memandikan bayi, kusuk ibu, kusuk

bayi, kasih jamu untuk ibu. Ada juga yang menyatakan sunat bayi, cukur rambut bayi, pijat ibu dan bayi. Untuk tugas-tugas dukun bayi, hampir seluruhnya melakukan tugas yang sama yaitu memijat ibu dan bayi, memandikan bayi, mencukur rambut bayi, membuat jamu untuk ibu, sunat pada bayi perempuan.

Tanggapan dukun bayi tentang rujukan pada ibu bersalin dan bayi, mereka menyatakan bahwa dukun bayi akan melakukan rujukan ke bidan desa / poskesdes di desa terdekat, misalnya jika ibu bersalin mengalami perdarahan. Beberapa dukun bayi belum pernah melakukan rujukan, karena selama ini menangani pertolongan persalinan ibu bersalin tidak pernah mengalami masalah seperti perdarahan. Tetapi ada juga dukun bayi yang tidak melakukan rujukan jika ibu mengalami perdarahan karena dukun bayi tersebut akan membantu ibu dengan memberi jamu-jamuan, ikut mendoakan ibu, mudah-mudahan darah berhenti. Ada juga yang tidak melakukan rujukan karena dukun bayi tersebut akan melakukan persalinan semampu dan sebisanya.

Tanggapan dukun bayi tentang imbalan yang diperoleh dalam membantu pertolongan persalinan, beberapa dukun bayi menyatakan membantu pertolongan persalinan karena ikhlas, biasanya cukup dikasih uang sukarela berkisar antara Rp.5.000.- sampai Rp.10.000.- atau antara Rp.10.000.- sampai Rp.15.000.- karena orang di desa tersebut tidak mampu membayar mahal. Ada juga yang menyatakan bahwa setiap menolong persalinan mereka hanya diberi hasil panen kebun seperti beras, ubi, dan sayur-sayuran. Beberapa dukun bayi menyatakan kadang diberi telur, ayam. Jika dilihat dari kebutuhan sehari-hari dukun bayi tersebut dan dibandingkan

dengan pertolongan persalinan yang dilakukannya memang menurut mereka imbalan yang diterima tidak sebanding, namun niat menolong dan rasa kebersamaan sebagai warga desa membuat mereka tidak mempermasalahkan apakah mereka akan mendapat imbalan dari hasil pertolongan tersebut atau tidak.

Berdasarkan analisis multivariat bahwa yang menjadi kandidat model dalam regresi logistik ganda adalah variabel pengetahuan, sikap, dan motivasi. Dari ketiga variabel tersebut yang berpengaruh signifikan hanya variabel motivasi. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi dukun bayi dalam membantu pertolongan persalinan akan meningkatkan kinerja mereka untuk melakukan pertolongan persalinan sesuai dengan apa yang telah dipelajarinya ketika mengikuti pelatihan.

5.2. Pengaruh Pengetahuan terhadap Kinerja Dukun Bayi Terlatih dalam

Dokumen terkait