D. Manfaat Penelitian
3. Kinerja Guru i. Definisi Kinerja
Dalam bahasa Inggris istilah kinerja adalah performance. Performance merupakan kata benda. Salah satu entry-nya adalah “thing done” (sesuatu hasil yang telah dikerjakan). Jadi arti performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika.
Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, evaluasi
kinerja guru adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karir, kepangkatan, dan jabatannya.
Robert Bacal (2005:3) “mengemukakan bahwa”, kinerja adalah proses komunikasi yang berlangsung terus menerus, yang dilaksanakan kemitraan, antara seorang guru dan siswa dengan terjadinya proses komunikasi yang baik antar kepala sekolah dengan guru, dan guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dapat mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru, dan ini merupakan suatu sistem kinerja yang memberi nilai tambah bagi sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas siswa dalam belajar.
Hasibuan (2003:34) “berpendapat bahwa “ Kinerja sebagai suatu hasil kerja yang dicapai seorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu
Imran (2010:23) “mendefinisikan bahwa “ Guru adalah jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus dalam tugas seperti mendidik, mengajar, mengarhakan melatih dan mengevaluasi siswa.
Dengan demikian kinerja guru adalah persepsi guru terhadap prestasi kerja guru yang berkaitan dengan kualitas kerja, tanggung jawab, kejujuran, kerjasama, dan prakarsa.
Sementara itu, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Profesionalisme guru ditandai dengan keahlian dibidang pendidikan. Undang- Undang No 14 tahun 2005 pasal 20, tugas atau kewajiban guru, antara lain :
1) Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. 2) Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan
kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
3) Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis, agama, atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran.
4) Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika.
5) Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa Kompetensi guru di Indonesia telah pula dikembangkan oleh proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada dasarnya kompetensi guru menurut P3G bertolak dari analisis tugas-tugas seorang guru, baik sebagai pengajar, pembimbing, maupun sebagai administrator kelas. Ada sepuluh kompetensi guru menurut P3G, yakni :
1. Menguasai bahan,
2. Mengelola program belajar mengajar, 3. Mengelola kelas,
4. Menggunakan media/sumber belajar, 5. Menguasai landasan pendidikan, 6. Mengelola interaksi belajar mengajar, 7. Menilai prestasi belajar,
8. Mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan, 9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, dan 10. Memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan
pengajaran. (Depdikbud, 2004).
ii. Penilaian Kinerja
Kinerja mempunyai hubungan erat dengan produktivitas karena merupakan indikator dalam menentukan usaha untuk mencapai tingkat produktivitas organisasi yang tinggi. Untuk mengetahui apakah tugas, tanggung jawab dan wewenang guru sudah dilaksanakan atau belum maka perlu adanya penilaian objektif terhadap kinerja. Penilaian pelaksanaan pekerjaan ini adalah suatu proses yang dipergunakan oleh organisasi untuk menilai pelaksanaan pekerjaan pegawai. Sehubungan dengan hal tersebut, maka upaya mengadakan penilaian terhadap kinerja organisasi merupakan hal yang penting. Berbicara tentang kinerja guru erat kaitannya dengan standar kinerja yang dijadikan ukuran dalam mengadakan pertanggungjawaban. Penilaian kinerja bermanfaat untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan organisasi sesuai dengan standar yang dilakukan dan sekaligus sebagai umpan balik bagi pekerja sendiri untuk dapat mengetahui kelemahan,
kekurangannya sehingga dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kinerjanya.
Menilai kinerja guru adalah suatu proses menentukan tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugas pokok mengajar dengan menggunakan patokan-patokan tertentu. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran, yang dilihat dari penampilannya dalam melakukan suatu proses mengajar. Diknas sampai sekarang belum melakukan perubahan yang mendasar tentang kinerja guru, dan secara garis besar. Masih mengacu pada rumusan 12 kompetensi dasar yang harus dimiliki guru yaitu : (1) menyusun rencana pembelajaran, (2) melaksanakan pembelajaran, (3) menilai prestasi belajar, (4) melaksanakan tindak lanjut penilaian prestasi belajar peserta didik, (5) memahami landasan kependidikan, (6) memahami kebijakan pendidikan, (7) memahami tingkat perkembangan siswa, (8) memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajaran, (9) menerapkan bekerja sama dalam pekerjaan, (10) memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan, (11) menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran, dan (12) meningkatkan profesi (Depdikdub, 2004:7) Kedua belas kompetensi inilah yang dapat dilihat melalui alat penilaian kemampuan guru (APKG) Aspek-aspek APKG secara umum dapat dikelompokkan tiga kemampuan, yaitu : (1) Kemampuan Guru dalam membuat perencanaan pembelajaran, (2) Kemampuan guru
dalam mengajar dikelas, (3) Kemampuan guru dalam mengadakan hubungan antar pribadi. Sudjana (2002:17) kinerja guru dapat dilihat dari kompetensinya melaksanakan tugas-tugas guru, yaitu :
1) Merencanakan proses belajar mengajar,
2) Melaksanakan dan mengelola proses belajar mengajar, 3) Menilai kemajuan proses belajar mengajar dan,
4) Menguasai bahan pelajaran.
iii. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru
Robert L. Jackson (2001:82) “menyatakan bahwa”, banyak faktor yang mempengaruhi kinerja dari individu tenaga kerja, antara lain : 1). Kemanpuan, 2) motivasi, 3) dukungan yang diterima, 4) keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan 5) hubungan mereka dengan organisasi.
Gibson, et al (2006 : 89) “menyatakan bahwa” ada tiga perangkat variabel yang mempengaruhi perilaku dan prestasi kerja atau kinerja, yaitu :
1) Variabel invidual meliputi kemampuan dan keterampilan (mental dan fisik), latar belakang, ( keluarga, tingkat sosial, penggajian) dan demografis (umur, asal-usul, jenis kelamin).
2) Variabel organisasional meliputi sumber daya, kepemimpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan.
3) Variabel Psikologis meliputi persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi.
Ketiga variabel tersebut berhubungan satu sama lain dan saling pengaruh-mempengaruhi. Gabungan variabel individu, organisasi, dan psikologis sangat menentukan bagaimana seseorang mengaktualisasikan diri
Vitayala (2007: 155) ”mengemukakan bahwa”, kinerja merupakan suatu kontruksi multi dimensi yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya, faktor tersebut adalah :
a) Faktor Personal/individual, meliputi unsur pengetahuan, keterampilan(skill), kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, dan komitmen yang dimiliki tiap individu guru.
b) Faktor kepemimpinan, meliputi aspek kualitas manajer dan team leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan kerja pada guru.
c) Faktor tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekam dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan, dan keeratan anggota lain.
d) Faktor system, meliputi system kerja, fasilitas kerja yang diberikan oleh pimpinan sekolah, proses organisasi dan kultur kerja dalam organisasi(sekolah).
e) Faktor konsektual (situasional), meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.
Dari paparan diatas dapat dilihat bahwa banyak faktor dan variabel yang mempengaruhi kinerja guru. Faktor-faktor tersebut bisa
berasal dari dalam diri, dan juga dapat berasal dari luar atau faktor situsional. Disamping itu, kinerja dipengaruhi oleh motivasi dan kemampuan individu.
iv. Standar Beban Kinerja Guru
Standar beban kinerja guru mengacu pada Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Dalam pasal 35 disebutkan bahwa beban kerja guru mencakup kegiatan pokok, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, serta melaksanakan tugas tambahan. Berikut ini uraian tugas guru :
1. Merencanakan Pembelajaran
Tugas guru yang pertama ialah merencanakan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran harus dibuat sebaik mungkin karena perencanaan yang baik akan membawa yang baik hasil pula. Guru (Ditjen PMPTK,2008: 4) “wajib membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada awal tahun atau semester sesuai dengan rencana kerja sekolah”.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai suatu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. 2. Melaksanakan Pembelajaran
(Ditjen PMPTK, 2008: 4-5). “Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan ketika terjadi interkasi edukatif antara peserta didik dengan guru”.
Kegiatan pembelajaran dikelas adalah inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai oleh adanya kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan simber belajar, dan penggunaan metode strategi pembelajaran (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008:23). Dalam pengelolaan kelas guru harus mampu menciptakan suasana kondusif yang menyenangkan agar pembelajaran dapat berlangsung lancar. Guru dapat memberlakukan kegiatan piket kebersihan, melakukan presesi setiap memulai pelajaran, dan mengatur tempat duduk secara bergiliran.
Selain mengelola kelas, guru juga menggunakan media dan sumber belajar. Dalam menggunakan media guru dapat memanfaatkan media yang sudah ada (by utilization) atau sengaja mendesain terlebih dahulu (by design). Media pembelajaran dipilih yang paling sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan yang paling tepat mendukung isi pembelajaran. Selain itu, media juga sebaiknya praktis, luwes dan bertahan lama. Sementara dalam menggunakan sumber belajar, guru dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar yang terpercaya untuk memperluas pengetahuanya. Tidak boleh hanya terpacu pada satu sumber saja. Berbagai sumber belajar dapat dihimpun menjadi satu dalam bentuk modul belajar.
Kemampuan selanjutnya adalah penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan metode yang akan disampaikan. Setiap metode memiliki kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu, guru diharapkan cakap dalam menggunakan berbagai variasi metode agar siswa tetap semangat untuk belajar. Penggunaan metode yang monoton cenderung membuat siswa jenuh sehingga materi pelajaran tidak terserap dengan baik oleh siswa.
3. Menilai Hasil Pembelajaran
Tugas guru yang ke tiga adalah menilai hasil pembelajaran. (Ditjen PMPTK, 2008:5) menilai hasil pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna untuk menilai peserta didik maupun dalam pengambilan keputusan lainnya.
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai hasil belajar siswa, yaitu melalui Penilaian Acuan Normatif (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP). PAN adalah cara penilaian yang tidak selalu bergantung pada jumlah soal yang diberikan atau penilaian yang dimaksudkan untuk mengetahui kedudukan hasil belajar yang dicapai berdasarkan norma kelas. Selain itu, PAP adalah cara penilaian dimana nilai yang diperoleh siswa tergantung pada seberapa jauh tujuan yang tercermin pada soal-soal tes yang
dikuasai siswa. Nilai tertinggi adalah nilai berdasarkan jumlah soal tes yang dijawab dengan benar oleh siswa.
4. Melakukan Tugas Tambahan
Kemudian tugas guru yang keempat adalah melaksanakan tugas tambahan yang diberikan kepadanya. Tugas-tugas tambahan guru dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu tugas struktual dan tugas khusus. Tugas struktual adalah tugas tambahan berdasarkan jabatan dan struktur organisasi sekolah. Sementara tugas khusus adalah tugas tambahan yang bertugas untuk menangani masalah sekolah.
v. Definisi dari Tugas Utama Seorang Guru
Para pakar pendidikan di Barat telah melakukan penelitian tentang peran guru yang harus dilakoni. Peran guru adalah sebagai berikut :
1. Mendidik
Ahmadi (1986:90) “ mendefinisikan bahwa”, Mendidik adalah membantu anak dalam mencapai kedewasaan. Mendidik adalah proses membuat tunas berkembang baik dan menjadi besar. Karena mengawali pendidikan anak dengan proses yang benar adalah awal perjalanan. Awal yang baik pendidikan dini adalah setengah dari perjalanan hidup anak dimasa depan. Mendidik adalah mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi, dst) orang lain untuk melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi
dirinya dan orang lain (lingkungan). 2. Mengajar
Usman ( 1994: 3) “mengemukakan bahwa”, mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pelajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Tardif (dalam Adrian 2004) mendefinisikan, mengajar adalah any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the leaner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal pendidik) dengan tujuan membantu dan memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar.
Zamroni (2000:74) “mengemukakan bahwa”, mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya.
3. Membimbing
Dri Atmaka “ mengemukakan bahwa”, Membimbing jika ditinjau dari segi sisi, maka membimbing berkaitan dengan norma dan tata tertib. Dilihat dari segi prosesnya, maka mendidik dapat
dilakukan dengan menyampaikan atau mentransfer bahan ajar yang berupa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan menggunakan strategi dan metode mengajar yang sesuai dengan perbedaan individual masing-masing siswa. Lalu kalau dilihat dari strategi dan metode yang digunakan, maka membimbing lebih berupa pemberian motivasi dan pembinaan.
4. Mengarahkan
E. Mulyasa(2003:53) “berpendapat bahwa”, Mengarahkan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh instruktur atau pembina atau guru kepada peserta didik agar dapat mengikuti apa yang kita perintahkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
5. Melatih
Ahamdi (1977: 109) “berpendapat bahwa”, Melatih bila ditinjau dari segi isi adalah berupa keterampilan atau kecakapan hidup (life skills). Bila ditinjau dari segi prosesnya, maka melatih dilakukan dengan menjadi contoh (role model) dan teladan dalam hal moral dan kepribadian. Sedangkan bila ditinjau dari strategi dan metode yang dapat digunakan, yaitu melalui praktik, kerja, simulasi, dan magang.
6. Menilai
(BSNP 2007: 9), penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara
sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Jadi penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memperoleh informasi untuk dijadikan sebagai pengambil keputusan tentang hasil belajar peserta didik.
Nana Sudjana (1995: 3) “menyatakan bahwa” penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan judgment interpretasi dan judgment merupakan tema penilaian yang mengaplikasikan adanya suatu perbandingan antara kriteria dan kenyataan dalam konteks situasi tertentu.
Jadi menilai adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran.
7. Mengevaluasi
Evaluasi yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Evaluation adalah proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan program telah dicapai (Ground;1985).
Evaluasi juga dapat diartikan sebagai proses menilai suatu berdasarkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan atas obyek yang
di evaluasi. Sebagai contoh evaluasi proyek, kriterianya adalah tujuan dari penggunaan proyek tersebut, apakah tercapai atau tidak, apakah sesuai dengan rencana atau tidak, jika tidak mengapa terjadi demikian, dan langkah-langkah apa yang ditempuh selanjutnya. Hasil dari kegiatan evaluasi adalah bersifat kualitatif. Sudjono (1996) “mengemukakan bahwa”, evaluasi pada dasarnya adalah merupakan penafsiran atau interpretasi yang bersumber pada data kuantitatif sedang data kualitatif merupakan hasil pengukuran.
Suharsimi A.(2004) “berpendapat bahwa” evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
Sedangkan Suke Silverius (1999:39) “berpendapat bahwa”, evaluasi hasil belajar dan umpan balik menjelaskan batasan istilah lain dari evaluasi yakni :
a. Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan (Stufflenbeam).
b. Penentuan kesesuaian antara penampilan (untuk kerja) dan tujuan.
c. Pertimbangan professional atau suatu proses yang memungkinkan seseorang membuat perimbangan tentang daya tarik atau nilai sesuatu.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif- alternatif keputusan. Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa Cronbach (1985:45) “menyatakan bahwa”, evaluasi merupakan pemeriksaan yang sistematis terhadap segala peristiwa yang terjadi sebagai akibat dilaksanakannya suatu program.
vi. Profesonaliusme Guru
Guru merupakan profesi yang sangat mulia. Karena, guru bertugas mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kualitas manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab.
Agar dapat melaksanakan tugas mulia itu, guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Dari keempat kompetensi tersebut, kompetensi kepribadian sebagai ruh bagi guru dalam menjalankan tugas mulia. a. Kompetensi Pedagogik
pembelajaran peserta didik. Kompetensi Pedagogik merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan guru dengan profesi lainnya dan akan menentukan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran peserta didiknya.
b. Profesionalisme
Profesionalisme merupakan suatu sikap yang harus dikembangkan para pekerja saat berada di lingkup perusahaan. Setiap orang bisa memiliki berbagai macam karakter yang berbeda. Tapi dalam hal ini setiap sikap dan karakter harus dapat ditempatkan di porsi yang tepat dan sesuai. Misal, sikap seorang ayah di rumah dan di kantor tentu harus berbeda. Bila di rumah dapat mempunyai watak yang tegas tapi lembut dan penyayang, maka di kantor sikap yang harus dibawa jauh lebih professional. c. Kepribadian
Sebagai seorang guru sangat penting memiliki sikap yang dapat mempribadi sehingga dapat dibedakan ia dengan guru yang lain. Memang, kepribadian menurut Zakiah Darajat disebut sebagai sesuatu yang abstrak, sukar dilihat secara nyata, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan, dan atau ucapan ketika menghadapi suatu persoalan, atau melalui atasannya saja. Ruang lingkup kompetensi guru tidak lepas dari falsafat hidup, nilai-berkembang, di tempat seorang guru berada,tetapi beberapa hal yang bersifat universal yang mesti dimiliki oleh guru dalam
menjalankan fungsinya sebagai makhluk individu atau pribadi yang menunjang terhadap keberhasilan tugas pendidikan yang diembannya.
Kemampuan pribadi guru menurut Sanusi (dalam Djam’an:2007) mencakup hal-hal berikut:
1) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya.
2) Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh guru.
Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya. Kepribadian mencakup semua unsur, baik fisik maupun psikis. Sehingga dapat diketahui bahwa setiap tindakan dan tingkah laku seseorang merupakan cerminan dari kepribadian seseorang, selama hal tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran. Setiap perkataan, tindakan, dan tingkah laku positif akan meningkatkan citra diri dan kepribadian seseorang. Begitu naik kepribadian seseorang maka akan naik pula wibawa orang tersebut.
d. Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif
dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.