• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Teoritis 1 Stres Kerja

2.1.2 Kinerja Karyawan

Menurut Sulistiyani (2003 : 223), kinerja merupakan kombinasi dari

kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerja seseorang.

Sedangkan pengertian kinerja menurut Bernardin dan Russel (Sulistiyani, 2003 :

223-224), kinerja merupakan catatan outcome yang dihasilkan dari fungsi pegawai

tertentu atau kegiatan yang dilakukan selama periode waktu tertentu.

Lawler and Poter (dalam Moh As’ad, 2003) menyatakan bahwa kinerja

adalah "succesfull role achievement" yang diperoleh seseorang dari perbuatan-

perbuatannya.

Kinerja adalah hasil-hasil fungsi pekerjaan/kegiatan seseorang atau

kelompok dalam suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk

mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu (Tika, 2006).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil kerja

karyawan selama periode waktu tertentu untuk memenuhi tujuan yang telah

a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja

Menurut Mathis dan Jackson (2001 : 82) ada beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi kinerja karyawan, yaitu:

1. Kemampuan karyawan

2. Motivasi,

3. Dukungan yang diterima,

4. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan

5. Hubungan mereka dengan organisasi.

b. Penilaian Kinerja

Menurut Mulyadi dan Setiawan (2001 : 227), penilaian kerja adalah

penentuan secara periodik efektivitas operasional organisasi, bagian organisasi,

dan karyawannya berdasarkan standar, sasaran dan kriteria yang telah ditetapkan

sebelumnya.

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian kinerja

merupakan sebuah sistem untuk mengukur hasil kerja karyawan secara berkala

untuk mendapatkan umpan balik yang bersifat konstruktif yang dibutuhkan

organisasi dalam mencapai tujuannya.

c. Kriteria Sistem Pengukuran Kinerja

Hingga saat ini belum ada kesepakatan diantara para ahli mengenai

karakteristik pengukuran kinerja. Namun sebagai pembanding, terdapat beberapa

karakteristik pengukuran kerja menurut ahli:

Menurut Cascio (2003: 336-337), kriteria sistem pengukuran kinerja adalah

1. Relevan (relevance), dimana terdapat kaitan yang erat antara standar untuk

pekerjaan tertentu dengan tujuan organisasi, dan terdapat keterkaitan yang

jelas antara elemen-elemen kritis suatu pekerjaan yang telah diidentifikasi

melalui analisis jabatan dengan dimensi-dimensi yang akan dinilai dalam

form penilaian.

2. Sensitivitas (sensitivity), yaitu adanya kemampuan sistem penilaian kinerja

dalam membedakan pegawai yang efektif dan pegawai yang tidak efektif.

3. Reliabilitas (reliability), yang berarti konsistensi penilaian. Artinya

sekalipun instrumen tersebut digunakan oleh dua orang yang berbeda

dalam menilai seorang karyawan, hasil penilaiannya akan cenderung sama.

4. Akseptabilitas (acceptability), yang artinya pengukuran kinerja yang

dirancang dapat diterima oleh pihak-pihak yang menggunakannya.

5. Praktis (practicality), yang berarti instrumen penilaian yang disepakati

mudah dimengerti oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses penilaian

tersebut.

Dalam sebuah organisasi, penilaian kinerja merupakan hal yang penting

dalam pengelolaan karyawan. Oleh sebab itu organisasi harus mampu menetapkan

sistem penilaian kinerja sedemikian rupa agar dapat mendeteksi kinerja

karyawannya, apakah telah memenuhi harapan atau karyawan belum mampu

mencapai kinerja yang diharapkan.

d. Tujuan Penilaian Kinerja

Alwi ( 2001 : 187 ) menyimpulkan secara teoritis tujuan penilaian kinerja

evaluatif (evaluation) dan penilaian kinerja yang bersifat membangun

(development)

Penilaian kinerja yang bersifat evaluatif memiliki hasil sebagai berikut:

1. Hasil penilaian digunakan sebagai dasar pemberian kompensasi.

2. Hasil penilaian digunakan sebagai staffing decision.

3. Hasil penilaian digunakan sebagai dasar meengevaluasi sistem seleksi.

Sedangkan tujuan penilaian kinerja yang bersifat membangun memiliki

hasil sebagai berikut:

1. Organisasi dapat mendeteksi prestasi riil yang dicapai karyawan.

2. Organisasi dapat mengidentifikasi kelemahan-kelemahan karyawan

yang menghambat kinerja.

3. Organisasi dapat mengidentifikasi prestasi-prestasi yang

dikembangkan demi tercapainya tujuan organisasi.

e. Manfaat Penilaian Kinerja

Manfaat penilaian kinerja yang dilakukan secara tepat menurut Mulyadi dan

Setiawan (2001 : 416) adalah:

1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien dengan memotivasi

karyawan.

2. Membantu pengambilan keputusan yang berkaitan dengan karyawan,

misalnya kompensasi, promosi, transfer atau pemberhentian.

3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan

4. Memberikan umpan balik kepada karyawan mengenai cara atasan dalam

menilai kinerja mereka.

5. Menyediakan dasar bagi distribusi penghargaan, baik berupa penghargaan

ekstrinsik maupun intrinsik.

2.1.3 Motivasi

Motivasi menurut Robbins (2008 : 222) adalah suatu proses yang

menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan.

Tiga elemen utama dalam motivasi adalah intensitas, arah, dan ketekunan.

Intensitas yang berhubungan dengan seberapa besar usaha seseorang, tidak akan

mendapatkan hasil kerja yang diharapkan kecuali dikaitkan dengan arah yang

telah ditetapkan organisasi. Dimensi ketekunan merujuk pada berapa lama

seseorang bisa mempertahankan usahanya.

Berdasarkan para ahli, motivasi juga bisa didefinisikan sebagai alasan

yang mendasari perbuatan seorang individu, walaupun beberapa orang

mengartikan motivasi sebagai semangat yang dimiliki oleh seorang individu

dalam mencapai tujuannya.

a. Teori-teori Motivasi

Teori dan pendapat ahli mengenai motivasi hingga saat ini sudah sangat

banyak, namun berikut adalah teori motivasi yang menjadi dasar berkembangnya

teori-teori yang ada saat ini dan masih digunakan dalam menjelaskan motivasi

1. Teori Abraham Maslow

Dalam teori yang terkenal dengan nama Teori Hierarki Kebutuhan ini,

Abraham Maslow membuat hipotesis bahwa dalam diri setiap manusia

terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu:

a. Fisiologis: meliputi rasa haus, lapar, berlindung, dan kebutuhan fisik

lainnya.

b. Rasa aman: meliputi rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan

emosional.

c. Sosial: meliputi kebutuhan akan kasih sayang, penerimaan,

persahabatan, dan kepemilikan.

d. Penghargaan: meliputi faktor penghargaan internal seperti otonomi,

hormat diri, pencapaian; dan faktor penghargaan eksternal seperti

pengakuan, status dan perhatian.

e. Aktualisasi diri: dorongan untuk menjadi seseorang sesuai

kecakapannya, yang meliputi pertumbuhan, pencapaian potensi dan

pemenuhan diri sendiri.

2. Teori Douglas McGregor

McGregor menyatakan dua pandangan nyata mengenai manusia:

pandangan pertama pada dasarnya negatif, disebut Teori X, dan yang

kedua pada dasarnya positif, disebut Teori Y.

Menurut Teori X, asumsi yang dimiliki oleh manajer adalah:

a. Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa

b. Karena tidak menyukai pekerjaannya, karyawan harus dipaksa,

dikendalikan, dan diancam dengan hukuman agar dapat mencapai

tujuan.

c. Karyawan akan menghindari tanggung jawab dan mencari perintah

formal bila memungkinkan.

d. Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain

terkait pekerjaan dan hanya menunjukkan sedikit ambisi.

Bertentangan dengan pandangan negatif mengenai sifat manusia pada

Teori X, McGregor menyebutkan empat asumsi positif yang disebut Teori

Y:

a. Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan.

b. Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai

berbagai tujuan.

c. Karyawan bersedia belajar untuk menerima, bahkan mencari, tanggung

jawab.

d. Karyawan mampu membuat keputusan inovatif yang diedarkan ke

seluruh populasi, bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi

manajemen.

3. Teori Frederick Herzberg

Teori yang dinamakan Teori Dua Faktor ini merupakan teori yang

mengubungkan faktor-faktor intrinsik dengan kepuasan kerja, sementara

Faktor-faktor intrinsik yang dapat mendorong kepuasan kerja, yaitu

kemajuan, pengakuan, tanggung jawab, dan pencapaian. Sementara itu,

faktor-faktor ekstrinsik yang mengakibatkan ketidakpuasan kerja misalnya

pengawasan, imbalan kerja, kebijaksanaan organisasi dan kondisi kerja.

4. Teori David McClelland

Teori kebutuhan McClelland menyatakan bahwa pencapaian, kekuatan,

dan hubungan adalah tiga kebutuhan penting yang membantu menjelaskan

motivasi.

a. Kebutuhan pencapaian: dorongan untuk melebihi, mencapai standar-

standar dan berusaha keras untuk berhasil.

b. Kebutuhan kekuatan: kebutuhan untuk membuat individu lain

berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku

sebaliknya.

c. Kebutuhan hubungan: keinginan untuk menjalin suatu hubungan

antarpersonal yang ramah dan akrab.

Dokumen terkait