• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Makro Industri Pengolahan Non Migas

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016

2. Kinerja Makro Industri Pengolahan Non Migas

Perekonomian Indonesia tahun 2016 tumbuh mencapai 5,02 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun 2015 sebesar 4,8 persen. Adapun pertumbuhan industri non-migas pada tahun 2016 mencapai 4,42 persen, dengan posisi tersebut, maka pertumbuhan sektor industri non-migas kembali berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dimana pertumbuhan industri non-migas selalu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi. Data mengenai pertumbuhan industri non migas dan pertumbuhan ekonomi tahun 2014-2016 sebagaimana tertuang dalam gambar dibawah ini.

Sumber: BPS, diolah kemenperin

Gambar 3.4 Laju Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan Non Migas dan Pertumbuhan Ekonomi Kondisi pertumbuhan sektor industri non-migas yang berada di bawah pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya

5,61 5,05

5,01 4,88 4,42

5,02

0 1 2 3 4 5 6

2014 2015 2016

Pertumbuhan industri pengolahan non migas Pertumbuhan Ekonomi

Kementerian Perindustrian. Untuk itu, Kementerian Perindustrian melakukan identifikasi dan analisis dalam rangka terus mendorong sektor industri non-migas sebagai prime mover ekonomi nasional. Berikut adalah pertumbuhan PDB berdasarkan lapangan usaha menggunakan tahun dasar 2010.

Tabel 3.31. Pertumbuhan PDB Berdasarkan Lapangan Usaha, Tahun Dasar 2010 (persen)

No Lapangan Usaha 2014 2015* 2016**

1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 4,24 3,77 3,25

2 Pertambangan dan Penggalian 0,43 -3,42 1,06

3 Industri Pengolahan 4,64 4,33 4,29

a. Industri Migas -2,12 -1,13 3,24

b. Industri Non Migas 5,61 5,05 4,42

4 Pengadaan Listrik dan Gas 5,90 0,90 5,39

5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur

Ulang 5,24 7,07 3,60

6 Konstruksi 6,97 6,36 5,22

7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan

Sepeda Motor 5,18 2,59 3,93

8 Transportasi dan Pergudangan 7,36 6,68 7,74

9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 5,77 4,31 4,94

10 Informasi dan Komunikasi 10,12 9,69 8,87

11 Jasa Keuangan dan Asuransi 4,68 8,59 8,90

12 Real Estate 5,00 4,11 4,30

13 Jasa Perusahaan 9,81 7,69 7,36

14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan

Sosial Wajib 2,38 4,63 3,19

15 Jasa Pendidikan 5,47 7,33 3,84

16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 7,96 6,68 5,00

17 Jasa lainnya 8,93 8,08 7,80

PRODUK DOMESTIK BRUTO 5,01 4,88 5,02

Sumber: BPS, diolah Kemenperin, * Data Sementara, ** Data Sangat Sementara

Pada tahun 2016, sektor jasa keuangan merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi seiring dengan peningkatan pendapatan jasa keuangan. Selanjutnya, sektor informasi dan komunikasi menjadi kelompok industri dengan pertumbuhan tertinggi kedua dikarenakan penggunaan 4G LTE yang terus meningkat. Sedangkan pertumbuhan terendah adalah sektor usaha pertambangan dan penggalian dengan pertumbuhan 1,06 persen. Pada tahun 2016, tidak ada sektor yang pertumbuhannya negatif.

Jika dilihat berdasarkan kontribusi PDB, struktur perekonomian Indonesia menurut lapangan usaha tahun 2016 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama yaitu Industri

Pengolahan (20,51 persen), Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (13,45 persen), dan Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil-Sepeda Motor (13,19 persen).

Tabel 3.32 Nilai PDB Sektoral dan Kontribusinya Terhadap PDB Nasional Tahun 2014-2016

No Lapangan Usaha 2014 2015* 2016**

N K N K N K

1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1.409,66 13,34 1.555,75 13,49 1.668,99 13,45 2 Pertambangan dan Penggalian 1.039,42 9,83 881,69 7,65 893,94 7,21 3 Industri Pengolahan 2.227,58 21,08 2.418,37 20,97 2.544,57 20,51

a. Industri Batubara dan Pengilangan

Migas 337,20 3,19 320,33 2,78 286,06 2,31

b. Industri Pengolahan Non Migas 1.890,38 17,88 2.098,05 18,19 2.258,51 18,20

4 Pengadaan Listrik dan Gas 114,90 1,09 131,25 1,14 142,77 1,15

5 Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah

dan Daur Ulang 7,84 0,07 8,55 0,07 8,94 0,07

6 Konstruksi 1.041,95 9,86 1.177,08 10,21 1.287,65 10,38

7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 1.419,23 13,43 1.535,28 13,31 1.635,95 13,19 8 Transportasi dan Pergudangan 466,97 4,42 579,60 5,02 647,15 5,22 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 321,06 3,04 341,55 2,96 362,23 2,92

10 Informasi dan Komunikasi 369,46 3,50 405,99 3,52 449,14 3,62

11 Jasa Keuangan dan Asuransi 408,44 3,86 465,02 4,03 520,92 4,20

12 Real Estate 294,57 2,79 327,60 2,84 348,29 2,81

13 Jasa Perusahaan 165,99 1,57 190,27 1,65 211,62 1,71

14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan

Jaminan Sosial Wajib 404,63 3,83 450,23 3,90 478,63 3,86

15 Jasa Pendidikan 341,82 3,23 388,41 3,36 418,25 3,37

16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 109,15 1,03 122,92 1,07 132,42 1,07

17 Jasa lainnya 163,55 1,55 190,58 1,65 212,22 1,71

Total PDB 10.569,70 100 11.531,71 100 12.406,80 100 Sumber: BPS, diolah Kemenperin, * Data Sementara, ** Data Sangat Sementara

b. Perkembangan Sektor Industri Non Migas Tahun 2016

Perkembangan pertumbuhan industri non migas menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya. Industri pengolahan non migas pada tahun 2015 tumbuh sebesar 5,05 persen dan pada tahun 2016 mengalami perlambatan sehingga hanya mampu tumbuh sebesar 4,42 persen. Adapun pertumbuhan dari masing-masing cabang-cabang industri ditampilkan dalam tabel berikut ini.

Tabel 3.33 Pertumbuhan Industri Pengolahan Non-Migas Menurut Cabang-Cabang Industri Tahun Dasar 2010 (Persen)

No Lapangan Usaha 2014 2015* 2016**

1 Industri Makanan dan Minuman 9,49 7,54 8,46

2 Industri Pengolahan Tembakau 8,33 6,24 1,46

3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 1,56 -4,79 -0,13

4 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki 5,62 3,97 8,15 5 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan

Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya 6,12 -1,63 1,80 6 Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan

dan Reproduksi Media Rekaman 3,58 -0,16 2,16

7 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 4,04 7,61 5,48 8 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik 1,16 5,05 -8,34

9 Industri Barang Galian bukan Logam 2,41 6,03 5,46

10 Industri Logam Dasar 6,01 6,21 0,76

11 Industri Barang Logam; Komputer, Barang

Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik 2,94 7,83 4,34

12 Industri Mesin dan Perlengkapan 8,67 7,58 5,05

13 Industri Alat Angkutan 4,01 2,40 4,52

14 Industri Furnitur 3,60 5,17 0,47

15 Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi dan

Pemasangan Mesin dan Peralatan 7,65 4,66 -2,91

Industri Non Migas 5,61 5,61 5,05

PRODUK DOMESTIK BRUTO 5,02 5,01 4,88

Sumber: BPS, diolah Kemenperin, * Data Sementara, ** Data Sangat Sementara

Pertumbuhan cabang industri non migas pada tahun 2016 yang tertinggi dicapai oleh Industri Makanan dan Minuman (8,46 persen) kemudian disusul oleh Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (8,15 persen); Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional (5,48 persen); Industri Barang Galian bukan Logam (5,46 persen) dan Industri Mesin dan Perlengkapan (5,05 persen). Hal tersebut menunjukkan jika pertumbuhan industri manufaktur masih didorong oleh industri yang berbasis konsumsi dalam negeri.

Adapun industri yang mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2016 adalah industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik menurun sebesar 8,34 persen; Industri Pengolahan Lainnya, Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan menurun sebesar 2,91 persen dan Industri Tekstil dan Pakaian Jadi menurun sebesar 0,13 persen.

Bila dibandingkan dengan tahun 2015, sektor industri Karet, barang dari Karet dan Plastik mengalami penurunan dari 5,05 persen menjadi -8,34 persen pada tahun 2016.

Selain karena kondisi ekonomi negara-negara tujuan ekspor karet Indonesia, seperti

Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang yang belum menunjukkan perbaikan berarti, adanya perubahan musim hujan yang lebih maju menyebabkan produksi karet di Indonesia juga menurun. Hal tersebut juga diperparah dengan keputusan International Tripartite Rubber Council (ITRC) melalui skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) untuk mengurangi jumlah ekspor karet selama periode Maret-Agustus yang menyebabkan produsen karet menahan produknya. Keputusan tersebut dilakukan oleh Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk mendongkrak harga karet yang sempat mencapai titik terendahnya bulan Januari lalu. Usia pohon karet di Indonesia yang sudah tua, relatif terhadap usia pohon karet di Malaysia dan Thailand, juga menjadi penyebab penurunan produksi karet Indonesia.

Industri tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia merupakan salah satu industri yang mengandalkan pasar ekspor, sehingga belum pulihnya kondisi ekonomi dunia masih menjadi penyebab pertumbuhan yang negatif. Selain itu, Indonesia tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan negara maju, seperti yang dilakukan oleh Vietnam dan Bangladesh, sehingga membuat produk tekstil Indonesia kalah dengan produk tekstil dari negara tersebut. Selain permasalahan tersebut diatas, Industri Tekstil dan Produk dari Tekstil (TPT) mulai menurun karena dihadapkan permasalahan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) dan gempuran impor.

Menghadapi permasalahan terkait menurunnya kinerja Industri Tekstil dan Produk Tekstil, Kementerian Perindustrian melalui Ditjen IKTA melaksanakan program Restrukturisasi Mesin/ Peralatan Industri Tekstil, Alas Kaki, dan Penyamakan Kulit. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendukung pengembangan potensi industri TPT, industri alas kaki dan penyamakan kulit Nasional, serta upaya peningkatan daya saing. Kegiatan ini telah terlaksana sejak tahun 2007 serta Industri Alas Kaki dan Penyamakan Kulit sejak Tahun 2009.

Upaya peningkatan daya saing industri TPT, Alas Kaki dan Penyamakan Kulit Nasional dilakukan melalui peningkatan teknologi/peremajaan mesin/peralatan, sehingga diharapkan tercapai peningkatkan teknologi, efisiensi, dan produktivitas industri tersebut yang pada gilirannya meningkatkan daya saing industri nasional.

Pada tahun 2016, Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional hanya tumbuh 5,48.

Kinerja ini melambat jika dibandingkan dengan kinerja tahun 2015 yang tumbuh sebesar

7,61 persen. Penurunan tersebut disebabkan oleh pengaruh ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih sehingga salah satunya berimbas pada permintaan jamu di pasar dunia.

Secara umum hal ini disebabkan oleh:

1. Peningkatan produksi sektor bahan dan barang kimia, farmasi, obat kimia, obat tradisional, barang karet, dan plastik juga diikuti penurunan sektor lainnya, yaitu tekstil, pakaian jadi, logam dasar dan barang logam. Hal ini menyebabkan tidak ada peningkatan output sektor industri kimia tekstil dan aneka.

2. Peningkatan kurs dollar terhadap rupiah menyebabkan kenaikan harga bahan baku sehingga terjadi peningkatan nilai input.

3. Sulitnya pemenuhan energi untuk menyuplai industri.

4. Mayoritas bahan baku industri kimia, tekstil dan aneka masih mengandalkan impor sehingga menyebabkan ketahanan industri berstatus rawan, khususnya terhadap pasokan dan kenaikan harga.

Bila dilihat dari kontribusi terhadap PDB Nasional, pada tahun 2016 industri non migas memberikan kontribusi sebesar 18,20 persen dengan industri makanan dan minuman menjadi sektor industri dengan kontribusi tertinggi, yaitu sebesar 5,98 persen, disusul oleh industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik; dan peralatan listrik sebesar 1,95 persen, dan industri alat angkutan sebesar 1,91 persen.

Tabel 3.34 Peran Tiap Cabang Industri terhadap PDB Nasional Tahun 2014 - 2016 Atas Tahun Dasar 2010 (persen)

No Lapangan Usaha 2014 2015* 2016**

1 Industri Makanan dan Minuman 5,32 5,61 5,98

2 Industri Pengolahan Tembakau 0,91 0,94 0,94

3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 1,32 1,21 1,16

4 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki 0,27 0,27 0,28 5 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan

Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya

0,72 0,68 0,65

6 Industri Kertas dan Barang dari Kertas;

Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman 0,80 0,76 0,72 7 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 1,70 1,82 1,79 8 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik 0,76 0,75 0,64

9 Industri Barang Galian bukan Logam 0,73 0,72 0,72

No Lapangan Usaha 2014 2015* 2016**

10 Industri Logam Dasar 0,78 0,78 0,72

11 Industri Barang Logam; Komputer, Barang

Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik 1,87 1,97 1,95

12 Industri Mesin dan Perlengkapan 0,31 0,32 0,32

13 Industri Alat Angkutan 1,96 1,91 1,91

14 Industri Furnitur 0,27 0,27 0,26

15 Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi dan

Pemasangan Mesin dan Peralatan 0,18 0,18 0,17

Industri Non Migas 17,88 18,19 18,20

Industri Pengolahan 21,08 20,97 20,51

Sumber: BPS, diolah Kemenperin, * Data Sementara, ** Data Sangat Sementara

Pada tahun 2016, subsektor industri makanan dan minuman memberikan kontribusi PDB terbesar bagi PDB Nasional dengan kontribusi 5,98 persen. Besarnya jumlah penduduk Indonesia juga menjadi pendorong dalam besarnya kontribusi subsektor industri makanan dan minuman. Namun demikian, besarnya kontribusi subsektor industri makanan dan minuman tersebut menunjukkan jika Indonesia saat ini hanya mampu untuk mengembangkan light industri seperti terlihat dari kontribusi subsektor barang logam dan alat angkutan yang hanya mampu berkontribusi 1,95 dan 1,91 persen terhadap PDB Nasional. Untuk itu, diperlukan kebijakan yang riil dari pemerintah, seperti kemudahan investasi, pemberian insentif pajak yang jelas, kebijakan tenaga kerja yang tidak kaku, serta akses ke energi yang kompetitif, untuk mendorong pertumbuhan subsektor industri non migas lainnya sekaligus untuk menjadikan industri manufaktur sebagai motor penggerak ekonomi Indonesia.

c. Perkembangan Ekspor dan Impor Industri Non Migas Tahun 2016

Ekspor produk industri tahun 2016 sebesar US$ 109,76 miliar naik sebesar 1,07 persen dibandingkan periode tahun 2015 sebesar US$ 108,60 miliar. Ekspor produk industri ini memberikan kontribusi sebesar 76 persen dari total ekspor nasional tahun 2016 yang sebesar US$ 144,43 miliar. Perkembangan 12 besar ekspor industri non migas tahun 2014 – 2016 tersaji dalam tabel dibawah ini.

Tabel 3.35 Perkembangan 12 Besar Ekspor Industri Non Migas Tahun 2014 – 2016 (dalam US$ Juta)

No Lapangan Usaha 2014 2015 2016 Perubahan

(%)

1 Industri Makanan 29.582,1 26.448,2 26.276,34 -0,65

2 Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan

Kimia 12.191,3 9.008,4 10.230,42 13,56

3 Industri Logam Dasar 9.851,9 8.606,9 8.241,59 -4,24

4 Industri Pakaian Jadi 7.399,9 7.318,2 7.212,56 -1,44

5 Industri Pengolahan Lainnya 4.208,1 5.307,4 6.130,13 15,50

6 Industri Karet, Barang Dari Karet Dan Plastik 8.474,7 7.156,4 6.855,36 -4,21 7 Industri Komputer, Barang Elektronik Dan Optik 7.460,6 6.404,3 5.858,25 -8,53 8 Industri Kertas Dan Barang Dari Kertas 5.553,1 5.383,8 5.066,74 -5,89 9 Industri Kendaraan Bermotor, Trailer Dan Semi

Trailer 4.809,7 4.756,9 5.141,41 8,08

10 Industri Kulit, Barang Dari Kulit Dan Alas Kaki 4.469,7 4.853,6 5.014,68 3,32

11 Industri Tekstil 5.378,7 4.999,6 4.660,03 -6,79

12 Industri Peralatan Listrik 5.027,9 4.522,7 4.561,71 0,86

Total 12 Besar Industri 104.408,3 94.766,9 95.249,28 0,51

Total Industri 119.753,7 108.603,4 109.762,9 1,07

Sumber: BPS, diolah Kemenperin

Pada tahun 2016, ekspor terbesar adalah industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar US$ 26,27 juta. Namun nilai ekspor ini menurun sebesar 0,65 persen jika dibandingkan dengan nilai ekspor tahun 2015 yang mencapai angka US$26,44 juta.

Industri yang mengalami penurunan ekspor pada tahun 2016 adalah Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik sebesar 8,53 persen, Industri Tekstil sebesar 6,79 persen, Industri Kertas dan Barang dari kertas sebesar 5,89 persen, Industri Logam Dasar sebesar 4,24 persen dan Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik sebesar 4,21 persen.

Pada tahun 2016, Amerika Serikat merupakan Negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$15.684,3 juta (11,94 persen), diikuti Tiongkok dengan nilai US$15.096,8 juta (11,49 persen) dan Jepang dengan nilai US$13.212,9 Juta (10,06 persen). Tiga provinsi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap ekspor nasional pada tahun 2016 adalah Jawa Barat sebesar US$ 25.726,4 Juta (17,81 persen), Jawa Timur sebesar US$ 18.362,7 Juta (12,71 persen) dan Kalimantan Timur sebesar US$ 13.945,1 Juta (9,66 persen). Ketiganya memberikan kontribusi hingga mencapai 40,18 persen dari seluruh ekspor nasional.

Nilai impor pada tahun 2016 mencapai US$135,65 miliar atau turun 4,94 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Nilai impor tersebut terdiri dari impor migas sebesar US$ 18,72 miliar (turun 23,92 persen) dan non-migas sebesar US$ 116,93 miliar (turun 0,98 persen). Tiga negara asal barang impor non-migas terbesar pada tahun 2016 adalah Tiongkok dengan nilai sebesar US$ 30,69 miliar (26,24 persen), Jepang sebesar US$ 12,97 miliar (11,09 persen), dan Thailand sebesar US$ 8,60 miliar (7,36 persen). Impor non-migas dari ASEAN mencapai pangsa pasar 21,46 persen, sementara dari Uni Eropa 9,11 persen. Nilai impor golongan bahan baku/penolong dan barang modal selama tahun 2016 mengalami penurunan dibanding tahun 2015 masing-masing sebesar 5,73 persen dan 9,64 persen. Sebaliknya impor golongan barang konsumsi meningkat 13,54 persen.

Tabel 3.36 Perkembangan 12 Besar Impor Industri Non Migas Tahun 2014 – 2016 (nilai US$ Juta)

No Lapangan Usaha 2014 2015 2016 Perubah

an (%) 1 Industri Bahan Kimia dan Barang Dari

Bahan Kimia 21.918,1 19.186,6 17.745,96 -7,51

2 Industri Mesin dan Perlengkapan ytdl

(yang tidak termasuk dalam lainnya) 21.120,9 18.580,2 17.545,39 -5,75 3 Industri Komputer, Barang Elektronik

dan Optik 14.666,6 12.862,0 13.028,90 1,30

4 Industri Logam Dasar 13.959,6 11.810,7 11.144,19 -5,64

5 Industri Makanan 9.724,3 8.338,8 9.473,22 13,60

6 Industri Tekstil 6.744,1 6.512,9 6.701,78 2,90

7 Industri Peralatan Listrik 7.118,7 6.625,4 6.644,90 0,29 8 Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan

Semi Trailer 7.091,0 5.248,8 5.316,15 1,28

9 Industri Barang Logam, Bukan Mesin

dan Peralatannya 5.370,2 4.788,1 4.505,49 -5,90

10 Industri Karet, Barang Dari Karet dan

Plastik 3.472,3 3.110,1 3.349,66 7,70

11 Industri Kertas dan Barang Dari Kertas 3.245,1 2.683,5 2.677,42 -0,23 12 Industri Alat Angkutan Lainnya 2.961,6 3.033,7 2.817,68 -7,12 Total 12 Besar Industri 117.393,1 102.781,3 100.950,8 -1,78 Total Industri 124.564,2 109.515,7 108.265,6 -1,14 Sumber: BPS, diolah Kemenperin

Impor produk industri tahun 2016 sebesar US$ 108,26 miliar turun sebesar 1,14 persen dibandingkan periode tahun 2015 sebesar US$ 109,51 miliar. Neraca ekspor-impor

Industri yang mempunyai angka impor tertinggi adalah Industri Makanan yaitu sebesar 13,60 persen mengingat ketergantungan industri ini terhadap impor bahan baku dan bahan penolong.

Industri yang mengalami penurunan impor adalah Industri Bahan Kimia dan Barang Dari Bahan Kimia sebesar 7,51 persen, Industri Alat Angkutan Lainnya sebesar 7,12 persen, Industri Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya sebesar 5,9 persen. Penurunan angka impor disebabkan adanya perlambatan pertumbuhan sektor industri serta adanya kemungkinan industri dalam negeri sudah mampu memproduksi bahan baku dan bahan penolong industri lainnya.

d. Perkembangan Investasi Sektor Industri

Nilai investasi PMDN sektor industri Tahun 2016 sebesar Rp. 106,78 triliun atau tumbuh sebesar 19,92 persen dibanding Tahun 2015 sebesar Rp. 89,04 triliun. Investasi sektor industri memberikan kontribusi sebesar 49,38 persen dari total investasi PMDN Tahun 2016 sebesar Rp. 216,23 triliun. Investasi PMDN Tahun 2014 – 2016 disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 3.37 Investasi PMDN Tahun 2014-2016 (Rp. Miliar)

No Sektor Sekunder 2014 2015 2016 % 2015

-P I P I P I 2016

1 Industri Makanan 320 19.596,4 879 24.533,9 1.169 32.028,5 30,55

2 Industri Tekstil 72 1.451,5 185 2.724,5 284 3.209,8 17,81

3 Ind. Barang Dari Kulit &

Alas Kaki 10 103,1 13 5,4 21 69,1 1178,68

4 Industri Kayu 21 585,1 70 1.185,3 116 3.151,0 165,83

5 Ind. Kertas dan

Percetakan 57 4.093,7 127 6.529,5 185 5.257,9 -19,47

6 Ind. Kimia dan Farmasi 105 13.313,6 320 20.712,4 451 30.054 45,10

7 Ind. Karet dan Plastik 132 2.117,5 284 3.695,9 422 3.576 -3,22

8 Ind. Mineral Non Logam 57 11.923,1 181 20.501,7 217 15.404,6 -24,86

9 Ind. Logam, Mesin &

Elektronik 123 5.292,6 326 7.938,4 483 11.568,5 45,73

10 Ind. Instru. Kedokteran,

Presisi & Optik dan Jam 1 - 4 - 7 5,0 100

11 Ind. Kendaraan Bermotor & Alat Transportasi Lain

28 490,1 93 1.070,8 93 1.713,9 60,06

12 Industri Lainnya 16 68,1 43 147,4 93 744,2 405,02

Jumlah 942 59.034,7 2.525 89.045,3 3.541 106.783,8 19,92 Sumber: BKPM, diolah Kemenperin

Peningkatan nilai investasi PMDN terbesar adalah pada Industri Barang Dari Kulit &

Alas Kaki dengan peningkatan nilai investasi sebesar 1178,68 persen, yaitu dari 5,4 Miliar menjadi 69,1 Miliar. Adapun nilai investasi PMDN terbesar untuk tahun 2016 adalah Industri Makanan yaitu sebesar Rp. 32,03 Triliun.

Nilai investasi PMA sektor industri Tahun 2016 mencapai US$ 16,68 miliar atau meningkat sebesar 41,86 persen dibandingkan Tahun 2015 sebesar US$ 11,76 miliar.

Investasi PMA sektor industri memberikan kontribusi sebesar 57,61 persen dari total investasi PMA Tahun 2016 sebesar US$ 28,96 miliar.

Tabel 3.38 Investasi PMA Tahun 2014-2016

No Sektor Sekunder 2014 2015 2016 % 2015

- 2016

P I P I P I

1 Industri Makanan 640 3,139.6 1306 1.521,2 1947 2115,0 39,04

2 Industri Tekstil 285 422.5 670 433,4 886 321,3 -25,87

3 Ind. Barang Dari Kulit

& Alas Kaki 102 210.6 243 161,6 279 144,4 -10,63

4 Industri Kayu 61 63.7 118 47,1 240 267,5 467,8

5 Ind. Kertas dan

Percetakan 87 706.5 210 706,9 274 2786,6 294,19

6 Ind. Kimia dan

Farmasi 377 2,323.4 856 1.955,7 1096 2889,1 47,72

7 Ind. Karet dan Plastik 255 543.9 567 694,5 710 737,3 6,17

8 Ind. Mineral Non

Logam 104 916.9 277 1.302,8 397 1076 -17,41

9 Ind. Logam, Mesin &

Elektronik 690 2,471.9 1781 3.092,5 2185 3897,1 26,02

10 Ind. Instru.

295 2,061.3 758 1.757,3 928 2369,3 34,83

12 Industri Lainnya 168 151.8 385 83,2 599 75,2 -9,62

Jumlah 3.075 13.019,3 7.184 11.763,1 9563 16.687,6 41,86 Sumber: BKPM, diolah Kemenperin

Untuk investasi PMA, Industri Tekstil mengalami penurunan sebesar 25,87 persen, disusul dengan Industri Mineral Non Logam dengan penurunan sebesar 17,41 persen kemudian disusul oleh Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki sebesar 10,63 persen.

Adapun yang mengalami peningkatan investasi adalah industri kayu sebesar 467,8 persen dan Industri Kertas dan Percetakan sebesar 294,19 persen.

Hasil yang berbeda pada investasi PMA, dimana terjadi penurunan sebesar 9,65

terjadi pada industri makanan disusul dengan industri lainnya. Lebih lanjut meski terjadi penurunan pada beberapa sektor namun tahun 2015 juga menunjukkan peningkatan investasi pada beberapa sektor yaitu pada sektor industri mineral non logam, industri karet & plastik, dan industri logam, mesin & elektronik.

3. Kinerja Program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)