LAPORAN KINERJA
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN TAHUN 2016
Sekretariat Jenderal
Kementerian Perindustrian
Ringkasan Eksekutif
Sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dimana pimpinan Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Pemerintah Daerah, Satuan Kerja atau Unit Kerja didalamnya, wajib menyusun laporan akuntabilitas kinerja secara berjenjang serta berkala untuk disampaikan kepada pimpinan yang lebih tinggi. Menindak lanjuti peraturan tersebut, maka Kementerian Perindustrian menyusun Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016
Secara umum laporan kinerja Kementerian Perindustrian menjabarkan pencapaian kinerja Kementerian Perindustrian selama tahun 2016 yang mencakup analisis kinerja sasaran strategis perjanjian kinerja, analisis kinerja makro sektor industri, analisis kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), analisis kinerja kelembagaan dan analisis kinerja keuangan.
Dalam renstra 2015 – 2019 dijabarkan mengenai visi pembangunan industri Kementerian Perindustrian, yaitu “Indonesia Menjadi Negara Industri yang Berdaya Saing dengan Struktur Industri yang Kuat Berbasiskan Sumber Daya Alam dan Berkeadilan”.
Pencapaian visi tersebut dituangkan pada misi, tujuan dan sasaran yang akan dicapai pada tahun 2016 yang tertuang dalam Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian.
Selain arah pembangunan industri dijabarkan dalam Renstra, Kementerian Perindustrian juga memiliki amanah untuk melaksanakan mandat program prioritas nasional sesuai dengan Perpres No 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 - 2019. Adapun fokus pengembangan industri sesuai arahan RPJMN 2015 – 2019 adalah sebagai berikut:
a) Pengembangan Perwilayahan Industri di luar pulau Jawa,
b) Penumbuhan Populasi Industri serta Peningkatan Daya Saing dan Produktivitas
Program – program nasional Kementerian Perindustrian terkait RPJMN 2015-2019 antara lain: pengembangan kawasan industri, pengembangan sentra IKM (SIKIM), fasilitasi pembangunan buffer stock bahan baku kapas dan kulit, pengembangan
industri petrokimia, pengembangan industri smelter, penumbuhan wirausaha baru serta peningkatan kualitas SDM Industri.
Terkait kinerja makro sektor industri, pada tahun 2016 (YoY), pertumbuhan sektor industri pengolahan non migas mencapai 4,42 persen, lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,02 persen. Perlambatan laju pertumbuhan industri non-migas ini disebabkan karena menurunnya kinerja pertumbuhan pada beberapa kelompok industri, terutama Industri Makanan; Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki; Industri Barang Galian bukan Logam; Industri barang Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik, dan Peralatan Listrik; dan Industri Pengolahan Tembakau.
Meskipun mengalami perlambatan, Industri Makanan dan Minuman merupakan cabang industri non migas dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 8,46 % kemudian disusul oleh Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (8,15 %); Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional (5,48 %); Industri Barang Galian bukan Logam (5,46 %) dan Industri Mesin dan Perlengkapan (5,05 %). Walaupun mengalami perlambatan, sektor industri pengolahan non migas memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Nasional sebesar 18,20 persen.
Ekspor produk industri tahun 2016 sebesar US$ 109,76 miliar naik sebesar 1,07 persen dibandingkan periode tahun 2015. Ekspor produk industri ini memberikan kontribusi sebesar 76,00 persen dari total ekspor nasional tahun 2016 yang sebesar US$
144,43 miliar. Impor produk industri tahun 2016 sebesar US$ 108,26 miliar turun sebesar 1,14 persen dibandingkan periode tahun 2015. Neraca ekspor-impor Industri Pengolahan Non Migas Tahun 2016 adalah USD 1,50 miliar (neraca surplus).
Nilai investasi PMDN sektor industri Tahun 2016 sebesar Rp 106,78 triliun atau tumbuh 19,9 persen dibanding Tahun 2015. Investasi sektor industri memberikan kontribusi sebesar 49,38 persen dari total investasi PMDN Tahun 2016 yang mencapai Rp 216,23 triliun. Nilai investasi PMA sektor industri Tahun 2016 mencapai US$ 16,68 miliar atau meningkat sebesar 41,86 persen dibandingkan Tahun 2015. Investasi PMA sektor industri memberikan kontribusi 57,61 persen dari total investasi PMA Tahun 2016 yang mencapai US$ 28,96 miliar.
Selanjutnya, atas pelaksanaan program prioritas nasional sebagaimana tertuang dalam RPJMN 2015-2019, pada tahun 2016 Kementerian Perindustrian telah
melaksanakan fasilitasi terhadap 15 kawasan industri serta penumbuhan populasi industri besar-sedang sebanyak 1.746 unit dan 168.912 IKM. Penumbuhan industri tersebut menyerap sampai dengan 16,11 juta orang tenaga kerja. Selain itu, Kementerian Perindustrian telah melaksanakan kegiatan pelatihan kewirausahaan dan teknis produksi kepada 4.620 calon wirausaha industri kecil. Lebih lanjut, Kementerian Perindustrian juga memfasilitasi pembangunan bufferstock bahan baku kapas di Jawa Barat dan bufferstock kulit di Jawa Timur. Dalam rangka pengembangan industri petrokimia, pada tahun 2016 telah dikembangkan 3 komoditas industri petrokimia yakni ammonia, power plant dan copolymer. Terkait dengan pengembangan industri smelter, telah dilakukan pendampingan kepada 2 (dua) perusahaan smelter logam dalam memperoleh insentif fiskal. Sedangkan dalam rangka peningkatan kualitas SDM industri, telah dilaksanakan pelatihan three in one (pelatihan, sertifikasi, dan penempatan) SDM Industri, sebanyak 10.820 orang, penyediaan tenaga kerja industri yang berbasis spesialisasi dan kompetensi melalui pendidikan kejuruan dan pendidikan tinggi industri sebanyak 4.312 orang. Adapun permasalahan - permasalahan yang menjadi penghambat pelaksanaan tugas dan ketercapaian target yang telah ditetapkan telah diidentifikasi dan dianalisis untuk ditindaklanjuti dengan rekomendasi kebijakan-kebijakan yang mampu mendorong percepatan pencapaian target kinerja.
Seiring dengan peningkatan tata kelola pemerintahan, Kementerian Perindustrian telah melaksanakan Reformasi Birokrasi, dengan berbagai prestasi yang dicapai oleh Kementerian Perindustrian antara lain: 1) Penghargaan dari Pemerintah atas keberhasilannya menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2015 dengan Capaian Standar Tertinggi dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah serta mendapatkan predikat opini WTP; 2) Pelayanan Publik versi Ombudsman dengan kategori hijau atau tingkat kepatuhan tinggi terhadap UU No. 22 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik; 3) Penghargaan sebagai Kementerian/Lembaga Pengelola Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Terbaik pada ajang PNBP Awards 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan; 4) Penghargaan unit kerja pelayanan publik dengan predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) yang diberikan oleh Kementerian PAN dan RB; 5) Penghargaan Anugerah Nawacita Legislasi Tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Kementerian Hukum dan HAM; 6) Penghargaan
kategori Badan Publik Kementerian terbaik ke III yang dilaksanakan Komisi Informasi Pusat.
Selain itu, sebagai implementasi reformasi birokrasi, Kementerian Perindustrian telah menetapkan dan mencanangkan nilai dan budaya kerja Kemenperin. Pencanangan tersebut dilakukan melalui penandatanganan komitmen para pejabat di lingkungan Kemenperin. Langkah strategis ini diharapkan mendorong kemampuan menghadapi perubahan global yang menuntut peningkatan kualitas layanan kepada masyarakat.
Secara garis besar Kementerian Perindustrian telah berhasil melaksanakan tugas, fungsi dan misi yang diembannya dalam pencapaian kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2016. Beberapa sasaran yang ditetapkan dapat dicapai, meskipun belum semuanya menunjukkan hasil sebagaimana yang ditargetkan. Keberhasilan pencapaian sasaran Kementerian Perindustrian disamping ditentukan oleh kinerja faktor internal juga ditentukan oleh faktor eksternal. Hasil lebih rinci secara keseluruhan tergambar dalam Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016.
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN... 2
A. Tugas dan Fungsi Kementerian Perindustrian... 2
B. Peran Strategis Kementerian Perindustrian ... 3
C. Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian ... 6
D. Rencana Strategis Kementerian Perindustrian ... 11
1. Visi Kementerian Perindustrian... 11
2. Misi Kementerian Perindustrian ... 12
3. Tujuan Kementerian Perindustrian... 12
4. Sasaran Strategis Kementerian Perindustrian... 12
BAB II PERENCANAAN KINERJA... 22
A. Perencanaan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016 ... 22
B. Dukungan Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2016... 25
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA... 26
A. Capaian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016... 26
1. Kinerja Sasaran Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016 ... 26
2. Kinerja Makro Industri Pengolahan Non Migas ... 77
3. Kinerja Program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019... 88
4. Capaian Kinerja dan Prestasi Kementerian Perindustrian Tahun 2016... 117
B. Realisasi Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2016... 122
BAB IV PENUTUP... 125
A. Kesimpulan... 125
B. Permasalahan dan Kendala ... 125
C. Rekomendasi... 127
BAB I PENDAHULUAN
A. Tugas dan Fungsi Kementerian Perindustrian
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2015 tentang Kementerian Perindustrian, Kementerian Perindustrian berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kementerian Perindustrian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kementerian Perindustrian menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pendalaman dan penguatan struktur industri, peningkatan daya saing, pengembangan iklim usaha, promosi industri dan jasa industri, standardisasi industri, teknologi industri, pengembangan industri strategis dan industri hijau, pembangunan dan pemberdayaan industri kecil dan industri menengah, penyebaran dan pemerataan pembangunan industri, ketahanan industri dan kerja sama, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang pendalaman dan penguatan struktur industri, peningkatan daya saing, pengembangan iklim usaha, promosi industri dan jasa industri, standardisasi industri, teknologi industri, pengembangan industri strategis dan industri hijau, pembangunan dan pemberdayaan industri kecil dan industri menengah, penyebaran dan pemerataan pembangunan industri, ketahanan industri dan kerja sama, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri;
3. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan kebijakan di bidang pendalaman dan penguatan struktur industri, peningkatan daya saing, pengembangan iklim usaha, promosi industri dan jasa industri, standardisasi industri, teknologi industri, pengembangan industri strategis dan industri hijau, pembangunan dan pemberdayaan industri kecil dan industri menengah, penyebaran dan pemerataan pembangunan industri, ketahanan industri dan kerja sama, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri
4. Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang perindustrian;
5. Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian;
6. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi di lingkungan Kementerian Perindustrian;
7. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Perindustrian; dan
8. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di Kementerian Perindustrian.
B. Peran Strategis Kementerian Perindustrian
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, Kementerian Perindustrian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Dengan tugas tersebut, tentunya peran Kementerian Perindustrian tidak terlepas dari peran strategis industri itu sendiri.
Peran strategis industri dalam pembangunan ekonomi nasional tercermin dari dampak kegiatan ekonomi sektor riil bidang industri dalam komponen konsumsi maupun investasi. Sektor industri berperan sebagai pemicu kegiatan ekonomi lain yang berdampak ekspansif atau meluas ke berbagai sektor jasa keteknikan, penyediaan bahan baku, transportasi, distribusi atau perdagangan, pariwisata dan sebagainya. Pembangunan sektor industri menjadi sangat penting karena kontribusinya terhadap pencapaian sasaran pembangunan ekonomi nasional, terutama dalam pembentukan PDB sangat besar dan berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi (prime mover) karena kemampuannya dalam peningkatan nilai tambah yang tinggi. Selain itu industri juga dapat membuka peluang untuk menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan, yang berarti meningkatkan kesejahteraan serta mengurangi kemiskinan. Meskipun telah dicapai berbagai perkembangan yang cukup penting dalam pengembangan industri, namun dirasakan industri belum tumbuh seperti yang diharapkan.
Permasalahan utama yang sedang dihadapi dalam pembangunan industri nasional antara lain:
1. Dinamika sektor industri:
a. Tidak meratanya persebaran dan tingkat pendapatan penduduk.
b. Rendahnya tingkat pendidikan, ketrampilan, dan produktivitas tenaga kerja.
c. Lemahnya penguasaan teknologi yang menyebabkan daya saing produk industri lemah dalam menghadapi persaingan.
d. Belum terpadunya pengembangan iptek di lembaga-lembaga penelitian yang tersebar di berbagai instansi dengan dunia industri.
e. Keterlibatan industri nasional dalam rantai pasok global berpotensi pada kerentanan terhadap gejolak perekonomian dunia.
f. Kelangkaan energi yang disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan energi sektor industri. Pada tahun 2030 kebutuhan energi diperkirakan akan meningkat menjadi hampir tiga kali lipat.
g. Masih banyak industri yang belum menerapkan standar industri hijau dalam kegiatan produksinya.
2. Perjanjian Kerjasama Ekonomi dengan Negara Lain
a. Semakin berkurangnya instrumen perlindungan, baik yang bersifat tarif maupun non-tarif, bagi pengembangan, ketahanan maupun daya saing industri di dalam negeri.
b. Semakin derasnya arus impor produk barang dan jasa yang berpotensi mengancam kondisi neraca perdagangan dan neraca pembayaran.
c. Semakin ketatnya persaingan antara pekerja asing dengan pekerja domestik dengan adanya pergerakan pekerja terampil (Movement of Natural Person – MNP), sehingga dikhawatirkan pekerja terampil asing mengungguli pekerja terampil domestik.
3. Kebijakan Otonomi Daerah
a. Permasalahan internal lambannya birokrasi, kualitas SDM aparatur, dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.
b. Permasalahan eksternal: keterbatasan ketersediaan infrastruktur dan lahan industri. Otonomi daerah berdampak kepada pengelolaan keuangan daerah dimana ruang gerak daerah dalam pembiayaan sektor-sektor cenderung terbatasan dana yang dimiliki pemerintah daerah karena sebagian besar dari pendapatan daerah dialokasikan untuk belanja pegawai.
4. Infrastruktur
a. Tidak tersedianya secara memadai fasilitas jalan dan pelabuhan dalam rencana pembangunan smelter untuk industri pengolahan mineral terutama di kawasan timur Indonesia (Sulawesi, Kalimantan, dan Papua).
b. Semakin menurunnya tingkat pelayanan jalan dan pelabuhan di Pulau Jawa terutama di sekitar Jabodetabek yang diindikasikan dengan meningkatnya waktu tempuh dari kawasan-kawasan industri ke Pelabuhan Tanjung Priok dan waktu tunggu (dwelling time) yang lebih lama di Pelabuhan Tanjung Priok.
5. Energi
a. Kurangnya pasokan gas untuk industri manufaktur, sebagai contoh rencana revitalisasi 5 pabrik pupuk yang sudah tua dan boros energi tidak bisa direalisasikan sepenuhnya karena keterbatasan pasokan gas.
b. Belum tersedianya energi listrik yang dapat mencukupi kebutuhan pembangunan smelter maupun industri baru lainnya.
c. Belum optimalnya diversifikasi energi termasuk program konversi BBM ke gas karena belum tersedianya infrastruktur pendukung (Stasiun Pengisian BBG).
6. Lahan
a. Tidak tersedianya lahan untuk pembangunan pabrik gula dan perkebunan tebu dalam rangka swasembada gula (300 ribu Ha untuk 20 pabrik gula)
b. Belum terselesaikannya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sehingga menghambat rencana investasi, contoh lahan untuk kawasan industri Sei Mangke dan lahan untuk industri garam di Nagekeo.
7. Regulasi
a. Tidak harmonisnya tarif bea masuk produk – produk industri antara hulu dan hilir, contoh bea masuk PP dan PE sebagai bahan baku untuk industri kemasan plastik sebesar 10 persen sedangkan bea masuk produk hilir seperti barang jadi plastik sebesar 0 persen.
b. Belum optimalnya pemanfaatan insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance dan BMDTP karena prosedur administrasi yang rumit dan panjang.
c. Prosedur pengembalian restitusi pajak bagi wajib pajak yang memanfaatkan fasilitas KITE relatif lama sehingga mengganggu cash flow perusahaan.
8. Ketergantungan impor bahan baku, barang modal dan bahan penolong
Masih tingginya ketergantungan industri dalam negeri terhadap impor bahan baku, barang modal dan bahan penolong. Pada Tahun 2013, impor bahan baku dan penolong sebesar US$ 89,54 miliar (68,14%), diikuti oleh barang modal US$ 31,49
miliar (23,96%), dan barang konsumsi US$ 10,37 miliar (7,38%). Hal ini disebabkan belum kuat dan dalamnya struktur industri karena belum berkembangnya industri hulu dan antara sehingga sangat rentan terhadap pengaruh kondisi sosial ekonomi negara asal dan menghabiskan devisa dalam jumlah yang besar.
Namun demikian, meskipun terdapat berbagai permasalahan tersebut di atas, dalam pembangunan industri nasional juga terdapat berbagai potensi, diantaranya:
1. Dinamika Sektor Industri
a. Perubahan jumlah dan penduduk, serta peningkatan kesejahteraan penduduk mendorong sektor industri untuk dapat tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan PDB Nasional.
b. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan akan memudahkan dan meningkatkan produksi produk industri
c. Globalisasi proses produksi akan meningkatkan peluang akses pasar luar negeri.
d. Indonesia memiliki potensi energi berbasis sumber daya alam (batubara, panas bumi, air)
e. Peningkatan kepedulian terhadap lingkungan mendorong peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
2. Perjanjian Kerjasama Ekonomi dengan Negara Lain: peluang bagi industri nasional untuk memperluas pasar bagi produk-produk industri nasional
3. Kebijakan Otonomi Daerah
Dengan adanya kesetaraan hubungan antara pemerintah pusat dengan Pemerintah daerah, maka pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota berpeluang untuk mempercepat pembangunan dan persebaran industri di daerah.
C. Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian
Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 107/M-IND/PER/11/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perindustrian, Kementerian Perindustrian terdiri atas 9 (sembilan) unit eselon I dan 3 (tiga) Staf Ahli Menteri serta 2 (dua) pusat sebagaimana terlihat pada gambar 1.1.
Gambar 1.1 Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian
Adapun tugas dan fungsi masing-masing unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian adalah sebagai berikut:
1. Sekretariat Jenderal
Sekretariat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian. Sekretariat Jenderal terdiri atas Biro Perencanaan; Biro Kepegawaian; Biro Keuangan; Biro Hukum dan Organisasi; Biro Hubungan Maysarakat dan Biro Umum.
2. Inspektorat Jenderal
Inspektorat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan pengawasan internal di lingkungan Kementerian Perindustrian. Inspektorat Jenderal terdiri atas Sekretariat Inspektorat Jenderal; Inspektorat I; Inspektorat II; Inspektorat III; dan Inspektorat IV.
3. Direktorat Jenderal Industri Agro
Direktorat Jenderal Industri Agro mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pendalaman dan penguatan struktur industri, peningkatan daya saing, pengembangan iklim usaha, promosi industri dan jasa industri, standardisasi industri, teknologi industri, pengembangan industri strategis
dan industri hijau, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri pada industri hasil hutan dan perkebunan, industri makanan, hasil laut dan perikanan, dan industri minuman dan tembakau. Direktorat Jenderal Industri Agro terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan; Direktorat Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan; dan Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar.
4. Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, Dan Aneka
Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pendalaman dan penguatan struktur industri, peningkatan daya saing, pengembangan iklim usaha, promosi industri dan jasa industri, standardisasi industri, teknologi industri, pengembangan industri strategis dan industri hijau, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri pada industri kimia hulu, industri kimia hilir, industri barang galian non logam, serta industri tekstil dan industri aneka. Direktorat Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal, Direktorat Industri Kimia Hulu, Direktorat Industri Kimia Hilir, Direktorat Industri Bahan Galian Nonlogam, dan Direktorat Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka.
5. Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Dan Elektronika
Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pendalaman dan penguatan struktur industri, peningkatan daya saing, pengembangan iklim usaha, promosi industri dan jasa industri, standardisasi industri, teknologi industri, pengembangan industri strategis dan industri hijau, serta peningkatan penggunaan produk dalam negeri pada industri logam, industri mesin, industri alat transportasi dan maritim, serta industri elektronika dan telematika.
Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal, Direktorat Industri Logam, Direktorat Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan, dan Direktorat Industri Elektronika dan Telematika.
6. Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah
Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan dan pemberdayaan, standardisasi industri dan teknologi industri, peningkatan daya saing, penumbuhan wirausaha, penguatan kapasitas kelembagaan, pemberian fasilitas, serta promosi industri dan jasa industri pada industri kecil dan industri menengah agro, kimia, barang galian non logam, tekstil dan aneka, logam, mesin, alat transportasi, maritim, serta elektronika dan telematika. Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Kecil dan Menengah Pangan, Barang Dari Kayu dan Furnitur; Direktorat Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan; dan Direktorat Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut.
7. Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri
Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang penyebaran dan pemerataan industri, pembangunan kawasan industri dan sentra industri kecil dan industri menengah, penyediaan infrastruktur industri, pengembangan kerja sama teknis, serta promosi wilayah pusat pertumbuhan industri, kawasan industri, dan sentra industri kecil dan industri menengah di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Pengembangan Wilayah Industri I;
Direktorat Pengembangan Wilayah Industri II; dan Direktorat Pengembangan Wilayah Industri III.
8. Direktorat Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional
Direktorat Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang ketahanan industri dan kerja sama internasional di bidang industri. Direktorat Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Ketahanan Industri; Direktorat Akses Pasar
Industri Internasional; dan Direktorat Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional.
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri
Badan Penelitian dan Pengembangan Industri mempunyai tugas menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang perindustrian. Badan Penelitian dan Pengembangan Industri terdiri atas Sekretariat Badan; Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Industri dan Kekayaan Intelektual; Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Hijau dan Lingkungan Hidup; Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Iklim Usaha Industri; dan Pusat Standardisasi Industri.
10. Staf Ahli Menteri
Staf Ahli Menteri berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri dan secara administratif dikoordinasikan oleh Sekretaris Jenderal. Staf Ahli terdiri atas Staf Ahli Bidang Penguatan Struktur Industri; Staf Ahli Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri; dan Staf Ahli Bidang Sumber Daya Industri.
Di samping itu, untuk menunjang pelaksanaan tugas Kementerian, terdapat 2 (dua) unit eselon II Pusat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal, yaitu:
1. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri yang selanjutnya disebut Pusdiklat Industri adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian Perindustrian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Perindustrian melalui Sekretaris Jenderal. Pusdiklat Industri mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pengembangan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia aparatur dan sumber daya manusia industri, serta pendidikan vokasi industri.
2. Pusat Data dan Informasi
Pusat Data dan Informasi yang selanjutnya disebut Pusdatin adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. Pusdatin mempunyai tugas melaksanakan
pembinaan dan pengelolaan sistem informasi, manajemen data, serta analisis dan penyajian data dan informasi.
D. Rencana Strategis Kementerian Perindustrian
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perindustrian 2015-2019 dimaksudkan untuk merencanakan kontribusi yang signifikan bagi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015. Dalam penyusunan Renstra Kementerian Perindustrian juga mengacu pada Undang-undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian serta Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015. Selain itu, penyusunan Renstra juga memperhatikan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra Kementerian Perindustrian periode 2010-2014, analisa terhadap dinamika perubahan lingkungan strategis baik tataran daerah, nasional, maupun di tataran global, serta perubahan paradigma peningkatan daya saing dan kecenderungan pengembangan industri ke depan.
1. Visi Kementerian Perindustrian
Berdasarkan potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam rangka pembangunan industri nasional ke depan, maka Kementerian Perindustrian sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Perindustrian dituntut untuk melakukan pengaturan, pembinaan, dan pengembangan perindustrian. Untuk itu, maka disusunlah visi dan misi Pembangunan Industri yang akan dicapai melalui pencapaian tujuan, sasaran strategis, dan pelaksanaan program dan kegiatan utama maupun kegiatan pendukung sebagaimana digambarkan pada peta strategis Kementerian Perindustrian pada gambar 1.2.
Apabila keseluruhan hal tersebut dapat terpenuhi, maka berarti Kementerian Perindustrian telah mampu berperan dalam mendukung pencapaian visi, misi, sasaran, dan target pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan pada RPJMN 2015 – 2019, serta mendukung pencapaian tujuan berbangsa dan bernegara sesuai dengan amanat UUD 1945, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Oleh karena itu, Visi Pembangunan Industri tahun 2015 – 2019 adalah:
“Indonesia Menjadi Negara Industri yang Berdaya Saing dengan Struktur Industri yang Kuat Berbasiskan Sumber Daya Alam dan Berkeadilan”
2. Misi Kementerian Perindustrian
Untuk mewujudkan visi tersebut di atas, diperlukan tindakan nyata dalam bentuk 4 (empat) misi sesuai dengan tugas dan fungsi Kementerian Perindustrian sebagai berikut:
a. Memperkuat dan memperdalam struktur Industri nasional untuk mewujudkan industri nasional yang mandiri, berdaya saing, maju, dan berwawasan lingkungan;
b. Meningkatkan nilai tambah di dalam negeri melalui pengelolaan sumber daya industri yang berkelanjutan dengan meningkatkan penguasaan teknologi dan inovasi;
c. Membuka kesempatan berusaha dan perluasan kesempatan kerja;
d. Pemerataan pembangunan Industri ke seluruh wilayah Indonesia guna memperkuat dan memperkukuh ketahanan nasional.
3. Tujuan Kementerian Perindustrian
Untuk mewujudkan Visi dan melaksanakan Misi Pembangunan Industri, Kementerian Perindustrian menetapkan tujuan pembangunan industri untuk 5 (lima) tahun ke depan yaitu Terbangunnya Industri yang Tangguh dan Berdaya Saing. Ukuran keberhasilan pencapaian tujuan tersebut dapat diwujudkan melalui pencapaian Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Perindustrian.
4. Sasaran Strategis Kementerian Perindustrian
Selanjutnya akan disampaikan mengenai sasaran strategis Kementerian Perindustrian berdasarkan tingkat perspektif pemangku kepentingan, proses internal dan pembelajaran organisasi.
a. Perspektif Pemangku Kepentingan
Sasaran Strategis 1 : Meningkatnya peran industri dalam perekonomian nasional Meningkatnya peran industri di dalam perekonomian nasional diindikasikan dengan laju pertumbuhan PDB industri pengolahan non-migas yang diharapkan tumbuh di atas pertumbuhan PDB nasional serta meningkatnya kontribusi PDB pengolahan non-migas terhadap PDB nasional. Dengan demikian, indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran strategis ini adalah:
1) Laju pertumbuhan PDB industri pengolahan non-migas;
2) Kontribusi PDB industri pengolahan non-migas terhadap PDB Nasional.
Sasaran Strategis 2 : Meningkatnya Penguasaan Pasar Dalam dan Luar Negeri.
Meningkatnya penguasaan pasar dalam negeri dimaksudkan untuk meningkatkan penjualan produk dalam negeri dibandingkan dengan seluruh pangsa pasar. Sedangkan penguasaan pangsa pasar di luar negeri dimaksudkan untuk meningkatkan nilai ekspor produk industri sehingga dapat meningkatkan rasio/perbandingan nilai ekspor industri terhadap nilai ekspor nasional. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran strategis ini adalah:
1) Kontribusi ekspor produk industri pengolahan non-migas terhadap ekspor nasional;
Sasaran Strategis 3 : Meningkatnya penyebaran dan pemerataan industri.
Penyebaran dan pemerataan industri ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dilakukan melalui pengembangan perwilayahan industri dengan tujuan untuk meningkatkan kontribusi sektor industri pengolahan non-migas di luar pulau jawa dan menumbuhkan populasi unit usaha industri besar dan sedang di luar pulau jawa.
Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran strategis ini adalah:
1) Persentase nilai tambah sektor industri di luar pulau jawa terhadap total nilai tambah sektor industri;
2) Persentase jumlah unit usaha industri besar sedang di luar pulau jawa terhadap total populasi industri besar sedang nasional.
Sasaran Strategis 4 : Meningkatnya peran Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam perekonomian nasional.
IKM memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah unit usaha pada tahun 2012 yang berjumlah 3,24 juta unit dan merupakan lebih dari 90 persen dari unit usaha industri nasional. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran strategis ini adalah:
1) Pertumbuhan jumlah unit usaha IKM;
2) Penyerapan tenaga kerja IKM.
Sasaran Strategis 5 : Meningkatnya pengembangan inovasi dan penguasaan teknologi.
Pengembangan inovasi dan penguasaan teknologi industri bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, nilai tambah, daya saing dan kemandirian industri nasional.
pengetahuan dan kebutuhan industri dalam negeri agar dapat bersaing di pasar dalam negeri dan pasar global. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran strategis ini adalah:
1) Meningkatnya penguasaan teknologi industri, pengembangan inovasi dan penerapan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Sasaran Strategis 6 : Meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri.
Salah satu peran utama sektor industri dalam perekonomian nasional adalah dengan menyerap tenaga kerja melalui penciptaan lapangan kerja yang produktif. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran strategis ini adalah:
1) Jumlah penyerapan tenaga kerja di sektor industri.
Sasaran Strategis 7 : Menguatnya struktur industri.
Salah satu sasaran pembangunan industri adalah menguatnya struktur industri pengolahan non-migas melalui penumbuhan industri hulu dan industri antara yang berbasis sumber daya alam. Struktur industri yang kuat mempunyai ciri antara lain adanya kaitan (linkage) yang kuat dan sinergis antar sub sektor industri dengan berbagai sektor ekonomi lainnya, memiliki kandungan lokal yang tinggi, menguasai pasar domestik, memiliki produk unggulan industri masa depan, tumbuh secara berkelanjutan, serta mempunyai daya tahan (resilience) yang tinggi terhadap gejolak perekonomian. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran strategis ini adalah:
1) Rasio impor bahan baku, bahan penolong dan barang modal terhadap PDB industri pengolahan non-migas.
b. Perspektif Proses Internal
Sasaran Strategis 1 : Tersusunnya kebijakan pembangunan industri searah dengan ideologi TRISAKTI dan Agenda Prioritas Presiden (NAWA CITA).
Sesuai dengan amanah Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, peran pemerintah dalam mendorong kemajuan sektor industri ke depan dilakukan secara terencana serta disusun secara sistematis dalam suatu dokumen perencanaan. Dokumen perencanaan tersebut harus menjadi pedoman dalam menentukan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong pembangunan sektor industri dan menjadi panduan bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam pembangunan industri nasional.
Sebagai pelaksanaan dari amanah UU tersebut, Pemerintah menyusun Rencana Induk
Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) yang sesuai dengan ideologi TRISAKTI dan Agenda Prioritas (NAWA CITA) Presiden terpilih tahun 2014 – 2019. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Tersusunnya Peraturan Pemerintah (PP);
2) Tersusunnya Peraturan Presiden (Perpres);
3) Tersusunnya Peraturan Menteri (Permen).
Sasaran Strategis 2 : Meningkatnya daya saing industri melalui pengembangan standardisasi industri
Standardisasi industri bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri dalam rangka penguasaan pasar dalam negeri maupun ekspor. Standardisasi industri juga dapat dimanfaatkan untuk melindungi keamanan, kesehatan, dan keselamatan manusia, hewan, dan tumbuhan, pelestarian fungsi lingkungan hidup, pengembangan produk industri hijau serta mewujudkan persaingan usaha yang sehat. Pengembangan Standardisasi industri meliputi perencanaan, pembinaan, pengembangan dan Pengawasan untuk Standar Nasional Indonesia (SNI), Spesifikasi Teknis (ST) dan Pedoman Tata Cara (PTC). Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jumlah Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI);
2) Jumlah regulasi teknis pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI), Standar Teknis (ST), dan/atau Pedoman Tata Cara (PTC) secara wajib;
3) Jumlah lembaga penilaian kesesuaian bagi pemberlakuan SNI, ST, dan PTC secara wajib.
Sasaran Strategis 3 : Meningkatnya investasi sektor industri melalui fasilitasi pemberian insentif fiskal dan non-fiskal
Dalam rangka pencapaian sasaran pengembangan industri nasional dibutuhkan pembiayaan investasi di sektor industri yang bersumber dari penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing, serta penanaman modal pemerintah khususnya untuk pengembangan industri strategis. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Nilai investasi di sektor industri
Sasaran Strategis 4 : Meningkatnya penggunaan produk dalam negeri.
Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) merupakan suatu kebijakan pemberdayaan industri yang bertujuan untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri oleh pemerintah, badan usaha dan masyarakat, memberdayakan industri dalam negeri melalui pengamanan pasar domestik, mengurangi ketergantungan kepada produk impor, dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri; dan memperkuat struktur industri dengan meningkatkan penggunaan barang modal, bahan baku, komponen, teknologi dan sdm dari dalam negeri. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Produk industri yang tersertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Sasaran Strategis 5 : Meningkatnya kualitas pelayanan dan informasi publik Penyelenggaraan pelayanan publik di lingkungan Kementerian Perindustrian adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat atau badan hukum atas permintaan informasi, konsultasi, dan pelaksanaan pelayanan publik. Peningkatan kualitas pelayanan dan informasi publik dilakukan melalui peningkatan transparansi, akuntabilitas serta efisiensi dan efektivitas pelayanan. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM)
Sasaran Strategis 6 : Meningkatnya ketahanan industri melalui pemberian fasilitasi
Beberapa negara di kawasan Asia dan Eropa menghendaki adanya perjanjian liberalisasi perdagangan yang lebih maju daripada perjanjian multilateral maupun regional dengan Indonesia. Untuk itu, lahirlah berbagai kesepakatan FTA dengan Indonesia baik yang telah diberlakukan seperti Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) sejak tahun 2008, maupun yang sedang dalam proses negosiasi seperti Indonesia-EFTA Comprehensive Partnership Agreement (IE-CEPA), Indonesia-Australia CEPA, Indonesia- India CECA, Indonesia-Korea CEPA, serta Indonesia-EU CEPA. Konsekuensi dari adanya berbagai perjanjian liberalisasi perdagangan tersebut adalah semakin berkurangnya instrumen perlindungan, baik yang bersifat tarif maupun non-tarif, bagi pengembangan, ketahanan maupun daya saing industri di dalam negeri. Dalam rangka mengatasi dampak dari liberalisasi perdagangan tersebut, Kementerian Perindustrian memberikan fasilitasi kepada pelaku usaha industri agar dapat bertahan, tumbuh dan berkembang. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jumlah perusahaan industri yang diadvokasi dan didampingi dalam penanganan kasus;
2) Jumlah kerjasama internasional bidang industri.
Sasaran Strategis 7 : Meningkatnya ketersediaan infrastruktur industri untuk mendukung pertumbuhan industri nasional
Pembangunan infrastruktur industri dimaksudkan untuk menjamin tersedianya sarana dan prasarana pendukung kegiatan industri yang efisien dan efektif. Infrastruktur yang diperlukan oleh industri, baik yang berada di dalam dan/atau di luar Kawasan Peruntukan Industri, meliputi energi dan lahan kawasan industri. Penyediaan infrastruktur industri dilakukan melalui koordinasi antar kementerian/lembaga, pembangunan dan pengembangan infrastruktur industri, dan fasilitasi penyediaan infrastruktur industri.
Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jumlah kawasan industri yang dibangun dan beroperasi;
2) Jumlah sentra IKM yang dibangun dan beroperasi
Sasaran Strategis 8 : Tumbuhnya industri strategis berbasis sumber daya alam (nikel, tembaga, migas)
Industri strategis adalah Industri prioritas yang memenuhi kebutuhan yang penting bagi kesejahteraan rakyat atau menguasai hajat hidup orang banyak; meningkatkan atau menghasilkan nilai tambah sumber daya alam strategis; atau mempunyai kaitan dengan kepentingan pertahanan serta keamanan negara. Pembangunan industri strategis dilakukan melalui fasilitasi penyediaan pendanaan yang dibutuhkan untuk membangun industri strategis. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jumlah industri strategis yang dibangun
Sasaran Strategis 9 : Meningkatnya kompetensi tenaga kerja industri melalui pendidikan dan pelatihan
Ketersediaan tenaga kerja yang kompeten merupakan prasyarat terwujudnya industri nasional yang mandiri, maju, dan berdaya saing. Saat ini, kondisi tenaga kerja Indonesia masih menghadapi permasalahan tingkat kompetensi dan produktivitas kerja yang rendah. Sementara itu tantangan perkembangan ekonomi internasional tidak lagi terbatas pada perdagangan komoditi tetapi akan segera memasuki pasar bebas tenaga kerja yang akan diberlakukan di regional ASEAN pada akhir tahun 2015 dengan terbentuknya
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Untuk itu, pembangunan tenaga kerja industri kompeten menjadi kebutuhan mendesak yang dilakukan melalui pendidikan vokasi, pendidikan dan pelatihan, pemagangan, serta didukung dengan pemberlakuan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jumlah SKKNI, LSP dan TUK yang terbentuk;
2) Jumlah tenaga kerja industri yang bersertifikat kompetensi.
Sasaran Strategis 10 : Meningkatnya ketersediaan lembaga pendidikan dan pelatihan bagi SDM industri
Kegiatan pembangunan SDM industri difokuskan pada rencana pembangunan tenaga kerja industri. Pembangunan tenaga kerja industri bertujuan untuk menyiapkan tenaga kerja Industri kompeten yang siap kerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan industri dan/atau perusahaan kawasan industri, meningkatkan produktivitas tenaga kerja Industri, meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor Industri serta memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi tenaga kerja Industri. Untuk mewujudkan tenaga kerja industri yang berbasis kompetensi maka dibutuhkan Lembaga Pendidikan atau akademi komunitas bidang industri berbasis kompetensi. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jumlah lembaga pendidikan dan pelatihan industri yang berbasis kompetensi.
Sasaran Strategis 11 : Meningkatnya ketersediaan data sektor industri melalui penyelenggaraan sistem informasi industri nasional
Penyelenggaraan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) bertujuan untuk menjamin ketersediaan, kualitas, kerahasiaan dan akses terhadap data dan/atau informasi, mempercepat pengumpulan, penyampaian/pengadaan, pengolahan/ pemrosesan, analisis, penyimpanan, dan penyajian, termasuk penyebarluasan data dan/atau informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu, dan mewujudkan penyelenggaraan Sistem Informasi Industri Nasional yang meningkatkan efisiensi dan efektivitas, inovasi, dan pelayanan publik, dalam mendukung pembangunan Industri nasional. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jenis modul yang tersedia pada Sistem Informasi Industri Nasional;
2) Jenis data yang tersedia pada Sistem Informasi Industri Nasional;
3) Jenis informasi yang tersedia pada Sistem Informasi Industri Nasional.
c. Perspektif Pembelajaran Organisasi
Sasaran Strategis 1 : Meningkatnya penerapan sistem informasi dan teknologi dalam pelaksanaan tugas
Penerapan sistem informasi dan teknologi di lingkungan Kementerian Perindustrian bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi satuan kerja dalam pelaksanaan tugas dan fungsi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Tersusunnya Rencana Induk pengembangan teknologi informasi dan komunikasi Kementerian Perindustrian;
2) Tersedianya data center yang handal
Sasaran Strategis 2 : Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan tugas dan fungsi
Agar pelaksanaan tugas dan fungsi pegawai dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan sarana dan prasarana kerja yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Tingkat pemenuhan sarana dan prasarana kerja
Sasaran Strategis 3 : Meningkatnya kualitas perencanaan dan penganggaran Peningkatan kualitas perencanaan dan penganggaran di lingkungan Kementerian diharapkan dapat menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan dengan memperhatikan penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkeadilan. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Tingkat keseuaian rencana kegiatan dengan dokumen perencanaan.
Sasaran Strategis 4 : Meningkatnya kualitas pelaporan pelaksanaan kegiatan dan anggaran
Pemerintah melalui Instruksi Presiden No. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) sebagai tindak lanjut Tap MPR RI dan Undang-Undang tersebut, mewajibkan tiap pimpinan Departemen/ Lembaga Pemerintahan Non Departemen, Pemerintah Daerah, Satuan Kerja atau Unit Kerja di dalamnya, membuat laporan akuntabilitas kinerja secara berjenjang serta berkala untuk disampaikan kepada
atasannya. Laporan akuntabilitas kinerja merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban dari pelaksanaan kegiatan dan anggaran dalam rangka mewujudkan tata kepemerintahan yang baik (Good Governance). Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Tingkat ketepatan waktu penyampaian laporan;
2) Nilai SAKIP Kementerian Perindustrian
Sasaran Strategis 5 : Meningkatnya transparansi, akuntabilitas, dan kualitas tata kelola keuangan
Undang-Undang no 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara menuntut adanya transparansi dan akuntabilitas dalam keuangan publik. Laporan keuangan memang merupakan salah satu hasil dari transparansi dan akuntabilitas keuangan publik. Dan ini berarti laporan keuangan yang disusun pun harus memenuhi syarat akuntabilitas dan transparansi. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Tingkat kualitas laporan keuangan
Sasaran Strategis 6 : Meningkatnya efektivitas penerapan sistem pengendalian internal
Penerapan SPIP di lingkungan instansi pemerintah akan mendorong terciptanya reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintah yang baik. Hal ini dikarenakan SPIP mempunyai 4 tujuan yang ingin dicapai yaitu (1) Kegiatan yang efektif dan efisien, (2) Laporan keuangan yang dapat diandalkan, (3) Pengamanan aset negara, dan (4) Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jumlah satker yang melaksanakan sistem pengendalian internal
Sasaran Strategis 7 : Meningkatnya implementasi kebijakan industri melalui monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan
Monitoring dan evaluasi dari implementasi pelaksanaan kebijakan bertujuan untuk memberikan informasi yg valid ttg kinerja kebijakan, program & kegiatan yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai dan kesempatan telah berhasil dicapai serta langkah-langkah perbaikan apa yang perlu dilakukan. Indikator kinerja utama (IKU) dari sasaran ini adalah:
1) Jumlah rekomendasi perbaikan kebijakan industri.
Adapun hubungan tujuan dan sasaran strategis berdasarkan masing-masing perspektif dapat digambarkan pada peta strategis Kementerian Perindustrian berikut.
PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN
PERSPEKTIF
PROSES INTERNAL
PERSPEKTIF PEMBELAJARAN ORGANISASI
Gambar 1.2. Peta Strategis Kementerian Perindustrian 2015-2019 Terbangunnya industri yang
tangguh dan berdaya saing
Meningkatnya peran IKM dalam perekonomian
nasional
Meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor
Industri
Menguatnya struktur industri
Meningkatnya Penyebaran dan Pemerataan Industri
Meningkatnya pengembangan inovasi &
penguasaan teknologi 3
4
5
6
7
Meningkatnya penguasaan pasar dalam dan luar
negeri Meningkatnya peran
industri dalam perekonomian nasional 1
2
PERUMUSAN KEBIJAKAN PELAYANAN DAN FASILITASI PELAKSANAAN TEKNIS
1. Tersusunnya kebijakan pembangunan industri searah dengan ideologi TRISAKTI dan Agenda Prioritas Presiden (NAWA CITA)
2. Meningkatnya daya saing industri melalui pengembangan standardisasi industri
3. Meningkatnya investasi sektor industri melalui fasilitasi pemberian insentif fiskal dan non-fiskal
4. Meningkatnya penggunaan produk dalam negeri
INFRASTRUKTUR
5. Meningkatnya kualitas pelayanan dan informasi publik 6. Meningkatnya ketahanan industri melalui pemberian
fasilitasi
7. Meningkatnya ketersediaan infrastruktur industri untuk mendukung pertumbuhan industri nasional
8. Tumbuhnya industri strategis berbasis sumber daya alam (nikel, tembaga, migas)
9. Meningkatnya kompetensi tenaga kerja industri melalui pendidikan dan pelatihan
10. Meningkatnya ketersediaan lembaga pendidikan dan pelatihan bagi SDM Industri
11. Meningkatnya ketersediaan data sektor industri melalui penyelenggaraan sistem informasi industri nasional
PERENCANAAN DAN PELAPORAN AKUNTABILITAS
5. Meningkatnya transparansi, akuntabilitas, dan kualitas tata kelola keuangan
6. Meningkatnya efektivitas penerapan sistem pengendalian internal
7. Meningkatnya implementasi kebijakan industri melalui monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan 1. Meningkatnya penerapan sistem informasi dan teknologi
dalam pelaksanan tugas dan fungsi
2. Meningkatnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan tugas dan fungsi
3. Meningkatnya kualitas perencanaan dan penganggaran 4. Meningkatnya kualitas pelaporan pelaksanaan kegiatan dan
anggaran
BAB II PERENCANAAN KINERJA
A. Perencanaan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016
Perencanaan kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2016 disusun melalui 2 (dua) tahapan perencanaan, yaitu tahapan penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2016 dan tahapan penyusunan Perjanjian Kinerja (Perkin) Tahun 2016. Sesuai dengan pedoman penyusunan dokumen akuntabilitas kinerja di lingkungan Kementerian Perindustrian, dokumen RKT Kementerian Perindustrian Tahun 2016 disusun pada tahun 2015 dan dokumen Penetapan Kinerja (Perkin) Tahun 2016 ditetapkan pada awal tahun anggaran 2016.
Berdasarkan dokumen RKT yang telah disusun dan dengan mempertimbangkan dinamika kebijakan, perencanaan dan penganggaran, diantaranya ditetapkannya Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2015-2019 dan Indikator Kinerja Utama tingkat Kementerian dan unit eselon I di Lingkungan Kementerian Perindustrian maka ditetapkan target kinerja yang akan dicapai Kementerian Perindustrian pada tahun 2016 sebagaimana tertuang dalam dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016.
Tabel 2.1 Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016
No Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Utama (IKU) Satuan Target
Perspektif Pemangku Kepentingan 1 Meningkatnya peran
industri dalam
perekonomian nasional
1. Laju pertumbuhan PDB industri pengolahan non-migas
Persen 5,7
2. Kontribusi PDB industri pengolahan non-migas terhadap PDB nasional
Persen 18,5 2 Meningkatnya penguasaan
pasar di dalam dan luar negeri
1. Kontribusi ekspor produk industri pengolahan non-migas terhadap ekspor nasional
Persen 67,8
3 Meningkatnya penyebaran dan pemerataan industri
1. Persentase nilai tambah sektor industri di luar pulau jawa terhadap total nilai tambah sektor industri
Persen 28,1
2. Persentase jumlah unit usaha industri besar sedang di luar pulau jawa terhadap total populasi industri besar sedang nasional
Persen 21,4
No Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Utama (IKU) Satuan Target
4 Meningkatnya peran IKM dalam perekonomian nasional
1. Pertumbuhan jumlah unit usaha IKM Persen 1 2. Penyerapan tenaga kerja IKM juta orang 12,24 5 Meningkatnya
pengembangan inovasi dan penguasaan teknologi
1. Meningkatnya penguasaan teknologi industri, pengembangan inovasi dan penerapan Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Persen 20
6 Meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri
1. Jumlah penyerapan tenaga kerja di sektor industri
juta orang 15,4
7 Menguatnya struktur industri
1. Rasio impor bahan baku, bahan penolong dan barang modal terhadap PDB industri non-migas
Persen 39,4
Perspektif Proses Bisnis 1 Tersusunnya pembangunan
industri dengan ideologi TRISAKTI dan Agenda Prioritas Presiden (NAWA CITA)
1. Tersusunnya Peraturan Perundang- undangan
PP/Perpres/
Permen
11
2 Meningkatnya daya saing industri melalui
pengembangan standardisasi industri
1. Jumlah Rancangan Standar Nasional Indonesia
RSNI 100
2. Jumlah regulasi teknis pemberlakuan SNI, ST dan/atau PTC secara wajib
Regulasi 10
3. Jumlah lembaga penilaian
kesesuaian bagi pemberlakuan SNI, ST dan PTC secara wajib
LSPro 2
Lab.
Uji/Lembaga Inspeksi/Lab
Kalibrasi
3
3 Meningkatnya investasi sektor industri melalui fasilitasi pemberian insentif fiskal dan non-fiskal
1. Nilai investasi di sektor industri Rp. Triliun
305,6
4 Meningkatnya penggunaan produk dalam negeri
1. Produk industri yang tersertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri
Sertifikat 1000
5 Meningkatnya kualitas pelayanan dan informasi publik
1. Indeks Kepuasan Masyarakat IKM 3,2
6 Meningkatnya ketahanan industri melalui pemberian fasilitasi
1. Jumlah perusahaan industri yang diadvokasi dan didampingi dalam penanganan kasus
Kasus 4
2. Jumlah kerjasama internasional bidang industri
Dokumen Kerjasama
8
No Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Utama (IKU) Satuan Target
7 Meningkatnya ketersediaan infrastruktur industri untuk mendukung pertumbuhan industri nasional
1. Jumlah kawasan industri di luar pulau jawa yang difasilitasi dan dibangun infrastruktur
pendukungnya
Kawasan Industri
14
2. Jumlah sentra IKM di luar pulau jawa yang dibangun dan beroperasi
Sentra 4
8 Tumbuhnya industri strategis berbasis sumber daya alam (nikel, tembaga, migas)
1. Jumlah industri strategis yang
dibangun Perusahaan 1
9 Meningkatnya kompetensi tenaga kerja industri melalui pendidikan dan pelatihan
1. Jumlah SKKNI, LSP dan TUK yang terbentuk
SKKNI 20
LSP / TUK 15 2. Jumlah tenaga kerja industri yang
bersertifikat kompetensi
Orang 15,200
10 Meningkatnya ketersediaan lembaga pendidikan dan pelatihan bagi SDM Industri
1. Jumlah lembaga pendidikan dan pelatihan industri yang berbasis kompetensi
Unit 19
11 Meningkatnya ketersediaan data sektor industri melalui penyelenggaraan sistem informasi industri nasional
1. Jenis Modul yang tersedia pada Sistem Informasi Industri Nasional
Modul 1
2. Jenis Data yang tersedia pada Sistem Informasi Industri Nasional
Database 6
3. Jenis Informasi yang tersedia pada Sistem Informasi Industri Nasional
Jenis informasi
8
Dalam dokumen perjanjian kinerja tersebut di atas, terdapat beberapa target yang mengalami perubahan apabila dibandingkan dengan target-target yang ada pada Rencana Strategis dan IKU Kementerian serta Eselon I di lingkungan Kementerian Perindustrian Tahun 2015-2019. Namun demikian, perubahan target hanya terjadi pada sasaran strategis perspektif pemangku kepentingan. Hal ini dapat dipahami mengingat indikator yang ada pada sasaran strategis tersebut merupakan indikator yang sangat berhubungan dengan kondisi perekonomian nasional, bahkan global. Penentuan target dalam dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016 berdasarkan hasil dari evaluasi dan analisis kinerja sebagaimana tertuang dalam Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2015.
B. Dukungan Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2016
Dalam rangka mencapai tujuan, sasaran strategis dan Indikator Kinerja Utama yang telah ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016, dukungan anggaran berdasarkan program sebagaimana tertuang pada tabel 2.2. berikut.
Tabel 2.2. Pagu Awal Kementerian Perindustrian Tahun 2016
No. Program Pagu 2016
(Rp.000) 1. Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Kimia, Tekstil dan
Aneka 205.704.000
2. Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Berbasis Agro 251.423.000
3. Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Logam, Mesin, Alat
Transportasi dan Elektronika 190.956.000
4. Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Kecil dan
Menengah 432.868.000
5. Program Percepatan Penyebaran dan Pemerataan Pembangunan
Industri 513.493.000
6. Program Peningkatan Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri
Internasional 58.475.000
7. Program Pengembangan Teknologi dan Kebijakan Industri 582.876.027
8. Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur
Kemenperin 49.569.000
9. Program Pengembangan SDM Industri dan Dukungan Manajemen
Kementerian Perindustrian 955.404.715
10. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian
Perindustrian 15.923.000
Total 3.256.691.742
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
A. Capaian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016
Capaian kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2016 merupakan pencapaian kinerja seluruh jajaran Kementerian Perindustrian dalam melakukan berbagai upaya melalui program dan kegiatan guna mencapai target yang telah ditetapkan pada tahun 2016.
Capaian kinerja yang disampaikan bukan hanya menguraikan capaian kinerja sebagaimana yang telah ditetapkan sebagai kontrak kinerja Menteri Perindustrian dalam dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016, namun juga menguraikan capaian kinerja lain, yaitu kinerja makro sektor industri, kinerja program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta capaian prestasi Kementerian Perindustrian dan kinerja keuangan.
Analisis pencapaian dilengkapi dengan pembandingan capaian dengan tahun sebelumnya serta dengan kinerja lainnya. Namun, terdapat beberapa sasaran strategis maupun indikator kinerja utama yang tidak dapat diperbandingkan. Hal ini dikarenakan pada tahun sebelumnya tidak ditetapkan sebagai sasaran strategis atau indikator kinerja utama, serta dikarenakan ketidaktersediaan data. Perubahan sasaran strategis dan indikator kinerja utama ini merupakan wujud dari pemanfaatan laporan kinerja dalam mengevaluasi sasaran dan indikator yang telah ditetapkan. Berikutnya akan disajikan capaian kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016.
1. Kinerja Sasaran Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2016
Perjanjian kinerja (Perkin) merupakan dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/ kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Perkin merupakan bentuk komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi dan wewenang serta sumber daya yang tersedia. Capaian kinerja Perkin yang akan disampaikan pada laporan ini meliputi Perkin berdasarkan perspektif pemangku kepentingan dan perkin berdasarkan perspektif proses internal.
Berikut adalah capaian kinerja Perkin berdasarkan perspektif pemangku kepentingan.
Sasaran Strategis 1 : Meningkatnya Peran Industri Dalam Perekonomian Nasional.
Meningkatnya peran industri di dalam perekonomian nasional diindikasikan dengan laju pertumbuhan PDB industri pengolahan non-migas yang diharapkan tumbuh di atas pertumbuhan PDB nasional serta meningkatnya kontribusi PDB pengolahan non-migas terhadap PDB nasional. Sasaran strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama:
1. Laju pertumbuhan PDB industri pengolahan non-migas dengan target tahun 2016 sebesar 5,7.
2. Kontribusi PDB industri pengolahan non-migas terhadap PDB Nasional dengan target tahun 2016 sebesar 18,5.
Laju pertumbuhan PDB industri pengolahan non-migas, diukur melalui penghitungan pertumbuhan nilai tambah dihitung dengan melihat tingkat pertumbuhan sektor industri non migas sesuai data dari BPS. Bila ditemukan ada nilai tambah yang menggabungkan industri dari direktorat yang berbeda, lakukan kesepakatan untuk membagi nilai tambah tersebut (gunakan sampai 5 digit nilai ISIC).
Kontribusi PDB industri manufaktur terhadap PDB nasional, diukur melalui penghitungan besaran persentase kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB Nasional (diperoleh dari nilai ISIC number kepala 3) – agregasi dari 3 unit sektoral. Berikut adalah target, realisasi dan capaian IKU untuk sasaran strategis dimaksud.
Tabel 3.1. Target dan Realisasi IKU dari Meningkatnya Peran Industri Dalam Perekonomian Nasional
Sasaran
Strategis IKU
2014 2015 2016
Satuan
T R C (%) T R C (%) T R C (%)
Meningkatnya Peran Industri Dalam Perekonomian Nasional
Laju pertumbuhan PDB industri pengolahan non- migas
6,8 5,61 82,50 6 5,04 84 5,7 4,42 77,54 Persen
Kontribusi PDB industri
pengolahan non- migas terhadap PDB nasional
21,07 17,87 84,81 20,8 18,18 87,4 18,5 18,2 98,37 Persen
Sumber: BPS, diolah Kemenperin
Keterangan: T= target, R= realisasi, C= capaian