• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022

N/A
N/A
Ajib Haryanto

Academic year: 2024

Membagikan " Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KINERJA

2022

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN

(2)

Nomor :

B/8/M-IND/PR/II/2023

Jakarta,

28

Februari 2023 Lampiran 1 (satu) berkas

Perihal Laporan Kinerja

Kementerian Perindustrian 2022

Yth.

1. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rl 2. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Bappenas Rl

3. Menteri Keuangan Rl di

Tempat

Menindaklanjuti Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah serta Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, bersama ini kami sampaikan Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022.

Laporan Kinerja ini memberikan informasi pencapaian sasaran strategis beserta indikator kinerjanya sebagaimana telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022 serta capaian kinerja lainnya.

Demikian, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.

MENTERI PERINDUSTRIAN

IWANG KARTASASMITA

(3)

Perindustrian

REPUBLIK INDONESIA

T e lp : 5255509

PERNYATAAN TELAH DIREVIU KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN

TAHUN ANGGARAN 2022

Kami telah mereviu Laporan Kinerja instansi pemerintah Kementerian Perindustrian untuk tahun anggaran 2022 sesuai Pedoman Reviu atas Laporan Kinerja. Substansi informasi yang dimuat dalam Laporan Kinerja menjadi tanggung jawab manajemen Kementerian Perindustrian.

Reviu Bertujuan untuk memberikan keyakinan terbatas laporan kinerja telah disajikan secara akurat, andal, dan valid.

Berdasarkan reviu kami, tidak terdapat kondisi atau hal-hal yang menimbulkan perbedaan dalam meyakini keandalan informasi yang disajikan di dalam laporan kinerja ini.

Jakarta, 22 Februari 2023

NIP. 196606231995031001

(4)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Sejalan dengan visi Presiden dalam RPJMN 2020-2024, Kementerian Perindustrian telah menetapkan visi Renstra Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024 yaitu Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong. Pencapaian visi tersebut dijabarkan melalui misi, tujuan dan sasaran yang akan dicapai pada tahun 2022 dan tercantum dalam Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022.

Secara garis besar Kementerian Perindustrian telah berhasil melaksanakan tugas, fungsi dan misi yang diembannya dalam pencapaian kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2022. Sebagian besar sasaran yang ditetapkan dapat dicapai, meskipun ada beberapa sasaran tidak menunjukkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Keberhasilan pencapaian sasaran Kementerian Perindustrian disamping ditentukan oleh kinerja faktor internal juga ditentukan oleh dukungan eksternal, seperti kerjasama dengan Kementerian/Lembaga terkait.

Pada tahun 2022, pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas mengalami peningkatan dari tahun 2021 menjadi sebesar 5,01 persen yang dicapai berkat berbagai kebijakan strategis yang telah dikeluarkan pemerintah untuk mendongkrak produktivitas sekaligus menciptakan iklim usaha kondusif.

Sektor industri pengolahan nonmigas masih menjadi kontributor terbesar pada struktur produk domestik bruto (PDB) nasional tahun 2022 atau kontribusi sebesar 16,48 persen dari PDB Nasional. Ekspor industri pengolahan nonmigas memberikan kontribusi sebesar 70,67 persen dari total ekspor nasional tahun 2022, dengan nilai ekspor industri pengolahan nonmigas sebesar US$206,35 miliar. Nilai ekspor produk industri pengolahan nonmigas tahun 2022 meningkat 16,45 persen dari tahun 2022. Langkah- langkah kebijakan strategis Kementerian Perindustrian adalah penguatan implementasi Making Indonesia 4.0, peningkatan kemampuan industri barang dan jasa serta industri halal dalam negeri, penguatan Kewirausahaan dan Industri Kecil dan Menengah (IKM), diversifikasi industri unggulan untuk ekspor, membuka pasar-pasar baru untuk produk industri, serta mendorong investasi pabrik-pabrik komponen di negara-negara target ekspor baru, perundingan internasional, diseminasi, sosialisasi FTA (Free Trade Agreement), serta kerja sama dengan stakeholder terkait, dalam berbagai forum kerja sama baik dalam lingkup wilayah kerja sama bilateral, regional, maupun multilateral.

Terkait peningkatan kinerja kelembagaan, Kementerian Perindustrian telah menerapkan nilai dan budaya kerja sebagai bentuk pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Kementerian Perindustrian juga berhasil memperoleh predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama 14 kali berturut-turut sejak tahun 2008-2022 dan mendapatkan penghargaan Capaian Standar Tertinggi laporan keuangan Kementerian/Lembaga oleh BPK atas audit Laporan Keuangan sebanyak 2 (dua) kali.

Kementerian Perindustrian berhasil meraih penghargaan unit kerja pelayanan publik dengan predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) untuk 5 satuan kerja, yakni Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Keramik dan Mineral Non Logam Bandung, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Pekanbaru, Sekolah Menengah Kejuruan-SMAK Makassar, Balai Diklat Industri Makassar, dan Sekolah Menengah Kejuruan-SMTI Makassar. Selain WBK, Kementerian Perindustrian juga memperoleh 1 penghargaan dengan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yakni

(5)

Politeknik STTT Bandung. Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian PANRB pada acara Penganugerahan Bersama Pelayanan Publik dan Reformasi Birokrasi pada 6 Desember 2022 di Jakarta, yang merupakan bentuk apresiasi pemerintah terhadap upaya dan komitmen yang kuat setiap instansi pemerintah dalam melakukan pemberantasan korupsi di instansinya terutama melalui upaya pencegahan.

Pada sisi pengelolaan anggaran, Kementerian Perindustrian telah merealisasikan penyerapan DIPA TA 2022 sebesar 98,13% dari total pagu sebesar Rp2.634.300.226.000,-. Kualitas pemanfaatan anggaran tidak direfleksikan hanya dengan realisasi anggaran, namun juga memperhitungkan ketercapaian output serta upaya efisiensi penyerapannya. Pemanfaatan anggaran harus memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.

(6)

KATA PENGANTAR

Perindustrian

REPUBLIK INDONESIA

Dalam rangka mewujudkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan kinerja dan anggaran, Kementerian Perindustrian menyusun Laporan Kinerja Tahun 2022 yang menguraikan perjanjian kinerja yang telah ditetapkan, pencapaian atas kinerja, dan realisasi anggaran.

Berdasarkan hasil evaluasi kinerja tahun 2022, Kementerian Perindustrian telah mencapai hampir seluruh target IKU yang telah ditetapkan. Salah satu pencapaian kinerja yang membanggakan yaitu kualitas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga yang mendapat penghargaan Capaian Standar Tertinggi sebanyak 2 kali dan capaian WTP selama 14 tahun berturut-turut.

Berbagai pencapaian kinerja tahun 2022 tidak terlepas dari peningkatan sum ber daya internal Kementerian Perindustrian secara konsisten. Beberapa hal yang telah dilakukan antara lain peningkatan kompetensi SDM, penataan organisasi, pengembangan teknologi informasi, dan pengelolaan program dan anggaran yang berkualitas.

Selain itu, saya mengapresiasi seluruh pihak eksternal yang telah bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian baik dari Kementerian/Lembaga, Dewan Perwakilan Rakyat, maupun seluruh masyarakat yang kerap bersentuhan dengan Kementerian Perindustrian.

Akhir kata, semoga Laporan Kinerja ini dapat bermanfaat sebagai bentuk pertanggungjawaban Kementerian Perindustrian dan umpan balik bagi organisasi untuk mendorong peningkatan kinerja.

Jakarta, 28 Februari 2023 MENTERI PERINDUSTRIAN

AGUS GUMIWANG KARTASASMITA

(7)

DAFTAR ISI

RINGKASAN EKSEKUTIF ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ...v

DAFTAR GAMBAR ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Tugas dan Fungsi Kementerian Perindustrian ... 1

B. Peran Strategis Kementerian Perindustrian... 2

C. Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian ... 2

D. Rencana Strategis Kementerian Perindustrian ... 6

1. Visi Kementerian Perindustrian ... 6

2. Misi Kementerian Perindustrian ... 7

3. Tujuan Kementerian Perindustrian ... 8

4. Sasaran Strategis Kementerian Perindustrian ... 10

BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 13

A. Perencanaan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 13

B. Dukungan Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 16

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 17

A. Capaian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 17

1. Kinerja Sasaran Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 17

2. Kinerja Prioritas Nasional Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 98

3. Efisiesi Penggunaan Sumber Daya ... 98

4. Prestasi Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 99

B. Realisasi Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 105

BAB IV PENUTUP ... 107

A. Kesimpulan ... 107

B. Kendala dan Permasalahan ... 109

C. Strategi Percepatan Pertumbuhan Industri ... 110

LAMPIRAN ... 10

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Perjanjian Kinerja Kemenperin 2022 ... 13

Tabel 2. 2 Pagu Awal Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 16

Tabel 2. 3 Pagu Akhir Kementerian Perindustrian Tahun 2022 ... 16

Tabel 3. 1 Target dan Realisasi Indikator Tujuan Kementerian Perindustrian ... 18

Tabel 3. 2 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Industri Pengolahan ... 20

Tabel 3. 3 Kontribusi Industri Pengolahan Non Migas Terhadap PDB ... 21

Tabel 3. 4 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Daya Saing dan Kemandirian Industri Pengolahan Nonmigas ... 23

Tabel 3. 5 Tenaga Kerja sektor Industri Pengolahan Nonmigas ... 25

Tabel 3. 6 Persentase tenaga kerja di sektor industri pengolahan nonmigas terhadap total pekerja ... 27

Tabel 3. 7 Produktivitas Tenaga Kerja Sektor Industri... 28

Tabel 3. 8 Nilai Investasi Sektor Industri Pengolahan Nonmigas ... 29

Tabel 3. 9 Utilisasi Sektor Industri... 31

Tabel 3. 10 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0 ... 36

Tabel 3. 11 Perusahaan dengan Nilai INDI 4.0 > 3.0 hingga Tahun 2022 ... 38

Tabel 3. 12 Kontribusi Ekspor Produk Industri Berteknologi Tinggi Tahun 2022 ... 39

Tabel 3. 13 Kegiatan IKM Start Up Berbasis Teknologi ... 41

Tabel 3. 14 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Kemampuan Industri Barang dan Jasa serta Industri Halal Dalam Negeri ... 44

Tabel 3. 15 Capaian Substitusi Impor Kementerian Perindustrian ... 46

Tabel 3. 16 Perbandingan Impor Umum, Impor Kawasan Berikat, Impor Total ... 47

Tabel 3. 17 Perbandingan Impor Umum dan Impor Kawasan Berikat ... 47

Tabel 3. 18 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Penguasaan Pasar Industri ... 55

Tabel 3. 19 Nilai Ekspor Produk Industri Pengolahan Nonmigas per KBLI ... 56

Tabel 3. 20 Kontribusi Ekspor Produk Pengolahan Non Migas per KBLI ... 59

Tabel 3. 21 Tabel 5 Penambahan Jenis Produk Industri Pengolahan Nonmigas yang diekspor... 61

Tabel 3. 22 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Penguatan Kewirausahaan dan Industri Kecil dan Menengah (IKM) ... 63

(9)

Tabel 3. 23 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Persebaran Industri ... 68 Tabel 3. 24 Status IUKI dan Progres 9 (Sembilan) KI Prioritas Nasional 2020 – 2024 ... 70 Tabel 3. 25 Realisasi Pengembangan WPPI dan KPI Tahun 2020 – 2022 ... 74 Tabel 3. 26 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Tersedianya Regulasi Pembangunan Industri yang Efektif ... 77 Tabel 3. 27 Aspek Pengukuran Efektivitas Regulasi ... 77 Tabel 3. 28 Hasil Pengukuran Efektivitas Regulasi ... 78 Tabel 3. 29 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Terselenggaranya Urusan Pemerintahan di Bidang Perindustrian yang Berdaya saing dan Berkelanjutan ... 80 Tabel 3. 30 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Tercapainya Pengawasan Internal yang Efektif dan Efisien ... 84 Tabel 3. 31 Perbandingan Realisasi atas Indikator Kinerja Batas Toleransi Temuan Material Pengawasan Internal antar K/L ... 85 Tabel 3. 32 Perbandingan Target dan Realisasi Indikator Kemenperin dan K/L lainnya ... 86 Tabel 3. 33 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Terwujudnya ASN Kementerian Perindustrian yang Professional dan Berkepribadian ... 87 Tabel 3. 34 Rata-Rata Indeks Profesionalitas ASN... 88 Tabel 3. 35 Rincian Lulusan Pendidikan dan Pelatihan dengan Predikat Minimal Baik ... 90 Tabel 3. 36 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Terwujudnya Sistem Informasi Industri yang Berkualitas ... 90 Tabel 3. 37 Penyampaian informasi baku secara periodik ... 91 Tabel 3. 38 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Terwujudnya Birokrasi yang Efektif, Efisien, dan Berorientasi pada Layanan Prima ... 92 Tabel 3. 39 Indeks Reformasi Birokrasi Kementerian Perindustrian... 93 Tabel 3. 40 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Tersusunnya Perencanaan Program, Pengelolaan Keuangan serta Pengendalian yang Berkualitas dan Akuntabel ... 95 Tabel 3. 41 Penilaian SAKIP Kementerian 2021... 97 Tabel 3. 43 Realisasi Anggaran Kementerian Perindustrian pada Tahun Anggaran 2022 (dalam Rupiah)

... 105

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian ... 3

Gambar 1. 2 Peta Strategis Kementerian Perindustrian 2020-2024 Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024 ... 9

Gambar 3. 1 Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan Non Migas dengan Pertumbuhan Ekonomi 19 Gambar 3. 2 Kontribusi Sektor Ekonomi terhadap PDB Nasional Tahun 2022 ... 22

Gambar 3. 3 Capaian Subsitusi Impor Kementerian Perindustrian ... 47

Gambar 3. 4 Nilai dan Pertumbuhan Ekspor Industri Pengolahan Nonmigas 2017-2022 ... 57

Gambar 3. 5 Perkembangan Kerjasama Indonesia hingga 2022 ... 62

Gambar 3. 6 Realisasi Nilai Tambah Sektor Industri di Luar Pulau Jawa Tahun 2018 – 2022 ... 75

Gambar 3. 7 Grafik Statistik Pegawai Kemenperin ... 88

Gambar 3. 8 Rata-rata Nilai Reformasi Birokrasi Seluruh K/L Periode 2016-2021 ... 94

Gambar 3. 9 Rata-rata Nilai SAKIP Seluruh K/L Periode 2016-2021... 97

Gambar 3. 10 Penghargaan atas Laporan Keuangan Kemenperin Tahun 2021 dengan predikat WTP .. 99

Gambar 3. 11 Dokumentasi Penyeraahan BMN Award ... 100

Gambar 3. 12 Dokumentasi Penyerahan Penghargaan WBK dan WBBM ... 101

Gambar 3. 13 Penyerahan SNI Award 2022 ... 102

Gambar 3. 14 Dokumentasi Penyerahan Anugerah keterbukaan informasi publik ... 102

Gambar 3. 15 Penghargaan Unit Penyelenggara Pelayanan Publik ... 103

Gambar 3. 16 Penghargaan Menerapkan Sistem Merit ... 104

Gambar 3. 17 Grafik Perbandigan Pagu Anggaran dan Realisasi tahun 2020 - 2022 ... 105

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Tugas dan Fungsi Kementerian Perindustrian

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 107 Tahun 2020 tentang Kementerian Perindustrian, Kementerian Perindustrian berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kementerian Perindustrian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kementerian Perindustrian menyelenggarakan fungsi:

1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan industri, pengembangan perwilayahan industri, pengamanan dan penyelamatan industri, peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan usaha industri dan kegiatan kawasan industri;

2. Pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan industri, pengembangan perwilayahan industri, pengamanan dan penyelamatan industri, peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan usaha industri dan kegiatan kawasan industri;

3. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Perindustrian di daerah;

4. Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian;

5. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Perindustrian;

6. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Perindustrian;

7. Pelaksanaan koordinasi, perumusan, penerapan, pemberlakuan, dan pengawasan standardisasi industri, optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, penguatan industri hijau, dan penyusunan rekomendasi kebijakan jasa industri;

8. Pelaksanaan pembangunan sumber daya manusia industri; dan

9. Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian.

(12)

B. Peran Strategis Kementerian Perindustrian

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tugas Kementerian Perindustrian adalah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, peran Kementerian Perindustrian sangatlah strategis dalam pengembangan industri di Indonesia.

Peran strategis industri dalam pembangunan ekonomi nasional tercermin dari dampak kegiatan ekonomi sektor riil bidang industri dalam komponen konsumsi maupun investasi. Sektor industri berperan sebagai pemicu kegiatan ekonomi lain yang berdampak ekspansif atau meluas ke berbagai sektor jasa keteknikan, penyediaan bahan baku, transportasi, distribusi atau perdagangan, pariwisata dan sebagainya. Pembangunan sektor industri menjadi sangat penting karena kontribusinya terhadap pencapaian sasaran pembangunan ekonomi nasional, terutama dalam pembentukan PDB sangat besar dan berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi (prime mover) karena kemampuannya dalam peningkatan nilai tambah yang tinggi.

Selain itu, sektor industri dapat membuka peluang baru dalam menciptakan dan memperluas lapangan kerja. Hal ini berarti meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mengurangi tingkat kemiskinan.

C. Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 7 Tahun 2021 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perindustrian secara resmi telah diterbitkan pada tanggal 23 Februari 2021.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian tersebut, Kementerian Perindustrian dipimpin oleh Menteri Perindustrian dan terdiri atas :

a. Sekretariat Jenderal;

b. Direktorat Jenderal Industri Agro;

c. Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil;

d. Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika;

e. Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka;

f. Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional;

g. Inspektorat Jenderal;

h. Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri;

i. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri;

j. Staf Ahli Bidang Pendalaman, Penyebaran, dan Pemerataan Industri;

k. Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Investasi;

l. Staf Ahli Bidang Penguatan Kemampuan Industri Dalam Negeri;

m. Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0;

n. Pusat Data dan Informasi;

o. Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri; dan p. Pusat Pemberdayaan Industri Halal.

(13)

Struktur organisasi Kementerian Perindustrian, dapat dilihat pada Gambar 1. 1 di bawah ini:

Adapun tugas dan fungsi masing-masing unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian adalah sebagai berikut:

1. Sekretariat Jenderal

Sekretariat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian. Sekretariat Jenderal terdiri atas Biro Perencanaan; Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia; Biro Keuangan; Biro Hukum; Biro Hubungan Masyarakat; dan Biro Umum.

2. Direktorat Jenderal Industri Agro

Direktorat Jenderal Industri Agro mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, rencana pemanfaatan sumber daya alam bagi industri, pembinaan industri hijau dan industri strategis, pembinaan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perencanaan dan pembinaan standardisasi industri, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha industri pada industri hasil hutan dan perkebunan, industri makanan, hasil laut, dan perikanan, dan industri minuman dan tembakau. Direktorat Jenderal Industri Agro terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal;

Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan; Direktorat Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan; dan Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar.

3. Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil

Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, rencana pemanfaatan sumber daya alam

Gambar 1. 1 Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian

(14)

bagi industri, pembinaan industri hijau dan industri strategis, pembinaan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perencanaan dan pembinaan standardisasi industri, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha industri pada industri kimia hulu, industri kimia hilir, industri farmasi, industri semen, industri keramik, dan industri pengelolaan bahan galian non logam, serta industri tekstil, industri kulit, dan industri alas kaki. Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Kimia Hulu; Direktorat Industri Kimia Hilir dan Farmasi; Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam; dan Direktorat Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki.

4. Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Dan Elektronika

Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, rencana pemanfaatan sumber daya alam bagi industri, pembinaan industri hijau dan industri strategis, pembinaan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perencanaan dan pembinaan standardisasi industri, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha industri pada industri logam, industri mesin, industri alat transportasi dan maritim, serta industri elektronika dan telematika. Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Logam; Direktorat Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian; Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan; dan Direktorat Industri Elektronika dan Telematika.

5. Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka

Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, rencana pemanfaatan sumber daya alam bagi industri, pembinaan industri hijau dan industri strategis, pembinaan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perencanaan dan pembinaan standardisasi industri, pembinaan jasa industri, serta pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha industri pada industri kecil, industri menengah, dan industri aneka, serta penguatan kapasitas kelembagaan pada industri kecil dan industri menengah. Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Kecil dan Menengah Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan; Direktorat Industri Aneka dan Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, dan Kerajinan; dan Direktorat Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut.

6. Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional

Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengamanan dan penyelamatan industri, pengembangan perwilayahan industri, pengembangan akses industri internasional, dan pengawasan dan pengendalian kegiatan kawasan industri. Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Ketahanan dan Iklim Usaha Industri; Direktorat Perwilayahan Industri;

(15)

Direktorat Akses Industri Internasional; dan Direktorat Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional.

7. Inspektorat Jenderal

Inspektorat Jenderal mempunyai tugas Menyelenggarakan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Perindustrian. Inspektorat Jenderal terdiri atas Sekretariat Inspektorat Jenderal;

Inspektorat I; Inspektorat II; Inspektorat III; dan Inspektorat IV.

8. Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri

Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi, perumusan, penerapan, pemberlakuan, dan pengawasan standardisasi industri, optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, penguatan industri hijau, dan penyusunan rekomendasi kebijakan jasa industri. Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri terdiri atas Sekretariat Badan; Pusat Perumusan, Penerapan, dan Pemberlakuan Standardisasi Industri;

Pusat Pengawasan Standardisasi Industri; Pusat Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Industri dan Kebijakan Jasa Industri; dan Pusat Industri Hijau.

9. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri mempunyai tugas menyelenggarakan pembangunan sumber daya manusia industri. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri terdiri dari atas Sekretariat Badan; Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Aparatur; Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Industri; dan Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri. Sekretariat Badan; Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri; dan Pusat Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Industri.

10. Staf Ahli

Staf Ahli berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri dan secara administratif dikoordinasikan oleh Sekretaris Jenderal. Staf Ahli mempunyai tugas memberikan rekomendasi strategis terhadap isu-isu kepada Menteri terkait bidang pendalaman, penyebaran, dan pemerataan industri; iklim usaha dan investasi; penguatan kemampuan industri dalam negeri;

dan percepatan transformasi Industri 4.0. Staf Ahli Menteri terdiri atas Staf Ahli Bidang Pendalaman, Penyebaran, dan Pemerataan Industri; Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Investasi;

Staf Ahli Bidang Penguatan Kemampuan Industri Dalam Negeri; dan Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0.

Di samping itu, untuk menunjang pelaksanaan tugas Kementerian, terdapat 3 (tiga) unit eselon II Pusat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal, yaitu:

1. Pusat Data dan Informasi

Pusat Data dan Informasi yang selanjutnya disebut Pusdatin adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. Pusdatin mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan

(16)

teknis, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang data, informasi, dan sistem informasi.

2. Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN)

Pusat Penggunaan Produk Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Pusat P3DN adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. Pusat P3DN mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, rencana, program, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang peningkatan penggunaan produk dalam negeri.

3. Pusat Pemberdayaan Industri Halal

Pusat Pemberdayaan Industri Halal yang selanjutnya disebut PPIH adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. PPIH mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pemberdayaan industri halal.

D. Rencana Strategis Kementerian Perindustrian

Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perindustrian 2020-2024 dimaksudkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan nasional yang telah diamanatkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020. Dalam penyusunan Renstra Kementerian Perindustrian juga mengacu pada Undang-undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian serta Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015. Selain itu, penyusunan Renstra juga memperhatikan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra Kementerian Perindustrian periode 2015-2019, analisa terhadap dinamika perubahan lingkungan strategis baik tatanan daerah, nasional, maupun di tatanan global, serta perubahan paradigma peningkatan daya saing dan kecenderungan pengembangan industri ke depan.

Berikut adalah visi, misi, tujuan dan sasaran Kementerian Perindustrian sesuai dengan rencana strategis Kementerian Perindustrian 2020-2024 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024.

1. Visi Kementerian Perindustrian

Berdasarkan potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam rangka pembangunan industri nasional ke depan, Kementerian Perindustrian sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Perindustrian dituntut untuk melakukan pengaturan, pembinaan, dan pengembangan perindustrian. Untuk itu, maka disusunlah visi dan misi Pembangunan Industri yang akan dicapai melalui pencapaian tujuan, sasaran strategis, dan pelaksanaan program dan kegiatan utama maupun kegiatan pendukung sebagaimana digambarkan pada peta strategis Kementerian Perindustrian pada Error! Reference source not found.

(17)

Apabila keseluruhan hal dalam peta strategis dapat terpenuhi, maka berarti Kementerian Perindustrian telah mampu berperan dalam mendukung pencapaian visi, misi, sasaran, dan target pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan pada RPJMN 2020–2024, serta mendukung pencapaian tujuan berbangsa dan bernegara sesuai dengan amanat UUD 1945, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Adapun, Visi Kementerian Perindustrian ditetapkan sama dengan visi Presiden dan Wakil Presiden tahun 2020-2024 adalah:

“Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”

Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong apabila dipandang dalam sudut pandang sektor industri yaitu mewujudkan industri tangguh dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri dalam mengelola sumber daya yang ada dengan peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja melalui penambahan lapangan kerja baru serta meningkatnya investasi dan ekspor sektor industri sehingga dapat bersaing dengan negara maju lainnya. Pemanfaatan teknologi dimaksudkan dapat mengelola sumber daya yang ada dengan kekuatan SDM yang kompeten dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang inovatif melalui implementasi Making Indonesia 4.0 untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata.

2. Misi Kementerian Perindustrian

Mengacu berdasarkan visi Presiden dan Wakil Presiden diatas berusaha untuk dicapai melalui 9 (sembilan) misi yang dimandatkan dalam Peraturan Presiden nomor 18 tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024, maka 9 (sembilan) Misi Presiden dan Wakil Presiden yang juga merupakan Misi Kementerian Perindustrian yaitu:

a. Peningkatan kualitas manusia Indonesia;

b. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing;

c. Pembangunan yang merata dan berkeadilan;

d. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan;

e. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa;

f. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya;

g. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga;

h. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya; dan i. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka negara kesatuan.

Berdasarkan visi dan misi tersebut, Kementerian Perindustrian telah menyusun Peta Strategi periode tahun 2020-2024 sebagaimana pada Error! Reference source not found. dibawah.

(18)

3. Tujuan Kementerian Perindustrian

Untuk mewujudkan Visi dan melaksanakan Misi Pembangunan Industri, Kementerian Perindustrian menetapkan tujuan pembangunan industri sampai 5 (lima) tahun ke depan yaitu

“Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional”. Pencapaian tujuan secara khusus akan dipantau melalui pengukuran indikator kinerja tujuan, yaitu:

a. Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan Nonmigas pada tahun 2020 ditargetkan sebesar -2,52%

menjadi sebesar 8,4% pada tahun 2024; dan

b. Kontribusi PDB Industri Pengolahan Nonmigas pada tahun 2020 ditargetkan sebesar 17,89%

menjadi sebesar 18,9% pada tahun 2024.

(19)

Gambar 1. 2 Peta Strategis Kementerian Perindustrian 2020-2024 Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024

(20)

4. Sasaran Strategis Kementerian Perindustrian

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, telah ditetapkan sasaran strategis Kementerian Perindustrian berdasarkan tingkat perspektif pemangku kepentingan (stakeholders perspective), perspektif pelanggan (customer perspective), perspektif proses internal (internal process perspective) dan perspektif pembelajaran organisasi (learning and growth perspective).

a. Perspektif Pemangku Kepentingan (Stakeholders Prespective)

Sasaran Strategis 1: Meningkatnya Daya Saing dan Kemandirian Industri Pengolahan Nonmigas.

Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran strategis ini adalah:

1) Tenaga kerja di sektor industri pengolahan nonmigas;

2) Persentase tenaga kerja di sektor industri pengolahan non migas terhadap total pekerja;

3) Produktivitas tenaga kerja sektor industri nonmigas;

4) Nilai investasi sektor industri pengolahan nonmigas;

5) Utilisasi Sektor Industri;

6) Efisiensi sumber daya industri dalam rangka peningkatan daya saing industri hijau;

7) Persentase lulusan pendidikan vokasi yang mendapatkan pekerjaan dalam 1 tahun setelah kelulusan; dan

8) Lulusan pelatihan vokasi industri berbasis kompetensi.

b. Perspektif Pelanggan (Customer Perspective)

Sasaran Strategis 2: Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Perusahaan dengan nilai Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) ≥ 3.0;

2) Kontribusi ekspor produk industri berteknologi tinggi;

3) Tumbuh dan berkembangnya IKM startup berbasis teknologi;

4) Kemampuan sektor Industri Kecil Menengah melalui penerapan Making Indonesia 4.0; dan 5) SDM Industri 4.0 yang meningkat kompetensinya.

Sasaran Strategis 3: Meningkatnya Kemampuan Industri Barang dan Jasa serta Industri Halal Dalam Negeri. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Persentase nilai capaian penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa Kemenperin;

2) Substitusi Impor Produk Industri Pengolahan Nonmigas;

3) Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (rerata tertimbang);

4) Produk tersertifikasi TKDN ≥ 25% yang masih berlaku;

5) SNI bidang industri yang diterapkan dan diberlakukan;

6) Tingkat efektivitas pelaksanaan promosi dan kampanye industri halal; dan

7) Produktivitas/efisiensi perusahaan industri yang memanfaatkan teknologi industri melalui jasa konsultasi.

(21)

Sasaran Strategis 4: Meningkatnya Penguasaan Pasar Industri. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Nilai ekspor produk industri pengolahan nonmigas;

2) Pertumbuhan ekspor industri pengolahan nonmigas;

3) Kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas terhadap total ekspor;

4) Penambahan jenis produk industri pengolahan nonmigas yang diekspor; dan 5) Rasio impor bahan baku sektor industri terhadap PDB sektor industri nonmigas.

Sasaran Strategis 5: Penguatan Kewirausahaan dan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Proporsi nilai tambah IKM terhadap total nilai tambah industri pengolahan nonmigas;

2) Wirausaha industri kecil yang tumbuh;

3) IKM yang melakukan kemitraan dengan industri besar sedang dan sektor ekonomi lainnya;

dan

4) Proporsi nilai penyaluran pinjaman perbankan kepada IKM.

Sasaran Strategis 6: Meningkatnya Persebaran Industri. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) KI prioritas di luar Jawa yang beroperasi dan meningkatkan investasi;

2) KI yang dikembangkan;

3) KI dengan zona tematik yang beroperasi;

4) Persentase nilai tambah sektor industri yang diciptakan di luar Jawa; dan 5) Sentra industri kecil dan menengah (IKM) di luar Jawa yang beroperasi.

c. Perspektif Proses Internal (Internal Process Perspective)

Sasaran Strategis 7: Tersedianya Regulasi Pembangunan Industri yang Efektif. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Efektivitas regulasi yang ditetapkan di lingkungan Kemenperin; dan

2) Persentase kesesuaian jumlah peraturan perundang-undangan di bidang perindustrian yang ditetapkan dengan program penyusunan peraturan perundang-undangan.

Sasaran Strategis 8: Terselenggaranya Urusan Pemerintahan di Bidang Perindustrian yang Berdaya saing dan Berkelanjutan. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Perusahaan industri menengah besar yang tersertifikasi Standar Industri Hijau (SIH); dan 2) Infrastruktur kompetensi industri.

(22)

Sasaran Strategis 9: Tercapainya Pengawasan Internal yang Efektif dan Efisien. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Batas toleransi temuan pengawasan eksternal;

2) Rekomendasi hasil pengawasan internal telah ditindaklanjuti oleh satker; dan 3) Indeks Penerapan Manajemen Risiko (MRI) Kementerian Perindustrian.

d. Perspektif Pembelajaran Organisasi (Learning and Growth Perspective)

Sasaran Strategis 10: Terwujudnya ASN Kementerian Perindustrian yang Profesional dan Berkepribadian. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Rata-rata Indeks Profesionalitas ASN Kemenperin; dan

2) Persentase lulusan pendidikan dan pelatihan dengan predikat minimal baik.

Sasaran Strategis 11: Terwujudnya Sistem Informasi Industri yang Berkualitas. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Data dan informasi sesuai dengan kebutuhan pengambil keputusan; dan 2) Tingkat ketepatan waktu penyampaian informasi baku secara periodik.

Sasaran Strategis 12: Terwujudnya Birokrasi yang Efektif, Efisien, dan Berorientasi pada Layanan Prima. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Tingkat akuntabilitas laporan keuangan dan BMN;

2) Indeks RB Kementerian Perindustrian.

Sasaran Strategis 13: Tersusunnya Perencanaan Program, Pengelolaan Keuangan serta Pengendalian yang Berkualitas dan Akuntabel. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:

1) Tingkat kesesuaian dokumen perencanaan dengan rencana program dan kegiatan prioritas nasional; dan

2) Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kementerian Perindustrian.

(23)

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. Perencanaan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022

Perencanaan kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2022 disusun melalui 2 (dua) tahapan perencanaan, yaitu tahapan penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2022 dan tahapan penyusunan Perjanjian Kinerja (Perkin) Tahun 2022. Sesuai dengan pedoman penyusunan dokumen akuntabilitas kinerja di lingkungan Kementerian Perindustrian, dokumen RKT Kementerian Perindustrian Tahun 2022 disusun pada tahun 2021 dan dokumen Perjanjian Kinerja (Perkin) Tahun 2022 ditetapkan pada awal tahun anggaran 2022.

Berdasarkan dokumen RKT yang telah disusun dan dengan mempertimbangkan dinamika kebijakan, perencanaan, dan penganggaran, diantaranya penyesuaian target kinerja Renstra Kemenperin Tahun 2020-2024, serta hasil evaluasi Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2021 maka disusun target kinerja yang akan dicapai Kementerian Perindustrian pada tahun 2022.

Tabel 2. 1 Perjanjian Kinerja Kemenperin 2022 TUJUAN

No. Sasaran Tujuan (ST) Indikator Tujuan Target Satuan

Tj Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional

Tj.1 Pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas 5,26 Persen Tj.2 Kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap

PDB

17,95 Persen

PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDERS PERSPECTIVE)

No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Target Satuan

SS1 Meningkatnya Daya Saing dan Kemandirian Industri Pengolahan Nonmigas

S1.1 Tenaga kerja di sektor industri pengolahan nonmigas

20,84 Juta Orang

S1.2 Persentase tenaga kerja di sektor industri pengolahan non migas terhadap total pekerja

14,96 Persen

S1.3 Produktivitas tenaga kerja sektor industri nonmigas

115,77 Rp Juta /orang/

tahun S1.4 Nilai investasi sektor industri pengolahan

nonmigas

334,90 Rp. Triliun

S1.5 Utilisasi Sektor Industri 64,46 Persen

S1.6 Efisiensi sumber daya industri dalam rangka peningkatan daya saing industri hijau

5 Persen

S1.7 Persentase lulusan pendidikan vokasi yang mendapatkan pekerjaan dalam 1 tahun setelah kelulusan

79 Persen

S1.8 Lulusan pelatihan vokasi industri berbasis kompetensi

27.600 Orang

(24)

PERSPEKTIF PELANGGAN (CUSTOMER PERSPECTIVE)

No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja (IKU) Target Satuan

SS2 Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0

S2.1 Perusahaan dengan nilai Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) > 3.0

44 Perusahaan

S2.2 Kontribusi ekspor produk industri berteknologi tinggi

13,15 Persen

S2.3 Tumbuh dan berkembangnya IKM start-up berbasis teknologi

100 IKM

S2.4 Kemampuan sektor Industri Kecil Menengah melalui penerapan Making Indonesia 4.0

1500 IKM

S2.5 SDM Industri 4.0 yang meningkat kompetensinya 400 Orang SS3 Meningkatnya Kemampuan

Industri Barang dan Jasa serta Industri Halal Dalam Negeri

S3.1 Persentase nilai capaian penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa Kemenperin

80 Persen

S3.2 Substitusi Impor Produk Industri Pengolahan Nonmigas

35 Persen

S3.3 Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (rerata tertimbang)

50,9 Persen

S3.4 Produk tersertifikasi TKDN

> 25% yang masih berlaku

7.130 Produk

S3.5 SNI bidang industri yang diterapkan dan diberlakukan

10 Persen

S3.6 Tingkat efektivitas pelaksanaan promosi dan kampanye industri halal

3 Skala 1-4

S3.7 Produktivitas/efisiensi perusahaan industri yang memanfaatkan teknologi industri melalui jasa konsultasi

65 Persen

SS4 Meningkatnya Penguasaan Pasar Industri

S4.1 Nilai ekspor produk industri pengolahan nonmigas 145,50 US$ Miliar S4.2 Pertumbuhan ekspor industri pengolahan

nonmigas

8,35 Persen

S4.3 Kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas terhadap total ekspor

75,47 Persen

S4.4 Penambahan jenis produk industri pengolahan nonmigas yang diekspor

29 Persen

S4.5 Rasio impor bahan baku sektor industri terhadap PDB sektor industri nonmigas

38,05 Persen

SS5 Penguatan Kewirausahaan dan Industri Kecil dan Menengah (IKM)

S5.1 Proporsi nilai tambah IKM terhadap total nilai tambah industri pengolahan nonmigas

19,2 Persen

S5.2 Wirausaha industri kecil yang tumbuh 12.000 WUB S5.3 IKM yang melakukan kemitraan dengan industri

besar sedang dan sektor ekonomi lainnya

120 IKM

S5.4 Proporsi nilai penyaluran pinjaman perbankan kepada IKM

3,35 Persen

SS6 Meningkatnya Persebaran Industri

S6.1 KI prioritas di luar Jawa yang beroperasi dan meningkatkan investasi

15 KI

S6.2 KI yang dikembangkan 26 KI

S6.3 KI dengan zona tematik yang beroperasi 3 KI S6.4 Persentase nilai tambah sektor industri yang

diciptakan di luar Jawa

31,5 Persen

S6.5 Sentra industri kecil dan menengah (IKM) di luar Jawa yang beroperasi

29 Sentra IKM

(25)

PERSPEKTIF PROSES INTERNAL (INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE)

No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja (IK) Target Satuan

SS7 Tersedianya Regulasi Pembangunan Industri yang Efektif

S7.1 Efektivitas regulasi yang ditetapkan di lingkungan Kemenperin

76 Persen

S7.2 Persentase kesesuaian jumlah peraturan perundang-undangan di bidang perindustrian yang ditetapkan dengan program penyusunan peraturan perundang-undangan

65 Persen

SS8 Terselenggaranya Urusan Pemerintahan di Bidang Perindustrian yang Berdaya saing dan Berkelanjutan

S8.1 Perusahaan industri menengah besar yang tersertifikasi Standar Industri Hijau (SIH)

46 Perusahaan S8.2 Infrastruktur kompetensi industri 10 SKKNI

SS9 Tercapainya Pengawasan Internal yang Efektif dan Efisien

S9.1 Batas toleransi temuan pengawasan eksternal 1,3 Persen S9.2 Rekomendasi hasil pengawasan internal telah

ditindaklanjuti oleh satker

92 Persen

S9.3 Index Penerapan Manajemen Risiko (MRI) Kementerian Perindustrian

3 Level

PERSPEKTIF PEMBELAJARAN ORGANISASI (LEARN & GROWTH PERSPECTIVE)

No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja (IK) Target Satuan

SS10 Terwujudnya ASN Kementerian Perindustrian yang Professional dan Berkepribadian

S10.1 Rata-rata Indeks Profesionalitas ASN Kemenperin 73 Indeks S10.2 Persentase lulusan pendidikan dan pelatihan

dengan predikat minimal baik

85 Persen

SS11 Terwujudnya Sistem Informasi Industri yang Berkualitas

S11.1 Data dan informasi sesuai dengan kebutuhan pengambil keputusan

3,12 Skala

S11.2 Tingkat ketepatan waktu penyampaian informasi baku secara periodik

83 Persen

SS12 Terwujudnya Birokrasi yang Efektif, Efisien, dan Berorientasi pada Layanan Prima

S12.1 Tingkat akuntabilitas laporan keuangan dan BMN WTP Opini S12.2 Indeks RB Kementerian Perindustrian 78,6 Nilai

SS13 Tersusunnya Perencanaan Program, Pengelolaan Keuangan serta Pengendalian yang Berkualitas dan Akuntabel

S13.1 Tingkat kesesuaian dokumen perencanaan dengan rencana program dan kegiatan prioritas nasional

95,9 Persen

S13.2 Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kementerian Perindustrian

78,4 Nilai

(26)

B. Dukungan Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2022

Dalam rangka mencapai tujuan, sasaran strategis dan Indikator Kinerja Utama yang telah ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022, dukungan anggaran berdasarkan program sebagaimana tertuang pada Tabel 2. 1 berikut:

Tabel 2. 2 Pagu Awal Kementerian Perindustrian Tahun 2022

No. Program Pagu (Rupiah)

1. Program Dukungan Manajemen 1.407.819.446.000

2. Program Nilai Tambah Dan Daya Saing Industri 957.263.395.000

3. Program Pendidikan Dan Pelatihan Vokasi 495.895.777.000

Total 2.860.978.618.000

Sumber : Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM-SPAN)

Pada awal tahun 2022, adanya arahan Presiden terkait langkah strategis untuk memitigasi dampak berlanjutnya kondisi pandemi Covid-19 tahun 2022 dengan melakukan pencadangan anggaran (automatic adjustment) sebesar 5% dari anggaran Kementerian Perindustrian. Berikut adalah anggaran akhir Kementerian Perindustrian pada Tabel 2. 3 :

Tabel 2. 3 Pagu Akhir Kementerian Perindustrian Tahun 2022

No. Program Pagu (Rupiah)

1. Program Dukungan Manajemen 1.406.090.418.000

2. Program Nilai Tambah Dan Daya Saing Industri 745.867.747.000

3. Program Pendidikan Dan Pelatihan Vokasi 482.342.061.000

Total 2.634.300.226.000

Sumber : Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM-SPAN)

(27)

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022

Capaian kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2022 merupakan pencapaian kinerja seluruh jajaran Kementerian Perindustrian dalam melakukan berbagai upaya melalui pelaksanaan program dan kegiatan guna mencapai target yang telah ditetapkan. Dalam laporan ini disampaikan capaian kinerja sebagaimana yang telah ditetapkan sebagai kontrak kinerja Menteri Perindustrian dalam dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022. Selain itu juga diuraikan capaian kinerja lainnya, yakni capaian prestasi kelembagaan dan kinerja keuangan Kementerian Perindustrian.

Analisis pencapaian dilengkapi dengan pembandingan capaian dengan tahun sebelumnya serta dengan kinerja lainnya. Berikut akan disajikan capaian kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022.

1. Kinerja Sasaran Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2022

Merujuk pada Peraturan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, Perjanjian kinerja (Perkin) merupakan dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/ kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Perkin merupakan bentuk komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi dan wewenang serta sumber daya yang tersedia.

Capaian Perkin yang akan disampaikan pada laporan ini meliputi Perkin berdasarkan perspektif pemangku kepentingan dan perkin berdasarkan perspektif proses internal.

Sejak awal tahun 2020 hingga akhir tahun 2022, Indonesia terdampak pandemi covid-19 yang mempengaruhi kondisi perekonomian dalam negeri maupun dunia. Kondisi tersebut turut mempengaruhi penyesuaian target kinerja dan juga penyesuaian pada Perjanjian Kinerja Kemenperin 2022, disamping penyesuaian Renstra Kementerian Perindustrian tahun 2020-2024 akibat perubahan organisasi dan tata kerja Kementerian Perindustrian.

Sasaran Strategis Indikator Tujuan pada Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2022 adalah “Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional”. Adapun indikator kinerja ketercapaian tujuan ini adalah: (1) Pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas, (2) Kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB. Realisasi dari masing-masing Indikator Tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

(28)

Tujuan: Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional

Sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Perindustrian 2020-2024, telah ditetapkan tujuan Kementerian Perindustrian sampai dengan tahun 2024, yaitu “Meningkatnya Peran Industri dalam Perekonomian Nasional”. Adapun indikator kinerja ketercapaian tujuan pada tahun 2022 sesuai Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2022 tertuang sebagaimana Tabel 3. 1 berikut :

Tabel 3. 1 Target dan Realisasi Indikator Tujuan Kementerian Perindustrian

No. Sasaran Tujuan (ST) Indikator Tujuan 2020 2021 2022 Satuan

T R T R T R C (%)

Tj Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional

Tj.1 Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan Nonmigas

-2,22 -2,52 3,56 3,67 5,26 5,01 95,25 Persen

Tj.2 Kontribusi Industri Pengolahan Nonmigas Terhadap PDB

17,8 17,89 17,81 17,36 17,95 16,48 91,81 Persen

1) Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan Nonmigas

Industri pengolahan nonmigas pada tahun 2022 mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 5,01%, lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2021 yang sebesar 3,67% dan 2020 yang sebesar -2,52%. Angka pertumbuhan yang berada di atas 5 persen tersebut menandakan bahwa aktivitas sektor manufaktur di tanah air masih bergeliat di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu serta masih menjadi penopang utama terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,31% pada 2022. Angka pertumbuhan industri pengolahan nonmigas tersebut telah mencapai 95,25% dari target Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian yang ditetapkan sebesar 5,26%. Adapun target jangka menengah indikator pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas berdasarkan Renstra Kementerian Perindustrian tahun 2020-2024 adalah pada tahun 2024 tercapai pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas sebesar 8,40%, sesuai dengan target jangka menengah indikator ini berdasarkan RPJMN tahun 2020-2024. Target tersebut dapat tercapai dengan melaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung indikator ini.

(29)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tiga sektor manufaktur yang mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi pada tahun 2022, yakni industri logam dasar yang tumbuh sebesar 14,80 persen, industri mesin dan perlengkapan tumbuh 11,37 persen, serta industri alat angkutan tumbuh 10,67 persen. Pertumbuhan industri logam dasar didorong oleh perbaikan kebijakan yang mengacu pada mekanisme smart supply-demand menggunakan pertimbangan teknis yang terukur, peningkatan produksi feronikel dalam negeri, dan peningkatan produksi industri smelter pada beberapa Provinsi di Sulawesi dan Maluku Utara. Selanjutnya, pertumbuhan industri alat angkutan melaju karena didukung oleh kebijakan relaksasi PPnBM sepanjang tahun 2022, dan dimulainya produksi mobil listrik dalam negeri sebagai komitmen pemerintah di era elektrifikasi. Industri mesin dan perlengkapan didorong oleh peningkatan permintaan untuk komoditas alat berat akibat menggeliatnya bisnis pada sektor pertambangan dan penggalian.

Adapun beberapa industri di tahun 2022 mengalami kontraksi seperti industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar –1,83% dan industri pengolahan tembakau sebesar –2,34%. Industri kimia, farmasi dan obat tradisional mengalami penurunan permintaan akibat kasus obat sirop.

Industri Pengolahan tembakau mengalami kontraksi akibat penerapan kebijakan kenaikan traif cukai hasil tembakau atau rokok.

Kinerja positif dari industri manufaktur di tahun 2022 ini sejalan dengan beberapa indikator sepanjang 2022, antara lain Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dan Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia yang sama-sama berada di level ekspansif. Baik IKI maupun PMI Manufaktur Indonesia, keduanya berada di level 50,9 pada Desember 2022. Berdasarkan hasil survei yang dirilis S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia bertahan dalam fase ekspansif selama 16 bulan berturut- turut sejak September 2021. Kinerja PMI Indonesia pada Desember 2022 melampaui PMI Manufaktur Jerman (47,4), Jepang (48,8), Australia (50,4), Myanmar (42,1), Belanda (48,6), Prancis (47,4), Korea Selatan (48,2), Inggris (44,7), Amerika Serikat (46,2), dan Zona Eropa (47,8).

4,77 4,34

-2,52

3,67

5,01

5,17 5,02

-2,07

3,7

5,31

-4,00 -2,00 0,00 2,00 4,00 6,00

2018 2019 2020 2021 2022

Pertumbuhan (Y-on-Y) (%)

Non Migas Ekonomi

Gambar 3. 1 Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan Non Migas dengan Pertumbuhan Ekonomi

(30)

Tabel 3. 2 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Industri Pengolahan

No Lapangan Usaha 2019 2020 2021 2022

Industri Pengolahan Non Migas 4,34 -2,52 3,67 5,01

1 Industri Makanan dan Minuman 7,78 1,58 2,54 4,90

2 Industri Pengolahan Tembakau 3,36 -5,78 -1,32 -2,34

3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 15,35 -8,88 -4,08 9,34

4 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki -0,99 -8,76 7,75 9,36

5 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus danBarang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya

-4,55 -2,16 -3,71 0,59

6 Industri Kertas dan Barang dari Kertas; Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman

8,86 0,22 -2,89 3,73

7 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional 8,48 9,39 9,61 0,69

8 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik -5,52 -5,61 1,08 -4,10

9 Industri Barang Galian bukan Logam -1,03 -9,13 0,89 -2,00

10 Industri Logam Dasar 2,83 5,87 11,50 14,80

11 Industri Barang Logam; Komputer, Barang Elektronik, Optik; dan Peralatan Listrik

-0,51 -5,46 -1,62 6,71

12 Industri Mesin dan Perlengkapan -4,13 -10,17 11,43 11,37

13 Industri Alat Angkutan -3,43 -19,86 17,82 10,67

14 Industri Furnitur 8,35 -3,36 8,16 -1,99

15 Industri Pengolahan Lainnya; Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan

5,17 -0,88 -1,64 6,08

Sumber : BPS, diolah Kemenperin

Kementerian Perindustrian juga bertekad memperkuat industri hilirisasi berbasis komoditas untuk dapat menjadi Global Key Player, dengan memfokuskan industri hilirisasi komoditas menjadi tiga kelompok, yakni industri berbasis agro seperti industri oleokimia, industri berbasis bahan tambang mineral seperti industri smelter mineral dan logam, serta industri berbasis migas dan batubara seperti proyek coal to methanol. Hilirisasi di sektor industri manufaktur selama ini telah memberikan bukti nyata terhadap multiplier effect bagi perekonomian nasional, antara lain adalah meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, menarik investasi masuk di tanah air, menghasilkan devisa besar dari ekspor, dan menambah jumlah serapan tenaga kerja.

Kementerian Perindustrian telah mengidentifikasi beberapa kendala atau tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2023. Pertama, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat akibat tingkat inflasi global yang tinggi yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga yang agresif dan gangguan rantai pasok akibat ketidakseimbangan perdagangan. Kedua, depresiasi nilai tukar rupiah akibat kebijakan moneter di negara maju menaikkan tingkat suku bunga. Ketiga, perang Ukraina dan Rusia yang berkepanjangan dapat mengakibatkan kenaikan harga komoditas, krisis pangan, dan krisis energi. Keempat, kemungkinan terjadi ketidakstabilan permintaan ekspor akibat permintaan global menurun, yang akan juga berdampak pada pengurangan produksi dan dapat berpotensi adanya PHK. Kelima, masih adanya ketergantungan impor bahan baku serta bahan baku penolong.

Guna menghadapi berbagai tekanan risiko global, Kementerian Perindustrian menyiapkan langkah-langkah mitigasi. Antara lain dengan mengupayakan pencarian pasar baru untuk ekspor bagi

Gambar

Gambar 1. 1 Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian
Gambar 3. 1 Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan Non Migas dengan Pertumbuhan Ekonomi
Gambar 3. 2 Kontribusi Sektor Ekonomi terhadap PDB Nasional Tahun 2022
Tabel 3. 4 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Daya Saing dan Kemandirian Industri  Pengolahan Nonmigas
+7

Referensi

Dokumen terkait

 Merubah atau memperbaiki rumusan Indikator Kinerja Utama atau Indikator Kinerja Sasaran Strategis, terutama dengan terjadinya perubahan struktur organisasi

Hasil pencapaian target secara aktual dari masing-masing indikator kinerja untuk setiap sasaran strategis menjadi bahan utama di dalam penyusunan Laporan Akuntabilitas

Pencapaian tersebut disajikan berupa informasi mengenai pencapaian sasaran Rencana Strategis (Renstra), realisasi pencapaian indikator sasaran disertai dengan

Indikator Kinerja Utama yang berkaitan dengan Tersedianya Data Potensi PAD sebagai Informasi yang Akuntabelsecara umum pencapaian sasaran strategis mengalami

Laporan Akuntabiltas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) tahun 2017 ini melaporkan tingkat pencapaian sasaran strategis dan indikator kinerja yang telah ditetapkan

Untuk mengukur tingkat keberhasilan sasaran strategis ini, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar telah menetapkan 4 (empat) indikator kinerja, yaitu :

Dalam rangka mendukung kebijakan Kementerian Perindustrian beserta sasaran strategis dan IKU-nya, sebagai unit kerja Eselon II di lingkungan Kementerian Perindustrian maka

Pencapaian 4 (empat) sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja (Tapkin) Pusat Data dan Informasi Tahun 2016 dapat dilihat secara lengkap