Ringkasan Eksekutif
Sejalan dengan visi Presiden dalam RPJMN 2020-2024, Kementerian Perindustrian telah menetapkan visi Renstra Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024 yaitu Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong. Pencapaian visi tersebut dijabarkan melalui misi, tujuan dan sasaran yang akan dicapai pada tahun 2021 dan tercantum dalam Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021.
Kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2021 berdasarkan indikator kinerja Kementerian Perindustrian yang ditetapkan sebagian besar telah tercapai. Indikator yang memenuhi target yaitu pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas dan tenaga kerja di sektor industri. Pada tahun 2021, pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas mengalami peningkatan dari tahun 2020 menjadi sebesar 3,67 persen yang dicapai berkat berbagai kebijakan strategis yang telah dikeluarkan pemerintah untuk mendongkrak produktivitas sekaligus menciptakan iklim usaha kondusif. Sektor industri pengolahan nonmigas masih menjadi kontributor terbesar pada struktur produk domestik bruto (PDB) nasional tahun 2021 atau kontribusi sebesar 17,36 persen dari PDB Nasional.
Ekspor industri pengolahan nonmigas memberikan kontribusi sebesar 76,49 persen dari total ekspor nasional tahun 2021 sebesar US$231,54 miliar. Nilai Ekspor produk industri pengolahan non migas tahun 2021 sebesar US$177,11 miliar meningkat 35,06 persen dari tahun 2021 dengan nilai ekspor sebesar US$131,13 miliar. Adapun nilai impor bahan baku/penolong pada tahun 2021 mengalami peningkatan sebesar US$38,7 miliar atau meningkat 41,65 persen dari periode yang sama tahun 2020. Peningkatan tersebut berdampak pada peningkatan produksi di sektor industri sehingga berkontribusi besar pada pemenuhan/peningkatan ekspor Indonesia tahun 2021. Langkah-langkah yang diambil oleh Kementerian Perindustrian untuk penguatan ekspor dan substitusi impor adalah diversifikasi industri unggulan untuk ekspor, membuka secara agresif pasar-pasar baru untuk produk industri, melakukan pendekatan terhadap prinsipal-prinsipal otomotif di Indonesia untuk menjadikan Indonesia basis ekspor, mendorong investasi pabrik-pabrik komponen di negara-negara target ekspor baru, serta memastikan penyelesaian impor bahan baku khususnya impor limbah non B3.
Terkait peningkatan kinerja kelembagaan, Kementerian Perindustrian telah menerapkan nilai dan budaya kerja sebagai bentuk pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Sejak tahun 2008-2021, Kementerian Perindustrian berhasil memperoleh predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama 13 kali berturut-turut dan mendapatkan penghargaan Capaian Standar Tertinggi laporan keuangan Kementerian/Lembaga oleh BPK atas audit Laporan Keuangan sebanyak 2 (dua) kali.
Kementerian Perindustrian berhasil meraih penghargaan unit kerja pelayanan publik dengan predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) untuk 6 satuan kerja, yakni BDI Jakarta, BDI Yogyakarta, SMK-SMTI Bandar Lampung, BDI Denpasar, BBIA Bogor, BBLM Bandung. Selain WBK, Kementerian Perindustrian juga memperoleh 4 penghargaan dengan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yakni BPIPI Sidoarjo, SMK-SMTI Pontianak, SMK-SMTI Yogyakarta, dan Baristand Industri Samarinda. Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian PAN dan RB, yang disampaikan melalui surat nomor B/127/PW.04/2021 perihal Hasil Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas menuju WBK/WBBM di lingkungan Kementerian Perindustrian Tahun 2021, yang merupakan bentuk apresiasi pemerintah terhadap upaya dan komitmen yang kuat setiap instansi pemerintah dalam melakukan pemberantasan korupsi di instansinya terutama melalui pencegahan.
Pada sisi pengelolaan anggaran, Kementerian Perindustrian telah merealisasikan penyerapan DIPA TA 2021 sebesar Rp2.754.170.682.000 atau sebesar 97,45% dari total pagu sebesar Rp2.826.275.791.000. Kualitas pemanfaatan anggaran tidak direfleksikan hanya dengan realisasi anggaran, tetapi memperhitungkan juga ketercapaian output serta upaya efisiensi penyerapannya. Pemanfaatan anggaran harus memberikan dampak yang dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat luas.
Secara garis besar Kementerian Perindustrian telah berhasil melaksanakan tugas, fungsi dan misi yang diembannya dalam pencapaian kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2021. Keberhasilan pencapaian sasaran Kementerian Perindustrian disamping ditentukan oleh kinerja faktor internal juga ditentukan oleh dukungan eksternal, seperti kerjasama dengan Kementerian/Lembaga terkait. Dengan dukungan dari semua pihak, semoga Kemenperin dapat menjadi ujung tombak dalam peningkatan peran sektor industri dalam perekonomian nasional.
Kata Pengantar
Dalam rangka mewujudkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan kinerja dan anggaran, Kementerian Perindustrian menyusun Laporan Kinerja Tahun 2021 yang menguraikan perjanjian kinerja yang telah ditetapkan, pencapaian atas kinerja tersebut, dan realisasi anggaran.
Berdasarkan hasil evaluasi kinerja tahun 2021, Kementerian Perindustrian telah mencapai hampir seluruh target IKU yang telah ditetapkan. Salah satu pencapaian kinerja yang membanggakan yaitu kualitas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga yang mendapat penghargaan Capaian Standar Tertinggi sebanyak 2 kali atas capaian WTP selama 13 tahun berturut-turut.
Berbagai pencapaian kinerja tahun 2021 tidak terlepas dari peningkatan sumber daya internal Kementerian Perindustrian secara konsisten. Beberapa hal yang telah dilakukan antara lain peningkatan kompetensi SDM, penataan organisasi, pengembangan teknologi informasi, dan pengelolaan program dan anggaran yang berkualitas.
Selain itu, saya mengapresiasi seluruh pihak eksternal yang telah bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian baik seluruh Kementerian/Lembaga. Dewan Perwakilan Rakyat, maupun seluruh masyarakat yang kerap bersentuhan dengan Kementerian Perindustrian.
Akhir kata, semoga Laporan Kinerja ini dapat bermanfaat sebagai bentuk pertanggungjawaban Kementerian Perindustrian dan umpan balik bagi organisasi untuk mendorong peningkatan kinerja.
Jakarta, 23 Februari 2022 Menteri Perindustrian
Dr. Agus Gumiwang Kartasasmita, MSi
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif ... i
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... iv
Daftar Tabel ... v
Daftar Gambar ... viii
Bab I Pendahuluan ... 1
A. Tugas dan Fungsi Kementerian Perindustrian ... 1
B. Peran Strategis Kementerian Perindustrian ... 2
C. Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian ... 2
D. Rencana Strategis Kementerian Perindustrian ... 7
1. Visi Kementerian Perindustrian ... 8
2. Misi Kementerian Perindustrian ... 9
3. Tujuan Kementerian Perindustrian ... 11
4. Sasaran Strategis Kementerian Perindustrian ... 11
Bab II Perencanaan Kinerja ... 15
A. Perencanaan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 15
B. Dukungan Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 20
Bab III Akuntabilitas Kinerja ... 22
A. Capaian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 22
A1. Kinerja Sasaran Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 22
A2. Kinerja Prioritas Nasional Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 107
A3. Efisiesi Penggunaan Sumber Daya ... 107
A4. Prestasi Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 109
B. Realisasi Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 115
Bab IV Penutup ... 118
A. Kesimpulan ... 118
B. Kendala dan Permasalahan ... 120
C. Strategi Percepatan Pertumbuhan Industri ... 121 Lampiran
Daftar Tabel
Tabel 2. 1 Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 15
Tabel 2. 2 Perjanjian Kinerja Kemenperin 2021 Perubahan ... 17
Tabel 2. 3 Pagu Awal Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 20
Tabel 2. 4 Pagu Akhir Kementerian Perindustrian Tahun 2021 ... 21
Tabel 3. 1 Target dan Realisasi Indikator Tujuan Kementerian Perindustrian ... 23
Tabel 3. 2 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Industri Pengolahan ... 24
Tabel 3. 3 Kontribusi Industri Pengolahan Non Migas Terhadap PDB ... 27
Tabel 3. 4 Tenaga Kerja sektor Industri Pengolahan Non Migas... 30
Tabel 3. 5 Persentase tenaga kerja di sektor industri pengolahan nonmigas terhadap total pekerja ... 31
Tabel 3. 6 Produktivitas Tenaga Kerja Sektor Industri ... 32
Tabel 3. 7 Nilai Investasi Sektor Industri Pengolahan Nonmigas ... 34
Tabel 3. 8 Realisasi Produksi dan Kapasitas Produksi per Tahun Acuan ... 36
Tabel 3. 9 Capaian Lulusan Pelatihan Vokasi Industri Berbasis Kompetensi Berdasarkan Sektor... 41
Tabel 3. 10 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0 ... 42
Tabel 3. 11 Perusahaan dengan nilai INDI 4.0 > 3.0... 44
Tabel 3. 12 Capaian Diklat 4.0 ... 49
Tabel 3. 13 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Kemampuan Industri Barang dan Jasa serta Industri Halal Dalam Negeri... 49
Tabel 3. 14 Impor HS terkait Program Substitusi Impor ... 51
Tabel 3. 15 Daftar Produk Bernilai TKDN ... 54
Tabel 3. 16 Perbandingan jumlah perusahaan penerima program DAPATI Tahun 2013- 2021 59
Tabel 3. 17 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Penguasaan Pasar Industri ... 60
Tabel 3. 18 Kontribusi Ekspor Produk Industri Terhadap Total Ekspor ... 63
Tabel 3. 19 Capaian Penguasaan Pasar pada Negara Mitra FTA Tahun 2021 ... 65
Tabel 3. 20 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Penguatan
Kewirausahaan dan Industri Kecil dan Menengah (IKM) ... 67
Tabel 3. 21 Jumlah IKM yang melakukan kemitraan dengan industri besar, sedang dan sektor ekonomi lainnya... 72
Tabel 3. 22Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Meningkatnya Persebaran Industri ... 74
Tabel 3. 23 Status IUKI dan Progres 9 (Sembilan) KI Prioritas Nasional 2020 – 2024 ... 76
Tabel 3. 24 Perkembangan (Progress) Calon Kawasan Industri (KI) Halal ... 78
Tabel 3. 25 Realisasi Pengembangan WPPI dan KPI Tahun 2020 – 2021 ... 80
Tabel 3. 26 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Tersedianya Regulasi Pembangunan Industri yang Efektif ... 83
Tabel 3. 27 Aspek Pengukuran dan Indikator Efektivitas Regulasi ... 85
Tabel 3. 28 Rincian Hasil Pengukuran Efektivitas Regulasi ... 85
Tabel 3. 29 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Terselenggaranya Urusan Pemerintahan di Bidang Perindustrian yang Berdaya saing dan Berkelanjutan ... 87
Tabel 3. 30 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Tercapainya Pengawasan Internal yang Efektif dan Efisien ... 90
Tabel 3. 31 Perbandingan Realisasi atas Indikator Kinerja Batas Toleransi Temuan Material Pengawasan Internal antar K/L ... 92
Tabel 3. 32 Persentase Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Tahun 2017-2021 ... 93
Tabel 3. 33 Perbandingan Target dan Realisasi Indikator “Rekomendasi Hasil Pengawasan Internal telah Ditindaklanjuti oleh Satker” Kementerian Perindustrian dan K/L Lainnya ... 94
Tabel 3. 34 Hasil Penilaian Indeks Manajemen Risiko ... 95
Tabel 3. 35 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Terwujudnya ASN Kementerian Perindustrian yang Professional dan Berkepribadian ... 96
Tabel 3. 36 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Terwujudnya Sistem Informasi Industri yang Berkualitas ... 98
Tabel 3. 37 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Terwujudnya Birokrasi yang Efektif, Efisien, dan Berorientasi pada Layanan Prima ... 100
Tabel 3. 38 Rincian Evaluasi Capaian Indeks Reformasi Birokrasi (RB) Kementerian
Perindustrian ... 102 Tabel 3. 39 Target dan Realisasi Indikator Kinerja Sasaran Strategis Tersusunnya
Perencanaan Program, Pengelolaan Keuangan serta Pengendalian yang
Berkualitas dan Akuntabel ... 104 Tabel 3. 40 Rincian Penilaian Tingkat Akuntabilitas Kinerja ... 105 Tabel 3. 41 Nilai SAKIP Kementerian/Lembaga ... 106 Tabel 3. 42 Realisasi Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2021
Berdasarkan Program ... 116
Daftar Gambar
Gambar 1. 1 Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 7 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Perindustrian ... 3
Gambar 1. 2 Peta Strategis Kementerian Perindustrian 2020-2024 Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024... 10
Gambar 3. 1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ... 24
Gambar 3. 2 Laju Pertumbuhan PDB Berdasarkan Lapangan Usaha ... 27
Gambar 3. 3 Distribusi PDB Atas Harga Berlaku 2021 ... 28
Gambar 3. 4 Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Non Migas ... 61
Gambar 3. 5 Kawasan Industri Prioritas dan Pengembangan RPJMN 2020 - 2024 ... 75
Gambar 3. 6 Realisasi Nilai Tambah Sektor Industri di Luar Pulau Jawa Tahun 2017 – 2021 ... 81
Gambar 3. 7 Realisasi Batas Toleransi Temuan Material Pengawasan Eksternal ... 92
Gambar 3. 8 Perbandingan Persentase Target dan Capaian Tindak Lanjut Saran/Rekomendasi Hasil Pengawasan Tahun 2019-2021 ... 94
Gambar 3. 9 Nilai Sakip dan Nilai Efisiensi Instansi Pemerintah di Indonesia ... 106
Gambar 3. 10 Kinerja Efisiensi Anggaran Kementerian Perindustrian dengan Pagu Terealisasi Tahun 2021 ... 108
Gambar 3. 11 Penghargaan atas Predikat WBK dan WBBM di Kemenperin ... 111
Gambar 3. 12 Penghargaan atas Sistem Merit di Kemenperin ... 113
Gambar 3. 13 Penghargaan KPPU Award 2021 ... 114
Gambar 3. 14 TOP 99 Inovasi SINOVIK ... 115
Gambar 3. 11 Grafik Perbandingan Pagu Anggaran dan Realisasi tahun 2018-2021 ... 116
Bab I Pendahuluan
A. Tugas dan Fungsi Kementerian Perindustrian
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 107 Tahun 2020 tentang Kementerian Perindustrian, Kementerian Perindustrian berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kementerian Perindustrian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kementerian Perindustrian menyelenggarakan fungsi:
1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan industri, pengembangan perwilayahan industri, pengamanan dan penyelamatan industri, peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan usaha industri dan kegiatan kawasan industri;
2. Pelaksanaan kebijakan di bidang pembangunan sumber daya industri, pembangunan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan industri, pengembangan perwilayahan industri, pengamanan dan penyelamatan industri, peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan usaha industri dan kegiatan kawasan industri;
3. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Perindustrian di daerah;
4. Koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian;
5. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Perindustrian;
6. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Perindustrian;
7. Pelaksanaan koordinasi, perumusan, penerapan, pemberlakuan, dan pengawasan standardisasi industri, optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, penguatan industri hijau, dan penyusunan rekomendasi kebijakan jasa industri;
8. Pelaksanaan pembangunan sumber daya manusia industri; dan
9. Pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian.
B. Peran Strategis Kementerian Perindustrian
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, Kementerian Perindustrian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Dengan tugas tersebut, tentunya peran Kementerian Perindustrian tidak terlepas dari peran strategis industri itu sendiri.
Peran strategis industri dalam pembangunan ekonomi nasional tercermin dari dampak kegiatan ekonomi sektor riil bidang industri dalam komponen konsumsi maupun investasi.
Sektor industri berperan sebagai pemicu kegiatan ekonomi lain yang berdampak ekspansif atau meluas ke berbagai sektor jasa keteknikan, penyediaan bahan baku, transportasi, distribusi atau perdagangan, pariwisata dan sebagainya. Pembangunan sektor industri menjadi sangat penting karena kontribusinya terhadap pencapaian sasaran pembangunan ekonomi nasional, terutama dalam pembentukan PDB sangat besar dan berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi (prime mover) karena kemampuannya dalam peningkatan nilai tambah yang tinggi.
Selain itu industri juga dapat membuka peluang untuk menciptakan dan memperluas lapangan pekerjaan, yang berarti meningkatkan kesejahteraan serta mengurangi kemiskinan.
C. Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian
Pada tahun 2021 terdapat perubahan pada Kementerian Perindustrian, termasuk perubahan struktur organisasi seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 7 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Perindustrian yang ditetapkan pada tanggal 23 Februari 2021. Perubahan ini tidak terlepas dari penyesuaian dan pengoptimalan atas tugas dan fungsi Kementerian Perindustrian sebagai pembina industri di dalam negeri untuk lebih profesional, efektif, dan efisien guna meningkatkan kinerja pelaksanaan tugas Kementerian Perindustrian
Gambar 1. 1 Struktur Organisasi Kementerian Perindustrian Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 7 Tahun 2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Perindustrian
Adapun tugas dan fungsi masing-masing unit kerja di lingkungan Kementerian Perindustrian adalah sebagai berikut:
1. Sekretariat Jenderal
Sekretariat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Kementerian Perindustrian. Sekretariat Jenderal terdiri atas Biro Perencanaan; Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia; Biro Keuangan; Biro Hukum; Biro Hubungan Masyarakat; dan Biro Umum.
2. Direktorat Jenderal Industri Agro
Direktorat Jenderal Industri Agro mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, rencana pemanfaatan sumber daya alam bagi industri, pembinaan industri hijau dan industri strategis, pembinaan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perencanaan dan pembinaan standardisasi industri, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha industri pada industri hasil hutan dan perkebunan, industri makanan, hasil laut, dan perikanan, dan industri minuman dan tembakau. Direktorat Jenderal
Industri Agro terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan; Direktorat Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan; dan Direktorat Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar.
3. Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil
Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, rencana pemanfaatan sumber daya alam bagi industri, pembinaan industri hijau dan industri strategis, pembinaan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perencanaan dan pembinaan standardisasi industri, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha industri pada industri kimia hulu, industri kimia hilir, industri farmasi, industri semen, industri keramik, dan industri pengelolaan bahan galian nonlogam, serta industri tekstil, industri kulit, dan industri alas kaki. Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Kimia Hulu; Direktorat Industri Kimia Hilir dan Farmasi; Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam;
dan Direktorat Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki.
4. Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, Dan Elektronika
Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, rencana pemanfaatan sumber daya alam bagi industri, pembinaan industri hijau dan industri strategis, pembinaan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perencanaan dan pembinaan standardisasi industri, pembinaan jasa industri, dan pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha industri pada industri logam, industri mesin, industri alat transportasi dan maritim, serta industri elektronika dan telematika. Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Logam;
Direktorat Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian; Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan; dan Direktorat Industri Elektronika dan Telematika.
5. Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan dan penguatan industri 4.0, pembinaan optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, rencana pemanfaatan sumber daya alam bagi industri, pembinaan industri hijau dan industri strategis, pembinaan peningkatan penggunaan produk dalam negeri, perencanaan dan pembinaan standardisasi industri, pembinaan jasa industri, serta pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha industri pada industri kecil, industri menengah, dan industri aneka, serta penguatan kapasitas kelembagaan pada industri kecil dan industri menengah. Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Industri Kecil dan Menengah Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan; Direktorat Industri Aneka dan Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, dan Kerajinan; dan Direktorat Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut.
6. Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional
Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengamanan dan penyelamatan industri, pengembangan perwilayahan industri, pengembangan akses industri internasional, dan pengawasan dan pengendalian kegiatan kawasan industri. Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional terdiri atas Sekretariat Direktorat Jenderal; Direktorat Ketahanan dan Iklim Usaha Industri; Direktorat Perwilayahan Industri; Direktorat Akses Industri Internasional; dan Direktorat Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional.
7. Inspektorat Jenderal
Inspektorat Jenderal mempunyai tugas Menyelenggarakan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Perindustrian. Inspektorat Jenderal terdiri atas Sekretariat Inspektorat Jenderal; Inspektorat I; Inspektorat II; Inspektorat III; dan Inspektorat IV.
8. Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri
Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri mempunyai tugas menyelenggarakan koordinasi, perumusan, penerapan, pemberlakuan, dan pengawasan standardisasi industri, optimalisasi pemanfaatan teknologi industri, penguatan industri hijau, dan penyusunan rekomendasi kebijakan jasa industri. Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri terdiri atas Sekretariat Badan; Pusat Perumusan, Penerapan, dan Pemberlakuan Standardisasi Industri; Pusat Pengawasan Standardisasi Industri; Pusat Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Industri dan Kebijakan Jasa Industri; dan Pusat Industri Hijau.
9. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri mempunyai tugas menyelenggarakan pembangunan sumber daya manusia industri. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri terdiri dari atas Sekretariat Badan; Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Aparatur; Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Industri; dan Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri. Sekretariat Badan; Pusat Pendidikan dan Pelatihan Industri;
dan Pusat Pengembangan Pendidikan Kejuruan dan Vokasi Industri.
10. Staf Ahli
Staf Ahli berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri dan secara administratif dikoordinasikan oleh Sekretaris Jenderal. Staf Ahli mempunyai tugas memberikan rekomendasi strategis terhadap isu-isu kepada Menteri terkait bidang pendalaman, penyebaran, dan pemerataan industri; iklim usaha dan investasi;
penguatan kemampuan industri dalam negeri; dan percepatan transformasi Industri 4.0. Staf Ahli Menteri terdiri atas Staf Ahli Bidang Pendalaman, Penyebaran, dan Pemerataan Industri; Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Investasi; Staf Ahli Bidang Penguatan Kemampuan Industri Dalam Negeri; dan Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0.
Di samping itu, untuk menunjang pelaksanaan tugas Kementerian, terdapat 3 (tiga) unit eselon II Pusat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal, yaitu:
1. Pusat Data dan Informasi
Pusat Data dan Informasi yang selanjutnya disebut Pusdatin adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. Pusdatin mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang data, informasi, dan sistem informasi.
2. Pusat Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN)
Pusat Penggunaan Produk Dalam Negeri yang selanjutnya disebut Pusat P3DN adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. Pusat P3DN mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, rencana, program, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang peningkatan penggunaan produk dalam negeri.
3. Pusat Pemberdayaan Industri Halal
Pusat Pemberdayaan Industri Halal yang selanjutnya disebut PPIH adalah unsur pendukung pelaksanaan tugas Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri melalui Sekretaris Jenderal. PPIH mempunyai tugas melaksanakan penyusunan kebijakan teknis, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pemberdayaan industri halal.
D. Rencana Strategis Kementerian Perindustrian
Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Perindustrian 2020-2024 dimaksudkan untuk memberikan kontribusi yang signifikan bagi keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan nasional yang telah diamanatkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020. Dalam penyusunan Renstra Kementerian Perindustrian juga mengacu pada Undang-undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian serta Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015. Selain itu, penyusunan Renstra juga memperhatikan hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Renstra Kementerian Perindustrian periode 2015-2019, analisa terhadap dinamika perubahan lingkungan strategis baik tatanan daerah, nasional, maupun
di tatanan global, serta perubahan paradigma peningkatan daya saing dan kecenderungan pengembangan industri ke depan.
Berikut adalah visi, misi, tujuan dan sasaran Kementerian Perindustrian sesuai dengan rencana strategis Kementerian Perindustrian 2020-2024 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024.
1. Visi Kementerian Perindustrian
Berdasarkan potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam rangka pembangunan industri nasional ke depan, Kementerian Perindustrian sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Perindustrian dituntut untuk melakukan pengaturan, pembinaan, dan pengembangan perindustrian.
Untuk itu, maka disusunlah visi dan misi Pembangunan Industri yang akan dicapai melalui pencapaian tujuan, sasaran strategis, dan pelaksanaan program dan kegiatan utama maupun kegiatan pendukung sebagaimana digambarkan pada peta strategis Kementerian Perindustrian pada Gambar 1. 2.
Apabila keseluruhan hal dalam peta strategis dapat terpenuhi, maka berarti Kementerian Perindustrian telah mampu berperan dalam mendukung pencapaian visi, misi, sasaran, dan target pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan pada RPJMN 2020 – 2024, serta mendukung pencapaian tujuan berbangsa dan bernegara sesuai dengan amanat UUD 1945, yaitu mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Adapun, Visi Kementerian Perindustrian ditetapkan sama dengan visi Presiden dan Wakil Presiden tahun 2020-2024 adalah:
“Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong”
Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong apabila dipandang dalam sudut pandang sektor industri yaitu mewujudkan industri tangguh dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri dalam mengelola sumber daya yang ada dengan peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja melalui penambahan lapangan kerja baru serta meningkatnya investasi dan
ekspor sektor industri sehingga dapat bersaing dengan negara maju lainnya. Pemanfaatan teknologi dimaksudkan dapat mengelola sumber daya yang ada dengan kekuatan SDM yang kompeten dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang inovatif melalui implementasi Making Indonesia 4.0 untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata.
2. Misi Kementerian Perindustrian
Mengacu berdasarkan visi Presiden dan Wakil Presiden diatas berusaha untuk dicapai melalui 9 (sembilan) misi yang dimandatkan dalam Peraturan Presiden nomor 18 tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024, maka 9 (sembilan) Misi Presiden dan Wakil Presiden yang juga merupakan Misi Kementerian Perindustrian yaitu:
a. Peningkatan kualitas manusia indonesia;
b. Struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing;
c. Pembangunan yang merata dan berkeadilan;
d. Mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan;
e. Kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa;
f. Penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya;
g. Perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga;
h. Pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif, dan terpercaya; dan i. Sinergi pemerintah daerah dalam kerangka negara kesatuan.
Berdasarkan visi dan misi tersebut, Kementerian Perindustrian telah menyusun Peta Strategi periode tahun 2020-2024 sebagaimana pada Gambar 1. 2 dibawah.
Gambar 1. 2 Peta Strategis Kementerian Perindustrian 2020-2024 Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024
3. Tujuan Kementerian Perindustrian
Untuk mewujudkan Visi dan melaksanakan Misi Pembangunan Industri, Kementerian Perindustrian menetapkan tujuan pembangunan industri sampai 5 (lima) tahun ke depan yaitu
“Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional”.
Pencapaian tujuan secara khusus akan dipantau melalui pengukuran indikator kinerja tujuan, yaitu:
a. Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan Nonmigas pada tahun 2020 ditargetkan sebesar - 2,52% menjadi sebesar 8,4% pada tahun 2024; dan
b. Kontribusi PDB Industri Pengolahan Nonmigas pada tahun 2020 ditargetkan sebesar 17,89%
menjadi sebesar 18,9% pada tahun 2024.
4. Sasaran Strategis Kementerian Perindustrian
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, telah ditetapkan sasaran strategis Kementerian Perindustrian berdasarkan tingkat perspektif pemangku kepentingan (stakeholders perspective), perspektif pelanggan (customer perspective), perspektif proses internal (internal process perspective) dan perspektif pembelajaran organisasi (learning and growth perspective).
a. Perspektif Pemangku Kepentingan (Stakeholders Prespective)
Sasaran Strategis 1: Meningkatnya Daya Saing dan Kemandirian Industri Pengolahan Nonmigas. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran strategis ini adalah:
1) Tenaga kerja di sektor industri pengolahan nonmigas;
2) Persentase tenaga kerja di sektor industri pengolahan non migas terhadap total pekerja;
3) Produktivitas tenaga kerja sektor industri nonmigas;
4) Nilai investasi sektor industri pengolahan nonmigas;
5) Utilisasi Sektor Industri;
6) Efisiensi sumber daya industri dalam rangka peningkatan daya saing industri hijau;
7) Persentase lulusan pendidikan vokasi yang mendapatkan pekerjaan dalam 1 tahun setelah kelulusan; dan
8) Lulusan pelatihan vokasi industri berbasis kompetensi.
b. Perspektif Pelanggan (Customer Perspective)
Sasaran Strategis 2: Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Perusahaan dengan nilai Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) ≥ 3.0;
2) Kontribusi ekspor produk industri berteknologi tinggi;
3) Tumbuh dan berkembangnya IKM start up berbasis teknologi;
4) Kemampuan sektor Industri Kecil Menengah melalui penerapan Making Indonesia 4.0; dan 5) SDM Industri 4.0 yang meningkat kompetensinya.
Sasaran Strategis 3: Meningkatnya Kemampuan Industri Barang dan Jasa serta Industri Halal Dalam Negeri. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Persentase nilai capaian penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa Kemenperin;
2) Substitusi Impor Produk Industri Pengolahan Nonmigas;
3) Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) (rerata tertimbang);
4) Produk tersertifikasi TKDN ≥ 25% yang masih berlaku;
5) SNI bidang industri yang diterapkan dan diberlakukan;
6) Tingkat efektivitas pelaksanaan promosi dan kampanye industri halal; dan
7) Produktivitas/efisiensi perusahaan industri yang memanfaatkan teknologi industri melalui jasa konsultasi.
Sasaran Strategis 4: Meningkatnya Penguasaan Pasar Industri. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Nilai ekspor produk industri pengolahan nonmigas;
2) Pertumbuhan ekspor industri pengolahan nonmigas;
3) Kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas terhadap total ekspor;
4) Penambahan jenis produk industri pengolahan nonmigas yang diekspor; dan 5) Rasio impor bahan baku sektor industri terhadap PDB sektor industri nonmigas.
Sasaran Strategis 5: Penguatan Kewirausahaan dan Industri Kecil dan Menengah (IKM).
Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Proporsi nilai tambah IKM terhadap total nilai tambah industri pengolahan nonmigas;
2) Wirausaha industri kecil yang tumbuh;
3) IKM yang melakukan kemitraan dengan industri besar sedang dan sektor ekonomi lainnya;
dan
4) Proporsi nilai penyaluran pinjaman perbankan kepada IKM.
Sasaran Strategis 6: Meningkatnya Persebaran Industri. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) KI prioritas di luar Jawa yang beroperasi dan meningkatkan investasi;
2) KI yang dikembangkan;
3) KI dengan zona tematik yang beroperasi;
4) Persentase nilai tambah sektor industri yang diciptakan di luar Jawa; dan 5) Sentra industri kecil dan menengah (IKM) di luar Jawa yang beroperasi.
c. Perspektif Proses Internal (Internal Process Perspective)
Sasaran Strategis 7: Tersedianya Regulasi Pembangunan Industri yang Efektif. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Efektivitas regulasi yang ditetapkan di lingkungan Kemenperin; dan
2) Persentase kesesuaian jumlah peraturan perundang-undangan di bidang perindustrian yang ditetapkan dengan program penyusunan peraturan perundang-undangan.
Sasaran Strategis 8: Terselenggaranya Urusan Pemerintahan di Bidang Perindustrian yang Berdaya saing dan Berkelanjutan. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Perusahaan industri menengah besar yang tersertifikasi Standar Industri Hijau (SIH); dan 2) Infrastruktur kompetensi industri.
Sasaran Strategis 9: Tercapainya Pengawasan Internal yang Efektif dan Efisien. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Batas toleransi temuan pengawasan eksternal;
2) Rekomendasi hasil pengawasan internal telah ditindaklanjuti oleh satker; dan 3) Index Penerapan Manajemen Risiko (MRI) Kementerian Perindustrian.
d. Perspektif Pembelajaran Organisasi (Learning and Growth Perspective)
Sasaran Strategis 10: Terwujudnya ASN Kementerian Perindustrian yang Profesional dan Berkepribadian. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Rata-rata Indeks Profesionalitas ASN Kemenperin; dan
2) Persentase lulusan pendidikan dan pelatihan dengan predikat minimal baik.
Sasaran Strategis 11: Terwujudnya Sistem Informasi Industri yang Berkualitas. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Data dan informasi sesuai dengan kebutuhan pengambil keputusan; dan 2) Tingkat ketepatan waktu penyampaian informasi baku secara periodik.
Sasaran Strategis 12: Terwujudnya Birokrasi yang Efektif, Efisien, dan Berorientasi pada Layanan Prima. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Tingkat akuntabilitas laporan keuangan dan BMN;
2) Indeks RB Kementerian Perindustrian.
Sasaran Strategis 13: Tersusunnya Perencanaan Program, Pengelolaan Keuangan serta Pengendalian yang Berkualitas dan Akuntabel. Indikator kinerja sasaran strategis (IKSS) dari sasaran ini adalah:
1) Tersusunnya Perencanaan Program, Pengelolaan Keuangan serta Pengendalian yang Berkualitas dan Akuntabel; dan
2) Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kementerian Perindustrian.
Bab II
Perencanaan Kinerja
A. Perencanaan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021
Perencanaan kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2021 disusun melalui 2 (dua) tahapan perencanaan, yaitu tahapan penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) Tahun 2021 dan tahapan penyusunan Perjanjian Kinerja (Perkin) Tahun 2021. Sesuai dengan pedoman penyusunan dokumen akuntabilitas kinerja di lingkungan Kementerian Perindustrian, dokumen RKT Kementerian Perindustrian Tahun 2021 disusun pada tahun 2020 dan dokumen Perjanjian Kinerja (Perkin) Tahun 2021 ditetapkan pada awal tahun anggaran 2021.
Berdasarkan dokumen RKT yang telah disusun dan dengan mempertimbangkan dinamika kebijakan, perencanaan, dan penganggaran, diantaranya penyesuaian target kinerja Renstra Kemenperin Tahun 2020-2024, serta hasil evaluasi Laporan Kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2020 maka disusun target kinerja yang akan dicapai Kementerian Perindustrian pada tahun 2021.
Tabel 2. 1 Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021 TUJUAN
No. Sasaran Tujuan (ST) Indikator Tujuan Target Satuan
Tj Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional
Tj.1 Pertumbuhan PDB Industri Pengolahan
Nonmigas 3,56 Persen
Tj.2 Kontribusi PDB Industri Pengolahan
Nonmigas 17,98 Persen
Tj.3 Tenaga kerja di sektor industri 19,39 Juta Orang Tj.4 Nilai ekspor produk Industri Pengolahan
Nonmigas 134,21 US$ Milyar
PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Target Satuan
S1 Meningkatnya Daya Saing dan Kemandirian Industri Pengolahan Nonmigas
S1.1 Persentase tenaga kerja di sektor industri
terhadap total pekerja 14,9 Persen
S1.2 Produktivitas tenaga kerja sektor industri 115,46 Rp. Juta/
orang/tahun S1.3 Produktivitas sektor industri pengolahan
nonmigas 1,82 Nilai
S1.4 Nilai investasi sektor industri pengolahan
nonmigas 299,98 Rp. Trilyun
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Target Satuan S1.5
Hasil riset 5 (lima) tahun terakhir yang telah dimanfaatkan oleh perusahaan industri/badan usaha
17 Hasil Riset
S1.6
Persentase lulusan pendidikan vokasi yang mendapatkan pekerjaan dalam 1 tahun setelah kelulusan
77 Persen
S1.7 Lulusan pelatihan vokasi industry berbasis
kompetensi 85000 Orang
PERSPEKTIF PELANGGAN
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Target Satuan
S2 Penguatan Implementasi
Making Indonesia 4.0. S2.1 Perusahaan dengan nilai Indonesia Industri
4.0 Readiness Index (INDI 4.0) ≥ 3.0 36 Perusahaan S2.2 Kontribusi ekspor produk industri
berteknologi tinggi 12,83 Persen
S2.3 Tumbuhnya IKM startup berbasis teknologi 60 IKM S2.4 Sumber daya manusia industri 4.0 yang
kompeten 500 Orang
S3 Meningkatnya Kemampuan Industri Dalam Negeri
S3.1 Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)
(rerata tertimbang) 49,9 Persen
S3.2
Persentase nilai capaian penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah
48,02 Persen
S3.3 Produk tersertifikasi TKDN ≥ 25% yang
masih berlaku 6630 Produk
S3.4 Persentase SNI bidang industri yang
diterapkan 7 Persen
S4 Meningkatnya
Penguasaan Pasar Industri S4.1 Pertumbuhan ekspor industri pengolahan
nonmigas 7,19 Persen
S4.2 Kontribusi ekspor produk industri terhadap
total ekspor 74,9 Persen
S4.3 Rasio impor bahan baku industri terhadap
PDB sektor industri nonmigas 39,07 Persen S4.4 Penambahan jenis produk industri
pengolahan nonmigas yang di ekspor 28 Persen S5 Penguatan Kewirausahaan
dan Industri Kecil dan Menengah (IKM)
S5.1 Proporsi nilai tambah IKM terhadap total
nilai tambah industri pengolahan nonmigas 18,8 Persen S5.2 Wirausaha industri kecil yang tumbuh 8000 WUB S5.3
IKM yang melakukan kemitraan dengan industri besar sedang dan sektor ekonomi lainnya
120 IKM
S5.4 Proporsi nilai penyaluran pinjaman
perbankan kepada IKM 2,75 Persen
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Target Satuan S6 Meningkatnya Persebaran
Industri S6.1 KI prioritas di luar Jawa yang beroperasi dan
meningkatkan investasi 13 KI
S6.2 KI yang dikembangkan 22 KI
S6.3 KI dengan zoba tematik yang beroperasi 2 KI S6.4 Persentase nilai tambah sektor industri yang
diciptakan di luar Pulau Jawa 30,7 Persen S6.5 Sentra industri kecil dan menengah (IKM) di
luar Jawa yang beroperasi 23 Sentra IKM
PERSPEKTIF PROSES BISNIS INTERNAL
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Target Satuan
S7 Tersedianya kebijakan pembangunan industry
yang efektif S7.1 Efektifitas regulasi bidang industri yang
ditetapkan 74 Persen
S8 Terselenggaranya Urusan Pemerintahan di Bidang Perindustrian yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan
S8.1
Perusahaan industri menengah besar yang tersertifikasi Standar Industri Hijau (SIH) berdasarkan SIH yang ditetapkan
37 Perusahaan S8.2 Infrastruktur kompetensi industri 10 SKKNI S9 Tercapainya Pengawasan
Internal yang Efektif dan Efisien
S9.1 Batas toleransi temuan pengawasan
eksternal 1,4 Persen
S9.2 Rekomendasi hasil pengawasan internal
telah ditindaklanjuti oleh satker 91,5 Persen S9.3 Index Penerapan Manajemen Resiko (MRI)
Kementerian Perindustrian 3 Nilai
Sumber : Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian 2021, diterbitkan bulan Januari 2021
Dengan masih adanya pandemi covid-19 yang sangat mempengaruhi perekonomian dunia termasuk perekonomian Indonesia serta telah terbitnya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Perindustrian Tahun 2020-2024, maka dilakukan penyesuaian Sasaran Strategis, Indikator, dan Target pada Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustran 2021 menjadi sebagaimana tabel berikut:
Tabel 2. 2 Perjanjian Kinerja Kemenperin 2021 Perubahan TUJUAN
No. Sasaran Tujuan (ST) Indikator Tujuan Target Satuan
Tj
Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional
Tj.1 Pertumbuhan PDB industri pengolahan
nonmigas 3,56 Persen
Tj.2 Kontribusi industri pengolahan nonmigas
terhadap PDB 17,81 Persen
PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDERS PERSPECTIVE)
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja Target Satuan
SS1
Meningkatnya Daya Saing dan Kemandirian Industri Pengolahan Nonmigas
S1.1 Tenaga kerja di sektor industri pengolahan
nonmigas 18,29 Juta Orang
S1.2
Persentase tenaga kerja di sektor industri pengolahan non migas terhadap total pekerja
13,96 Persen
S1.3 Produktivitas tenaga kerja sektor industri
nonmigas 115,46 Rp Juta
/orang/ tahun S1.4 Nilai investasi sektor industri pengolahan
nonmigas 255,29 Rp. Triliun
S1.5 Utilisasi Sektor Industri 61,55 Persen S1.6
Efisiensi sumber daya industri dalam rangka peningkatan daya saing industri hijau
4 Persen
S1.7
Persentase lulusan pendidikan vokasi yang mendapatkan pekerjaan dalam 1 tahun setelah kelulusan
77 Persen
S1.8 Lulusan pelatihan vokasi industri berbasis
kompetensi 43.000 Orang
PERSPEKTIF PELANGGAN (CUSTOMER PERSPECTIVE)
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja (IKU) Target Satuan
SS2 Penguatan Implementasi Making Indonesia 4.0
S2.1 Perusahaan dengan nilai Indonesia Industry
4.0 Readiness Index (INDI 4.0) > 3.0 36 Perusahaan S2.2 Kontribusi ekspor produk industri
berteknologi tinggi 12,83 Persen
S2.3 Tumbuh dan berkembangnya IKM start up
berbasis teknologi 60 IKM
S2.4
Kemampuan sektor Industri Kecil Menengah melalui penerapan Making Indonesia 4.0
1500 IKM
S2.5 SDM Industri 4.0 yang meningkat
kompetensinya 400 Orang
SS3
Meningkatnya Kemampuan Industri Barang dan Jasa serta Industri Halal Dalam Negeri
S3.1
Persentase nilai capaian penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa Kemenperin
75 Persen
S3.2 Substitusi Impor Produk Industri
Pengolahan Nonmigas 22 Persen
S3.3 Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)
(rerata tertimbang) 49,9 Persen
S3.4 Produk tersertifikasi TKDN
> 25% yang masih berlaku 6.630 Produk S3.5 SNI bidang industri yang diterapkan dan
diberlakukan 7 Persen
S3.6 Tingkat efektivitas pelaksanaan promosi
dan kampanye industri halal 2,75 Skala 1-4 S3.7
Produktivitas/efisiensi perusahaan industri yang memanfaatkan teknologi industri melalui jasa konsultasi
60 Persen
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja (IKU) Target Satuan
SS4
Meningkatnya Penguasaan Pasar Industri
S4.1 Nilai ekspor produk industri pengolahan
nonmigas 134,21 US$ Miliar
S4.2 Pertumbuhan ekspor industri pengolahan
nonmigas 7,19 Persen
S4.3
Kontribusi ekspor produk industri pengolahan nonmigas terhadap total ekspor
74,90 Persen
S4.4 Penambahan jenis produk industri
pengolahan nonmigas yang diekspor 28 Persen S4.5 Rasio impor bahan baku sektor industri
terhadap PDB sektor industri nonmigas 39,07 Persen
SS5
Penguatan
Kewirausahaan dan Industri Kecil dan Menengah (IKM)
S5.1 Proporsi nilai tambah IKM terhadap total
nilai tambah industri pengolahan nonmigas 18,8 Persen S5.2 Wirausaha industri kecil yang tumbuh 8000 WUB S5.3
IKM yang melakukan kemitraan dengan industri besar sedang dan sektor ekonomi lainnya
80 IKM
S5.4 Proporsi nilai penyaluran pinjaman
perbankan kepada IKM 2,75 Persen
SS6 Meningkatnya Persebaran Industri
S6.1 KI prioritas di luar Jawa yang beroperasi dan meningkatkan investasi
13 KI
S6.2 KI yang dikembangkan 22 KI
S6.3 KI dengan zona tematik yang beroperasi 2 KI S6.4 Persentase nilai tambah sektor industri
yang diciptakan di luar Jawa 30,7 Persen S6.5 Sentra industri kecil dan menengah (IKM)
di luar Jawa yang beroperasi 23 Sentra IKM PERSPEKTIF PROSES INTERNAL (INTERNAL PROCESS PERSPECTIVE)
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja (IK) Target Satuan
SS7
Tersedianya Regulasi Pembangunan Industri yang Efektif
S7.1 Efektivitas regulasi yang ditetapkan di
lingkungan Kemenperin 74 Persen
S7.2
Persentase kesesuaian jumlah peraturan perundang-undangan di bidang perindustrian yang ditetapkan dengan program penyusunan peraturan perundang-undangan
60 Persen
SS8
Terselenggaranya Urusan Pemerintahan di Bidang Perindustrian yang Berdaya saing dan Berkelanjutan
S8.1 Perusahaan industri menengah besar yang
tersertifikasi Standar Industri Hijau (SIH) 37 Perusahaan S8.2 Infrastruktur kompetensi industri 10 SKKNI
SS9
Tercapainya Pengawasan Internal yang Efektif dan Efisien
S9.1 Batas toleransi temuan pengawasan
eksternal 1,4 Persen
S9.2 Rekomendasi hasil pengawasan internal
telah ditindaklanjuti oleh satker 91,5 Persen S9.3 Index Penerapan Manajemen Risiko (MRI)
Kementerian Perindustrian 3 Level
PERSPEKTIF PEMBELAJARAN ORGANISASI (LEARN & GROWTH PERSPECTIVE)
No. Sasaran Strategis (SS) Indikator Kinerja (IK) Target Satuan
SS10
Terwujudnya ASN Kementerian Perindustrian yang Professional dan Berkepribadian
S10.1 Rata-rata Indeks Profesionalitas ASN
Kemenperin 71 Indeks
S10.2 Persentase lulusan pendidikan dan
pelatihan dengan predikat minimal baik 82 Persen
SS11
Terwujudnya Sistem Informasi Industri yang Berkualitas
S11.1 Data dan informasi sesuai dengan
kebutuhan pengambil keputusan 3,1 Skala S11.2 Tingkat ketepatan waktu penyampaian
informasi baku secara periodik 80 Persen
SS12
Terwujudnya Birokrasi yang Efektif, Efisien, dan Berorientasi pada Layanan Prima
S12.1 Tingkat akuntabilitas laporan keuangan dan
BMN WTP Opini
S12.2 Indeks RB Kementerian Perindustrian 78,3 Nilai
SS13
Tersusunnya Perencanaan Program, Pengelolaan Keuangan serta Pengendalian yang Berkualitas dan Akuntabel
S13.1
Tingkat kesesuaian dokumen perencanaan dengan rencana program dan kegiatan prioritas nasional
95,7 Persen
S13.2
Nilai Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Kementerian Perindustrian
78,2 Nilai Sumber : Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian 2021 (Perubahan), diterbitkan bulan Desember 2021
B. Dukungan Anggaran Kementerian Perindustrian Tahun 2021
Dalam rangka mencapai tujuan, sasaran strategis dan Indikator Kinerja Utama yang telah ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021, dukungan anggaran berdasarkan program sebagaimana tertuang pada
Tabel 2. 3 Pagu Awal Kementerian Perindustrian Tahun 2021
No. Program Pagu (Rupiah)
1. Program Dukungan Manajemen 1.443.631.772.000
2. Program Nilai Tambah Dan Daya Saing Industri 663.361.351.000 3 Program Riset Dan Inovasi Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi 112.367.167.000
4. Program Pendidikan Dan Pelatihan Vokasi 962.024.611.000
Total 3.181.384.901.000
Pada tahun berjalan dilakukan refocussing anggaran dalam rangka penangan pandemi COVID -19 sehingga anggaran pada akhir tahun 2021 adalah sebagai berikut :
Tabel 2. 4 Pagu Akhir Kementerian Perindustrian Tahun 2021
No. Program Pagu (Rupiah)
1. Program Dukungan Manajemen 1.510.653.720.000
2. Program Nilai Tambah Dan Daya Saing Industri 675.321.535.000 3 Program Riset Dan Inovasi Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi 49.070.605.000
4. Program Pendidikan Dan Pelatihan Vokasi 591.229.931.000
Total 2.826.275.791.000
Sumber : Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM-SPAN)
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
A. Capaian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021
Capaian kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2021 merupakan pencapaian kinerja seluruh jajaran Kementerian Perindustrian dalam melakukan berbagai upaya melalui pelaksanaan program dan kegiatan guna mencapai target yang telah ditetapkan. Dalam laporan ini disampaikan capaian kinerja sebagaimana yang telah ditetapkan sebagai kontrak kinerja Menteri Perindustrian dalam dokumen Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021.
Selain itu juga diuraikan capaian kinerja lainnya, yakni capaian prestasi kelembagaan dan kinerja keuangan Kementerian Perindustrian.
Analisis pencapaian dilengkapi dengan pembandingan capaian dengan tahun sebelumnya serta dengan kinerja lainnya. Namun, terdapat beberapa sasaran strategis maupun indikator kinerja utama yang tidak dapat diperbandingkan. Hal ini dikarenakan pada tahun sebelumnya tidak ditetapkan sebagai sasaran atau indikator kinerja, serta dikarenakan ketidaktersediaan data. Perubahan sasaran strategis dan indikator kinerja utama ini salah satunya diakibatkan dari pemanfaatan laporan kinerja dalam mengevaluasi sasaran dan indikator yang telah ditetapkan.
Berikut akan disajikan capaian kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021.
A1. Kinerja Sasaran Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2021
Merujuk pada Peraturan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, Perjanjian kinerja (Perkin) merupakan dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/ kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Perkin merupakan bentuk komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi dan wewenang serta sumber daya yang tersedia.
Capaian Perkin yang akan disampaikan pada laporan ini meliputi Perkin berdasarkan perspektif pemangku kepentingan dan perkin berdasarkan perspektif proses internal.
Sejak awal tahun 2020 hingga akhir tahun 2021, Indonesia terdampak pandemi covid-19 yang mempengaruhi kondisi perekonomian dalam negeri maupun dunia. Kondisi tersebut turut mempengaruhi penyesuaian target kinerja dan juga penyesuaian pada Perjanjian Kinerja Kemenperin 2021, disamping penyesuaian Renstra Kementerian Perindustrian tahun 2020-2024 akibat perubahan organisasi dan tata kerja Kementerian Perindustrian. Berikut adalah uraian dan analisis capaian Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2021.
Tujuan: Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional
Sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Perindustrian 2020-2024, telah ditetapkan tujuan Kementerian Perindustrian sampai dengan tahun 2024, yaitu “Meningkatnya Peran Industri dalam Perekonomian Nasional”. Adapun indikator kinerja ketercapaian tujuan pada tahun 2021 sesuai Perjanjian Kinerja Kementerian Perindustrian tahun 2021 tertuang sebagaimana tabel berikut
Tabel 3. 1 Target dan Realisasi Indikator Tujuan Kementerian Perindustrian
No. Sasaran Tujuan (ST)
Indikator Tujuan 2019 2020 2021 Satuan
T R T R T R C (%)
Tj Meningkatnya Peran Sektor Industri dalam Perekonomian Nasional
Pertumbuhan PDB industri
pengolahan nonmigas
4,6 4,34 -2,22 -2,52 3,56 3,67 103,09 Persen
Kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB
17,8 17,58 17,8 17,89 17,81 17,36 97,47 Persen
1. Pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas
Berdasarkan data BPS, perekonomian indonesia tahun 2021 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp16.970,8 triliun dan PDB per kapita mencapai Rp62,2 juta atau US$4.349,5. Ekonomi Indonesia tahun 2021 tumbuh sebesar 3,69%, lebih tinggi dibanding capaian tahun 2020 yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07%.
Gambar 3. 1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Adapun di tahun 2021 laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan meraih pertumbuhan 3,69%, didukung dengan industri pengolahan nonmigas mengalami pertumbuhan sebesar 3,67% yang pada tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar 2,52%. Laju Pertumbuhan Industri Nonmigas mencapai 103,09% dari target yang ditetapkan pada tahun 2021 sebesar 3,56%. Berdasarkan Gambar 3. 1, selama 5 tahun terakhir, laju pertumbuhan industri pengolahan nonmigas menunjukkan bahwa meskipun perjalanan pembangunan sektor industri manufaktur di tahun 2021 masih diwarnai dengan gejolak dan tantangan akibat pandemi Covid- 19, namun sektor Industri pengolahan nonmigas berhasil untuk tumbuh. Adapun target jangka menengah indikator pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas berdasarkan Renstra Kementerian Perindustrian tahun 2020-2024 adalah pada tahun 2024 tercapai pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas sebesar 8,40%, sesuai dengan target jangka menengah indikator ini berdasarkan RPJMN tahun 2020-2024. Target tersebut dapat dicapai dengan melaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung indikator ini.
Tabel 3. 2 Laju Pertumbuhan Lapangan Usaha Industri Pengolahan
No Lapangan Usaha 2019 2020 2021
Industri Pengolahan Non Migas 4.34 -2.52 3.67
1 Industri Makanan dan Minuman 7.78 1.58 2.54
2 Industri Pengolahan Tembakau 3.36 -5.78 -1.32
3 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi 15.35 -8.88 -4.08
5,07 5,17 5,02
-2,07
3,69
4,85 4,77
4,34
-2,52
3,67
2017 2018 2019 2020 2021
Ekonomi Pengolahan Non- Migas