PERKEMBANGAN EKONOMI INDONESIA DAN DUNIA
TRIWULAN II TAHUN 2021
Edisi Vol. 5, No. 2 Agustus 2021
ISSN 2580-2518
KEDEPUTIAN BIDANG EKONOMI
KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS
KATA PENGANTAR
Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia merupakan publikasi triwulanan yang diterbitkan oleh Kedeputian Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas.
Publikasi ini didasarkan pada data dan informasi yang sudah dipublikasikan oleh Kementerian/Lembaga, instansi internasional, asosiasi, maupun hasil dari diskusi terbatas perkembangan ekonomi yang dilakukan bersama dengan beberapa Kementerian/Lembaga, pengamat, dan praktisi ekonomi.
Publikasi triwulan II tahun 2021 ini memberikan gambaran dan analisis mengenai perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia pada triwulan II tahun 2021. Dari sisi perekonomian dunia, publikasi ini memuat perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara kawasan Eropa, serta kondisi ekonomi regional Asia. Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2021 dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, investasi, industri dalam negeri, perekonomian daerah, serta proyeksi ekonomi.
Sangat disadari bahwa publikasi ini masih jauh dari sempurna dan memerlukan banyak perbaikan dan penyempurnaan. Oleh sebab itu, masukan dan saran yang membangun dari Pembaca tetap sangat diharapkan, agar tujuan dari penyusunan dan penerbitan publikasi ini dapat tercapai.
Jakarta, Agustus 2021
Deputi Bidang Ekonomi
i
RINGKASAN EKSEKUTIF
Di tengah akselerasi program vaksinasi di berbagai belahan dunia, pada akhir triwulan II tahun 2021, kasus Covid-19 di beberapa negara kembali melonjak dengan strain baru yang kecepatan penyebarannya lebih tinggi. Negara-negara yang telah mampu mengendalikan Covid-19, baik melalui pembatasan yang ketat maupun percepatan vaksinasi, kembali melanjutkan pemulihan pada triwulan II tahun 2021. Perekonomian Amerika Serikat tumbuh 12,2 persen (YoY), didorong oleh pemulihan pada personal consumption dan private investment. Jepang dan Korea Selatan tumbuh masing- masing sebesar 7,5 dan 5,9 persen (YoY). Sementara itu, pertumbuhan Tiongkok mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni sebesar 7,9 persen (YoY). Meskipun tumbuh tinggi, perekonomian riil sebagian besar negara masih berada di bawah kondisi pra-pandemi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri mencapai 7,1 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2021. Pemulihan tersebut sejalan dengan kondisi mobilitas dan aktivitas masyarakat yang jauh lebih longgar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dimana kasus pertama dideteksi. Pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan investasi dan pemulihan konsumsi rumah tangga. Konsumsi pemerintah juga meningkat sejalan dengan realisasi belanja barang dan program bantuan sosial.
Selain itu, kinerja ekspor Indonesia juga meningkat seiring dengan peningkatan permintaan dari negara mitra dagang. Seluruh sektor juga telah kembali tumbuh positif dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor transportasi dan pergudangan, serta akomodasi dan makan minum. Pertumbuhan positif juga terjadi di seluruh wilayah. Namun, pertumbuhan Bali-Nusra masih terbatas mengingat sektor utama di wilayah tersebut masih mengalami tekanan.
Realisasi belanja negara meningkat 19,1 persen (YoY) menjadi Rp1.170,1 triliun.
Realisasi belanja pemerintah pusat mencapai 40,7 persen dari APBN sementara TKDD mencapai 47,0 persen. Realisasi bansos mencapai 48,6 persen yang dimanfaatkan untuk penyaluran program bansos reguler serta program pemulihan dampak Covid- 19. Sementara itu, realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai 50,9 persen dari APBN yakni sebesar Rp886,9 triliun. Beberapa jenis pajak utama mencerminkan pemulihan kegiatan ekonomi, diantaranya PPh pasal 26 yang tumbuh 17,9 persen (YoY) serta PPh final yang tumbuh 2,2 persen (YoY). Berdasarkan capaian pendapatan dan belanja negara, defisit anggaran sebesar Rp283,2 triliun atau sekitar 1,7 persen dari PDB, lebih tinggi dari periode yang sama tahun 2020. Pembiayaan anggaran mencapai Rp419,2 triliun atau 41,7 persen dari pagu APBN 2021 terutama bersumber dari pembiayaan utang.
Sepanjang triwulan II tahun 2021, BI 7-day Reverse Repo Rate dipertahankan sebesar 3,50 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah inflasi yang rendah.
ii
Nilai tukar Rupiah melemah 2,4 persen (YtD), dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global akibat peningkatan kasus Covid-19 dan rencana pengurangan stimulus oleh The Fed. Sementara tingkat inflasi pada triwulan II tahun 2021 sebesar 1,3 persen (YoY). Di sisi lain, ekspansi moneter dilanjutkan melalui quantitative easing dan kebijakan makroprudensial termasuk dukungan Bank Indonesia dalam pembiayaan APBN.
Neraca Pembayaran Indonesia mengalami defisit yang dipengaruhi oleh turunnya surplus transaksi moodal dan finansial serta peningkatan defisit transaksi berjalan.
Defisit transaksi berjalan disebabkan oleh peningkatan defisit neraca pendapatan primer, neraca perdagangan migas, serta neraca jasa. Turunnya surplus neraca transaksi modal dan finansial disebabkan oleh peningkatan defisit pada transaksi investasi lainnya, dipengaruhi peningkatan pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo. Adapun cadangan devisa hingga triwulan II tahun 2021 relatif stabil sebesar USD137,1 miliar, setara dengan pembiayaan 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya diperkirakan kembali mengalami perlambatan pada triwulan III tahun 2021 sejalan dengan implementasi PPKM Darurat. Namun, akan kembali rebound pada triwulan selanjutnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 secara keseluruhan diperkirakan sebesar 3,5-4,3 persen. Perkiraan tersebut sejalan dengan proyeksi lembaga internasional maupun market. Kebijakan penanganan pandemi menjadi kunci keyakinan masyarakat dan dunia usaha. Penyaluran bansos diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat.
Investasi diperkirakan meningkat baik oleh pemerintah maupun swasta. Dari sisi lapangan usaha, seluruh sektor diperkirakan tumbuh positif dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor jasa kesehatan dan akomodasi.
iii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... III DAFTAR TABEL ... IV DAFTAR GAMBAR ... VI
PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA ...9
PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INDONESIA ... 19
2.1 Produk Domestik Bruto ... 19
Investasi ... 27
Industri ... 32
Pariwisata ... 38
2.2 Produk Domestik Regional Bruto ... 42
2.3 Fiskal ... 50
2.4 Moneter dan Jasa Keuangan ... 60
Moneter ... 60
Jasa Keuangan ... 65
2.5 Neraca Pembayaran ... 75
Neraca Perdagangan ... 81
Kerjasama Ekonomi Internasional ... 85
PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI ... 98
3.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global ... 98
3.2 Proyeksi Perekonomian Indonesia ...101
POLICY BRIEF ... 105
iv
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara ... 13
Tabel 2. Pembentukan Modal Tetap Bruto ... 20
Tabel 3. Perdagangan Besar Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor ... 23
Tabel 4. Pertumbuhan Ekonomi ... 26
Tabel 5. Realisasi Investasi ... 27
Tabel 6. Realisasi Investasi Sektor Sekunder ... 28
Tabel 7. Sektor PMA Terbesar ... 28
Tabel 8. Realisasi PMA Terbesar berdasarkan Negara Asal ... 28
Tabel 9. Realisasi Investasi berdasarkan Lokasi ... 29
Tabel 10. Lokasi PMA Terbesar ... 29
Tabel 11. Sektor dan Lokasi PMDN Terbesar ... 30
Tabel 12. Lokasi PMDN Terbesar per Kabupaten/Kota ... 30
Tabel 13. Lokasi PMA Terbesar per Kabupaten/Kota ... 30
Tabel 14. Penyerapan Tenaga Kerja ... 31
Tabel 15. Perbandingan Capaian dengan Target dalam RPJMN 2020-2024 ... 32
Tabel 16. Kunjungan Wisman berdasarkan Pintu Masuk dan Negara Asal ... 38
Tabel 17. Pertumbuhan Ekonomi Wilayah ... 49
Tabel 18. Realisasi Komponen Pendapatan Negara dan Hibah ... 50
Tabel 19. Realisasi Komponen Penerimaan Perpajakan ... 50
Tabel 20. Realisasi Komponen PNBP ... 51
Tabel 21. Realisasi Komponen Belanja Pemerintah Pusat ... 53
Tabel 22. Komposisi Transfer ke Daerah dan Dana Desa ... 55
Tabel 23. Perkembangan Komponen Pembiayaan ... 57
Tabel 24. Rincian Realisasi Anggaran PC-PEN 2021 ... 58
Tabel 25. Realisasi APBN s.d 30 Juni 2020 dan 2021 ... 59
Tabel 26. Perkembangan Reverse Repo Surat Berharga Negara ... 60
Tabel 27. Tingkat Inflasi Domestik ... 63
Tabel 28. Tingkat Inflasi Domestik Berdasarkan Komponen (YoY) ... 64
Tabel 29. Inflasi Kelompok Pengeluaran (MtM) ... 64
Tabel 30. Perkembangan Kredit Bank Umum Konvensional ... 67
Tabel 31. Perkembangan Pembiayaan Perbankan Syariah ... 71
Tabel 32. Penyaluran Kredit Berdasarkan Lapangan Usaha ... 72
Tabel 33. Aset IKNB Syariah 2019-2020 ... 74
Tabel 34. Neraca Pembayaran ... 79
Tabel 35. Neraca Perdagangan ... 81
Tabel 36. Nilai Ekspor dan Impor Migas ... 81
Tabel 37. Nilai Ekspor Nonmigas berdasarkan Sektor ... 82
Tabel 38. Nilai Ekspor Nonmigas 10 Golongan Barang HS 2 Digit Terbesar ... 82
Tabel 39. Nilai Ekspor Nonmigas di Beberapa Negara Mitra Dagang Utama ... 83
v
Tabel 40. Nilai Impor berdasarkan Golongan Penggunaan Barang ... 83
Tabel 41. Nilai Impor Nonmigas 10 Golongan Barang HS 2 Digit Terbesar ... 84
Tabel 42. Nilai Impor Nonmigas di Beberapa Negara Mitra Dagang Utama ... 84
Tabel 43. Produk Unggulan Ekspor dan Impor Indonesia-Korea Selatan 2020 ... 89
Tabel 44. Perkembangan Investasi Korea Selatan di Indonesia ... 89
Tabel 45. Perjanjian Internasional Indonesia-Korea Selatan ... 90
Tabel 46. Perkembangan Perjanjian Internasional Indonesia ... 92
Tabel 47. Kinerja Perdagangan Indonesia dengan Negara Mitra FTA ... 94
Tabel 48. Kontribusi Nilai Perdagangan Indonesia terhadap Total Perdagangan Indonesia dengan Dunia berdasarkan FTA ... 96
Tabel 49. Proyeksi Pertumbuhan Beberapa Negara ... 98
Tabel 50. Proyeksi Harga Komoditas Global ... 100
Tabel 51. Konsensus Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ... 101
Tabel 52. PDB Berdasarkan Pengeluaran ... 102
Tabel 53. PDB Berdasarkan Lapangan Usaha ... 103
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara ... 9
Gambar 2. Perkembangan Harga Minyak Mentah ... 15
Gambar 3. Perkembangan Harga Gas Alam dan Batubara ... 15
Gambar 4. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ... 19
Gambar 5. Pertumbuhan PDB Sisi Pengeluaran... 19
Gambar 6. Perkembangan Konsumsi RT dan Investasi terhadap PDB ... 20
Gambar 7. Pertumbuhan PDB Sisi Produksi Triwulan II Tahun 2021 ... 22
Gambar 8. Pertumbuhan Industri Pengolahan Nonmigas ... 32
Gambar 9. Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan Nonmigas ... 33
Gambar 10. Ekspor Produk Industri ... 34
Gambar 11. PMDN Sektor Industri ... 35
Gambar 12. PMA Sektor Industri ... 35
Gambar 13. Produksi Mobil ... 36
Gambar 14. Penjualan Mobil... 36
Gambar 15. Penjualan Motor ... 37
Gambar 16. Penjualan Domestik Semen ... 37
Gambar 17. Purchasing Manufacturing Index ... 38
Gambar 18. Kunjungan Wisman ... 38
Gambar 19. Nilai Ekspor Jasa Perjalanan dan Rerata Pengeluaran Wisman ... 39
Gambar 20. Jumlah Penumpang Transportasi Nasional ... 40
Gambar 21. Jumlah Penumpang Transportasi Nasional ... 40
Gambar 22. TPK Hotel Berbintang berdasarkan Provinsi ... 41
Gambar 23. PDB Sektor Akomodasi dan Makan Minum ... 41
Gambar 24. Investasi Sektor Hotel dan Restoran ... 41
Gambar 25. Pertumbuhan dan Kontribusi Wilayah ... 42
Gambar 26. Perkembangan Komponen Belanja Negara ... 53
Gambar 27. Perkembangan Realisasi Defisit APBN ... 56
Gambar 28. Perkembangan Utang Pemerintah Pusat ... 57
Gambar 29. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap USD, 2019-2021 ... 61
Gambar 30. Real Effective Exchange Rate ASEAN-5, (2010=100) ... 61
Gambar 31. Perkembangan Uang Beredar... 62
Gambar 32. Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IKK) dan Inflasi Inti ... 63
Gambar 33. Perkembangan Indeks Harga Pangan Strategis Nasional, (2018=100) ... 64
Gambar 34. Kinerja Perbankan Konvensional ... 65
Gambar 35. Perkembangan DPK Perbankan Konvensional ... 66
Gambar 36. Perkembangan Kredit Perbankan Konvensional ... 66
Gambar 37. Perkembangan IHSG dan Nilai Kapitalisasi Pasar Saham ... 68
Gambar 38. Perkembangan Outstanding Obligasi Korporasi ... 68
Gambar 39. Perkembangan Aset Industri Asuransi ... 69
vii
Gambar 40. Perkembangan Jumlah Aset Bersih dan Jumlah Investasi Dana Pensiun ... 69
Gambar 41. Perkembangan Industri Teknologi Keuangan ... 70
Gambar 42. Tingkat Wanprestasi Industri Teknologi Keuangan ... 70
Gambar 43. Kinerja Bank Umum Syariah ... 70
Gambar 44. Kinerja Unit Usaha Syariah ... 70
Gambar 45. Dana Pihak Ketiga, Pembiayaan, dan Total Aset Perbankan Syariah ... 71
Gambar 46. Kapitalisasi Pasar dan Nilai Indeks Saham ISSI ... 74
Gambar 47. Outstanding Sukuk Korporasi dan SBSN ... 74
Gambar 48. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia ... 75
Gambar 49. Neraca Jasa Perjalanan dan Transportasi... 76
Gambar 50. Neraca Pendapatan Primer dan Sekunder ... 77
Gambar 51. Neraca Transaksi Finansial ... 78
Gambar 52. Tabel Input-Output ... 106
viii
9
Sebagian besar negara telah kembali tumbuh positif dengan pertumbuhan yang cukup tinggi. Perekonomian global menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dipengaruhi efek low-base. Selain itu, beberapa negara juga telah melonggarkan lockdown pada triwulan II tahun 2021. Akselerasi ekonomi didukung oleh pemberian stimulus fiskal dan moneter serta persepatan program vaksinasi. Namun, pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh penyebaran virus Covid-19 varian baru.
Perekonomian Amerika Serikat tumbuh hingga 12,2 persen (YoY) pada triwulan II tahun 2021. Pemulihan kondisi ekonomi Amerika Serikat terbantu oleh stimulus fiskal dan moneter yang terus dilakukan sepanjang April-Juni. Selain itu, realisasi program vaksinasi yang semakin meluas memperkuat pelonggaran aktivitas ekonomi.
Investasi swasta dan konsumsi masyarakat masing-masing tumbuh sebesar 21,0 dan 16,2 persen (YoY). Pertumbuhan konsumsi masyarakat terjadi baik pada konsumsi barang maupun jasa. Pertumbuhan durable goods bahkan mencapai 33,2 persen (YoY) yang menunjukkan permintaan yang semakin menguat. Sementara itu, nondurable goods tumbuh 14,2 persen (YoY) yang didorong oleh peningkatan pembelian produk farmasi. Investasi residen dan nonresiden juga menguat dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 21,7 dan 13,0 persen (YoY).
Investasi nonresiden pada sektor peralatan tumbuh 26,3 persen (YoY), produk kekayaan intelektual tumbuh 11,1 persen (YoY), sementara structures masih terkontraksi 6,6 persen (YoY). Kontraksi yang terjadi dipengaruhi oleh inflasi yang tinggi dan kelangkaan pasokan bahan baku.
Pengeluaran pemerintah dan investasi bruto stagnan dengan pertumbuhan 0,0 persen (YoY). Pertumbuhannya tertahan oleh pengeluaran federal yang terkontraksi 0,8 persen
Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara
Sumber: CEIC -15,0 -10,0 -5,0 0,0 5,0 10,0 15,0 20,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
persen
Singapura Amerika Serikat Tiongkok Jepang Korea
BAB I
PERKEMBANGAN
EKONOMI DUNIA
10
(YoY) akibat stagnasi pada pengeluaran untuk kebutuhan pengamanan nasional serta kontraksi pada nondefense. Di sisi lain, pengeluaran state and local hanya tumbuh 0,5 persen (YoY).
Kinerja impor Amerika Serikat meningkat 30,8 persen (YoY) yang didorong oleh pertumbuhan impor barang dan jasa masing-masing sebesar 32,7 dan 21,4 persen (YoY).
Sementara itu, ekspor meningkat 18,2 persen (YoY) yang terjadi baik pada ekspor barang (27,0 persen, YoY) maupun ekspor jasa (2,5 persen, YoY). Peningkatan kinerja ekspor tertinggi adalah pada pertumbuhan ekspor non-automotive capital goods.
Aktivitas industri di Amerika Serikat juga tengah mengalami pemulihan. Indeks PMI Manufaktur Amerika Serikat meningkat ke level 62,6 pada Juni, yang merupakan laju tercepat sejak tahun 2007, didorong oleh pelonggaran restriksi dan kuatnya pemulihan ekonomi domestik. Indeks PMI Jasa turun ke level 64,8 dan kembali mengalami peningkatan pada biaya input dan harga jual yang menunjukkan adanya tekanan inflasi.
Meski manufaktur meningkat, pasar tenaga kerja masih cenderung stagnan. Nonfarm payrolls Amerika Serikat meningkat 850.000 pada Juni yang didorong oleh pemulihan sektor leisure dan perhotelan. Tingkat pengangguran (U-3) naik tipis ke level 5,9 persen karena banyak orang yang secara sukarela meninggalkan pekerjaan mereka dan jumlah pencari kerja meningkat. Sementara itu, tingkat setengah menganggur (U-6) turun ke level 9,8 persen. Tingkat U-6 merupakan ukuran angka pengangguran yang lebih inklusif karena memperhitungkan mereka yang berhenti mencari pekerjaan.
Korea Selatan tumbuh 5,9 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan triwulan I tahun 2021 (1,9 persen, YoY). Investasi tumbuh melambat sebesar 3,6 persen (YoY), dipengaruhi oleh investasi sektor konstruksi yang masih terkontraksi 1,5 persen (YoY). Di sisi lain, pertumbuhan investasi didorong oleh investasi fasilitas dan produk kekayaan intelektual yang masing-masing tumbuh sebesar 12,2 dan 4,3 persen (YoY).
Konsumsi masyarakat tumbuh 3,6 persen (YoY) di tengah pembatasan aktivitas masyarakat dan lambatnya program vaksinasi. Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 5,3 persen (YoY), melambat dibandingkan triwulan II tahun 2020 yang mencapai 6,8 persen (YoY).
Kinerja ekspor barang dan jasa Korea Selatan tumbuh hingga 22,4 persen (YoY). Ekspor barang tumbuh 23,6 persen (YoY) sementara ekspor jasa tumbuh 15,4 persen (YoY).
Sejalan dengan perbaikan ekspor, kinerja impor juga tumbuh 13,7 persen (YoY), terutama didorong oleh peningkatan impor barang sebesar 16,1 persen (YoY).
Sementara itu, impor jasa tumbuh 3,3 persen (YoY).
Dari sisi lapangan usaha, sektor konstruksi dan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mengalami kontraksi masing-masing sebesar 3,5 dan 3,4 persen (YoY).
11
Pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor manufaktur yakni sebesar 13,7 persen (YoY).
Sektor listrik, gas dan air tumbuh 3,7 persen (YoY). Sektor jasa juga meningkat 4,2 persen (YoY).
Singapura tumbuh tinggi mencapai 14,7 persen (YoY). Pemulihan ekonomi Singapura dipengaruhi oleh low base pada triwulan II tahun 2020 yang terkontraksi 13,3 persen (YoY) akibat pembatasan mobilitas masyarakat setempat selama dua bulan.
Meski tumbuh tinggi, nilai PDB pada triwulan II tahun 2021 masih lebih rendah 0,6 persen dibandingkan level pra pandemi pada triwulan II tahun 2019.
Sektor konstruksi tumbuh hingga 106,2 persen (YoY) setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya terkontraksi 65,6 persen (YoY). Pertumbuhan sektor ini sejalan dengan akselerasi pengerjaan konstruksi publik dan swasta. Di sisi lain, tingginya pertumbuhan dipengaruhi kontraksi dalam yang terjadi pada triwulan II tahun 2020 akibat pemberlakuan Circuit Breaker yang menyebabkan berhentinya sebagian besar aktivitas konstruksi. Meskipun pertumbuhan sektor konstruksi pada triwulan II tahun 2021 sangat tinggi, value added sektor ini masih lebih rendah 29,0 persen dibandingkan level pra pandemi pada tahun 2019.
Sektor manufaktur tumbuh 17,7 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh ekspansi output pada seluruh klaster.
Klaster transport engineering and precision engineering merupakan klaster yang mengalami pertumbuhan tertinggi.
Sektor perdagangan wholesale tumbuh 2,9 persen (YoY), lebih lambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kelompok mesin-mesin, peralatan, dan persediaan yang didukung oleh kuatnya penjualan wholesale komponen elektronik dan peralatan komunikasi & komputer. Sementara sektor ritel tumbuh 50,7 persen (YoY) yang didorong oleh tingginya penjualan kendaraan bermotor dan nonmotor.
Sektor jasa makanan tumbuh 36,7 persen (YoY), didorong oleh peningkatan permintaan pada restoran, kafe, food courts, dan outlet cepat saji. Di sisi lain, pertumbuhan permintaan katering dalam jumlah besar masih terhambat akibat pembatasan acara dan pertemuan berskala besar yang masih diterapkan. Secara keseluruhan, value added sektor tersebut masih berada 26,0 persen lebih rendah dibandingkan level pra pandemi.
Sementara itu, sektor akomodasi tumbuh 13,2 persen (YoY) yang didorong oleh peningkatan permintaan wisata domestik. Di sisi lain, pemulihan kunjungan wisatawan mancanegara masih tertekan akibat restriksi perjalanan sehingga menahan laju pertumbuhan sektor akomodasi.
Sektor real estate tumbuh 25,8 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi 3,1 persen (YoY). Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh
12
efek low base pada triwulan II tahun 2020 akibat restriksi pada tempat kerja selama pemberlakuan Circuit Braker. Dibandingkan level pra pandemi, kinerja sektor tersbut masih lebih rendah 7,4 persen (YoY).
Perkembangan tenaga kerja di Singapura pada triwulan II tahun 2021 secara keseluruhan masih terkontraksi. Tenaga kerja nonresiden terus menurun seiring dengan pembatasan perjalanan yang masih diterapkan. Sementara tenaga kerja residen tetap tumbuh meskipun tertahan oleh pemberlakuan Fase 2 (Heightened Alert) pada sektor yang berorientasi domestik sejak 16 Mei-13 Juni 2021. Tingkat pengangguran secara keseluruhan semakin menurun menjadi 2,7 persen (per Juni), meskipun masih belum kembali ke level pra pandemi.
Jepang mengalami rebound pada triwulan II tahun 2021 dengan pertumbuhan mencapai 7,5 persen (YoY) yang dipengaruhi oleh low base effect. Pemulihan ekonomi Jepang didukung oleh seluruh komponen pengeluaran. Konsumsi rumah tangga meningkat 7,3 persen (YoY) sejalan dengan restriksi yang lebih longgar dibandingkan triwulan II tahun 2020. Meski tumbuh tinggi, konsumsi rumah tangga masih tertahan akibat pembatasan yang kembali diperketat di beberapa daerah seiring dengan peningkatan kasus. Restriksi akhirnya kembali dilonggarkan pada bulan Juni dan dapat sedikit mendorong konsumsi masyarakat.
Investasi nonresiden tumbuh 2,5 persen (YoY) sementara investasi residen masih terkontraksi 2,8 persen (YoY). Kontraksi yang terjadi dipengaruhi oleh sektor swasta yang melakukan wait and see seiring dengan asesmen perkembangan ekonomi domestik.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 3,4 persen (YoY), yang antara lain didorong oleh program vaksinasi dan persiapan Olimpiade Tokyo yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2021.
Sejalan dengan peningkatan aktivitas perdagangan global, kinerja ekspor Jepang tumbuh hingga 26,3 persen (YoY). Kelangkaan semikonduktor pada pasar global menahan pertumbuhan ekspor mobil dan suku cadang. Namun, peningkatan permintaan pada peralatan pembuat chip dan peralatan industri lainnya mengalami pemulihan yang kuat. Sementara itu, impor tumbuh 5,2 persen (YoY) yang didorong oleh impor vaksin.
Perekonomian Tiongkok tumbuh 7,9 persen (YoY), namun pemulihannya melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 18,3 persen (YoY).
Kondisi tersebut dippengaruhi oleh kebijakan pemerintah setempat yang melonggarkan lockdown pada triwulan II tahun 2020 sehingga aktivitas dapat kembali berjalan meskipun masih terbatas dan dengan protokol ketat. Diantara sektor yang mulai melambat menuju level pertumbuhan normal, sektor informasi, sektor akomodasi dan restoran, serta sektor transportasi, pergudangan dan pos masih tumbuh dua digit.
13
Sektor transmisi informasi, software, dan jasa teknologi informasi tumbuh 19,5 persen (YoY). Sektor akomodasi dan restoran tumbuh 17,1 persen (YoY) sementara sektor transportasi, pergudangan dan pos tumbuh 12,1 persen (YoY). Kondisi ini sejalan dengan pemulihan aktivitas masyarakat yang semakin mendekati tingkat pra pandemi.
Sektor perdagangan besar dan retail yang merupakan sektor terbesar dalam PDB Tiongkok tumbuh 9,6 persen (YoY). Pertumbuhan yang kuat didorong oleh pemulihan permintaan domestik. Namun, data penjualan ritel barang konsumen periode April-Juni menunjukkan pertumbuhan yang kian melambat. Data tersebut mengindikasikan permintaan domestik Tiongkok masih belum pulih sepenuhnya.
Sektor industri Tiongkok tumbuh 8,8 persen (YoY) dengan pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 9,2 persen (YoY). Pertumbuhan output industri pada bulan Juni melambat disebabkan oleh turunnya produksi kendaraan bermotor. Namun demikian, pertumbuhannya tetap lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Selain tiu, tertahannya pertumbuhan sektor industri disebabkan oleh kelangkaan chip global yang digunakan sebagai bahan baku beberapa indsutri. Tingkat utilisasi industri pada triwulan II tahun 2021 secara keseluruhan sebesar 78,4 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Sebagian besar negara mempertahankan suku bunganya, untuk mempertahankan stabilitas moneter dan memantau kondisi ekonomi. Ttriwulan II tahun 2021 menjadi momentum percepatan pemulihan bagi berbagai negara.
Namun, risiko gelombang baru masih menjadi ancaman bagi pembukaan aktivitas perekonomian. Dalam situasi yang masih belum stabil ini, sebagian besar negara memutuskan untuk berhati-hati dalam pengetatan stimulus fiskal dan moneter yang selama ini dijalankan. Sepanjang triwulan II tahun 2021, mayoritas negara memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya.
The Fed mempertahankan target Fed Fund Rate (FFR) di level 0 – 0,25 persen dan mengisyaratkan akan ada dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun 2023. Pada bulan Juni, The Fed mempertimbangkan pengurangan pembelian aset dan perlunya wait Tabel 1. Suku Bunga Acuan Beberapa Negara
Apr Mei Jun
BRIC
Brazil 2,75 3,50 4,25
Rusia 5,00 5,00 5,50
India 4,00 4,00 4,00
Tiongkok 3,85 3,85 3,85
ASEAN-5
Indonesia 3,50 3,50 3,50
Thailand 0,50 0,50 0,50
Filipina 2,00 2,00 2,00
Malaysia 1,75 1,75 1,75
Vietnam 4,00 4,00 4,00
Negara Maju Amerika Serikat
0,00-0,25 0,00-0,25 0,00-0,25
Jepang -0,1 -0,1 -0,1
Korea Selatan
0,50 0,50 0,50
Sumber: CEIC, PBC, BSP
14
and see sebelum memulai pengetatan. Ke depannya, The Fed akan terus menilai kemajuan ekonomi dan mulai membahas rencana penyesuaian kompisisi pembelian aset.
Korea Selatan juga mempertahankan suku bunganya pada level 0,50 persen sejak Mei 2020, yang merupakan suku bunga terendah, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, bank sentral Korea Selatan telah mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga pada tahun ini sejalan dengan pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan. Bank of Korea (BoK) berencana menarik kebijakan uang longgar secara bertahap dan bergerak lebih hawkish. Di sisi lain, BoK juga tetap mempertimbangkan perkembangan inflasi yang saat ini menunjukkan tren meningkat.
Jepang juga menahan suku bunga pada level -0,1 persen sepanjang triwulan II tahun 2021. Keputusan tersebut mempertimbangkan kebutuhan akan pelonggaran moneter untuk memperkuat sektor riil dalam melakukan investasi pasca pandemi. Bank of Japan (BoJ) akan terus melakukan pemantauan dampak pandemi dan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pelonggaran moneter selama dibutuhkan. Ke depannya, BoJ juga bersiap mempertahankan suku bunga pada level saat ini maupun ke level yang lebih rendah.
Tiongkok, yang telah pulih lebih dahulu dari negara lainnya, mempertahanlan suku bunganya sepanjang April-Juni. Hingga Juni, Loan Prime Rate (LPR) satu tahun dipertahankan sebesar 3,85 persen, sementara LPR diatas lima tahun tetap 4,65 persen.
Berbeda dengan mayoritas negara, Rusia menaikkan suku bunga sebanyak dua kali sepanjang triwulan II tahun 2021. Pada bulan April, Rusia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 5,00 persen. Langkah tersebut diambil untuk mendinginkan inflasi yang telah naik tinggi. Pada saat yang sama, hubungan Rusia dengan Amerika Serikat dan Eropa merenggang sehingga berpotensi memperparah inflasi. Pada bulan Juni, bank sentral Rusia kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 bps menjadi 5,50 persen untuk meredam pertumbuhan harga-harga. Peningkatan suku bunga lebih jauh masih memungkinkan hingga tekanan inflasi teratasi.
Menghadapi kondisi serupa dengan Rusia, Brazil juga menaikkan suku bunga sebesar 150 bps dalam dua tahap. Pada bulan Mei, bank sentral Brazil menaikkan 75 bps kemudian dilanjutkan pada bulan Juni dengan peningkatan yang sama. Langkah tersebut diambil seiring dengan inflasi yang meningkat selama beberapa bulan hingga bergerak lebih dari 7 persen pada bulan Mei. Peningkatan harga terutama terjadi pada makanan dan bahan bakar. Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan kepada masyarakat, yang berpotensi menaikkan permintaan. Inflasi pada bulan Juni semakin tinggi, lebih dari 8 persen, memaksa otoritas terkait kembali menaikkan suku bunga.
15
Sementara itu, seluruh negara ASEAN-5 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan.
Bank Negara Malaysia mempertahankan Overnight Policy Rate sebesar 1,75 persen sejalan dengan penguatan aktivitas ekonomi global meskipun beberapa sektor domestik menghadapi ancaman dampak gelombang baru Covid-19. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,50 persen. Sama seperti negara tetangganya, Thailand, Filipina, dan Vietnam juga mempertahankan suku bunga masing- masing pada level 0,50; 2,00; dan 4,00 persen.
Harga komoditas energi kembali pada level pra pandemi. Harga rata-rata minyak mentah pada triwulan II tahun 2021 meningkat 121,3 persen (YoY) menjadi USD67,1 per barel. Harga tersebut juga lebih tinggi 3,0 persen dibandingkan level pra pendemi pada triwulan II tahun 2019.
Peningkatan harga YoY yang signifikan dipengaruhi oleh efek low base pada tahun sebelumnya. Penguatan ditopang oleh ekonomi global yang berangsur pulih dan meningkatkan permintaan di tengah konsistensi OPEC+ untuk membatasi kuota produksi minyak, dan berkurangnya jumlah cadangan minyak Amerika Serikat.
Harga minyak mentah Brent naik 118,3 persen (YoY) menjadi USD68,6 per barel.
Harga minyak mentah WTI meningkat 137,8 persen (YoY) menjadi USD66,1 per barel.
Sementara harga minyak mentah Dubai naik 109,9 persen (YoY) menjadi USD66,4 per barel meskipun masih sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2019.
Harga batu bara naik hingga 101,7 persen (YoY) menjadi USD109,7 per metrik ton.
Penguatan harga komoditas tersebut didorong oleh peningkatan permintaan industri dan rumah tangga. Selain itu, terjadi gangguan pasokan batu bara di Tiongkok bagian utara akibat hujan deras dan banjir. Di sisi lain, harga gas alam melonjak hingga 383,8 persen (YoY) untuk gas alam Eropa dan 71,0 persen (YoY) untuk gas alam yang berasal dari Amerika Serikat. Peningkatan harga
Gambar 2. Perkembangan Harga Minyak Mentah
Sumber: World Bank
Gambar 3. Perkembangan Harga Gas Alam dan Batubara
Sumber: World Bank -5,0
5,0 15,0 25,0 35,0 45,0 55,0 65,0 75,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
USD
Dubai WTI Brent
0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0
0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
USD USD
Gas Alam, Eropa Gas Alam, AS
Batu Bara, Australia (kanan)
16
gas alam Amerika Serikat masih dipengaruhi oleh turunnya output dari sumur minyak serpih (oil shale) akibat cuaca dingin ekstrem yang terjadi pada triwulan sebelumnya. Di sisi lain, kondisi cuaca yang lebih hangat pada triwulan II tahun 2021 menyebabkan permintaan meningkat sebagai bahan bakar pendingin ruangan. Selain itu, peningkatan harga juga dipengaruhi oleh ketersediaan cadangan gas alam Eropa yang menipis.
Harga komoditas pertanian secara umum meningkat dibandingkan triwulan II tahun 2020. Harga minyak kelapa sawit meningkat 76,5 persen (YoY) menjadi USD1.083,8 per metrik ton. Sementara harga Palm Kernel Oil (PKO) meningkat hingga 108,3 persen (YoY) menjadi USD1.479,0 per metrik ton. Peningkatan harga kedua komoditas tersebut didorong oleh keterbatasan tenaga kerja akibat pembatasan aktivitas masyarakat seiring dengan lonjakan kasus Covid-19 di negara penghasil utama seperti Malaysia dan Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan kelangkaan pasokan ditengah permintaan yang meningkat.
Harga komoditas minyak kedelai naik 106,4 persen (YoY) menjadi USD1.458,5 per metrik ton, didorong oleh pemulihan permintaan dari negara konsumen seperti Tiongkok.
Sementara itu, harga komoditas kedelai yang berasal dari Amerika Serikat meningkat 34,8 persen menjadi USD471,0 per metrik ton.
Pada triwulan II tahun 2021, harga karet meningkat 60,8 persen (YoY) menjadi USD2,2 per kilogram. Peningkatan harga karet didorong oleh penguatan permintaan sejalan dengan perbaikan aktivitas ekonomi terutama di Tiongkok ditengah keterbatasan pasokan. Komoditas karet yang sebagian besar dipasok dari Asia Tenggara mengalami penurunan produksi akibat serangan penyakit pada tanaman produksi. Di sisi lain, perkebunan karet di beberapa negara sedikit demi sedikit telah dialihkan pada tanaman lain yang memiliki masa panen lebih singkat, seperti sawit.
Pembatasan aktivitas yang masih diberlakukan di berbagai tempat menyebabkan permintaan pada restoran menurun. Kondisi tersebut juga berdampak pada harga udang yang masih bergerak turun 0,1 persen (YoY). Selain itu, negara pengimpor juga memperketat aturan impor produk makanan beku, termasuk udang, akibat gelombang Covid-19 yang baru-baru ini terjadi di beberapa negara.
Harga komoditas seluruh jenis logam melanjutkan penguatan, didorong permintaan yang meningkat. Harga komoditas timah meningkat paling tinggi pada triwulan II tahun 2021. Harga timah rata-rata sebesar USD31.025,7 per metrik ton atau meningkat 97,2 persen (YoY). Harga tersebut juga lebih tinggi 56,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019. Kembalinya produksi industri berkontribusi dalam peningkatan harga timah. Namun, ancaman realisasi produksi yang lebih rendah dari tahun 2020 mendorong harga timah bergerak lebih tinggi. Produsen timah terbesar di dunia telah mengarahkan untuk menurunkan produksi tahun ini. Sementara produsen terbesar ketiga memperkirakan tidak akan kembali ke level pra pandemi hingga akhir
17
tahun. Di sisi lain, distribusi juga terhambat akibat kelangkaan peti kemas yang menyebabkan pengiriman terhambat.
Harga nikel meningkat 41,9 persen (YoY) menjadi USD17.359,3 per metrik ton.
Penguatan harga nikel didorong oleh pengembangan kendaraan listrik yang menggunakan nikel sebagai bahan baku utama. Selain nikel harga seng juga meningkat 48,1 persen (YoY) menjadi USD2.915,5 per metrik ton. Harga aluminium dan timbal juga meningkat masing-masing sebesar 60,2 dan 27,0 persen (YoY).
Harga rata-rata emas sepanjang triwulan II tahun 2021 menguat terbatas sebesar 6,1 persen (YoY) menjadi USD1.815,0 per troy ons. Penguatan kembali harga emas didorong oleh kondisi Covid-19 yang kembali menyebar ke berbagai negara. Selain itu, harga emas ditopang oleh penurunan yield US Treasury setelah bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve mempertahankan suku bunga serta melemahnya nilai tukar dolar AS.
18
19
2.1 Produk Domestik Bruto
Setelah menghadapi pandemi selama setahun, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2021 rebound 7,1 persen (YoY), merupakan pertumbuhan positif yang pertama sejak pandemi yang dimulai Maret 2020.
Pemulihan tersebut sejalan dengan pelonggaran mobilitas msyarakat dibandingkan yang terjadi pada masa awal pandemi di Indonesia. Produk Domestik Bruto riil pada triwulan II tahun 2021 sebesar Rp2.772,8 triliun, yang juga 1,4 persen lebih tinggi dibandingkan nilai PDB triwulan II tahun 2019.
Konsumsi rumah tangga yang merupakan penopang PDB Indonesia tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 5,9 persen (YoY).
Pemulihan konsumsi rumah tangga didorong oleh konsumsi masyarakat menengah keatas sejalan dengan berbagai insentif fiskal yang diberikan, salah satunya pembebasan PPnBM sebesar 100 persen yang berlaku pada triwulan kedua. Kebijakan tersebut berhasil mendorong penjualan wholesale mobil penumpang tumbuh hingga 904,3 persen (YoY). Selain itu, penjualan wholesale sepeda motor juga meningkat 268,6 persen (YoY).
Pelonggaran mobilitas masyarakat yang terjadi juga mendorong peningkatan jumlah penumpang angkutan kereta api baik jarak dekat maupun jarak jauh (114,2 persen,
Gambar 4. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Sumber: Badan Pusat Statistik
Gambar 5. Pertumbuhan PDB Sisi Pengeluaran
Sumber: Badan Pusat Statistik 5,05
-5,32
-0,71 7,07
-8,0 -6,0 -4,0 -2,0 0,0 2,0 4,0 6,0 8,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
persen
5,9 4,1
8,1
7,5
31,8
31,2 0,0 10,0 20,0 30,0 40,0
Konsumsi RT
LNPRT
Konsumsi Pemerintah
PMTB
Ekspor
Impor persen
BAB II
PERKEMBANGAN
PEREKONOMIAN INDONESIA
20 YoY), juga moda transportasi laut (173,6 persen, YoY) dan udara (456,5 persen, YoY). Selain itu, pengeluaran masyarakat akan sarana dan prasarana komunikasi juga masih meningkat sejalan dengan aktivitas sekolah dan bekerja yang masih dilaksanakan secara daring. Secara umum, pengeluaran subkelompok transportasi dan komunikasi tumbuh 10,6 persen (YoY).
Dampak pelonggaran PSBB juga tercermin dari subkelompok pengeluaran restoran dan hotel yang tumbuh 16,8 persen (YoY).
Peningkatan sejalan dengan pulihnya aktivitas makan minum di tempat dan berbagai acara yang sudah dapat dilaksanakan di hotel. Berbanding terbalik dengan pembatasan sosial ketat yang diberlakukan pada triwulan II tahun 2020 yang melarang dine-in serta seluruh kegiatan berkumpul. Sementara itu, pengeluaran subkelompok makanan dan minuman (selain restoran) tumbuh 5,9 persen (YoY).
Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh sebesar 7,5 persen (YoY) yang didorong oleh pertumbuhan positif pada semua subkomponen.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada barang modal jenis kendaraan yakni sebesar 42,3 persen (YoY), dipengaruhi oleh peningkatan produk kendaraan domestik.
Kemudian disusul oleh barang modal
jenis peralatan lainnya yang tumbuh 36,7 persen (YoY) baik yang berasal dari impor maupun domestik.
Gambar 6. Perkembangan Konsumsi RT dan Investasi terhadap PDB
Sumber: Badan Pusat Statistik
Tabel 2. Pembentukan Modal Tetap Bruto
Uraian
Nilai*
Q2 2021
Growth (%) Share thd Total PDB (%) QtQ YoY
Pembentukan Modal Tetap Bruto
850,8 -2,7 7,5 30,7
Bangunan 640,9 -2,6 4,4 23,1 Mesin dan
Perlengkapan
91,5 0,6 19,1 3,3
Kendaraan 44,3 -10,7 42,3 1,6 Peralatan
lainnya
13,9 1,6 36,7 0,5
Cultivated Biological Resources
40,3 -6,2 1,0 1,5
Produk Kekayaan Intelektual
19,8 4,8 5,2 0,7
Produk
Domestik Bruto 2.772,8 3,3 7,1 100,0 Sumber: Badan Pusat Statistik
*dalam triliun Rp (ADHK) -20,0
-15,0 -10,0 -5,0 0,0 5,0 10,0 15,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
persen
Konsumsi RT PMTB PDB
21
Barang modal jenis mesin dan perlengkapan tumbuh sebesar 19,1 persen (YoY).
Pertumbuhan barang modal jenis mesin terjadi pada seluruh jenis mesin baik produk domestik maupun yang berasal dari impor. Sementara itu, barang modal jenis bangunan tumbuh 4,4 persen (YoY). Investasi jenis barang modal mesin dan perlengkapan, produk kekayaan intelektual, serta peralatan lainnya merupakan subkomponen yang mengalami pertumbuhan positif baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun pada triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Konsumsi pemerintah tumbuh 8,1 persen (YoY) didorong oleh peningkatan realisasi belanja barang dan jasa serta belanja modal. Belanja barang dan jasa tumbuh hingga 82,1 persen (YoY) yang dipengaruhi oleh berbagai realisasi program penanganan pandemi Covid-19 seperti pelaksanaan vaksinasi, pengadaan alat uji media, penyemprotan disinfektan, serta testing dan tracing. Sementara realisasi belanja modal meningkat 45,6 persen (YoY) yang utamanya dipengaruhi oleh pembayaran dan percepatan proyek infrastruktur dasar/konektivitas lanjutan tahun sebelumnya serta pengadaan peralatan. Selain itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah juga didorong oleh belanja pegawai yang meningkat 19,8 persen (YoY).
Sejalan dengan permintaan yang meningkat dari negara mitra dagang dan meningkatnya harga komoditas global, ekspor barang dan jasa tumbuh tinggi mencapai 31,8 persen (YoY). Kinerja yang impresif tersebut didorong oleh peningkatan ekspor barang yang mencapai 33,2 persen (YoY). Ekspor barang nonmigas tumbuh 34,0 persen (YoY) yang didorong oleh komoditas bahan bakar mineral, besi dan baja, serta mesin/peralatan listrik. Sementara ekspor barang migas meningkat 25,8 persen (YoY). Ekspor jasa meningkat 5,2 persen (YoY).
Impor barang dan jasa juga tumbuh positif sebesar 31,2 persen (YoY). Impor barang nonmigas meningkat 29,6 persen (YoY) yang didominasi oleh barang modal seperti mesin-mesin/pesawat mekanik, mesin/peralatan listrik, besi dan baja, serta plastik dan barang dari plastik. Impor barang migas tumbuh hingga 40,7 persen (YoY) seiring dengan peningkatan harga dan volume impor migas. Sejalan dengan peningkatan aktivitas perdagangan internasional, impor jasa tumbuh 31,2 persen (YoY).
Dari sisi produksi, seluruh sektor usaha telah kembali tumbuh positif.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat yang signifikan dibandingkan triwulan II tahun 2020 saat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh hingga 25,1 persen (YoY) yang didorong oleh peningkatan penumpang angkutan di berbagai moda serta peningkatan aktivitas bongkar muat ekspor-impor. Angkutan udara tumbuh tinggi hingga 137,7 persen (YoY) seiring dengan dibukanya kembali penerbangan internasional meski belum secara penuh. Angkutan rel yang termasuk KRL, sebagai salah satu moda utama
22
pekerja, tumbuh 67,2 persen (YoY). Angkutan darat dan laut masing-masing tumbuh 18,2 dan 16,4 persen (YoY). Sementara itu, subsektor pergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos dan kurir tumbuh 33,6 persen (YoY).
Akomodasi dan makan minum juga tumbuh tinggi yakni sebesar 21,6 persen (YoY) yang didorong oleh relaksasi kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat dan tingkat hunian hotel. Penyediaan akomodasi tumbuh 45,7 persen (YoY) seiring dengan berbagai kegiatan yang mulai kembali dilaksanakan di hotel. Selain itu, sebagian masyarakat juga mulai berlibur setelah membatasi aktivitasnya di rumah selama setahun belakangan. Sejalan dengan hal tersebut, penyediaan makan minum juga tumbuh 17,9 persen (YoY).
Industri pengolahan tumbuh 6,9 persen (YoY) yang didorong oleh pertumbuhan di hampir seluruh subsektor. Industri batu bara dan pengilangan migas 3,4 persen (YoY).
Sementara itu, industri pengolahan nonmigas tumbuh 6,9 persen (YoY) yang didorong oleh pertumbuhan
subsektor industri alat angkutan yang tumbuh hingga 45,7 persen (YoY). Peningkatan produksi subsektor tersebut untuk memenuhi peningkatan permintaan domestik.
Subsektor industri logam dasar tetap tumbuh positif yakni sebesar 18,0 persen (YoY), yang didukung oleh peningkatan produksi besi, baja, dan bahan baku logam dasar lainnya seiring dengan tingginya permintaan luar negeri, terutama untuk produk ferronickel dan stainless steel. Pertumbuhan produksi subsektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional juga tetap positif sebesar 9,2 persen (YoY), terutama untuk memenuhi permintaan domestik selama menghadapi pandemi Covid-19. Di sisi lain, subsektor industri tekstil dan pakaian jadi masih terkontraksi 4,5 persen (YoY) akibat permintaan domestik yang masih lemah.
Sektor konstruksi tumbuh 4,4 persen (YoY) yang didorong oleh berlanjutnya pembangunan proyek infrastruktur dasar/konektivitas lanjutan pemerintah serta proyek swasta lainnya. Real estat juga tumbuh 2,8 persen (YoY) yang didorong oleh
Gambar 7. Pertumbuhan PDB Sisi Produksi Triwulan II Tahun 2021
Sumber: Badan Pusat Statistik 0,4
5,2 6,6 6,9 9,1 5,8 4,4
9,4 25,1 21,6 6,9
8,3 2,8
9,9 9,5 5,7
11,6 12,0 Pertanian
Pertambangan Industri Industri Pengolahan Pengadaan Listrik & Gas Pengadaan Air Konstruksi Perdagangan Transportasi & Pergudangan Akomodasi & Mamin Informasi & Komunikasi Jasa Keuangan & Asuransi Real Estat Jasa Perusahaan Adm. Pemerintahan Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan & Keg. Sosial Jasa Lainnya
(persen)
23
pembebasan PPN rumah dengan skema 100 dan 50 persen. Insentif tersebut berlaku sejak 1 Maret hingga Agustus 2021. Namun kemudian, pemerintah memperpanjang hingga akhir tahun berjalan.
Sektor perdagangan besar dan eceran;
reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 9,4 persen (YoY) yang didorong oleh pemberian insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 100 persen. Subsektor perdagangan mobil, sepeda motor dan reparasinya tumbuh 37,9 persen (YoY) yang dipengaruhi lonjakan penjualan mobil.
Sementara itu, perdagangan besar dan eceran bukan mobil dan sepeda motor tumbuh 4,8 persen (YoY). Pemulihan di sub sektor ini tidak terlepas dari komitmen pemerintah dalam
mengoptimalkan penggunaan ekonomi digital di sektor perdagangan seperti e- commerce, sehingga membantu pelaku usaha skala kecil dan menengah tetap produktif dan menjalankan usahanya di tengah pandemi.
Di tengah pertumbuhan yang impresif pada mayoritas sektor, sektor pertanian hanya tumbuh 0,4 persen (YoY). Tertekannya pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh kontraksi pada subsektor pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian serta subsektor kehutanan dan penebangan kayu. Kontraksi pada subsektor pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian disebabkan oleh kontraksi pada tanaman pangan sebesar 8,2 persen (YoY). Kondisi ini akibat penurunan produksi tanaman padi seiring berakhirnya puncak panen raya yang terjadi pada triwulan sebelumnya. Di sisi lain, peternakan tumbuh 7,1 persen (YoY) yang didorong oleh peningkatan produksi sejalan dengan peningkatan permintaan selama Ramadan dan persiapan Idul Fitri, dan Idul Adha. Sementara itu, produksi subsektor perikanan tumbuh 9,7 persen (YoY), didorong oleh cuaca yang mendukung.
Tabel 3. Perdagangan Besar Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
Uraian Growth (%) Share thd Total PDB (%) QtQ YoY
PDB Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
3,4 9,4 13,1
Perdagangan Mobil, Sepeda Motor, dan Reparasinya
1,3 37,9 2,4
Perdagangan Besar dan Eceran, bukan Mobil dan Motor
3,8 4,8 10,7
Produk Domestik Bruto 3,3 7,1 100,0 Sumber: Badan Pusat Statistik
24 Box1: Gelombang Kedua Covid-19 Indonesia
Indonesia kembali mengalami lonjakan kasus Covid-19. Tren peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia ini diperkirakan terjadi sejak akhir Mei 2021 yang ditandai dengan peningkatan jumlah kasus harian terkonfirmasi positif dan peningkatan okupansi tempat tidur isolasi dan ICU di rumah sakit, terutama di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kasus harian terkonfirmasi positif terus meningkat secara eksponensial hingga pada puncaknya mencapai 56.757 kasus pada 15 Juli 20211.
Perkembangan Kasus Terkonfirmasi Positif Covid-19 Harian
Sumber: covid19.go.id
Masuknya mutasi virus SARS-CoV-2 varian delta yang diidentifikasi pertama kali di India menjadi salah satu pemicu lonjakan kasus Covid-19. Varian delta memiliki tingkat penularan lebih tinggi dibanding varian lain yang membuat varian ini menyebar sangat masif di Indonesia maupun negara lainnya. Ketua Tim Whole Genome Sequencing (WGS) SARS-CoV-2 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), membenarkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia disebabkan oleh paparan virus SARS-CoV-2 varian delta. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Laboratorium Biosafety Level-3 LIPI dengan melakukan pengambilan sampel selama 8 hari terhitung dari tanggal 10-18 Juni 2021, ditemukan bahwa hampir 100 persen varian yang menjangkit merupakan varian delta2.
Merespon lonjakan kasus Covid-19 tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa-Bali dan Penguatan 3T (Tracing, Testing, dan Treatment) melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2021. Implementasi PPKM Darurat mencakup penutupan, penyekatan wilayah, dan pelarangan pembukaan beberapa tempat yang berpotensi
1covid19.go.id. Peta Sebaran COVID-19 (Diakses pada 8 Agustus 2021)
2LIPI. Lonjakan Kasus Covid 19 di Indonesia Didominasi oleh Varian Delta (Diakses pada 5 Agustus 2021)
25
menjadi pusat kerumunan. Kebijakan ini diharapkan bisa menurunkan mobilitas masyarakat sekaligus menurunkan laju penularan Covid-19. PPKM Darurat diberlakukan sejak tanggal 3 -20 Juli 2021, yang kemudian diperpanjang hingga 25 Juli 2021 akibat penyebaran kasus Covid-19 yang masih tinggi. Setelah dilakukan evaluasi, PPKM Darurat kembali diperpanjang 26 Juli-2 Agustus 2021, yang kemudian diperpanjang hingga 9 Agustus 2021. Dalam perpanjangan terakhir, diberlakukan PPKM Level 4 untuk kota/kabupaten yang memiliki asesmen WHO level 4, dan PPKM level 3 untuk kota/kabupaten yang memiliki asesmen WHO level 3. Keputusan perpanjangan atau pelonggaran PPKM akan ditentukan secara berkala dengan memperhatikan perkembangan Covid-19 di seluruh Indonesia.
Berbagai tantangan muncul bersamaan selama lonjakan kasus Covid-19 ini. Di antaranya, tingginya tingkat keterisian rumah sakit, kelangkaan oksigen medis dan obat penanganan Covid-19, tingginya tingkat kematian pasien isolasi mandiri dan tenaga kesehatan, serta berbagai masalah sosial ekonomi. Upaya terus dilakukan oleh pemerintah untuk merespon permasalahan ini seperti menambah kapasitas rumah sakit dan tempat isolasi, memperkuat pengawalan distribusi obat penanganan Covid-19, mempercepat pengadaan dan penambahan ketersediaan oksigen, serta meningkatkan layanan terhadap pasien isolasi mandiri. Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa pemerintah akan meningkatkan jumlah tes harian menjadi 400-500 ribu tes per hari, karantina untuk seluruh kontak erat dari kasus terkonfirmasi, dan akan menjamin sarana dan prasarana fasilitas kesehatan. Vaksinasi juga terus digiatkan pemerintah, baik melalui fasilitas kesehatan di berbagai tingkat, sentra vaksinasi, maupun mobil vaksin keliling. Tercatat per tanggal 8 Agustus 2021, sudah lebih dari 50 juta penduduk Indonesia telah mendapatkan vaksin dosis pertama atau sekitar 24 persen dari sasaran vaksinasi yang sebesar 208,2 juta orang3.
3covid19.go.id. Berita Terkini (Diakses pada 8 Agustus 2021)
26
Tahun 2016 – Triwulan II/2021 (persen, YoY)
2016 2017 2018 2019 2020:1 2020:2 2020:3 2020:4 2021:1 2021:2
Produk Domestik Bruto 5,0 5,1 5,2 5,0 3,0 -5,3 -3,5 -2,2 -0,7 7,1
Konsumsi Rumah Tangga 5,0 4,9 5,1 5,0 2,8 -5,5 -4,0 -3,6 -2,2 5,9
Konsumsi LNPRT 6,6 6,9 9,1 10,6 -5,0 -7,8 -2,0 -2,1 -4,0 4,1
Konsumsi Pemerintah -0,1 2,1 4,8 3,3 3,8 -6,9 9,8 1,8 2,3 8,1
PMTB 4,5 6,2 6,6 4,5 1,7 -8,6 -6,5 -6,2 -0,2 7,5
Ekspor Barang dan Jasa -1,6 8,9 6,6 -0,9 0,4 -12,0 -11,7 -7,2 7,0 31,8
Impor Barang dan Jasa -2,4 8,1 11,9 -7,4 -3,6 -18,3 -23,0 -13,5 5,5 31,2
Pertanian, Kehutanan, Perkebunan dan Perikanan 3,4 3,9 3,9 3,6 0,0 2,2 2,2 2,6 3,3 0,4
Pertambangan dan Penggalian 0,9 0,7 2,2 1,2 0,4 -2,7 -4,3 -1,2 -2,0 5,2
Industri Pengolahan 4,3 4,3 4,3 3,8 2,1 -6,2 -4,3 -3,1 -1,4 6,6
Industri Pengolahan Nonmigas 4,4 4,9 4,8 4,3 2,0 -5,7 -4,0 -2,2 -0,7 6,9
Listrik dan Gas 5,4 1,5 5,5 4,0 3,9 -5,5 -2,4 -5,0 1,7 9,1
Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, Daur Ulang 3,6 4,6 5,6 6,8 4,4 4,4 5,9 5,0 5,5 5,8
Konstruksi 5,2 6,8 6,1 5,8 2,9 -5,4 -4,5 -5,7 -0,8 4,4
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi 4,0 4,5 5,0 4,6 1,6 -7,6 -5,0 -3,6 -1,2 9,4
Transportasi dan Pergudangan 7,4 8,5 7,0 6,4 1,3 -30,8 -16,7 -13,4 -13,1 25,1
Akomodasi dan Makan Minum 5,2 5,4 5,7 5,8 1,9 -22,0 -11,8 -8,9 -7,3 21,6
Informasi dan Komunikasi 8,9 9,6 7,0 9,4 9,8 10,8 10,7 10,9 8,7 6,9
Jasa Keuangan dan Asuransi 8,9 5,5 4,2 6,6 10,6 1,1 -0,9 2,4 -3,0 8,3
Real Estate 4,7 3,6 3,5 5,8 3,8 2,3 2,0 1,2 0,9 2,8
Jasa Perusahaan 7,4 8,4 8,6 10,3 5,4 -12,1 -7,6 -7,0 -6,1 9,9
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 3,2 2,0 7,0 4,7 3,1 -3,2 1,8 -1,5 -3,0 9,5
Jasa Pendidikan 3,8 3,7 5,4 6,3 5,9 1,2 2,4 1,4 -1,7 5,7
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 5,2 6,8 7,1 8,7 10,4 3,7 15,3 16,5 3,3 11,6
Jasa lainnya 8,0 8,7 9,0 10,6 7,1 -12,6 -5,5 -4,8 -5,2 12,0
PDB Harga Berlaku (Rp Triliun) 12.402 13.590 14.839 15.833 3.922,6 3.687,8 3.894,6 3.929,2 3.970,5 4.175,8 PDB Harga Konstan (Rp Triliun) 9.434 9.913 10.426 10.949 2.703,1 2.589,8 2.720,5 2.709,0 2.684,0 2.772,8 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
27
Investasi
Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp116,8 triliun dan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp106,8 triliun. Total nilai realisasi investasi PMA dan PMDN pada triwulan II tahun 2021 mencapai Rp223,0 triliun, atau naik sebesar 1,5 persen dari triwulan I tahun 2021.
Nilai realisasi PMA mengalami kenaikan sebesar 19,6 persen (YoY), sementara nilai realisasi PMDN juga tumbuh sebesar 12,7 persen (YoY).
Sektor yang berperan besar terhadap realisasi PMA dan PMDN pada triwulan II tahun 2021 adalah sektor tersier, dengan nilai realisasi investasi sebesar Rp113,8 triliun, tumbuh
sebesar 8,4 persen (YoY). Realisasi sektor primer meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun 2020, dan juga mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya pada tahun yang sama. Pada sektor sekunder, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya pada tahun yang sama mengalami kontraksi, namun dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada triwulan yang sama mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Realisasi investasi terbesar pada sektor sekunder triwulan II tahun 2021 adalah Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya, Berdasarkan sektor/bidang usaha, realisasi investasi terbesar pada triwulan II tahun 2021 di sektor sekunder disumbang oleh: (1) Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya; (2) Industri Makanan; (3) Industri Kimia dan Farmasi;
(4) Industri Kendaraan Bermotor dan Alat Transportasi Lain; dan (5) Industri Kertas dan Percetakan.
Sektor sekunder yang mengalami pertumbuhan terbesar dibandingkan periode yang sama tahun 2020 adalah Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki sebesar 138,8 persen, Sedangkan Industri Tekstil mengalami kontraksi cukup signifikan sebesar 26,4 persen akibat daya beli masyarakat menurun dan meningkatnya penjualan pakaian impor yang mempengaruhi industri dalam negeri, serta adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Tabel 5. Realisasi Investasi Uraian Nilai
Q2 2021 (triliun Rp)
Growth (%) Share thd Realisasi Investasi QtQ YoY (%)
Realisasi
Investasi 223,0 1,5 16,21 100,0 Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN)
106,2 -1,6 12,7 47,6
Penanaman Modal Asing (PMA)*
116,8 4,5 19,6 52,4
Berdasarkan Sektor
Primer 30,3 14,0 41,9 13,6
Sekunder 78,9 -10,7 20,3 35,4
Tersier 113,8 8,6 8,4 51,1
kurs: Rp14.600/USD
Sumber: Kementerian Investasi/BKPM
28
Tabel 6. Realisasi Investasi Sektor Sekunder Uraian
Nilai Q2 2021 (triliun Rp)
Growth (%) Share thd Sektor Sekunder(%)
QtQ YoY
Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya
29,7 6,8 43,9 37,7
Industri Makanan 14,9 -31,6 -17,5 18,9
Industri Kimia Dan Farmasi 10,9 15,1 12,2 13,8
Industri Kendaraan Bermotor dan Alat Transportasi Lain 5,5 -39,9 42,5 7,0
Industri Kertas dan Percetakan 4,1 -16,4 48,4 5,2
Industri Karet dan Plastik 3,5 65,2 91,2 4,4
Industri Mineral Non Logam 2,5 -54,3 35,0 3,2
Industri Mesin, Elektronik, Instrumen Kedokteran, Peralatan Listrik, Presisi, Optik dan Jam
2,2 -33,9 37,0 2,8
Industri Lainnya 2,0 258,0 -18,9 2,6
Industri Barang dari Kulit dan Alas Kaki 1,7 38,3 138,8 2,1
Industri Tekstil 1,3 -42,3 -26,4 1,6
Industri Kayu 0,6 169,3 103,5 0,8
Sumber: Kementerian Investasi/BKPM
Realisasi PMA berdasarkan sektor/bidang usaha dengan kontribusi terbesar pada realisasi adalah: (1) Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya; (2) Industri Makanan; (3) Industri Kimia dan Farmasi; (4) Industri Kendaraan Bermotor dan Alat Transportasi Lain; dan (5) Industri Kertas dan Percetakan. Sementara berdasarkan negara asal PMA, realisasi terbesar berasal dari Singapura sebesar Rp30,7 triliun.
Tabel 7. Sektor PMA Terbesar Uraian
Nilai Q2 2021 (triliun Rp)
Growth (%) Share thd Total PMA (%) QtQ YoY
Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya
19,1 3,2 35,0 16,4
Industri
Makanan 7,3 -44,9 7,3 6,2
Industri Kimia
Dan Farmasi 5,0 -34,3 -5,1 4,3 Industri
Kendaraan Bermotor dan Alat Transportasi Lain
2,9 -39,0 85,2 2,5
Industri Lainnya 2,0 365,0 -17,2 1,8 Sumber: Kementerian Investasi/BKPM
Tabel 8. Realisasi PMA Terbesar berdasarkan Negara Asal Uraian
Nilai Q2 2021 (triliun Rp)
Growth (%) Share thd Total PMA (%) QtQ YoY
Singapura 30,7 -19,0 9,6 26,36 Hongkong 21,1 76,3 26,4 18,12 Belanda 16,1 527,6 268,2 13,87
Jepang 10,4 121,8 19,2 8,95
Tiongkok 9,3 -38,2 -42,9 8,03 Sumber: Kementerian Investasi/BKPM