Neraca Pembayaran Indonesia mengalami defisit USD0,4 miliar, setelah sebelumnya surplus 4,1 miliar pada triwulan I tahun 2021. Defisit tersebut didorong oleh menurunnya suplus transaksi modal dan finansial sehingga tidak mampu mengkompensasi defisit transaksi berjalan.
Neraca transaksi berjalan defisit sebesar USD2,2 miliar atau setara 0,8 persen dari PDB, capaian tersebut memperlebar defisit pada triwulan sebelumnya.
Adapun perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan defisit neraca pendapatan primer, neraca perdagangan migas, serta neraca jasa.
Sebaliknya, peningkatan surplus neraca perdagangan nonmigas dan neraca pendapatan sekunder mampu sedikit menahan peningkatan defisit transaksi berjalan lebih tinggi.
Selanjutnya, neraca perdagangan nonmigas surplus sebesar USD11,5 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus pada triwulan I-2021 sebesar USD9,9 miliar. Perkembangan ini didorong oleh ekspor
Gambar 48. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia
Sumber: Bank Indonesia -10
-5 0 5 10 15
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
(miliar USD)
Transaksi Berjalan
Transaksi Modal dan Finansial Neraca Keseluruhan
76
nonmigas yang mengalami peningkatan signifikan melampui peningkatan impor nonmigas. Perbaikan kinerja ekspor nonmigas didukung oleh akselerasi pertumbuhan ekspor riil dan harga ekspor, baik pada produk primer maupun manufaktur.
Sementara itu, neraca perdagangan migas defisit USD3,4 miliar, meningkat dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar USD2,3 miliar.
Perkembangan ini didorong oleh peningkatan impor minyak sejalan dengan kebutuhan konsumsi domestik dan tren kenaikan harga minyak dunia yang berlanjut.
Di sisi lain, surplus neraca gas pada triwulan II tahun 2021 sebesar USD0,7 miliar, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar USD0,5 miliar. Peningkatan tersebut antara lain disebabkan oleh kenaikan ekspor gas, seiring dengan perkembangan harga gas yang semakin meningkat.
Neraca jasa mengalami defisit USD3,7 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD3,4 miliar. Peningkatan defisit neraca jasa tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan defisit neraca jasa transportasi serta jasa telekomunikasi, komputer, dan informasi. Lebih lanjut, peningkatan defisit mampu ditahan oleh membaiknya surplus jasa perjalanan dan jasa keuangan yang mampu mencatatkan penurunan pada triwulan II tahun 2021.
Defisit jasa transportasi meningkat menjadi USD1,6 miliar dari sebelumnya USD1,4 miliar. Lebih lanjut, peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya pembayaran jasa freight menjadi sebesar USD2,1 miliar dari sebelumnya USD1,9 miliar sejalan dengan kenaikan impor barang. Selanjutnya, defisit jasa transportasi mampu ditahan oleh penerimaan jasa freight yang meningkat menjadi USD0,6 miliar dari sebelumnya USD0,5 miliar, seiring dengan kinerja ekspor barang yang membaik.
Selanjutnya, neraca jasa perjalanan mengalami surplus sebesar USD49,4 juta, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD23,0 juta.
Kenaikan tersebut sejalan dengan penerimaan jasa perjalanan dari wisatawan mancanegara (wisman) sebesar USD121,0 juta, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar USD88,3 juta seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan dan pola
Gambar 49. Neraca Jasa Perjalanan dan Transportasi
Sumber: Bank Indonesia -4,0
-3,0 -2,0 -1,0 0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 6,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
(miliar USD)
Ekspor Transportasi Ekspor Perjalanan Impor Transportasi Impor Perjalanan
77
pengeluaran wisman. Lebih lanjut, jumlah kunjungan wisman sebesar 418 ribu, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 384 ribu kunjungan.
Defisit neraca pendapatan primer meningkat, neraca pendapatan sekunder stabil. Defisit neraca pendapatan primer sebesar USD8,1 miliar, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar USD6,7 miliar.
Melebarnya defisit neraca pendapatan primer secara triwulanan disebabkan oleh kenaikan pembayaran imbal hasil atas investasi langsung dan portofolio asing yang melampui peningkatan penerimaan penduduk terutama atas investasi langsung di luar negeri. Di satu sisi, pembayaran pendapatan kepada nonresiden atas investasi langsung dan portofolio secara berturut-turut sebesar USD5,3 miliar dan USD3,8 miliar. Di sisi lain, penerimaan pendapatan penduduk dalam bentuk investasi langsung sebesar USD0,8 miliar dan investasi langsung sebesar USD0,7 miliar.
Neraca pendapatan sekunder surplus sebesar USD1,5 miliar, sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD1,4 miliar. Perkembangan tersebut didukung oleh mulai adanya tambahan jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) terutama ke Hongkong sejalan dengan pembukaan penempatan PMI ke beberapa negara pada masa adaptasi kebiasaan baru. Sementara itu, jumlah PMI di Malaysia berkurang seiring dengan pembatasan mobilitas di negara tersebut.
Transaksi modal dan finansial mengalami surplus sebesar USD1,9 miliar atau setara 0,7 persen dari PDB, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar USD5,5 miliar atau setara 2,0 persen PDB. Surplus tersebut ditopang oleh kenaikan surplus investasi langsung dan investasi portofolio meskipun lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara transaksi investasi lainnya mengalami kenaikan defisit. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tahun 2021 telah meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap prospek perekonomian Indonesia. Berkurangnya pembatasan mobilisasi karena pandemi Covid-19 yang sedikit mereda juga memicu aliran masuk investasi langsung.
Sementara itu, modal asing dalam bentuk investasi portofolio masih masuk ke dalam pasar keuangan domestik meskipun nilainya lebih rendah dari triwulan sebelumnya.
Penurunan arus masuk tersebut antara lain disebabkan oleh adanya jatuh tempo Gambar 50. Neraca Pendapatan
Primer dan Sekunder
Sumber: Bank Indonesia -12,0
-7,0 -2,0 3,0
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
(miliar USD)
Penerimaan Pendapatan Primer Penerimaan Pendapatan Sekunder Pembayaran Pendapatan Primer Pembayaran Pendapatan Sekunder
78
global bond pemerintah dan lebih rendahnya penerbitan global bond korporasi. Di sisi lain, transaksi investasi lainnya mengalami defisit yang lebih tinggi dari triwulan sebelumnya terutama disebabkan oleh peningkatan pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo.
Kinerja investasi langsung mengalami surplus yang lebih tinggi, dipengaruhi oleh meningkatnya kepercayaan investor asing terhadap prospek perekonomian Indonesia sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II tahun 2021. Investasi langsung mencatat arus masuk neto (surplus) sebesar USD5,3 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD4,2 miliar.
Kenaikan surplus tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya arus masuk neto di sisi kewajiban.
Kinerja investasi portofolio surplus sebesar USD4,4 miliar, menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar USD4,9 miliar. Penurunan surplus tersebut terutama bersumber dari penurunan arus masuk investasi portofolio di sisi kewajiban dari USD5,2 miliar menjadi USD4,7 miliar. Sementara itu, di sisi aset, pembelian neto surat berharga di luar negeri oleh penduduk Indonesia sama dengan triwulan sebelumnya yaitu USD0,3 miliar.
Adapun posisi cadangan devisa relatif stabil pada akhir triwulan II tahun 2021 sebesar USD137,1 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional yaitu 3 bulan.
Gambar 51. Neraca Transaksi Finansial
Sumber: Bank Indonesia -10
-5 0 5 10 15
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
2019 2020 2021
(miliar USD)
Investasi Langsung Investasi Portofolio Investasi Lainnya
79
Tabel 34. Neraca Pembayaran Tahun 2016 – Triwulan II/2021
(miliar USD)
2016 2017 2018 2019 2020:1 2020:2 2020:3 2020:4 2021:1 2021:2
TRANSAKSI BERJALAN -17,0 -16,2 -30,6 -30,3 -3,4 -2,9 1,0 0,9 -1,1 -2,2
BARANG 15,3 18,8 -0,2 3,5 4,5 4,0 9,8 10,0 7,6 8,1
Ekspor 144,5 168,9 180,7 168,5 41,7 34,6 40,8 46,2 49,4 54,3
Impor -129,2 -150,1 -181,0 -164,9 -37,2 -30,7 -31,0 -36,2 -41,7 -46,2
Barang Dagangan Umum 14,7 17,9 -0,2 1,6 3,2 2,5 8,7 10,1 7,7 8,2
Ekspor 143,1 167,0 178,7 164,9 40,0 33,0 39,2 45,6 48,9 53,9
Impor -128,4 -149,1 -178,9 -163,3 -36,8 -30,5 -30,5 -35,5 -41,2 -45,7
a. Nonmigas 19,5 25,3 11,2 12,0 5,8 3,3 9,4 11,3 10,0 11,6
Ekspor 130,2 151,4 161,1 152,9 37,7 31,2 37,2 43,2 45,9 50,5
Impor -110,7 -126,2 -149,9 -141,0 -31,9 -27,9 -27,8 -31,8 -35,9 -38,9
b. Migas -4,8 -7,3 -11,4 -10,3 -2,6 -0,8 -0,7 -1,2 -2,3 -3,4
Ekspor 12,9 15,6 17,6 12,0 2,3 1,8 2,0 2,4 3,0 3,3
Impor -17,7 -22,9 -29,0 -22,3 -4,9 -2,6 -2,7 -3,6 -5,3 -6,7
Barang Lainnya 0,6 0,9 0,0 1,9 1,3 1,5 1,1 -0,1 -0,1 -0,1
Ekspor 1,4 1,9 2,0 3,5 1,7 1,6 1,6 0,6 0,5 0,5
Impor -0,8 -1,0 -2,0 -1,7 -0,4 -0,1 -0,5 -0,7 -0,6 -0,6
JASA-JASA -7,1 -7,4 -6,5 -7,6 -1,7 -2,1 -2,7 -3,1 -3,4 -3,7
Ekspor 23,3 25,3 31,2 31,6 6,2 2,6 2,8 3,3 3,2 3,1
Impor -30,4 -32,7 -37,7 -39,3 -7,9 -4,7 -5,6 -6,4 -6,6 -6,8
PENDAPATAN PRIMER -29,6 -32,1 -30,8 -33,8 -7,9 -6,2 -7,4 -7,4 -6,7 -8,1
PENDAPATAN SEKUNDER 4,5 4,5 6,9 7,6 1,7 1,4 1,4 1,4 1,4 1,5
TRANSAKSI MODAL 0,0 0,0 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
TRANSAKSI FINANSIAL 29,3 28,7 25,1 36,6 -3,0 11,0 0,9 -1,0 5,5 1,9
Aset 15,9 -18,4 -19,2 -15,3 -4,7 -1,3 -2,5 -8,3 -3,8 -3,6
Kewajiban 13,4 47,1 44,3 51,9 1,6 12,4 3,3 7,3 9,4 5,6
INVESTASI LANGSUNG 16,1 18,5 12,5 20,5 4,3 4,4 0,9 4,2 4,2 5,3
Aset 11,6 -2,0 -6,4 -4,5 -0,7 -0,7 -2,8 -0,9 -1,0 -0,8
Kewajiban 4,5 20,5 18,9 25,0 5,0 5,2 3,7 5,1 5,2 6,1
80
Lanjutan Tabel 34 Neraca Pembayaran Tahun 2016 – Triwulan II/2021
(miliar USD)
2016 2017 2018 2019 2020:1 2020:2 2020:3 2020:4 2021:1 2021:2
INVESTASI PORTFOLIO 19,0 21,1 9,3 22,0 -6,3 9,7 -2,0 2,0 4,9 4,4
Aset 2,2 -3,4 -5,2 0,4 -0,1 -0,2 -0,3 -0,7 -0,3 -0,3
Kewajiban 16,8 24,4 14,5 21,6 -6,3 9,9 -1,7 2,6 5,2 4,7
DERIVATIF FINANSIAL 0,0 -0,1 0,0 0,2 -0,3 0,1 0,0 0,2 0,1 0,0
INVESTASI LAINNYA -5,8 -10,7 3,3 -6,1 -0,6 -3,3 1,9 -7,4 -3,6 -7,8
TOTAL 12,4 12,5 -5,4 6,3 -6,5 8,2 1,9 -0,2 4,5 -0,3
NERACA KESELURUHAN 12,1 11,6 -7,1 4,7 -8,5 9,2 2,1 -0,2 4,1 -0,4
Posisi Cadangan Devisa 116,4 130,2 120,7 0,1 121,0 131,7 135,2 135,9 137,1 137,1
Dalam Bulan Impor 8 8 6,4 7,3 7,0 8,1 9,1 9,8 9,7 8,8
Transaksi Berjalan/PDB (%) -2 -2 -3,7 -2,7 -1,2 -1,2 0,4 0,3 -0,4 -0,8
Sumber: Bank Indonesia, diolah
81
Neraca Perdagangan
Neraca perdagangan Indonesia kembali surplus sebesar USD6,3 miliar. Seiring dengan pemulihan ekonomi Indonesia yang semakin membaik, ekspor dan impor pada triwulan II tahun 2021 terus menunjukkan kenaikan dibandingkan triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun sebelumnya. Secara total, neraca perdagangan Indonesia meningkat sebesar 14,2 persen (QtQ) dan 118,7 persen (YoY). Surplus neraca perdagangan tersebut terutama disumbang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang mencapai USD9,5 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan migas masih defisit.
Neraca perdagangan migas
Pada triwulan II tahun 2021, neraca perdagangan migas defisit sebesar USD3,2 miliar, lebih besar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya sebesar USD 0,5 miliar. Ekspor migas Indonesia pada triwulan II tahun 2021 mengalami kenaikan sebesar 19,3 persen (QtQ) dan 87,1 persen (YoY). Kenaikan ekspor migas terutama didorong oleh ekspor gas yang tumbuh sebesar 25,6 persen (QtQ) serta ekspor minyak mentah yang tumbuh sebesar 17,5 persen (QtQ), seiring dengan kenaikan harga komoditas energi di pasar internasional. Pada bulan Juni 2021 harga minyak mentah naik sebesar 81,9 persen (YoY), sementara harga gas alam mengalami kenaikan yang jauh lebih tinggi lagi yaitu mencapai 177,6 persen (YoY).
Sementara itu, pertumbuhan impor migas juga tinggi seiring dengan peningkatan permintaan migas akibat semakin pulihnya ekonomi. Akibatnya, defisit neraca perdagangan migas Indonesia pada triwulan II tahun 2021 semakin membesar.
Tabel 35. Neraca Perdagangan Uraian Neraca Nonmigas 3.383,6 8.004,8 9.521,1 Ekspor Nonmigas 32.928,9 46.252,0 50.806,1 Impor Nonmigas 29.545,3 38.247,2 41.285,0 Neraca Migas -498,5 -2.482,9 -3.220,2 Ekspor Migas 1.690,3 2.652,3 3.162,9 Impor Migas 2.188,8 5.135,2 6.383,1 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Tabel 36. Nilai Ekspor dan Impor Migas Uraian Q2 2021 Nilai Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
*share terhadap total ekpor/impor
82
Kenaikan impor migas pada periode ini terutama didorong oleh impor minyak mentah serta impor hasil minyak, yang masing-masing tumbuh sebesar 47,0 persen (QtQ) dan 21,4 persen (QtQ).
Neraca perdagangan nonmigas
Pada triwulan II tahun 2021, neraca nonmigas Indonesia surplus sebesar USD9,5 miliar atau tumbuh sebesar 181,4 persen (YoY). Surplus perdagangan nonmigas didorong oleh pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 54,3 persen (YoY). Impor non migas juga mengalami pertumbuhan seiring dengan pertumbuhan di sektor industri manufaktur.
Walaupun pertumbuhannya masih lebih lambat dibandingkan pertumbuhan ekspor nonmigas, pada periode ini impor nonmigas tumbuh sebesar 39,7 persen (YoY).
Dilihat berdasarkan sektornya, pertumbuhan ekspor nonmigas pada triwulan II tahun 2021 terutama didorong oleh sektor Industri Pengolahan yang tumbuh sebesar 8,1 persen (QtQ) dan 51,7 persen (YoY) serta sektor Pertambangan dan Lainnya yang pertumbuhannya mencapai 24,5 persen (QtQ) dan 78,5 persen (YoY). Sementara itu, ekspor sektor Pertanian mengalami kontraksi sebesar 12,9 persen (QtQ), meskipun nilai ekspornya masih lebih tinggi 13,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020.
Berdasarkan golongan barang HS 2 digit, sumber pertumbuhan ekspor nonmigas pada triwulan II tahun 2021 terutama berasal dari golongan Besi dan Baja yang tumbuh sebesar 125,8 (YoY) dan memiliki
Tabel 37. Nilai Ekspor Nonmigas berdasarkan Sektor
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
*share terhadap total ekpor
Tabel 38. Nilai Ekspor Nonmigas 10 Golongan Barang HS 2 Digit Terbesar Kode HS: Uraian Q2 2021 Nilai Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
83
share 10,1 persen terhadap total nilai ekspor nonmigas. Golongan Lemak dan Minyak Hewan/Nabati (HS 15) serta golongan Bahan Bakar Mineral (HS 27) yang memiliki share nilai ekspor terbesar pun mencatatkan pertumbuhan sangat tinggi pada periode ini, yaitu masing-masing sebesar 71,6 dan 73,0 persen (YoY). Lebih lanjut, pertumbuhan tertinggi terjadi pada golongan barang Kendaraan dan Bagiannya (HS 87) yakni sebesar 152,3 persen, walaupun secara triwulanan golongan barang ini mengalami kontraksi sebesar 12,5 persen.
Tiongkok, ASEAN, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang merupakan negara serta kawasan tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai ekspor ke masing-masing mencapai USD11,6 miliar, USD10,4 miliar, USD5,9 miliar, USD4,2 miliar, dan USD3,8 miliar. Secara tahunan, ekspor nonmigas ke beberapa mitra dagang utama yang terdapat pada Tabel 6 mengalami peningkatan, dimana kenaikan ekspor nonmigas tertinggi adalah ke Malaysia yang mencapai 103,4 persen (YoY). Namun secara triwulanan, terdapat beberapa mitra dagang utama yang menunjukkan penurunan ekspor, yaitu Jepang (0,9 persen), India (7,6 persen), dan Jerman (7,7 persen).
Pada triwulan II tahun 2021, impor nonmigas Indonesia mencapai USD41,3 miliar, naik 39,7 persen (YoY).
Berdasarkan nilai impor penggunaan barang, kenaikan impor terbesar terjadi pada Bahan Baku/Penolong yang mencapai 57,8 persen (YoY) seiring dengan sektor industri pengolahan yang mulai pulih dan tumbuh positif pada triwulan II tahun 2021. Selanjutnya, impor Barang Konsumsi juga meningkat secara triwulanan maupun tahunan masing-Tabel 39. Nilai Ekspor Nonmigas di
Beberapa Negara Mitra Dagang Utama Uraian Nilai
Sumber: Badan Pusat Statistik
Tabel 40. Nilai Impor berdasarkan Golongan Penggunaan Barang Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
84
masing sebesar 14,7 persen dan 31,5 persen. Hal ini dapat menjadi sinyal positif bahwa daya beli masyarakat dan perekonomian Indonesia mulai pulih pasca pandemi Covid-19.
Dilihat dari kontribusinya, impor nonmigas terbesar pada triwulan II tahun 2021 adalah golongan Mesin-Mesin/Pesawat Mekanik (HS 84) sebesar USD6,0 miliar, Mesin/Peralatan Listrik (HS 85) sebesar USD5,5 miliar, serta Besi dan Baja (HS 72) sebesar USD3,0 miliar. Secara tahunan, top 10 golongan barang HS 2 digit dengan nilai impor terbesar seluruhnya tumbuh positif. Golongan barang yang tumbuh paling tinggi adalah Besi dan Baja (HS 72), Plastik dan Barang dari Plastik (HS 39), serta Kendaraan dan Bagiannya (HS 87) yang masing-masing tumbuh sebesar 110,4 persen, 54,1 persen, serta 52,7 persen. Sementara dilihat secara triwulanan terdapat beberapa golongan barang yang mengalami kontraksi, yaitu Mesin/Peralatan Listrik (HS 85), Ampas/Sisa Industri Makanan (HS 23), Berbagai Produk Kimia (HS 38), serta Gula dan Produk Olahan Gula (HS 17).
Impor nonmigas terbesar berasal dari Tiongkok, ASEAN, dan Jepang. Impor nonmigas yang berasal dari Tiongkok mengalami kenaikan sebesar 43,7 persen (YoY).
Tiongkok masih menjadi negara terbesar asal impor nonmigas Indonesia dengan Tabel 41. Nilai Impor Nonmigas 10 Golongan
Barang HS 2 Digit Terbesar Kode HS: Uraian Nilai
Tabel 42. Nilai Impor Nonmigas di Beberapa Negara Mitra Dagang Utama
Uraian
85
share 32,1 persen. Apabila dilihat secara triwulanan, pertumbuhan tertinggi impor nonmigas Indonesia pada periode ini berasal dari Amerika Serikat yakni sebesar 16,7 persen, dari USD1,9 miliar pada triwulan I tahun 2021 menjadi USD2,2 miliar pada triwulan II tahun 2021. Sedangkan secara tahunan, pertumbuhan impor nonmigas Indonesia berasal dari India yang mencapai 123,2 persen (YoY).
Kerjasama Ekonomi Internasional
Kondisi Global: Perang Dagang Amerika Serikat-Tiongkok Berpotensi Semakin Berkobar
Perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok berpotensi kembali berkobar.
Senat AS pada tanggal 14 Juli 2021 secara resmi meloloskan RUU yang melarang Impor Produk dari wilayah Xinjiang, Tiongkok. Aturan ini disusun sebagai upaya baru AS untuk memberi hukuman kepada Tiongkok atas dugaan kejahatan kemanusiaan dan genosida terhadap Uighur, Kazakh dan kelompok minoritas muslim lainnya.
Terdapat 23 perusahaan Tiongkok yang masuk dalam daftar hitam karena terlibat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan terkait militer, salah satunya yaitu: (1) China Academy of Electronics and Information Technology, Xinjiang Lianhai Chuangzhi Information Technology Co, (2) Shenzhen Cobber Information Technology Co, (3) Xinjiang Sailing Information Technology, (4) Beijing Geling Shentong Information Technology, (5) Shenzhen Hua'antai Intelligent Technology Co, dan (6) Chengdu Xiwu Security System Alliance Co. Tiongkok sendiri mengecam keras tindakan AS tersebut. Pemerintah Xi Jinping melalui Kementerian Perdagangan mengatakan AS melakukan pelanggaran serius terhadap ekonomi dan perdagangan internasional.
Amerika Serikat dan Tiongkok memiliki hubungan bilateral yang erat. Dalam daftar mitra dagang utama Amerika Serikat, Tiongkok merupakan negara tujuan ekspor utama yang menduduki posisi ketiga dengan total nilai ekspor sebesar USD 124 miliar (9 persen dari total ekspor Amerika Serikat pada tahun 2020), dengan ekspor utama adalah Mesin, peralatan mekanik dan minyak sayur. Sebaliknya, Amerika Serikat menempati posisi pertama tujuan ekspor Tiongkok, dengan total nilai ekspor sebesar USD 452 miliar (17 persen). Ini menunjukkan hubungan bilateral kedua negara dalam sektor perdagangan merupakan hubungan yang sangat penting bagi Amerika Serikat dan Tiongkok. Hubungan erat Amerika Serikat dengan Tiongkok juga ditunjukkan melalui investasi asing dimana Tiongkok menempati urutan ke-16 sebagai investor terbesar di Amerika Serikat di tahun 2020, dengan total 2 persen dari seluruh investasi asing di Amerika Serikat dengan investasi Tiongkok di Amerika Serikat terutama pada sektor perdagangan grosir dan industri lainnya.
86
Dengan daftar hitam ini, warga dan perusahaan AS dilarang untuk bekerja sama atau berinvestasi dengan perusahaan yang masuk dalam daftar itu. Entitas yang masuk daftar hitam juga terlarang melakukan bisnis dengan pemasok di AS.
Perkembangan Kerjasama Internasional Indonesia: Kerjasama Cross-Border and Trade Cooperation Indonesia-Timor Leste
Cross-Border and Trade Cooperation Indonesia-Timor Leste merupakan kerja sama lintas batas antara Indonesia dan Timor Leste yang dilaksanakan atas inisiasi Asian Development Bank (ADB). Kerja sama tersebut bertujuan meningkatkan konektivitas antar kedua negara yang dapat memberikan kontribusi pada peningkatan ekonomi melalui perdagangan dan pariwisata dengan 3 pilar kegiatan yaitu: 1) Trade and Transport Facilitation; 2) Livestock dan 3) Tourism. Output dari kerjasama ini dirancang untuk dapat diimplementasikan di tahun 2021, sehingga kerja sama akan berakhir pada tahun yang sama. Namun, sehubungan dengan pandemi Covid-19 dan kendala teknis yang dihadapi, masing-masing output masih dalam proses persiapan.
Dalam perkembangannya, MoU on Customs pada pilar 1 telah ditandatangani oleh Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan RI. Namun demikian, masih terdapat kendala administrasi pada MoU on Customs sehingga pihak Bea Cukai Timor Leste masih belum bersedia menandatangani MoU tersebut. Saat ini Kementerian Luar Negeri RI sedang melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Luar Negeri Timor Leste mengenai isu tersebut. Selanjutnya, MoU on Buses and Coaches pada pilar 1 telah ditandatangani oleh Menteri Perhubungan RI. Pada tanggal 9 Agustus 2021 draf MoU sudah dikirimkan ke Kementerian Luar Negeri agar dapat diproses lebih lanjut.
Pada pilar 2, draf Joint Animal Health Surveillance Guidelines telah di-review oleh unit terkait di Kementerian Pertanian dan hasil review telah disampaikan kepada Tim ADB.
Selanjutnya, draf Joint Tourism Asset Mapping yang merupakan output dari Pilar 3 juga telah ditinjau oleh unit terkait di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan telah disampaikan kepada Tim ADB.
Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement
Perjanjian IA-CEPA telah ditandatangani sejak 2019 lalu dan berlaku efektif mulai Juli 2020 dengan program kerjasama ekonomi atau disebut sebagai Economic Cooperation Program (ECP) IA-CEPA menjadi salah satu bagian dari kerjasama tersebut. Kerjasama tersebut akan dilaksanakan pada tahun 2021 dan berakhir pada tahun 2025 dengan keluaran (outcomes) yang diharapkan yaitu: 1) akses pasar Indonesia dan Australia yang lebih luas (greater market access), 2) integrasi pasar yang lebih baik antara Indonesia dan Australia (better integrated markets between Indonesia
87
and Australia), dan 3) peningkatan keahlian pasar tenaga kerja (enhanced labour market skills for Indonesian businesses and government, boosting productivity, gender equality and social inclusion). Ketiga outcome tersebut diharapkan dapat dicapai melalui empat aktivitas yang menjadi fokus dalam ECP IA-CEPA yaitu: 1) IA-CEPA Implementation, 2) Agrifood Innovation and Partnerships, 3) Powering Advanced Manufacturing, dan 4) Co-investing in Skills and Training. Dalam pelaksanaannya, program IA-CEPA ECP akan menggunakan branding IA-CEPA ECP Katalis atau
“Katalis”. Subsidiary Arrangement ECP IA-CEPA telah ditandatangani secara sirkuler oleh kedua negara pada 25 Juni 2021. Pada tanggal 6 Juli 2021 diadakan Indonesia-Australia Economic, Trade and Investment Ministers’ Meeting (ETIMM). Pada pertemuan ini Menteri PPN/Kepala Bappenas hadir untuk secara resmi meluncurkan IA-CEPA ECP Katalis.
Katalis Hub berencana menyelenggarakan IA-CEPA ECP Katalis Business Dialogue yang akan menjadi media promosi dan sosialisasi Katalis kepada pihak swasta dan dunia usaha. Selanjutnya, Joint Committee Meeting IA-CEPA yang merupakan mandat dari perjanjian IA-CEPA diselenggarakan pada tanggal 25 Agustus 2021.
Pertemuan ini akan membahas perkembangan dari masing-masing komite dan sub-komite serta untuk memberikan persetujuan akhir terhadap Annual Work Plan IA-CEPA ECP Katalis.
The Standing Committee for Economic and Commercial Cooperation of the Organization of Islamic Cooperation (COMCEC)
Committee for Economic and Commercial Cooperation of The Organization of The Islamic Cooperation (COMCEC) memberi kesempatan bagi Indonesia untuk mempererat kerjasama antara negara Islam dunia. Pada COMCEC terdapat kemungkinan pendanaan proyek (COMCEC Project Funding) untuk pengembangan kapasitas dan kerjasama teknis pada sektor-sektor yang menjadi Working Groups di dalam COMCEC. Indonesia melalui Kementerian Perdagangan mengajukan proyek pada sektor perdagangan dengan judul “Capacity Building for Metrology in the OIC Countries”, namun proyek tersebut tidak berhasil melewati seleksi tahap akhir. Selain itu, terdapat pendanaan lainnya pada program COMCEC COVID Response dalam rangka mendukung upaya menghadapi pandemi Covid-19. Indonesia melalui Kementerian Pertanian mengajukan proposal proyek dengan judul “Facilitating Poor, Vulnerable and Marginalized Groups’ Access To Food In West Java Province”. Proyek tersebut telah lolos proses seleksi hingga tahap akhir dan akan diimplementasikan oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2021.
Pada tanggal 8-9 Juni telah dilaksanakan pertemuan the 37th Meeting of the Follow-Up Committee COMCEC dengan tema “The Role of Islamic Finance in Supporting Microenterprises and SMEs Against COVID-19”. Pada pertemuan tersebut, Indonesia
88
diwakili oleh Kementerian PPN/Bappenas turut hadir dan menyampaikan intervensi pada agenda transportasi dan komunikasi, agenda pertanian dan ketahanan pangan, serta agenda kerja sama keuangan.
Pertemuan the 8th Annual Focal Points Meeting of COMCEC akan diselenggarakan pada tanggal 24-25 Agustus 2021. Pertemuan tersebut akan membahas perkembangan dari masing-masing working group di COMCEC serta perkembangan proyek-proyek di bawah COMCEC.
Kerjasama Internasional Indonesia: IUAE-CEPA, Indonesia-Bangladesh, Indonesia-Pakistan, ICA-CEPA
Indonesia secara aktif terus mendorong kerjasama ekonomi dengan negara-negara mitra di seluruh dunia. Kerjasama ini diharapkan dapat memberikan mutual benefits antar kedua belah pihak dalam mendukung penguatan ekonomi. Sampai saat ini Indonesia telah mengupayakan beberapa kerjasama ekonomi internasional, antara lain Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA), Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), Kerjasama Ekonomi Bangladesh, dan Indonesia-Pakistan Trade in Goods Agreement (IP-TIGA).
Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement
Indonesia-United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA) adalah sebuah perjanjian bilateral antara Indonesia dan Uni Emirat Arab yang sudah melewati proses pre-negotiation dan finalisasi Term of Reference (TOR).
Pre-negotiation IUAE-CEPA telah dilaksanakan pada 18-19 Mei 2021. Diharapkan perjanjian ini dapat memperkuat perekonomian Indonesia dengan memperbaiki struktur perdagangan antara Indonesia dan UEA, sehingga Indonesia bisa menjadi
Pre-negotiation IUAE-CEPA telah dilaksanakan pada 18-19 Mei 2021. Diharapkan perjanjian ini dapat memperkuat perekonomian Indonesia dengan memperbaiki struktur perdagangan antara Indonesia dan UEA, sehingga Indonesia bisa menjadi