• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

F. Kepala Bidang Informasi

4.3 Kinerja Pegawai BKD

kinerja merupakan kondisi yang harus diketahui dan diinformasikan kepada pihak-pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil suatu instansi yang dihubungkan dengan visi, misi dan tujuan yang ingin dicapai suatu organisasi. Dalam penelitian ini kinerja pegawai diukur dengan beberapa indikator yaitu : Penilaian hasil kerja, Pandangan kerja, Kerja sebagai aktivitas, Kerja Butuh Ketekunan.

Masing-masing indikator tersebut akan dijelaskan dalam tabel-tabel berikut ini.

Tabel 5. Pemahaman Responden tentang Tambahan Penghasilan Pegawai di Pemprovsu

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat mengetahui 56 100%

mengetahui 0 0 %

Tidak mengetahui 0 0 %

Ragu-ragu 0 0 %

Jumlah 56 100 %

Sumber : Angket penelitian, 2011

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa 56 orang menyatakan sangat mengetahui (100%),. Artinya bahwa seluruh pegawai BKD telah mengetahui dengan baik tentang adanya kebijakan Tambahan Penghasilan Pegawai. Pemahaman responden terhadap kebijakan TPP ini juga didasari oleh implementasinya yang langsung mereka terima setiap bulannya di samping itu juga pemahaman mereka atas segala mekanisme yang berkaitan dengan pengaturan TPP yang didasari atas Peraturan Gubernur Sumaterra Utara Nomor 13 Tahun 2008 tentang TPP. Hal ini

juga ditegaskan dalam wawancara dengan Rizal Efendi Nasution usia 54 tahun (Kasubid Formasi dan Pengadaan). Dia menegaskan bahwa :

”Kami seluruh pegawai pemprovsu khususnya pegawai BKD sangat mengetahui tentang adanya ketentuan tambahan penghasilan pegawai. Ketentuan itu pastinya terdapat dalam Peraturan Gubernur Sumatera Utara nomor 13 Tahun 2008 tentang TPP”

Tabel 6. Pandangan Responden tentang Pengaruh antara Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) dengan Kinerja Pegawai

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat Setuju 49 87%

Setuju 7 13%

Tidak Setuju 0 0

Ragu-ragu 0 0

Jumlah 56 100 %

Sumber : Angket penelitian, 2011

Berdasarkan tabel 6 menunjukkan bahwa 49 orang menyatakan sangat setuju (87%), dan setuju sebesar 7 orang (13%). Dari hasil ini sebenarnya bahwa semua responden menyatakan bahwa pemberlakukan TPP dapat diterima mereka dan bermanfaat secara langsung dalam menambah penghasilan mereka sehingga dengan adanya jaminan yang diberikan melalui TPP mereka mempunyai motivasi lebih dalam melakukan pekerjaannya berdasarkan tugas pokok dan fungsi yang mereka jalankan sehari-hari. Artinya secara tidak langsung bahwa implementasi dari kebijakan TPP ini telah meningkatkan kinerja mereka selama ini. Tabel 7 semakin

membuktikan analisis yang mengatakan bahwa kebijakan TPP mempunyai pengaruh bagi peningkatan kinerja pegawai.

Hal ini juga ditegaskan dalam wawancara dengan Sahri Menan usia 47 tahun (Kasubbid Pembinaan dan Disiplin). Dia menegaskan bahwa :

“menurut saya, ada pengaruh positif dari TPP terhadap peningkatan kinerja Pegawai. Kita tahulah bahwa PNS itu gajinya pas-pasan. Sehingga dicari solusinya oleh pemerintah pusat yang kemudian dilanjutkan ke pemrintah daerah untuk menambah gaji melalui TPP. Dan besaran TPP itu dikembalikan lagi kepada kesanggupan daerah masing-masing. Dan dengan jumlah TPP yang sekarang ini memang sangat membantu para pegawai khususny BKD. Dan memang terlihat ada peningkatan kinerja pegawai”

Tabel 7. Pendapat Responden tentang Peningkatan Kinerja Pegawai Disebabkan Adanya TPP

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat Setuju 48 85 %

Setuju 8 15%

Tidak Setuju 0 0

Ragu-ragu 0 0

Jumlah 56 100 %

Sumber : Angket penelitian, 2011

Berdasarkan tabel 7 di atas menunjukkan bahwa 48 orang responden (85%) menyatakan sangat setuju bahwa peningkatan kinerja mereka selama ini karena dipengaruhi oleh adanya kebijakan TPP, dan sebesar 8 orang responden (15%) menyatakan setuju. Dari kategori jawaban yang diberikan tak satu orang respondenpun yang menyatakan menolak atau berpendapat ragu-ragu berkaitan

pengaruh kinerja mereka dengan adanya TPP. Artinya TPP ternyata memberikan pengaruh yang positif bagi peningkatan kinerja pegawai.

Hasil wawancara dengan salah seorang narasumber yang bernama Alimuddin Saragih usia 52 tahun (Kasubbid Keuangan) semakin menegaskan keterkaitan antara pemberian TPP dengan kinerja, seperti yang diungkapkannya bahwa :

”sejak diberlakukannya TPP, maka kami melihat ada peningkatan kinerja pegawai. Kalau sebelum diberlakukannya TPP, pegawai BKD khususnya bekerja tidak dengan semangat, selalu loyo. Tapi sejak adanya TPP, paling tidak pegawai sudah bisa ceria dalam bekerja. Dan kami rasakan bahwa salah satuf faktor utama terjadinya peningkatan kinerja pegawai disebabkan adanya TPP ini”

Hasil penelitian yang didapat baik melalui angket dan wawancara semakin menguatkan bahwa pemberlakukan kebijakan pemberian insentif melalui TPP ini ternyata sangat positif dalam meningkatkan tidak saja performa organisasi tetapi juga performa pegawai di dalamnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hasil riset yang dilakukan Ru Supriyono (2000;163) terhadap insentif menunjukan bahwa para individu cenderung lebih termotivasi oleh insentif positif daripada insentif negatif sehingga sistem pengendalian manajemen sebaiknya berorientasi pada insentif positif dan insentif sangat memotivasi para pegawai untuk berpartisipasi secara aktif beserta para atasannya dalam menyusun anggaran, standar, atau tujuan. Dengan partisipasi tersebut mungkin pegawai berpendapat bahwa anggaran, standar, atau tujuan tersebut adil sehingga menimbulkan komitmennya.

Tabel 8. Pendapat Responden tentang Adanya TPP Terjadi Penurunan Kinerja Pegawai

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat Setuju 0 0

Setuju 0 0

Tidak Setuju 56 100%

Ragu-ragu 0 0

Jumlah 56 100 %

Sumber : Angket penelitian, 2011

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 56 orang responden (100%) menyatakan bahwa sangat tidak setuju kalau ada anggapan bahwa dengan diberlakukannya kebijakan TPP ini membuat kinerja para pegawai semakin menurun, malah kebalikannya yang terjadi. Hal ini juga ditegaskan dalam wawancara dengan Ahmad Sofyan Lubis usia 42 tahun (Kasubbid Program). Dia menegaskan bahwa :

dengan adanya TPP justru kami para PNS sangat terbantu. Apalagi yang masih sifatnya staf biasa. Dengan adanya TPP maka yang terjadi adalah peningkatan. Hal itu bisa dilihat dari berbagai aspek, mulai tingkat kehadiran,

Tabel 9. Pendapat Responden tentang Nilai Nominal TPP Didasarkan atas Golongan

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat Setuju 49 87%

Setuju 5 8%

Tidak Setuju 2 5%

Ragu-ragu 0 0

Jumlah 56 100%

Sumber : Angket penelitian, 2011

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 49 orang (87%) menyatakan sangat setuju nilai nominal dalam TPP didasarkan atas pangkat dan golongan dan 5 orang responden lainnya (8%) setuju, dan hanya 2 orang responden (5%) yang menyatakan tidak setuju. Hasil ini menjadi menarik untuk ditelaah lebih jauh dikarenakan bagi para pegawai yang mempunyai pangkat/golongan kecil tentunya TPP yang diterima juga kecil sehingga insentif dianggap menjadi tidak adil. Namun terlepas dari itu semua bahwa kebijakan TPP ini sendiri secara langsung telah memberikan kontribusi bagi para pegawai di jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan dapat dirasakan secara langsung oleh para pegawai baik pegawai dengan pangkat/golongan tertinggi sampai pegawai dengan pangkat/golongan terendah terlepas dari pemberian kebijakan ini diberikan atas pangkat/golongan pegawai. Dari Hasil wawancara dengan Diana Zuraeda usia 33 tahun (Staf BKD). Dia menegaskan bahwa :

“ saya setuju saja jika TPP itu diberikan sesuai berdasarkan golongan. Karena memang perbedaan golongan itu juga membedakan kerja dan tanggungjawab. Semakin tinggi, maka tanggungjawabnya semakin tinggi dan wajar jika TPP juga diberikan lebi tinggi dibandingkan staf biasa.”

Tabel 10. Pendapat Responden tentang Waktu Pemberian TPP Per Triwulan

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat Setuju 3 5%

Setuju 11 8%

Tidak Setuju 38 81%

Ragu-ragu 4 6%

Jumlah 68 100%

Sumber : Angket penelitian, 2011

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 3 orang responden (5%) menyatakan sangat setuju kalu pembeian TPP dilakukan per triwulan, sementara 11 orang responden (8%) menyatakan setuju, dan sebaliknya hamper semua responden yakni 38 orang (81%) menyatakan tidak setuju kalau pemberian TPP dilakukan per triwulan dan kebijakan yang diberikan setiap bulannya sudah sesuai dengan harapan dan keinginan mereka. Kemudian 4 orang (6%) menyatakan ragu-ragu.

Hal ini juga ditegaskan dalam wawancara dengan Seriawati Zamasi usia 37 tahun (staf BKD). Dia menegaskan bahwa :

“menurut kami sebaiknya TPP itu dibayarkan perbulan. Hal ini akan sangat membantu pegawai khususnya staf biasa. Karena memang kebutuhan semakin tinggi. Namunpun demikian, harus saya tegaskan bahwa ini kalau bisa. Dan kalau tidak bisa ya tidak ada masalah, yang penting bagi kami adalah sudah ada peningkatan pendapatan pagi PNS.

Tabel 11. Pendapat Responden tentang Uang/gaji adalah Tujuan Utama dalam Pekerjaan

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat Setuju 2 5%

Setuju 18 32%

Tidak Setuju 31 55%

Ragu-ragu 5 8%

Jumlah 56 100%

Sumber : Angket penelitian, 2011

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 2 orang (5%) menyatakan sangat setuju. 18 orang (32%) setuju, dan 31 orang (55%) menyatakan tidak setuju. Kemudian 5 orang (8%) menyatakan ragu-ragu.

Hal ini juga ditegaskan dalam wawancara dengan Windi Lukita usia 34 tahun (staf BKD). Dia menegaskan bahwa :

perlu saya tegaskan lagi bahwa saat ini kami bekerja tidak hanya semata mata hanya untuk uang atau gaji. Yang paling penting bagi kami adalah bagaimana pelayanan BKD bisa memuaskan stakeholder. Itu yang kami utamakan saat ini. Dan jika, ada penambahan gaji melalui TPP, menurut kami hal itu akan sangat membantu keluarga kami.

Tabel 12. Pendapat Responden tentang Kerja adalah Aktivitas yang harus Dilakukan dengan Tanggung Jawab

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat Setuju 56 100%

Setuju 0 0

Tidak Setuju 0 0

Ragu-ragu 0 0

Jumlah 56 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 56 orang (100%) menyatakan sangat setuju dan berpendapat bahwa memang kerja yang selama ini mereka lakukan adalah merupakan bagian dari tanggungjawab mereka sebagai seorang PNS yang mengabdi kepada Negara dan memberikan pelayanan yang maksimal sesuai dengan tugas dan fungsi yang mereka jalani. Untuk dapat menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan, maka pimpinan harus menghindari pengawasan yang ketat, dengan memberikan kesempatan kepada bawahan untuk bekerja sendiri sepanjang pekerjaan itu memungkinkan dan menumbuhkan partisipasi.

Berkaitan dengan tanggungjawab pekerjaan, salah seorang responden yang diwawancarai menegaskan (wawancara dengan Abu Hasan,usia 41 tahun,staf BKD) bahwa :

sudah selayaknya kerja itu membutuhkan tanggung jawab. Tanggung jawab sangat berhubungan dengan kepercayaan.

Tabel 13. Pendapat Responden tentang Kerja Membutuhkan Ketekunan

Jawaban Frekwensi Persentase

Sangat Setuju 56 100%

Setuju 0 0

Tidak Setuju 0 0

Ragu-ragu 0 0

Jumlah 56 100%

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 56 orang (100%) menyatakan sangat setuju bahwa kerja memang membutuhkan ketekunan, karena dengan ketekunan produk dari pekerjaan akan mempunyai nilai lebih.

Hal ini juga ditegaskan dalam wawancara dengan Definar, usia 45 tahun (Kasubbid Kesejahteraan). Dia menegaskan bahwa :

dalam bekerja memang sangat membutuhkan ketekunan. Di BKD Provinsi Sumatera Utara, seluruh pegawai sangat serius dan tekun dalam melaksanakan tugas. Dan hal ini bisa dibuktikan dari keseharian Pegawai dimana mereka bisa menyelesaikan tugas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Artinya, jika pekerjaan ini tidak dilakukan dengan keseriusan, maka tidak mungkin pekerjaan bisa diseleasaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan”

Dokumen terkait