BAB II GAMBARAN PELAYANAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
2.3 Kinerja Pelayanan Bidang Penelitian dan Pengembangan Daerah
Menurut penilaian kinerja yang tertuang pada Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) tahun 2018, secara umum BP2D Provinsi Jawa Barat dinilai baik dalam mencapai sasaran strategis pembangunan bidang penelitian dan pengembangan daerah di Provinsi Jawa Barat yang telah ditetapkan pada Perjanjian Kinerja Kepala Badan kepada Gubernur Jawa Barat. Artinya BP2D Provinsi Jawa Barat telah mampu mencapai target Indikator Kinerja Utama yang tercantum pada RPJMD Provinsi Jawa Barat Tahun 2018 dan Indikator Kinerja Sasaran Strategis pada Renstra Badan. Hal ini tentu saja menjadi titik awal yang baik untuk penyusunan Renstra selanjutnya yaitu periode 2018-2023.
2.3.1 Pembiayaan Bidang Penelitian dan Pengembangan
Kinerja pelayanan bidang kelitbangan tidak terlepas dari sumber pembiayaan yang ada. BP2D berperan sebagai PD Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bidang penelitian dan pengembangan yang meliputi aspek analisis kebijakan Iptek, penelitian, pengembangan, dan penerapan Iptek, penguatan sistem inovasi daerah, dan monitoring , evaluasi, dan layanan Iptek menyelenggarakan koordinasi, pembinaan, pengendalian, fasilitasi dan pelaksanaan fungsi penunjang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah Provinsi serta
Perubahan Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023 |
28
melaksanakan tugas dekonsentrasi sampai dengan dibentuk Sekretariat Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat dan melaksanakan tugas pembantuan sesuai bidang tugasnya.Hingga saat ini sumber pembiayaan pembangunan bidang kelitbangan ini mengandalkan sumber pendanaan APBD Provinsi Jawa Barat mengingat keberadaan Badan ini sebagai unsur penunjang penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai kewenangan daerah.
Adapun Tren anggaran belanja pembangunan bidang Litbang sejak tahun 2015-2019 cenderung menurun (Gambar 2.7).
Gambar 2.7. Tren Anggaran Belanja BP2D Provinsi Jawa Barat Sumber: Subag Perencanaan Program, BP2D, 2019
2.3.2 Pencapaian Indikator Kinerja Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat
Evaluasi terhadap kinerja BP2D Provinsi Jawa Barat dapat dilakukan dengan membandingkan pencapaian Badan terhadap target RPJMD 2018-2023. Terdapat satu indikator kinerja Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat yang disertakan sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) di dalam dokumen RPJMD. Indikator Kinerja Daerah tersebut adalah mengenai Indeks Reformasi Birokrasi.
Tingkat capaian kinerja BP2D Provinsi Jawa Barat dapat dilihat berdasarkan sasaran/target rencana strategis pada periode sebelumnya, yakni periode tahun 2017-2019.
5.000.000.000 10.000.000.000 15.000.000.000 20.000.000.000 25.000.000.000 30.000.000.000 35.000.000.000
2015 2016 2017 2018 2019
Tren Anggaran Belanja BP2D Provinsi Jawa Barat
BTL BL
Perubahan Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023 |
29
Tabel 2.3. Pencapaian Kinerja BP2D Provinsi Jawa Barat Tahun Pencapaian Kinerja Rata-rata Capaian
2017 BB (Sangat Baik) 79,03
2018 B (Baik) 71,86
2019 A (Memuaskan) 85,41
2020 A (Memuaskan) 85,47
Sumber : Lembar Hasil Evaluasi (LHE) SAKIP BP2D Tahun 2017-2020
2.3.3 Kondisi Umum Pembangunan Bidang Penelitian dan Pengembangan Daerah
a. Kondisi Wilayah
Peluang pelayanan BP2D Provinsi Jawa Barat adalah luas wilayah daratan Jawa Barat yang mencapai seluas 3.710.061,32 ha. Sebagian besar wilayah kabupaten/kota di Jawa Barat berbatasan dengan laut sehingga wilayah Jawa Barat memiliki garis pantai cukup panjang, yaitu 755,83 km. Kondisi topografis Provinsi Jawa Barat beragam dan secara administratif wilayahnya terbagi dalam 27 kabupaten/kota (18 kabupaten dan 9 kota) dan terdapat 5.312 desa.
Tabel 2.4. Banyaknya Kecamatan, Desa dan Kelurahan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat No Kabupaten/Kota Luas wilayah
(Km2) Kecamatan Kelurahan Desa
1 Bogor 2.710,62 40 19 416
2 Sukabumi 4.145,70 47 5 381
3 Cianjur 3.840,16 32 6 354
4 Bandung 1.767,96 31 10 270
5 Garut 3.074,07 42 21 421
6 Tasikmalaya 2.551,19 39 - 351
7 Ciamis 1.414,71 27 7 258
8 Kuningan 1.110,56 32 15 361
9 Cirebon 984,52 40 12 412
10 Majalengka 1.204,24 26 13 330
11 Sumedang 1.518,33 26 7 270
12 Indramayu 2.040,11 31 8 309
13 Subang 1.893,95 30 8 245
14 Purwakarta 825,74 17 9 183
15 Karawang 1.652,20 30 12 297
16 Bekasi 1.224,88 23 7 180
Perubahan Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023 |
30
No Kabupaten/Kota Luas wilayah
(Km2) Kecamatan Kelurahan Desa
17 Bandung Barat 1.305,77 16 - 165
18 Pangandaran 1.010,00 10 - 93
19 Kota Bogor 118,50 6 68 -
20 Kota Sukabumi 48,25 7 33 -
21 Kota Bandung 167,67 30 151 -
22 Kota Cirebon 37,36 5 22 -
23 Kota Bekasi 206,61 12 56 -
24 Kota Depok 200,29 11 63 -
25 Kota Cimahi 39,27 3 15 -
26 Kota Tasikmalaya 171,61 10 69 -
27 Kota Banjar 113,49 4 9 16
Jawa Barat 35.377,76 627 645 5.312
Sumber : Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017
Provinsi Jawa Barat memiliki potensi yang cukup besar baik dari sisi letak geografi maupun dari sisi sumber daya (sumber daya alam dan sumber daya manusia) sebagai basis pembangunan ekonomi. Dari sisi letak geografi, Jawa Barat sangat diuntungkan karena berdekatan dengan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara.
Dari sisi sumber daya alam, Jawa Barat dianugrahi alam yang indah dengan panorama pegunungan, pantai dan budaya masyarakat serta berbagai sumber daya alam terbarukan, seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan.
Kondisi di atas dapat dikatakan sebagai potensi peluang BP2D Provinsi Jawa Barat dalam memberikan pelayanan penelitian, pengembangan dan penerapan Iptek khususnya solusi peningkatan nilai tambah sumber daya yang dimiliki Jawa Barat.
b. Penduduk, Ketenagakerjaan dan IPM
Kondisi demografis suatu daerah secara umum tercermin melalui jumlah penduduk, laju pertumbuhan penduduk, struktur penduduk, sebaran penduduk serta ketenagakerjaan.
Berdasarkan hasil proyeksi BPS, jumlah penduduk Jawa Barat Tahun 2018 mencapai 48.683.861 jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 1,49 persen, naik sebesar 0,05 persen bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk pada tahun 2016.
Penduduk terbanyak pada tahun 2018 berada di Kabupaten Bogor, sebanyak 5.840.910 jiwa atau 12,00 persen, diikuti dengan Kabupaten Bandung dan Kabupaten
Perubahan Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023 |
31
Bekasi. Daerah yang paling sedikit penduduknya adalah Kota Banjar yaitu sebanyak 182,820 jiwa atau 0,38 persen dari total jumlah penduduk Jawa Barat.Tabel 2.5. Jumlah Penduduk Provinsi Jawa Barat Tahun 2014-2018
No Uraian 2014 2015 2016 2017 2018
1 Jumlah Penduduk (jiwa) 46.029.668 46.709.569 47.379.389 48.037.827 48.638.861 Laki-laki (jiwa) 23.345.033 23.680.927 24.011.261 24.355.331 24.652.609 Perempuan (jiwa) 22.684.635 23.028.642 23.368.128 23.702.496 24.031.252 2 Laju Pertumbuhan
Penduduk (%)
1.52 1.47 1.43 1.39 1,49
3 Kepadatan Penduduk (jiwa/km)
1.301
1.320
1.339 1.358 1.376
Sumber: BPS Provinsi Jawa Barat dan Jawa Barat Dalam Angka Tahun 2014-2018
Hampir 72,5 persen penduduk Jawa Barat tinggal di daerah perkotaan sebagai akibat masuknya industri yang mendorong urbanisasi. Daerah penyangga ibukota seperti Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, Bekasi dan Kota Bekasi menyumbang hampir sepertiga (31,64 persen) dari total penduduk Jawa Barat.
Salah satu faktor terpenting dalam pembangunan adalah ketenagakerjaan.
Komposisi dan jumlah tenaga kerja akan mengalami perubahan seiring dengan perubahan penduduk. Pada urusan Ketenagakerjaan indikator yang dijelaskan adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka.
1) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah suatu indikator ketenagakerjaan yang memberikan gambaran tentang penduduk yang aktif secara ekonomi dalam kegiatan sehari-hari merujuk pada suatu waktu dalam periode survei. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja menunjukkan persentase angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja. Rasio ini menggambarkan partisipasi angkatan kerja pada tiap kelompok umur dan jenis kelamin.
TPAK menurut kelompok umur biasanya memiliki pola huruf ”U” terbalik. Pada kelompok umur muda (15-24) tahun, TPAK cenderung rendah, karena pada usia ini mereka lebih banyak masuk kategori bukan angkatan kerja (sekolah). Begitu juga pada kelompok umur tua (di atas 65 tahun), TPAK rendah dikarenakan mereka masuk pada masa purnabakti (pensiun). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Barat disajikan pada tabel di bawah ini.
Perubahan Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023 |
32
Tabel 2.6. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Barat Tahun 2013-2018
Uraian 2013 2014 2015 2016 2017 2018*)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (persen)
63,01 62,77 60,34 60,65 63,34 62,92
Sumber: LKPJ Provinsi Jawa Barat 2016 dan Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2019
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja mengalami penurunan dan juga peningkatan, dimana pada tahun 2013 sebesar 63,01 persen, menurun pada tahun 2014 dan 2015 dan meningkat kembali pada tahun 2016 dan 2017, tetapi mengalami penurunan kembali pada tahun 2018. Terdapat banyak faktor penyebab perubahan tingkat partisipasi angkatan kerja diantaranya geopolitik-ekonomi dalam skala nasional atau internasional, jumlah lapangan pekerjaan, dan regulasi ketenaga kerjaan.
c. Lembaga Litbang dan Perguruan Tinggi
Pengarusutamakan kegiatan penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan dengan penekanan pentingnya melibatkan perguruan tinggi dan lembaga Litbang yang ada di Jawa Barat. Di Jawa Barat terdapat banyak lembaga Litbang Kementerian dan Perguruan Tinggi (18 Perguruan Tinggi Negeri, dan 367 Perguruan Tinggi Swasta). Litbang Kementerian dan Perguruan Tinggi tersebut merupakan kekuatan sumber daya Iptek yang dapat diperankan untuk meningkatkan kinerja penelitian, pengembangan, dan penerapan Iptek dan pembangunan di Jawa Barat.
Untuk itu, program sosialisasi dan pendampingan untuk penelitian, pengembangan dan penerapan Iptek kepada Perguruan Tinggi yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Barat terus dikembangkan melalui wadah kemitraan dengan Perguruan Tinggi. Program tersebut dilakukan untuk meningkatkan budaya riset Jawa Barat sekaligus untuk menghasilkan penelitian, pengembangan dan penerapan Iptek yang dibutuhkan masyarakat dan pembangunan Jawa Barat. Selain dengan Perguruan Tinggi kemitraan dengan lembaga Litbang Kementerian, juga terus ditingkatkan.
d. Lembaga Pemerintahan Provinsi
Dalam rangka percepatan pembangunan dan perbaikan pelayanan publik, peningkatan kualitas dan kemudahan memperoleh pelayanan prima bagi masyarakat dipandang sebagai sebuah terobosan untuk mempercepat pembangunan. Peningkatan
Perubahan Renstra Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2018-2023 |
33
kualitas dan kemudahan memperoleh pelayanan bagi masyarakat merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan efektifitas penyelenggaraan pemerintah dan pengelolaan pembangunan.Keberhasilan penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan masyarakat akan banyak ditentukan oleh keberadaan lembaga pemerintahan.
Di lingkup Pemerintah Jawa Barat terdapat sebanyak 43 perangkat daerah terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Inspektorat, Dinas serta Badan.
Keberhasilan penyelenggaraan tugas dan fungsi pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat oleh 43 Perangkat Daerah tersebut akan sangat membutuhkan dukungan penelitian, pengembangan, dan penerapan Iptek.
2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Badan Penelitian dan