DAFTAR LAMPIRAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Kinerja Pokja Kabupaten
Pokja kabupaten terdiri dari Pemda, dinas dan instansi yang terkait dimana diketuai oleh ASDA II dan Dinas Pertanian sebagai sekretaris pokja serta pelaksana. Kinerja pokja kabupaten dapat dilihat dari proses komunikasi dalam kegiatan agropolitan yang diukur melalui dimensi pendekatan komunikasi, metode komunikasi dan frekwensi komunikasi. Berdasarkan Tabel 17, pendekatan yang dilakukan pokja daerah dalam sosialisasi, pembuatan juknis, koordinasi, pemecahan masalah, pertukaran informasi dan pembuatan laporan menggunakan pendekatan linier artinya pendekatan yang dilakukan oleh lembaga agropolitan (pokja kabupaten) ke masyarakat (petani). Dimana, sebagian besar pokja daerah melakukan pendekatan bersifat linier dalam sosialisasi dan pembuatan juknis, koordinasi, pemecahan masalah, pertukaran informasi dan pembuatan laporan. Pokja daerah dominan menggunakan satu metode yaitu metode ceramah. Metode ceramah berupa penjelasan oleh pokja kabupaten tentang maksud dan tujuan dari
pelaksanaan agropolitan, termasuk teknis pelaksanaan kegiatan, cara mengatasi masalah dan pelaksanaan koordinasi. Frekwensi yang digunakan pokja daerah dalam sosialisasi, pembuatan juknis dan pembuatan laporan termasuk sering. Hal ini dikarenakan sosialisasi, pembuatan juknis dan pembuatan laporan lebih sering dilakukan pada saat adanya pertemuan dan pelaksanaan kegiatan program agropolitan. Kegiatan koordinasi, pemecahan masalah dan pertukaran informasi dilakukan oleh korlap dan PPL sedangkan pokja daerah hanya memberikan masukan setelah menerima laporan pada saat rapat.
Sosialisasi yang dilakukan oleh pokja kabupaten yaitu memberikan gambaran tentang kegiatan program agropolitan. Dalam penyusunan program agropolitan dan pembuatan juknis, pokja kabupaten mempunyai tim untuk melakukan rapat forum dan rapat koordinasi untuk memutuskan atau membuat program yang akan dilaksanakan pada kegiatan program agropolitan dari masing- masing instansi dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Program agropolitan yang telah dibuat kemudian dirangkum menjadi satu untuk dirapatkan dan disetujui oleh Ketua Pokja. Proses selanjutnya, Dinas Pertanian sebagai sekretaris kegiatan agropolitan mewakili pokja kabupaten langsung menemui
pokja pusat untuk menyampaikan laporan kegiatan (pendekatan interpersonal)
yang diikuti surat resmi.
Koordinasi pertemuan kelompok dalam pokja kabupaten pada awal pelaksanaan program agropolitan dilakukan sebanyak dua kali dalam satu bulan yaitu setiap hari rabu minggu pertama dan ketiga. Pertemuan dengan pihak pengelola kawasan agropolitan dilakukan oleh korlap, yang intensitas pertemuannya disesuaikan dengan kebutuhan. Permasalahan program kerja kegiatan program agropolitan di lapangan diperoleh dari laporan PPL dan kelompok tani. Pemecahan permasalahan dan pertukaran informasi yang terjadi di lapangan dibahas oleh pokja kabupaten pada saat pertemuan/rapat setelah menerima laporan dari korlap dan PPL. Pembuatan laporan kegiatan agropolitan dilakukan secara berjenjang mulai dari laporan pengelola kawasan, PPL, korlap sampai ke pokja kabupaten. Kemudian, pokja kabupaten melakukan pertemuan dengan pokja pusat melalui rapat koordinasi (Rakor) sebanyak dua kali dalam satu tahun yaitu awal/akhir tahun dan tengah tahun. Hal ini bertujuan untuk
mengevaluasi kegiatan agropolitan yang telah dilaksanakan dan merumuskan kembali kegiatan yang masih perlu dikembangkan.
Kinerja Korlap
Tim pemandu dan koordinator lapangan (korlap) merupakan tim yang dibentuk oleh pokja kabupaten yang terdiri dari koordinator lapang dan penyuluh pertanian. Tim koordinator lapang dan penyuluh pertanian melakukan kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan dan membantu petani dalam pemecahan permasalahan usahataninya. Untuk kelancaran kegiatan program agropolitan, korlap dan PPL memiliki kegiatan rutinitas berupa pelatihan dan penyuluhan. Oleh karena itu, penyusunan kegiatan program agropolitan yang disusun oleh Korlap dan PPL adalah setiap satu tahun sekali. Pengembangan kawasan agropolitan di lapangan, korlap dibantu oleh Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) yaitu petani teladan yang terdiri dari ketua kelompok tani (kontak tani) yang sudah dilatih.
Kinerja korlap dilihat dari proses komunikasi dalam kegiatan program agropolitan dalam sosialisasi dan pemecahan masalah yang menggunakan pendekatan interaktif. Pendekatan interaktif yaitu pendekatan yang dilakukan secara bersama-sama oleh lembaga agropolitan dan masyarakat. Hal ini dikarenakan waktu pelaksanaan kegiatan program agropolitan bersamaan dengan adanya pertemuan kelompok dan diskusi masalah yang dihadapi petani. Sehingga, untuk mempersiapkan kegiatan tersebut dilakukan diskusi terlebih dahulu mengenai topik dan waktu pertemuan. Berbeda dengan pendekatan komunikasi dalam penyusunan program dan pertukaran informasi yang cenderung linier yaitu pendekatan yang dilakukan oleh lembaga agropolitan ke masyarakat. Pendekatan
bersifat linier merupakan pendekatan yang searah (top down), dimana dalam
penyusunan program agropolitan yang dibuat selama ini kurang melibatkan petani. Metode yang digunakan korlap dalam sosialisasi, penyusunan program, pemecahan masalah dan pertukaran informasi menggunakan metode ceramah. Metode ceramah, dianggap lebih mudah digunakan dalam penyampaian informasi kegiatan agropolitan. Frekwensi komunikasi yang digunakan korlap dalam sosialisasi dan pemecahan masalah kegiatan agropolitan termasuk sering, sedangkan dalam penyusunan program dan pertukaran informasi termasuk jarang.
Pertemuan kelompok sehubungan dengan rencana pelaksanaan kegiatan program agropolitan, mulanya dilakukan oleh tim korlap setiap tiga (3) bulan sekali. Pada pertemuan kelompok, kebanyakan menggunakan dua metode yaitu metode ceramah dan leaflet/folder. Pada pertemuan tersebut membahas permasalahan petani dan mencarikan solusinya dalam hal pemasaran dan pengendalian hama terpadu.
Tahapan penyampaian informasi kegiatan program agropolitan adalah Korlap dan PPL menyampaikan kepada ketua kelompok tani (kontak tani) kemudian langsung disampaikan kepada anggota kelompok tani masing-masing. Pemantauan dan evaluasi kegiatan dilakukan oleh pihak Korlap dan PPL dengan langsung turun ke lapangan. Selain itu, pemantauan dan evaluasi kegiatan agropolitan diperoleh berdasarkan hasil laporan kegiatan dari kontak tani yang umumnya secara rutin setiap enam bulan sekali. Berdasarkan hasil laporan tersebut, salah satu hambatan adalah adanya turut campur pihak pusat secara langsung pada kawasan agropolitan, sehingga berdampak kepada manajemen pengelolaan kawasan agropolitan.
Kinerja Pelaku Bisnis
Pelaku bisnis di kawasan agropolitan adalah pedagang pengumpul atau sering dikenal dengan tengkulak. Pelaku bisnis merupakan orang yang sangat berjasa dalam hal pemasaran dimana pemasaran di kawasan agropolitan masih dominan dipegang oleh para tengkulak. Pedagang pengumpul/tengkulak merupakan penduduk dan juga petani setempat yang memiliki strata sosial tinggi. Hal ini dikarenakan pedagang pengumpul/tengkulak harus mempunyai cukup modal dan akses ke pasar seperti: sarana angkutan dan hubungan dengan pedagang besar di pasar induk Jakarta. Pemasaran hasil usahatani pada pedagang pengumpul/tengkulak sudah merupakan budaya yang lama dilakukan dan menjadi kebiasaan petani di kawasan agropolitan. Hal ini dikarenakan akses pemasaran menjadi cepat dan mudah dijangkau, selain itu wawasan pemasaran yang dimiliki petani masih rendah dan bersifat individual. Dalam memasarkan hasil usahatani petani, pedagang pengumpul/tengkulak biasa menerima sayuran dari petani yang datang langsung ke tengkulak kemudian dijual ke pasar. Petani juga sering memasarkan langsung ke Pasar Cipanas. Selain itu, petani bisa juga menjual hasil
usahataninya tanpa dipanen melainkan tengkulak yang datang langsung ke kebun petani untuk membeli dan memanen sendiri hasil usahatani tersebut, sistem ini dikenal dengan “sistem borongan”. Adapun struktur tataniaganya dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Struktur tataniaga usahatani petani di desa penelitian.
Harga jual yang berlaku pada sistem borongan, relatif lebih rendah dibandingkan petani yang langsung menjual kepada pedagang pengumpul/tengkulak. Hal ini dikarenakan, pedagang pengumpul/tengkulak melakukan pemotongan terhadap harga upah panen dan ongkos angkut. Sayuran yang tidak laku terjual dilakukan pengembalian sayuran tersebut oleh pedagang pengumpul kepada petani, selain itu ada juga yang membayar dengan harga yang diturunkan (murah) dari harga jual sebenarnya.
Pendekatan komunikasi dalam kesepakatan harga yang terjadi antara pedagang pengumpul dan petani cenderung liner (Tabel 17). Kesepakatan harga yang terjadi merupakan harga yang telah ditetapkan oleh pedagang pengumpul/tengkulak berdasarkan fluktuasi harga sayuran yang berlaku di Pasar Induk Jakarta. Oleh karena itu, petani selalu sepakat dan menerima harga yang telah ditetapkan oleh pedagang pengumpul. Berbeda dengan sistem pembayaran dan jangka waktu pembayaran yang menggunakan pendekatan komunikasi bersifat interaktif. Hal ini dikarenakan masih adanya diskusi yang terjadi mengenai cara dan waktu pembayaran hasil usahatani. Sistem pembayaran hasil
usahatani petani dilakukan dengan cara bayar langsung “cash” setelah sayuran
dijual ke Pasar Induk Jakarta dengan jangka waktu pembayaran satu sampai dua hari. Metode komunikasi yang digunakan dalam melakukan kesepakatan harga dan jangka waktu pembayaran antara pedagang pengumpul dan petani adalah satu
metode yaitu ceramah (diskusi/kesepakatan). Metode komunikasi yang digunakan
Petani - Desa Sukatani - Desa Cipendawa - Desa Sukamulya Pedagang Pengumpul/Tengkulak
yang berada di ketiga desa tersebut Pasar - Cipanas - Kramat Jati - TU Bogor - Muara Karang
dalam sistem pembayaran dengan dua metode yaitu selain ceramah juga menggunakan demonstrasi. Maksudnya adalah pedagang pengumpul dan petani
melakukan diskusi/kesepakatan (ceramah)yang juga diikuti kegiatan pembayaran
(demonstrasi) sebagai hasil dari pemasaran sayuran yang terjual. Frekwensi komunikasi antara pedagang pengumpul dan petani dalam kesepakatan harga, sistem pembayaran dan jangka waktu pembayaran termasuk jarang. Hal ini dikarenakan kecenderungan harga yang berlaku berdasarkan pada fluktuasi harga dan sudah ada harga standar yang menjadi tolok ukur oleh pedagang pengumpul/tengkulak.
Kinerja Kelompok Tani
Kelompok tani merupakan satu-satunya bentuk kelembagaan informal yang ada di kawasan agropolitan. Di kawasan agropolitan terdapat sembilan (9) kelompok tani, dimana lima (5) kelompok tani berada di Desa Sindang Jaya Kecamatan Cipanas dan empat (4) kelompok tani lainnya berada di Desa Sukatani Kecamatan Pacet.
Pendekatan komunikasi dalam kinerja kelompok tani dilihat dari interaksi kelompok cenderung interaktif (Tabel 17). Hal ini dikarenakan pada interaksi kelompok sering dilakukan kegiatan diskusi dan tanya jawab. Pendekatan komunikasi dalam penyebaran informasi lebih cenderung linier karena peran kontak tani sebagai sumber informasi, dapat memperlancar kegiatan petani dalam penyebaran informasi yang banyak dihabiskan di lahan usahataninya. Metode komunikasi dalam kinerja kelompok tani adalah metode ceramah dan demonstrasi. Maksudnya, selain diskusi dan tanya jawab dalam pertemuan kelompok, petani juga diajak praktek di lapangan. Frekwensi komunikasi interaksi kelompok termasuk jarang karena pertemuan kelompok tani jarang dilakukan. Hal ini berbeda dengan penyebaran informasi yang termasuk sering karena proses komunikasi tidak hanya dilakukan dalam pertemuan saja tetapi bisa dari teman ke teman dan waktunya bisa kapan saja.
Kondisi kelompok tani di kawasan agropolitan sekarang ini, bisa dikatakan hanya tinggal namanya saja karena tidak ada lagi kegiatan yang bersifat rutinitas. Keberadaan kelompok tani di kawasan agropolitan, bila dilihat dari sejarah terbentuknya merupakan kelompok tani dadakan/sengaja dibentuk pada saat
perintisan kawasan agropolitan. Kelompok tani bukan terbentuk sendiri karena kebutuhan dan keinginan untuk maju melainkan salah satu persyaratan untuk kelancaran pelaksanaan program agropolitan. Hal ini berdampak pada sumber daya petani yang cenderung pasif dan selalu menunggu adanya kegiatan dari pusat.
Meskipun telah dibentuk kepengurusan, kegiatan pada kelompok tani cenderung hanya aktif pada saat ada program agropolitan saja. Pertemuan kelompok sering dilakukan dengan frekwensi satu bulan sekali. Selama ini, adanya kelompok tani memiliki cukup banyak kegiatan berupa pelatihan dan penyuluhan yang nilai manfaatnya tidak dapat dirasakan secara langsung oleh petani. Melainkan, hanya membebani petani karena kehilangan waktu untuk berusahatani dan mengeluarkan biaya transportasi untuk mencapai halte agropolitan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyuluhan yang bersifat pendampingan baik oleh PPL maupun instansi terkait agar dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa kepercayaan mereka. Pemantapan kelembagaan salah satunya dengan mengarahkan kelompok tani agar kelembagaan tersebut dapat tumbuh dari bawah, untuk dan oleh petani. Hal ini bertujuan agar kelembagaan petani dapat bertindak dan mampu mewakili kepentingan pengembangan usaha para anggotanya. Di samping itu, bersama-sama menciptakan dan menumbuhkan pola kemitraan agar dapat membantu mencapai kesejahteraan yang lebih baik.
Kinerja Kelembagaan Sarana dan Prasarana
Adanya kawasan agropolitan berdampak pada pembangunan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan pertanian di sekitar kawasan agropolitan. Selama ini, sarana dan prasarana yang ada di kawasan agropolitan kurang berkembang, justru sarana dan prasarana umum yang lebih berkembang sehingga banyak dimanfaatkan sebagai fasilitas orang-orang kota yang membangun di sekitar kawasan agropolitan. Pembangunan sarana dan prasarana yang kurang sosialisasi dan diskusi berdampak pada kurang sesuainya dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga pemanfaatan sarana dan prasarana menjadi tidak optimal. Adapun sarana dan prasarana yang dibangun di kawasan agropolitan dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18 Sarana dan prasarana yang dibangun di Kawasan Agropolitan, 2007
No Jenis sarana dan prasarana Fungsi Utama
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.
Jalan (jalan utama dan jalan usahatani)
Halte agribisnis agropolitan Masjid
Kantor penyuluh pertanian
Packing House
Gudang
Kantor P4S
Sub Terminal Agribisnis (STA)
Irigasi
Mempermudah petani dalam proses angkut hasil usahatani
Tempat pertemuan kelompok tani Tempat beribadah petani sekitar Tempat konsultasi pertanian (KKA)
Tempat proses agroprosesing
Tempat menyimpan alat-alat milik halte agropolitan
Tempat/ruang arsip pelatihan
Tempat penampungan hasil usahatani di Cigombong
Pengairan untuk usahatani
Sumber: Indepth Interview & data sekunder
1. Jalan beraspal dan jalan usahatani
Jalan yang dibangun dalam kegiatan agropolitan berupa jalan umum
beraspal dan jalan usahatani. Jalan utama dan jalan usahatani yang dibangun di Desa Sindang Jaya memiliki struktur lebih baik dibandingkan Desa Sukatani. Desa Sindang Jaya memiliki jalan umum yang beraspal bagus dan merata di setiap dusun, berbeda dengan Desa Sukatani yang hanya kebagian jalan-jalan utama saja. Hampir semua areal perkebunan di Desa Sindang Jaya dibangun jalan usahatani untuk mempermudah mengangkut hasil panen dari kebun ke jalan utama sedangkan Desa Sukatani hanya beberapa bagian saja sehingga menimbulkan rasa kecemburuan sosial antar dua desa tersebut. Adapun jalan yang dibangun dan diperbaiki terdiri dari: jalan kelas 1 beraspal = 4 km, jalan kelas 4 = 16 km, jalan desa = 4 km dan jalan usahatani beton = 2900 m. Adanya jalan utama beraspal dan jalan usahatani ini, maka akses para wisatawan (orang luar desa dan orang kota) menjadi lebih banyak berkunjung untuk menikmati pemandangan dan udara sejuknya di kawasan agropolitan. 2. Halte Agribisnis Agropolitan
Halte agribisnis agropolitan berfungsi sebagai kantor bagi pengelola kawasan untuk mengayomi anggota kelompok tani dan tempat pertemuan (rapat). Selain itu juga, sering dijadikan tempat penyuluhan dan pelatihan kegiatan program agropolitan. Halte agribisnis agropolitan berlokasi di
kawasan agropolitan tepatnya di Dusun Gunung Batu Desa Sindang Jaya Kecamatan Cipanas. Kepengurusan pengelola kawasan agropolitan berdasarkan SK pokja kabupaten, dilemanya selama ini sering terjadi penggantian kepengurusan sehingga antara ketua pengelola dan anggota kelompok tani menjadi kurang dekat dan penyebaran informasi tidak menyeluruh. Halte agribisnis agropolitan dilengkapi dengan sarana ruang kantor, ruang pertemuan, lapangan parkir, kantin dan WC umum. Selain itu juga dilengkapi dengan prasarana seperti : meja dan kursi kerja sebanyak 4 unit, meja rapat sebanyak 20 unit, kursi kayu sebanyak 25 unit, kursi plastik sebanyak 30 unit, 1 unit mesin tik, 1 unit komputer, 1 unit lemari kaca, 1 unitlemari plastik, 2 unit white board dan 1 unit generator listrik.
3. Masjid
Masjid agropolitan berlokasi di sebelah kantor penyuluh pertanian yang
juga berada di kawasan agropolitan Dusun Gunung Batu Desa Sindang Jaya Kecamatan Cipanas. Masjid agropolitan dibangun untuk mempermudah petani yang lokasi kebunnya sekitar kawasan agropolitan dapat melakukan ibadah, selain itu dapat digunakan oleh tamu-tamu yang berkunjung atau peserta pelatihan. Masjid agropolitan dilengkapi sajadah dan al-quran yang kurang dimanfaatkan oleh petani sekitar karena cenderung pulang ke rumah masing- masing untuk melaksanakan ibadah.
4. Kantor Penyuluh Pertanian
Kantor penyuluh pertanian berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para
PPL untuk melakukan pertemuan dan pelatihan, selain itu juga sering dimanfaatkan sebagai Klinik Konsultasi Agribisnis (KKA). Kantor penyuluh pertanian berlokasi di Dusun Gunung Batu Desa Sindang Jaya Kecamatan Cipanas, letaknya di antara halte agribisnis agropolitan dan masjid agropolitan. Kenyataannya, kantor penyuluh pertanian sering kosong karena PPL hanya berkumpul pada pertemuan rutin yang dilaksanakan setiap hari senin pada minggu kedua dan keempat setiap bulannya.
5. Packing House
Packing house dibangun dalam rangka pengembangan kawasan
packing house berseberangan jalan dengan halte agribisnis agropolitan dan kantor penyuluh pertanian di Dusun Gunung Batu Desa Sindang Jaya Kecamatan Cipanas.
Kinerja pengelola sarana dan prasarana kelembagaan packing house
(Tabel 17), dilihat dari fungsi sarana dan prasarana maka pendekatan
komunikasi yang digunakan cenderung linier. Pendekatan komunikasi yang bersifat linier maksudnya pendekatan yang dilakukan oleh lembaga agropolitan
kepada petani, dimana pengelola sarana pernah menjelaskan fungsi packing
house saat pertama kali sarana tersebut dibangun. Berbeda dengan pendekatan komunikasi yang digunakan dalam pemanfaatan sarana dan prasarana bersifat pasif, maksudnya pendekatan yang dilakukan oleh masyarakat dimana petani
mencoba sendiri dalam pemanfaatan packing house. Pengelola sarana
memberikan penjelasan pada petani dengan menggunakan metode ceramah, frekuensi jarang yaitu hanya pada awal program agropolitan berlangsung.
Packing house tidak banyak dimanfaatkan petani karena kebanyakan
petani setempat menjual hasil usahatani tanpa melakukan agroprosesing di
packing house. Hal ini dikarenakan, kegiatan agroprosesing dapat dilakukan di rumah masing-masing sekaligus sebagai proses pembelajaran bagi anak-anak mereka. Selain itu, petani dapat langsung menjual pada pedagang pengumpul/tengkulak dengan sistem borongan dari kebun sehingga proses
agroprosesing dilakukan oleh pedagang pengumpul/tengkulak. Pembayaran hasil penjualan dari sistem borongan dilakukan potongan harga sebesar 5-10%
untuk membayar proses agroprosesing.
Packing house hanya dimanfaatkan oleh sebagian kecil petani setempat karena lokasinya kurang strategis (jauh dari pemukiman dan lahan usahatani).
Pengelolaan packing house belum terkoordinir dengan baik, hanya
dimanfaatkan sebagai terminal sementara untuk dipasarkan oleh pedagang
pengumpul/tengkulak. Selain itu, pedagang pengumpul/tengkulak dari Desa
Sukatani dan Sindang Jaya dapat membeli kekurangan jenis sayuran yang
akan dipasarkan di packing house.
Sarana yang ada di kawasan agropolitan merupakan milik bersama dan
fasilitas umum dapat digunakan oleh siapa saja dan penanggung jawabnya
harus membantu membayar uang kebersihan dan listrik. Keberadaan packing
house banyak dianggap sebagai pesaing bagi pedagang pengumpul.
Pemasaran yang dilakukan pengelola packing house secara rutin setiap hari
memasarkan ke pasar Induk Keramat Jati, TU Bogor dan Muara Karang sedangkan 10 hari sekali memasukkan sayuran ke ACS dengan pembayaran 7 hari dan 2 minggu sekali ke Carefour dan Hari-hari Jakarta dengan
pembayaran 1 minggu. Adapun gambaran struktur tataniaga melalui packing
house dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10 Struktur tataniaga melalui Packing House di kawasan agropolitan.
6. Gudang
Gudang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang yang sudah jarang
digunakan dan tidak terpakai lagi. Lokasi gudang terletak di dekat packing
house di Dusun Gunung Batu Desa Sindang Jaya Kecamatan Cipanas. Saat ini, gudang agropolitan berisi peralatan dari pelatihan pembuatan produk olahan keripik wortel seperti: kuali, kompor dan irus.
7. Kantor P4S
P4S dikenal dengan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya
yang berfungsi sebagai tempat pelatihan bagi petani oleh PPL dan dinas terkait. Hal ini bertujuan untuk transfer pengetahuan bagi petani yang ada di kawasan agropolitan. Salah satu divisi yang ada di bawah naungan P4S adalah Posyanti yang bertujuan untuk mengembangkan usahatani yang berkelanjutan dan ramah lingkungan seperti: pengembangan pestisida nabati dan pupuk organik. Lokasi kantor P4S, di sebelah halte agropolitan dan menghadap kantin di Dusun Gunung Batu Desa Sindang Jaya Kecamatan Cipanas.
Petani di sekitar kawasan agropolitan (Desa Sindang jaya dan Desa Sukatani) Packing House di kawasan agropolitan Pasar - Cipanas - Kramat Jati - TU Bogor - Muara Karang - ACS - Carefour Pedagang Pengumpul di sekitar kawasan agropolitan (Desa Sindang
jaya dan Desa Sukatani)
8. Sub Terminal Agribisnis (STA) Cigombong
Sub Terminal Agribisnis (STA) Cigombong merupakan salah satu pasar yang dikembangkan karena adanya program agropolitan dimana lokasinya paling jauh dari kawasan agropolitan, tepatnya di Desa Ciherang Kecamatan Pacet. STA berfungsi sebagai terminal penampungan hasil usahatani petani dan
dijadikan sebagai kumpulan pedagang pengumpul/tengkulak serta supplier
yang menerima sayuran dari desa-desa yang relatif jauh dari Cipanas. Selain itu, STA Cigombong dapat dikembangkan menjadi outlet hortikultura (sayuran) di kawasan agropolitan. STA Cigombong dilengkapi dengan
prasarana seperti: cool room (shiller) yang diperuntukkan menyimpan sayuran
yang tidak laku terjual. Akan tetapi, cool room kurang dimanfaatkan karena
sayuran yang dijual melalui STA Cigombong merupakan kebanyakan sayuran
lokal untuk pasar tradisional sehingga selalu habis terjual. Cool room ini tidak
pernah dipakai kecuali pada saat pengenalan pertama kali (uji coba). Selain itu, di STA terdapat kios pertanian yang menjual bibit, pupuk dan obat-obatan yang
bekerja sama dengan pihak swasta, gudang dan supermarket (outlet).
Kinerja sarana dan prasarana STA dapat dilihat dari fungsi serta
pemanfaatan sarana dan prasarana oleh petani (Tabel 17). Pendekatan komunikasi yang digunakan dalam fungsi sarana bersifat linier sedangkan pemanfaatan sarana bersifat pasif. Metode komunikasi yang digunakan yaitu