• Tidak ada hasil yang ditemukan

TARGET REALISASI CAPAIAN (%)

B. KINERJA SDM DAN ORGANISASI

Kepuasan pelanggan 1,00 1,50 1,00 66,67

B. KINERJA SDM DAN ORGANISASI

Untuk mencapai sasaran ini, ada beberapa indikator kinerja yang digunakan dimana masing-masing indikator dapat diuraikan kondisi capaian, permasalahan dan usul pemecahan masalahnya sebagai berikut:

a. Pertumbuhan Pembelajaran

1. Rata-rata Jam Pelatihan Karyawan a. Analisis kondisi yang dicapai

Untuk Rasio Rata-rata Jam Pelatihan Karyawan pada tahun 2015 sebesar 1,00 tercapai 100 persen dari yang ditargetkan.

b. Kendala yang dihadapi

Kurangnya pemerataan pelatihan untuk staff dan keterbatasan pihak penyelenggara yang mendapatkan pelatihan untuk staf di area kritis.

c. Usul pemecahan masalah

Perbaikan basis data pelatihan yang diikuti oleh pegawai di masing-masing unit kerja.

Data Rata-rata Jam Pelatihan Karyawan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

INDIKATOR KINERJA SKOR

2015

TARGET REALISASI CAPAIAN (%)

Rata-rata Jam Pelatihan Karyawan 1,00 1,00 1,00 100,00

38 2. Persentase Dokter Pendidik Klinis Mendapat TOT

a. Analisis kondisi yang dicapai

Untuk Rasio Persentase Dokter Pendidik Klinis Mendapat TOT pada tahun 2015 sebesar 1,00 tercapai 100 persen dari yang ditargetkan, saat ini sudah semua dokdiknis sudah mengikuti TOT.

b. Kendala yang dihadapi

Jumlah dokdiknis berkurang karena ada mutasi ke rumah sakit lain.

c. Usul pemecahan masalah

Adanya tambahan pembimbing klinis baru yang telah mengikuti TOT dimungkinkan untuk ditawarkan proses dokdiknis.

Data Persentase Dokter Pendidik Klinis Mendapat TOT dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

INDIKATOR KINERJA SKOR

2015

TARGET REALISASI CAPAIAN (%) Persentase Dokter Pendidik Klinis Mendapat

TOT 1,00 1,00 1,00 100,00

3. Program Reward dan Punishment a. Analisis kondisi yang dicapai

Program Reward dan Punishment diterapkan pada semua pegawai, adapun penerapan punishment berdasarkan PP 53 tahun 2010 tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil.

b. Kendala yang dihadapi

Reward belum merata ke semua pegawai.

c. Usul pemecahan masalah

Agar jajaran manajerial di semua lini dan unit memperhatikan kinerja pegawai di bawahnya.

Data Program Reward dan Punishment dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

INDIKATOR KINERJA SKOR

2015

TARGET REALISASI CAPAIAN (%)

Program Reward dan Punishment 1,00 1,00 1,00 100,00

39 C. KINERJA KEUANGAN

NO INDIKATOR KINERJA

3 Periode Penagihan Piutang ( Collection Periods) 1,00 50,00 2,00 100,00

4 Perputaran Aset tetap ( Fixed Asset Turnover) 1,00 200,00 0,50 100,00

5 Imbalan atas Aset Tetap ( return on Fixed Aset) 0,80 72,73 0,00 0,00

6 Imbalan Ekuitas ( Return on Equity) 0,80 66,67 0,00 0,00

7 Perputaran Persediaan ( Inventory Turnover) 1,00 80,00 1,00 80,00

8 Rasio Pendapatan PNBP terhadap Biaya

Operasional 2,50 100,00 1,75 70,00

9 Rasio Subsidi Biaya Pasien 0,50 0,00

b. Kepatuhan Pengelolaan Keuangan BLU 10,85 100,00 10,85 100,00

1 RBA Definitif 2,00 100,00 2,00 100,00

2 Laporan Keuangan Berdasarkan SAK 1,85 100,00 1,85 100,00

3 Surat Perintah Pengesahan Pendapatan dan

Belanja BLU 2,00 100,00 2,00 100,00

11 SOP Pengelolaan Barang Inventaris 0,50 100,00 0,50 100,00

Indikator Kinerja Keuangan terdiri atas 2 aspek, yaitu aspek keuangan dan aspek kepatuhan. Indikator kinerja keuangan RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang tahun 2015 mengalami penurunan dibanding tahun 2014, yaitu dari 21,70%

menjadi 18,85%. Hal-hal yang berpengaruh dalam capaian indikator kinerja keuangan antara lain adalah:

1. Turunnya pendapatan di tahun 2015 dibanding tahun 2014. Kondisi ini disebabkan oleh:

 Perubahan regulasi dari BPJS, yaitu adanya aturan rujukan berjenjang

 Jamkesda Propinsi di tahun 2015 sudah tidak memberikan subsidi pembiayaan untuk Kabupaten atau Kota di Propinsi Jawa Tengah, dan tidak diimbangi dengan kenaikan prosentase jaminan di masing-masing Kabupaten/Kota. Bahkan beberapa Kabupaten/Kota tidak memberikan

40 penjaminan karena sudah bertransformasi ke BPJS untuk penjaminan kesehatan di wilayahnya. Selain itu PMKS/pasung/PGOT sudah tidak dijamin lagi oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah.

2. Belum dimanfaatkannya aset tetap yang diinvestasikan oleh rumah sakit secara optimal, bahkan terdapat aset tetap yang belum dimanfaatkan sama sekali.

3. Belum dilakukannya pemanfaatan idle cash untuk menghasilkan pendapatan.

4. Belum dilakukannya efisiensi biaya.

5. Belum berjalannya sistem informasi rumah sakit secara optimal sehingga support data belum berjalan tepat waktu dan pengolahan data untuk penyusunan laporan keuangan masih manual, yang berdampak pada laporan keuangan tidak tersaji secara tepat waktu.

Guna meningkatkan skor indikator kinerja keuangan, upaya-upaya yang dapat dilakukan adalah:

1. Senantiasa meningkatkan penatausahaan piutang 2. Membuat perencanaan yang lebih baik

3. Meningkatkan pendapatan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki rumah sakit yang berpotensi menghasilkan pendapatan

4. Melakukan efisiensi biaya

5. Melakukan percepatan pembangunan sistem informasi rumah sakit

Analisis kondisi yang dicapai, kendala dan usul pemecahan masalah di setiap indikator keuangan adalah sebagai berikut :

a. ASPEK KEUANGAN

1. Rasio Kas/Cash Ratio

 Realisasi skor yang diperoleh RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang adalah 0,25. Hal tersebut disebabkan karena nilai kas dan setara kas yang dimiliki rumah sakit sangat besar atau lebih dari cukup untuk memenuhi kewajiban yang timbul (sangat likuid). Hal tersebut juga mengindikasikan adanya idle cash yang berarti bahwa rumah sakit belum dapat mengoptimalkan pengelolaan aset lancar khususnya kas yang

“menganggur”.

 Dalam rangka pencapaian skor cash ratio yang ideal, maka hal-hal yang perlu dilakukan, dengan asumsi nilai kewajiban jangka pendek tidak berubah signifikan, yaitu memanfaatkan idle cash dengan cara mengalokasikan kas dan setara kas yang tersedia dalam bentuk deposito termasuk ke dalam kelompok investasi jangka pendek (jatuh tempo tiga bulan sampai dengan 1 tahun) maupun dalam bentuk penanaman dana lainnya.

2. Rasio Lancar/Current Ratio

 Berdasarkan perhitungan, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang sudah memperoleh skor ideal dalam arti rumah sakit memiliki dana yang lebih dari cukup untuk memenuhi/mambayar hutang-hutangnya.

41

 Karena sudah mencapai skor ideal, maka perlu mempertahankan nilai tersebut atau dengan meningkatkan aset lancar. Namun peningkatan aset lancar ini seyogyanya tidak tertumpu pada kas/setara kas. Apabila sebagian besar adalah kas, maka harus dapat memanfaatkan idle cash yang ada, karena akan berpengaruh terhadap rasio kas juga.

3. Collection Period

 Berdasarkan perhitungan, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang sudah memperoleh skor ideal yaitu 2,00. Artinya bahwa rata-rata jangka waktu dari timbulnya piutang sampai dengan piutang tersebut dapat tertagih dalam 1 tahun telah masuk dalam kategori yang ideal. Kondisi ini disebabkan karena piutang yang dimiliki oleh RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang sebagian besar adalah piutang lancar, yaitu piutang dari penajmin (BPJS, Jamkesda, dan penjamin lainnya). Disamping itu juga dikarenakan pengelolaan piutang yang cukup memadai, baik sisi penatausahaan maupun penagihannya.

 Telah tercapainya skor yang ideal ini perlu dipertahankan dengan mengoptimalkan fungsi pengelolaan piutang, serta senantiasa berupaya meningkatkan pendapatan.

4. Perputaran Aset Tetap (Fixed Asset Turnover)

 Realisasi skor yang diperoleh RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang adalah 0,50 atau di bawah skor yang ideal. Kondisi ini mencerminkan nilai aset tetap yang dimiliki rumah sakit belum dapat menghasilkan pendapatan yang signifikan terhadap biaya yang telah dikeluarkan. Hal ini disebabkan oleh :

- Aset tetap yang dimiliki rumah sakit belum dimanfaatkan secara optimal guna menghasilkan pendapatan.

- Banyaknya aset tetap baru yang diperoleh di tahun 2015 dan di tahun tersebut belum berfungsi, sehingga belum menghasilkan pendapatan, serta adanya realisasi aset tetap yang tidak bertujuan untuk menghasilkan pendapatan.

- Realisasi aset tetap tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan bahkan pendapatan tahun 2015 menurun dibandingkan tahun 2014.

 Upaya yang dapat dilakukan rumah sakit untuk mencapai skor yang meningkat antara lain adalah:

- Meningkatkan pendapatan

- Segera memanfaatkan aset-aset tetap yang dimiliki rumah sakit untuk pelayanan-pelayanan yang dapat menghasilkan pendapatan.

5. Imbalan atas Aset Tetap (Return on Asset)

 Berdasarkan perhitungan, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang tidak mendapatkan skor disebabkan karena rumah sakit mengalami defisit, yaitu biaya yang dikeluarkan rumah sakit lebih besar dari pendapatan yang diperoleh. Hal tersebut mengindikasikan bahwa aktifitas operasional

42 rumah sakit yang belum efektif dan optimal sehingga berpengaruh pada profit yang dihasilkan.

 Upaya yang dapat dilakukan rumah sakit agar skor ROA lebih meningkat adalah:

- Meningkatkan pendapatan rumah sakit

- Melakukan pemanfaatan aset tetap secara optimal terutama untuk menghasilkan pendapatan

- Melakukan efisiensi biaya operasional rumah sakit 6. Imbalan Ekuitas (Return on Equity)

 Berdasarkan perhitungan, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang tidak mendapatkan skor disebabkan karena rumah sakit mengalami defisit, yaitu biaya yang dikeluarkan rumah sakit lebih besar dari pendapatan yang diperoleh. Hal tersebut mengindikasikan bahwa aktifitas operasional rumah sakit yang belum efektif dan optimal sehingga berpengaruh pada profit yang dihasilkan.

 Upaya yang dapat dilakukan rumah sakit untuk meningkatkan rasio ini adalah dengan meningkatkan surplus/defisit sebelum pos keuntungan/kerugian yaitu dengan meningkatkan pendapatan operasional dan melakukan efisiensi biaya operasional rumah sakit.

7. Rasio Perputaran Persediaan (PP)

 Realisasi skor RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang di tahun 2015 belum mencapai skor yang ideal dikarenakan besarnya nilai persediaan di akhir tahun. Sehingga persediaan tersebut menumpuk di gudang tanpa dapat menghasilkan pendapatan secara optimal.

 Upaya yang dapat dilakukan rumah sakit:

- Memperbaiki sistem perencanaan yang terkait dengan pembelian persediaan

- Memperbaiki penatausahaan persediaan di gudang - Melakukan efisiensi

8. Rasio Pendapatan PNBP terhadap Biaya Operasional

 Berdasarkan perhitungan, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang belum mencapai skor yang ideal, dikarenakan belum seimbangnya antara biaya operasional yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diterima.

Sehingga guna meningkatkan pencapaian skor, upaya yang dapat dilakukan antara lain:

 Meningkatkan pendapatan operasional rumah sakit dengan menggali sumber daya yang dimiliki, baik aset tetap, aset lancar (pemanfaatan idle cash), dan aset yang lainnya, serta terobosan-terobosan lain yang bisa meng”generate” pendapatan.

 Diperlukan komitmen dari seluruh unsur yang ada di rumah sakit untuk melakukan efisiensi

43 9. Rasio Subsidi terhadap Pendapatan PNBP

 Berdasarkan perhitungan, RSJ Prof Dr. Soerojo Magelang tidak mendapatkan skor untuk rasio tersebut.

 Dari data hasil perhitungan tersebut mencerminkan bahwa dari pendapatan yang diterima rumah sakit, maka subsidi yang diberikan belum sebanding dengan pendapatan yang diterima. Hal ini dikarenakan sebagian besar pasien yang dilayani adalah pasien jaminan, sehingga subsidi yang diberikan rumah sakit juga kecil. Guna mencapai skor yang ideal maka disamping rumah sakit meningkatkan pendapatan juga perlu diimbangi dengan pelaksanaan Public Service Obligation (PSO), yang juga harus ditatausahakan dengan baik.

b. ASPEK KEPATUHAN

 Penilaian kinerja keuangan dari aspek kepatuhan sebagian besar telah memenuhi skor ideal, hanya ada 1 aspek kepatuhan yang belum

memenuhi skor ideal yaitu penyampaian laporan keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan dimana masih terdapat keterlambatan rata-rata sampai dengan 30 hari. Kondisi ini disebabkan oleh :

- Support data yang belum berjalan secara optimal - Pengolahan data yang masih manual

 Guna meningkatkan skor ini, hal yang dapat dilakukan adalah:

- Senantiasa meningkatkan koordinasi dengan unit kerja supporting data dan dokumen sumber dapat optimal

- Memfokuskan pada pembangunan sistem informasi yang dapat mendukung kevalidan data serta aplikasi akuntansi

- Penyediaan SDM yang cukup dan kompeten dibidang akuntansi Dari hasil perhitungan tersebut, menggambarkan bahwa kinerja keuangan tahun 2015 menurun dibandingkan kinerja tahun 2014. Hal ini disebabkan:

1. Turunnya pendapatan di tahun 2015 dibanding tahun 2014. Kondisi ini disebabkan oleh:

- Perubahan regulasi dadri BPJS, yaitu adanya aturan rujukan berjenjang

- Jamkesda Propinsi di tahun 2015 sudah tidak memberikan subsidi pembiayaan untuk Kabupaten atau Kota di Propinsi Jawa Tengah, dan tidak diimbangi dengan nkenaikan prosentase jaminan di masing-masing Kabupaten/Kota. Bahkan beberapa Kabupaten/Kota tidak memberikan penjaminan karena sudah bertransformasi ke BPJS untuk penjaminan kesehatan di wilayahnya. Selain itu PMKS/pasung/PGOT sudah tidak dijamin lagi oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah.

2. Belum dimanfaatkannya aset tetap yang diinvestasikan oleh rumah sakit secara optimal, bahkan terdapat aset tetap yang belum dimanfaatkan sama sekali.

3. Belum dilakukannya pemanfaatan idle cash untuk menghasilkan pendapatan.

44 4. Belum dilakukannya efisiensi biaya.

5. Belum berjalannya sistem informasi rumah sakit secara optimal sehingga support data belum berjalan tepat waktu dan pengolahan data untuk penyusunan laporan keuangan masih manual, yang berdampak pada laporan keuangan tidak tersaji secara tepat waktu.

Untuk itu, guna meningkatkan skor indikator kinerja keuangan, perlu ditempuh hal-hal sebagai berikut:

1. Senantiasa meningkatkan penatausahaan piutang 2. Membuat perencanaan yang lebih baik

3. Meningkatkan pendapatan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki rumah sakit yang berpotensi menghasilkan pendapatan

4. Melakukan efisiensi biaya

5. Melakukan percepatan pembangunan sistem informasi rumah sakit

Dokumen terkait