• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja – Seberapa Baik PKSA Mengimplementasikan

4. PENILAIAN EFEKTIVITAS, KINERJA IMPLEMENTASI, EFISIENSI,

4.2 Kinerja – Seberapa Baik PKSA Mengimplementasikan

Sub-sub bab berikut akan menganalisa kegiatan, yang diimplementasikan berkaitan dengan PKSA untuk mencapai tujuan yang telah dinilai dalam bab 4.1. Kegiatan itu meliputi fungsi yang berkaitan dengan implementasi bantuan tunai bersyarat seperti penetapan target, validasi, penyampaian, dan pelaksanaan persyaratan, fungsi-fungsi yang terkait dengan manajemen kasus, konseling dan rujukan dan fungsi-fungsi yang terkait dengan program secara menyeluruh seperti sosialisasi, penuntasan (kelulusan), dan tindak lanjut.

4.2.1 Sosialisasi

Sosialisasi memberikan informasi yang memadai bagi otoritas lokal dan lembaga-lembaga untuk bisa terlibat secara efektif dalam implementasi program. Sosialisasi memberi tahu penerima manfaat tentang hak-hak mereka dan kewajiban mereka; ia menjamin bahwa tujuan-tujuan program dan modalitas implementasi dipahami di masyarakat. Ia memberikan informasi berkelanjutan dan pendidikan tentang program selama implementasi; ia menciptakan dukungan untuk program dan memperkuat kemitraan dan kerja sama antar organisasi.

Panduan PKSA tidak memberikan informasi tentang bagaimana dan oleh siapa sosialisasi dilakukan. Dengan tidak adanya mekanisme sosialisasi dan diseminasi yang jelas, kebanyakan beban sosialisasi PKSA menjadi inisiatif para pekerja sosial, seperti memberi tahu penerima manfaat dan pemangku kepentingan tentang implementasi program. Meskipun sosialisasi merupakan bagian dari mandat mereka, tapi usaha mereka tidak secara efektif didukung dan diperkuat oleh Kementerian Sosial di tingkat nasional.

Selama kerja lapangan, dokumen cetak dari PKSA seperti booklet, pamflet atau flyer, sulit dijumpai di kantor-kantor pemerintah daerah dan di LKSA yang dikunjungi. Para pekerja sosial melaporkan bahwa sosialisasi kepada penerima manfaat dan pemangku kepentingan PKSA dilakukan secara informal oleh mereka atau bersama dengan perwakilan LKSA, umumnya dari mulut ke mulut. Tidak adanya materi diseminasi memaksa mereka untuk menghabiskan waktu tambahan untuk menjelaskan sifat, tujuan, dan komponen program kepada penerima manfaat, pemangku kepentingan, dan badan-badan pemerintah daerah.

Pada umumnya pemuka masyarakat dan lembaga-lembaga pemerintah daerah mengakui bahwa mereka tidak banyak tahu tentang PKSA dan menyarankan agar arus informasinya diperbaiki. Kurangnya keterlibatan lembaga-lembaga pemerintah daerah selama implementasi dan kurangnya informasi tentang program itu menyebabkan mereka merasa diabaikan atau di langkahi. Perasaan semacam ini berkali-kali diungkapkan oleh para pegawai Dinas Sosial. Sampai taraf tertentu, keluhan yang sama juga disampaikan oleh beberapa LKSA. Dinas Sosial dan LKSA menyatakan bahwa mereka tidak diberi tahu tentang pekerja sosial yang baru yang telah dikirim untuk bekerja dengan mereka. Beberapa pekerja sosial masih ingat ketika mereka ditanya, “Kamu siapa?” ketika datang untuk melaksanakan tugas di LKSA ke mana mereka dikirim.

Tidak adanya sosialisasi yang efektif di tingkat provinsidan kabupaten/

kota memperlemah dukungan untuk PKSA dan mempengaruhi kinerja para pekerja sosial dalam memberikan akses pada layanan sosial. Misalnya, kantor-kantor pencatatan sipil seringkali ragu untuk mengeluarkan akta kelahiran bagi anak-anak karena mereka tidak pernah diberi tahu tentang keberadaan, peranan, dan mandat dari pekerja sosial. Dengan kurangnya pengakuan ini oleh lembaga-lembaga lokal, mengatasi rintangan birokratis yang menghalang akses anak pada layanan sosial menjadi sebuah tantangan dan membutuhkan lebih banyak waktu dan usaha.

4.2.2 Menetapkan Target dan Verifikasi

Menetapkan target adalah sebuah metode yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa penerima manfaat dari sebuah program terpilih secara benar. Kelompok target PKSA adalah anak balita terlantar, anak jalanan dan anak terlantar, anak yang berkonflik dengan hukum, anak penyandang disabilitas, dan anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Klaster dibagi ke dalam beberapa sub-kelompok. Jumlah anak yang memenuhi kriteria eligibilitas dan jumlah anak dari berbagai klaster yang telah disetujui oleh PKSA di tahun 2012 dan 2013 diberikan dalam Tabel 4. Ringkasnya, PKSA menjangkau hanya 3 persen dari kelompok targetnya.

Dalam situasi dimana sebuah program hanya bisa menjangkau persentase kecil dari kelompok targetnya, prosedur penetapan target harus menjamin bahwa program itu menyetujui anak-anak yang paling rentan dan paling membutuhkan bantuan program. Program harus menghindari kesalahan inklusi agar sumber daya program yang terbatas difokuskan pada kebutuhan yang betul kritis.

4. PENILAIAN EFEKTIVITAS, KINERJA IMPLEMENTASI, EFISIENSI, RELEVANSI, DAN KEBERLANJUTAN PKSA

Sejumlah dokumen yang menilai penetapan target PKSA menunjukkan bahwa prosedur penetapan target PKSA tidak bermuara pada pemilihan anak yang paling membutuhkan kesejahteraan anak dan intervensi perlindungan anak

• Ketika kami memeriksa kondisi kehidupan di rumah, anak-anak ini (penerima manfaat PKSA) umumnya tinggal di rumah yang layak beratap genteng, dinding bata dan lantai semen.” (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2011)

• Selama berinteraksi dengan Panti, terlihat bahwa tidak ada

keharusan bagi Panti untuk melakukan penilaian keluarga atau kunjungan rumah untuk mendaftarkan anak di program PKSA.

Sebetulnya, administrasi di Panti menyebutkan bahwa pemerintah tidak menanyakan tentang latar belakang keluarga anak ketika mereka mengusulkan dukungan untuk anak-anak” … “Kentara sekali bahwa hampir tidak ada anak yang ada di panti di

Jakarta yang berasal dari Jakarta dan hampir tidak ada orangtua mereka yang tinggal di Jakarta. Mereka dikirim dari provinsi lain agar mereka bisa mengakses pendidikan yang baik di panti.” (Lahiri, 2013).

• “Namun di kebanyakan tempat, LKSA menominasikan klien mereka sendiri karena tidak cukup waktu dan uang untuk pengumpulan data tambahan dan penilaian. Akibatnya, lebih dari 75 persen dari penerima manfaat PKSA yang sekarang ini adalah klien LKSA …. metode untuk mencari dan mengidentifikasi penerima manfaat yang berhak memerlukan pertimbangan serius dan

peningkatan (World Bank, 2012b).

Pernyataan-pernyataan ini didukung oleh observasi yang dilakukan selama kerja lapangan

Untuk mendapatkan daftar anak-anak yang paling membutuhkan yang berhak untuk PKSA, Kementerian Sosial mengandalkan data yang diberikan oleh LKSA, yang menyusun daftar itu tanpa ada kontrol dari Kementerian Sosial atau Dinas Sosial.

Ketika LKSA menyusun daftar penerima manfaat yang diusulkan untuk disetujui, mereka tidak mengambil dari database manapun atau daftar semua anak miskin dan rentan di daerah mereka yang sesuai dengan kriteria dari LKSA (seperti anak terlantar usia di atas 5 tahun), tapi hanya menggunakan informasi yang ada saja.

Seringkali mereka hanya menggunakan daftar anak yang sudah menjadi klien LKSA. Dinas Sosial menerima proposal dari LKSA termasuk daftar anak yang diusulkan untuk disetujui, tapi tidak memverifikasi apakah anak tersebut memenuhi kriteria eligibilitas. Mereka hanya mengirimkan daftar itu ke Kementerian Sosial .

Berdasarkan pertimbangan anggaran, Kementerian Sosial menetapkan berapa banyak anak dari daftar yang dikirim oleh LKSA itu yang bisa disetujui (misalnya, 40 persen). Jika jumlah ini kurang dari jumlah yang diusulkan oleh LKSA, maka LKSA harus menetapkan anak mana dari daftar itu yang harus mendapatkan prioritas. Ini merupakan tingkat kedua dari penetapan target dan dilakukan berbeda di setiap LKSA. Beberapa hanya mengambil saja anak yang berada dalam deretan atas

dalam daftar. Yang lain memilih anak berdasarkan berbagai kriteria, misalnya anak yang tinggal dekat LKSA, anak yang berperilaku baik, anak yang orangtuanya menjaga hubungan baik dengan LKSA.

Begitu anak yang akan diprioritaskan telah dipilih, mereka dikunjungi oleh pekerja sosial untuk memverifikasi eligibilitas mereka. Namun demikian, karena proposal itu sendiri tidak didasarkan pada bukti yang bisa diandalkan, verifikasi ini hanya mengoptimalkan yang kurang optimal. Dalam beberapa kasus pekerja sosial melaporkan bahwa mereka telah melakukan verifikasi tapi LKSA mengabaikannya. Dalam kasus lain Kementerian Sosial meminta LKSA untuk mengesahkan lebih banyak anak daripada yang mereka usulkan guna memenuhi kuota tertentu. LKSA akan segera mencari lebih banyak anak dari mana pun mereka bisa mendapatkannya.

Dinas Sosial dalam banyak hal tidak terlibat dalam memverifikasi. Petugas Kementerian Sosial mengunjungi LKSA untuk melakukan beberapa verifikasi dengan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan pemangku kepentingan dan dengan mengunjungi beberapa rumah tangga. Tapi ini tidak begitu berpengaruh pada kualitas penetapan target.

Kesimpulannya, penetapan target dan verifikasi adalah titik terlemah dari PKSA.

4. PENILAIAN EFEKTIVITAS, KINERJA IMPLEMENTASI, EFISIENSI, RELEVANSI, DAN KEBERLANJUTAN PKSA

4.2.3 Pemberian Bantuan Tunai

Penerima manfaat berhak untuk mendapatkan bantuan tunai sebesar Rp.

1.5 juta per tahun, yang karena pengurangan anggaran di tahun 2014 telah dikurangi menjadi Rp. 1 juta. Kementerian Sosial mentransfer uang itu untuk penerima manfaat ke LKSA, yang selanjutnya mengirimkannya ke rekening anak. Pekerja sosial membantu penerima manfaat untuk membuka rekening atas nama anak.

Tabungan atas nama anak memiliki fungsi untuk mempromosikan partisipasi, otonomi dan kebanggaan anak. Pada saat yang sama ini merupakan tugas pekerja sosial untuk memastikan bahwa uang itu dibelanjakan dengan bijak dan untuk kepentingan terbaik anak.

Pekerja sosial yang berbeda menggunakan strategi yang berbeda untuk mengatasi situasi ini. Sebagian dari mereka menyimpan buku tabungan dan membeli barang dan layanan untuk anak setelah disetujui oleh anak dan orangtuanya tentang apa yang diperlukan. Yang lain menemani anak dan orangtua ke bank dan kemudian ke toko atau pasar dimana uang itu dibelanjakan. Yang lain memberikan uang ke orangtua dan meminta mereka untuk memperlihatkan apa yang telah mereka beli atau mengirimkan gambar dari barang yang dibeli. Di Gowa, pekerja sosial mengirimkan uang per bulan saat sesi pengembangan keluarga dilakukan.

Dari sudut pandang pekerja sosial seluruh aktivitas ini memakan waktu.

Beberapa menyebutkan bahwa mereka merasa seperti akuntan keliling yang bolak-balik antara bank dan keluarga anak.

Dari perspektif orangtua dan anak seringkali tidak ada akuntabilitas dan transparansi. Beberapa orangtua mengaku bahwa LKSA tidak pernah memperlihatkan kepada mereka buku tabungan anak atau memberi tahu mereka sisa saldo. Pekerja sosial mengeluhkan bahwa mereka tidak punya banyak pengaruh dan transparansi sehubungan dengan distribusi uang dalam LKSA, yang menyebabkan kurangnya kepercayaan. Mereka melaporkan bahwa beberapa LKSA, yang memberikan pengasuhan institusional, menggunakan uang dari PKSA tidak sepenuhnya untuk kebutuhan anak penerima PKSA.

Seluruh informan sepakat bahwa bantuan itu tidak bisa diandalkan dalam hal waktu penyampaian. Tertundanya pembayaran bervariasi antara 4 sampai 6 bulan. Ini mempengaruhi kualitas layanan yang diberikan oleh pekerja sosial dan LKSA karena integrasi bantuan uang dengan konseling, kunjungan rumah, interaksi dengan penerima manfaat dan menghubungkan dengan layanan sosial hanya dilakukan begitu uang sudah ada.

4.2.4 Konseling dan Hubungan dengan Penerima Manfaat

Konseling memberikan anak dan orangtua nasihat tentang bagaimana memecahkan masalah-masalah anak dan informasi tentang dimana dan bagaimana mendapatkan dukungan yang mereka perlukan. Ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara reguler oleh pekerja sosial, dengan FDS dan dengan pertemuan-pertemuan antara orangtua dengan anak. FDS

dimaksudkan untuk memperkuat kemampuan pengasuh untuk menangani isu-isu perlindungan dan untuk memberikan anak mereka interaksi terapis atau rehabilitatif. Pekerja sosial mengalami bahwa pertemuan orang-per-orang bisa membantu baik anak maupun orangtua untuk merasa aman untuk mengungkapkan perasaan mereka dan terbuka terhadap isu-isu yang sensitif seperti perlakuan salah seksual anak.

Frekuensi kunjungan rumah dipengaruhi oleh parahnya kasus serta seberapa luas wilayah cakupan dan jumlah penerima manfaat yang ditangani oleh seorang pekerja sosial. Dalam hal jumlah penerima manfaat itu besar dan/atau wilayah cakupannya luas, maka pekerja sosial harus mengurangi frekuensi kunjungan rumah, tapi mereka harus selalu ada untuk penerima manfaat selama 24/7 melalui telepon genggam.

Meskipun ada keterbatasan ini, namun komitmen pekerja sosial untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dari penerima manfaat dan untuk menghubungkan mereka dengan layanan sosial dasar sangat luar biasa.

4. PENILAIAN EFEKTIVITAS, KINERJA IMPLEMENTASI, EFISIENSI, RELEVANSI, DAN KEBERLANJUTAN PKSA

Rujukan kepada pemberi layanan sosial dasar dan kepada badan-badan khusus yang bisa memenuhi kebutuhan penerima manfaat dalam banyak hal tidak dilakukan secara sistematis. PKSA belum mengembangkan materi pelatihan untuk pekerja sosial tentang bagaimana melakukan rujukan. Beberapa pekerja sosial tidak punya pengetahuan tentang layanan dasar apa saja yang ada dan bagaimana menilainya. Kebanyakan program ke mana penerima manfaat dirujuk adalah program yang ditawarkan oleh LKSA yang peduli dengan penerima manfaat mereka masing-masing. Skema dan program yang ditawarkan oleh LKSA kepada penerima manfaat PKSA seringkali tidak punya hubungan langsung dengan kebutuhan khusus anak, seperti berkemah atau aktivitas untuk membangun keakraban (outbound).

4.2.5 Monitoring Kemajuan dan Kepatuhan Pada Persyaratan

Di tahun 2014, Kementerian Sosial telah memperkenalkan sebuah sistem untuk memonitor kepatuhan penerima manfaat terhadap persyaratan yang dioperasikan oleh pekerja sosial. Mereka bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan pusat-pusat kesehatan masyarakat, yang mencatat kehadiran penerima manfaat dan kunjungan, serta kantor pencatatan sipil terkait dengan akte kelahiran untuk anak. Kajian menemukan bahwa memverifikasi kepatuhan terkait dengan pemanfaatan layanan kesehatan lebih sulit daripada monitoring kehadiran di sekolah. Kebanyakan sekolah telah memiliki sistem laporan kehadiran yang bisa dinilai, sementara kebanyakan pusat kesehatan tidak punya catatan kunjungan yang dibuat oleh penerima manfaat.

Sistem verifikasi untuk memonitor kepatuhan pada persyaratan belum berfungsi secara benar. PKSA belum mengembangkan formulir untuk mencatat prestasi yang dibuat oleh setiap penerima manfaat. Informasi tentang kepatuhan yang dikumpulkan oleh pekerja sosial di tahun 2014 belum diproses dan dianalisa. Panduan PKSA tidak mencantumkan prosedur hukum yang jelas. Tidak banyak penerima manfaat sejauh ini yang diberikan sanksi karena tidak patuh. Kebanyakan dari mereka tidak bisa memenuhi persyaratan pendidikan.

Sebelum berinvestasi lebih jauh ke dalam sistem persyaratan, monitoring dan sanksi, Kementerian Sosial harus memikirkan biaya dan manfaat dari sistem semacam itu. Ini membebani pekerja sosial, yang sudah kelebihan beban, dengan tambahan pekerjaan, menciptakan aktivitas birokratis tambahan di semua tingkat PKSA dan pada akhirnya bisa memberikan sanksi pada anak yang paling rentan – alasan yang tidak di bawah kontrol mereka untuk memenuhi persyaratan. Dalam sebuah

penilaian yang realistis tentang peranan persyaratan dalam PKSA dapat disimpulkan bahwa mereka lebih banyak memberikan kerugian daripada keuntungan (lihat juga bab 5.3).

4.2.6 Mekanisme Keluhan

Mekanisme keluhan menawarkan saluran bagi penerima manfaat atau pemangku kepentingan melalui mana mereka bisa memberikan umpan balik dan mengajukan keluhan tentang implementasi program.

Panduan PKSA tidak mencantumkan mekanisme keluhan. Panduan itu hanya memberikan sanksi yang tidak langsung dan tidak spesifik, yang menyatakan “bentuk monitoring dan evaluasi di setiap sub-program, pada dasarnya meliputi monitoring, fasilitasi dan pemecahan masalah, yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah bersama dengan LKSA.”

Pekerja sosial melaporkan bahwa kurangnya informasi tentang mekanisme keluhan menimbulkan kebingungan mengenai tanggung jawab untuk menyelesaikan keluhan yang disuarakan oleh penerima manfaat serta oleh badan-badan pelaksana. Ketika respons mendesak dan cepat diperlukan, kebanyakan pekerja sosial akan mengontak petugas di Kementerian Sosial untuk mendapatkan klarifikasi atau solusi. Namun demikian, karena tidak ada petugas khusus yang ditunjuk untuk menangani keluhan, kebanyakan respons dari Kementerian Sosial tidak konsisten dan tergantung dari bagaimana petugas Kementerian Sosial bersangkutan memahami persoalannya.

Tidak adanya mekanisme keluhan yang jelas dalam prakteknya menyebabkan kebanyakan keluhan ditangani secara tidak sistematis.

Karena tidak ada “formulir keluhan” atau “kotak keluhan”, kebanyakan keluhan secara verbal disuarakan melalui pertemuan-pertemuan informal atau lewat telepon. Penerima manfaat menyatakan bahwa kunjungan rumah dan pertemuan orangtua dengan anak telah dimanfaatkan untuk menyampaikan kekecewaan atau keraguan tentang implementasi PKSA. Laporan tentang keluhan yang dibuat oleh pekerja sosial belum menghasilkan respons yang memadai dari Kementerian Sosial .

Kajian ini mencatat bahwa kebanyakan keluhan disampaikan berkaitan dengan isu-isu penetapan target, kurangnya informasi tentang peranan dan mandat dari pekerja sosial, penyampaian bantuan yang tidak bisa diandalkan dan pengurangan jumlah bantuan tunai. Pekerja sosial dan LKSA berpendapat bahwa mereka menerima keluhan dari yang bukan penerima manfaat, yang menanyakan mengapa anak-anak mereka tidak disetujui oleh program. Respons kepada keluhan itu umumnya adalah berupa penjelasan bahwa kuota penerima manfaat yang diberikan oleh Pemerintah Pusat itu terbatas.

4. PENILAIAN EFEKTIVITAS, KINERJA IMPLEMENTASI, EFISIENSI, RELEVANSI, DAN KEBERLANJUTAN PKSA

Gove 4.2.7 Kelulusan dan Tindak Lanjut

Levinger dan McLeod (2002) mengidentifikasi tiga pendekatan untuk keluar: phase down, phase over, dan phase out. Mereka menyatakan bahwa phase down, yaitu pengurangan secara perlahan input program, merupakan tahap awal bagi phase over dan phase out. Phase out mengacu pada penarikan input program tanpa membuat pengaturan yang eksplisit bagi input atau aktivitas yang akan dilanjutkan oleh entitas lain, karena program itu sendiri menghasilkan perubahan yang kemungkinan akan berlanjut tanpa ini. Phase over mengacu pada pengalihan tanggung jawab untuk aktivitas yang ditujukan untuk mencapai tujuan program (aktivitas yang sekarang, atau aktivitas lain yang ditujukan untuk mencapai hasil yang sama) kepada entitas lain. Phase over juga dapat melibatkan pengalihan tanggung jawab untuk mencapai hasil program kepada organisasi lain, misalnya, cabang setempat, pemerintah daerah atau LSM lokal atau nasional.

Menurut Panduan PKSA tahun 2014, bantuan dari PKSA akan berakhir apabila salah satu dari kriteria berikut telah dipenuhi:

(1) Penerima manfaat sudah berusia di atas 18 tahun, (2) pindah ke tempat lain, (3) keberadaan mereka tetap tidak diketahui untuk jangka waktu 3 bulan, (4) meninggal dunia, (5) menerima lebih dari satu program yang sama dalam satu waktu, (6) orangtua dianggap mampu untuk memenuhi hak-hak anak, (7) penerima manfaat menikah, (8) orangtua tidak mengikuti pertemuan FDS sampai tiga kali dalam satu tahun, (9) partisipasi anak dalam mengakses layanan (pengasuhan, kesehatan, pendidikan, dan pengembangan diri) di bawah 75%, dan (10) penerima manfaat mengikuti STILA (Strategi Tindak Lanjut) dari PKSA.

Karena STILA hanya ada di atas kertas, ini merupakan sebuah strategi phase out tanpa tindak lanjut. Orangtua mengeluhkan prosedur penghentian yang tidak jelas dan terkesan tiba-tiba itu, yaitu sebuah praktek yang menyebabkan mereka tetap merasa khawatir dan tidak nyaman tentang masa depan anak-anak mereka. Kriteria 7,8, dan 9 bisa memberikan sinyal bahwa anak mereka justru membutuhkan lebih banyak bantuan, bukannya dikurangi. Ini bisa bermuara pada penghentian bantuan pada anak-anak yang sangat tidak beruntung, yang tidak bisa memenuhi persyaratan karena alasan-alasan yang ada di luar kendali mereka.

Kendati demikian, meskipun ini tidak terlihat di dalam panduan, pekerja sosial atas inisiatif mereka sendiri memberikan konsultasi dan membantu anak dan keluarga setelah bantuan dihentikan. Informasi tentang perkembangan mantan penerima manfaat mereka didapatkan melalui telepon atau pesan singkat yang dikirim oleh pemberi layanan atau orangtua. Ini menambah beban kerja mereka, tapi kebanyakan pekerja sosial menganggap ini sebagai sebuah apresiasi dari para mantan penerima manfaat mereka.

4.2.8 Ringkasan Kinerja Implementasi PKSA

Kebanyakan LKSA dan pekerja sosial memberikan layanan yang bernilai kepada penerima manfaat mereka. Mereka adalah tulang punggung dari PKSA. Berdasarkan kekuatan ini, Kementerian Sosial seharusnya menginvestasikan lebih banyak dalam memperkuat kapasitas mereka dan kondisi kerja mereka (lihat bab 5.1.4).

Sosialisasi dan penetapan target adalah titik lemah. Meskipun PKSA telah menghabiskan Rp. 5.598 juta untuk sosialisasi di tahun 2012 (lihat Tabel 3), pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lain merasa tidak diberi tahu dan dilangkahi. Ini merupakan salah satu alasan mengapa PKSA tidak bisa bersinergi dan membangun kemitraan yang efektif dengan pemerintah daerah (lihat bab 4.1.3).

Aktivitas pendelegasian penetapan target jarang dilakukan oleh LKSA, yang mendasari pemilihan penerima manfaat atas data yang tidak tepat, menyebabkan sangat rendahnya kualitas hasil penetapan target. LKSA tidak bisa dan enggan untuk memilih secara sistematis anak-anak yang paling membutuhkan. Kesalahan inklusi (inclusion errors) yang tinggi berkontribusi pada kenyataan bahwa PKSA tidak berhasil mengurangi jumlah anak yang memiliki masalah sosial yang cukup parah (lihat bab 4.1.7).

Memberlakukan persyaratan, memonitor kepatuhan dan mengimplementasikan strategi kelulusan untuk mereka merupakan sebuah seperangkat isu yang saling terkait yang perlu didefinisikan kembali.

Sebuah analisis tentang biaya dan manfaat mungkin bisa mengarah pada kesimpulan bahwa ketiga aktivitas itu lebih banyak kerugian daripada keuntungannya dan harus dihapuskan secara perlahan.

4.3

4. PENILAIAN EFEKTIVITAS, KINERJA IMPLEMENTASI, EFISIENSI, RELEVANSI, DAN KEBERLANJUTAN PKSA

4.3 Efisiensi – Apakah PKSA Menghasilkan Sesuatu yang Sebanding dengan