• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROFIL INSTANSI

D. Kinerja Usaha Terkini Bappeda Kota Medan

Setiap perusahaan atau instansi pemerintah tentu mempunyai visi dan misi yang harus dijalankan sesuai dengan tujuan perusahaan, butuh waktu untuk mencapai visi dan misi tersebut. Begitu juga pada Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah pada Kantor Walikota Medan, Bappeda terus berupaya agar tujuan yang telah digariskan oleh Bappeda dapat terwujud dengan sangat efesien dan efektif, tidak mudah dalam mewujudkannya karena membutuhkan kerja keras yang tinggi, disiplin, dan loyalitas dalam bekerja. Dibutuhkan juga kerja sama yang baik antar pegawai agar semua rencana kerja tecapai secara maksimal.

Untuk mendorong pencapaian hasil yang maksimal diperlukan kinerja yang yang bermutu dan tepat. Jadi, kinerja usaha terkini yang dijalankan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah adalah Menyelenggarakan Program Pembagunan Daerah Terhadap Masyarakat. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) melakukan pembinaan terhadap pegawai agar

dapat menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kualitas yang baik untuk memajukan Kota Medan. Sehingga Kota Medan dapat menjadi salah satu kota yang bisa menjadi panutan bagi kota-kota yang lain.

19 A. Pengertian Anggaran

Budget atau anggaran dalam pengertian umum diartikan sebagai suatu

rencana kerja untuk suatu periode yang akan datang yang telah dinilai dengan uang. Kata budget yang digunakan di Inggris sendiri merupakan serapan dari istilah bahasa Perancis yaitu bouge atau bougette yang berarti “tas” di pinggang yang terbuat dari kulit, yang kemudian di Inggris kata budget ini berkembang artinya menjadi tempat surat yang terbuat dari kulit, khususnya tas tersebut dipergunakan oleh Menteri Keuangan untuk menyimpan surat-surat anggaran.

Sementara di negeri Belanda, anggaran disebut begrooting, yang berasal dari bahasa Belanda kuno yakni groten yang berarti memperkirakan.

Di Indonesia sendiri, pada awal mulanya (pada jaman Hindia-Belanda) secara resmi digunakan istilah begrooting untuk menyatakan pengertian anggaran.

Namun sejak Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, istilah “Anggaran Pendapatan dan Belanja” dipakai secara resmi dalam pasal 23 ayat 1 UUD 1945, dan di dalam perkembangan selanjutnya ditambahkan kata Negara untuk melengkapinya sehingga menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Berikut ini adalah pengertian anggaran menurut para ahli, antara lain:

1. Menurut Misra (2012: SAP No.2 Pr.3), anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan pemerintah meliputi rencana pendapatan, belanja,

transfer dan pembiayaan yang diukur dalam satuan rupiah yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis selama satu periode.

2. Menuruti Setiyono (2014:114), anggaran (budget) pada intinya adalah merupakan pernyataan pemerintah tentang penggunaan uang rakyat pada masa periode tertentu, serta penjelasan bagaimana dan dari mana uang itu akan diperoleh.

3. Menurut Mardiasmo (2009) dalam Halim (2014:83), anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran financial.

4. Menurut Sujarweni (2015:28), anggaran sektor publik adalah pertanggungjawaban dari pemegang manajemen organisasi untuk memberikan informasi tentang segala aktivitas dan kegiatan organisasi kepada pihak pemilik organisasi atas pengelolaan dana publik dan pelaksanaan berupa rencana-rencana program yang dibiayai dengan uang publik.

5. Menurut Governmental Accounting Standarts Board dalam Sujarweni (2015:

28), anggaran (budget) adalah rencana operasi keuangan, yang mencakup estimasi pengeluaran yang diusulkan dan sumber pendapatan yang diharapkan untuk membiayainya dalam periode waktu tertentu.

B. Jenis-jenis Anggaran

Anggaran dapat dikelompokkan dari beberapa sudut pandang sebagai berikut:

1. Menurut dasar penyusunan anggaran terdiri dari:

a. Anggaran tetap (fixed budget) adalah angaran yang dibuat untuk satu tingkat satu kegiatan selama jangka waktu tertentu, dimana pada tingkat kegiatan tersebut direncanakan pendapatan dan biaya. Anggaran ini tidak memungkinkan adanya penyesuaian oleh karena sudah tetap.

b. Anggaran variable (flexible budget) adalah anggaran yang dibuat berdasarkan pada tingkat kegiatan. Prinsip dari anggaran ini adalah bahwa untuk setiap tingkat kegiatan harus terdapat norma-norma untuk kegiatan yang dikeluarkan.

Norma-norma ini merupakan patokan dari pengeluaran-pengeluaran yang seharusnya pada masing-masing tingkat kegiatan tersebut. Penyusunan anggaran ini dilakukan dengan memperhatikan biaya tetap dan biaya variabel.

2. Menurut cara penyusunan, anggaran terdiri dari:

a. Anggaran periodik, yaitu anggaran yang disusun untuk satu periode tertentu, umumnya satu tahun yang disusun setiap akhir periode anggaran.

b. Anggaran kontiniu, yaitu anggaran yang dibuat untuk memperbaiki anggaran yang telah dibuat.

3. Menurut jangka waktu, anggaran terdiri dari:

a. Anggaran jangka pendek (anggaran taktis), yaitu anggaran yang dibuat dengan jangka waktu paling lama satu tahun. Anggaran ini untuk keperluan modal kerja merupakan anggaran jangka pendek.

b. Anggaran jangka panjang (anggaran strategis), yaitu anggaran yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Anggaran untuk keperluan investasi barang modal (capital budget). Anggaran jangka panjang tidak harus berupa

anggaran modal. Anggaran jangka panjang diperlukan sebagai dasar penyusunan anggaran jangka pendek.

4. Menurut bidangnya, anggaran terdiri dari:

a. Anggaran biaya operasional, adalah anggaran untuk menyusun anggaran laporan laba rugi. Anggaran ini terdiri dari: anggaran penjualan, anggaran biaya pabrik, anggaran beban usaha.

b. Anggaran keuangan, adalah anggaran untuk menyusun anggaran neraca.

Anggaran keuangan terdiri dari: anggaran kas, anggaran piutang, anggaran persediaan, anggaran utang, anggaran neraca.

5. Menurut kemampuan didalam penyusunan anggaran, terdiri dari:

a. Anggaran komprehensif, merupakan rangkaian dari berbagai macam anggaran yang disusun secara lengkap. Anggaran komprehensif perpaduan dari anggaran operasional dan anggara keuangan yang disusun secara lengkap.

b. Anggaran parsial, merupakan anggaran yang disusun secara tidak lengkap.

Anggaran yang hanya menyusun bagi anggaran tertentu saja. Misalnya karena keterbatasan kemampuan, maka yang dapat disusun hanya anggaran operasional.

6. Menurut fungsinya, anggaran terdiri dari:

a. Anggaran appropriasi (appropritation budget), adalah anggaran yang dibentuk untuk tujuan tertentu dan tidak boleh digunakan untuk tujuan lain.

b. Anggaran kinerja (performance budget), adalah anggaran yang disusun berdasarkan fungsi kegiatan yang dilakukan dalam organisasi/perusahaan

misalnya, nilai untuk menilai apakah biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing aktivitas tidak melampaui batas.

C. Fungsi Anggaran

Anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama yaitu sebagai:

1. Alat Perencanaan

Anggaran merupakan alat pengendalian manajemen dalam rangka mencapai tujuan. Anggaran sektor publik digunakan untuk merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh organisasi sektor publik beserta rincian biaya yang dibutuhkan dan rencana sumber pendapatan yang akan diperoleh organisasi sektor publik.

2. Alat Pengendalian

Anggaran berisi rencana detail atas pendapatan dan pengeluaran organisasi sektor publik, dimaksudkan dengan adanya anggaran, semua bentuk pengeluaran dan pemasukan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

3. Alat Kebijakan Fiskal

Dengan menggunakan anggaran dapat diketahui bagaimana kebijaksanaan fiskal yang akan dijalankan organisasi sektor publik, dengan demikian akan mudah untuk memprediksi dan mengestimasi ekonomi dan organisasi.

4. Alat Politik

Anggaran dapat digunakan sebagai alat politik yaitu bentuk dokumen politik yang dapat dijadikan komitmen kesepakatan eksekutif dan legislatif atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu.

5. Alat Koordinasi dan Komunikasi

Dalam menyusun anggaran dilakukan komunikasi dan koordinasi antar unit kerja. Dalam perencanaan dan pelaksanaan anggaran harus dikomunikasikan ke seluruh bagian organisasi.

6. Alat Penilaian Kinerja

Perencanaan anggaran dan pelaksanaannya akan menjadi penilaian kinerja manajemen organisasi publik. Kinerja manajemen dan pimpinan akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran serta pelaksanaan efisiensi anggaran.

Anggaran merupakan alat yang efektif untuk melakukan pengendalian dan penilaian kinerja.

7. Alat Motivasi

Anggaran dapat digunakan untuk memberi motivasi bagi pimpinan dan karyawan dalam bekerja secara efektif dan efisien. Dengan membuat anggaran yang tepat dan dapat melaksanakannya sesuai dengan target dan tujuan organisasi, maka manajemen dikatakan mempunyai kinerja yang baik.

8. Alat Menciptakan Ruang Publik

Anggaran publik dapat digunakan sebagai alat untuk menciptakan ruang publik, dimana keberadaan anggaran tidak boleh diabaikan oleh berbagai organisasi sektor publik seperti kabinet, birokrat dan DPR/MPR, maupun masyarakat, LSM, perguruan tinggi dan berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya. Beberapa pihak tersebut terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam penganggaran publik.

D. Model-model Anggaran (budgeting)

Secara umum, pada saat ini kita mengenal adanya empat model budgeting yang dikembangkan oleh berbagai negara, yakni:

1. Model Tradisional (incremental budgeting)

Model ini dikenal juga dengan istilah line-item atau input budget model. Proses yang ada dalam model ini sangat sederhana, yakni hanya dengan memasukkan input anggaran dalam administrasi yang jumlahnya berubah dari alokasi tahun lalu.

2. Planning Programming Budgeting (PPB)

Model ini yang dikenal juga dengan sebutan program budgeting (PB), merupakan sistem pengelolaan anggaran yang dibuat pertama kali oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1961 dan kemudian dikembangkan secara lebih luas menjadi Program Planning and Budgeting System (PPBS) pada masa presiden Johnson pada tahun 1965. Pada intinya model ini memformulasikan agar pengeluaran (expenditure) diekspresikan berdasarkan pada kegiatan (program), berbeda dengan model tradisional yang penentuan pengeluaran ditentukan berdasarkan pada item. Di bawah konsep ini, aktivitas pemerintah dibagi dalam kegiatan-kegiatan. Penyesuaian dilakukan dengan menyelaraskan program tertentu dengan prioritas pemerintah pada saat itu. Sistem pelaporan anggaran tidak lagi berdasarkan penggunaan per item (gaji pegawai, peralatan dan sebagainya), melainkan berdasarkan pada program yang telah ditentukan untuk didanai.

3. Zero Based Budgeting (ZBB)

Konsep ini dikembangkan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat pada tahun 1962, lalu pada masa pemerintahan Jimmy Carter dijadikan kebijakan nasional pada tahun 1977. Ide dasar dari model ini adalah tidak adanya asumsi bahwa anggaran dimasa datang memiliki kaitan dengan anggaran di masa lalu. Pada setiap tahun, kalkulasi anggaran selalu dilakukan dari nol (budget calculation from zero point) dan pagu anggaran data selalu berubah dari tahun ke tahun secara

ekstrem.

4. Output Based Budgeting (OBB)

Secara umum, teknis dasar model OBB adalah sama dengan model Program Budgeting (PB). Bedanya adalah apabila PB menekankan pada perencanaan dan

analisis terhadap program, OBB lebih menekankan pada apa yang organisasi lakukan dan hasilkan, dan bagaimana hasil itu berkontribusi bagi pencapaian kesejahteraan publik atau pencapaian tujuan visi negara.

E. Alokasi Anggaran Pembangunan pada Bidang Ekonomi Bappeda Kota Medan.

1. Badan Pengelolaan Keuangan Daerah

Kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerah meliputi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah berdasarkan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Beberapa peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan pengelolaan keuangan daerah, antara lain: (i) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang

Keuangan Negara, (ii) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, (iii) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, dan (iv) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang secara teknis mengacu kepada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang telah dirubah terakhir kali dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Sumber-sumber keuangan yang menjadi penerimaan pemerintah daerah yang terdiri atas pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah, diatur dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Penerimaan pemerintah daerah tersebut merupakan sumber pendapatan yang sangat diperlukan guna terselenggaranya pemerintahan, pembangunan masyarakat dan pelayanan publik.

a. Pendapatan Asli Daerah

Secara keseluruhan anggaran pendapatan asli daerah selama periode tahun anggaran 2010-2014 dapat direalisasikan sebesar 81.77 persen. Peningkatan anggaran dan realisasi pendapatan asli daerah ini merupakan outcome dari rencana strategis yang diambil dan diimplementasikan oleh Pemerintah Kota Medan dari tahun anggaran 2010 sampai tahun anggaran 2014 yang sangat membutuhkan dukungan pembiayaan yang besar guna dapat menjalankan roda

pemerintahan, serta meningkatkan kemandirian keuangan daerah, meningkatkan kinerja pertanyaan publik guna mewujudkan visi dan misi pembangunan kota.

Sumber pendapatan asli daerah yang dikelola oleh pemerintah Kota Medan yang berasal dari : 1) Pajak Daerah; 2) Retribusi Daerah; 3) Bagian Laba BUMD; dan 4) Lain-lain PAD yang sah.

b. Dana Perimbangan

Dana perimbangan yaitu dana yang bersumber dari dana penerimaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah. Dana Perimbangan/Pendapatan Transfer merupakan penerimaan daerah sesuai dengan undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Dana perimbangan ini terdiri atas: 1) Bagi Hasil Pajak, 2) Bagi Hasil Bukan Pajak/SDA; 3) Dana Alokasi Umum; 4) Dana Alokasi Khusus.

c. Lain-lain Pendapatan Yang Sah

Lain-lain pendapatan daerah yang sah merupakan kelompok pendapatan ketiga yang membentuk struktur pendapatan dalam APBD Tahun Anggaran 2010-2015. Pendapatan daerah dari lain-lain pendapatan daerah yang sah bersumber dari 1) Bagi Hasil Pajak; 2) Bagi Hasil Retribusi; 3) Dana Penyesuaian dan Bantuan Otonomi Khusus; 4) Bantuan Keuangan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Pendapatan bagi hasil pajak dalam bentuk bagi hasil PKB, BBN-KB, PBB-BBN-KB, ABT, APU dan Pajak Kendaraan Diatas Air.

Tabel 3.1.

Perbandingan Anggaran dan Realisasi Pendapatan Daerah Pemerintah Kota Medan Periode Tahun Anggaran 2010-2014

2010 548,479,109,229.00 - 588,941,453,691.54 - 107.38

2011 1,110,469,593,763.00 102.46 995,072,572,141.34 68.96 89.18

2012 1,594,454,835,916.45 43.58 1,147,901,461,607.38 15.36 71.99

2013 1,578,247,819,724.32 -1.02 1,206,169,709,147.73 5.08 76.42

2014 1,678,116,623,125.00 6.33 1,385,251,490,002.62 14.85 82.55

JUMLAH 8,189,005,144,558.77 - 5,323,336,686,590.61 - 65.01

2 Dana Perimbangan

2010 1,253,196,004,400.00 - 1,287,769,042,167.00 - 102.76

2011 1,414,557,874,786.00 12.88 1,422,441,737,194.00 10.46 100.56

2012 1,400,538,492,223.00 -0.99 1,417,185,769,192.00 -0,37 101.19

2013 1,538,855,917,643.00 9.88 1,506,316,349,586.00 6.29 97.89

2014 1,691,495,158,660.00 9.92 1,598,113,512,931.00 6.09 94.48

JUMLAH 9,135,358,716,797.00 - 7,231,829,411,070.00 - 79.16

3 Lain-lain Pendapatan Yang Sah

2010 299,956,051,000.00 - 193,123,399,944.00 - 64.38

2011 558,112,822,074.00 86.06 329,844,725,086.00 70.79 59.10

2012 1,039,128,005,721.00 86.19 433,116,681,676.00 31.31 41.68

2013 989,769,725,010.00 - 4.75 563,858,226,426.00 30.19 56.97

2014 1,190,800,747,758.87 20.31 1,059,756,200,571.00 87.95 89.00

JUMLAH 5,244,912,034,956.87 - 2,579,699,233,703.00 - 49.18

4 Total Pendapatan Daerah

2010 2,101,631,146,629.00 - 2,069,833,895,802.54 - 98.49

2011 3,083,140,290,623.00 46.70 2,747,359,034,421.34 32.73 89.11

2012 4,034,121,333,860.45 30.84 2,998,203,912,475.38 9.13 74.32

2013 4,106,900,462,377.32 1.80 3,276,344,285,159.73 9.28 79.78

2014 4,560,412,529,543.87 11.04 4,043,121,203,504.62 23.40 88.66

JUMLAH 22,569,275,896,312.60 15,134,862,331,363.60 67.06

Sumber: Badan Pengelola Keuangan Daerah Kota Medan Tahun Anggaran 2010 – 2014, 2016 (Data Diolah)

Berdasarkan Tabel 3.1, diketahui capaian realisasi pendapatan daerah Kota Medan selama kurun waktu 2010-2014 relatif cukup tinggi yakni sebesar 98,49 persen pada tahun anggaran 2010, sebesar 98,11 persen pada tahun anggaran 2011, sebesar 74,32 persen pada tahun anggaran 2012, sebesar 79,78 persen pada tahun anggaran 2013 dan menjadi 88,66 persen pada tahun anggaran 2014 mampu melebihi target RPJMD. Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya terjadi pertumbuhan di sektor perekonomian daerah yang ditandai dengan semakin meningkatnya pembelanjaan dalam penyelengaraan pemerintah, pembangunan dan pelayanan masyarakat.

2. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BBPT)

Secara umum kegiatan peningkatan pelayanan perizinan selama tahun 2011-2014 berjalan relatif semakin optimal yang didukung oleh adanya penyusunan pengembangan sistem informasi perizinan berupa tersedianya tenaga ahli analis sistem, tenaga ahli jaringan dan tenaga ahli program menghasilkan tetap berjalannya proses perizinan dengan menggunakan informasi teknologi secara baik dan tepat waktu sesuai SOP, tersosialisasi peraturan dan perundangan tentang perizinan melalui berbagai pameran di berbagai event dan penyediaan spanduk dan cetakan brosur izin tentang pelayanan perizinan yang ada di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Medan serta terlaksananya surveliance audit tahunan dan maintance ISO 9001: 2008 serta survey IKM.

Tabel 3.2

Rekapitulasi Retribusi Perizinan Bppt Tahun 2010-2014 Kota Medan

No Tahun

Retribusi Perizinan Tingkat

Capaian

Target Realisasi %

1 2010 0 1,465,497,760 -

2 2011 14,136,326,546 12,799,475,265 90.54

3 2012 15,598,890,500 16,363,576,104 104.90

4 2013 15,258,500,000 16,112,414,654 105.60

5 2014 15,258,500,000 16,343,148,811 107.11

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Medan, 2016 (Data Diolah)

Berdasarkan Tabel 3.2, diketahui capaian realisasi retribusi perizinan Kota Medan selama kurun waktu 2011-2015 sangat tinggi yakni sebesar 90,54 persen pada tahun anggaran 2011, sebesar 104,90 persen pada tahun anggaran 2012, sebesar 105,60 persen pada tahun anggaran 2013 dan menjadi sebesar 107,11 persen pada tahun anggaran 2014 mampu melebihi target. Hal ini membuktikan bahwa capaian kinerja penyelenggaraan program dan kegiatan secara umum capaian kinerja Pemerintah Kota Medan bidang perizinan terpadu sebagaimana diuraikan di atas dapat dinyatakan sangat baik karena capaian realisasi lebih tinggi dibandingkan target capaian.

Tabel 3.3

Jumlah Izin Yang Dikeluarkan Kota Medan dari Tahun 2011-2015 No Jenis-Jenis Yang Dikelola Bbpt Kota

Medan

Jumlah Ijin Yang Dikeluarkan (Tahun)

2011 2012 2013 2014 2015 1 Ijin Gangguan Bukan Perusahaan Industri 4834 7448 7725 7143 7308 2 Ijin Gangguan Perusahaan Industri 330 687 982 1070 1094

3 Ijin Usaha Perdagangan 5488 7637 7183 6534 5055

4 Ijin Usaha Industri (IUI) khusus Perusahaan Industri Kecil dan Menengah

358 641 508 434 325

5 Tanda Daftar Perusahaan 4717 6529 6242 5896 6086

6 Ijin Usaha Jasa Konstruksi 833 855 749 808 1042

7 Ijin Pengelolaan, Pengeboran, Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah

57 87 73 66 80

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Medan, 2016 (Data Diolah)

Berdasarkan Tabel 3.3, diketahui jumlah izin yang dikeluarkan Kota Medan setiap tahun mengalami peningkatan yang berarti bahwa jumlah pendapatan semakin meningkat.

3. Dinas Pertanian dan Kelautan

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pertanian dan Kelautan yaitu: (i) UU No.1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil; (ii) UU No.45 Tahun 2009 Tentang Perubahan atas UU No 31 Tahun 2004; (iii) UU No.31 Tahun 2004 Tentang Perikanan dan (iv) UU No.27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Tabel 3.4

Perbandingan Anggaran dan Realisasi pada Dinas Pertanian dan Kelautan Tahun 2010-2014 Kota Medan

Dinas/Badan T.A Anggaran Realisasi

Tingkat

2011 3,936,250,000 3,936,250,000 100

2012 5,956,000,000 5,817,356,500 97.61

2013 3,678,880,000 3,448,984,750 93.75

2014 1,152,625,000 642,771,700 55.76

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Medan, 2016 (Data Diolah)

Berdasarkan Tabel 3.4, diketahui bahwa kinerja dinas pertanian dan kelautan Kota Medan semakin tahun mengalami penurunan. Pada tahun 2011 sumber dana yang digunakan berasal dari APBN dengan jumlah anggaran yang digunakan sebesar Rp. 3.936.250.000,- dan sampai dengan 31 Desember 2011 telah terealisasi sebesar Rp. 3.936.250.000,- (100.00 %); pada tahun 2012 sumber dana dari APBN Murni Kementrian Pertanian RI dengan jumlah anggaran sebesar

Rp. 1.456.000.000,- dan sumber Dana APBN Murni Kementrian Kelautan dan Perikanan RI dengan jumlah anggaran sebesar Rp. 4.500.000.000,- dan sampai dengan 31 Desember 2012 telah terealisasi sebesar Rp. 5.817.356.500,- (97,61%);

pada tahun 2013 sumber Dana dari APBN Murni Kementerian Pertanian RI dengan jumlah anggaran sebesar Rp. 3.678.880.000,- dan sampai dengan 31 Desember 2013 telah terealisasi sebesar Rp. 3.448.984.750,- (93,75%); pada tahun 2014 sumber dana APBN Murni Kementerian Pertanian RI dengan jumlah anggaran sebesar Rp. 1.152.625.000,- dan sampai dengan 31 Desember 2014 telah terealisasi sebesar Rp. 642.771.700,- (55,76%).

Penyelenggaraan program dan kegiatan urusan pertanian dan kelautan selama periode Tahun 2011-2014 sebagai berikut:

a. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Selama Tahun 2011-2014 program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh pembinaan petani dan pelaku hasil olahan (off farm), pelaksanaan diversifikasi usaha nelayan ke usaha, penyusunan rencana pengembangan investasi jangka menengah perikanan kelautan dan penyusunan zoonasi wilayah pesisir.

b. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani

Secara umum kegiatan peningkatan kesejahteraan petani Selama Tahun 2011-2014 berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh terlaksananya penyuluhan dan pendampingan petani dan pelaku agribisnis dan penyuluhan dan bimbingan kader PKK di Kel. PT.P2WKSSS (pelatihan, pemberian tanaman dan ikan), tanaman hias, sayuran, toga dan tanaman buah-buahan.

c. Program Peningkatan Ketahanan Pangan

Selama Tahun 2011-2014 kegiatan peningkatan ketahanan pangan berjalan dengan relatif semakin optimal, yang didukung oleh tersedianya hand tractor guna penanganan pasca panen dan pengolahan hasil pertanian, terlaksananya pembinaan tentang bahan asal hewan (BAH) dingin/beku guna peningkatan mutu dan keamanan pangan dan pengawasan antemortem-post mortem terhadap pemotongan hewan di RPH (PD RPH) guna pengawasan RPH/RPU/TPU/TPA dan laboratorium kesmavet, pengawasan lalu lintas/produksi/ peredaran penyimpanan pangan asal hewan.

d. Program Peningkatan Kesadaran dan Penegakan Hukum dalam Pendayagunaan Sumber Daya Laut

Kegiatan peningkatan dan penegakan hukum dalam pendayagunaan sumber daya laut selama Tahun 2011-2014 berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh terlaksananya operasional kapal pengawasan dan pemeliharaan kapal pengawas, operasional perawatan kapal latih dan operasional petugas pengawas koordinasi lintas sektoral dalam pengawasan sumber daya kelautan, operasional rutin pengawasan kapal penangkap ikan, pengawasan konservasi mangrove dan pelatihan PPNS sumber daya kelautan.

e. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/ Perkebunan

Selama Tahun 2011-2014 kegiatan peningkatan hasil produksi pertanian/perkebunan dapat berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh terlaksananya pekan/bursa hasil produksi pertanian unggulan daerah

dalam rangka meningkatkan pemasaran produk pertanian, pertenakan dan perikanan.

f. Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan

Usaha peningkatan produksi pertanian/perkebunan selama Tahun 2011-2014 berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh terlaksananya gerakan perempuan tanam pohon produktif dan tebar benih ikan lele dan nila, tersedianya sarana produksi pertanian (dalam bentuk bibit), pengembangan usaha pertanian perkotaan dan demplot terpadu pengembangan pertanian, peternakan dan perikanan, pengembangan budidaya jamur.

g. Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/Perkebunan Lapangan

Selama Tahun 2011-2014 program pemberdayaan penyuluh pertanian/perkebunan lapangan dapat berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh terlaksananya pelatihan PPL dan pertemuan Gapoktan di 2 BPP Wil. Utara dan Selatan dan biaya operasional bagi penyuluh pertanian tenaga honor/tenaga bantu.

h. Program Pengembangan Budidaya Perikanan

Usaha pengembangan budidaya perikanan selama Tahun 2011-2014 berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh terlaksananya berbagai kegiatan seperti penyediaan bahan (benih ikan kakap, udang, benur bandeng, pakan pembesaran ikan dan benih ikan), sarana produksi di UPTD BBI (artemia, cacing sutra, hormon gonadotropin, metilen blue, garam kristal, pelet benih, pelet calon induk, pelet induk dan obat-obatan), distribusi dan pengawasan benih unggul, sarana pengembangan produksi pakan buatan (tepung ikan,

tepung kedelai, tepung jagung, minyak sawit, vitamin C, binder, pupuk kandang dan probiotik untuk memproduksi pakan buatan, penanaman mangrove di kawasan tambak, benur udang windu, benih ikan bandeng, pakan pelet udang, pakan bandeng seluas, rehab kolam induk dan pembenihan, rehabilitasi mangrove di kawasan perikanan budidaya dengan penanaman pohon bakau, pengembangan budidaya tambak polykultur mendukung kawasan industrialisasi perikanan, pembangunan pagar keliling BBI, pembinaan dan pendampingan kewirausahaan perikanan budidaya pemula, pengembangan kawasan budidaya air payau, diseminasi sistem teknologi budidaya ikan hias, kaji traf pengembangan hybridisasi ikan hias cupang, sosialisasi CBIB bagi kelompok pembudidaya dan pembangunan reservoir dan pompa utama, penyusunan DED rehabilitasi saluran tambak.

i. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak

Selama Tahun 2011-2014 usaha pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak dapat berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh terlaksananya berbagai kegiatan seperti penyediaan bahan keperluan kegiatan depopulasi/ sterilisasi HPR, (perlengkapan dan peralatan depopulasi/sterilisasi

Selama Tahun 2011-2014 usaha pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak dapat berjalan relatif semakin optimal, yang didukung oleh terlaksananya berbagai kegiatan seperti penyediaan bahan keperluan kegiatan depopulasi/ sterilisasi HPR, (perlengkapan dan peralatan depopulasi/sterilisasi

Dokumen terkait