BAB II. PROFIL INSTANSI/LEMBAGA
2.7 Kinerja Usaha Terkini
Kinerja usaha merupakan tolak ukur dalam menilai suatu perusahaan baik atau tidak. Kinerja usaha dapat dilihat dari banyak faktor dan tergantung dari sudut pandang pihak yang melakukan penilaian. Sesuai dengan kondisi perekonomian
masyarakat dan sasaran penyaluran kredit yang akan dicapai sampai dengan akhir Desember 2017, PT. Bank Perkreditan Rakyat Dana Ganda memproyeksi atau merencanakan kredit yang disalurkan setelah konsolidasi sebesar Rp 24.766.405,- ribu dengan jumlah rekening sebanyak 1.598 rekening. Pada kantor pusat jumlah penyaluran kredit sebesar Rp8.013.127,- dengan jumlah rekening 628 rekening.
Dengan rencana kredit menurut sektor ekonomi terdiri dari:
1) Sektor pertanian
Untuk kredit perorangan sebesar Rp 2.381.501,- ribu dengan jumlah rekening sebanyak 130 rekening.
2) Sektor industri
Untuk kredit perorangan sebesar Rp 140.230,- ribu dengan jumlah rekening sebanyak 12 rekening.
3) Sektor perdagangan
Untuk kredit perorangan sebesar Rp 2.476.858,- ribu dengan jumlah rekening sebanyak 211 rekening.
4) Sektor jasa
Untuk kredit perorangan sebesar Rp 974.396,- ribu dengan jumlah rekening sebanyak 93 rekening.
5) Sektor konsumsi
Untuk kredit perorangan sebesar Rp 2.040.142,- ribu dengan jumlah rekening sebanyak 182 rekening.
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Risiko Dalam Perusahaan 3.1.1 Pengertian Risiko
Menurut Soekarto (2009:121) risiko dapat diartikan sebagai (1) variabilitas pada pendapatan masa depan, (2) kemungkinan terjadinya kerugian (3) kemungkinan dari penyimpangan yang merugikan dari hasil yang diinginkan atau diharapkan, (4) variasi dalam hasil yang mungkin yang ada dalam situasi yang ditentukan.
Risiko adalah suatu kemungkinan terjadinya peristiwa yang menyimpang dari apa yang diharapkan (Kasidi: 2010:5). Tetapi, penyimpangan ini baru akan nampak bilamana sudah terbentuk suatu kerugian. Jika tidak ada kemungkinan kerugian, maka hal ini berarti tidak ada risiko. Jadi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya suatu kerugian adalah penting dalam analisis risiko. Dua faktor yang bekerja sama menimbulkan kerugian adalah bencana (perils) dan bahaya (hazards).
3.1.2 Sumber Risiko
Sumber risiko dapat diklasifikasikan menjadi: risiko sosial; risiko fisik; dan risiko ekonomi.
1. Risiko sosial
Sumber utama risiko adalah masyarakat. Artinya, tindakan orang-orang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan merugikan. Misalnya pencurian, hura-hura, peperangan dan sebagainya.
2. Risiko Fisik
Ada banyak sumber risiko fisik, sebagian merupakan fenomena alam dan sebagian karena tingkah laku manusia.
3. Risiko Ekonomi
Banyak risiko yang dihadapi perusahaan itu bersifat ekonomi, misalnya: inflasi, resesi, fluktuasi harga dan lain-lain. Selama periode inflasi daya beli uang merosot.
Para pensiunan dan mereka yang berpenghasilan tetap, tidak mungkin lagi dapat mempertahankan tingkat hidup sebagaimana bisa.
3.1.3 Risiko yang Terdapat pada PT BPR Dana Ganda Tanjung Morawa
Seperti halnya pada bank umum dalam usahanya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit menurut Ikatan Bankir Indonesia (IBI) memiliki 8 resiko inheren (IBI 2013:238), maka usaha BPR pun tidak jauh berbeda dari risiko yang melekat pada usaha bank umum karena kegiatannya pada umumnya hampir sama dengan demikian risiko yang melekat pada kegiatan usaha BPR pun sama dengan risiko usaha pada bank umum.
Risiko tersebut ialah:
1) Risiko Kredit adalah resiko akibat kegagalan debitur dan pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank.
2) Risiko Pasar adalah risiko pada neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derifatif akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar dan risiko perubahan harga option.
3) Risiko Operasional adalah risiko akibat tidak kecukupan dan tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem dan adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank.
4) Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan dari aset likuid yang berkualitas tinggi yang dapat diagunankan tanpa menggagu aktivitas dan kondisi keuangan bank.
5) Risiko Kepatuhan adalah risiko akibat tidak memahami dan tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.
6) Risiko Hukum adalah risiko akibat tuntutan hukum dan kelemahan aspek yuridis.
7) Risiko Stratejik adalah risiko akibat ketidakpastian dalam pengambilan dan pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.
Semua resiko tersebut dapat menentukan kelangsungan usaha sebuah bank. Bila salah satu saja resiko itu menimpa sebuah bank maka akan sangat berpengaruh terhadap usaha bank tersebut dan mungkin akan menyebabkan kebangkrutan usaha atau sekaligus dapat menutup usaha karena ditinggal oleh nasabah dan stakeholder lain ingat bahwa landasan utama usaha bank adalah kepercayaan stakeholder maka segala risiko diatas akan berkaitan dengan kepercayaan tadi.
3.2 Penerapan Manajemen Risiko Dalam Perusahaan 3.2.1 Pengertian Manajemen Resiko
Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses (Idroes, 2011: 5). Manajemen risiko tidak saja diperlukan untuk dipelajari dalam
mengelola risiko-risiko yang dihadapi badan usaha atau perusahaan, tetapi juga dipelajari untuk mengelola kehidupan semesta ini. Itulah pentingnya bagi setiap orang untuk mempelajari manajemen risiko. Bagi badan usaha atau perusahaan agar usahanya tidak terganggu akibat terjadinya suatu kejadian yang mungkin dapat menimbulkan kerugian cukup besar. (Kasidi, 2010: 8-9)
Program manajemen risiko dengan demikian mencakup tugas-tugas:
1. mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi;
2. mengukur atau menentukan besarnya risiko tersebut;
3. mencari jalan untuk menghadapi atau menanggulangi risiko;
4. menyusun strategi untuk memperkecil ataupun mengendalikan risiko;
5. mengkoordinir pelaksanan penanggulangan risiko serta mengevaluasi program penanggulangan risiko yang telah dibuat.
Jadi, manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur atau metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum.
Dalam perkembangannya risiko-risiko yang dibahas dalam manajemen risiko dapat diklasifikasi menjadi:
1. Risiko Operasional 2. Risiko Hazard 3. Risiko Finansial 4. Risiko Strategik
Proses manajemen risiko dimulai dari identifikasi risiko untuk mengetahui jenis risiko yang berpotensi terjadi pada aktivitas bank, dilanjutkan dengan pengukuran risiko untuk mengetahui besar risiko yang dihadapi. Kemudian, bank melakukan penilaian kualitas kontrol terhadap risiko yang ada. Apabila dipandang perlu, bank melakukan peningkatan kualitas kontrol dalam bentuk proses mitigasi risiko.
Selanjutnya, bank melakukan monitoring dan pelaporan atas upaya pengendalian risiko. (IBI, 2015)
Suatu risiko yang terjadi dapat berasal dari risiko lainnya, dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Risiko rendahnya kinerja suatu instansi berasal dari risiko rendahnya mutu pelayanan kepada publik. Risiko terakhir disebabkan oleh faktor-faktor sumber daya manusia yang dimiliki organisasi dan operasional seperti keterbatasan fasilitas kantor. Risiko yang terjadi akan berdampak pada tidak tercapainya misi dan tujuan dari instansi tersebut, dan timbulnya ketidakpercayaan dari publik.
Risiko diyakini tidak dapat dihindari. Berkenaan dengan sektor publik yang menuntut transparansi dan peningkatan kinerja dengan dana yang terbatas, risiko yang dihadapi instansi Pemerintah akan semakin bertambah dan meningkat. Oleh karenanya, pemahaman terhadap risiko menjadi keniscayaan untuk dapat
menentukan prioritas strategi dan program dalam pencapaian tujuan organisasi.
Risiko dapat dikurangi dan bahkan dihilangkan melalui manajemen risiko. Peran dari manajemen risiko diharapkan dapat mengantisipasi lingkungan cepat berubah, mengembangkan corporate governance, mengoptimalkan penyusunan strategic management, mengamankan sumber daya dan asset yang dimiliki organisasi, dan
mengurangi reactive decision making dari manajemen puncak.
3.2.2 Manfaat Manajemen Resiko
Menurut Idroes (2011: 5-6) Manajemen risiko dibutuhkan untuk:
a) Mendukung pencapaian tujuan
b) Memungkinkan untuk melakukan aktivitas yang memberikan peluang yang jauh lebih tinggi dengan mengambil risiko yang lebih tinggi; risiko yang lebih tinggi diambil dengan dukungan sikap dan solusi yang sesuai terhadap risiko.
c) Mengurangi kemungkinan kesalahan fatal.
d) Menyadari bahwa risiko dapat terjadi pada setiap aktivitas dan tingkatan dalam organisasi sehingga setriap individu harus mengambil dan mengelola risiko masing-masing sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya.
3.2.3 Manajemen Risiko yang Efektif
Menurut Idroes (2011: 6-7) Manajemen risiko yang efektif membantu suatu organisasi untuk dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Strategi risiko dan kontrol secara komprehensif berdasarkan pertimbangan yang terkait pada:
1) Toleransi terhadap risiko, yaitu kejelasan tentang berapa besar risiko yang bersedia tanggung dan risiko apa yang harus dihindari;
2) Filosofi terhadap risiko, yaitu menentukan cara pandang atau sikap dan tindakan terhadap risiko;
3) Akuntabilitas risiko, yaitu kemampuan dalam penanganan risiko.
b. Disiplin manajemen risiko pada seluruh entitas organiasi yang mencakup:
1) Kesatuan bahasa dalam mengartikan risiko, yaitu penyatuan bahasa apakah risiko sebagai bahaya atau risiko sebagai peluang;
2) Pengetahuan manajemen risiko yang melekat pada setiap individu dalam organisasi.
c. Integrasi manajemen risiko di dalam kerangka kerja tata kelola perusahaan (corporate governance).
d. Strategi penyesuaian risiko (risk-adjusted) pada saat pengambilan keputusan.
e. Kemampuan manajemen senior untuk memahami dampak risiko terhadap:
1) Keuntungan 2) Nilai saham
f. Peningkatan identifikasi portofolio dan rencana aksi (action plan).
g. Memahami proses bisnis kunci.
h. Sistem peringatan dini dan respons bencana yang efektif.
i. Peningkatan keamanan informasi.
3.2.4 Peran Manajemen Risiko dalam Pencapaian Nilai Perusahaan
Strategi operasional perusahaan bank dapat dilihat dari upaya mencapai keseimbangan antara:
a. Pertumbuhan bisnis dan meningkatkan pangsa kredit dan dana
b. Meningkatkan efisiensi dan operasional
c. Menjaga tingkat kebutuhan operasional perbankan d. Implementasi risk management yang berorientasi bisnis
Efisiensi menyangkut upaya menurunkan biaya operasional. Dalam menjalankan usaha, bank memerlukan berbagai biaya, antara lain biaya bunga dan biaya overhead. Biaya bunga yang dibayarkan bank kepada para nasabah atau kreditur
sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang dapat dikendalikan oleh bank.
Berdasarkan hal itu maka bank harus menggali berbagai alternatif untuk mengendalikan atau meningkatkan efisiensi kerja agar bank dapat beroperasi secara efisien dan dapat meningkatkan daya saing pasar.
3.2.5 Hubungan Manajemen Risiko Dengan Fungsi-fungsi Lain Pada Perusahaan
Pengelolaan risiko usaha berkaitan dengan fungsi-fungsi perusahaannya, yaitu:
akunting, keuangan, marketing, personalia, engineering dan maintenance. Bagian-bagian itu, ada yang menciptakan risiko dan ada yang mnejalankan seBagian-bagian fungsi manajemen resiko.
1. Hubungan dengan Fungsi Akunting
Bagian akunting menjalankan kegiatan manajemen risiko yang penting, yaitu sebagai berikut.
1. Mengurangi kesempatan pegawai melakukan penggelapan dengan cara internal control dan internal audit.
2. Melalui rekening asset, bagian akunting mengidentifikasikan dan mengukur exposure kerugian terhadap harta.
3. Melalui penilaian rekening, seperti rekening piutang, bagian akunting mengukur resiko piutang dan mengalokasikan cadangan dana exposure kerugian piutang. Bagian akunting juga dapat menciptakan risiko seperti risiko pemakaian komputer, risiko tanggung gugat, karena kemungkinan terjadi kesalahan dalam penyajian informasi dalam laporan keuangan.
2. Hubungan dengan Fungsi Keuangan
Bagian keuangan melakukan banyak penetapan yang mempengaruhi manajemen resiko. Manajer resiko biasanya adalah bawahan manajer keuangan, bagian keuangan menganalisis pengaruh turunnya profit dan cash flow. Karena menurunnya laba dapat menghambat tujuan perusahaan, maka kegiatan tersebut pun tercantum dalam program manajemen resiko. Dalam hal perusahaan akan melakukan pembelian asset, maka manajer keuangan sudah seharusnya mempertimbangkan risiko murni yang mugnkin timbul karena tindakan itu.
Demikian juga jika perusahaan akan meminjam uang dengan menggunakan harta perusahaan sebagai jaminan, bisanya pemberi pinjaman menuntut agar harta jaminan itu di asuransikan, sehingga akan melibatkan manjaer risiko.
3. Hubungan dengan Marketing
Kegiatan marketing dapat menciptakan risiko, terutama risiko tanggung gugat.
Misalnya, tuntutan dari pihak luar karena menggunakan packaging yang tidak memenuhi syarat. Manajer marketing pada keadaan tertentu mungkin harus meminta pertimbangan manajer risiko sebelum menandatangani suatu perjanjian, karena pihak lain mungkin ingin memindahkan risiko, sedangkan pihak manajer marketing belum menyadarinya. Oleh karena itu, perlu kerja sama yang baik antara manajer marketing dengan manajer risiko.
4. Hubungan dengan Engineering dan Maintenance
Bagian ini bertanggung jawab atas desain pabrik, pemeliharaan, serta melaksanankan fungsi perawatan untuk mencegah dan mengurangi tingkah kerugian jika terjadi suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian. Misalnya, merencanakan layout yang efisien, merencanakan bangunan yang tahan gempa atau api, merencanakan sistem perawatan yang memadai dan sebagainya.
5. Hubungan dengan Bagian Personalia
Bagian personalia banyak menghadapi risiko. Misalnya, perancangan instalasi dan administrasi program-program kesejahteraan pegawai. Kendati beberapa perusahaan manajer risiko bertanggung jawab penuh untuk memberikan wewenang penuh atau sebagian pada bagian personalia. Jika diurus bersama dengan bagian personalia, biasanya bertugas mengadakan perundingan dengan serikat kerja, menetapkan hak dan kewajiban serta kesejahteraan. Sedangkan manajer risiko menyeleksi asuransi dan merundingkan penutupan asuransi. Karena bagian personalia bertanggungjawab untuk seleksi dan latihan personal, maka bagian ini bertanggung jawab mengawasi pekerjaan yang mengandung risiko. Misalnya, kecelakaan dan penyakit.
3.3 Peranan Manajer Dalam Perusahaan 3.3.1 Pengertian Manajer
Manajer adalah orang yang bekerja dengan dan melalui orang lain, untuk mengkoordinir serangkaian kegiatan guna mencapai sasaran organisasi. (Hery, 2016: 7)
Manajer merupakan pemimpin lembaga yang bertugas menentukan berbagai kebijakan atau prosedur sebagai panduan yang harus dijalankan para bawahan
untuk melayani masyarakat. Manajer (decision maker) berposisi lebih tinggi daripada karyawan. Dengan perbedaan posisi tersebut, manajer akan menerima pendapatan yang lebih tinggi, serta tugas dan tanggung jawab yang lebih berat.
(Karyoto, 2015: 19)
Arti manajer menurut para ahli yaitu, Hasibuan, manajer adalah seseorang dengan bantuan orang lain melakukan suatu kegiatan gina mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Definisi itu menggambarkan bahwa manajer adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas tercapainya tujuan. Sedangkan menurut Terry dan Rue, manajer adalah seseorang yang bertugas mengambil keputusan guna menetapkan tujuan yang ingin dicapai. (Karyoto, 2015: 20).
3.3.2 Fungsi, Tugas dan Peran Manajer 3.3.2.1 Fungsi Manajer
Fungsi dari seorang manajer adalah:
1. Memahami visi dan misi perusahaan.
2. Harus menjabarkan visi dan misi tersebut kepada tujuan.
Tujuan dirumuskan dengan dua dasar : a. Visi dan Misi.
b. Antisipasi (memperkirakan) tentang masa depan.
Tujuan harus memenuhi empat syarat :
a. Measurable (dapat diukur), ada data-data dan angka-angka
b. Chalenging (menantang), tidak boleh mudah dicapai sehingga motivasi kerja akan dapat dibangkitkan
c. Realistic (dapat diwujudkan) : Sesuai dengan kemampuan d. Time Frame (jangka waktu).
3. Merumuskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan (membuat rencana).
4. Melakukan usaha untuk menyediakan resources dalam melaksanakan rencana yang telah dibuat.
5. Memimpin pelaksanaan rencana agar para pegawai depat bekerja dengan motivasi yang tinggi.
6. Mengendalikan pelaksanaan kegiatan serta penggunaan resources agar rencana yang dibuat dapat berjalan sebagaimana mestinya.
7. Bersiap untuk menghadapi kontingensi (bersiap untuk menghadapi hal-hal yang diluar perkiraan).
3.3.2.2 Tugas Manajer
Menurut Kaswan (2016: 29-35), ada lima tugas dasar dalam pekerjaan manajer.
Secara keseluruhan kelima tugas itu menghasilkan penyatuan sumber daya menjadi organisme yang bergairah dan bertumbuh. Kelima tugas itu dijelaskan dibawah ini:
1. Penetapan Tujuan/Sasaran
Pertama, manajer menetapkan tujuan/sasaran. Seorang manajer harus menentukan tujuan apa yang harus ditetapkan, menetapkan apa dalam setiap wilayah, menentukan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Tujuan yang dibuat efektif dengan mengkomunikasikannya kepada orang-orang yang kinerja diperlukan untuk mencapai tujuan itu.
2. Pengorganisasian
Kedua, manajer mengorganisasi. Seorang manajer menganalisis aktivitas, keputusan, dan hubungan yang diperlukan, mengelompokkan pekerjaan, membagi pekerjaan itu menjadi pekerjaan yang bisa dikelola, mengelompokkan unit-unit dan
pekerjaan menjadi struktur organisasi, menyeleksi orang unuk mengelola unit tersebut dan untuk pekerjaan yang harus dilakukan. Selain itu pengorganisasian melibatkan pemberian tugas, mengelompokkan tugas ke dalam departemen, mendelegasikan otoritas, dan mengalokasikan sumber daya.
3. Memotivasi dan Berkomunikasi
Ketiga, manajer harus memotivasi dan berkomunikasi. Seorang manajer membentuk tim dari orang-orang yang bertanggung jawab terhadap berbagai pekerjaan. Dia melakukan ini dalam kaitannya dengan orang lain yang menjadi mitra kerjanya. Dia melakukan ini melalui “keputusan pegawai” dalam hal imbalan, penempatan, bawahan, atasan dan kolega. Berbagai cara dapat dilakukan manajer untuk memotivasi pegawai, seperti memberi imbalan, penempatan pegawai yang tepat, promosi, penerapan keadilan organisasi, partisipasi pegawai, umpan balik, dll.
4. Pengukuran
Manajer menetapkan target dan ukuran namun tidak banyak faktor yang sama pentingnya dengan kinerja organisasi dan kinerja rang didalamnya. Seorang manajer memastikan bahwa setiap orang menyediakan pengukuran yang difokuskan pada kinerja keseluruhan organisasi dan pada saat yang sama, berfokus pada pekerjaan individu. Manajer menganalisis, menilai, menginterprestasikan kinerja. Sebagaimana dalam wilayah lain pekerjaan, dia mengkomunikasikan maksud pengukuran dan temuannya kepada bawahan, atasan dan kolega.
5. Mengembangkan Orang
Kelima, manajer mengembangkan orang, termasuk dirinya sendiri. Tujuan ini semakin penting diabad pengetahuan. Manajer yang memiliki empati tinggi ialah
orang yang memiliki semangat mengembangkan orang lain, tidak hanya bermanfaat bagi orang yang dikembangkan, tetapi juga bagi anda, yang mengembangkan orang lain. Dalam buku Bringing Out the Best in People, Alan Loyal McGinnis menyatakan “Tidak ada lagi pekerjaan mulia di dunia ini selain membantu orang lain – membantu seseorang agar sukses.”
3.3.2.3 Peran Manajer
Menurut Robbins (2009), peran dari seorang manajer (Management Role) antara lain adalah sebagai berikut:
1) Interpersonal Role
Manajer harus bisa mempunyai peran berhubungan dengan pihak-pihak lain.
a. Figur Head: manajer harus bisa mewakili unit yang dipimpinnya.
b. Leader: manajer harus bisa memimpin bawahanya secara efektif.
c. Liaison: manajer bisa menjadi penghubung dengan unit/organisasi yang lain.
2) Informational Role (peran informasi)
Peran informasi dapat ditunjukkan manajer melalui
a. Disseminator: manajer harus berperan menyampaikan informasi yang dikumpulkanya kepada pihak yang membutuhkannya.
b. Spoke person: manajer harus berperan menyampaikan kebijakan/keputusan pimpinanya yang lebih tinggi kepada bawahan yang dipimpinnya dengan cara yang mudah dimengerti (bisa menyampaikan keinginan, aspirasi, dan usul kepada pimpinan).
c. Decision Making: Manajer harus berperan mengambil keputusan dari persoalan-persoalan yang muncul di unit organisasi yang dipimpinya.
Setiap keputusan mengandung resiko yang harus diperhitungkan. Tetapi, seorang manajer tidak boleh mundur untuk mengambil keputusan.
d. Enterperneur: manajer harus berperan melihat peluang-peluang yang muncul, mengambil keputusan untuk memanfaatkan peluang-peluang tersebut bagi organisasi/unit yang dipimpinya.
e. Disturbance Handler: manajer harus berperan mengambil keputusan untuk mengatasi gangguan-gangguan.
f. Resource Allocator: manajer harus berperan mengambil keputusan alokasi sumber daya.
g. Negotiator: manajer harus berperan mengambil keputusan dalam berunding dengan unit-unit yang lain
3.3.3 Tantangan, Keterampilan dan Tingkatan Manajer 3.3.3.1 Tantangan Manajer
Menurut Robbins dan Coulter (2009), dalam pekerjaannya manajer organisasi akan menghadapi beberapa tantangan seperti:
1) Bekerja Keras
Manajer harus bekerja keras karena tanggung jawab mereka atas tercapainya tujuan organisasi lebih besar daripada tanggung jawab pekerja bawahan.
2) Mengahadapi orang dengan berbagai latar belakang
Dalam menjalankan kegiatan-kegiatan untuk mewujudkan tujuan, manajer akan dibantu oleh orang lain. Orang-orang dalam suatu organisasi merupakan individu-individu dengan latar belakang berbeda-beda. Latar belakang yang dimaksud, misalnya adalah karakter, pendidikan, usia dan jenis kelamin. Adanya keragaman
latar belakang tersebut dapat memengaruhi cara kerja mereka sehingga pekerjaan sejenis bisa saja dikerjakan dengan cara yang berbeda.
3) Menciptakan semangat kerja
Organisasi perlu mempertimbangkan perbedaan status dan pendapatan yang pekerja terima sehingga cara-cara yang digunakan untuk mementukan jenis atau bentuk motivasi yang cocok untuk diterapkan.
4) Memadukan keterampilan pekerja
Menurut Adam Smith, produktivitas kerja bisa meningkat jika para pekerja dapat berkegiatan sesuai dengan keahliannya. Dengan pemikirannya tersebut Smith menyarankan kepada para pengusaha untuk memadukan keterampilan pekerja dengan pekerjaan-pekerjaan yang akan mereka lakukan atau, singkatnya melakukan spesialisasi kerja.
3.3.3.2 Keterampilan Manajer
Keterampilan (skill) dapat digunakan oleh para pekerja untuk melakukan suatu kegiatan tertentu dan memberikan hasil yang optimal. Dalam hal ini, optimal berarti suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan menggunakan sumber daya yang telah dialokasikan.
Menurut Karyoto (2015: 21-22) dalam mengelola suatu organisasi, para manajer paling tidak mempunyai tiga jenis keterampilan, yaitu:
1) Keterampilan Teknik
Pekerjaan teknis hanya bisa dilakukan oleh orang yang berlatar belakang pendidikan tertentu. Apabila dilakukan oleh orang tanpa keterampilan, maka pekerjaan itu sulit untuk dapat diselesaikan. Oleh karena itu, dalam kegiatan
perekrutan dan penempatan pekerja dalam kegiatan teknis, organisasi perlu terlebih dahulu memepertimbangkan dan menganalisis keterampilan tiap pekerja
2) Keterampilan Kemanusiaan
Keterampilan kemanusiaan adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang atau pihak yang terkait dengan organisasi, seperti para pekerja pemasok, pemerintah, para wakil rakyat, dan lembaga keuangan. Keberadaan dan tingkah laku mereka dapat memengaruhi kelangsungan hidup organisasi.
3) Keterampilan Konseptual
Keterampilam konseptual adalah kemampuan untuk menguasai beberapa pendekatan atau metode untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi organisasi. Organisasi pasti akan menghadapi berbagai persoalan, karena itu, organisasi harus mencari cara untuk menyelesaikannya sehingga kegiatan organisasi di masa depan tidak terganggu.
3.3.3.3 Tingkatan Manajer
Pada umumnya, tingkatan manajer dapat diklasifikasikan sebagai manajer lini pertama, manajer menengah, dan manajer puncak.
1. Manajer Lini Pertama
Manajer lini pertama (first line) adalah tingkat manajer yang paling bawah. Jabatan ini disebut juga manager operasional karena tugasnya memang mengintegasi
Manajer lini pertama (first line) adalah tingkat manajer yang paling bawah. Jabatan ini disebut juga manager operasional karena tugasnya memang mengintegasi