• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

3.2 Penerapan Manajemen Risiko dalam Perusahaan

3.2.3 Manajemen Risiko yang Efektif

Menurut Idroes (2011: 6-7) Manajemen risiko yang efektif membantu suatu organisasi untuk dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Strategi risiko dan kontrol secara komprehensif berdasarkan pertimbangan yang terkait pada:

1) Toleransi terhadap risiko, yaitu kejelasan tentang berapa besar risiko yang bersedia tanggung dan risiko apa yang harus dihindari;

2) Filosofi terhadap risiko, yaitu menentukan cara pandang atau sikap dan tindakan terhadap risiko;

3) Akuntabilitas risiko, yaitu kemampuan dalam penanganan risiko.

b. Disiplin manajemen risiko pada seluruh entitas organiasi yang mencakup:

1) Kesatuan bahasa dalam mengartikan risiko, yaitu penyatuan bahasa apakah risiko sebagai bahaya atau risiko sebagai peluang;

2) Pengetahuan manajemen risiko yang melekat pada setiap individu dalam organisasi.

c. Integrasi manajemen risiko di dalam kerangka kerja tata kelola perusahaan (corporate governance).

d. Strategi penyesuaian risiko (risk-adjusted) pada saat pengambilan keputusan.

e. Kemampuan manajemen senior untuk memahami dampak risiko terhadap:

1) Keuntungan 2) Nilai saham

f. Peningkatan identifikasi portofolio dan rencana aksi (action plan).

g. Memahami proses bisnis kunci.

h. Sistem peringatan dini dan respons bencana yang efektif.

i. Peningkatan keamanan informasi.

3.2.4 Peran Manajemen Risiko dalam Pencapaian Nilai Perusahaan

Strategi operasional perusahaan bank dapat dilihat dari upaya mencapai keseimbangan antara:

a. Pertumbuhan bisnis dan meningkatkan pangsa kredit dan dana

b. Meningkatkan efisiensi dan operasional

c. Menjaga tingkat kebutuhan operasional perbankan d. Implementasi risk management yang berorientasi bisnis

Efisiensi menyangkut upaya menurunkan biaya operasional. Dalam menjalankan usaha, bank memerlukan berbagai biaya, antara lain biaya bunga dan biaya overhead. Biaya bunga yang dibayarkan bank kepada para nasabah atau kreditur

sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga yang dapat dikendalikan oleh bank.

Berdasarkan hal itu maka bank harus menggali berbagai alternatif untuk mengendalikan atau meningkatkan efisiensi kerja agar bank dapat beroperasi secara efisien dan dapat meningkatkan daya saing pasar.

3.2.5 Hubungan Manajemen Risiko Dengan Fungsi-fungsi Lain Pada Perusahaan

Pengelolaan risiko usaha berkaitan dengan fungsi-fungsi perusahaannya, yaitu:

akunting, keuangan, marketing, personalia, engineering dan maintenance. Bagian-bagian itu, ada yang menciptakan risiko dan ada yang mnejalankan seBagian-bagian fungsi manajemen resiko.

1. Hubungan dengan Fungsi Akunting

Bagian akunting menjalankan kegiatan manajemen risiko yang penting, yaitu sebagai berikut.

1. Mengurangi kesempatan pegawai melakukan penggelapan dengan cara internal control dan internal audit.

2. Melalui rekening asset, bagian akunting mengidentifikasikan dan mengukur exposure kerugian terhadap harta.

3. Melalui penilaian rekening, seperti rekening piutang, bagian akunting mengukur resiko piutang dan mengalokasikan cadangan dana exposure kerugian piutang. Bagian akunting juga dapat menciptakan risiko seperti risiko pemakaian komputer, risiko tanggung gugat, karena kemungkinan terjadi kesalahan dalam penyajian informasi dalam laporan keuangan.

2. Hubungan dengan Fungsi Keuangan

Bagian keuangan melakukan banyak penetapan yang mempengaruhi manajemen resiko. Manajer resiko biasanya adalah bawahan manajer keuangan, bagian keuangan menganalisis pengaruh turunnya profit dan cash flow. Karena menurunnya laba dapat menghambat tujuan perusahaan, maka kegiatan tersebut pun tercantum dalam program manajemen resiko. Dalam hal perusahaan akan melakukan pembelian asset, maka manajer keuangan sudah seharusnya mempertimbangkan risiko murni yang mugnkin timbul karena tindakan itu.

Demikian juga jika perusahaan akan meminjam uang dengan menggunakan harta perusahaan sebagai jaminan, bisanya pemberi pinjaman menuntut agar harta jaminan itu di asuransikan, sehingga akan melibatkan manjaer risiko.

3. Hubungan dengan Marketing

Kegiatan marketing dapat menciptakan risiko, terutama risiko tanggung gugat.

Misalnya, tuntutan dari pihak luar karena menggunakan packaging yang tidak memenuhi syarat. Manajer marketing pada keadaan tertentu mungkin harus meminta pertimbangan manajer risiko sebelum menandatangani suatu perjanjian, karena pihak lain mungkin ingin memindahkan risiko, sedangkan pihak manajer marketing belum menyadarinya. Oleh karena itu, perlu kerja sama yang baik antara manajer marketing dengan manajer risiko.

4. Hubungan dengan Engineering dan Maintenance

Bagian ini bertanggung jawab atas desain pabrik, pemeliharaan, serta melaksanankan fungsi perawatan untuk mencegah dan mengurangi tingkah kerugian jika terjadi suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian. Misalnya, merencanakan layout yang efisien, merencanakan bangunan yang tahan gempa atau api, merencanakan sistem perawatan yang memadai dan sebagainya.

5. Hubungan dengan Bagian Personalia

Bagian personalia banyak menghadapi risiko. Misalnya, perancangan instalasi dan administrasi program-program kesejahteraan pegawai. Kendati beberapa perusahaan manajer risiko bertanggung jawab penuh untuk memberikan wewenang penuh atau sebagian pada bagian personalia. Jika diurus bersama dengan bagian personalia, biasanya bertugas mengadakan perundingan dengan serikat kerja, menetapkan hak dan kewajiban serta kesejahteraan. Sedangkan manajer risiko menyeleksi asuransi dan merundingkan penutupan asuransi. Karena bagian personalia bertanggungjawab untuk seleksi dan latihan personal, maka bagian ini bertanggung jawab mengawasi pekerjaan yang mengandung risiko. Misalnya, kecelakaan dan penyakit.

3.3 Peranan Manajer Dalam Perusahaan 3.3.1 Pengertian Manajer

Manajer adalah orang yang bekerja dengan dan melalui orang lain, untuk mengkoordinir serangkaian kegiatan guna mencapai sasaran organisasi. (Hery, 2016: 7)

Manajer merupakan pemimpin lembaga yang bertugas menentukan berbagai kebijakan atau prosedur sebagai panduan yang harus dijalankan para bawahan

untuk melayani masyarakat. Manajer (decision maker) berposisi lebih tinggi daripada karyawan. Dengan perbedaan posisi tersebut, manajer akan menerima pendapatan yang lebih tinggi, serta tugas dan tanggung jawab yang lebih berat.

(Karyoto, 2015: 19)

Arti manajer menurut para ahli yaitu, Hasibuan, manajer adalah seseorang dengan bantuan orang lain melakukan suatu kegiatan gina mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Definisi itu menggambarkan bahwa manajer adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas tercapainya tujuan. Sedangkan menurut Terry dan Rue, manajer adalah seseorang yang bertugas mengambil keputusan guna menetapkan tujuan yang ingin dicapai. (Karyoto, 2015: 20).

3.3.2 Fungsi, Tugas dan Peran Manajer 3.3.2.1 Fungsi Manajer

Fungsi dari seorang manajer adalah:

1. Memahami visi dan misi perusahaan.

2. Harus menjabarkan visi dan misi tersebut kepada tujuan.

Tujuan dirumuskan dengan dua dasar : a. Visi dan Misi.

b. Antisipasi (memperkirakan) tentang masa depan.

Tujuan harus memenuhi empat syarat :

a. Measurable (dapat diukur), ada data-data dan angka-angka

b. Chalenging (menantang), tidak boleh mudah dicapai sehingga motivasi kerja akan dapat dibangkitkan

c. Realistic (dapat diwujudkan) : Sesuai dengan kemampuan d. Time Frame (jangka waktu).

3. Merumuskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan (membuat rencana).

4. Melakukan usaha untuk menyediakan resources dalam melaksanakan rencana yang telah dibuat.

5. Memimpin pelaksanaan rencana agar para pegawai depat bekerja dengan motivasi yang tinggi.

6. Mengendalikan pelaksanaan kegiatan serta penggunaan resources agar rencana yang dibuat dapat berjalan sebagaimana mestinya.

7. Bersiap untuk menghadapi kontingensi (bersiap untuk menghadapi hal-hal yang diluar perkiraan).

3.3.2.2 Tugas Manajer

Menurut Kaswan (2016: 29-35), ada lima tugas dasar dalam pekerjaan manajer.

Secara keseluruhan kelima tugas itu menghasilkan penyatuan sumber daya menjadi organisme yang bergairah dan bertumbuh. Kelima tugas itu dijelaskan dibawah ini:

1. Penetapan Tujuan/Sasaran

Pertama, manajer menetapkan tujuan/sasaran. Seorang manajer harus menentukan tujuan apa yang harus ditetapkan, menetapkan apa dalam setiap wilayah, menentukan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Tujuan yang dibuat efektif dengan mengkomunikasikannya kepada orang-orang yang kinerja diperlukan untuk mencapai tujuan itu.

2. Pengorganisasian

Kedua, manajer mengorganisasi. Seorang manajer menganalisis aktivitas, keputusan, dan hubungan yang diperlukan, mengelompokkan pekerjaan, membagi pekerjaan itu menjadi pekerjaan yang bisa dikelola, mengelompokkan unit-unit dan

pekerjaan menjadi struktur organisasi, menyeleksi orang unuk mengelola unit tersebut dan untuk pekerjaan yang harus dilakukan. Selain itu pengorganisasian melibatkan pemberian tugas, mengelompokkan tugas ke dalam departemen, mendelegasikan otoritas, dan mengalokasikan sumber daya.

3. Memotivasi dan Berkomunikasi

Ketiga, manajer harus memotivasi dan berkomunikasi. Seorang manajer membentuk tim dari orang-orang yang bertanggung jawab terhadap berbagai pekerjaan. Dia melakukan ini dalam kaitannya dengan orang lain yang menjadi mitra kerjanya. Dia melakukan ini melalui “keputusan pegawai” dalam hal imbalan, penempatan, bawahan, atasan dan kolega. Berbagai cara dapat dilakukan manajer untuk memotivasi pegawai, seperti memberi imbalan, penempatan pegawai yang tepat, promosi, penerapan keadilan organisasi, partisipasi pegawai, umpan balik, dll.

4. Pengukuran

Manajer menetapkan target dan ukuran namun tidak banyak faktor yang sama pentingnya dengan kinerja organisasi dan kinerja rang didalamnya. Seorang manajer memastikan bahwa setiap orang menyediakan pengukuran yang difokuskan pada kinerja keseluruhan organisasi dan pada saat yang sama, berfokus pada pekerjaan individu. Manajer menganalisis, menilai, menginterprestasikan kinerja. Sebagaimana dalam wilayah lain pekerjaan, dia mengkomunikasikan maksud pengukuran dan temuannya kepada bawahan, atasan dan kolega.

5. Mengembangkan Orang

Kelima, manajer mengembangkan orang, termasuk dirinya sendiri. Tujuan ini semakin penting diabad pengetahuan. Manajer yang memiliki empati tinggi ialah

orang yang memiliki semangat mengembangkan orang lain, tidak hanya bermanfaat bagi orang yang dikembangkan, tetapi juga bagi anda, yang mengembangkan orang lain. Dalam buku Bringing Out the Best in People, Alan Loyal McGinnis menyatakan “Tidak ada lagi pekerjaan mulia di dunia ini selain membantu orang lain – membantu seseorang agar sukses.”

3.3.2.3 Peran Manajer

Menurut Robbins (2009), peran dari seorang manajer (Management Role) antara lain adalah sebagai berikut:

1) Interpersonal Role

Manajer harus bisa mempunyai peran berhubungan dengan pihak-pihak lain.

a. Figur Head: manajer harus bisa mewakili unit yang dipimpinnya.

b. Leader: manajer harus bisa memimpin bawahanya secara efektif.

c. Liaison: manajer bisa menjadi penghubung dengan unit/organisasi yang lain.

2) Informational Role (peran informasi)

Peran informasi dapat ditunjukkan manajer melalui

a. Disseminator: manajer harus berperan menyampaikan informasi yang dikumpulkanya kepada pihak yang membutuhkannya.

b. Spoke person: manajer harus berperan menyampaikan kebijakan/keputusan pimpinanya yang lebih tinggi kepada bawahan yang dipimpinnya dengan cara yang mudah dimengerti (bisa menyampaikan keinginan, aspirasi, dan usul kepada pimpinan).

c. Decision Making: Manajer harus berperan mengambil keputusan dari persoalan-persoalan yang muncul di unit organisasi yang dipimpinya.

Setiap keputusan mengandung resiko yang harus diperhitungkan. Tetapi, seorang manajer tidak boleh mundur untuk mengambil keputusan.

d. Enterperneur: manajer harus berperan melihat peluang-peluang yang muncul, mengambil keputusan untuk memanfaatkan peluang-peluang tersebut bagi organisasi/unit yang dipimpinya.

e. Disturbance Handler: manajer harus berperan mengambil keputusan untuk mengatasi gangguan-gangguan.

f. Resource Allocator: manajer harus berperan mengambil keputusan alokasi sumber daya.

g. Negotiator: manajer harus berperan mengambil keputusan dalam berunding dengan unit-unit yang lain

3.3.3 Tantangan, Keterampilan dan Tingkatan Manajer 3.3.3.1 Tantangan Manajer

Menurut Robbins dan Coulter (2009), dalam pekerjaannya manajer organisasi akan menghadapi beberapa tantangan seperti:

1) Bekerja Keras

Manajer harus bekerja keras karena tanggung jawab mereka atas tercapainya tujuan organisasi lebih besar daripada tanggung jawab pekerja bawahan.

2) Mengahadapi orang dengan berbagai latar belakang

Dalam menjalankan kegiatan-kegiatan untuk mewujudkan tujuan, manajer akan dibantu oleh orang lain. Orang-orang dalam suatu organisasi merupakan individu-individu dengan latar belakang berbeda-beda. Latar belakang yang dimaksud, misalnya adalah karakter, pendidikan, usia dan jenis kelamin. Adanya keragaman

latar belakang tersebut dapat memengaruhi cara kerja mereka sehingga pekerjaan sejenis bisa saja dikerjakan dengan cara yang berbeda.

3) Menciptakan semangat kerja

Organisasi perlu mempertimbangkan perbedaan status dan pendapatan yang pekerja terima sehingga cara-cara yang digunakan untuk mementukan jenis atau bentuk motivasi yang cocok untuk diterapkan.

4) Memadukan keterampilan pekerja

Menurut Adam Smith, produktivitas kerja bisa meningkat jika para pekerja dapat berkegiatan sesuai dengan keahliannya. Dengan pemikirannya tersebut Smith menyarankan kepada para pengusaha untuk memadukan keterampilan pekerja dengan pekerjaan-pekerjaan yang akan mereka lakukan atau, singkatnya melakukan spesialisasi kerja.

3.3.3.2 Keterampilan Manajer

Keterampilan (skill) dapat digunakan oleh para pekerja untuk melakukan suatu kegiatan tertentu dan memberikan hasil yang optimal. Dalam hal ini, optimal berarti suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan menggunakan sumber daya yang telah dialokasikan.

Menurut Karyoto (2015: 21-22) dalam mengelola suatu organisasi, para manajer paling tidak mempunyai tiga jenis keterampilan, yaitu:

1) Keterampilan Teknik

Pekerjaan teknis hanya bisa dilakukan oleh orang yang berlatar belakang pendidikan tertentu. Apabila dilakukan oleh orang tanpa keterampilan, maka pekerjaan itu sulit untuk dapat diselesaikan. Oleh karena itu, dalam kegiatan

perekrutan dan penempatan pekerja dalam kegiatan teknis, organisasi perlu terlebih dahulu memepertimbangkan dan menganalisis keterampilan tiap pekerja

2) Keterampilan Kemanusiaan

Keterampilan kemanusiaan adalah kemampuan untuk bekerja sama dengan orang atau pihak yang terkait dengan organisasi, seperti para pekerja pemasok, pemerintah, para wakil rakyat, dan lembaga keuangan. Keberadaan dan tingkah laku mereka dapat memengaruhi kelangsungan hidup organisasi.

3) Keterampilan Konseptual

Keterampilam konseptual adalah kemampuan untuk menguasai beberapa pendekatan atau metode untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi organisasi. Organisasi pasti akan menghadapi berbagai persoalan, karena itu, organisasi harus mencari cara untuk menyelesaikannya sehingga kegiatan organisasi di masa depan tidak terganggu.

3.3.3.3 Tingkatan Manajer

Pada umumnya, tingkatan manajer dapat diklasifikasikan sebagai manajer lini pertama, manajer menengah, dan manajer puncak.

1. Manajer Lini Pertama

Manajer lini pertama (first line) adalah tingkat manajer yang paling bawah. Jabatan ini disebut juga manager operasional karena tugasnya memang mengintegasi masalah-masalah perusahaan yang bersifat operasional (untuk kegiatan produksi).

Manajer operasional merupakan manajer yang sering berhadapan langsung dengan karyawan. Contoh manajer lini pertama adalah mandor, supervisor, dan manajer departemen.

2. Manajer Tingkat Menengah

Manajer tingkat menengah disebut juga middle manager. Ia adalah penghubung antara manajer puncak dengan manajer operasional Contoh manajer tingkat menengah adalah kepala devisi, kepala bagian dan manajer proyek.

3. Manajer Puncak

Diantara ketiga tingkatan manajer, jabatan sebagai top manager atau manajer puncak adalah jabatan yang paling tinggi. Sesuai dengan namanya, amanjer puncak adalah manajer yang membuat strategi perusahaan dalam jangka panjang. Manajer puncak tidak seperti manajer operasional yang setring bertemu dengan karyawan karena manajer puncak memiliki tugas yang tidak berkaitan langsung dengan operasional perusahaan. Contoh manajer puncak adalah CEO.

3.3.4 Hubungan Manajer dengan Manajemen

Manajer dalam hubungan dengan menajemen menjelaskan tentang substansi tugas yang ada padanya. Pada satu sisi, manajer ada pada posisi tugas pelaksana kepemimpinan dengan membantu pemimpin memimpin pekerjaan yang bersifat departemenal. Di sini manajer adalah kepala atau pemimpin suatu departemen atau unit kerja dalam suatu organisasi. Pada sisi yang bersifat lebih substansial, manajemen adalah tugas seorang manajer yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas kepemimpinan pada aras manajerial. Tentu tatkala melaksanakan tugasnya, manajer memanajemeni, tetapi perbedaannya, ialah bahwa ia memanejemeni tugasnya atas nama pemimpin yang mendelegasikan tugas manajerial kepadanya.

3.4. Peranan Manajemen Risiko Dalam Meningkatkan Kinerja dan Profitabilitas

3.4.1 Hubungan Manajemen Risiko Dengan Kinerja Perusahaaan

Menurut Miner dalam Sutrisno (2010:170) kinerja adalah bagaimana seseorang diharapkan dapat berfungsi dan berperilaku sesuai dengan tugas yang telah dibebankan kepadanya. Setiap harapan mengenai bagaimana seseorang harus berperilaku dalam melaksanakan tugas berarti menjalankan suatu peran. Jadi kinerja dapat dikatakan berhasil apabila efektivitas organisasi dapat diwujudkan Kinerja dalam organisasi merupakan jawaban dari berhasil atau tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan atau manajer sering tidak memperhatikan kecuali sudah amat buruk atau segala sesuatu jadi serba salah.

Terlalu sering manajer tidak mengetahui betapa buruknya kinerja telah merosot sehingga perusahaan / instansi menghadapi krisis yang serius. Kesan-kesan buruk organisasi yang mendalam berakibat dan mengabaikan tanda-tanda peringatan adanya kinerja yang merosot.

Manajemen risiko mencakup kegiatan merencanakan mengorganisir, menyusun, memimpin/mengkoordinir, dan mengawasi (termasuk mengevaluasi) program penanggulangan risiko. Adanya program penanggulangan risiko yang baik dari suatu perusahaan akan memberikan sumbangan yang sangat bermanfaaat bagi perusahaan termasuk dalam pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan.

Hubungan manajemen risiko dengan kinerja perusaahaan antara lain:

1. Evaluasi dari program penanggulangan risiko yang baik dari suatu perusahaan akan dapat memberikan gambaran mengenai keberhasilan dan kegagalan operasi perusahaaan. Meskipun hal ini secara ekonomis tidak

meningkatkan keuntungan perusahaan, tetapi hal itu merupakan kritik bagi perusahaan, sehingga akan sangat bermanfaat bagi perbaikan pengelolaan usaha di masa akan datang.

2. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi manajemen, karena semua risiko yang dapat menghambat proses perusahaan telah diidentifikasikan dengan baik.

3. Manajemen resiko melindungi perusahaan dari resiko murni ,dan karna kreditur pelanggan dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak langsung menolong meningkatkan public image.

4. Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan terhadap resiko murni, merupakan harta non material bagi perusahaan itu.

5. Adanya kondisi yang lebih baik dan kesempatan yang memungkinkan akan mendorong pimpinan/pengurus perusahaan untuk memperbaiki mutu keputusan, dengan lebih memperhatikan pekerjaan, terutama yang bersifat spekulatif.

3.4.2 Hubungan Manajemen Risiko Dengan Profitabilitas Perusahaan.

Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk mendapatkan laba (keuntungan) dalam suatu periode tertentu. Menurut Kasmir (2012: 97) Profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkankeuntungan .profitabilitas diukur dari periode ke periode apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat.

Profitabilitas menggambarkan kemampuan badan usaha untuk menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh modal yang dimiliki. Profitabilitas suatu perusahaan akan mempengaruhi kebijakan para investor atas investasi yang dilakukan.

Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba akan dapat menarik para investor untuk menanamkan dananya guna memperluas usahanya, sebaliknya tingkat profitabilitas yang rendah akan menyebabkan para investor menarik dananya.

Sedangkan bagi perusahaan itu sendiri profitabilitas dapat digunakan sebagai evaluasi atas efektivitas pengelolaan badan usaha tersebut. Profitabilitas perusahaan merupakan salah satu dasar penilaian kondisi suatu perusahaan, untuk itu dibutuhkan suatu alat analisis untuk bisa menilainya. Alat analisis yang dimaksud adalah rasio-rasio keuangan. Rasio profitabilitas mengukur efektifitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang diperoleh dari penjualan dan investasi.

Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukkan apakah badan usaha tersebut mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang. Dengan demikian setiap badan usaha akan selalu berusaha meningkatkan profitabilitasnya, karena semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu badan usaha maka kelangsungan hidup badan usaha tersebut akan lebih terjamin. Secara sederhana dengan adanya program penanggulangan risiko akan memberikan sumbangan untuk meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.

Hubungan manajemen risiko dengan profitabilitas perusahaan antara lain:

1. Program penanggulangan risiko dapat memberikan sumbangan langsung kepada upaya peningkatan keuntungan perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena adanya pengurangan biaya melalui upaya pencegahan, pengurangan

kerugian dengan memindahkan kemungkinan kerugian kepada pihak lain dengan biaya yang terendah, dan sebagainya.

2. Melalui perencanaan yang matang yang menyangkut pengelolaan risiko, akan dapat menangkal timbulnya hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran operasional perusahaan misalnya risiko akibat kebangkrutan pelanggan/penyalur, supplier, dan sebagainya.

3. Dengan suksesnya pengelolaan risiko akan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dari pihak-pihak yang terkait dengan kegitan perusahaan, meliputi kreditur, penyalur, dan semua pihak yang berpotensi menyumbang kepada terciptanya keuntungan. Sebab pihak-pihak tersebut umumnya akan memilih bertransaksi dengan perusahaan yang mempunyai cara perlindungan terhadap risiko murni.

3.4.3 Hubungan Manajemen Risiko Dengan Kinerja Perbankan.

1. Pengaruh manajemen risiko kredit maka bank dapat memaksimalkan tingkat pengembalian dengan menjaga resiko pemberian kredit supaya berada di parameter yang dapat diterima.

2. Dengan mempelajari manajemen risiko suku bunga bank dapat mengurangi efek negatif pada hasil keuangan dan modal bank yang disebabkan oleh perubahan suku bunga dan dapat memastikan mekanisme arus kas yang besar tanpa adanya ketidaksesuaian dalam aset dan kewajiban segmen.

3. Bank dapat mempelajari sebab dan akibat dari masalah-masalah yang tinbul di dalam perusahannya.

4. Dapat mengurangi risiko yang mungkin muncul dan teknik-teknik pencegahan di dalam manajemen risiko.

3.4.4 REKAPITULASI JAWABAN RESPONDEN DARI PT BANK PERKREDITAN RAKYAT DANA GANDA TANJUNG MORAWA

NO PERIHAL JAWABAN

Responden I Responden II Responden III 1. Manfaat manajemen

3. Manajemen risiko yang efektif dan faktor-faktor

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

Tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui peranan manajemen risiko bagi seorang manajer dalaam meningkatkan kinerja dan profitabilitas PT Bank Perkreditan Rakyat Dana Ganda Tanjung Morawa. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan mengenai peranan manajemen risiko bagi seorang manajer dalam meningkatkan kinerja dan profitabilitas PT Bank Perkreditan Rakyat Dana Ganda Tanjung Morawa, yaitu:

1) Peranan manajemen risiko dalam meningkatkan kinerja PT Bank Perkreditan Rakyat Dana Ganda Tanjung Morawa telah menunjukkan hasil yang baik. Hal tersebut dapat dilihat dari kinerja perusahaan dalam melayani dan mengayomi masyarakat. Sesuai dengan prinsip Bank Perkreditan Rakyat yang mengutamakan kesejahteraan rakyat maka dengan adanya manajemen risiko manajer mempelajari bagaimana cara agar kinerja baik tanpa mengecewakan nasabah.

2) Program penanggulangan risiko dapat memberikan sumbangan langsung kepada upaya peningkatan keuntungan perusahaan .Peranan manajemen risiko dalam meningkatkan profitabilitas PT Bank Perkreditan Rakyat Dana Ganda Tanjung Morawa telah dapat dilihat dari kemampuan perusahaan dalam memrpoyeksi dan merencanakan kredit yang disalurkan setelah konsolidasi dalam sektor pertanian, sektor industri, sektor perdagangan, sektor jasa, sektor konsumsi.

4.2 Saran

Dari hasil pembahasan penulis mengenai pengaruh penerapan manajemen risiko dalam meningkatkan kinerja dan profitabilitas PT Bank Perkreditan Rakyat Dana

Dari hasil pembahasan penulis mengenai pengaruh penerapan manajemen risiko dalam meningkatkan kinerja dan profitabilitas PT Bank Perkreditan Rakyat Dana

Dokumen terkait