• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kisaran parameter kualitas air di Danau Sentani selama penelitian

merah (Glossolepis incisus) tiap bulan pengamatan ……… 18 4. Sebaran hasil tangkapan berdasarkan stasiun penelitian ……….. 19 5. Kisaran faktor kondisi ikan pelangi merah selama penelitian …….. 21 6. Faktor kondisi ikan pelangi merah berdasarkan TKG ………. 22 7. Nisbah kelamin ikan pelangi merah berdasarkan bulan pengamatan. 22 8. Nisbah kelamin berdasarkan kelas panjang total ……… 23 9. Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V)

pada tiap bulan pengamatan ……….. 23

10. Nisbah kelamin ikan pelangi merah matang gonad pada tiap

stasiun penelitian ……….. 24

11. Perkembangan gonad secara makroskopis dan mikroskopis gonad

ikan pelangi merah jantan (Modifikasi Pusey et al., 2001) ... 27 12. Perkembangan gonad secara makroskopis dan mikroskopis gonad

ikan pelangi merah betina (Modifikasi Pusey et al., 2001) ……….. 27 13. Indeks Kematangan Gonad ikan pelangi merah selama penelitian… 28 14. Indeks Kematangan Gonad berdasarkan stasiun ……….. 29

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) ………. 3 2. Grafik jumlah curah hujan di Jayapura ……… 17 3. Sebaran ikan pelangi merah berdasarkan kelas ukuran panjang

total ……….. 19

4. Hubungan panjang berat ikan pelangi merah di Danau Sentani …… 20 5. Faktor kondisi ikan pelangi merah matang gonad (TKG IV-V) …… 21 6. Tingkat kematangan gonad berdasarkan waktu ……… 24 7. Gonad dan jaringan gonad ikan pelangi merah jantan pada

TKG I-IV ………. 25

8. Gonad dan jaringan gonad ikan pelangi merah betina pada

TKG II-V ……… 26

9. Persentase ukuran pertama kali matang gonad (L50) ……….. 28

10. Indeks Kematangan Gonad berdasarkan TKG ………. 29 11. Grafik hubungan fekunditas dengan panjang total, berat tubuh

dan berat gonad ………. 30

12. Sebaran diameter telur ikan pelangi merah yang tertangkap di

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Peta lokasi penelitian ……….. 48

2. Gambaran lokasi penelitian ……….. 49

3. Alat tangkap jaring insang (gill net) ……….. 50 4. Kategori perkembangan dan kematangan gonad ikan pelangi …….. 51 5. Pembuatan preparat histologi (Angka et al., 1990) ………. 52 6. Uji khi kuadrat terhadap nisbah kelamin ikan pelangi merah

(Glossolepis incisus) ………. 53

7. Frekuensi ukuran pertama kali matang gonad berdasarkan stasiun... 54 8. Frekuensi ukuran pertama kali matang gonad berdasarkan waktu

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Danau Sentani dengan luas 9.360 ha terletak di Kabupaten Jayapura. Keanekaragaman sumberdaya hayati ikan air tawar di danau ini terdiri atas lima belas jenis ikan sehingga danau ini merupakan pemasok ikan air tawar untuk konsumsi penduduk di sekitarnya. Delapan jenis ikan diantaranya adalah ikan asli, salah satunya adalah ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) yang merupakan ikan endemik di Danau Sentani (Allen, 1991) dan digemari sebagai ikan hias terutama ikan jantan yang berwarna merah cerah.

Pada tahun 1996, ikan pelangi merah telah terdaftar dalam Redlist IUCN sebagai spesies ikan yang mengalami ancaman kepunahan dengan status rentan (vulnerable A2ce) (IUCN, 2007). Diduga terjadi penurunan populasi ikan ini yang disebabkan kompetisi terhadap makanan dan habitat pemijahan dengan ikan introduksi yang ditemukan di danau ini seperti mata merah, tambakan, nila, nilem, gabus toraja, sepat siam, mas dan menurunnya kualitas lingkungan perairan Danau Sentani serta penebangan hutan untuk pembangunan jalan dan perluasan pemukiman yang mengakibatkan menurunnya luas tutupan hutan sebagai daerah tangkapan air (Allen, 1991; Allen et al., 2002; Polhemus et al., 2004).

Beberapa penelitian mengenai ikan pelangi merah ini telah dilakukan seperti taksonomi dan distribusi (Allen, 1991), pengaruh jenis pakan terhadap warna (Sulawesty, 1997), kekerabatan beberapa spesies ikan pelangi (Said et al., 2005) dan keanekaragaman genetiknya (Said dan Hidayat, 2005). Namun penelitian tersebut masih terbatas pada skala laboratorium, sedangkan informasi tentang ekologi dan biologi ikan pelangi merah di habitatnya belum tersedia.

Melihat seriusnya tekanan yang dihadapi ikan pelangi merah di habitatnya serta belum adanya informasi dasar menyangkut biologi reproduksinya, maka perlu dilakukan penelitian menyangkut biologi reproduksi ikan pelangi merah ini.

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji biologi reproduksi ikan pelangi merah di Danau Sentani. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dasar untuk pengelolaan sumberdaya ikan pelangi merah di Danau Sentani, terutama dalam upaya pelestarian dan pengembangannya.

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Deskripsi

Klasifikasi ikan pelangi merah menurut Allen (1991); Nelson (2006) dan Fishbase (2009) sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Actinopterygii

Divisi : Teleostei

Super Ordo : Atherinea

Ordo : Atheriniformes

Famili : Melanotaeniidae

Sub Famili : Melanotaeniinae

Genus : Glossolepis

Spesies : Glossolepis incisus Weber, 1907

Nama umum : Red Rainbowfish, Pelangi Merah Irian (Inggris, Indonesia) Nama daerah : Ikan Kaskado, Heuw (Papua, Sentani)

Gambar 1. Ikan Pelangi Merah (Glossolepis incisus)

Famili Melanotaeniidae terdiri atas tujuh genera dan enam puluh delapan spesies (Nelson, 2006). Salah satu genusnya adalah Glossolepis, dengan daerah sebaran pada wilayah utara Papua dari Sungai Markham hingga sistem Sungai Mamberamo. Sebaran ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) di Danau Sentani (Allen, 1991).

♂ ♀

Ikan ini dicirikan dengan tubuh yang pipih menyamping (compressed lateral), sisik yang besar, sirip punggung yang terbagi dua, sirip anal yang panjang dan linea lateralis yang tidak beraturan. Dimorfisme seksual terlihat jelas pada ikan jantan yang bertubuh lebih besar daripada ikan betina. Ikan inipun memiliki sifat dikromatisme seksual yang ditandai dengan warna tubuh ikan pelangi merah betina yang hijau kekuningan (olive) hingga kecoklatan dan ikan jantan yang berwarna merah cerah dengan pantulan keperakan pada kepala dan kedua sisinya. Ukuran panjang baku maksimum ikan pelangi merah jantan sekitar 120 mm dan betina sekitar 100 mm (Allen, 1991; Allen et al., 2000; Allen, 2001).

2.2 Pemijahan Ikan

Di daerah tropis, perubahan tinggi air sangat berpengaruh terhadap pemijahan ikan di sungai daripada di danau (McKaye, 1984 ; Lowe-McConnel, 1987 dalam Wootton, 1990). Reproduksi ikan pada musim kering saat banjir berkurang dan tinggi air relatif stabil dikenal sebagai rekrutmen aliran rendah (low flow recruitment hypothesis). Pola reproduksi pada kondisi aliran air rendah dan suhu meningkat banyak dilakukan oleh ikan yang berukuran kecil seperti Melanotaenia fluviatilis (famili Melanotaeniidae), Hypseleotris spp, Retropinna semoni dan Phylipnodon grandiceps di Australia yang memanfaatkan makanan berukuran kecil yang banyak terdapat pada kondisi air stabil (Humphries et al., 1999).

Pola lainnya ditunjukkan oleh tiga spesies ikan pelangi di bagian utara Australia yakni Melanotaenia eachamensis, M. splendida splendida dan Cairnsichthys rhombosomoides yang matang gonad pada ukuran kecil dan mengeluarkan telur per tumpukan (batch spawner). Sebagian besar aktivitas reproduksi ikan pelangi ini terjadi pada saat musim kering tetapi beberapa individu aktif bereproduksi sepanjang musim (Pusey et al., 2001).

Reproduksi saat musim basah seperti yang terjadi pada sebagian besar ikan tropis dikenal sebagai rekrutmen aliran tinggi (flood recruitment model) (Harris dan Gehrke, 1994). Kondisi seperti ini tergambarkan pada ikan pelangi sulawesi (Telmatherina celebensis) di Danau Towuti yang memijah tiga hingga empat kali selama siklus reproduksi tahunannya pada musim hujan (Nasution, 2005). Ikan pelangi M. splendida

splendida di bagian timur Australia memijah sepanjang musim pemijahan dengan puncak pemijahan sesaat sebelum dan selama air meninggi (banjir) dengan meletakkan telurnya lebih dari 200 butir pada tanaman air yang terendam dalam air selama lebih dari 2 minggu (Allen, 1991 dalam Hurwood dan Hughes, 2001). Reproduksi spesies ikan pada musim penghujan sebagai salah satu strategi agar larva ikan mendapatkan cukup makanan saat air meninggi (Humphries et al., 1999).

Menurut Lowe McConnel (1987) dalam Paugy (2002) terdapat dua tipe strategi pemijahan ikan yaitu pemijah total (total spawners), umumnya memiliki periode pemijahan tahunan yang pendek dan pemijah tumpukan telur (partial spawners), yang mengasuh anaknya dan memproduksi tumpukan telur dengan frekuensi yang berselang sepanjang tahun. Ikan Telmatherina ladigesi tergolong memijah bertahap (partial spawner) (Nasution et al., 2006); Selanjutnya dikatakan bahwa, umumnya famili Telmatherinidae tergolong pemijah bertahap (partial spawner).

Berdasarkan frekuensi pemijahan, ikan dibedakan menjadi semelparous yakni ikan yang memijah sekali kemudian mati dan iteroparous, ikan yang memijah berkali-kali (Murua dan Sabarido-Rey, 2003). Menurut Winemiller dan Rose (1992); Winemiller (1989) dalam Moreno-Amich et al. (2006), terdapat tiga strategi ikan dalam mempertahankan hidupnya yaitu periodic life-history strategy, spesies yang sekali atau beberapa kali memijah tiap tahun, waktu hidup yang lebih panjang, berukuran besar, fekunditas yang besar dan tidak mengasuh anaknya. Opportunistic life-history strategy, spesies yang memijah berkali-kali, masa pemijahan yang panjang, waktu hidup lebih pendek, berukuran kecil, fekunditas rendah, mengasuh anaknya dan ukuran telur yang kecil. Equilibrium life-history strategy, spesies yang mengasuh anaknya, fekunditas kecil dan ukuran telur yang besar dan keberhasilan hidup larva tinggi. Menurut McGuigan et al. (2005) ikan pelangi (Melanotaeniidae) tergolong pemijah eksternal dan tidak mengasuh anaknya (absence ofparental care).

2.3 Nisbah Kelamin Ikan Pelangi

Nisbah kelamin merupakan perbandingan antara ikan jantan dan ikan betina di dalam suatu populasi dengan perbandingan ideal adalah 1 : 1 yaitu 50 % ikan jantan dan 50 % ikan betina (Ball dan Rao, 1984). Tetapi seringkali terjadi penyimpangan dari perbandingan 1 : 1 yang disebabkan mortalitas karena penangkapan (Offem et al., 2008; Arslan dan Aras, 2007), ruaya pemijahan (Hashem, 1981 dalam Ilhan dan Togulga, 2007), pemangsaan (Alp dan Kara, 2007) dan faktor lainnya seperti suhu, cahaya, salinitas dan lingkungan sosial kehidupan ikan itu sendiri (Jobling, 1995). Masa menjelang dan selama ruaya untuk pemijahan, nisbah kelamin dapat berubah secara teratur. Pada awalnya ikan jantan mendominasi kemudian nisbah kelamin berubah menjadi 1 : 1 selanjutnya diikuti dengan dominasi ikan betina (Nikolsky, 1969). Ikan pelangi sulawesi (Telmatherina ladigesi) di Sungai Maros, Sulawesi Selatan memperlihatkan nisbah kelamin yang tidak seimbang (1 : 1,47) dengan jumlah ikan betina yang lebih banyak (Andriani, 2000). Selanjutnya dikatakan bahwa ketidakseimbangan ini terjadi karena mortalitas akibat penangkapan. Ikan pelangi arfak (Melanotaenia arfakensis) di Manokwari memperlihatkan perbandingan yang seimbang (1 : 1) dengan kecenderungan ikan betina lebih banyak (Manangkalangi dan Pattiasina, 2005). Penelitian mengenai reproduksi ikan Melanotaenia splendida fluviatilis di bagian tenggara Queensland, Australia yang dilakukan selama tahun 1981-1982 didapati pola nisbah kelamin yang tidak seimbang. Ikan betina mendominasi pada tahun 1981 dan pada tahun berikutnya didominasi oleh ikan jantan. Kondisi tersebut diduga sebagai bentuk strategi pemijahan ikan pelangi tersebut (Milton dan Arthington, 1984).

2.4 Kematangan Gonad Ikan Pelangi

Menurut Lagler et al. (1977) ada dua faktor yang memengaruhi kematangan gonad yaitu faktor dalam dan luar. Faktor dalam meliputi perbedaan spesies, umur, ukuran serta sifat fisiologi ikan itu sedangkan faktor luar adalah makanan, suhu dan arus. Hasil penelitian Andriani (2000) mengenai ikan pelangi sulawesi (Telmatherina ladigesi) di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kematangan gonad dipengaruhi oleh arus, suhu dan tesedianya makanan di habitat. Ikan pelangi Melanotaenia eachamensis, M. splendida

splendida dan Cairnsichthys rhombosomoides di bagian utara Queensland, Australia lebih banyak mencapai TKG IV dan V saat musim kemarau yang ditandai dengan meningkatnya suhu, arus relatif stabil dan tersedianya makanan yang cukup di alam (Pusey et al., 2001)

Selama perkembangan gonad, sebagian besar hasil metabolisme ditujukan untuk perkembangan gonad. Hal ini menyebabkan terjadi perubahan-perubahan dalam gonad. Umumnya pertambahan berat gonad pada ikan betina sebesar 10-25% dari berat tubuh dan 5-10% pada ikan jantan. Pengetahuan tentang tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui waktu pemijahan, ukuran pertama kali matang gonad, hubungannya dengan pertumbuhan ikan dan faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Effendie, 1997). Ikan pelangi dari bagian barat Australia tergolong ikan yang matang gonad sepanjang tahun (Pusey et al., 2001).

Perubahan dalam gonad dapat dinyatakan secara kuantitatif dengan menggunakan Indeks Kematangan Gonad (IKG). Indeks ini adalah suatu nilai dalam persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikalikan 100%. Nilai IKG ikan pelangi tergolong bervariasi bergantung pada lokasi dan musim (Milton dan Arthington, 1984; Pusey et al., 2001; Nasution, 2005; Nasution et al., 2006) dan strategi pemijahan (Harris dan Gehrke, 1994; Humphries et al., 1999).

2.5 Fekunditas

Fekunditas dapat beragam diantara spesies sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungan habitat (Witthames et al., 1995 dalam Murua et al., 2003), umur ikan, ukuran telur, makanan, dan musim (Nikolsky, 1963). Fekunditas relatif pada ikan Brycinus nurse di Waduk Asa, Nigeria lebih rendah dibanding spesies yang sama di Ivory Coast. Namun rata-rata fekunditas mutlak lebih tinggi pada populasi B. nurse di Nigeria dibandingkan di Ivory Coast. Variasi dari hal tersebut disebabkan oleh perbedaan lokasi geografis dari populasi, sehingga memengaruhi perbedaan habitat hidup (Saliu dan Fagade, 2003). Bahkan dalam stok populasi, fekunditas bervariasi tahunan, menghadapi perubahan- perubahan dalam waktu yang panjang memperlihatkan hasil yang proporsional pada ukuran dan kondisi ikan. Ikan yang berukuran besar menghasilkan fekunditas yang tinggi baik absolut maupun relatif berkaitan dengan berat tubuh. Ikan betina pada kondisi yang

lebih baik menghasilkan fekunditas yang tinggi (Kjesbu et al., 1991 dalam Murua dan Sabarido-Rey, 2003). Ukuran dan kondisi ikan adalah parameter kunci untuk mengkaji fekunditas pada level populasi. Fekunditas pada ikan Melanotaenia splendida splendida berkaitan erat dengan ukuran ikan. Ikan dengan panjang 40 mm menghasilkan sekitar 370 telur. Demikian juga pada ukuran 70 mm menghasilkan sekitar 1655 telur (Pusey et al., 2001).

Perubahan dalam faktor lingkungan seperti suhu dan ketersediaan makanan berpengaruh pada tingkah laku dan metabolisme ikan. Menurunnya kondisi dapat mengakibatkan penurunan fekunditas yang direfleksikan dalam rendahnya jumlah oosit yang berkembang atau terjadi atresia. Pada kasus yang ekstrim, kondisi yang menurun dapat memicu kegagalan reproduksi yang mengakibatkan musim pemijahan terlewati (Bell et al., 1992; Livingston et al., 1997 dalam Murua et al., 2003).

Menurut Paugy (2002) terdapat hubungan yang berlawanan antara ukuran telur dan fekunditas. Fekunditas ikan Melanotaenia eachemensis berkisar antara 206-2126 butir dan kisaran diameter telur ikan M. eachemensis antara 1,207 mm – 1,324 mm (Pusey et al., 2001). Glossolepis multisquamatus pada rawa banjiran Sungai Sepik, Papua New Guinea memperlihatkan ukuran telur yang lebih besar. Diameter telur terbesar adalah 2 mm sedangkan ikan pelangi lainnya di wilayah tersebut adalah 1 mm. Hal ini diasumsikan sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi rawa banjiran dengan meningkatkan ukuran telur tetapi menurunkan fekunditas (Allen dan Cross, 1982; Milton dan Arthington, 1984; Merrick dan Schmida, 1984 dalam Coates, 1990).

3 METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di perairan Danau Sentani selama lima bulan dari bulan Desember 2007 hingga Mei 2008. Pengambilan sampel ikan dan pengamatan kualitas air dilakukan bersamaan.

Penentuan titik sampling dilakukan berdasarkan kondisi alam dan aktifitas manusia di Danau Sentani, sehingga ditetapkan enam stasiun penelitian. Stasiun I, di bagian barat laut Danau Sentani (Doyo Lama) merupakan wilayah tempat tinggal penduduk. Stasiun II, di bagian barat Danau Sentani, pada stasiun ini terdapat muara sungai kecil. Stasiun III di bagian barat Danau Sentani, wilayah ini masih diliputi hutan. Stasiun IV di bagian barat daya Sentani (Simporo) merupakan wilayah tempat tinggal masyarakat dan terdapat hutan rawa. Stasiun V di bagian selatan Danau Sentani (Abaar) merupakan wilayah pemukiman penduduk dan masih diliputi hutan. Stasiun VI di bagian timur Danau Sentani (Waena). Stasiun ini merupakan area budidaya ikan karamba jaring apung dan pemancingan (Lampiran 1 dan 2).

3.2 Bahan dan Alat Penelitian

Bahan penelitian meliputi ikan sampel, paraform 4% untuk mengawetkan ikan dan bahan-bahan untuk analisis kualitas air. Alat yang digunakan dalam penelitian meliputi jaring insang eksperimen dengan ukuran mata jaring ½ inci, 1 inci, 1¼ inci, 1½ inci , 2 inci masing-masing berukuran panjang 4 m dan tinggi 2 m (Lampiran 3), alat bedah, mikroskop, timbangan digital dengan ketelitian 0,01 g dan 0,0001 g, kaliper vernier untuk mengukur panjang ikan dengan ketelitian 0,01 mm dan alat pengukur kualitas air.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Pengukuran kualitas air dilakukan di setiap stasiun bersamaan dengan pengambilan sampel ikan. Parameter yang diamati meliputi parameter fisika dan kimia. Alat dan metode pengukuran parameter kualitas air yang dilakukan selama penelitian ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengukuran Kualitas Air

Paramater Alat dan Metode Satuan Lokasi

Suhu Termometer 0C in situ

Kecerahan Cakram Secchi cm in situ

Alkalinitas Titrasi mg/l CaCO3 in situ

pH pH meter - in situ

Oksigen terlarut DO meter mg/l in situ

Karbondioksida Titrasi mg/l in situ

Sampel ikan ditangkap dengan menggunakan jaring insang eksperimen dengan ukuran mata jaring ½ inci, 1 inci, 1¼ inci, 1½ inci dan 2 inci masing-masing satu buah dengan panjang 4 m dan tinggi 2 m yang dipasang pada sore hari (16.00) dan diangkat pada pagi hari (06.00). Cara pemasangan jaring dilakukan pada setiap stasiun dari arah pantai ke perairan bebas. Ikan yang tertangkap dipisahkan berdasarkan stasiun penelitian dan jenis kelamin. Selanjutnya ikan sampel diawetkan dalam paraform 4 %.

3.4 Analisis Laboratorium

Analisis laboratorium dilakukan di laboratorium Bio Makro I FPIK IPB meliputi penimbangan berat ikan dengan menggunakan timbangan digital berketelitian 0,01 g. Identifikasi jenis ikan berdasarkan karakter morfometrik dan meristik berdasarkan Allen (1991); Kottelat et al. (1993); Wiecaszek et al. (2007) dengan menggunakan kaliper vernier dengan ketelitian 0,01 mm. Ikan sampel kemudian dibedah menggunakan alat bedah lalu gonadnya diambil dan diawetkan dalam paraform 4 %.

Penentuan tingkat kematangan gonad berdasarkan morfologinya mengacu pada kategori perkembangan dan kematangan gonad ikan pelangi (Pusey et al., 2001) (Lampiran 4). Pengamatan gonad secara histologi dengan membuat preparat histologi gonad betina dan jantan mengacu pada pembuatan preparat histologi (Angka et al., 1990) (Lampiran 5) dan analisis histologi gonad menggunakan analisis histologi ikan berdasarkan Takashima dan Hibiya (1982); ikan Odonthestes bonariensis (Soria et al., 2008; Miranda et al., 2009). Selanjutnya gonad ditimbang dengan menggunakan

timbangan berketelitian 0,0001 g. Analisis fekunditas dilakukan dengan menghitung langsung telur dari ikan yang matang gonad (TKG IV–V) dan penghitungan dilakukan seluruhnya dengan cara diencerkan dengan air dan dihitung jumlah telurnya di bawah mikroskop (Effendie, 1979). Pengukuran diameter telur dilakukan dengan mengambil gonad ikan betina dari TKG III- V dari tiga bagian yang berbeda yaitu anterior, median dan posterior masing-masing sebanyak 100 butir, diletakkan berjajar pada gelas objek lalu diamati dengan menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer okuler, sebelumnya mikrometer okuler ditera dengan mikrometer objektif. Peneraan dilakukan dengan mengalikan nilai pengukuran diameter telur dengan hasil bagi antara mikrometer objektif dan okuler.

3.5. Analisis Data

Nisbah Kelamin

Perbandingan antara jumlah ikan jantan dan betina (nisbah kelamin) yang terdapat pada setiap stasiun dihitung menggunakan rumus :

X BJ

Keterangan :

X : Nisbah kelamin

J : Jumlah ikan jantan (ekor) B : Jumlah ikan betina (ekor)

Keseragaman sebaran nisbah kelamin dilakukan dengan uji khi kuadrat (Steel dan Torrie, 1993). x oi eei i n i Keterangan :

X2 : Sebuah nilai bagi peubah acak X2 yang sebaran penarikan contohnya menghampiri khi kuadrat

oi : Frekuensi ikan jantan dan betina yang teramati

ei : Frekuensi harapan yaitu frekuensi ikan jantan ditambah frekuensi

Hubungan Fekunditas dengan Panjang Total Tubuh, Berat Tubuh dan Gonad

Hubungan fekunditas dengan panjang total tubuh menggunakan rumus sebagai berikut (Effendie, 1997) :

F = aLb Keterangan :

F : Fekunditas

L : Panjang total ikan (mm) a dan b : Konstanta

Persamaan hubungan fekunditas dengan berat tubuh dan berat gonad F = a + bBg

F = a + bBt Keterangan :

Bt : Berat tubuh (g) Bg : Berat gonad (g)

Untuk melihat keeratan hubungan antara keduanya ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi ( r ). Jika nilainya mendekati satu menandakan korelasi yang kuat. Jika nilai r-nya mendekati nol maka hubungan keduanya lemah (Walpole, 1992).

Indeks Kematangan Gonad

Nilai indeks kematangan gonad merupakan suatu nilai dalam persen yang didapatkan dari perbandingan berat gonad dengan berat ikan dikalikan 100 %. Nilai IKG yang terdapat pada setiap stasiun dianalisis menggunakan rumus yang diuraikan oleh Effendie (1979) :

IKG Bg Bt

Keterangan :

IKG : Indeks kematangan gonad Bg : Berat gonad (g)

Ukuran Ikan Pertama Kali Matang Gonad

Untuk mendapatkan ukuran ikan pertama kali matang gonad dilakukan dengan memplotkan persentase ikan matang gonad dengan panjang totalnya. Panjang ikan minimum pada sekurang-kurangnya 50% dari ikan yang matang gonad (TKG IV dan V) dinyatakan sebagai ukuran ikan pertama kali matang gonad (Rao and Sharma, 1984; Offem et al., 2008).

Hubungan Panjang Berat

Hubungan panjang-berat menggunakan rumus sebagai berikut : W = aLb

Keterangan :

W : Berat tubuh ikan (g)

L : Panjang ikan (mm)

a dan b : konstanta

Persamaan ini untuk menduga pola pertumbuhan dari nilai b. Jika didapatkan b = 3 maka pertambahan berat seimbang dengan pertambahan panjang (isometrik). Bila didapatkan b < 3 maka pertambahan panjang lebih cepat dibanding pertambahan beratnya (allometrik negatif). Jika b>3 maka pertambahan berat lebih cepat dibanding pertambahan panjangnya (allometrik positif). Untuk menguji nilai b dilakukan uji t dengan hipotesis : H0 : b = 3;

H1 : b ≠ 3; t hitung :

.

Untuk penarikan keputusan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel pada selang kepercayaan 95 %. Jika nilai t hitung > t tabel maka keputusannya menolak hipotesis nol (H0) tetapi jika t hitung < t tabel maka keputusannya menerima hipotesis nol (H0) (Steel dan Torrie, 1993).

Faktor Kondisi

Faktor kondisi dihitung dengan menggunakan sistem metrik berdasarkan hubungan panjang berat ikan sampel. Jika pertumbuhan ikan isometrik, maka rumus yang digunakan seperti berikut (Effendie 1979) :

Keterangan :

K : Faktor kondisi

W : Berat tubuh ikan (g)

L : Panjang total ikan (mm)

Jika pertumbuhan bersifat allometrik, maka faktor kondisi dihitung dengan rumus :

Kn aLw

Keterangan :

Kn : Faktor kondisi relatif W : Berat tubuh ikan (gram)

L : Panjang total ikan (mm)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

4.1.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Hasil pengukuran dan pengamatan aspek kualitas air yang dilakukan di Danau Sentani selama penelitian meliputi suhu, kecerahan, alkalinitas, pH, oksigen terlarut dan karbondioksida di tiap stasiun dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kisaran parameter kualitas air di Danau Sentani selama penelitian

Parameter Satuan Stasiun

I II III IV V VI Fisika Suhu 0C 28,8 - 30 29 – 29,4 28,9 – 29,4 28 – 29,2 29 – 29,2 29 – 29,1 Kecerahan cm 350 – 520 300 – 430 200 – 450 450 – 550 200 – 350 250 – 450 Kimia Alkalinitas mg /l CaCO3 104,89- 112,06 109,99- 110,95 104,80- 105,97 103,99- 105,99 105,90- 115,12 108,48- 110,80 pH 8 – 8,2 8 – 8,2 8 7,7 - 8 7,6 – 7,9 7,8 – 7,9 Oksigen terlarut mg/l 5,8 – 5,9 5,8 – 6,1 5,8 5,9 – 6,1 5,9 – 6,1 5,8 – 6,1 Karbondioksida mg/l 1,34 – 1,50 1,40 – 1,36 1,34 – 1,41 0,45 – 0,45 0,47 – 0,65 1,18 – 1,19

Keterangan : I : Stasiun Yakonde satu; II : Stasiun Yakonde dua; III : Stasiun Yakonde tiga IV : Stasiun Simporo; V : Stasiun Abaar; VI : Stasiun Waena

Kisaran suhu perairan selama penelitian adalah 28-300C. Kisaran suhu tidak menunjukkan perbedaan yang menonjol selama waktu penelitian dan masih mendukung untuk kehidupan organisme perairan. Suhu berperan dalam metabolisme organisme yang berpengaruh pada pertumbuhan, reproduksi dan aktifitas mencari makan. Ikan di perairan dapat mendeteksi suhu yang berubah dengan mengendalikan tingkah lakunya untuk mencari ruang dengan suhu yang sesuai (Wootton, 1992). Hasil pengukuran kecerahan berkisar 200 – 450 cm. Hal ini menunjukkan kondisi stasiun penelitian yang tergolong jernih. Alkalinitas di Danau Sentani tergolong tinggi dengan kisaran 103,99 – 115,12. Nilai alkalinitas yang baik bagi pertumbuhan organisme perairan berkisar 30 – 500 mg/l CaCO3.

Perairan alami dengan nilai alkalinitas > 40 mg/l CaCO3 tergolong perairan sadah (Boyd,

1988). Alkalinitas yang tinggi di Danau Sentani dapat dijelaskan dari pegunungan kapur yang terdapat di sekeliling Danau Sentani, saat musim hujan membawa kandungan

karbonat dari batuan yang dilewati air kedalam perairan. Nilai pH di Danau Sentani selama

Dokumen terkait