BAB II: LANDASAN TEORETIS DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
2. Kitab Kuning sebagai Referensi Keilmuan di Pesantren
74Ibid.
75Ibid., h. 145.
Kitab kuning menjadi salah satu unsur utama dalam sistem pendidikan pesantren. Dalam pandangan Zamaksyari Dhofier elemen-elemen dasar dari tradisi pesantren ada lima yaitu pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab klasik dan kyai.77 Menurut Mastuhu unsur-unsur dalam sistem pendidikan pesantren dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1. Aktor, pelaku, kyai, ustaz, santri dan pengurus.
2. Sarana perangkat keras, meliputi masjid, rumah kyai, rumah dan asrama ustaz, pondok atau asrama santri, gedung sekolah atau madrasah, tanah untuk olah raga, pertanian atau peternakan, empang, makam dan sebagainya.
3. Sarana perangkat lunak, di antaranya tujuan, kurikulum, kitab kuning, penilaian, perpustakaan, tata tertib, pusat dokumentasi dan penerangan, cara pengajaran (sorogan, bandongan dan ḥalaqah), keterampilan, pusat pengembangan masyarakat dan alat-alat pendidikan lainnya.78
Sebagai unsur utama dalam sistem pendidikan pesantren, kitab kuning menurut Abudin Nata telah dipakai menjadi referensi keilmuan atau sumber belajar sejak abad ke-16, meskipun tradisi cetak tatkala itu belum belum menyebar di Indonesia dan lembaga pesantren pun masih dipertentangkan keberadaannya.79Pada saat itu kitab kuning menjadi referensi informal untuk mempelajari Islam dengan menggunakan tiga bahasa yaitu bahasa Arab, Melayu dan Jawa.80
Menurut Taufik Abdullah di Aceh misalnya pada tahun 1603 M, Bukhari al-Jauhari telah menulis tentang Tāj as-Salātīn artinya Mahkota Raja-raja yang merupakan teks teori kenegaraan paling awal dan penting di nusantara. Hal ini
77
Zamaksyari Dhofier menyebutkan istilah kitab kuning dengan kitab klasik, hal ini berdasarkan sikap di kalangan pesantren yang awalnya tidak menggunakan kitab kuning untuk literatur keislaman. Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup
Kyai (Jakarta: LP3ES, 1982), h. 44. Pendapat lain mengatakan istilah kitab kuning berasal dari
luar pesantren dengan konotasi mengejek dan merendahkan. Mereka berpendapat bahwa kitab kuning berkadar keilmuan rendah, ketinggalan zaman dan menjadi sebab stagnasi berfikir umat. Marzuki Wahid dkk, Pesantren Masa Depan Wacana Pemberdayaan dan Transformasi
Pesantren (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 221.
78
Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan
Nilai Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), h. 25.
79Nata, Sejarah, h. 171.
sesuai dengan teori kenegaraan mazhab sunni tradisional. Peranan Tāj as-Salātin menurut Taufik Abdullah sebagai pemula ke arah dirumuskannya ortodoksi kraton di Nusantara.81
Secara formal kitab kuning menjadi referensi utama di lembaga pendidikan Islam formal seperti di madrasah dan pesantren sejak abad ke-18 M. Kemudian kitab kuning diajarkan di madrasah dan pesantren secara massal sejak abad ke-19 M setelah banyak ulama Indonesia yang kembali dari Makkah.
Menurut Azyumardi Azra tradisi kajian kitab kuning dilakukan ketika pesantren-pesantren, surau-surau mulai berkembang dan mapan sebagai institusi pendidikan Islam tradisional di Nusantara. Ada dua sebab kitab kuning kitab kuning mudah tersebar dengan luas, yaitu semakin mudah dan lancarnya transportasi laut ke Timur Tengah pada akhir abad ke-19 M dan kitab-kitab beraksara Arab dicetak secara besar-besaran pada saat yang bersamaan. Semakin banyak kitab kuning dicetak di Timur Tengah, memberi kemudahan bagi jamaah haji Indonesia saat itu yang jumlahnya terus meningkat untuk membawa pulang ke Indonesia.
Kitab kuning diakses oleh kalangan pesantren salafiyah yang memberi penghargaan tinggi pada kitab dan pengarangnya serta memiliki tanggungjawab moral untuk melestarikannya.
Di pesantren salafiyah, masih menggunakan metode pengajaran dalam bentuk ḥalaqah, penggunaan kitab kuning menjadi tradisi keilmuan dan telah menjadi jati diri (identity) yang identik dan tidak bisa dipisahkan dengan eksistensi pesantren salafiyah.82
Sedangkan di kalangan modernis kurang mengakses kitab kuning, mereka memakai referensi dan sumber belajar yang disusun oleh oleh para pengajar dengan cara mengambil substansi kitab ini atas pertimbangan efisiensi dan efektivitas mempelajarinya. Sehingga kelompok modernis lebih cenderung menggunakan buku agama berbahasa Indonesia.83
81Tolkhah dan Barizi, Membuka Jendela, h. 75.
82Djamas, Dinamika, h. 35.
b. Model dan Jenis-jenis Kitab Kuning di Pesantren 1. Model Kitab Kuning di Pesantren
Kitab kuning memiliki ciri khas dan model yang khusus, sesuai kreatifitas penulisannya. Menurut Nasuha ada sembilan model penulisan kitab kuning yaitu:84
a) Kitab kuning yang menyajikan gagasan baru yang belum pernah disajikan oleh orang lain seperti kitab al-Risālah karya Imām as-Syāfi’i yang menyajikan kerangka berfikir fikih. Kitab karya Ibn Jarīr Ṭabāri Al-Jāmi’
al-Bayān yang mengangkat masalah hadis, qaul aṣ-Ṣaḥābat, sejarah dan
menciptakan kerangka berfikir (ijtihād) untuk tafsīr al-Qur’ān. Karya al-Jāhiz dari Mu’tazilah menulis Tafsīr al-Ra’yu yang filosofis dengan penyajian mauḍūī dalam kitabnya al-Ḥayawān. Pemikiran Wāṣil Ibn Aṭā’, Abū Ḥasan al-Asy’arī termasuk varian ini.
b) Kitab kuning yang muncul sebagai pelengkap dan penyempurna gagasan baru seperti kitab ilmu nahu karya Sibawaihi yang menyempurnakan gagasan Abū al-Aswad al-Dualī, Yaḥya Ibn Ya’mūr, dan tokoh-tokoh bahasa yang mendahului Sibawaihi. Kemudian kitab Iḥyā ‘Ulūm al-Dīn karya al-Gazālī mensistematik ajaran tasawuf yang waktu itu belum sempurna, lalu dikaitkan dengan ilmu fikih sehingga muncul sebuah ilmu yang lengkap dengan istilah baru, fikih sufistik.
c) Kitab yang membawakan komentar (syarḥ) terhadap kitab lain yang sudah ada. Penyusunan syarḥ, biasanya ditulis oleh ulama muta’akhir seperti
Kitāb Fatḥ al-Bāri karya Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī yang memberikan komentar
terhadap al-Jāmi al-Ṣaḥīḥ karya al-Bukhāri.
d) Kitab yang meringkas karangan yang panjang untuk dijadikan karangan singkat dan padat. Dalam kitab kuning karya ini disebut mukhtaṣar seperti kitab Alfiyah Ibn Mālik yang meringkas kitab Al-Kāfiyah tentang ilmu nahu, atau seperti Lubb al-Uṣūl karya Zakariā al-Anṣāri yang meringkas kitab
Jam’ul Jawāmi’ karya al-Subki.
e) Model kitab yang berisi materi yang dikutip dari beberapa kitab kuning yang sudah ada lalu dirumuskan dalam bentuk kitab tersendiri. Banyak contoh kitab model ini yang paling fenomenal misalnya adalah karya Al-Aufi yang berjudul ‘Ulūm al-Qur’ān. Al-Aufi mengimpun berbagai ilmu pengetahuan yang bertalian dengan Qur’ān dan merumuskannya menjadi satu kitab.
Contoh lain, kitab karya Abū Muḥammad al-Ramaharmūzi (w. 360 H) dengan kitabnya al-Muḥaddiṡ al-Fāṣil Bayna al-Rāwi wa al-Wā’ī yang menghimpun beberapa ilmu yang membahas tentang eksistensi hadis, kemudian dirumuskan menjadi suatu karya bernama ‘Ulūm al-Ḥadīṡ. Kitab ini menurut termasuk kitab terlengkap yang paling awal di bidang ilmu hadis.85 Karya-karya serupa ada yang berbentuk lebih sederhana misalnya kitab kumpulan do’a yang diambil dari berbagai kitab lain.
f) Kitab yang memperbaharui sistematika penulisannya sehingga menarik dan enak dibaca. Karya ini sering dilakukan oleh ulama muta’akhkhir yang memperbaharui sistematika kitab-kitab hasil karya ulama mutaqaddim
(terdahulu) seperti al-Suyūṭi, Zakariā al-Anṣāri, Ibn Ḥajar al-Ramli yang masih memakai sistematika klasik sederhana.
g) Kitab kritik dan koreksi atau kitab tandingan terhadap kitab yang sudah ada misalnya kitab Mi’yar al-‘Ilm karya al-Gazālī yang meluruskan kaedah-kaedah mantiqiyyah yang telah ada dan disesuaikan dengan pola pikir umat Islam pada umumnya. Melalui kitab ini al-Gazālī berkontribusi memudahkan dunia Islam menerima ilmu mantiq yang merupakan tradisi pemikiran Yunani atau tradisi Helenis.
h) Kitab kuning yang penulisnya lebih dari satu orang seperti Kitāb
Tafsīr Jalālain yang ditulis oleh Jalāl Dīn Maḥallī dan Jalāl Dīn
Suyūṭī, kitab Majmū’ (Syarḥ Muhażżab) yang ditulis mula-mula oleh al-Nawawī dilanjutkan oleh al-Subki dan diteruskan oleh Najīb Muṭīf. Tiga penulis kitab terakhir ini tidak hidup dalam satu waktu dan jarak waktu hidup mereka sangat jauh sehingga satu sama lain tidak pernah ketemu.
i) Kitab kuning yang disertai terjemahan dan ulasan penjelasan dengan menggunakan bahasa tertentu misalnya bahasa Jawa dan Sunda. Kitab kuning model seperti ini biasanya diajarkan di pondok pesantren dan madrasah. Sebagian dari kitab yang semula dilakukan dalam pengajaran di pesantren atau madrasah ini dicetak beserta terjemahan dan ulasannya. Karena penjelasan kitab ini diakui hasil karya dari kajian pesantren yang otoritatif maka kitab kuning ini banyak dipakai oleh para kyai majlis taklim di berbagai daerah nusantara.
Beberapa contoh kitab model ini ditulis ulang dengan bahasa Indonesia sebagai karya tersendiri misalnya buku karya Hasbi al-Shiddiqi, Hamka, Quraisy Shihab yang beredar dan menjadi pegangan pengajaran di beberapa Sekolah Tinggi Agama Islam di Indonesia.
2. Jenis-jenis Kitab Kuning di Pesantren
Jenis-jenis kitab kuning yang dipergunakan di pesantren pun mengalami perkembangan dan perubahan-perubahan. Mulai abad ke-15 hingga abad ke-18, pengajaran tasawuf mendominasi pendidikan di pesantren, karena kondisi politik saat itu raja-raja Hindu dan Budha memiliki perhatian besar terhadap kekuatan-kekuatan magic.86
Pada abad ke-16 di zaman Demak kitab yang dipergunakan di pesantren adalah Ushul 6 bis, yaitu satu jilid kitab tulisan tangan berisi 6 kitab dengan 6 Bismillāhirraḥmānirrahīm, karya ulama Samarkandi. Isinya tentang ilmu agama Islam pada tahap permulaan, Tafsīr Jalālain karya Syaikh Jalāl Dīn al-Maḥalli dan Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī. Selain itu, terdapat juga suluk Sunan Bonang, suluk Sunan Kalijaga dan lain-lain yang berbentuk diktat wejangan
mystic (tasawuf) Islam dari masing-masing sunan yang ditulis dengan tangan.87
Pada abad ke-18 sebuah pesantren di Mataram menggunakan kitab matan
taqrīb, Bidāyat al-Hidāyat karya Imām al-Gazālī dalam ilmu akhlak.88
86Mujamil Qomar, Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi
Institusi (Jakarta: Erlangga, tth), h. 124.
87Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Hidakarya, 1985), h. 220.
Memasuki abad ke-19 kitab-kitab yang dipergunakan sebagai referensi mengalami perubahan yaitu dengan melakukan penambahan kitab-kitab dalam satu disiplin ilmu dan disiplin ilmu yang berlainan. Menurut Karel Steenbrink kitab kuning yang digunakan sebagai referensi di pesantren antara lain:
Bidang fikih: Safīnah al-Najāḥ, Sullam al-Taufīq, Masā’il al-Sittīn,
Mukhtaṣar Minhāj Qawīm, Hawāsyi Madaniyyah, Risālah Fatḥ al-Qarīb, al-Iqnā’, al-Muḥarrar, Minhāj Ṭālibīn, Fatḥ al-Wahāb, Tuḥfat al-Muhtāj
dan Fatḥ al-Mu’īn.
Bidang uṣūl dīn: Bahjat ‘Ulūm, Umm Barāhīn (‘Aqīdah
al-Sanūsī), al-Mufīd, Fatḥ al-Mubīn, Kifāyat al-Awwām, al-Miftāh fī Syarḥ Ma’rifat al-Islām, Jauhar al-Tauḥīd.
Bidang tasawuf: Iḥyā ‘Ulūm Dīn, Bidāyat Hidāyah, Minhāj
al-‘Ᾱbidīn, al-Ḥikam, Su’ab al-Ᾱmān dan Hidāyah al-Azkiyā’ ilā Ṭarīq al-Awliyā.
Bidang Tafsir: Tafsīr Jalālain.
Bidang Bahasa Arab: Muqaddimah Ajrūmiyah, Mutammimah,
al-Fawāqih al-Jināyah, al-Zurrah al-Bahiyyah, al-‘Awāmil al-Mi’at, Inna Awlā, Alfiyah, Minhāj Masālik, Tamrīn Ṭullāb, Rafīyah, Miṣbāh, Mujib al-Nidā.89
Menurut Martin van Bruinessen kitab kuning yang digunakan sebagai referensi pada abad ke-19 dipengaruhi oleh tradisi pendidikan dan pengajaran di al-Azhar, di mana fikih semua mazhab diajarkan. Hal ini menggambarkan adanya hubungan yang dekat dengan kurikulum pesantren pada abad ke-19 dibandingkan dengan kurikulum di Madrasah Utsmani.90
Kitab-kitab yang dipakai pada abad ke-19 ini sebagian masih dipergunakan pada abad ke-20, bahkan terdapat penambahan kitab-kitab di bidang hadis, tārīkh, usul fikih, mantik, ilmu falak yang sebelumnya tidak ditemukan. Menurut Martin van Bruinessen kitab-kitab yang menjadi sumber belajar di pesantren abad ke-20 meliputi:91
89
Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19 (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 155.
90Bruinessen, Kitab Kuning, h. 35.
Bidang akhlak/tasawuf: Marāgi al-‘Ubūdiyah, Tanbih al-Gāfilīn, Iḥyā’
‘Ulūm al-Dīn, Syarḥ Iḥyā ‘Ulūm al-Dīn karya ‘Ibn ‘Arabi. Bidang tafsīr: Tafsīr Jalālain, Tafsīr Ibn Kaṡīr, Tafsīr al-Baiḍāwi, Tafsīr al-Marāgi, Tafsīr al-Manār, al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Ibn Jarīr al-Ṭabarī.
Bidang fiqh: Matan Taqrīb Fatḥ al-Ḥanīf (al-Bajuri), Fatḥ al-Mu’īn,
I’ānat Ṭālibīn, Maḥalli, Fatḥ Wahhāb, Tuḥfat Muhtāj dan Nihāyat al-Muhtāj.
Bidang tārīkh: Khulāṣah Nūr al-Yaqīn. Bidang tauhid: Matan al-Sanūsi,
Kifāyat al-Awwām, Ḥudūdi, al-Dasūqi, al-Ḥusn al-Ḥamīdiyyah. Bidang usul
fikih: al-Warāqat, Laṭāif al-Isyārah, Gāyat al-Wuṣūl, Jāmi’ al-Jawāmi’. Bidang mantik: Matan as-Sullam, ‘Izāt al-Mubham, al-Sabbān, al-Syamsiah.
Bidang balāgah: Majmū’ Kasmir Rasāil, Bayān, Qawā’id
al-Lugah, Jauhār al-Maknūn. Bidang nahu: Taḥrīr al-Aqwāl, Matan Ajrūmiyah, Mutammimah, Alfiyah, Khurdi. Bidang saraf: Matan Bina Salsal Mukhdal, al-Kailāni, al-Mażhab, ‘Unwān al-Ṣaraf, Mir’ah al-Arwāh.
Bidang hadis: Riyāḍ al-Ṣāliḥīn, Fatḥ al-Bāri.
c. Klasifikasi dan Fungsi Kitab Kuning di Pesantren
Kitab kuning sebagai sumber belajar bagi para santri di pesantren berdasarkan tingkatannya diklasifikasikan kepada tiga tingkatan yaitu:
1. Kitab dasar, meliputi saraf (Kitāb Bina’), nahu (Kitāb Awāmil), akidah
(Kitab ‘Aqīdat al-Awwām) dan akhlak (Kitab Waṣāyā).
2. Kitab menengah, terdiri dari dua jenjang pendidikan yaitu: tingkat Tsanawiyah, kitab-kitab kuning yang digunakan di antaranya: ṣaraf (Amsilat al-Taṣrīfiyyah), nahu (Jurūmiyah, imrihi, muṭammimah), fikih (Taqrīb, Safīnah, Sullam al-Taufīq), usul fikih (al-Bayān), akidah (Sanūsi
Kifāyat Awwām, Jauhar al-Tauḥīd, al-Ḥusun al-Ḥamīdiyah), Tafsir (Tafsir
Depag RI), hadis (Bulūgul Marām, Ṣaḥīḥ Muslim, Arba’īn an-Nawawī,
Baiqūniyah), Akhlak (Ta’līm al-Muta’allim, Bidāyat al-Hidāyat).
3. Tingkat aliyah, kitab kuning yang digunakan di antaranya, saraf (Kailāni,
Fatḥ Wahhāb dan Maḥalli), akidah (Kitab Dāsūki), tafsir/’ulūm al-tafsīr (Tafsir Jalālain, Tafsir al-Munīr, Tafsir Ibn Kaṡīr, al-Itqān), hadis
atau ‘ulūm ḥadīṡ (Riyāḍ Ṣāliḥīn, Ḍurratu Nāṣiḥīn, Minhāj
al-Mugīṡ), akhlak (Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Risālah al-Mu’āwanah), Tārīkh (Khulāṣah Nūr al-Yaqīn).
4. Kitab Besar adalah kitab yang dipelajari oleh kalangan khawās untuk mengkhususkan dirinya pada bidang tertentu setelah menyelesaikan kajian kitab di tingkat menengah.
Kitab kuning merupakan bagian terpenting dari unsur-unsur pesantren, keberadaannya menjadi karakteristik bagi pesantren untuk membentuk peradaban dan akhlak santri.
Secara umum, pengajaran kitab kuning di pesantren berfungsi untuk: a) Membekali keilmuan santri sebagai kader ulama
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang menjadi pusat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman, lembaga untuk mencetak kader-kader ulama, berperan aktif dalam penyebaran agama Islam dan transfer ilmu pengetahuan.92 Dalam sistem pembelajaran di pesantren tradisional ilmu-ilmu keislaman menjadi prioritas utama, di mana kitab kuning hasil karya keislaman yang ditulis para ulama klasik Islam menjadi sumber belajar dan bahan bacaan para santri.93
Pengajaran kitab kuning merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Tujuan utama pengajaran ini untuk membentuk dan mendidik calon-calon ulama. Sebagai calon ulama para santri yang menuntut ilmu dibekali dengan berbagai ilmu pengetahuan agama Islam berbasis kitab kuning yang diimplementasikan melalui mata pelajaran tafsir, hadis, tārīkh, tauhid, usul fikih, fikih, ‘ulūm al-Qur’ān, ‘ulūm al-ḥadīṡ.
Dengan cara seperti ini pesantren mendidik para santrinya untuk
tafaqquh fī al-dīn, bersungguh-sungguh memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman dalam kehidupan. Bagi santri yang
92
Nurcholish Majid, Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 2010), h.
93Husni Rahim, Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 148.
tidak bercita-cita menjadi ulama namun memiliki tujuan untuk mencari pengalaman mendalami perasaan keagamaan, biasanya tinggal dan belajar kitab kuning di pesantren untuk jangka pendek misalnya kurang dari satu tahun. Kebiasaan seperti ini dilakukan pada bulan Ramadan.94
Sistem pembelajaran dengan menggunakan kitab kuning bertujuan untuk meneruskan tujuan utama pesantren yaitu mendidik calon-calon ulama. Jika pesantren tidak mengajarkan kitab kuning maka keaslian pesantren akan kabur dan lebih tepat disebut sebagai madrasah atau perguruan dengan sistem asrama atau pondok daripada sebagai pesantren.95
Pada saat ini sistem pembelajaran tradisional (ḥalaqah) yang dilaksanakan pada pesantren tradisional mulai diseimbangkan dengan sistem pembelajaran modern. Pesantren tradisional tidak lagi hanya memberikan mata pelajaran ilmu-ilmu Islam, tetapi ilmu-ilmu modern yang diakomodasikan dari kurikulum pemerintah.96 Tradisi akademik pesantren merujuk kepada sistem pembelajarannya yang tuntas dapat menampilkan satu sosok lulusan pesantren yang berwawasan luas dan memiliki kepribadian yang matang.
b) Membentuk Kepribadian Santri yang Beriman, Bertaqwa dan Berakhlak Mulia.
Kata kepribadian berasal dari bahasa Inggris yaitu personality dan
persona yang berarti topeng yaitu topeng yang dipakai oleh aktor drama atau
sandiwara.97 Dalam Islam kepribadian dikenal dengan al-syakhṣiyah yang berasal dari kata syakhṣ yang berarti pribadi. Kata itu kemudian diberi ya nisbah sehingga menjadi kata benda buatan (maṣdar simā’ī) yang berarti kepribadian.98
Menurut kamus Mu’jam al-Wasīṭ kata syakhṣiyah yaitu ṣifatun tumayyizu
al-syakhṣa min gairihi yaitu sifat yang membedakan antara seseorang dengan
94Abdurrahman Wahid, Pesantren Masa Depan (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 22.
95Prasodjo, Profil Pesantren (Jakarta: LP3ES, 1974), h.17.
96Rahim, Arah Baru, h. 148.
97
Simpson D.D Cassell, Latin Dictionary, Latin English (New York: Mac Millan Publishing Co, 1982), h. 442.
98Abdul Mujib, Kepribadian Dalam Psikologi Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 25.
yang lain.99 Makna syakṣiyah sifat-sifat atau ciri khas yang dimiliki seseorang dan ditampilkannya secara konsisten dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Untuk membentuk kepribadian seorang Muslim ada dua unsur pokok yang harus dipenuhi yaitu sifat-sifat dan ciri khas yang ada pada diri individu. Sifat dan ciri khas tersebut melekat dan ditampilkan oleh individu secara konsisten ketika berinteraksi dengan orang lain atau masyarakat. Oleh karena itu perilaku yang ditampilkan oleh seseorang merupakan wujud nyata dari kepribadian seseorang.100
Menurut Jalaluddin kepribadian seorang Muslim secara kaffah terlihat dari ciri khas (individuality), sikap maupun perilaku lahir dan batin
(personality), pola pikir (mentality) dan jati diri (identity).101
Kepribadian yang dilandasi oleh nilai-nilai agama terlihat dari kemampuan seseorang untuk menunjukkan ciri khas dirinya sebagai penganut agama yang taat, sikap dan perilaku secara lahir dan batin sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya, pola pikirnya memiliki kecenderungan terhadap keyakinan agamanya serta kemampuannya untuk mempertahankan jati dirinya sebagai seorang yang beragama.
Kepribadian yang dimiliki seorang Muslim ada dua yaitu kepribadian kemanusiaan102 dan kepribadian kewahyuan.103 Untuk membentuk kepribadian kemanusiaan secara individu dapat dilakukan melalui tiga jenis pendidikan yaitu a) pranatal education (tarbiyah qabl al-wilādah), b) education by another
(tarbiyah ma’a gairih) dan c) self education (tarbiyah al-Nafs).104
99Ibrāhīm Anīs, al-Mu’jam al-Wasiṭ (Kairo: tp, 1982), h. 475.
100
Al Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami Membangun Kerangka Ontologi,
Epistimologi dan Aksiologi Praktek Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), h.
81.
101Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 221.
102Kepribadian kemanusiaan terbagi dua yaitu kepribadian individu dan kepribadian
ummah. Kepribadian individu mencakup ciri khas seseorang dalam bentuk sikap, tingkah laku
serta intelektual yang dimiliki masing-masing secara khas sehingga berbeda dengan yang lain. Sedangkan kepribadian ummah meliputi ciri khas kepribadian Muslim meliputi sikap dan tingkah laku ummah Muslim yang berbeda dengan ummah lain. Lihat Ramayulis, Filsafat
Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2015), h. 199.
103Kepribadian kewahyuaan meliputi corak kepribadian yang dibentuk melalui wahyu.
Pranatal education (tarbiyah qabl al-wilādah) adalah jenis pendidikan
yang dilakukan secara tidak langsung dimulai saat pemilihan calon suami atau istri yang baik lalu dilanjutkan dengan perilaku orang tua yang islami saat bayi masih dalam kandungan maupun setelah besar.
Sedangkan Education by another (tarbiyah ma’a gairih) mengandung arti proses pendidikan yang dilakukan oleh orang lain seperti orang tua di rumah, guru di sekolah. Adapun self education (tarbiyah al-Nafs) yaitu proses pendidikan yang dilaksanakan melalui kegiatan pribadi seperti membaca buku atau melakukan penelitian untuk menemukan hakekat sesuatu.
Pembentukan kepribadian Muslim secara ummah (bangsa/negara) dilaksanakan melalui pemantapan kepribadian individu Muslim karena bagian dari ummah dan juga dapat dilakukan dengan menyiapkan kondisi yang memungkinkan terbentuknya kepribadian (akhlak) ummah. Adapun pembentukan kepribadian melalui kewahyuaan dilakukan melalui pembinaan nilai-nilai keislaman dalam hubungan dengan Allah swt. yang dilakukan melalui beberapa cara antara lain, beriman kepada Allah swt., mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, bertaqwa kepada Allah, mensyukuri nikmat dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah, selalu berdo’a kepada Allah swt. membesarkan dan mengingat-Nya dan menggantungkan segala perbuatan masa depan kepada-Nya.105
Untuk mengetahui terbentuknya kepribadian Muslim yang islami tidak terlepas dari kajian terhadap penciptaan manusia menurut konsep Islam, dimana manusia diciptakan dari dua unsur yaitu fisik-materi yaitu al-jism (jasad) dan non fisik atau non materi yakni al-rūh (ruh). Jasad memiliki kemampuan untuk menggerakkan tangan, kepala, kaki, mata, kemudian kemampuan untuk meraba, merasa, mendengar atau melihat. Sedangkan ruh memiliki kemampuan berfikir